(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Jealous girl



"Akhirnya selesai juga." ucap Alyss sembari merenggangkan tubuh nya ketika selesai mengecek para pasien VIP nya, ia pun segera bersiap untuk pulang.


Basement parkiran.


"Kau pulanglah lebih dulu, aku masih ada urusan, dan mungkin akan kembali sedikit larut, jadi pastikan kau makan malam lebih dulu."


Alyss menerima balasan pesan dari Hazel saat ia sedang berjalan di basement parkiran menuju mobil jemputannya.


Alyss pun segera naik ke mobil dan kembali ke kediaman Hazel. Hazel yang pulang lebih lama di karnakan masih banyak yang harus disilidiki nya tentang apa yang di katakan oleh Vion.


Apalagi ia juga mencari bukti tentang penggelapan dana, dan pencucian pajak yang di lakukan oleh Will selama ini.


......................


Kediaman Hazel.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 PM. Namun belum ada tanda-tanda bahwa Hazel akan pulang.


Alyss pun menyetel tv dengan acara favoritnya sembari bermain-main dengan bulbul.


"Kak Hazel!...


Kakak dimana? Aku kangen....."


Alyss pun langsung terkejut mendengar suara teriakan wanita. Alyss pun langsung bangun dan berjalan ke arah sumber suara.


Langkah nya terhenti, begitu pula dengan langkah wanita tersebut dan mereka beradu pandang, Alyss maupun wanita itu sama-sama memandang bingung.


"Siapa kau?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Vion.


"Kau yang datang kesini, bukankah seharusnya aku yang bertanya." ucap Alyss yang makin bertanya pada Vion.


"Aku tunangan pemilik rumah ini." jawab Vion dengan nada angkuh nya.


Deg....


Entah kenapa rasanya dada Alyss serasa di beri hujaman batu ketika mendengar jawaban tersebut, namun Alyss tetap berusaha tenang, dan mengontrol ekspresi terkejutnya.


"Lalu kau siapa? Kau belum menjawab ku tadi." ucap Vion sembari menatap sinis Alyss dan menyilangkan kedua tangan nya.


Alyss tak berkata apapun, ia sendiri bingung bagaimana menjawab Vion, ia bahkan sekarang tak tau apa status jika bersama Hazel.


"Kau pelayan? Tetapi kenapa tak memakai pakaian pelayan?" tanya Vion lagi sembari terus menatap sinis Alyss.


"Bukan! Aku juga tak tau aku ini siapa, jadi jika kau penasaran tanya saja dengan tunangan mu itu, dan jika kau sudah mendapatkan jawabannya, bisa kau beri tau padaku." ucap Alyss dengan tersenyum pahit di ujung bibirnya.


"A-apa? Kau! Berani sekali kau menjawab ku seperti itu! DASAR JALANG!" ucap Vion dengan nada tinggi dan...


Plak!...


Satu tamparan melayang di pipi Alyss. Alyss terbelalak sebentar dan kemudian memegang pipi nya. Ia langsung menoleh dan menatap tajam ke arah Vion.


"Aku? Aku jalang? Sebaiknya kau tutup mulut itu! Tau apa kau tentang ku? Sudah ku bilang kan jika kau penasaran ku tanya kan saja dengan TU-NA-NGAN mu itu!" ucap Alyss dengan penuh penekanan sembari mengepal kuat tangannya.


"AHHH!!! DASAR WANITA SIALAN! KAU PIKIR KAU SIAPA?" tanya Vion yang mulai tak dapat mengatur emosi nya.


Amarah nya semakin naik, saat Alyss membalas perkataan nya. Menurut setiap ucapan yang di katakan oleh Alyss seakan-akan tersirat bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih dalam.


Wajah nya kian memerah memandang Alyss, kini bahkan tangan nya segera ingin menarik rambut Alyss, namun sebelum itu terjadi...


"Ada apa ini kenapa ribut?" Bariton suara yang besar membuat Vion seketika terdiam.


Sontak saja Vion dan Alyss segera mengalihkan pandangan mereka ke arah suara tersebut.


"Tunangan mu sudah pulang kan? Sekarang kau bisa tanya pada nya." ucap Alyss menatap sinis Vion dan segera berbalik pergi dari ruangan tersebut.


