(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Do you hide something?



3 bulan kemudian.


Kandungan Alyss semakin hari semakin membesar dan sudah menginjak ke usia ke 22 minggu.


Tubuhnya semakin hari semakin melemah, penyebaran dari penyakit yang terus menjalar di dalam dirinya membuat merasakan sakit yang teramat sangat bahkan obat pereda pun sudah tak begitu berpengaruh lagi pada nya.


"Ukh!" rintih nya lirih sembari meremas kuat piyama tidur suaminya yang sedang memeluk tubuh kecil istri kesayangan nya.


Hazel yang semula nyenyak dalam tidur nya mulai terbangun karna wanita nya yang terlihat sangat gelisah.


"Alyss?" panggil pria itu lirih pada istrinya yang seperti merintih menahan sakit yang luar biasa.


Keringat terus keluar membasahi tubuh dan dahi wanita cantik itu, tubuh nya dingin sedingin es, dan wajah yang benar-benar pucat seperti tak memiliki darah.


"Alyss! Hey! Bangun!" ucap Hazel mulai panik saat melihat wanita nya yang terus merintih.


"Sa-sakit...." gumam Alyss lirih sembari terus meremas piyama tidur suaminya.


Seluruh tubuh nya terasa sakit, persendiannya terasa dilumat dan diputar habis, kepala yang terasa sangat nyeri seperti akan meledak dan dada yang terasa sangat sesak hingga tak bisa membuat nya bernafas.


Hazel semakin mengerutkan dahinya ia berusaha memanggil dan menggoyang kan bahu istrinya beberapa kali namun hasil nya tetap sama.


Wanita yang berada dalam dekapan nya terus saja merintih dan mengeluarkan keringat dingin dengan terus menerus membuat nya semakin panik.


Hazel pun dengan cepat bangun dan mengusap beberapa keringat dingin yang jatuh di dahi istrinya. Setelah ia rasa kering ia pun langsung beranjak dari ranjang nya dan segera bergegas mengambil pakaian ganti untuk istrinya.


Ia berniat setelah mengganti pakaian basah istrinya karna keringat ia ingin membawa Alyss langsung ke JBS hospital agar lebih mendapatkan perawatan yang baik dari pada hanya sekedar memanggil dokter.


Melihat keadaan istrinya yang sepeti itu membuat nya teringat dengan tubuh dingin yang ia rendam di bathup setelah ia siksa habis-habisan dulu hingga membuat wanita cantik itu sempat mengalami heart arrest.


Mata nya mulai membuka sayu. Tubuh kecil itu masih meringkuk sembari meremas apa yang bisa ia genggam di tangan kecil nya.


"Dia dimana?" gumam Alyss lirih saat menyadari suaminya yang tak berada di samping nya karna sedang mengambil pakaian ganti untuk nya.


Tubuh nya masih terasa sakit, dada nya terasa sesak seperti sedang di tekan dengan kuat. Pandangan nya mengabur melihat dan mencari ke segala sisi agar dapat menemukan prianya.


"Alyss? Kau sudah bangun?" tanya seorang pria yang memiliki suara tak asing terdengar sayup ditelinga nya.


Pandangan dan pendengaran nya mengabur tak dapat melihat dengan jelas apa yang di depan nya. Penekanan pada sistem syaraf pusat nya semakin berpengaruh saat ia merasakan sakit.


"Hey? Kenapa? Sini ganti baju dulu." ucap Hazel sembari membangunkan istrinya dan membuka piyama yang sudah basah karna keringat yang terus membanjiri tubuh kecil itu.


"Setelah ini kita kerumah sakit." ucap Hazel saat ia mengganti piyama istrinya.


Mendengar samar kata "Rumah sakit" membuat Alyss langsung memegang tangan pria kekar itu.


"Tidak perlu ke rumah sakit!" sanggah Alyss cepat dengan mengumpulkan semua tenaga dalam dirinya.


