
Pembangunan kontruksi cabang JBS farmasi.
Alat-alat berat dan bahan material bangunan yang masih dalam tahap pengerjaan membuat Louis sesekali mengecek agar tidak terjadi kesalahan.
"Kenapa bahan yang mereka pakai beda dari yang seharusnya?" ucap Louis lirih saat melihat proses pembangunan.
"Cla, coba kembali cek anggaran bahan bagunan yang di keluarkan." ucap Louis pada sekretaris manis nya yang sedang di sebelah nya dengan membawa i pad kerja yang berisi data dan jadwal.
"Anggaran nya 2.346.000 USD termasuk semua bahan anti bencana." jawab Clara setelah mengecek nya.
2.346.000 USS sama dengan sekitar 34 miliar hanya untuk bahan bangunan yang akan di gunakan dan masih terpisah dengan urusan keuangan lain nya.
"Mereka memakai anggaran yang banyak tetapi memakai bahan murahan?! Sial! Cari tau manager nya dan panggil direktur Jacob ke ruangan ku besok!" ucap Louis terlihat marah.
Direktur Jacob memang mengkorupsi dana yang seharusnya di peruntukan untuk bangunan yang berbahan dasar nomor satu dan kualitas terbaik.
Karna ia termasuk salah satu direktur yang berusaha menjatuhkan Louis membuat nya tak takut berbuat nekat karna sudah mendapatkan dukungan dari Rian yang saat pertemuan menyetujui rencana jahat mereka.
Walaupun pencucian dana dan korupsi yang ia lakukan tak masuk ke dalam prospek rencana dan bahkan Rian juga tak tau jika salah satu direktur berbuat melenceng yang dapat mengakibatkan ratusan nyawa terancam karna bahan bermutu jelek yang ia pesan.
Namun direktur Jacob berencana mengambil uang hasil korupsi nya dan akan menambahkan tuduhan palsu pada Louis serta semakin memancing amarah publik pada pria tampan itu.
Karna hukum yang paling baik dan tertinggi untuk orang-orang berkuasa adalah hukum publik. Walaupun jika Louis melakukan kejahatan dan tertangkap ia bisa saja bersih dari hukuman pidana, namun jika masyarakat dan publik berdemo serta memantik kemarahan para awam pasti akan membuat para penegak hukum benar-benar menjatuhkan pidana yang seharusnya.
Dan akan membuat saham turun yang nanti nya akan membuat investor, rekan kerja sama perusahaan dan pemegang saham lain nya menjadi marah dan tak terkendali membuat JBS menjadi dapat akusisi oleh perusahaan lain.
Clara melihat atasan nya yang terlihat geram saat ini.
"Anda mau berkeliling lagi?" tanya Clara pada pria itu.
"Kita sedang tidak dekat dengan orang lain atau berada di lingkup bisnis. Tidak bisakah memanggil bahasa yang tidak formal dengan ku?" tanya Louis saat mendengar bahasa kaku gadis itu.
Clara membuang wajah nya tak ingin menatap ataupun menjawab pria tampan itu. Ia sangat tak ingin ada lagi gosip atau isu yang berkembang mengenai hubungan nya dengan Presdir nya.
Cup...
Mata Clara membulat dan menatap pria itu langsung dengan sengit saat pria tampan itu mengecup bibir nya dengan tiba-tiba di tempat terbuka seperti itu.
"Apa yang anda laku-"
Cup...
Sekali lagi ucapan nya terpotong hingga membuat nya bungkam ketika bibir lembut itu menempel sekilas ke bibir nya.
"Hukuman...
Kalau kau bicara formal lagi atau tak menjawab ku akan menanggap kalau sedang ingin ku cium..." jawab Louis tersenyum menatap gadis manis yang terlihat panik itu.
"Saya tak mau ada gos-"
Hummpphh...
Bukan nya mengecup namun kali ini pria itu menarik tangan Clara dan langsung memeluk pinggang ramping gadis manis itu agar segera melekat dan masuk ke pelukan nya serta menahan tengkuk gadis itu dan memberikan lum*tan halus nya.
Clara langsung memberontak dan sangat takut jika terpergok orang lain yang berada dalam konstruksi bangunan tersebut.
"Ih! Masa kakak cantik nya di makan sih?! Nih aku kasih pelmen bial gak makan olang!" suara bocah yang masih cedal terdengar di sela ciuman panas yang di berikan Louis pada gadis kesukaan nya.
Clara langsung tersentak dan semakin mendorong dada bidang Louis yang sedikit terkejut mendengar ucapan bocah cedal tersebut.
