(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Who are you?



Mata Alyss perlahan mulai sayu, ia pun perlahan kehilangan kesadaran nya.


"Alyss?!" suara Hazel yang terdengar samar di telinga nya.


Hazel pun menepuk pipi Alyss beberapa kali dan langsung membawanya ke rumah sakit.


Alyss pun langsung mendapatkan perawatan dan menjalani beberapa pemeriksaan, setelah melakukan beberapa pemeriksaan ia pun dibawa ke ruangan rawat inap.


Hazel pun memesan ruangan rawat inap VIP untuk Alyss, karna ia tak ingin Alyss bergabung dengan pasien lain nya.


"Kau kenapa lagi? Hm? Sebelumnya sudah membaik?" tanya Hazel lirih pada Alyss masih tak sadarkan diri sembari menggenggam jemari Alyss dengan lembut.


Belum lama Hazel menatap Alyss, ponsel nya sudah bergetar di dalam saku celana nya.


"Ada apa?" tanya Hazel saat ia mengangkat telpon dari Rian.


"Kau dimana? Pertemuan nya sudah diadakan sejak tadi." ucap Rian dari telpon.


"Apa bisa diundur?" tanya Hazel lagi, ia merasa tak bisa meninggalkan Alyss sendiri.


"Diundur? Kenapa? Kau tau ini pertemuan penting kan?" tanya Rian.


Hazel pun menghela nafas nya dengan kasar ketika mendengar ucapan Rian.


"Baiklah, aku akan segera datang." jawab Hazel.


Ia pun bergegas pergi ke pertemuan bisnis nya, dan menyuruh beberapa pengawal nya untuk menjaga Alyss saat ia pergi.


......................


Setelah sampai di salah satu restoran mewah yang berada di hotel ternama, Hazel pun segera menemui rekan bisnis nya.


Setelah membicarakan beberapa urusan bisnis dengan rekan nya Hazel pun segera kembali ke rumah sakit.


"Kenapa kau buru-buru sekali?" tanya Rian saat melihat Hazel yang segera bergegas pergi dari tempat itu saat selesai membicarakan urusan bisnis dengan rekan bisnisnya.


"Iya, aku harus menemui Alyss." jawab Hazel sekilas dan langsung bergegas ke RS Alyss dirawat.


......................


Sementara itu....


Alyss yang tertawa dengan semangkuk es krim di pangkuan nya sembari menonton tv yang menampilkan acara drama kesukaan nya.


Cklek...


Hazel pun membuka pintu dan melihat Alyss yang wajah Alyss yang sedang tertawa sembari semakin lahap memakan es krim nya seperti tak terjadi apa-apa.


"Kau sudah sadar?" tanya Hazel dan langsung menghampiri Alyss.


"Memang nya aku sebelum nya pingsan? Oh iya kenapa kau membawa ku rumah sakit?" tanya Alyss saat mendengar suara Hazel.


Hazel pun mengerutkan dahinya melihat heran kearah Alyss.


"Apa yang kau ingat terakhir kali?" tanya Hazel sembari menghampiri Alyss.


"Yang ku ingat....." ucap Alyss lirih sembari memutar bola mata nya keatas mengingat memori terakhirnya.


"Aku makan es kirim dan menunggu mu." jawab Alyss lalu melihat ke arah Hazel.


Hazel tak menjawab apapun ia hanya menatap nanar wajah Alyss.


..."Dia tak ingat lagi? Padahal sebelumnya dia berteriak dan terlihat seperti orang yang kesakitan." batin Hazel saat melihat nanar iris Alyss....


"Kenapa diam saja? Dan kenapa aku di bawa kesini?" tanya Alyss lagi saat melihat Hazel yang hanya diam memperhatikannya.


"Tidak apa-apa, kau tadi hanya pingsan saja." jawab Hazel sembari mengelus kepala Alyss perlahan.


"Kau sangat suka es krim? Rasa apa itu?" tanya Hazel sembari mengalihkan mata nya ke arah cup es krim yang sedang di pangku Alyss.