"Tidak perlu?! Kau sudah seperti ini tapi tak perlu kerumah sakit?!" tanya Hazel dengan nada tinggi pada istrinya yang masih ingin bernegoisasi padahal sudah jelas-jelas merintih kesakitan barusan.


"Aku mimpi buruk!" jawab Alyss cepat sebelum suaminya menggendong nya.


"Apa?" tanya Hazel bingung sembari mengernyitkan dahinya.


"Aku mimpi buruk...


Aku...


Aku mimpi di hari itu lagi..." jawab Alyss lirih dengan suara yang sangat pelan, ia berusaha membohongi suaminya dengan mengatakan hal yang berbekas di hati pria itu.


"Hari apa? Malam itu?" tanya Hazel dengan suara lirih.


Alyss mengangguk perlahan dengan menunduk ia takut jika melihat mata pria di hadapan nya akan membuat pria itu tau jika ia sedang berbohong.


"Iya...


Rasa sakit nya masih nyata...


A-aku tak tau kenapa bisa mimpi malam itu lagi..." jawab Alyss lirih dengan suara gemetar. Merasakan sakit sekaligus berbohong di waktu yang sama membuatnya menghasilkan sikap yang bisa membuat orang lain begitu percaya.


Hazel terdiam sejenak, rasa bersalah mulai merasuki dirinya lagi melihat wanita di hadapan yang sedang gemetar.


"Kita ke rumah sakit sebentar yah...


Atau mau ku panggilkan dr. Siska saja?" ucap Hazel melembut.


"Tidak..." jawab Alyss lirih dengan menggeleng perlahan.


"Tapi kau terlihat-"


"Ku mohon..." potong Alyss cepat, ia tak mau suami nya sampai tau tentang penyakitnya.


Karna walaupun beberapa dokter dan prof dari JBS hospital dan farmasi sudah bekerja sama dengan nya, namun ada beberapa yang masih belum tau menau tentang penyakit nya. Dan jika di lakukan pemeriksaan menyeluruh ia bisa ketahuan.


Hazel menatap iris Alyss dengan lekat, tangan kecil itu memegang lengan nya dengan erat agar tak membawanya pergi.


Terlihat kegelisahan dan ketakutan di mata sayu itu, ia belum pernah mendengar wanita nya memohon lagi seperti itu padanya setelah terbangun dari masa kritis nya.


Permohonan yang meminta jangan lakukan...


"Kenapa?" tanya Hazel dengan suara lembut agar tak membuat wanita nya takut lagi.


"Kau tau kan? Aku sangat membenci tempat itu? Aku benci aromanya...


Aku benci dengan orang-orang yang memakai jas putih itu...


Aku benci dengan suasananya...


Aku benci semua nya..." jawab Alyss lirih, kini ia sudah tak mengatakan kebohongan lagi, ia memang sudah benar-benar muak dengan rumah sakit.


"Aku sangat benci sampai aku melepaskan mimpi ku...


Impian ku..." sambung Alyss lirih dengan suara bergetar dan tertahan. Sebesar itu rasa muak nya pada rumah sakit sampai ia melepaskan impian yang ia genggam sejak kecil untuk menjadi dokter.


"Ku mohon...


Jangan bawa lagi kesana..." pinta Alyss dengan mata yang berkaca dan wajah yang sudah sangat pucat menatap iris suaminya dengan lekat.


"Tangan mu dingin..." ucap Hazel yang membuang pandangan nya agar tak menatap wajah sendu istrinya. Ia mengusap dan meniup perlahan tangan wanita nya agar terasa hangat kembali.


Hati nya juga seperti teriris saat melihat wanitanya seperti itu, ia tau sebesar apa mimpi istri kesayangan nya untuk menjadi dokter.


Karna wanita itu selalu keras kepala dan tak pernah ingin berhenti walaupun ia sudah berulangkali mengunakan cara yang kasar. Tapi kini?