Vion pun langsung memandang Hazel dengan wajah yang dibuat memelas.


"Kak dia siapa? Dia sangat tak sopan pada ku tadi." ucap Vion dengan nada pura-pura lemah, dan bersikap seolah-olah dia adalah korban.


Hazel hanya membuang wajah malas melihat sandiwara Vion.


"Kau kenapa kesini?" tanya Hazel tak suka, tanpa menjawab pertanyaan Vion.


"Aku kangen kakak, makanya aku kesini. Ta-tapi wanita itu malah berusaha menindas ku, padahal aku tak tau apa-apa." ucap Vion yang mulai pura-pura menangis.


"Jika saja aku tak membutuhkan nya untuk mengambil salinan dokumen itu, aku bisa langsung mencongkel matanya yang menjijikkan itu." batin Hazel kesal, ia benar-benar merasa sangat kesal pada Vion.


Pertama Vion kerumahnya tanpa izinnya.


Kedua Vion bahkan berani mengganggu wanita nya. Namun Hazel sebisa mungkin mengatur ekspresi nya padahal amarah nya sedang memuncak.


"Sudah jangan menangis, aku akan memarahinya nanti, kau tak perlu tau siapa dia. Dan Bukankah kita akan segera menikah? Maka dari itu jangan bersikap lemah." ucap Hazel dengan bibir tersenyum namun memandang jijik pada Vion.


"Kak...


Aku kangen...


Aku boleh menginap yah?" ucap nya manja, sembari menggandeng tangan Hazel dan memegang rahang gagah Hazel.


Hazel menepis tangan Vion yang berada di wajahnya, begitu juga dengan rangkulan Vion.


"Tidak, kau pulanglah. Besok aku akan menemui mu." ucap Hazel pada Vion


"Aku sangat lelah, mengertilah." ucap Hazel dengan penuh penekanan pada Vion.


Akhirnya Hazel berhasil membujuk Vion untuk segera pergi dari kediaman nya, Hazel langsung menuju kamar nya mencari Alyss karna ia tak menemukan Alyss dimanapun.


Namun saat Hazel membuka pintu kamar nya ia tak melihat Alyss sama sekali di sana.


Setelah Hazel datang Alyss langsung berbalik dan pergi ke kamarnya ia mengunci pintunya dengan rapat.


Entah mengapa dada nya terasa sesak saat wanita lain mengaku sebagai tunangan Hazel, ia bingung dengan perasaan nya sendiri, seharusnya ia senang kan? Karna jika Hazel akan segera menikah mungkin Hazel akan melepaskannya.


Tapi entah mengapa hal itu sama sekali tak membuatnya merasa senang, perasaan menjadi tak nyaman.


KLIK...KLIK..KLIK...


Alyss di kejutkan dengan suara pintu yang di paksa di buka dari luar.


"Alyss kau di dalam? Buka pintunya!" ucap Hazel dari luar.


Alyss tak menjawab ataupun membuka pintu untuk Hazel, ia hanya menatap ke arah pintu tersebut dengan pandangan kosong.


Merasa Alyss yang mengunci dari dalam dan sama sekali tak berniat membuka pintu tersebut, membuat Hazel mengambil kunci cadangan dan segera membuka pintu tersebut.


Cklek...


Hazel berhasil membuka pintu tersebut. Ia melihat Alyss yang menatap lurus ke arah nya dengan tanpa ekspresi.


"Sikap macam apa ini?! Kenapa tak membuka pintunya?" ucap Hazel kesal sembari berjalan mendekati Alyss.


"Sikap macam apa? Kau sedang bertanya padaku? Menurutmu aku harus seperti apa? Ha?" Alyss membalas Hazel dengan nada yang cukup tinggi.


"Kau memiliki tunangan? Lalu sekarang bisakah kau melepaskanku?" sambung Alyss lagi saat Hazel kini sudah berdiri di hadapan nya.


"Aku sudah pernah bilang jika aku tak akan melepaskan mu!" ucap Hazel dengan penuh penekanan.


Alyss hanya tersenyum getir mendengar ucapan Hazel.