"Vanilla." jawab Alyss tersenyum, sejak ia bisa mendengar lagi, ia mulai ceria dan banyak tersenyum.


"Kau mau?" tanya Alyss sembari menyodorkan cup es krim nya pada Hazel.


"Aku tak terlalu suka manis, tapi ingin mencobanya." jawab Hazel tersenyum.


"Kalau begitu coba saja sesu-" ucapan Alyss langsung terpotong saat Hazel tiba-tiba mencium dan m*l*m*t habis bibirnya.


"Jika seperti ini aku jadi suka manis." ucap Hazel tersenyum saat ia sudah melepaskan ciuman nya dan mengusap bibir basah Alyss.


"Ka-kalau tak suka manis, kau tak perlu memaksa memakannya." ucap Alyss gugup dan langsung membuang tatapan nya kesamping, ia tak berani melihat ke arah mata Hazel.


Hazel hanya tersenyum melihat Alyss yang bersikap malu seperti itu.


"Aku masih memiliki beberapa urusan, kemungkinan kita akan kembali 3 hari kedepan." ucap Hazel pada Alyss.


Alyss hanya menganggukkan kepalanya perlahan mendengar ucapan Hazel.


"Setelah kita kembali, apa kau mau mengikuti hipnoterapi?" tanya Hazel.


Alyss menghentikan tangan nya yang sedang mengambil beberapa sendok es krim.


"Kenapa? Kau selalu memaksa menjalani perawatan psikologis, aku baik-baik saja." ucap Alyss lirih.


"Kau banyak mengalami kesulitan belakangan ini. Mungkin saja kau mengalami trauma." ucap Hazel dengan suara lembut sembari menyelipkan rambut Alyss yang tergerai ke telinganya.


"Trauma? Orang paling banyak memberi ku trauma itu adalah kau sendiri, dan aku tetap bisa hidup dengan mu. Jadi aku tak perlu psikiater." jawab Alyss sembari melihat ke arah Hazel.


Alyss memang tak menyukai psikiater sejak dulu, entah mengapa setiap kali ia menemui psikiater ia selalu tak nyaman. Namun saat bertemu dengan Hazel ia harus menemui psikiater berulang kali.


Hazel menarik nafas panjang dan kemudian menatap wajah Alyss.


"Setelah kita kembali, kau akan menjalani hipnoterapi. Itu bukan permintaan tapi perintah!" ucap Hazel tegas pada Alyss.


Ia mulai khawatir dengan kondisi Alyss yang selalu melupakan sesuatu disaat-saat tertentu.


"Kalau aku tetap tak mau?" tanya Alyss dengan suara meninggi pada Hazel.


"Sepertinya aku terlalu memanjakan mu belakangan ini, sampai kau berani membantahku." ucap Hazel dengan penuh penekanan dan tatapan tajam ke arah Alyss.


"A-aku baik-baik saja! Aku tak perlu ke psikiater." ucap Alyss dengan suara mulai mengecil saat melihat tatapan mata Hazel.


"Lakukan apa yang ku perintahkan atau aku akan menghukum mu." ucap Hazel tegas.


"Menghukum ku? Aku baru saja bisa mendengar dan kau mau menghukum ku." ucap Alyss lirih, belakangan ini kata "hukuman" mulai jarang dikatakan Hazel.


"Aku tak akan menghukum mu jika kau menuruti yang ku katakan." ucap Hazel sembari mengecup kening Alyss sekilas.


......................


Skip time.


5 Hari kemudian.


Kediaman Hazel.


"Hmm...


Aku apa aku boleh kembali bekerja lagi? Kan aku sekarang sudah bisa mendengar lagi..." ucap Alyss lirih di sela-sela sarapannya dengan Hazel.


"Bekerja? Kenapa? Kau bosan?" tanya Hazel yang langsung menghentikan makan nya dan menatap Alyss.


"Itu...


Aku merasa tak enak karna kau memberi ku gaji yang sangat banyak, padahal kan aku banyak libur." jawab Alyss lirih, selama ia di kediaman Hazel ia tetap mendapat gaji yang sangat tinggi.


