(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
A little bit voice



Mentari pagi mulai datang memberikan sinarnya yang menembus jendela besar dari bangunan megah itu.


Alyss mulai terbangun, tubuhnya masih terasa sangat lemas dan terasa sangat pegal. Ia mulai membuka matanya sayup.


Alyss mengalihkan padangan nya kesamping kanan dan kiri nya, ia pun tak menemukan pria yang sudah membuat tenaganya habis terkuras tadi malam.


Ia mulai bangun duduk, sembari memegang selimut nya agar tak terjatuh dan memperlihatkan tubuh polosnya yang masih belum memakai apapun dibalik selimut tebal itu.


Alyss mulai menurunkan kaki nya dan berjalan ke arah kaca besar itu, ia ingin melihat pemandangan kota tersebut saat pagi hari. Dan ternyata yang ia lihat di luar dugaan nya.


"Wahhh....." ucap Alyss terkagum, kantuk yang ia rasakan terasa hilang begitu saja.


Mata nya berbinar saat melihat bangunan yang seperti tenggelam oleh awan.


Ia pun berlari keluar dan dan menuju sisi kaca besar yang lain, dan masih sama. Ia melihat pemandangan yang tak pernah ia lihat.



Baginya ia seperti sedang berada di atas awan.


"Pantas saja disini disebut sebagai kota diatas awan." ucap Alyss lirih dengan mata berbinar sembari memegang erat selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Tak lama kemudian Hazel pun sudah selesai mandi, ia pun keluar dengan masih menggunakan piyama mandinya, sebelumnya ia terbangun lebih dulu dan karna melihat Alyss yang masih terlelap ia pun bangun dan membersihkan dirinya.


"Mana dia?" tanya Hazel saat melihat tempat tidur nya yang kosong, Hazel pun melihat sekeliling dan tak menemukan Alyss di sudut kamar itu.


Ia pun melangkah kakinya keluar dari kamar tersebut dan melihat Alyss berdiri di tempat yang sama seperti kemarin sembari memegang selimut yang masih menggulung tubuh polosnya.


Hazel pun tersenyum melihat hal itu, ia teringat dengan apa yang ia lakukan pada Alyss disana sebelum menggendong nya dan membawanya ke tempat tidur.


Ia perlahan mendekat dan memeluk tubuh kecil Alyss dari belakang.


Alyss tersentak saat Hazel tiba-tiba memeluk tubuhnya.


"Apa yang kau lihat?" tanya Hazel sembari menulis kalimat tersebut di telapak tangan kecil Alyss.


"Melihat awan, awan nya cantik. Kita rasanya sedang tinggal di atas awan. Iya kan?" jawab Alyss sembari menoleh sedikit ke belakang.


Hazel hanya tersenyum mendengar jawaban Alyss ia menurunkan pandangan ke arah leher putih Alyss dan bahu nya yang penuh dengan bekas merah akibat ciuman dan gigitan nya tadi malam.


Tenggggg.....


Masih belum puas Alyss melihat pemandangan itu, telinganya mulai terasa sakit dan berdenging sangat kuat dengingan nya sampai ikut membuat kepalanya terasa sakit juga.


"Auchh!!!" Alyss meringis sembari mulai memegang salah satu telinga dengan tangan kanan nya sedangkan tangan kirinya masih memegang selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya.


"Alyss? Kenapa? Hey?!" tanya Hazel saat melihat Alyss meringis sembari memegang telinga nya.


"Sakit...." jawab Alyss lirih.


Hazel pun mulai khawatir dan segera menarik tangan Alyss agar memakai pakaian untuk nya dan membawa nya ke dokter segera.


"Tunggu ak-" Alyss kemudian diam tak melanjutkan bicaranya.


Deg.....


Ia mulai dapat mendengar suara nya sendiri namun beriringan dengan dengungan di telinganya.


Merasa Alyss yang berhenti dan memberatkan langkahnya membuat Hazel menoleh kebelakang.


