
Kediaman Rai.
Halaman yang luas dengan dekorasi yang indah menyejukkan mata, aroma rerumputan dan bunga beradu satu yang tercium masuk ke indra penciuman gadis itu.
Tenang...
Seperti akan ada badai besar yang menerpa nya setelah semua ketenangan ini.
Greb!
Clara tersentak saat ia merasakan seseorang mendekap nya dari belakang.
"Lihat apa? Kenapa tidak melihat ku saja?" bisik Louis lirih di telinga gadis itu.
"Halaman mu bagus...
Hanya lihat taman..." jawab Clara lirih sembari menghindar dari bisikan dan nafas hangat menyegarkan pria itu dari telinganya.
"Mau tinggal disini? Kau bisa disini dengan ku dan Louise!" ucap Louis semangat pada gadis itu sembari mengencangkan pelukan nya karna Clara berusaha melepaskan nya.
"Kau sangat menyayangi adik mu yah? Kalau kau tau menghargainya seharusnya kau tau menghargai orang lain..." ucap Clara lirih, mungkin bagi Louis ia hanya gadis biasa. Tapi ia tau bagi orang tua nya ia adalah gadis yang sangat berharga.
Clara bahkan tak bisa membayangkan apa reaksi orang tua nya saat ia di perlakukan seperti itu. Walaupun orang tua nya cenderung kaku dalam menyampaikan kasih sayang namun ia tau seberapa banyak kasih sayang yang di limpahkan pada nya.
"Sekarang kan aku juga menyayangi mu..." ucap Louis setelah sejenak memikirkan apa yang di katakan gadis itu.
"Kalau begitu perlakukan aku sedikit lebih baik, jangan memaksa sentuhan pada ku!" ucap Clara sembari berusaha melepaskan pelukan pria tampan itu yang sedang mendekap nya dari belakang.
"Iya...
Aku akan sedikit memperlakukan mu seperti Louise." jawab Louis, karna ia tau tak mungkin perlakukan dan rasa sayang nya bisa sama antara wanita yang ia sukai dengan adik nya.
"Kenapa sedikit?" tanya Clara dan malah membalik tubuh nya.
"Yah karna kalau aku memperlakukan mu seperti adik ku, aku tak bisa melakukan itu..." jawab Louis memberikan kode.
"Itu? Itu apa?" tanya Clara yang masih belum menyambung ke kode yang di berikan pria itu.
Louis pun tersenyum simpul dan mendekati telinga gadis itu.
"Yang di lakukan pria dan wanita saat malam di atas ranjang..." bisik Louis sembari sedikit mengembus di telinga gadis itu.
Clara berusaha memundur namun pria itu langsung menahan pinggang ramping nya.
"Me-memang nya kenapa? Kan bi-bisa hanya tidur kan?" ucap Clara terbata, ia berusaha menyanggah walaupun sudah tau maksud pria tampan itu.
Louis tersenyum simpul, satu tangan nya menahan pinggang gadis itu dan satu lagi menyentuh dan menangkup pipi merah itu karna gadis manis itu sudah merasa malu.
"Perlu ku perjelas lagi? Yang aku maksud...
Tidur di bawah selimut, membuat ranjang berderit, membuat bibir mu sedikit terbuka dengan suara lirih yang sangat indah..." ucap Louis dengan nada pelan namun dalam sembari sesekali menyentuh bibir bawah gadis itu dengan ibu jari nya.
Wajah Clara memerah merasa panas, ia langsung memalingkan wajah nya tak bisa menyembunyikan rasa malu karna mengerti maksud ucapan pria tampan itu.
Louis semakin tersenyum dan kembali berbisik pada gadis itu guna menggoda nya lagi.
"Dan membuat tubuh kita sama-sama basah..." sambung Louis lirih di telinga gadis itu dan mengecup nya serta menggigit kecil telinga gadis itu.
"Le-lepas! Mesum!" ucap Clara berusaha mendorong pria itu dan melepaskan rangkulan kuat di pinggang ramping nya.
Louis pun tersenyum simpul dan melepaskan gadis yang langsung pergi meninggalkan nya sembari menggerutu kesal dan jengkel sekaligus karna godaan nya yang sangat bersikap terbuka itu.
