(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Not same



Setelah membuat kesepakatan pria itu pun kembali mengantarkan gadis itu kembali ke kediaman nya.


Louis pun yang mendapat kabar jika sang adik langsung kembali ke kediaman nya.


Louise juga memberitau Zayn jika ia sudah kembali, ia tau teman nya itu seperti sang kakak yang sangat cemas karna ia tak kembali semalaman.


Zayn sendiri terus mengunjungi semua club dan tempat-tempat yang sukai sahabat nya itu, ia sangat cemas sekaligus khawatir.


......................


Kediaman Rai.


Louis pun langsung mencari keberadaan adik nya, kaki nya langsung menuju kamar gadis cantik itu.


Louise pun segera mempercepat make up di lehernya agar bisa menutupi semua bekas kepemilikan yang di tinggalkan James. Ia pun segera memakai sweter panjang agar bisa menutup bagian lain.


"Louise!" panggil Louis seketika saat ia sampai di kamar gadis cantik itu.


"Kenapa teriak sih?" tanya Louise yang tetap bersikap baik-baik saja, ia baru saja menyelesaikan make up di leher nya dan tak sempat di bagian pundak, namun gadis itu masih menutup dengan sweter panjang nya.


"Dari mana saja kau?! Ha?!" bentak Louis yang menggema di seluruh ruangan dan langsung meraih lengan adik nya.


"Udah di bilang aku main sama teman ku!" jawab Louise dan langsung menepis tangan sang kakak.


Saat gadis itu berusaha menepis dan menyingkirkan tangan sang kakak membuat sweter nya sedikit turun dan memperlihatkan bahu nya yang penuh dengan bekas gigitan dan bekas kepemilikan.


Gadis itu pun langsung menutup dan menarik lagi sweter nya. Louis terdiam beberapa saat memproses apa yang ia lihat karna sangat terkejut.


"Itu apa?" tanya pria itu sembari menarik lagi lengan adik nya.


"Bu-bukan apa-apa." jawab Louise gugup pada sang kakak.


"AKU TANYA INI APA?!" bentak Louis dengan suara begitu kuat dan emosi yang mulai naik.


Ia langsung menarik sweter adik nya agar bisa melihat bekas tersebut sekali lagi.


Louise sempat terdiam, ia sangat terkejut karna kakak nya yang benar-benar terlihat marah, ia tau jika pria itu tak pernah benar-benar marah pada nya sejak mereka masih kecil, namun kali ini? Ia seperti melihat seseorang yang baru.


"Aku pergi dengan pacar ku, ja-jadi wajar kan?" jawab Louise yang tetap berusaha tenang.


"Wajar? Kau bilang wajar? Siapa pacar mu? Ha?! Mana orang nya?!" tanya Louis dengan berusaha menetralkan nafas nya menahan emosi yang begitu naik.


"Bukan urusan mu!" jawab Louise sembari membuang wajah nya kesamping, ia mulai takut dengan kakak nya yang terlihat berbeda pagi ini.


Deg...


Louis terdiam beberapa saat, ia tak habis pikir bagaimana adik nya bisa mengatakan Bukan urusan mu padanya.


"Bukan urusan ku?! AKU KAKAK MU!! Dan kau bilang bukan urusan ku?!" ucap Louis yang berusaha menyadarkan adik nya.


"Kau...


Semenjak Mama Papa meninggal, berarti kau sudah jadi tanggung jawab ku...


Aku tak pernah membatasi semua pergaulan mu...


Tapi bukan berarti kau boleh rusak Louise..." ucap Louis dengan mulai melemah pada adik nya.


Jujur saja ia sangat terkejut dengan adik perempuan nya yang mulai terlihat lepas kendali.


"Bilang sama kakak! Mana orang nya? Kau dipaksa? Hm? Bilang Louise! Kakak bisa cari orang nya! Kakak bisa hukum!" sambung Louis lagi sembari meraih kedua lengan adik nya dan menatap iris gadis dihadapan nya dengan lekat.


"Aku mau melakukan nya mau sama mau...


Tidak di paksa sama sekali..." jawab Louise lirih namun tetap kukuh dengan jawaban nya. Ia tak bisa mengatakan tentang apa yang terjadi.


Gadis itu ingin melindungi satu-satu nya keluarga milik nya, dan pria itu juga ingin melindungi satu-satunya adik perempuan nya. Berusaha melindungi satu sama lain namun dengan cara yang berbeda.


"Bohong! Aku mengenal mu! Kau takut sentuhan!" sanggah Louis cepat. "Adik ku...


Adik ku bukan orang seperti itu..." sambung nya lagi dengan suara lirih.


"Tapi aku kayak gitu! Aku memang begitu kak! Takut sentuhan?! Sekarang aku sudah tak takut lagi!" jawab Louise pada kakak nya dengan nada tinggi dan suara yang hampir menangis.


"Kenapa kakak malu?! Malu punya adik nakal?! Iya?!" tanya nya lagi pada sang kakak.