"Apa lagi?! Ayo cepat! Telinga mu sakit kan?" ucap Hazel yang kesal sekaligus khawatir saat Alyss terlihat enggan untuk dibawa ke dokter.


Deg....


Alyss membulatkan matanya dengan sempurna melihat wajah Hazel, ia mulai dapat mendengar apa yang pria itu katakan, namun masih belum terlalu jelas karna suara yang ia dengar bercampur aduk dengan suara dengingan yang melenting di telinganya.


"Ti-tidak...


Telinga ku tak sakit..." jawab Alyss lirih.


Hazel pun berdecak kesal melihat Alyss yang terus menyangkal, ia pun langsung membungkukkan tubuhnya dan menggendong Alyss di pundaknya.


"Hazel!


Turunkan..." ucap Alyss sembari memukul punggung Hazel.


Plak!


"Sudah diam!" ucap Hazel sembari memukul bokong Alyss yang tertutup dengan selimut.


Dengingan di telinga Alyss semakin meninggi.


Hazel pun segera menurunkan Alyss di pinggir tempat tidur dan mulai mengambil pakaian Alyss.


"Pakai." ucap Hazel sembari mulai memasangkan pakaian dalam Alyss lebih dulu.


"A-apa yang kau lakukan?! A-aku bukan anak kecil!" ucap Alyss yang terbata, walaupun telinga nya masih berdenging ia masih tetap bisa mengomentari sikap Hazel yang sedang berusaha memakaikan nya ****** *****.


Kaki Alyss langsung berusaha menjauh dan Hazel langsung menangkap kaki kecil Alyss dan memakaikan ****** ***** nya.


"Ukh!" Alyss yang semakin meringis saat dengingan di telinga nya semakin meninggi.


"Sudah seperti itu, masih keras kepala!" ucap Hazel sembari menarik selimut yang masih di pegang Alyss menutupi dada nya.


"Tangan nya." ucap Hazel sembari mengaitkan bra Alyss.


Dengingan yang seperti suara gong tersebut semakin meninggi dan mulai menghilang perlahan.


"Alyss?!" panggil Hazel saat melihat Alyss sudah terdiam dan tak mengeluh sakit lagi.


"Hey? Alyss?!" tanya Hazel yang semakin khawatir melihat Alyss yang terdiam dengan ekspresi wajah kosong.


Hazel pun semakin cepat memakaikan kaos hitam longgar berlengan panjang berwarna hitam dan rok abu-abu bergaris, ia sengaja memilih pakaian yang agak tertutup agar tak memperlihatkan bekas ciuman yang ia buat di tubuh Alyss.


"Tunggu disini, aku akan pakai baju dulu." tulis Hazel di telapak tangan kecil Alyss.


Hazel pun segera berbalik dan hendak berpakaian, namun...


Greb...


Ia merasakan tangan kecil Alyss yang melingkar di tubuh nya.


Alyss memeluk tubuh kekar Hazel dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di punggung Hazel yang lebar.


"Jangan berbalik! Aku malu..." ucap Alyss lirih sembari menenggelamkan wajah nya di punggung Hazel, ia sendiri tanpa sadar memeluk pria itu saat Hazel berbalik darinya.


Hazel masih terdiam, jantung nya berdetak kencang, ini adalah pertama kalinya Alyss memeluknya lebih dulu dan menyentuhnya lebih dulu tanpa ia minta.


"Kau harus ke dokter" tulis Hazel di tangan Alyss yang sedang memeluknya tubuh kekar nya dari belakang.


"Jangan di tulis...


Bicara saja padaku..." ucap Alyss lirih dengan suara yang hampir serak tertahan.


"Kau menangis?" tanya Hazel dan langsung melepaskan pelukan tangan Alyss di perutnya, ia pun langsung berbalik dan melihat ke arah wajah Alyss.


"A-Aku...