"Karna itu? Itu bayaran yang sesuai dengan hasil kerja keras mu." jawab Hazel enteng sembari melanjutkan makan nya lagi.


"Tapi kan aku sering tak datang bekerja...


Itu namanya terima gaji buta, dan lagi kan kau mengirim nya sangat banyak." jawab Alyss lirih.


Hazel memang sengaja tak memberi Alyss gaji yang sesuai, ia melebihkan jumlah gaji yang di terima Alyss karna Alyss yang tak menerima uang nya darinya.


Alyss hanya mendengus lirih mendengar ucapan Hazel.


"Yasudah, mulai minggu depan kau akan kembali bekerja." ucap Hazel sembari mengelus pipi Alyss dengan punggung tangan nya, saat ia melihat wajah lesu Alyss.


"Benarkah?" tanya Alyss yang langsung semangat dan menatap wajah Hazel dengan mata berbinar nya.


"Iya, sekarang lanjutkan sarapan mu." ucap Hazel.


Alyss pun mulai melanjutkan sarapannya dengan semangat, setelah mereka selesai sarapan Hazel tak kunjung ke RS untuk bekerja.


"Kau tak pergi bekerja hari ini?" tanya Alyss saat melihat Hazel yang duduk di balkon rumah megah sembari meminum secangkir teh.


Ia pun langsung menarik tangan Alyss, hingga jatuh ke pangkuan nya.


"Kau lupa? Hari kau akan menjalani hipnoterapi." ucap Hazel sembari mencubit kecil hidung Alyss.


"Tapi aku..." jawab Alyss lirih.


"Tapi apa? Jangan membantah!" ucap Hazel dengan tatapan tajam menatap Alyss.


Alyss tak menjawab dan hanya merubah ekspresinya menjadi kesal.


"Yasudah aku mau turun." ucap Alyss dengan nada kesal sembari mulai turun dari pangkuan Hazel.


Hazel pun langsung menahan pinggang Alyss, agar Alyss tak dapat pergi.


"Siapa yang menyuruhmu turun? Hm? Tetap disini sampai dokter mu datang." ucap Hazel dengan tetap memegang pinggang Alyss.


Tak lama kemudian salah satu pelayan mulai mendatangi mereka dan mengatakan jika dokter psikiater untuk Alyss sudah datang.


Mereka pun pergi keruangan yang nyaman untuk menjalankan hipnoterapi.


Alyss pun duduk di kursi pijat dan mulai menyamankan tubuhnya.


"Baik, saya akan memulai hipnotisnya. Pejamkan mata nona dan relaks nya pikiran setelah mendengar detikkan jam ini yang ketiga maka tidurlah." ucap dokter tersebut.


Hazel pun berada di ruangan itu menemani dan melihat proses hipnoterapi Alyss.


Setelah mendengar detikan jam yang ketiga Alyss mulai tertidur dan jatuh ke dunia hipnotis yang di ciptakan oleh si psikiater.


"Baik, sekarang siapa nama anda?" tanya dr. Hana yang merupakan dr. psikiater yang merawat Alyss.


"Alysscalla Zalea." jawab Alyss singkat.


"Kau ingat apa yang terjadi saat kau terakhir kali di rumah sakit?" tanya dr. Hanna


"Rumah sakit? Saat itu aku membeli beberapa kopi dan cake teman ku yang lain karna aku kalah suit." jawab Alyss yang masih menutup matanya.


"Setelah itu?" tanya dr. Hanna


"Setelah itu aku dikepung dengan 4 orang berpakaian serba hitam dan mereka membawa ku...


La-lalu aku... aku..." ucap Alyss yang mulai terlihat panik.


"Tenanglah tak apa...


Sekarang kau sedang berada di taman bunga yang luas, tak ada yang akan menyakitimu." ucap dr. Hanna menenangkan Alyss.


"Sekarang apa yang kau lihat? Kau melihat pintu?" tanya dr. Hanna lagi saat melihat Alyss yang mulai tenang.


