
Alyss tak menjawab pertanyaan dr. Hanna dan hanya menampilkan senyuman yang sulit diartikan di wajahnya.
"Alyss?!" Hazel yang langsung memotong pertanyaan dr. Hanna dan langsung menghampiri Alyss.
"Kau tidak dengar dia memanggil ku apa? Hm?" tanya Alyss santai pada dr. Hanna.
"Kau sungguh Alyss?" tanya dr. Hanna memastikan.
"Menurutmu?" tanya Alyss dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku tidak tau apa yang kalian inginkan, tapi kenapa terus mengganggu ku? Hm?" tanya Alyss lagi sembari merapikan rambut nya dan melipat kaki nya.
"Dan lagi kau! Haisshh pria sialan ini! Kenapa aku selalu bertemu dengan mu..." ucap Alyss pada Hazel dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian.
Hazel pun mengerutkan dahinya sekilas menatap Alyss yang benar-benar berbeda. Ia menyadari jika saat ini Alyss yang dihadapan nya bukan lah Alyss yang ia kenal.
"Kau bilang aku meninggalkan mu kan? Kapan?" tanya Hazel saat ia menyadari jika saat ini ia bertemu dengan Alyss yang sama saat Alyss baru bangun dari kecelakaan yang disebabkan Will.
"Okey, tanya satu-satu padaku. Oh iya bisakah kau tinggalkan kami sendiri, hanya 15 menit. Setelah itu aku akan menjawab pertanyaan mu." ucap Alyss pada Hazel yang memintanya meninggalkan nya berdua dengan dr. Hanna.
"Kenapa? Aku tak suka di perintah." jawab Hazel dengan menatap tajam Alyss.
Alyss pun tertawa kecil dan berdiri ia mendekat dan berjinjit ke arah telinga Hazel.
"Ku mohon, tolong tinggalkan kami...
Hm?" bisik Alyss dan mulai menggantungkan tangan ke ke sisi belakang leher dengan senyuman di wajahnya.
Hazel masih diam dengan ekspresi datar nya menatap Alyss.
"Kenapa diam saja? Kau suka kan jika aku memohon pada mu? Hm?" tanya Alyss lagi sembari mulai mengelus pipi Hazel.
Hazel pun melirik dr. Hanna sekilas dan melihat dr. Hanna yang memberi isyarat untuk meninggalkan mereka berdua.
"Baik. Tapi waktu mu hanya 15 menit." ucap Hazel.
"Baik!" jawab Alyss dengan senyuman yang sulit diartikan di wajahnya dan langsung berjalan menjauh dari Hazel.
Hazel pun segera keluar dari ruangan itu dan langsung memantau dari rekaman cctv yang berada di sudut ruangan itu.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku. Siapa kau?" tanya dr. Hanna saat tinggal mereka berdua.
"Apa keuntungan nya untuk ku jika ku beritau? Jika tak ada keuntungan nya, aku tak mau memberi tau." ucap Alyss enteng sembari mendudukkan dirinya ke sofa.
"Dimana Alyss?" tanya dr. Hanna.
"Tidur? Kenapa tanya aku? Kalian yang memanggil ku...
Kenapa tak biarkan saja dia, kenapa selalu membuat hidupnya tak tenang?" tanya Alyss
"Kami bukan mau membuat hidupnya tak tenang, kami hanya ingin mengobatinya." jawab dr. Hanna.
"Ck! Mengobati sialan!" umpat Alyss kesal.
Alyss pun mulai berdiri dan menjatuhkan satu hiasan yang terbuat dari kaca di ruangan itu.
Praanggg!!!!
"Ups! Aku tak sengaja." ucap Alyss enteng dan mulai menunduk mengambil pecahan kaca di ruangan itu.
"Apa kau bisa tak mengganggu ku lagi? Atau berusaha mencari tau tentang ingatan nya?" tanya Alyss dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Kau ingin aku tak mencari tau lagi?" tanya dr. Hanna.
"Yah, kau benar!" jawab Alyss tersenyum.
"Kenapa? Ada yang kau sembunyikan?" tanya dr. Hanna lagi.
"Kau pasti tau aku ini siapa kan? Aku ada karna ingin melindunginya, dia membuat ku terpisah darinya dan melupakan ku.
Aku yang mengambil rasa sakit dan takut nya selama ini!" ucap Alyss dengan tatapan tajam ke dr. Hanna.
"Maka dari itu, bukankah lebih baik dia bisa mengingat semuanya seperti mu?" tanya dr. Hanna.
"Pffttt...
Hahahaha...
Kau membuat ku lucu. Baiklah kau mau tau nama ku?" tanya Alyss lagi sembari menunduk kearah dr Hanna yang masih duduk di sofa.