"Lalu kau akan menikahinya, dan membuatku menjadi simpanan?" tanya Alyss lagi.


"Kau bukan simpanan, untuk saat ini ataupun untuk saat mendatang. Dan apa aku bilang aku akan menikahinya?" jawab Hazel dengan menatap lekat mata Alyss.


Ia melihat raut dan mata Alyss yang memancarkan aura kecemasan, kekesalan, dan sedikit amarah di baliknya.


"Lalu aku ini apa?! Apa kau hanya menja-" ucapan Alyss yang tiba-tiba terpotong saat Hazel menutup mulut Alyss dengan ciumannya.


Alyss langsung terbelalak dan berusaha sekuat tenaga mendorong dada Hazel, namun Hazel semakin menekan tengkuk Alyss untuk memperdalam ciuman dan semakin memojokkan tubuh Alyss hingga ke dinding.


Hazel tak peduli dengan dorongan tangan Alyss ia tetap saja m*l*m*t bibir Alyss dengan agresif.


"Hah.. hah..hah.." Alyss yang menarik nafas panjang saat Hazel melepaskan deep kiss nya.


"Kau cemburu?" tanya Hazel lirih seperti setengah berbisik pada Alyss.


"Ti-tidak!" jawab Alyss langsung memalingkan wajahnya ke samping.


Hazel hanya tersenyum melihat Alyss yang memalingkan wajahnya.


"Satu bulan, tidak berikan aku waktu 3 minggu aku akan memutuskan pertunangan ku dengan nya." ucap Hazel meyakinkan Alyss.


"Lalu bagaimana jika kau tak dapat melakukannya dalam waktu yang kau katakan barusan?" tanya Alyss dengan mengalihkan pandangan mata nya ke Hazel lagi.


"Aku yakin aku bisa melakukannya, dan aku berusaha untuk mempercepatnya lagi." ucap Hazel percaya diri.


"Jika kau tak bisa? Akankah kau melepaskan ku?" tanya Alyss lagi sembari menatap lekat wajah Hazel.


Ekspresi Hazel pun langsung berubah mendengar pertanyaan Alyss.


"Sudah ku bilang bahwa kau adal-"


"Bukankah kau percaya diri? Jika kau memang sangat yakin kenapa tak bisa mengiyakan pertanyaan ku." potong Alyss cepat pada Hazel.


Hazel pun menyeringai mendengar ucapan Alyss, tangan nya membelai pipi Alyss dengan lembut dan turun hingga ke leher putih tersebut.


Saat tangan Hazel sampai pada leher putih tersebut, tangan kekar tersebut langsung mencekik leher putih tersebut.


Alyss pun langsung terkejut saat tangan Hazel tiba-tiba mencekik leher nya dengan kuat, tangan kecil nya berusaha menyingkirkan tangan kekar Hazel di leher nya.


"Berapa kali harus ku ingatkan? Kau milikku. Tubuh mu, nafas mu, bahkan juga hidup mu, semua itu milikku." bisik Hazel di telinga Alyss sembari tangan nya terus mencekik leher Alyss.


Wajah Alyss mulai memerah karna aliran darah nya yang tersendat karna cekikan Hazel.


"Ukh le-lepas..." ucap Alyss kesusahan sembari memukul-mukul tangan Hazel.


Hazel hanya tersenyum melihat wajah Alyss yang hampir kehabisan nafas, ia pun kembali mencium Alyss dan melepaskan cekik kan nya perlahan dari leher Alyss.


Alyss yang masih belum bernafas dengan benar karna cekikan Hazel di tambah lagi dengan ciuman yang di berikan Hazel pada nya secara tiba-tiba, membuatnya benar-benar sesak dan tak bisa bernafas.


Merasa nafas Alyss yang sudah sangat tersendat membuat Hazel melepaskan ciuman nya dan langsung memeluk Alyss dan merapatkan Alyss ke dada bidang nya.


"Aku akan menyelesaikannya dengan secepat mungkin, aku pernah bilang bahwa aku hanya memiliki mu kan? Maka dari itu tak ada wanita yang pantas dengan ku kecuali kau." ucap Hazel lembut pada Alyss sembari terus merekatkan pelukannya, dan mengusap rambut belakang Alyss.