Aku bisa dengar..." ucap Alyss lirih sembari menjatuhkan beberapa bulir bening dari matanya.


"Bisa dengar? Kau bisa mendengar ku?" tanya Hazel sembari memegang kedua sisi pipi Alyss dengan telapak tangan nya dan mengandahkan wajah Alyss ke wajahnya.


"Iya...


Bisa...." jawab Alyss lirih dengan senyuman bibir nya dan mata yang terus menjatuhkan bulir bening nya.


"Jika bisa kenapa menangis?" tanya Hazel dengan suara lembut pada Alyss.


"Tidak tau..." jawab Alyss sembari menggelengkan kepalanya perlahan.


"Aku sangat senang....


Senang sekali....


Aku tidak tau kenapa air mata ku terus jatuh..." ucap Alyss tersenyum dengan suara yang hampir tertahan di tenggorokan nya karna tangis nya.


Ia benar-benar merasa sangat senang sampai ia terus menangis dan tak dapat menghentikan bulir bening nya.


Hazel hanya tersenyum dan memeluk Alyss perlahan, ia mulai mendekap Alyss kedada bidang nya, sembari mengelus rambut di belakang kepala Alyss perlahan.


"Tapi kita harus ke dokter juga yah, nanti hasil pemeriksaan nya bisa untuk konsultasi ke dokter mu." ucap Hazel dengan terus mengelus rambut panjang Alyss.


Alyss hanya menganggukkan kepala nya perlahan di dalam pelukan Hazel.


Setelah hampir 30 menit Hazel membiarkan Alyss di dalam pelukan nya, Alyss pun mulai mengandahkan wajahnya melihat ke arah Hazel.


"Aku mau mandi dulu...." ucap Alyss lirih, sebelumnya Hazel langsung memakainya pakaian karna khawatir akan kondisinya.


Ia melihat wajah Hazel yang sedang menatapnya nanar. Alyss pun baru merasa malu ketika mengingat ia memeluk Hazel lebih dulu tadi.


"Mandi? Ayo mandi bersama.


"Eh? Tu-tunggu!


Aku tak mau mandi bersama!" ucap Alyss sembari berusaha melepaskan tangan Hazel yang sedang menariknya.


"Kesini." ucap Hazel sembari mengangkat pinggang kecil Alyss dan mendudukkan nya keatas wastefel di kamar mandi hotel tersebut.


"Aku mau mandi sendiri..." ucap Alyss lirih saat melihat senyuman licik di wajah Hazel.


"Tapi aku mau memandikan mu." ucap Hazel dan mulai melepas kaos hitam Alyss.


Hazel yang sebelumnya memasangkan pakaian untuk Alyss satu persatu kini ia malah sedang membuka pakaian itu satu persatu.


Alyss tak bisa turun atau pun bergerak karna Hazel mengunci tubuh nya di atas wastefel itu.


"Aku masih lelah...


Jangan lagi..." ucap Alyss lirih, saat Hazel sudah menjatuhkan piyama mandinya, dan kini mereka sama-sama dalam keadaan polos.


"Apa yang kau pikirkan? Hm?" ucap Hazel gemas sembari mencubit hidung Alyss.


Hazel pun menggendong Alyss ke arah bathup dan menuangkan sabun kedalam, serta menyalakan air hangat.


Alyss duduk meringkuk diam di bathup tersebut dengan merapatkan paha nya serta menutup dada nya dengan tangan kecil nya.


Hazel hanya tersenyum melihat Alyss, ia pun mulai masuk ke dalam bathup tersebut dan duduk di belakang Alyss.


Hazel pun mengambil shampo dan mulai mencuci rambut Alyss.


"Bagaimana? Kau suka?" tanya Hazel tersenyum sembari tangan berbusa nya yang sedang mengusel-ngusel rambut Alyss.


"I-Iya..." jawab Alyss lirih, ia merasa canggung dan sangat tak nyaman berada di satu bathup yang sama dengan Hazel dalam kondisi yang sama-sama polos.


