(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Savage girl



Hazel melihat wajah Alyss yang tertidur dalam dekapannya, ia melihat pipi Alyss sedikit memerah akibat tamparan dari Vion dan leher nya meninggalkan bekas memar karna cekikkannya barusan.


Sebenarnya Alyss tadi benar-benar marah, dan tak ingin beranjak dari kamar tidur nya, namun Hazel langsung mengangkat tubuh Alyss kepundaknya dan membawa ke kamar nya. Yah seperti biasa Hazel selalu mengancam Alyss agar ia menurutinya, dan mau tak mau Alyss tetap tidur di ranjang yang sama dengan Hazel walaupun ia sedang marah.


Keesokan paginya.


Melihat memar di leher Alyss kemarin malam karna ulahnya, membuat Hazel berinisiatif dengan mengoleskan obat memar di leher Alyss.


"Alyss." Hazel meraih tangan Alyss saat ia ingin bangun.


Alyss pun langsung menoleh ke arah Hazel.


"Jika kau bertemu dengan Vion lagi, kau tak boleh-" ucap Hazel yang masih belum selesai.


"Aku tau, aku tak boleh membuatnya marah kan?" potong Alyss langsung, Alyss tak tau kenapa ia merasa kesal pada Hazel saat Hazel membahas tentang Vion.


"Bukan, makanya dengarkan dulu! Jika kau bertemu dengannya lagi kau tak boleh terluka, jika dia memukulmu kau harus membalasnya." ucap Hazel pada Alyss.


"Aku boleh memukul tunangan mu? Dan lagi kenapa kau peduli jika dia memukulku? Kau melakukan yang lebih parah darinya." ucap Alyss ketus.


Hazel hanya tersenyum miring melihat Alyss yang membalasnya dengan ketus.


"Kau sepertinya makin berani? Kau sudah tak takut lagi pada ku?" tanya Hazel tersenyum sembari menatap tajam Alyss.


"Ti-tidak..." jawab Alyss lirih dan langsung membuang wajahnya ke samping, ia selalu merasa ngeri jika Hazel menatap nya seperti itu.


Hazel semakin mendekat dan merapatkan duduk nya dengan Alyss.


Ia kemudian berbisik ke telinga Alyss.


"Kau bahkan tak berhak atas dirimu sendiri, dan tak ada orang lain yang boleh menyakiti mu, bahkan jika itu kau sendiri. Cuma aku yang boleh melakukannya. Kau mengerti?"


Deg...


"Jadi maksudmu kau yang berhak atas hidup? Dan aku bahkan tak memiliki hak untuk itu?" ucap Alyss sedikit gemetar.


"Anak pintar." ucap Hazel tersenyum dan kemudian mengusap puncak rambut Alyss.


Alyss hanya membuang nafas nya dengan kasar saat melihat Hazel yang tersenyum menatapnya.


"Sekarang, bisakah aku pergi?" ucap Alyss pada Hazel, Hazel pun menganggukkan kepalanya.


......................


Skip Time


Seminggu kemudian.


Vion yang selalu mencari cara agar dapat menyalin dokumen kerja sama antara ayahnya dan ayah Hazel akhirnya menemukan waktu yang tepat.


Ia langsung menyalin dokumen tersebut saat kesempatan itu datang, Hazel yang selalu mendesaknya agar memberikan salinan tersebut membuat nya selalu mencuri-curi kesempatan dari ayahnya.


"Yess!


Sekarang kak Hazel pasti senang hihi." ucap nya gembira saat sudah menyalin seluruh data ke flashdisk nya.


Vion pun langsung menuju RS untuk menemui Hazel. Dia memang seperti wanita bodoh yang dibutakan oleh cinta. Dia menyukai Hazel sejak kecil namun Hazel tak pernah menghiraukannya sedikit pun


Setelah hari dimana ia ke kediaman Hazel ia tak pernah kesana lagi, karna Hazel tak pernah mengizinkan nya untuk ke kediamannya lagi, dan para pengawal serta penjaga di kediaman Hazel juga tak membiarkan nya masuk. Vion berada dalam daftar hitam di kediaman Hazel yang membuatnya tak dapat masuk kesana.


