(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
The end of our love story Part 2



Suasana pemakaman yang begitu pilu dengan banyak isak tangis dari keluarga yang di tinggalkan.


Pria itu hanya menatap kosong ke arah proses pemakaman sang istri. Air mata nya telah kering hingga membuat nya hanya terdiam. Pikiran nya kosong tak bisa berkata apapun berekspresi.


Sekarang sudah tak sakit lagi kan?


Kau sudah bahagia kan disana?


Tunggu aku yah...


"Mamah...


Huhuhu...


Katanya mau lihat Louise wisuda...


Ta-tapi Mamah..." isak tangis gadis cantik itu yang begitu berat melepas kepergian sang Ibu.


Baru saja ia berbelanja dan bercanda pada Ibunya namun kini? Kini tak akan ada lagi senyuman lembut dari wanita cantik yang menyapa nya, tak ada lagi omelan memusingkan yang terdengar di telinga nya, tak ada lagi pembela nomor satu nya di hadapan sang kakak.


"Louise udah...


Jangan kayak gitu...


Nanti Mamah sedih disana..." ucap Louis menenangkan adik nya yang menangis begitu pilu. Air mata nya jatuh tanpa suara menahan sesak nya di tinggal sang ibu.


Lelaki remaja itu melihat sang ayah yang begitu terpukul atas kepergian sang ibu. Tak ada raut wajah yang dapat mengekspresikan pria paruh baya itu. Wajah nya datar dengan mata yang penuh akan sorot kesedihan.


Setelah proses pemakaman selesai keluarga itu pun kembali ke kediaman megah yang begitu mewah milik sang ayah.


Keheningan dan kesunyian meliputi hati mereka. Rasa kehilangan yang begitu besar di rasakan setiap penghuni kediaman megah itu.


Setiap bayang dan memori yang di tinggalkan wanita cantik itu membekas di setiap sudut rumah.


"Bawa adik mu ke kamar nya...


Papa butuh waktu sendiri dulu..." ucap Hazel pada putra nya yang terlihat jelas wajah sembab nya karna menangis.


Ia mulai melangkahkan kaki nya menuju kamar mewah nya. Membuka perlahan pintu ruangan itu dengan hati yang begitu berat dan sesak.


Deg...


Kaki nya terasa lemas saat memasuki ruangan yang penuh akan memori tentang nya dan sang istri.


Air mata yang sempat tertahan itu pun kini tumpah lagi. Pria kuat itu kini begitu lemah hingga terjatuh di lantai.


Ia menangis meraung tanpa suara. Rasa nya sangat sesak hingga sangat sulit bernafas hati seperti di sayat oleh ribuan silet tajam.


Tangan nya menggenggam erat cincin pernikahan milik istrinya.


*Ini salah ku...


Maaf...


Aku tak bisa...


Aku bukanlah pria kuat seperti yang kau bayangkan*...


Ribuan air mata nya tumpah meluah sembari menggenggam erat cincin pernikahan milik istrinya.


Rasa kesepian, kehilangan, penyesalan, dan kesedihan mendalam di rasakan nya saat ini.


......................


5 Hari kemudian.


Sudah hampir seminggu semenjak kepergian wanita yang selalu dapat menyelimuti kasih sayang di kediaman megah itu.


Pria paruh baya itu masih berusaha membiasakan dirinya. Setiap makan malam ia memasak sup daging sapi karna itu yang di minta istrinya di saat terakhir.


Tempat duduk istrinya di meja itu selalu di sediakan makanan seperti saat keluarga itu makan bersama.


Gadis cantik itu yang benar-benar terpukul atas kepergian sang ibu membuat nya jatuh sakit dan tak turun dari kamar nya sejak kembali dari pemakaman.


"Adik mu tak mau turun lagi?" tanya Hazel pada putra nya sembari memberi kan daging ke atas piring yang ia siapkan di tempat duduk istrinya.


"Pah...


Kalau Papa seperti ini terus...


Louise gak akan pulih Pah..." ucap Louis pada sang ayah yang seperti berpura-pura bodoh dengan bersikap seperti ibu nya masih hidup.