Clara berjalan dengan langkah tertatih karna kaki nya yang masih sakit namun berusaha berjalan senormal mungkin agar ia tak semakin lama tinggal dengan pria itu.
Pukul 08.45 PM
Louise mendekat ke kakak nya saat teman nya sedang melihat televisi dan berada jauh dari mereka.
"Sudah ada perkembangan?" tanya gadis itu lirih.
"Belum? Cara cepat biar dia suka ada tidak sih?" tanya Louis pada adik nya.
"Kau pikir seperti membeli jam tangan?!" ucap gadis itu kesal pada sang kakak.
"Kan cuma tanya! Oh iya...
Kau waktu itu pernah ikut kelas memasak kan? Sudah bisa memasak sekarang?" tanya Louis pada adik nya.
Louise pun sedikit terkejut dan berkilah mendengar pertanyaan sang kakak. Waktu sang ibu masih hidup, Alyss pernah membuat putri nya belajar memasak dari chef profesional karna ia takut nanti nya tak bisa mengajari putri kesayangan nya saat ia tiada.
Namun gadis cantik yang saat itu masih berusia 17 tahun selalu bolos dalam kelas memasak nya dan bahkan tak pernah hadir sama sekali ia mengancam dan meyuap chef tersebut agar mengatakan ia datanh pada ibunya, membuat nya tak tau apapun tentang membuat makanan.
"Su-sudah bisa..." jawab gadis itu lirih sembari membuang mata nya.
"Ajari! Clara suka nya yang bisa masak!" ucap Louis semangat pada adik nya.
"Sama chef lah! Jangan minta ajari aku!" ucap Louise pada kakak nya, ia saja pernah menghancurkan dapur orang lain hanya untuk satu jenis masakan yang entah apa namanya.
Ctak!
"Auch" ringis Louise sembari memegang dahi nya.
"Malas bicara dengan orang lain!" ucap Louis yang baru saja menjentik kening adik nya. Ia memang kurang suka berbicara dengan orang asing kecuali jika ada urusan.
"Kan sudah lama...
Aku lupa cara memasak nya..." jawab Louise beralasan.
"Lupa semua? Kau kan tidak bodoh? Atau jangan-jangan kau bolos yah?" tanya Louis menatap tajam ke arah adik nya.
"Ti-tidak kok! Besok ku ajarin!" sanggah Louise dan langsung pergi menghampiri Clara.
Aduh! Mati! Bisa kebakar lagi nanti dapur nya!
Batin gadis itu yang baru menyadari ucapan nya, namun jika ia bilang tidak bisa dan bolos sang kakak pasti akan terus meledek hal itu untuk membuat nya kesal.
......................
Dua Hari kemudian.
Mansion Dachinko.
Wajah cemberut dengan penuh kekesalan di dalam nya menatap ke arah pria yang dengan santai nya membuka satu persatu dokumen yang di berikan bawahan setia nya.
"Aku mau pulang! Kenapa sih suka bawa kesini? Membosankan!" ucap Louise dengan nada kesal.
Ia sangat ingat dua jam yang lalu masih di mall mewah dan berbelanja dengan riang lalu tiba-tiba bawahan James datang menyeret nya ke mansion pria yang penuh dengan pekerjaan berbahaya itu.
"Nanti tunggu sebentar lagi, setelah itu aku akan menemani mu bermain." jawab James sembari tersenyum dengan penuh arti tersebut.
"Main? Main apa?" tanya Louise semangat.
"Kau mau main apa?" jawab James sembari tetap mengalihkan pandangan mata nya ke arah dokumen di depan nya.
"Balap mobil! Louis sering balapan dulu! Tapi aku tak boleh!" ucap Louise dengan semangat.
Pria itu berhenti sejenak dan melihat wajah berbinar dan mata penuh semangat yang membakar di dalam nya.
"Tidak boleh! Bahaya!" jawab James cepat, mungkin dulu sebelum ia tau riwayat penyakit Louise ia akan langsung mengiyakan namun kini ia sudah tau semua tentang gadis itu.
"Ih! Menyebalkan!" decak Louise kesal, ia bingung biasanya pria itu akan menuruti kemauan nya namun kini mengapa sudah mirip seperti kakak dan sahabat nya?