Hah...hah...hah...
Clara berusaha menetralkan nafas nya yang serasa ingin habis saat pria itu merengguk bibir dan lidah nya dengan agresif sembari mengusap bibir basah nya.
"Nih aku kasih pelmen bial kakak ganteng nya gak makan kakak cantik nya lagi, masa udah besal suka gigit sih? Kayak dinosaulus!" oceh bocah yang datang entah dari mana itu sembari memberikan permen coklat pada Louis.
Louis menatap jengkel pada bocah tersebut karna di ganggu saat ia sedang mencium gadis nya.
Anak tersebut yang seperti tak tau apa-apa dan sangat polos itu beringsut menciut saat pria tampan di depan nya menatap nya tajam.
Melihat mata anak lelaki yang sudah berkaca dan hampir menangis membuat Clara langsung mendatangi nya dan menangkup anak yang entah dari mana itu.
"Kakak tidak di kasih permen juga? Kakak kan juga lapar..." ucap Clara sebelum tangis anak itu meledak.
Anak lelaki itu pun merogoh kantung celana nya dan mengambil sisa permen yang ia miliki.
"Yah tinggal satu..." ucap nya lesu namun tetap memberikan nya pada Clara.
"Yaudah deh buat kakak aja...
Felix masih kenyang..." jawab nya lesu sembari memberikan permen tersebut.
Clara tertawa gemas melihat keluguan dan sikap manis bocah itu.
"Kenapa bisa di sini? Kau datang dengan siapa?" tanya Clara sembari membersihkan sisa debu di pakaian anak tersebut karna terlihat sedang baru saja bermain di sudut lain.
Baru saja ingin menjawab dan membuka mulut nya namun nama anak tersebut sudah di panggil oleh pria paruh baya yang merupakan ayah nya.
"Felix?" panggil sang ayah yang sangat terkejut saat anak nya bertemu dengan atasan dan presdir utama.
Ayah Felix pun langsung menghampiri putra nya dan langsung meminta maaf pada Louis.
"Kenapa membawa anak kecil ke lingkungan kerja seperti ini?! Kau tak tau itu sangat berbahaya?!" tanya Louis menatap tajam pria paruh baya itu yang merupakan pekerja bangunan di tempat itu.
"Ma-maaf presdir...
Ibu nya baru meninggal saya tak bisa meninggalkan nya..." jawab pria yang mendekati usia paruh baya tersebut.
Louis pun mendesah kasar mendengar hal tersebut.
"Titipkan di tempat penitipan anak, aku tak mau melihat anak kecil di tempat ini lagi, kau bahkan tak tau SOP!" ucap Louis memarahi pria tersebut.
Karna memang membawa anak kecil di proses pembuatan bangunan akan dapat berbahaya saat tak diawasi dengan ketat.
"Hua...
Kakak ganteng nya jahat! Ayah kan gak salah Hua..." tangis anak itu pecah saat pria tampan itu memarahi sang ayah karna tak taat peraturan dalam bekerja.
"Cengeng!" decak Louis pada anak tersebut dengan kesal.
Clara pun langsung meraih anak tersebut dan mengusap air mata nya.
"Unch...
Sayang...
Jangan nangis, nih kakak gantiin permen nya sama coklat mau?" tanya Clara sembari mengeluarkan coklat yang baru saja di berikan Louis saat dalam perjalanan melihat kontruksi bangunan.
Louis membelikan coklat tersebut karna saat mereka berhenti Clara melirik sesekali ke arah coklat dan membuat pria itu membelikan nya.
"Jangan di kasih Cla! Kan untuk mu!" jawab Louis mencegah gadis itu, ia merasa cemburu untuk hal sepele.
"Nangis anak nya...
Kasihan..." jawab Clara pada Louis, ia tau jika memberikan barang pemberian orang lain ke orang lain lagi itu kurang sopan, namun ia tak bisa menemukan cara agar anak anak itu diam dan tak tega saat melihat nya terus menangis.
"Nona sekretaris tak perlu repot...
Maaf saya akan bawa Felix..." ucap sang ayah yang takut membuat anak nya terkena masalah hingga menarik sang anak.
Felix yang sudah terlanjur melihat coklat yang akan di berikan pada nya melirik dan menatap sang ayah.
"Ayah...
Felix mau coklat juga..." rengek nya pada sang ayah.
Ayah Felix hanya diam karna ia tau keuangan nya tak bisa di hamburkan untuk jajanan mahal seperti itu.
Ctak!
