
Setelah makan bersama Alyss, Hazel langsung mengambil salep untuk mengobati luka di bibir Alyss, ia mengoleskan salep tersebut dengan lembut dan perlahan.
Alyss hanya diam melihat Hazel yang sedang mengobatinya.
"Sudah selesai." ucap Hazel setelah mengoleskan obat tersebut.
Alyss masih diam mematung melihat Hazel.
Hazel yang sedari tadi melihat Alyss yang hanya diam pun mengelus rambut Alyss perlahan dan memainkannya dengan menggulung-gulung rambut tersebut.
"Aku tak akan membiarkan mu pergi lagi." ucap Hazel sembari menyelipkan rambut di telinga Alyss.
"Kau ingin mengurung ku terus?" tanya Alyss dengan mengerutkan dahinya.
"Ya tentu saja, aku akan penuhi semua keinginan mu, tapi kau tak boleh pergi dari sini." ucap Hazel tersenyum sembari menatap Alyss.
"Memenuhi keinginan ku? Kau tau apa yang benar-benar ku inginkan?" tanya Alyss begitu mendengar kata "Penuhi semua keinginan" dari Hazel.
Karena baginya Hazel tak akan dapat memenuhi apa yang ia ingin kan. Karena keinginan nya terbesarnya adalah sebuah Kebebasan.
"Sekarang aku ini apa? Pelayan? Pacar? Atau wanita simpanan? Dan apa aku harus memanggil mu "Tuan" lagi?" sambung Alyss lagi dan bertanya dengan wajah bingung pada Hazel.
"Apa yang kau inginkan? Tas? Perhiasan? aku bisa berikan apapun. Dan Kau sekarang adalah milik ku. Mungkin pacar atau wanita ku? Terserahlah kau ingin menyebutnya apa. Dan untuk panggilan aku ingin mengganti panggilan mu untuk ku." jawab Hazel enteng.
"Mengganti nya dengan apa?" jawab Alyss.
"Sayang?" jawab Hazel yang awal nya memincingkan mata dan lalu menatap Alyss.
"Hah? Menggelikan!" ucap Alyss tanpa sadar mengatakan apa yang ada dipikiran nya.
"Dia ingin aku memanggilnya sayang ? Terjebak dengan nya saja sudah menjadi ironi dalam hidup ku." ucap Alyss dalam hati.
"Apa yang kau katakan barusan?" tanya Hazel dengan tatapan tajam pada Alyss.
"Eh? Emm maksudku, aku tak terlalu menyukai panggilan seperti itu." jawab Alyss sembari memutar bola mata nya ke atas mencari alasan.
Ia tak mau di pukul lagi, baru saja Hazel selesai mengobatinya.
"Lalu? Kau ingin memanggil ku apa? Baby? Honey? Sweety? My luv?" tanya Hazel lagi sembari melontarkan semua panggilan yang ingin dia gunakan.
"Apa ini ? Kenapa dia menyuruh ku memanggil begitu. Benar-benar menggelikan. Apa dia orang yang sama dengan orang yang menyiksa ku kemarin ?" pikir Alyss yang bingung dengan ucapan yang dilontarkan Hazel.
"Ehmm, Bagaimana jika aku memanggil namamu saja?" ucap Alyss sembari tersenyum yang sedikit di paksakan.
"Bukankah kau lebih muda dari ku?" jawab Hazel dingin.
"Hmm, kupikir perbedaan umur kita tak terlalu jauh." jawab Alyss dengan wajah yang seperti menebak umur Hazel.
"Memang tak terlalu jauh, hanya 6 tahun." Jawab Hazel dengan menaikkan bahu nya.
"Eh?! Kalau gitu ku panggil kak Hazel?" Alyss mengusulkan lagi.
"Aku bukan kakak mu." jawab Hazel ketus.
"Dasar pria sialan ! Aku ingin memanggil mu psyco gila saja." ucap Alyss dalam hati dan tentunya ia takkan mengatakan hal tersebut secara langsung.
"Sudahlah, pikirkan sendiri. Jika aku tak suka panggilan yang kau berikan nanti, aku akan menghukum mu!" ucap Hazel yang bangkit dari duduk nya.
"Ha-Hazel?" Panggil Alyss terbata ketika Hazel beranjak ingin pergi.