"Main disini saja, jangan keluar." ucap James setelah melirik dan melihat wajah gadis itu yang semakin kesal.
Louise pun menyandarkan tubuh nya di sofa dan menarik nafas dengan malas hingga ia mengingat undangan teman nya yang membuka cafe baru hari ini.
"Kalau pergi ke cafe teman ku mau? Mau yah..." bujuk nya dengan mengeluarkan wajah menggemaskan nya.
James melihat sebentar dan mengalihkan pandangan mata nya kembali ke data yang di berikan Nick.
"Hari ini aku masih sibuk, nanti saja kita pergi." jawab James datar.
"Lalu kenapa membawa ku kesini kalau sibuk?!" tanya Louise kesal, ia di bawa secara paksa dan hanya di suruh duduk menemani pria itu meninjau data dari pekerjaan nya.
"Karna aku merindukan mu." jawab James datar dan singkat dengan frontal.
Louise mendesah tak percaya, pria itu mengatakan kata romantis dengan wajah dingin dan datar pada nya.
"Menyebalkan! Nanti aku pergi dengan Zayn saja!" ucap Louise kesal pada James.
James pun menutup dokumen nya dan memberikan nya pada Nick, ia pun memerintah bawahan nya untuk keluar dan menghampiri gadis yang duduk di sofa depan dirinya.
"Ukh!" ringis Louise terkejut saat pria mafia itu tiba-tiba mencengkram kuat rahang nya.
"Kalau kau hanya berteman bersikap lah seperti teman dengan nya! Jangan bersikap seperti wanita yang mau dengan semua pria!" ucap James kesal karna selalu mendengar nama pria lain dari bibir gadis itu.
Louise pun berusaha melepaskan cengkraman rahang kecil nya dari tangan kekar James.
"Aku tidak mau dengan semua pria! Aku kan mau dengan nya saja! Bukan dengan mu!" ucap Louise kesal dan semakin membuat James bergemuruh panas mendengar nya.
"Dengan kata lain kau lebih memilih nya dibandingkan aku?!" tanya James semakin mencengkram rahang kecil itu membuat Louise semakin sulit bernafas.
"Uhuk! Le-lepas..." rintih gadis itu karna begitu kuat nya cengkraman tangan yang membuat nafas nya terhenti dan tak mendapatkan oksigen.
James pun berdecak kesal dan melepaskan cengkraman tangan nya di leher di gadis itu, ia merasa tak suka begitu mendengar gadis nya yang terus mengatakan nama pria lain.
"Ayo, kau bilang mau ke cafe teman mu kan?" tanya James sembari melangkah keluar dari ruang kerja nya.
Louise pun yang masih mengambil nafas dengan dalam sembari memegang rahang nya yang memerah dan hampir membiru karna pria tampan itu mencengkram dan mencekik nya melihat pria yang mengatakan tak mau pergi namun sedang mengajak nya saat ini.
"Kenapa masih belum bangun?! Kau mau pergi dengan teman kesayangan mu?!" sindir James dengan nada tak suka.
"Dasar gila!" umpat Louise kesal dan mulai mengikuti langkah pria itu.
Setelah masuk kedalam mobil James melirik sejenak ke arah rahang gadis cantik itu, ia mengambil salep dan mendekati Louise yang duduk di samping bangku pengemudi.
"Mau apa?!" tanya Louise was-was saat melihat tangan pria itu mendekati leher nya.
"Obat! Sudah diam saja! Cerewet!" ucap James sembari mengolesi salep tersebut ke bagian yang memar.
"Aku tidak cerewet!" sanggah Louise lagi.
James hanya melihat dan menarik nafas panjang mendengar keluhan gadis cantik itu.
"Sudah selesai..." ucap James sembari menarik sabuk pengaman dan memakai kan nya.
Louise sempat terkejut lagi saat wajah pria itu berjarak beberapa senti dari wajah nya dan secara refleks memejamkan mata nya.
"Kenapa? Mau aku mencium mu?" tanya James dengan senyuman simpul nya sembari menyentuhkan hidung mancung nya ke hidung mancung gadis itu guna menggoda nya.
"Si-siapa yang mau ciu-
Hummpphh..." ucapan nya yang langsung terpotong saat pria itu tiba-tiba mel*mat bibir nya.