Sekarang wanita cantik seperti memiliki trauma hingga ia melepas apa yang ia inginkan sejak dulu.


Bukankah aku harus nya senang? Sekarang dia benar-benar seperti yang ku inginkan...


Tapi kenapa seperti ini?


Kenapa rasa nya tak nyaman?


Pikiran yang melayang tinggi, mulai memenuhi isi kepala pria itu. Walaupun wanita di hadapan nya sudah memiliki kepribadian yang lebih kuat namun apa yang sudah di rusak tak dapat di kembalikan seperti semula.


Ia meninggalkan bekas mendalam pada wanita yang ia cintai karna sikap gila nya, karna ego yang tak mau mengalah dan hanya memikirkan dari sudut pandang nya membuat nya merusak dan menghancurkan hingga ke puing terkecil yang tak akan bisa lagi di perbaiki dan di temukan.


"Tangan mu dingin sekali..." ucap Hazel sembari semakin mengusap tangan kecil itu.


Alyss yang perlahan diam pun mulai masuk kedalam pelukan suaminya dan menutup wajah nya ke dada bidang pria di hadapan nya.


Setelah beberapa saat ia pergi dan mengambil obat penenang, ia tak tau harus apa dan malah memberi obat itu untuk istrinya.


"Minum ini..." ucap Hazel sembari memberikan pil penenang dan segelas air pada istrinya.


Alyss tertawa kecil di bibir nya walaupun mata sayu itu terlihat sembab dan wajah yang memucat bagai seputih kertas saat melihat suami nya memberi nya obat penenang. Ia tau pasti pria di hadapan nya sudah benar-benar bingung harus apa lagi.


"Sudah..." ucap Alyss lirih setelah meminum obat itu.


Hazel pun merangkul tubuh kecil itu dan mengelus punggung nya perlahan lagi hingga wanita nya sudah benar-benar tenang kembali.


Setelah melihat istrinya yang kembali tenang Hazel pun menidurkan kembali tubuh kecil itu dan mulai memanggil dr. Siska.


Ia tau Alyss tak mau di periksa tapi bukan Hazel namanya jika tunduk pada perkataan orang lain.


Setelah sekitar 40 menit akhir nya dr. Siska sampai di kediaman megah itu.


Dr. Siska yang baru sampai pun segera menghampiri Alyss dan memeriksa kondisinya.


Alyss sudah tertidur nyenyak seperti putri tidur dengan wajah yang tenang namun tetap menunjukkan warna pucat dan keringat yang terkadang keluar dengan tubuh sedingin es.


"Suhu tubuh nya rendah hanya 34°C detak nya juga tak stabil, dan..." ucap dr. Siska yang menggantung ucapan nya.


"Dan apa?! Dia kenapa?!" tanya Hazel mulai panik.


"Irama jantung nya berbeda dan lebih lambat dari jantung normal.


Apa dia sedang tidur atau pingsan saat ini?" tanya dr. Siska pada suami dari pasien yang sedang ia priksa karna sebelum nya ketika ia datang Alyss sudah tertidur.


"Dia tertidur, aku memberinya obat penenang beberapa saat yang lalu." jawab Hazel was-was.


"Obat penenang? Bukan kah nyonya juga seorang dokter? Kenapa dia tetap meminum nya? Detak nya menjadi lebih lambat dan mungkin bisa tiba-tiba menjadi lebih cepat." ucap dr. Siska yang bingung mendengar jika Alyss tetap meminum apa yang di berikan suaminya.


"Kandungan nya?" tanya Hazel lirih ia mulai takut jika sesuatu terjadi pada istri dan calon anak nya karna ulah nya lagi.


"Itu dia...


Kandungan nya seperti baik-baik saja walaupun kondisi ibu nya seperti ini. Namun jika kondisi nyonya masih tak ada perubahan hal itu bisa membahayakan kandungan nyonya." jawab dr. Siska. Ia juga merasa bingung karna wanita di hadapan nya terlihat benar-benar sakit tetapi janin nya terlihat baik-baik saja dan tak terpengaruh pada rasa sakit ibu nya.