Deg...
"Hanya memanggil namaku tak terlalu buruk, jika dia yang memanggilku." pikir Hazel ketika mendengar Alyss memanggil namanya.
"Apa?" jawab Hazel dingin sembari menoleh ke belakang.
"Eh? Kau tak marah?" ucap Alyss ketika melihat Hazel berbalik.
"Untuk sementara ini tak apa jika memanggil ku begitu." jawab Hazel.
"Hmm, Baik..." ucap Alyss sembari mengangguk-anggukan kecil kepalanya.
"Bulbul? Kucing jelek itu?" jawab Hazel sembari memutar ingatannya tentang Bulbul.
Flasback...
Hazel yang masih membiarkan Alyss kabur darinya, dan belum menjemput Alyss kembali sedang duduk di dekat jendela rumahnya. Ditemani dengan secangkir teh.
Miaw..Miaw..Miaw...
Bulbul datang dan mengeong pada Hazel. Hewan yang bertubuh gempal yang di penuhi oleh bulu itu langsung mengelus-ngeluskan kepala nya di kaki Hazel.
"Aishh kucing sialan ini. Huss..Huss..." ucap Hazel ketika merasakan geli di kakinya yang disebabkan oleh Bulbul.
Hazel menendang kucing tersebut agar menjauh dari nya.
Miaw..Miaw..
Bulbul kembali mengeong dan terus menatap Hazel dengan mata bulatnya yang berwarna biru.
"Apa? Kau melihat ku? Kau sedang mencari tuan mu? Tuan mu sudah pergi! Dia juga meninggalkan mu!" ucap Hazel sembari melampiaskan amarah nya pada seekor kucing yang tak mengerti apa-apa.
"Pergi! Atau aku akan mencincang mu!" ucap Hazel lagi.
Bulbul hanya melihat Hazel dan melingkarkan tubuh nya di kaki Hazel. Hazel pun menjadi geram dan menendang kuat kucing imut tersebut.
MIAW...
Bulbul mengeong dengan keras ketika Hazel menendangnya.
Melihat kucing tersebut membuat Hazel semakin teringat pada Alyss, dan tentunya hal tersebut semakin membuat suasana hati Hazel semakin kacau.
Hazel pun mengangkat pundak kucing itu dan hendak mencincang nya. Namun saat Hazel mengangkat pisau miliknya, ia teringat wajah Alyss yang selalu menampilkan senyuman ketika bermain-main dengan kucing tersebut.
Hazel menjadi bingung, satu-satunya kenangan yang paling banyak mengenai Alyss ada pada kucing tersebut.
Akhirnya Hazel melempar kucing tersebut dan menyuruh pengawalnya untuk merawat kucing tersebut di halaman belakang, dan tak boleh sampai terlihat oleh nya.
Flassback off
"Kau ingin tau kabar kucing jelek mu itu?" tanya Hazel ketika sudah menemukan ingatan tentang Bulbul.
Alyss hanya menjawab Hazel dengan anggukan di kepalanya.
"Sudah mati." ucap Hazel enteng, ia ingin mempermainkan Alyss dengan mengatakan hal tersebut.
Mendengar hal tersebut langsung membuat wajah Alyss menjadi murung. Melihat hal tersebut Hazel langsung..
Cup...
Hazel mendaratkan satu kecupan ringan di bibir Alyss.
"Dia akan benar-benar mati jika kau meninggalkannya sekali lagi." ucap Hazel setelah mencium bibir Alyss.
Alyss yang masih terkejut dengan kecupan mendadak Hazel, masih belum memproses ucapan Hazel barusan.
"Eh? Apa? Berarti Bulbul masih hidup?" tanya Alyss lagi yang masih ingin membenarkan apa yang ia pikirkan.
"Ya. Cari dia di halaman belakang dan tanyakan pada pengawal atau pelayan." jawab Hazel pada Alyss
"Oh ya..
Mulai malam ini kau kembali tidur dengan ku.
Kau paham?
Bukan menemani tidur tetapi tidur dengan ku." Sambung Hazel lagi yang penuh penekanan pada Alyss sebelum meninggalkan Alyss.
"Eh? Apa maksud perkataannya?" ucap Alyss lirih begitu mendengar perkataan Hazel barusan padanya.