"Dia akan pulih...


Memang nya apa yang Papa lakukan? Mamah mu mau sup...


Papa mau membuatkan untuk nya..." ucap pria tersebut dengan suara yang mulai serak dan tertahan. Dada nya merasa sesak lagi setiap kali mengingat sang istri.


"Mamah udah gak ada Pah..." ucap putra nya dengan hati yang mulai pedih pada sang ayah. Bulir bening dari mata nya mulai terjatuh lagi saat mengatakan kalimat yang begitu menyayat hati nya.


"Papah tau...


Tapi bagi Papa dia masih hidup...


Karna Papa akan terus mengingat nya..." jawab sang ayah sembari menatap tempat duduk sang istri.


Cara satu-satu nya yang bisa membuat nya bertahan adalah hidup bersama kenangan istrinya. Bayang-bayang wanita itu selalu hinggap di setiap sudut memori nya.


Bibir tersenyum dengan mata yang begitu sendu menatap kursi kosong itu. Ia mulai memakan sup nya yang tak bisa tertelan karna sesak nya hembusan nafas yang ia ambil.


Pria itu berulang kali ingin meminum obat nya dan segera menyusul istrinya. Namun bagaikan seperti sebuah alarm yang di kirim istri nya sang putra tersayang nya selalu datang menemui nya hingga membuat nya tak pernah jadi meminum racun itu.


Pria itu menatap ke arah langit malam dari balkon kamar nya. Langit yang begitu indah di penuhi oleh banyak bintang menghiasi.


"Alyss? Kau disana yah? Sekarang kau sudah tak kesakitan lagi kan? Kau sudah bisa bernafas dengan lega kan?" tanya pria itu sembari menggenggam cincin pernikahan milik istrinya yang ia kalung kan dan menatap ke arah langit malam yang di hiasi penuh bintang.


"Maaf...


Aku tak tau bagaimana caranya bisa bertahan...


Aku ingin dengan mu..." ucap Hazel lirih sembari menuangkan satu botol racun ke dalam gelas yang berisi wine milik nya.


Kali ini ia sudah tak bisa bertahan sendiri lagi. Ia tak sanggup hidup tanpa wanita nya.


Pria itu mulai mengangkat gelas nya yang berisi wine beracun dan siap meminum nya, hingga...


Brak!!!


"Papah! Louise Pah!" putra nya yang langsung berlari dan membuka pintu kamar orang tua nya dengan tergesa-gesa.


Pria itu pun menurunkan gelas nya berjalan ke arah putranya yang terlihat sangat panik.


"Adik mu kenapa?" tanya Hazel pada Louis yang terlihat sangat gelisah.


"Tadi dia mimisan...


Terus tadi sempat pingsan, demam nya juga tinggi Pah...


Aku udah telp dr. Siska sama kasih suntikan Louise...


Tapi dia sekarang dia udah bangun tapi kayak mimpi buruk..." ucap Louis yang benar-benar panik dan khawatir atas kondisi adik nya yang memang mudah jatuh sakit itu.


Hazel pun yang mendengar penuturan putra nya langsung bergegas menghampiri putri kesayangan nya.


Ia mulai masuk dan melihat putri nya yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik terlihat sangat pucat dengan keringat yang terus berjatuhan dari kening nya.


Sekali lagi hati nya hancur melihat hal itu. Ia terlalu tenggelam dalam kesedihan nya sehingga mengabaikan kesedihan anak-anak nya yang juga terpukul atas kepergian ibu mereka.


"Louise...


Ini Papa...


Bangun nak..." ucap pria itu dengan lembut dan berusaha membangunkan putrinya.


Setelah berusaha di bangunkan sang ayah berulang kali akhirnya gadis cantik itu pun terbangun.


Nafas nya terengah-engah dengan langsung menatap sang ayah.


"Papah?" gumam nya lirih menatap pria paruh baya yang duduk di sebelah ranjang nya.


"Pah? Mamah mana? Tadi Louise mimpi mamah meninggal Pah..." ucap gadis itu pada sang ayah dan langsung bangun.