"Kau mau memberitau ku?" tanya dr. Hanna
"Tentu saja, tapi setelah itu aku akan membunuh mu..." bisik Alyss di telinga dr. Hanna.
Dr. Hanna pun melihat ke arah wajah Alyss yang tersenyum tanpa keraguan padanya. Ia mulai bergidik ngeri melihat wanita yang ada di hadapan nya, ia tau wanita ini mungkin sangat berbahaya.
"Masih ingin tau?" tanya Alyss dan mulai menempelkan ujung pecahan kaca runcing yang ia ambil tadi ke leher dr. Hanna.
dr. Hanna tak menjawab pertanyaan Alyss dan menatap iris Alyss, Alyss pun semakin menggores leher dr. Hanna dan membuat dr. Hanna meringis saat merasakan ujung pecahan kaca yang runcing tersebut melukai lehernya.
Alyss hanya tersenyum saat melihat darah yang mulai menetes dari leher dr. Hanna.
"Sepertinya kau mulai takut? Waktu 15 menit kita sudah habis, dia pasti akan datang sebentar lagi." ucap Alyss yang mulai berdiri tegak dan menyingkirkan tangan nya di leher dr. Hanna.
Tangan nya menghitung tiga detik dari hitungan mundur yang di buat di jarinya.
Dan benar di hitungan ke tiga Hazel pun membuka pintu ruangan tersebut.
"Benar kan dia datang." ucap Alyss tersenyum melihat dr Hanna saat Hazel memasuki ruangan tersebut.
"Waktu mu sudah habis." ucap Hazel sembari melihat leher dr. Hanna yang terluka.
Hazel pun memberi isyarat agar dr. Hanna segera pergi dari tempat itu, dr. Hanna pun mengerti dan meninggalkan tempat itu.
Setelah hanya mereka berdua di ruangan itu, Hazel menatap datar wajah Alyss yang tersenyum namun menyimpan sesuatu di dalam nya.
Walaupun bibir Alyss tersenyum namun terlihat dengan jelas sorot mata nya yang penuh kebencian terhadap Hazel.
"Mungkin...
Tapi jika aku sungguh melakukan nya, apa yang akan kau lakukan padaku? Melaporkan ku atau malah melindungi ku dan menutup kejahatan yang kulakukan?" tanya Alyss yang mulai duduk melipat kaki nya di sofa dan memainkan potongan kaca yang terdapat darah dr. Hanna.
"Tak masalah jika kau membunuh nya, aku akan carikan dokter lain untuk mu." ucap Hazel yang datang mendekati Alyss dan memegang dagunya agar wajah Alyss mengandah padanya.
Alyss pun menatap iris Hazel dengan tajam.
"Tapi kau harus katakan kapan aku meninggalkan mu." ucap Hazel lagi sembari melihat balik iris Alyss yang menatap nya dengan penuh kebencian.
"Dasar munafik! Kau pria yang paling munafik yang pernah ku temui. Dasar brengsek! Dari dulu dan sekarang kau tak pernah berubah!" jawab Alyss dengan nada yang sangat membenci Hazel.
"Apa kita pernah bertemu?" tanya Hazel yang masih dengan wajah tenang nya, ia tak terprovokasi sama sekali dengan ucapan Alyss.
"Kenapa aku harus menjawab? Kau membuat ku hampir mati berkali-kali. Jika kau tidak terus menyiksa gadis bodoh yang sedang tertidur ini, dia tak akan memanggil ku kembali. Dia tak perlu terluka lagi." ucap Alyss yang mulai mengatakan Alyss yang asli.
"Tapi ada baik nya juga kau selalu menyiksanya, Aku jadi perlahan mulai kembali lagi." sambung Alyss tersenyum.
"Lalu kau siapa?" tanya Hazel lagi.
"Aku? Aku juga Alyss hanya saja aku tak mau memberi tau mu nama ku." jawab Alyss yang tersenyum ia mulai bangun dan dengan cepat menggerakkan tangan nya yang sedang memegang pecahan runcing itu ke perut Hazel.
Tes... tes... tes...
Darah segar pun mulai menetes satu persatu ke lantai.
"Kau kuat, tapi belum cukup kuat untuk mengalahkan ku." ucap Hazel sembari menyelipkan rambut Alyss ke telinganya.
Hazel langsung menahan pecahan kaca yang hampir di tusukkan Alyss ke perut nya dengan satu tangan nya, hingga membuat tangan nya terluka dan terus mengeluarkan cairan merah kental karna menahan pecahan kaca tersebut.
"Kau tak takut dengan ku? Aku bisa membunuh mu saat kita tidur bersama." ucap Alyss yang tersenyum licik sembari semakin menekan pecahan kacanya agar semakin melukai Hazel.