"Malu?! Itu yang di pikiran mu? Aku tak mau kau rusak! Kau adik ku! Satu-satunya kelurga ku yang masih ada! Kau pikir aku mau adik ku rusak?! Hm?!" jawab Louis sembari menunjuk ke arah gadis itu. Ia tak pernah bertengkar seperti ini dengan adik nya selama 24 tahun lamanya.


Louise terdiam dan malah menjatuhkan air mata nya tanpa sadar. Ia menatap mata sang kakak dengan lekat.


"Kau dipaksa? Hm?" tanya Louis lagi dengan suara melemah dan selembut mungkin pada adik nya yang tertunduk dan mulai semakin menangis.


"Tidak...


Maaf kak...


A-aku cuma..." jawab Louise yang mulai menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya menyembunyikan tangis nya.


Jika ia mengatakan dirinya memang dipaksa dan bahkan di berikan narkotika pasti saudara kembar nya akan sangat marah dan mencari pria itu. Sedangkan ia tau jika pria yang melakukan semua itu bukan lah pria sembarang dan pria yang bisa membahayakan kakak nya.


"Louise...


Bilang..." ucap Louis lagi sembari berusaha membuka telapak tangan adik nya yang sedang menutupi wajah nya.


"A-aku cuma gak sengaja kak...


Cu-cuma ngikutin alur kak...


Maaf..." ucap gadis itu yang masih kukuh tak ingin memberitau dan membuat masalah semakin besar atau bahkan bisa membahayakan kakak nya sendiri.


"Siapa? Hm? Masih ingat? Tau orang nya?" tanya Louis lagi.


"Kalau kakak tau, memang nya kakak bakal ngapain? Aku juga mau sama mau kak sama dia..." ucap gadis itu sembari meraih tangan kakak dan menatap dengan tangis nya.


"Kenapa sih? Kenapa sampai seperti itu?" tanya Louis yang tak habis pikir, ia meremas rambut nya dengan kuat menahan rasa frustasinya.


"Maaf kak...


Aku sendirian...


Di rumah sunyi..." ucap gadis itu sembari menangis terisak.


"Aku takut....


Kakak selalu sibuk...


Aku sendirian...


Dirumah...." sambung Louise dengan suara tersendat.


"Kalau takut kenapa sampai begini? Kenapa bisa sebebas ini?" tanya Louis yang benar-benar tak habis pikir, ia tak bisa menahan rasa sakit di hatinya saat melihat adik nya seperti ini.


"Di rumah...


Louise selalu ingat Mamah kak...


Louise merasa sendiri...


Kakak semakin sibuk...


Aku sendirian kak...." jawab gadis itu dengan susah payah karna tangis nya yang semakin terisak.


"Kakak tau? Apa yang paling buat aku iri sama kakak sejak dulu? Aku selalu kalah di semua bidang...


Dan yang paling penting di emosi...


Seberapa banyak aku bilang sesunyi apa yang kurasa, pasti kakak bakalan gak akan ngerti kan?" tanya gadis itu menatap sang kakak.


Ia tau kakak nya memiliki emosi yang lebih sedikit dan dapat menahan semua kejadian yang psikis dan mental yang lebih kuat. Berbeda dengan nya yang memiliki mental yang lebih lemah namun harus berusaha untuk lebih kuat sendirinya.


"Kenapa? Kita sama...


Aku bisa kenapa kau tak bisa?" tanya Louis lagi pada adiknya yang semakin menangis.


"Engga kak....


Kembar gak selalu sama...


Kakak bisa atur emosi kakak...


Aku engga...


Aku gak sekuat kakak..." jawab gadis itu dan semakin menangis.


Deg...


Hatinya tersentak, ia seperti melihat tangis adik nya saat di hari pemakaman kedua orang tua nya.


"Kenapa sih? Mamah Papah gak bawa Louise juga? Louise juga mau jadi bintang kak...


Louise kesepian...


Takut..." cicit gadis itu dengan hati yang begitu sesak, antara merindukan kedua orang tua nya dan juga menahan rasa gelisah dan ketakutan nya saat ini karna bertemu dengan pria yang salah.


"Louise!" bentak Louis sekali lagi, ia tak pernah ingin mendengar kata-kata jika Mau jadi bintang karna ia tau itu seperti kata-kata yang menyerah.


"Maaf kak...


Louise janji gak nakal lagi setelah ini...


Maaf..." ucap gadis itu dengan suara terisak, ia tak mau dan tak akan pernah mau mengatakan yang sebenarnya. Apa lagi jika mengatakan saat ini dirinya sudah menjadi Pecandu dari obat-obatan terlarang.


Tubuh gadis itu gemetar karna tangis nya. Louis terdiam melihat adik nya yang terus menangis, ia tau jika adik nya depresi lagi pasti akan langsung membuat gadis cantik jatuh sakit lagi.