Dan walaupun ia ke RS beberapa kali namun ia belum pernah melihat Alyss, walaupun mereka sempat berpapasan sesekali.


Sesampainya di RS Vion langsung menuju ruangan Hazel, tanpa permisi ia pun langsung membuka pintu ruangan tersebut.


Hazel dan Rian pun sontak mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu, mereka sebelum nya masih berdiskusi tentang pekerjaan.


"Kak....


Aku sudah bawa sa-" ucapan Vion terhenti saat melihat Rian yang juga di ruangan tersebut.


"Sudah ada? Sekarang berikan pada ku." ucap Hazel pada Vion.


"Boleh, tapi cium aku dulu." ucap Vion dengan manja.


Hazel semakin malas saja mendengar ucapan Vion.


"Jangan begitu, kau tak malu ada Rian disini? Sekarang berikan pada ku." ucap Hazel ketika sudah berdiri di hadapan Vion.


"Dia kan cuma sekertaris! Aku bisa mencarikan sekertaris yang lebih cocok untuk kakak." ucap Vion dengan angkuh.


"Kalo kakak gak mau cium, aku juga ga mau ngasi nya." ucap Vion dengan wajah yang di buat cemberut.


Bahkan Rian yang masih ada di sana pun mulai tak suka dengan sikap Vion.


"Yasudah, tapi setelah itu kau akan memberikannya kan?" ucap Hazel pada Vion.


"Iya tentu saja!"


"Baiklah, tapi kau harus menutup matamu." ucap Hazel.


Vion pun langsung memejamkan mata nya dengan rapat. Setelah Vion memejamkan matanya Hazel langsung memberi kode pada Rian untuk mencium Vion.


"Apa?! Aku tak mau?!" Rian mengucap dengan menggerakkan bibir nya tanpa suara dan menggelengkan kepalanya.


Hazel makin melotot pada Rian dan menatap Rian dengan hawa membunuh yang kuat.


Hazel seperti mengatakan ; Lakukan atau Mati, dari sorot mata nya menatap Rian.


Akhirnya Rian mengalah dan mendekati Vion, tangan nya menutup mata Vion dan mulai mulai menciumnya, merasakan adanya ciuman di bibirnya langsung membuat Vion membalas dengan agresif.


Melihat Vion yang bertindak agresif saat mencium Rian membuat Hazel menyeringai.


"Ingin menciumku? Kau pikir kau pantas?" ucap Hazel dalam hati.


Setelah ciuman itu usai, Rian pun segera keluar dari ruangan. Dan tentunya Vion benar-benar merasa senang, tanpa pikir panjang lagi ia segera memberi flashdisk itu pada Hazel.


Vion segera keluar dari ruangan Hazel, dan saat ia berjalan kembali ia berpapasan wajah dengan Alyss.


"Ternyata jalang ini berkerja disini?" ucap nya saat melihat wajah Alyss.


Alyss pun yang awalnya ingin mengabaikan Vion memberhentikan langkah nya saat mendengar ucapan Vion.


"Kau tidur dengan atasan mu untuk masuk kesini?" ucap Vion lagi.


"Sebaiknya kau tutup saja mulut mu itu." ucap Alyss dengan nada penuh penekanan pada Vion, ia sudah mulai marah karna Vion terus menghinanya.


"Wahh si jalang ini marah padaku.." ucap Vion dengan nada mengejek pada Alyss.


Alyss akhirnya tersenyum kesal dan melangkah mendekati Vion.


"Jika terus memanggilku jalang, aku akan benar-benar melakukannya. Aku akan merebut tunangan mu itu." ucap Alyss sedikit berbisik pada Vion dan kemudian mundur kembali.


Ia sudah mulai tak menahan emosi saat Vion, Vion tak tau apa-apa tetapi terus menghinanya.


Siapa yang tak akan marah dengan itu?


Menghadapi satu iblis dalam hidup nya saja sudah benar-benar membuat nya susah dan membuat dunia nya berantakan.


Mendengar ucapan Alyss langsung membuat Vion mengangkat tangan dan langsung menampar wajah Alyss.