"Takut? Aku? Bagi ku kau masih Alyss. Jika kau ingin mencoba membunuh ku lakukan saja, tapi kau sendiri tau kan aku takkan pernah melepas mu. Mau kau Alyss yang sebelumnya atau Alyss yang sekarang!" jawab Hazel dan langsung menarik pecahan kaca tersebut hingga terlempar dari genggaman Alyss.
"Kau ingin tetap menjalani hubungan yang saling menyakiti satu sama lain?" tanya Alyss dengan tersenyum getir.
"Sudah kukatakan aku tak akan melepaskan mu! Kalau kau tak ingin terluka, kau harus belajar untuk menyukai ku." ucap Hazel dengan penuh penekanan sembari memegang kedua sisi lengan atas Alyss dengan kedua tangan nya.
Alyss pun dapat melihat darah yang terus mengalir dari telapak tangan Hazel, tak hanya telapak tangan Hazel saja yang terluka telapak tangan nya juga terluka karna ia memaksa menusuk Hazel.
"Hahaha...
Belajar menyukaimu?
Kau tau? Gadis ini tak akan menyukai mu dengan sungguh-sungguh! Kenapa? Karna aku tetap hidup di dalam nya, walaupun dia melupakan ku dan memisahkan ku dari ingatan nya, tapi aku tetap tersimpan di dalam nya. Dan aku sangat membenci mu! Aku tak akan pernah memaafkan mu! Untuk masa lalu atau pun yang kau lakukan sekarang!" ucap Alyss yang tertawa namun menatap Hazel dengan tatapan sedih, marah, dan kecewa di saat yang bersamaan.
Kepala nya mulai terasa sakit, ia tau Alyss yang asli akan segera menarik nya kembali, dan ini seperti tarikan terakhir.
Aku tidak jahat! Aku tak menginginkan mu!!!
"Sial! Kenapa dia menarik ku lagi! Sepertinya dia tak akan membiarkan ku keluar lagi! Dasar gadis bodoh!" gumam Alyss yang mulai memegangi kepala yang terasa sakit.
Ia tau jika ini mirip seperti seperti dulu saat Alyss yang asli menariknya dan mulai memisahkan nya serta melupakan nya dari dirinya. Itu berarti dia tak akan keluar lagi.
Karna Alyss asli tetap pengendali penuh atas tubuh dan pikiran nya, maka dari itu sisi lain dari dirinya yang lain hanya bisa keluar jika dia mengizinkannya dan menariknya kembali jika ia tak menginginkannya.
"Alyss? Hey? Kau kenapa?" tanya Hazel yang mulai khawatir dengan Alyss yang terus meringis menahan sakit.
"Sial! Kau.. Kau katakan pada ku! Kau sungguh kembali hari itu?" tanya Alyss di sembari menahan sakit di kepala nya.
Hazel bingung menjawab apa, ia sama sekali tak mengerti apa yang di katakan Alyss.
"Cepat katakan! Aku tak punya banyak waktu!" ucap Alyss yang semakin meringis kesakitan.
Hazel memegangi tubuh Alyss agar ia tak segera jatuh, ia menatap mata Alyss yang seakan-akan menunggu jawaban darinya.
"Kenapa kau selalu menyakitiku? Dulu dan sekarang! Apa kau ada hanya untuk mengacaukan hidup ku? Kau terlihat seperti melindungi ku, tapi kau yang paling menyakiti ku." ucap Alyss sebelum kehilangan kesadaran nya.
Dari suara dan sorot mata Alyss, Hazel tau jika perkataan tersebut penuh dengan kebencian dan kesedihan yang bercampur di dalam nya.
"Apa kita pernah bertemu?" ucap Hazel lirih saat melihat wajah Alyss yang tak sadarkan diri di pangkuan nya.
Ia pun menggendong Alyss dan membawa nya kekamar. Mengobati luka di tangan Alyss lebih dulu dan kemudian mengobati luka di tangannya.
......................
Aku tak menginginkan mu! Aku tak akan membiarkan mu keluar lagi!
Kau sungguh menyukainya? Dia bisa membunuh mu! Seperti dulu! Kau takkan bisa hidup tanpa bantuan ku! Jika aku tak mengambil semua kenangan buruk mu, kau tak akan seperti sekarang!
Kau jahat! Aku tak ingin jadi jahat! Kau tak akan pernah keluar lagi!
......................
Alysscalla Zalea.
Hazel Rai.
...****************...
Haii jangan lupa like, komen, vote, fav rate 5 dan dukung othor yah hihi...
Dan makasih buat kalian yang selalu dukung othor🥰🥰🥰
Happy reading❤️❤️❤️