Hal itu terjadi karna Alyss yang rutin memakai obat yang di kembangkan dan di ciptakan untuk kesehatan calon anak-anaknya. Namun agar tak memiliki efek berbeda ia menghentikan semua pengobatan nya dan hanya terfokus pada calon buah hati nya.


Hazel mengerutkan dahi nya mendengar hal itu. Ia pun kembali melihat ke arah wajah pucat wanitanya.


"Apa jika di ambil darah nya sekarang tak apa?" tanya Hazel karna ia tau mengambil darah di kondisi yang tak sadar atau stabil bisa berisiko.


Dan ia tak mau mengambil resiko walau hanya sedikit.


"Lebih baik setelah nyonya sadar, tuan." jawab dr. Siska menyarankan.


Setelah memberi beberapa resep dan memberikan obat dr. Siska pun pamit pergi.


Hazel memperhatikan wajah pucat istrinya dengan lekat. Ia mengusap beberapa bulir keringat yang jatuh di dahi putih tersebut.


"Maaf..." ucap Hazel lirih dengan suara yang sangat pelan. Ia masih merasa bersalah setiap kali melihat wanita nya seperti itu.


......................


Pukul 07.34 AM


Pagi menyinsing menyebarkan sinar mentari yang menyeruak memasuki ruangan kamar megah itu.


Hazel sudah tak dapat tertidur lagi sejak jam 3 dini hari tadi karna terus memperhatikan dan memikirkan keadaan wanitanya.


"Kau sudah bangun?" tanya Hazel lirih saat melihat istrinya menggeliat dalam tidur dan mulai membuka mata nya perlahan.


"Hmm..." jawab Alyss dengan senyum tipis di bibir nya menatap lembut ke arah suaminya.


"Masih mimpi buruk lagi?" tanya Hazel sembari mengusap kening wanita nya perlahan.


Alyss hanya menggelengkan kepala nya perlahan dan memeluk tubuh bidang suaminya.


Hazel pun membalas pelukan dari istri kecilnya dan merasakan sedikit halangan karna perut yang sudah mulai membulat dan membuncit berisi bayi kembar miliknya.


Setelah memeluk istri nya beberapa saat Hazel pun mulai bangun dan ingin menyiapkan makanan untuk wanitanya.


"Mau kemana?" tanya Alyss lirih sembari memegang tangan kekar itu yang ingin beranjak bangun dari ranjang nya.


"Mandi, setelah itu membawakan sarapan untuk mu." jawab Hazel sembari menggenggam jemari kecil yang sedang memegang tangan nya.


"Ikut...


Mandiin juga..." ucap Alyss manja sembari membuka tangan nya agar mengisyaratkan untuk segera di gendong.


Hazel hanya tersenyum melihat istrinya yang sudah terbiasa manja padanya. Ia pun mulai menangkup tubuh kecil itu dan mulai menggendong nya.


"Lumayan." jawab Hazel tersenyum.


Alyss hanya tertawa kecil mendengar hal tersebut.


30 menit kemudian.


Hazel mengusap dengan handuk kecil untuk mengeringkan rambut basah istrinya.


"Sudah merasa lebih segar?" tanya Hazel dan terus mengusap rambut basah itu.


"Tumben tadi gak minta yang lain?" tanya Alyss tertawa kecil menggoda suaminya.


Hazel menghentikan usapan di handuk nya dan menatap ke arah istrinya sembari melempar senyum menggoda membalas senyum nakal wanita nya.


"Kenapa? Kau mau sesuatu yang lain?" bisik Hazel saat mendekat ke telinga wanitanya.


"Kan cuma tan- Auch!" ucap Alyss terpotong saat pria nya menggigit telinga nya hingga memerah.