"Mamah masih sama kita kok...


Dia terus sama kita...


Jagain kita...


Tapi Mamah sekarang udah gak kesakitan lagi..." jawab Hazel dengan suara serak memberitau pada putrinya.


"Mamah mana Pah? Louise mau ketemu Mamah...


Hua...." tanya gadis itu dan mulai menangis di hadapan sang ayah.


Pria itu pun kemudian memeluk putri nya dengan erat. Air mata nya mulai meleleh lagi bak lilin yang di bakar oleh api yang sangat panas.


Rasa sangat sesak menahan semua rasa kesedihan nya. Pelukan nya semakin erat pada putrinya yang semakin meraung meminta agar sang Ibu datang dan memeluk nya serta menenangkan nya.


Gadis cantik itu masih belum bisa menerima kepergian yang ia anggap mendadak dan begitu mengejutkan nya.


Louis hanya terdiam sembari menahan air mata nya sebisa mungkin melihat sang adik yang terus menangis di pelukan ayah nya.


"Louise! Hey! Dengar Papa...


Mamah ada kok...


Dia sama kita...


Dia ada disini dan disini...." ucap pria itu melepaskan pelukan nya dan menunjuk ke arah kepala dan dada putri nya.


"Selama kita masih ingat sama Mamah...


Dia masih sama kita terus kok...


Mamah tetap hidup sayang...


Dia hidup di kenangan kita..." ucap Hazel lirih dengan air mata nya yang berjatuhan tanpa pernah di minta.


"Louise mau ketemu Mamah...


Bawain Mamah, Pah...." rengek gadis cantik itu menatap sang ayah.


Hazel terdiam beberapa saat, kalau bisa ia membawa dan mencegah wanita yang sangat di cintai nya, ia pasti sudah lakukan sejak dulu.


"Mau ketemu Mamah kan? Louise makan yang banyak...


Jangan sakit lagi terus harus sehat...


Setelah itu Papa bawa Louise ketemu Mamah..." ucap Hazel yang mulai memikirkan cara bagaimana mengatasi putri cantik nya agar bisa bangun.


Sekarang ia mulai sadar, ia tak bisa memikirkan ego nya yang begitu besar untuk cinta nya. Ia masih memiliki cinta yang lain. Cinta sebagai seorang Ayah pada anak-anak nya.


Ia harus kuat terlebih dahulu untuk menarik tangan anak-anak nya keluar dari laut kesedihan, walaupun akan membuat nya semakin tenggelam dalam laut kesedihan itu.


"Beneran Pah?" tanya putrinya dengan polos pada sang ayah.


"Iya...


"Janji yah Pah..." ucap Louise sembari menatap dengan penuh pengharapan pada Ayah nya, ia tak mau tau apapun, yang penting ia bisa bertemu dengan ibu nya.


"Iyah..." jawab Hazel menjanjikan pada putrinya.


Ia pun kemudian menyuruh putri nya untuk makan dan mulai keluar dari kamar gadis cantik itu. Putra nya pun mulai mengikutinya dari belakang.


"Pah? Papa kenapa janji kayak gitu sama Louise? Mamah udah gak ada Pah..." tanya putra nya lirih pada sang ayah.


"Papa uda janji sama adik mu...


Nanti Papa juga bakalan bawa Louis lihat Mamah yah..." ucap Hazel tersenyum dengan mata berkaca-kaca dan berlalu pergi.


......................


4 Hari kemudian.


Pria itu membawa anak-anak nya menuju rooftop kediaman mewah nya. Ia sudah menyiapkan teropong besar yang dapat melihat bintang-bintang indah di langit malam.


"Lihat itu Mamah..." ucap Pria itu tersenyum sembari memberikan putri nya melihat ke arah teropong.


"Sekarang Mamah udah jadi bintang di sana...


Dia udah gak kesakitan lagi...


Sekarang dia udah tinggal lihat sama jagain kita..." ucap Hazel pada putri nya saat gadis cantik itu selesai melihat teropong.


"Louise...


Selama kita masih ingat sama Mamah, dia masih tetap sama kita...