"Aduh! Hua..." tangis nya yang semakin pecah saat kening kecil nya di jentik oleh Louis.
Pria itu pun menelpon bawahan nya yang lain untuk mengirim coklat yang sama seperti yang ia berikan ke Clara untuk anak itu.
"Bocah cengeng! Aku sudah kirim coklat mu, jangan nangis terus!" ucap Louis berdecak.
Ia tak suka saat anak lelaki tersebut merebut perhatian sekretaris manis nya. Anak tersebut hanya melihat Louis dengan mata sembab nya.
"Terimakasih untuk permen mu, aku sudah belikan coklat jadi ini coklat untuk kakak cantik saja." ucap Louis saat anak itu seperti tak mengerti ucapan nya.
Ia mengganti permen murah yang di berikan anak tersebut dengan sebuket coklat mahal kualitas tertinggi untuk Felix si anak kecil yang mengacaukan ciuman nya dan menganggap nya seperti dinosaurus.
"Telus coklat Felix mana?" tanya nya dengan polos menatap pria yang memakai barang branded dan mewah tersebut dari ujung kaki hingga kepala.
"Astaga...
Yah belum datang coklat mu, nanti juga sampai! Cerewet sekali sih?" tanya Louis menghela nafas mendengar pertanyaan polos itu.
Tak mungkin coklat yang ia kirimkan langsung sampai dan ada dalam hitungan detik.
"Aku sudah memberitau bawahan ku untuk memberikan coklat nya pada anak mu atau dengan mu. Dan ini peringatan terakhir, jangan membawa anak kecil ke tempat bekerja mu lagi kalau memang masih ingin bekerja!" ucap Louis tegas dan menarik tangan sekretaris manis nya.
Pria yang memakai topi bangunan dan baju lusuh itu berterimakasih sekaligus meminta maaf atas kelalaian bekerja yang ia lakukan.
......................
Mansion Dachinko.
Pria itu menatap ke arah gadis yang tertidur cantik dengan wajah pucat nya, tangan nya membelai lembut pipi halus gadis itu dan sesekali menyentuh sudut bibir yang terluka karna tamparan keras nya tadi.
"Kau harus membayar untuk tadi nanti nya, dan saat itu datang aku akan memakan mu dengan habis..." ucap James pada gadis yang kini sudah berpakaian lengkap dan tertidur.
Flashback on.
3 Jam sebelum nya.
Aku datang bulan, kau mau melakukan itu?" tanya Louise lirih yang setengah menangis karna kram di perut nya saat pria itu masih telungkup diatas tubuh nya dan menjatuhkan wajah ke lengkung jenjang leher nya.
James pun beringsur bangun walaupun salah satu bagian tubuh nya yang ia inginkan untuk turun malah semakin menjulang berdiri.
"Kenapa sekarang sih?!" tanya James kesal dan berlalu ke kamar mandi setelah menggulung tubuh polos yang penuh dengan bekas kepemilikan itu dengan selimut.
Ingin sekali rasanya ia memanggil Nick dan memerintahkan bawahan nya itu untuk mencari wanita yang bisa ia jadikan penghantar dan pelampiasan nafsu nya sementara.
Namun saat teringat gadis cantik itu entah kenapa ia seperti tak lagi berniat dan tak ingin mengecewakan Louise jika ia melakukan hal tersebut dengan wanita lain.
Sangat aneh namun ia memang tak ingin mengecewakan gadis itu dan melukai nya untuk perasaan seperti itu.
Air dingin yang membasahi nya tubuh nya berharap minat nya akan segera hilang.
"Sial! Kenapa aku bisa seperti ini lagi?!" decak pria kesal.
Ia ingat saat masih bersama dengan mantan kekasih nya ia juga pernah berada di situasi yang mirip saat sudah berada di puncak gairah namun Bella malah datang bulan tiba-tiba.
Dan karna ia dulu tak pernah bermain wanita kecuali dengan kekasih nya ia hanya bisa menahan diri seperti yang ia lakukan sekarang.
Setelah berada dalam ritual mandi yang cukup lama pria itu pun kembali dan melihat yang sedang merintih kesakitan dengan meringkuk.
James pun memanggil pelayan dan memerintahkan mereka menyiapkan obat dan pembalut untuk gadis nya.
"Ganti dengan ini." ucap James sembari memberikan pakaian ganti dan pembalut pada gadis itu.
Louise melirik sekilas dan kembali merintih dengan meringkukkan tubuh nya. James pun menghela nafas dan perlahan membantu gadis itu bangun.
"Mau apa kau?!" tanya Louise ketus.