Louise memejam secara sponta dan entah kenapa membiarkan pria itu memainkan bibir nya, tangan nya memegang erat ke sabuk pengaman yang di pasangkan padanya sebelum nya.
Setelah beberapa saat mengigit dan mel*mat bibir gadis itu James melepaskan ciuman nya dan menatap wajah merah gadis di depan nya karna kehabisan nafas.
"Sudah ku cium kan?" tanya James dengan senyum menggoda gadis itu yang masih terengah-engah mengambil nafas dan kembali duduk di banku kemudi nya.
"Si-siapa yang mau di cium!" ucap Louise kesal sembari membuang wajah nya ke jendela.
"Tadi kau seperti nya menyukai nya, juga tidak menolak ciuman barusan..." jawab James tertawa kecil sembari terus menggoda gadis itu dan melajukan mobil nya.
"Kan aku terkejut tadi!" sanggah Louise "Kau juga belum minta maaf karna tadi hampir mencekik ku!" sambung nya lagi mengalihkan pembicaraan.
"Aku tak salah sama sekali, kalau kau tak membuat ku kesal aku tak akan menyakiti mu." jawab James pada gadis itu tanpa merasa adanya rasa bersalah sedikit pun.
"Aku buat kesal dari mana? Aku tak lakukan apapun yang membuat mu kesal!" ucap Louise yang tak menyadari jika pria itu tak suka ia menyebut nama sahabat nya.
"Kesal yah kesal!" decak James yang tak mau mengatakan di mana letak rasa kesal nya.
......................
Cafe.
"Louise!" panggil Vanya yang langsung mengarah pada teman nya.
"Unch! Putri onar kita datang juga..." ucap gadis itu sembari mencubit dan memainkan pipi Louise.
Mereka kenal saat berkuliah di luar negri, satu universitas namun beda jurusan, dan yang membuat cukup dekat karna berasal dari kota yang sama.
"Ih Vanya!" ucap Louise kesal sedangkan teman wanita nya itu tertawa dengan senang.
"Eh? Siapa tuh? Pacar baru lagi yah?" ucap Vanya sedikit berbisik menggoda Louise.
"Hm..." jawab Louise sembari melirik malas ke arah pria yang berdiri dengan wajah datar dan dingin di sebelah nya.
"Aduh putri onar kita selalu dapat yang tampan yah...
Kenalin satu dong Louise yang tampan juga, buat aku..." ucap Vanya sembari memeluk gadis itu dengan gemas.
"Bukan nya kau punya pacar yah?" tanya Louise pada gadis yang berwajah cantik menggemaskan itu.
"Sudah putus, barusan." jawab Vanya dengan wajah cerah tak sedih sama sekali.
Gadis itu juga sama seperti Louise yang hanya berpacaran untuk kesenangan dan tak ingin melibatkan perasaan.
Drrtt...drrtt ...drttt...
Ponsel Vanya bergetar dan membuat nya melepaskan pelukan dari teman lama nya.
"Kalian duduk dulu yah, aku mau angkat telpon." ucap Vanya setelah mempersilahkan Louise dan James untuk duduk.
Louise melihat sekeliling ke arah cafe yang bergaya elegan namun terlihat santai dan terlihat sangat cocok untuk di gemari para anak muda ataupun keluarga yang ingin bersantai.
"Kau kenal dengan nya cukup dekat?" tanya James saat mata gadis itu mengarah ke alat musik dan tempat bernyanyi yang di pergunakan untuk band yang akan tampil di cafe tersebut.
"Louise?" panggil James lagi pada gadis itu.
"Eh? Iya?" jawab Louise saat mendengar panggilan dari pria yang masih menjadi kekasih nya.
Nanti kalau ada Zayn nyanyi disini deh! udah lama tidak nyanyi di cafe.
batin Louise saat melihat podium tersebut, ia ingat dulu sering menemani teman nya bernyanyi di cafe karna Zayn yang sedang dalam masa puber nya ingin berkerja part time agar tak memakai uang ayah nya terus menerus.
"Julukan mu benar-benar cocok yah...
Princess troublemakers..." ucap James menggoda gadis itu setelah dari lamunan nya.