"Kenapa suka sekali mengigit sih?" gerutu Alyss kesal sembari mengusap telinganya.


"Kenapa yah? Mungkin karna kau sangat menggemaskan?" jawab Hazel tertawa kecil melihat wajah cemberut istrinya.


"Benarkah?" tanya Alyss tersenyum sembari mulai mengalungkan tangan nya di pundak pria nya.


Mata yang saling mengunci satu sama lain memperhatikan iris pasangan nya dengan lekat.


Humphh...


Satu ciuman saling bertaut di antara kedua orang itu, tak tau siapa yang memulai namun kini hanya terdengar suara dari decakan ciuman yang semakin dalam.


Saat ciuman istrinya semakin dalam ia pun berusaha mendorong tubuh kecil itu perlahan agar ciuman panas nya berhenti sejenak.


"Kenapa?" tanya Alyss lirih yang masih mengatur nafas saat suaminya berusaha melepaskan ciuman mereka.


"Jangan...


Kalau di lanjutkan lagi aku bisa..." jawab Hazel dengan suara berat, ia tak akan bisa menahan dirinya lagi jika mendapatkan lebih banyak sentuhan dari wanita nya.


"Kalau begitu lakukan saja...


Kenapa menahan nya." ucap Alyss lirih sembari memegang rahan kekar pria nya.


"Setelah kau melakukan pemeriksaan." jawab Hazel sembari memandang lekat wajah istrinya yang masih terlihat pucat.


"Pemeriksaan? Pemeriksaan apa?" tanya Alyss mulai gusar.


"Kenapa semalam kau tetap meminum nya?" jawab Hazel yang malah balik bertanya.


"Obat itu?" tanya Alyss lirih mengingat ketika suaminya memberinya obat penenang waktu ia terbangun karna merasakan sakit.


"Hm..." jawab Hazel singkat sembari terus melihat mata istrinya menunggu jawaban.


"Karna kau yang berikan." jawab Alyss.


"Kau tak mungkin tak tau jika tak bisa meminumnya kan? Kenapa seperti itu? Kau mau menghukum ku lagi?!" cerca Hazel dengan banyak pertanyaan, jika memikirkan malam tadi membuat nya frustasi karna membuat istri terjebak dalam bahaya tanpa ia ketahui.


Alyss hanya diam dan tak menjawab lagi, ia ingin memberitau sebenarnya. Tapi ia tak bisa melakukan nya karna sangat mengetahui sifat suaminya.


Hazel mungkin akan memaksa ia tetap menjalani pengobatan tanpa takut resiko yang bisa mengorbankan calon anak-anak nya. Sedangkan ia sendiri sangat sulit untuk hamil dan resiko keguguran yang juga sangat tinggi.


"Kenapa aku menghukum mu? Bukan kah dua tahun sudah cukup untuk mu?" tanya Alyss lirih. Ia tau maksud hukuman yang di katakan suaminya.


Bagi pria itu hukuman yang paling besar dan menyakitkan saat ia meninggalkan nya, saat ia sudah pergi dari sisi pria itu.


"Kau tau kan? Seberapa banyak aku menyukai mu?" tanya Hazel lirih sembari memegang pipi wanita nya dan mengusap dengan ibu jarinya.


"Kenapa baru sekarang? Hm? Kenapa kau tak mencintai dengan cara seperti ini dulu?" tanya Alyss lirih dengan menatap lekat iris pria nya.


Ia tak mau mengingat semua kejadian pahit yang di berikan pria itu pada nya. Rasa sakit yang bertubi-tubi hingga membuatnya jatuh bangun sampai titik dimana tubuhnya sudah benar-benar hancur.


Hazel hanya diam, ia tak bisa menjawab pertanyaan dari wanita nya. Baginya semua yang ia lakukan pada wanita itu atas dasar "Cinta" Bahkan semua penyiksaan yang ia berikan itu juga mengatasnamakan "Cinta" dibalik perbuatan iblis nya.