Jangan sedih lagi yah? Masih ada Papa sama Kakak mu..." ucap sang ayah menghapus lembut air mata putrinya.


Ia berusaha membangun hati yang hancur walaupun ia sendiri juga hancur lebur.


"Iyah...


Kalau si putri cerewet ini sakit...


Kan jadi gak ada yang buat onar lagi..." ucap sang kakak sembari mencubit pipi adik nya, walaupun ia juga merasakan kesedihan namun ia masih bisa mengontrol nya tak seperti sang adik.


......................


2 Tahun kemudian.


Kini si kembar sudah berusia 20 tahun. Louis mulai menduduki posisi presdir dan masih sangat banyak di bantu oleh sahabat ayah nya yaitu Paman Rian.


Sang adik yang setelah menjadi profesor dan mengambil gelar nya sebagai dokter spesialis jantung memilih tak berkerja tetap menjadi dokter dan lebih fokus ke biola nya. Walau terkadang ia masih banyak bermain.


Hazel selama dua tahun terus berpergian mengunjungi semua tempat yang istrinya sukai dulu. Menaiki balon udara dan pergi ke tempat bulan madu mereka.


Selama dua tahun, ia sering sakit tanpa tau penyebab nya. Karna penyebab utama dari penyakit adalah psikologis yang tak pernah bisa terobati dan depresi yang menumpuk karna kepergian sang istri.


Terkadang ia melakukan banyak kegiatan sosial sebagai penebusan atas semua kesalahan nya, ia juga mencari beberapa keluarga dari semua korban nya yang sempat habis di tangan nya dan memberikan bantuan dengan nama anonim dengan memberikan segala akomodasi kehidupan.


Pria itu menelusuri jalan yang dulu nya ia lewati bersama wanita yang ia cintai.


"Alyss...


Bagaimana kau suka kan?" tanya pria itu tersenyum ke samping nya saat ia menaiki balon udara.


Di mata nya kini sang istri sedang berdiri di samping dengan senyuman lembut nya. Ia hidup selama dua tahun dengan semua kenangan dan bayangan istrinya karna hanya cara itulah yang dapat membuat nya bertahan.


......................


Kediaman Hazel.


Setelah kembali dari berpergian nya dan berada di kediaman nya. Hazel pun segera memasuki kamarnya.


Hazel bagus gak?


Bagus...


Tapi terlalu terbuka di bagian atas...


Yaudah aku pakai yang ini aja!


Apa?! Gak boleh!


Gak mau lah! Mau pakai yang ini buat pergi ke pesta!


Melihat sang istri yang begitu keras kepala membuat suami nya langsung mendekat dan mencium bibir tipis istrinya.


Hummphh....


Pria itu tertawa kecil saat melihat ke bagian gaun-gaun istrinya yang masih tersusun rapi. Sekelebat ingatan nya muncul saat sang istri yang begitu ngeyel ingin memakai gaun yang terbuka di bagian atas dan membuat nya melakukan hal itu pada istrinya serta meninggalkan banyak bekas di tubuh sang istri. Agar wanita itu mengganti gaun nya.


"Aku beli ini saat liburan kemarin...


Sepertinya cocok dengan mu..." ucap Hazel tersenyum sembari meletakkan sepatu cantik kedalam laci yang menyimpan sepatu-sepatu wanita.


Tangan nya sekali lagi menggenggam cincin yang ia kalungkan. Setelah mandi ia pun mulai tidur. Kini tak ada lagi yang bisa di peluk nya.


Ia hanya tidur dengan meringkuk kan tubuh nya sembari menggenggam erat cincin pernikahan antara dirinya dan wanita nya.


"Selamat tidur sayang...." ucap nya lirih sembari melihat dengan bayangan istrinya yang ikut tertidur di sebelah nya.


Kamar itu tak ada ubah nya selama dua tahun. Semua kosmetik dan barang-barang istrinya tersusun rapi tanpa pernah ia geser sedikitpun dari tempat nya.


Aroma dan Kenangan dari wanita cantik itu masih membekas hingga ke dinding kamar mewah itu yang menjadi saksi bisa tangis dan tawa wanita cantik itu.