Jantung nya terus saja berdetak kencang sejak tadi. Ia pun karna merasa tak nyaman terus saja bergerak kesana kemari saat Hazel tengah mencuci rambutnya.


"Jangan bergerak terus. Apa kau sedang berusaha memancing minat ku? Hm?" tanya Hazel dengan suara berat di telinga Alyss.


Hazel sebenarnya tak berniat melakukan apapun, namun karna Alyss yang terus bergerak dan terus menyentuh bagian intinya tanpa sadar membuat minat nya bangkit.


"A-Aku risih...


Aku mau keluar....


Ka-kau kan sudah selesai mencuci rambut ku..." jawab Alyss lirih saat Hazel sudah membasuh rambut nya, ia mulai merasakan sesuatu yang bangun di balik tubuh nya.


"Kau mau pergi setelah menggodaku? Hm?" tanya Hazel dengan suara yang semakin berat, dan mulai menciumi tengkuk Alyss dari belakang.


Satu tangan nya pun mulai menjalar ke dada Alyss dari dalam air, dan mulai memainkan nya perlahan sedangkan tangan nya yang satu lagi mulai meraba dan menjalar ke bagian yang paling privasi di tubuh Alyss.


"Ja-jangan...


Katanya mau membawa ku dokter..." ucap Alyss lirih saat kedua tangan Hazel sedang memainkan bagian-bagian yang privasi dari tubuhnya.


Hazel pun membalik tubuh Alyss dan mendorong nya ke belakang hingga mengganti posisi nya. Saat ini ia sudah mengukung tubuh kecil itu di dalam bathup yang masih penuh dengan air berbusa.


"Sekali saja...


Setelah itu kita ke dokter, ini juga karna kau yang terus membuat minat ku bangkit..." bisik Hazel di telinga Alyss dan mulai melakukan penyatuannya.


Alyss mulai mencakar lengan Hazel perlahan saat merasa Hazel memasuki dirinya dan tubuhnya belum cukup siap untuk dimasuki. Karna itu Alyss sedikit merasa sakit saat Hazel memulai permainan nya.


......................


Skip time.


"Kau masih marah? Ini es krim mu." ucap Hazel sembari memberikan Alyss es krim cup besar dengan banyak topping diatas nya.


"Kau dengar kata dokter tadi? Terapi mu membawa hasil yang bagus, tinggal beberapa kali terapi lagi kau akan benar-benar sembuh." ucap Hazel tersenyum sembari melihat wajah Alyss yang cemberut sambil memasukkan sesendok es krim ke mulut nya.


Sebelum nya mereka baru saja memeriksa kondisi Alyss ke dokter, dan ternyata usaha yang dilakukan untuk mengembalikan pendengaran Alyss berbuah baik. Pendengaran nya mulai kembali normal, hanya perlu beberapa kali terapi lagi untuk benar-benar memastikan kondisi pendengaran Alyss.


Setelah dari dokter mereka pun ke beberapa tempat untuk melihat kota tersebut.


"Kau bilang tadi cuma sekali! Tapi kau melakukan nya berkali-kali! Pinggang ku mau patah rasanya!" ucap Alyss kesal sembari semakin banyak memasukkan es krim ke mulutnya.


Hazel hanya terkekeh mendengar ucapan Alyss. Ia pun mendekat ke telinga Alyss dan mulai berbisik.


"Itu bukan sepenuhnya salahku, itu salah mu juga." ucap Hazel dengan nada menggoda Alyss.


"Salahku? Apa yang kulakukan?" tanya Alyss dan langsung menoleh ke arah Hazel hingga wajah mereka berhadapan sangat dekat satu sama lain.


"Salahmu, karna terus membuatku candu dan tak bisa mengendalikan diriku sendiri." jawab Hazel dengan tersenyum.