Mencintai seseorang dan mengatur emosi yang hanya terlihat stabil namun seperti lava yang siap menyemburkan api nya membuat nya menggunakan cara yang salah namun ia anggap benar.


"Maaf..." hanya itu yang bisa ia katakan dari bibir nya. Ia tak bisa memutar kembali waktu dan hanya berusaha memperbaiki semua yang sudah ia rusak.


Kenapa sekarang? Saat semuanya sudah seperti ini?


Alyss tersenyum tipis sembari menahan air mata nya. Entah kenapa suasana yang sebelumnya terlihat biasa saja bisa mengubah suasana hatinya.


"Aku sudah bilang jangan katakan maaf lagi kan?" tanya Alyss dengan memaksakan senyum nya.


Selama dua tahun lebih ia sadar dan bahkan sampai sekarang ia belum pernah membalas ucapan kata "Maaf" dari suaminya atau pun mengatakan "Aku memaafkan mu" Bukan nya ia tak mau.


Namun saat mengingat semua perbuatan yang di lakukan pria itu pada nya, bahkan seribu kata maaf tak akan pernah cukup.


Diperkosa berulang kali hingga ia pernah menganggap dirinya sendiri sebagai wanita murahan, direnggut kebebasan dan kebahagian nya bahkan sampai berulang kali merasakan sakit yang tak pernah dibayangkan nya.


Tapi hanya karna satu titik rasa suka di hatinya ia berusaha melupakan semua itu dan tetap menyukai pria yang sedang bersama nya saat ini.


"Lalu aku harus bagaimana? Hm? Aku tak mau kehilangan mu..." jawab Hazel lirih.


"Kau tak kan kehilangan diri ku...


Karna aku tetap akan disini..." ucap Alyss tersenyum.


"Aku tak mau melakukan pemeriksaan...


Setidaknya sampai anak kita lahir...


Aku tak mau melakukan hal yang bisa membuat ku kehilangan mereka..." sambung Alyss dengan mata penuh pengharapan.


"Hanya pemeriksaan saja...


Itu tak membahayakan sama sekali." ucap Hazel pada istrinya.


"Aku tak mau...


Dengarkan aku sekali ini saja...


Saat mereka sudah benar-benar ada pada kita aku akan lakukan semua yang kau minta." jawab Alyss dengan semakin menatap lekat iris prianya.


Sebagai ibu ia harus menyelamatkan anak nya lebih dulu, jika suaminya tau tentang keadaan nya sebelum bayi nya lahir maka...


"Aku akan keringkan rambut mu..." ucap Hazel yang mengalihkan pembicaraan nya dan bergegas mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut istrinya.


Jika wanita nya tak mau di ajak untuk memeriksa dengan baik, maka cara satu-satu nya adalah mengambil darah wanita nya untuk pemeriksaan tanpa wanita nya sadar.


......................


Dua minggu kemudian.


JBS Hospital.


Setelah diam-diam mengambil darah dari vena istrinya setelah memberi anestesi yang tak membahayakan kandungan yang sedang di bawa istrinya.


"Dia hanya kelelahan?" tanya Hazel ketika membaca hasil pemeriksaan yang di bawakan oleh Rian.


"Benar...


Selain itu mungkin perubahan kondisi tubuhnya karna faktor psikologis yang di sebabkan karna trauma." jawab Rian agar semakin membuat teman nya percaya pada hasil yang ia bawa.


"Kelelahan? Trauma?" gumam Hazel sembari mengetukkan jemarinya di meja kerja nya.


Ia merasa janggal sebelumnya karna mendengar pertanyaan yang di lontarkan Alyss padanya.


Kenapa baru sekarang? Hm? Kenapa kau tak mencintai dengan cara seperti ini dulu?


Kata-kata yang membuatnya terasa seperti menyimpan sesuatu di dalam nya.