......................


Pantai.


Hazel berjalan menelusuri bibir pantai yang memberikan nya angin lembut. Pantai yang ia hadiahkan pada sang istri di ulang tahun pernikahan mereka.


Pria itu duduk di bangku yang telah di sediakan pantai itu. Menatap nanar ke arah laut kosong yang memberikan ombak tiada henti.


"Alyss...


Angin nya terasa dingin yah? Hari ini aku makan cake kesukaan mu...


Tadi aku juga kerja sosial..." ucap pria tersebut bercerita seperti istrinya masih dengan nya.


"Alyss aku mencintai mu..." sambung pria itu lagi dengan suara tertahan.


Ia masih tak bisa terbiasa dengan kepergian sang istri walaupun sudah dua tahun. Katanya waktu bisa menyembuhkan segala nya. Namun luka nya tak dapat di sembuhkan. Luka tersebut terus basah dan tak pernah mengering.


Ia menjatuhkan bulir bening nya lagi tanpa suara, menggenggam erat cincin yang ia kalungkan dan mencium nya dengan lembut.


Setelah satu tahun kemudian pria itu berusaha bertahan dengan semua kesedihan ditinggal sang istri dan berjuang selama tiga tahun dalam laut kesedihan dan penyesalan yang begitu dalam sedalam rasa cinta yang ia miliki akhirnya pria itu tak dapat bertahan.


Stress dan depresi menumpuk terus menekan psikologis hingga membuat nya melemah dan mudah sakit-sakitan. Menumbangkan pria sekuat baja itu. Tak ada obat yang bisa mengobati karna hanya sang istrinya yang menjadi penawar nya.


Ia meninggalkan semua nya. Anak-anak nya, Harta nya dan kehidupan nya. Tak ada rasa takut meninggalkan semua itu. Kini ia akan menuju ke alam lain dan mencari wanita yang sangat ia cintai. Mungkin dosa nya sudah terlalu banyak namun ia juga sudah sebisa mungkin berubah menjadi "Orang baik" yang di minta istrinya di saat terakhir.


Aku akan mengingat mu...


Mengingat semua tentang mu...


Wajah mu, mata mu, dan senyuman mu...


Wajah kesal yang selalu kau tunjukkan pada ku jika aku mengganggu mu...


Senyuman yang kau tunjukkan saat kau merasa senang...


Bahkan setiap bulir air bening yang jatuh dari mata mu...


Suara mu...


Deru nafas mu yang hangat...


Tangan mu yang selalu dingin...


Aku akan mengingat nya...


Mengingat dari semua bayang mu...


Mengingat semua gerak mu...


Aku akan menyimpan nya dalam hati dan pikiran ku selamanya...


Sampai aku menemui mu lagi di sana...


Terimakasih...


Kau memberiku segala nya....


Mengajarkan ku apa arti dari kata "Cinta" dan "Bahagia" mengenalkan ku emosi yang bahkan tak pernah ku pikirkan akan ku rasakan...


Aku mencintai mu...


Sangat....


Bahkan aku lebih mencintai mu dari pada hidup ku...


Karna kau adalah hidup ku...


Semua yang ku butuhkan ada pada mu...


Jika kau pergi, separuh dari diri ku ikut bersama mu...


Aku harus apa sekarang?


Kau pergi tapi meninggalkan sesuatu untuk ku jaga...


Aku egois...


Dulu dan Sekarang...


Aku sangat ingin ikut dengan mu...


Bersama mu...


Memegang tangan mu....


Tapi aku masih harus menjaga buah hati kita kan?


Jika kehidupan selanjutnya memang ada...


Aku akan mencari mu, aku akan menemui mu lagi dan jatuh cinta pada mu lagi...


Aku akan lebih mencintai mu...


Alyss...


Ayo kita bertemu di kehidupan selanjutnya...


Memulai segala yang salah sejak awal, memulai awal baru yang tak akan memberi mu penderitaan lagi...


^^^Hazel Rai^^^


...****************...


Pengumuman season 2. Besok prolog nya yah 👌👌👌