"Iya, aku melihat nya." jawab Alyss.


"Kau mau kesana?" tanya dr. Hanna.


"Tidak! Aku takut." jawab Alyss.


"Tak apa, tak akan ada yang menyakitimu." jawab dr Hanna.


Alam bawah sadar Alyss pun mulai membuka pintu itu perlahan, tubuh Alyss mulai gemetar dan terlihat takut.


"Apa yang kau lihat?" tanya dr. Hanna


"A-aku membunuhnya..." jawab Alyss mulai berkeringat dingin. Ia melihat ingatan saat ia menusuk perut Will.


"Aku takut! Aku mau keluar!" ucap Alyss yang semakin gemetar.


Hazel pun yang melihat hal itu langsung meminta dr. Hanna untuk menghentikan terapinya. Namun dr. Hanna dengan cepat mencegah Hazel dengan gerakan isyarat, Hazel pun akhirnya menuruti dr. Hanna.


"Kau melihat pintu lain? Pergilah kesana." ucap dr. Hanna.


Alam bawah sadar Alyss pun langsung membuka pintu tersebut.


"Ti-tidak! Ini bukan pintu keluar! Tolong aku ingin keluar aku tak bisa bernapas disini! Ja-jangan mendekat!" ucap Alyss yang mulai terlihat sesak napas, dan semakin banyak mengeluarkan keringat.


"Apa yang kau lihat?" tanya dr. Hanna


"Pembunuh dan semua mayat nya! Tidak! Dia melihat ku! Tolong aku! Dia datang! Dia mendekat!" teriak Alyss yang mulai panik.


"Aku mau keluar! Dia membawa kepala putus di tangan kirinya dan gergaji di tangan nya! Tolong aku! Dia mendekati ku!" ucap Alyss yang semakin panik.


"Melihat pintu lain? Keluar lah dari sana!" ucap dr Hanna. Ia mulai berusaha menyadarkan kesadaran Alyss kembali.


"Pi-pintunya tak bisa dibuka! Dia semakin mendekat! Tolong aku!" ucap Alyss yang semakin bergerak kesana kemari dengan tubuh gemetarnya dan semakin banyak mengeluarkan keringat.


Dr. Hanna pun mengerutkan dahinya, ia tak tau jika alam bawah sadar Alyss akan menguncinya di salah satu pecahan memorinya.


Kau mau keluar? Aku bisa membantu mu. Cukup biarkan aku keluar dan jangan menarik ku terlalu cepat seperti sebelum nya.


Suara yang Alyss dengar di alam bawah sadarnya yang sedang ketakutan, Alyss pun mulai membiarkan suara itu menguasainya.


"Di hitungan ketiga kau akan terbangun.


Satu Dua Tiga!" ucap dr Hanna yang mulai menyadarkan Alyss secara paksa.


Alyss pun mulai berhenti gemetar dan membuka matanya.


"Sekarang kau sudah sadar? Tidak apa-apa, tak akan ada yang menyakitimu." ucap dr. Hanna saat Alyss sudah tersadar.


"Haisshh...


Sialan! Kau bilang tidak apa-apa? Dia hampir mati karna kau memaksa ingatan nya." jawab Alyss pada dr Hanna dengan menatap dr. Hanna dengan tatapan yang berbeda.


Dr. Hanna mengerutkan dahinya dan menatap Alyss yang terlihat benar-benar berbeda.


"Kau siapa?" tanya dr. Hanna.


Alyss tak menjawab dan hanya menatap dr. Hanna dengan senyuman yang sulit diartikan.



Alysscalla Zalea



Hazel Rai


...****************...


Maaf banget yah othor up nya lama🤧🤧🤧🙏🙏🙏


Tadi siang othor ada urusan jadi buatnya malem🤧🤧


Jangan lupa like, rate 5, fav, vote dan dukung othor yah😉😉😉


Jangan lupa komen juga hihi...


Menurut kalian apa tu yang akan terjadi selanjutnya? Alyss nya kok kayak gitu??🤔🤔🤔


Happy Reading❤️❤️