Apa aku yang hanya terlalu banyak berfikir? Hasil nya tak mungkin salah kan? Rian tak akan berbohong pada ku dan juga tak ada alasan untuk itu.


Hazel tak tau jika sekretaris sekaligus teman nya sudah bekerja sama dengan istrinya untuk menutupi penyakit mematikan itu, setidaknya sampai anak nya lahir.


Rian bahkan sudah mencoba berulang kali agar Alyss mau memberitau sendiri pada Hazel agar tak menjadi masalah besar di kemudian hari. Tetapi rasa takut akan kehilangan bayi nya lagi membuat nya berusaha menutup mati-matian tentang penyakitnya pada suaminya.


......................


Kediaman Hazel.


Setelah kembali dari RS ia mencari istrinya. Langkahnya terhenti saat melihat senyum manis wanita yang sedang mengelus perutnya yang semakin membulat.


"Kau sedang apa?" tanya Hazel sembari memeluk wanita nya dari belakang.


"Mendekorasi ruangan kamar anak kita." jawab Alyss dengan ceria.


"Kenapa dominasi warna biru dan merah muda?" tanya Hazel sembari memeluk istrinya.


"Tentu saja! Mereka kan sepasang!" jawab Alyss semangat.


Hazel hanya tersenyum dan membalik tubuh wanita nya, Ia pun sedikit membungkuk dan mengarah pada perut yang membuncit itu.


"Kalian hari ini tak minta yang aneh lagi kan? Jangan membuat mamah mu kesulitan..." ucap Hazel sembari mengelus perut bulat wanitanya.


"Mereka jadi anak baik kok hari ini..." ucap Alyss tertawa kecil


"Iya kan nak?" tanya Alyss dan menundukkan kepalanya melihat ke arah perut nya yang semakin membesar.


Hazel pun ikut tersenyum ia pun berdiri dan mulai menatap ke arah wanitanya.


"Alyss?" panggil Hazel dengan nada serius.


Wanita yang awalnya sedang mengelus dan melihat ke arah perut buncitnya pun mulai mengalihkan pandangan nya kepada pria di depan nya.


"Aku akan tanya pada mu lebih dulu, jadi kau harus benar-benar menjawab ku." ucap Hazel dengan serius seperti sedang memberi peringatan.


"Apa itu?" tanya Alyss bingung dengan menatap erat iris prianya.


"Kau menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Hazel sembari memperhatikan mata di hadapan nya.


"Tidak! Aku sama sekali tak melakukannya!" jawab Alyss yakin walaupun ia sedang berbohong, ia sebisa mungkin menyembunyikan rasa gelisah nya.


"Kutanya sekali lagi...


Kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Hazel yang terakhir kali.


"Tidak ada." jawab Alyss tetap sama.


Hazel pun mengangguk perlahan, ia menyelipkan anak rambut ke telinga wanitanya dan mulai berbisik.


"Kalau sampai aku menemukan sesuatu..." bisik Hazel menggantung.


"Aku punya banyak cara untuk menghukum dan membuat mu tetap patuh walaupun bukan dengan penyiksaan...


Dan ku harap aku tak pernah melakukan nya..." bisik Hazel lagi dengan penuh nada penekanan.


Alyss diam dan tak membalas bisikan pria itu di telinganya. Wanita itu hanya memejamkan mata nya sesaat dan mengepalkan tangan kecil nya mengindahkan peringatan dari suaminya.


...****************...


Maaf yah semalam ga up🤧🤧


Othor nya sibuk bikin kue lebaran dan ini itu belum lagi othor nya yang memang udah kurang fit jadi kalau di paksain malah drop🤧


Oh Iya...


Minal 'Aidin wal-Faizin yah♥️♥️♥️


Selamat merayakan Idul Fitri 1442 bagi yang merayakan yah♥️♥️🎉🎉🎉


Semoga kita semua dalam lindungan yang Maha Kuasa dan sehat selalu biar bisa kumpul terus sama keluarga kesayangan♥️♥️