"Bukan! Aku itu good gir-"
"Louise! Gawat!" ucapan gadis cantik itu yang langsung terpotong saat Vanya datang mendekat ke arah nya.
"Gawat kenapa?" tanya Louise langsung.
"Penyanyi yang harus nya datang malah kecelakaan..." jawab Vanya lesu dan menatap penuh harap ke arah Louise.
Ia tau gadis itu hampir sempurna di bidang aspek termasuk musik, memiliki suara yang bagus dengan keahlian bermain biola dan alat musik lain nya seperti gitar dan piano.
"Yasudah kalau begitu tak usah tampilkan dulu." ucap Louise yang sama sekali tak peka sedikitpun.
"Jangan dong! Ini kan pembukaan pertama cafe ku, dan lagi keunggulan nya yah penyanyi yang mau di tampilkan..." jawab Vanya
"Kau yang nyanyi yah...
Bantu teman mu sekali saja..." sambung gadis itu pada Louise.
"Aku? Kau yakin aku? Aku kan tak begitu terkenal!" ucap Louise karna ia tau penyanyi yang di sewa teman nya sebelum nya adalah penyanyi yang sedang populer.
"Tak cukup populer?! Kau tak lihat jumlah pengikut mu di media sosial? Dan lagi yang berada di sini juga banyak yang melihat mu kan?!" tanya Vanya yang tak habis pikir mendengar ucapan Louise.
Siapapun yang aktif di media sosial pasti mengenal putri bungsu perusahaan ternama itu yang cukup populer karna kecantikan nya dan bakat alami yang di miliki nya apalagi basic nya yang menjadi pemain biola terkenal.
Membuat Louise sangat terkenal di media sosial. Sudah banyak pasang mata yang melihat ke arah nya dan ingin mendekat untuk meminta berfoto bersama namun tak berani karna pria yang beraura membunuh di sebelah gadis itu.
"Iya deh...
Aku ajak teman ku yah?" ucap Louise dan berniat menelpon Zayn.
James pun yang sensitif mendengar kata teman langsung mencekal tangan gadis itu.
"Apa perlu teman? Kau tak bisa sendiri?!" tanya James tak suka.
"Iya! Perlu! Kalau sendiri itu kurang seru!" ucap Louise sembari melepaskan tangan James dan berniat menelpon Zayn lagi.
"Dengan ku saja!" ucap nya impulsif tanpa sadar agar mencegah gadis itu memanggil teman nya.
"Kau bisa bernyanyi?" tanya Louise tak yakin.
"Kau terlalu meremehkan!" jawab James pada gadis itu.
"Tenang...
Tidak terlalu bagus juga tak apa-apa, lagi pula kau naik kesana saja sudah bagus..." ucap Vanya pada Louise, karna ia tau popularitas teman nya sudah cukup untuk mengganti penyanyi asli yang tak bisa hadir.
"Yasudah! Ayo!" ucap Louise yang sedetik kemudian tersenyum dan meraih tangan James membawa nya ke arah tempat bernyanyi.
Suara tepuk tangan menyambut saat kedua orang yang memiliki wajah dewa dewi itu naik ke podium.
"Mau bernyanyi lagu apa?" tanya James saat duduk dan mengatur mic nya begitu juga dengan Louise.
"Almost is never enough." jawab Louise singkat.
James terdiam sejenak dan melihat gadis itu.
"Itu lagu untuk pasangan yang berpisah kan?" tanya James namun tetap setuju.
"Tapi juga tentang penyesalan nya kan? Lagi pula itu cocok untuk suasana mendekati seperti ini, butuh lagu yang terlihat sedikit menghanyutkan." ucap Louise pada pria itu.
Alunan musik lembut mulai bermain di dan membuat gadis itu perlahan bernyanyi.