"Membantu berpakaian dan memakai pembalut." jawab James tanpa merasa canggung sedikit pun.
Louise pun langsung terbelalak dan memukul kepala pria itu.
Plak!
"Membantu memakai pembalut?! Dasar setan mesum!" umpat Louise yang menjadi lebih sensitif dan mudah marah saat sedang datang bulan.
Ia pun mengambil pakaian ganti dan pembalut di tangan James serta berlalu ke kamar mandi.
"Tenang...
Tunggu sampai masa datang bulan selesai dan aku akan membuat mu tak memiliki tenaga..." ucap James sembari menahan emosi nya ketika gadis itu memukul bagian belakang kepala nya, walau tak terlalu sakit namun tetap saja ia merasa kesal.
Setelah Louise mengganti pakaian ia memberikan obat pereda nyeri dan suplemen penambah darah karna tau gadis itu memiliki riwayat anemia.
"Katakan pada kakak mu kau tak akan pulang sekitar satu minggu!" ucap James sembari melempar ponsel pada gadis itu.
"Aku mau pulang sekarang! Kenapa suka sekali menahan orang lain?" tanya Louise heran karna ia selalu sulit keluar dari mansion megah itu saat sudah memasuki nya.
"Yasudah kalau tak mau, aku memberikan nya lebih dulu agar kau tak merengek minta ponsel untuk menghubungi kakak mu." ucap James sembari seraya mengambil ponsel gadis itu.
Ia tau pasti Louise akan meminta ponsel nya untuk menghubungi saudara kembar nya, jadi ia memberikan ponsel itu lebih dulu dan akan menahan nya sampai mengizinkan gadis itu pulang seperti biasa.
"Sini! Aku yang punya ponsel kenapa kau yang seperti pemilik nya sih?" tanya Louise kesal dan langsung mengambil ponsel nya. Ia tau pria itu hanya memberi satu kesempatan menelpon.
Setelah menghubungi sang kakak dan berdalih dengan sejuta alasan akhirnya ia bisa tinggal di mansion megah itu tanpa kecurigaan sang kakak.
"Kenapa tidak bilang kau tinggal dengan ku saja sih?" tanya James heran.
Louise memutar bola mata nya dan malas menjawab, jika Louis tau ia tinggal dengan pria selain Zayn pasti akan membuat sang kakak marah besar dan terjadi pertengkaran dan perang dingin lagi.
"Sana pergi! Mau tidur! Obat mu ada penenang nya itu!" ucap Louise yang memang mulai merasa kantuk setelah meminum obat pereda nyeri yang di berikan James pada nya.
Flashback off.
......................
Pembangunan kontruksi cabang JBS farmasi.
Setelah berjalan beberapa saat pria itu merasa kaki nya seperti bergetar dan hal yang aneh.
Gempa?
Gumam nya saat tiba-tiba ia merasakan getaran yang semakin menjadi di bangunan tersebut. hingga...
BRUAK!!!
Suara keras yang terdengar nyaring dan mengejutkan setiap pasang telinga yang terdengar dengan jelas dan guncangan hebat yang seakan-akan ingin meruntuhkan bangunan yang belum selesai itu.
"Cla! Keluar!" ucap Louis sembari menarik tangan gadis itu agar bisa melindungi nya.
Langkah yang tak seimbang karna pijakan yang hampir runtuh membuat Louis berulang kali hampir terjatuh dan tentu nya Clara sudah jatuh berulang kali karna heels nya.
Louis pun dengan cepat membungkuk dan melepaskan heels tersebut dari kaki kecil gadis manis itu dan mematahkan tungkai tinggi sepatu tersebut lalu kembali memasangkan di kaki Clara agar gadis itu tak berlari tanpa alas kaki malah melukai nya.
Mereka menuju tangga jalan keluar sebelum roboh total dan banyak pekerja yang sudah berdesakan ingin keluar.
"Wanita dan anak-anak keluar lebih dulu!" ucap Louis saat pekerja lain nya ingin keluar menyelamatkan diri dengan segera.
Ia mendorong dan menyempilkan gadis nya agar bisa keluar lebih dulu.
"Presdir an-" ucap Clara terpotong saat pria itu berusaha menyelipkan nya dan keluar lebih dulu, ia melihat atasan nya yang semakin tertinggal saat pekerja lain berdesakan semakin mendorong nya keluar.
Louis pun yang hendak keluar namun ia tiba-tiba teringat bocah cengeng yang menangis pada nya tadi. Ia tak melihat bocah itu keluar sama sekali.