Ia perlahan mendekat dan mulai memeluk adik nya, menyembunyikan tangis dan membuat tangisan itu tumpah sekaligus di dalam dekapan dada bidang nya.


"Kakak yang harus nya minta maaf...


Maaf...


Karna gak bisa jagain Louise..." ucap Louis dengan suara yang semakin melemah dan mulai tertahan, ia tak bisa jika melihat adik nya yang sangat ia sayangi menangis seperti itu.


Tangis gadis itu semakin tumpah dan semakin menyembunyikan wajah nya ke dada bidang sang kakak. Ia dapat merasakan tangan kekar itu yang mengelus punggung dan rambut nya dengan lembut.


Membuat nya semakin menangis menjadi dan meremas sweter yang di kenakan sang kakak.


......................


2 Hari kemudian.


Walaupun sudah dua hari berlalu namun Louis masih memikirkan adik nya yang masih tetap mengaku jika tak ada paksaan apapun yang di lakukan pada nya.


Pria itu mencoba berfikir dan membandingkan dengan luka yang ia buat di tubuh sekretaris nya, memang terlihat berbeda karna seperti tak ada bekas perlawanan di tubuh adik nya.


Mata nya beberapa kali melirik dan melihat ke arah sekretaris nya yang berada di samping nya saat ia baru saja kembali dari urusan bisnis nya.


Clara tentu nya merasa sangat risih dan sangat ingin keluar dari mobil itu namun ia tau atasan brengsek nya pasti tak akan membiarkan nya.


"Kau pasti senang kan?" tanya Louis menatap tajam pada gadis itu.


"Senang? Karna apa? Anda mau membatalkan kontrak nya?" tanya Clara yang tak mengerti sama sekali.


"Ini salah mu! Karna kau terus mengatakan hal buruk pada adik ku! Membuat nya jadi seperti itu!" ucap Louis yang malah menyalahkan gadis malang yang tak tau apapun itu.


"Aku? Aku tak pernah menyumpahi nya!" sanggah Clara yang tak terima atas tuduhan atasannya.


"Ckk, Sok baik!" decak Louis kesal, entah sejak kapan ia menjadikan gadis malang itu menjadi objek segala pelampiasan nya. Amarah, nafsu dan emosi yang ia rasakan.


"Berhenti sebentar." ucap Louis saat melihat salah satu toko kue kesukaan adik kesayangan nya.


Mobil tersebut pun kemudian langsung berhenti saat supir mendengar perintah dari atasan nya.


Clara pun yang merasa jika ia ingin diturunkan di tengah jalan langsung bersiap ingin turun.


"Mau kemana?" tanya Louis dingin saat melihat gadis itu dengan ancang-ancang ingin turun.


"Bukan nya anda ingin saya keluar?" tanya Clara dengan menahan rasa kesal dan benci nya.


"Bukan! Duduk lagi!" ucap Louis tegas dan ia mulai keluar serta turun ke toko kue yang di sukai adik nya.


Pria itu pun mulai memilih strawberry cake yang sangat di sukai adik kesayangan nya. Mata nya pun beralih ke cake lain yaitu Cheese cake cantik yang terlihat begitu menggoda. Ia tau jika ada gadis lain yang sangat menyukai kue jenis itu.


"Ckk, sudah lah!" decak Louis saat ia tanpa sadar membeli dua kue padahal awalnya hanya satu kue.


Setelah pria tampan itu kembali ke mobil ia pun memberikan Cheese cake pada sekretaris nya.


"Ini! Tadi dapat kue gratisan dari toko!" decak Louis saat memberikan Cheese cake cantik tersebut pada Clara. Ia tak mau mengatakan jika ia membeli nya sendiri.


Clara pun yang mendapat kue tersebut secara tiba-tiba langsung memangku nya tanpa sadar.


"Kenapa? Tidak mau? Kalau tidak buang saja!" ucap Louis saat gadis itu yang terlihat terlihat terkejut saat ia memberikan cake tersebut.


"Sayang tau buang makanan!" ucap Clara yang memangku kue kesukaan nya itu.


Louis pun hanya menggelengkan kepala nya menatap gadis itu yang terlihat tak mau namun mau secara bersamaan.


"Kau sangat menyayangi adik mu?" tanya Clara memecah sunyi saat mereka kembali.


"Hm..." jawab Louis singkat sembari memangku Strawberry cake kesukaan adik nya.


"Maaf...


Aku tak tau apa yang kau katakan...


Tapi aku tak pernah mau ada wanita yang merasa seperti ku lagi...


Termasuk adik mu..." ucap Clara lirih, hatinya memang sangat lembut, ia tak tau apa yang di maksud atasan nya namun ia bisa mengingat di malam adik atasan nya tak kembali dan menyibukkan semua orang untuk mencari gadis nakal itu.


Louis tak menjawab lagi dan masih terdiam, ia tau jika kata Maaf bukan lah yang harusnya di ucapkan sekretaris nya namun ia lah yang harus nya mengucapkan kata itu.