Almost is never enough
( original song by Ariana Grande ft Nathan Sykes)
Louise part
I'd like to say we gave it a try
I'd like to blame it all on life
Kuingin katakan kita telah mencobanya
Kuingin salahkan semua ini pada hidup
Maybe we just weren't right
But that's a lie
That's a lie
Mungkin kita memang tidak cocok
Tapi itu dusta
Itu dusta belaka
And we can deny it as much as we want
But in time our feelings will show
Dan kita bisa menyangkalnya semau kita
Tapi waktu kan tunjukkan perasaan kita
Cause sooner or later. We'll wonder why we gave up. But truth is everyone knows
Karena cepat atau lambat. Kita kan bertanya-tanya mengapa dulu kita menyerah Tapi kenyataannya, semua orang tahu
Oh, almost, almost is never enough
So close to being in love
Oh, hampir, hampir tidaklah cukup
Begitu nyaris jatuh cinta
If I would have known that you wanted me
The way I wanted you
Andai kutahu kau dulu inginkanku
Seperti pula aku menginginkanmu
Maybe we wouldn't be two world apart
But right here in each others arms
Mungkin kita takkan berpisah
Tapi di sini saling berpelukan
Well we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough
Kita hampir, kita hampir tahu apa itu cinta
Tapi hampir tidaklah cukup
James part.
If I could change the world overnight
There'd be no such thing as goodbye
Andai bisa kuubah dunia dalam semalam
Takkan ada yang namanya perpisahan
You'll be standing right where you were
And we'd get the chance we deserve
Kau masih kan berdiri di tempatmu dulu
Dan kita kan dapatkan kesempatan yang seharusnya
Try to deny it as much as you want
But in time our feelings will show
Cobalah kau sangkal semaumu
Tapi waktu kan tunjukkan perasaan kita
Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
Karena cepat atau lambat
Kita kan bertanya-tanya mengapa dulu kita menyerah
The truth is everyone knows
Kenyataannya, semua orang tahu
Louise ft James part
Oh, almost, almost is never enough
So close to being in love
Oh, hampir, hampir tidaklah cukup
Begitu nyaris jatuh cinta
If I would have known that you wanted me
The way I wanted you
Andai kutahu kau dulu inginkanku
Seperti pula aku menginginkanmu
Maybe we wouldn't be two world apart
But right here in each others arms
Mungkin kita takkan berpisah
Tapi di sini saling berpelukan
Well we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough
Kita hampir, kita hampir tahu apa itu cinta
Tapi hampir tidaklah cukup
Oh, oh baby, you know, you know baby
Almost, is never enough baby
You know....
Suara yang beradu menjadi satu membuat seluruh penonton terpaku beberapa saat.
Sesekali terlihat senyum di wajah pria dingin ketika melihat gadis yang bernyanyi dengan nya.
James sendiri juga dulu pernag bernyanyi di cafe dan menggeluti semua pekerjaan paruh waktu sebelum ia sampai di posisi nya saat ini.
Perjalanan hidup yang jatuh bangun dan harus tau bagaimana caranya bangkit dengan kaki sendiri membuat nya mengikis semua nurani dan melupakan nya bersama dengan nama yang sudah ia anggap mati.
Xavier Haider Dachinko
Nama yang ikut terkubur dengan semua sifat lembut dan naif nya pada dunia kejam yang membentuk nya menjadi iblis.
Setelah alunan musik berhenti suara tepukan tangan menyambut kedua nya, senyum Vanya merekah melihat begaimana pengunjung nya senang di hari pertama ia membuka cafe nya.
James melirik sekilas ke arah gadis yang tersenyum dengan cerah di samping nya.
Gadis yang sangat mudah tertawa, menangis dan kesal. Lebih mengekspresikan hidup nya dan membuat nya menjadi lebih berwarna.
*Ku harap kita tak memiliki sesuatu yang akan membuat kita menjadi asing nanti nya.
Ternyata aku lebih menginginkan mu dari yang selama ini ku bayangkan*...
Perlahan tangan pria itu meraih tangan Louise yang duduk di sebelah nya dan tersenyum ke arah nya.
Deg...
Louise terdiam sejenak melihat senyuman yang tak pernah ia lihat sebelum nya dari pria yang memiliki wajah dingin itu.
Senyuman yang seperti datang dari diri dan sisi yang lain. Sisi yang belum ia kenal dan ia lihat sebelum nya.
Louise pun kembali membalas genggaman tangan pria itu di jemari mungil nya dan tersenyum dengan manis.
...****************...
Kalau yang belum tau lagu nya bisa search di spotify atau youtube yah👌👌👌
Lagu nya udah lama tapi feel nya kyak begitu dapat untuk pasangan yang tidak mengetahui isi hati masing-masing wkkw😂