"Ka-kau!!!" ucap Alyss dan langsung memalingkan wajahnya. Hazel semakin terkekeh saat melihat telinga Alyss yang mulai memerah. Ia sangat senang menggoda Alyss.


"Setelah ini aku ada beberapa urusan, jadi kau tunggu aku di hotel. Jika kau sangat ingin keluar beri tau aku, agar memberi mu beberapa pengawal untuk mengawasimu." ucap Hazel, ia tak ingin kejadian buruk menimpa Alyss lagi.


"Iya!" jawab Alyss yang masih kesal.


"Sebentar, kau tunggu disini dulu." ucap Hazel saat melihat salah satu toko bunga yang tak jauh dari tempat mereka. Ia pun langsung pergi ke toko bunga tersebut.


Alyss hanya mendengus kesal sembari melihat kearah Hazel punggung Hazel yang berbalik.


Bruk...


"Sorry, miss." ucap seorang pria yang tak sengaja menabrak Alyss karna ia seperti sedang terburu-buru.


"It's okey." jawab Alyss dan mulai menunduk mengambil tasnya yang jatuh dan beberapa barang-barang yang keluar dari tasnya. Pria itu pun membantu Alyss mengambil barang-barang nya.


"I'm so sorry." ucap pria tersebut lagi sembari memberikan salah satu barang Alyss dan mulai beranjak pergi lagi berlari.


Deg...


Alyss melihat tato dengan simbol seperti matahari di punggung tangan pria tersebut. Tato yang tak asing baginya, namun ia tak bisa mengingat dimana ia pernah melihat nya.


"Aku mau pulang!!!" suara anak kecil yang terus menangis terisak.


Plak!!!


Tamparan keras mendarat di pipi anak perempuan kecil itu, hingga membuatnya tersungkur ke lantai.


"Kau tak boleh pulang, sebelum menyelesaikan tugas mu." jawab pria asing tersebut.


"AKHHHH!!!" teriak anak kecil tersebut saat darah segar mulai terciprat kewajahnya.


Alyss mulai merasakan sakit di kepalanya, ia seperti mengingat sesuatu yang aneh yang membuat kepala nya terasa akan pecah. Ia mengingat samar tangan dengan tato yang berbentuk simbol yang sangat mirip dengan yang ia lihat barusan sedang memukulnya.


Hazel pun keluar dari toko bunga tersebut sembari membawa sebuket bunga-bunga harum di tangan nya.


Ia pun langsung mengalihkan pandangan nya kearah Alyss.


"Dia kenapa?" tanya Hazel terkejut dan langsung lari menghampiri Alyss yang terlihat sedang kesakitan memegang kepalanya.


"Alyss? Kenapa?" tanya Hazel khawatir saat sudah menghampiri Alyss.


"Hentikan! Berhenti!" teriak Alyss hingga membuat beberapa orang mulai melihat kearah nya.


Alyss mulai tenggelam dalam pikiran nya. Tubuhnya bergetar dan pandangan mata nya gelisah, ia tetlihat sangat ketakutan dan seperti tak dapat mengenali Hazel yang sedang berada di hadapan nya.


Tes... tes.. tes...


Tanpa terasa hidung Alyss mulai mengeluarkan cairan merah kental yang terus menetes kebawah.


"Alyss!" panggil Hazel sesaat sebelum Alyss jatuh kehilangan kesadaran nya.



Alysscalla Zalea



Hazel Rai


...****************...


Haii...


Maaf yah semalem othor ga up🤧🤧


tugas othor numpuk dan deadline nya jam 12 malem jadi othor ngerjain tugas othor dulu🤧🤧


Ini othor up yang panjang yah hihi🤭🤭🤭


Jangan lupa like, rate 5, fav, vote dan dukungan lain yah😊😊


Terimakasih untuk kalian yang sudah mampir dan mendukung othor selalu🥰🥰🥰


Oh iya jangan lupa komen juga hihi


Happy Reading❤️❤️❤️❤️❤️