Alyss mengepalkan kelima jarinya dengan erat, ia masih berusaha untuk menahan emosinya.


"DASAR JALANG!!" teriak Vion pada Alyss.


Alyss tak menjawab dan hanya tersenyum sinis pada Vion, tentu saja hal itu membuat Vion semakin emosi.


"KAU?! Bisa ku tebak, pasti ibumu juga jalang kan? Apa kau belajar dari ibumu? Biasanya orang semacam ini selalu meniru orang tua mereka." ucap Vion dengan emosi.


Wajah Alyss langsung berubah kini sudah benar-benar tak dapat menahan emosinya saat Vion menghina ibunya.


"Apa yang barusan kau katakan?" tanya Alyss dengan penekanan pada Vion.


"Ku bilang ka-"


Plak!!


Tamparan langsung mendarat di pipi Vion, dan membungkam mulutnya.


"APA-APA AN KAU? KAU ING-"


Plak!!


Alyss menampar Vion lagi tanpa membiarkannya menyelesaikan kalimatnya.


"Tamparan pertama untuk hinaan mu pada ibuku, dan yang kedua untuk hinaan mu padaku." ucap Alyss menatap tajam Vion.


"Dasar wanita gila!!" ucap Vion dengan tangan yang menyerang Alyss.


Alyss langsung menghindar dan menarik rambut Vion lebih dulu, kemudian ia langsung menampar Vion kembali secara berulang, hingga membuat ujung bibir Vion berdarah.


Kemudian Alyss menghempaskan tarikan nya pada rambut Vion dengan kasar, dan membuat Vion tersungkur ke lantai.


Dan yang mereka tak tau adalah Hazel sedari tadi memperhatikan mereka, saat Hazel dan Rian turun untuk pergi rapat, langkah mereka malah terhenti ketika mendengar pertengkaran antara Alyss dan Vion.


"Kau tak ingin kesana? dr. Alyss memukul Vion. Logan tak akan membiarkan itu jika Vion mengadu." ucap Rian pada Hazel yang terus memperhatikan mereka.


"Tak apa aku akan melindunginya, Alyss harus memukul jalang itu lebih banyak lagi." ucap Hazel dengan tersenyum.


Ia senang melihat Big baby nya berubah menjadi Savage.


Vion yang tersungkur pun langsung bangun dan bersiap menyerang Alyss lagi.


"Ada apa ini?" ucap Hazel yang mulai menunjukkan dirinya.


"Kak...


Dia memukulku, lihat ini bibir ku sampai berdarah." ucap Vion yang langsung mengeluarkan air mata andalannya, dan tentu saja itu tak berguna untuk Hazel.


"Benarkah? Ku pikir kau tadi terjatuh." ucap Hazel yang pura-pura tidak tau.


"Tidak kak dia memukulku!"


"Kau memukulnya?" tanya Hazel pada Alyss.


Alyss bingung bagaimana menjawab Hazel, Hazel seperti sedang memberi kode mata padanya.


"Ti-tidak, dia terjatuh dan aku datang untuk menanyakan keadaannya." ucap Alyss lirih karna berbohong.


Hazel pun sedikit tersenyum mendengar jawaban Alyss, Alyss memberinya jawaban yang ia inginkan.


"Aku benar-benar kecewa padamu." ucap Hazel pada Vion.


"Kak? Kenapa tak percaya padaku? Disini ada cctv kan? Ayo lihat! Dia benar-benar memukulku!" ucap Vion membela dirinya.


"Rian kau sudah mengganti cctv yang rusak disini?" tanya Hazel pada Rian.


"Eh? itu...


Belum pak." jawab Rian, ia mengerti maksud Hazel, karna tak mungkin rumah sakit terbaik memiliki cctv yang rusak.


"Tak ada cctv disini, Kenapa kau selalu menuduh orang lain? Pulanglah dan renungkan sikapmu." ucap Hazel pada Vion.


Vion merasa marah pada Hazel karna tak mempercayainya dan langsung meninggalkan mereka begitu saja.


Hazel tertawa saat melihat Vion pergi. Dan kemudian menatap Alyss.


"Anak pintar." ucap Hazel sembari mengusap rambut di pucuk kepala Alyss.