"Masa bodoh! Bukan anak ku juga!" ucap Louis yang berusaha ingin keluar.
Hingga ia tiba-tiba teringat ucapan ibu nya dan kenangan dengan wanita yang melahirkannya itu.
Louis jangan begitu sayang...
Putra Mamah tidak boleh begitu, anak-anak dan orang tua kita harus bantu nak...
Mamah kecewa sama Louis kalau bilang begitu lagi...
Ucapan sang ibu yang pernah di katakan padanya saat ia berumur 14 tahun entah kenapa kini saat situasi genting membuat nya teringat kembali.
Sebrengsek apapun tingkah nya namun ia akan tetap selalu menjadi anak mami yang manja dan patuh pada ibunya, ajaran baik sang ibu tiba-tiba datang di situasi yang sulit.
Walau ia memiliki sedikit emosi yang berarti empati dan simpati nya juga sedikit namun bukan berarti ia tak memiliki sama sekali.
Sikap brengsek nya dengan gadis yang ia sukai juga karna obsesi cinta yang ia miliki begitu kuat hingga membuat nya menyakiti wanita itu untuk membuat tetap terikat dengan nya.
"Sial!" umpat nya dan membalik langkah larinya menuju anak kecil tersebut di tempat ia melihat nya terakhir kali.
Mata nya mengandah kesana-kemari di tengah abu yang berjatuhan dan lantai yang bergetar hebat serta berusaha menghindar dari reruntuhan.
Hingga telinga nya mendengar suara tangis pilu di tengah suara benda-benda yang jatuh rusak. Pria tampan ia mengikuti arah suara dan melihat Felix si bocah yang memarahi nya karna merasa ia memakan kakak cantik yang di lihat nya sedang menangis pilu.
"Hua...
Ayah huhuhuhu..." tangis anak itu menggema melihat sang ayah yang duduk dengan tancapan besi bangunan yang menembus perut nya namun masih tersadar.
"To..tolong bawa anak ku..." ucap pria tersebut, ia terluka parah seperti itu karna melindungi putra nya dan membuat nya tertusuk besi bangunan dengan tragis.
Louis pun segera menarik Felix yang memiliki sedikit luka karna sang ayah masih melindungi nya.
Pria itu tak begitu terkejut atau shock karna ia tak memang lebih sedikit memiliki emosi namun masih memiliki nurani. Ia juga sering menyiksa dan memerintahkan pembunuhan pada orang yang mengganggu nya atau menganggu orang nya.
"Hua...
Gak mau pelgi! Mau sama Ayah! Huhuhu..." tangis nya menggema dan memberontak saat Louis memaksa mengambil nya.
Pria yang hampir mencapai usia paruh baya itu tersenyum tipis dengan lega saat ada yang membantu anak nya, walau ia tak tau apakah atasan nya berhasil membawa keluar atau tidak namun ia berdoa sepenuh hati di sisa nyawa nya.
Bocah itu terus menangis pilu memanggil sang ayah yang semakin tak terlihat.
Sedikit lagi!
Batin Louis saat menggendong anak itu dan melihat jalan keluar hingga.
Bruak!!!
Tanpa sengaja lantai yang ia pijak membuat nya jatuh terjerumus ke bawah diantara bangunan lain nya.
Sementara itu.
Clara yang tengah sibuk mencari atasan yang tak kunjung keluar langsung terjatuh bersimpuh saat melihat bangunan itu runtuh dan hancur.
"Ti-tidak...
Dia masih di dalam..." ucap nya lirih dengan bibir gemetar saat bangunan yang belum selesai tersebut runtuh sendiri walaupun tak ada gempa sama sekali.
Pemadam kebakaran yang mulai berdatangan serta bala bantuan untuk menyelamatkan para korban mulai datang.
"Nona! Anda harus menjauh dari sini!" ucap salah satu petugas damkar yang menarik gadis yang sedang bersimpuh menatap kosong ke arah bangunan yang jatuh dengan menyisahkan puing-puing.
"Pre-presdir masih di dalam...
Bawa Louis keluar..." ucap nya lirih dengan mata bergetar dan memegang tangan petugas damkar itu hingga ia menyebut nama pria itu tanpa di perintah.
Tanpa sadar bulir bening itu terjatuh dari manik bening nya, walaupun pria itu selalu bersikap kurang ajar pada nya namun selama beberapa minggu terakhir ia bisa melihat sikap manis dan manja yang tertutup di balik sikap egois, arogan, dan penuh dengan dominasi nya.
...****************...
Elouis Steinfeld Rai
Clara Olivia