(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Dark side



Ruangan hitam seperti tak berujung, terasa sangat sunyi seakan-akan kesunyian dapat menelan dirinya.


"Aku dimana?" ucap Alyss dengan penuh tanda tanya dan melihat ke sekeliling nya yang hanya berwarna hitam.


"Aku mau keluar! Aku takut..." ucap Alyss lirih dengan wajah yang mulai panik.


Ruangan hitam tak berujung itu mulai mengacaukan nya, memutar gumpalan benang kusut dikepala. Memperlihatkan memori asing yang tak pernah ia ketahui.


"Sakit? Aku bisa membantu mu...


Seperti 18 tahun yang lalu...." Suara yang sama seperti sebelumnya mulai terdengar lagi.


Alyss memegang kepalanya dan bahkan cenderung meremas rambut nya dengan kedua tangan kecilnya.


"Jika kau jadi anak nakal, kau akan hidup dalam kegelapan."


"Kau ingin pulang? Lakukan perintah ku setelah itu aku akan melepaskan mu."


"Bunuh dia!!!"


"Bersikaplah yang baik! Atau kau bukan putriku!"


"Kau itu sangat mirip dengan ku!"


Berbagai suara asing mulai memenuhi telinga dan pikiran nya, Alyss semakin merintih ia tak tahan dengan suara dan memori yang berputar di kepalanya seperti pecahan puzzle yang telah rusak dan terurai.


"BERHENTI!!! KU MOHON!!!" teriak nya dengan suara yang sekencang-kencang nya.


"Kalau kau tidak tahan, kau bisa membiarkan ku keluar, aku akan membuat mu terbebas." suara yang tak asing itu mulai berbicara padanya lagi.


"Siapa kau?" tanya Alyss dengan was-was.


"Bagian tergelap dari dirimu." jawab suara itu dan perlahan mulai memasuki dirinya.


"Tidak! Aku tak mau! Aku...


Aku tidak jahat!!!" teriak Alyss


......................


JBS Hospital.


"150 joule!" ucap salah satu dokter yang berusaha mengembalikan detak jantung Alyss dengan defribrilator.


Para dokter dan tenaga medis yang lain sibuk memberi perawatan pada Alyss sejak ia sampai di JBS.


Hazel hanya terdiam, jantung nya berdebar sangat kencang, ia sangat takut dengan apa yang akan terjadi pada Alyss.


Wajah pucat dengan darah yang terus mengalir dari dirinya, detak jantung dan tekanan darah yang semakin melemah.


"Kenapa jadi begini? Seharusnya semua baik-baik saja kan?" ucap Hazel dengan suara bergetar.


Ini semua terasa seperti badai yang datang di hari cerah, terlalu tiba-tiba. Bahkan pagi tadi ia masih menggoda Alyss dan saat ini ia hanya bisa berdiri melihat wanita yang ia cintai sedang berdiri diantara hidup dan mati.


"Pak, mari ikut. Kami akan mengobati luka di bahu anda." ucap salah satu dokter ketika melihat presdir rumah sakit nya yang seperti orang linglung dengan luka terbuka di bahu nya akibat pelesetan peluru Will saat ia melindungi Alyss.


"Tidak! Aku baik-baik saja! Lebih baik kau menyelamatkan nya lebih dulu!" ucap Hazel pada dokter tersebut. Ia sama sekali tak merasakan luka di bahunya, yang ia rasakan saat ini hanyalah kecemasan dan kekhawatiran.


Salah satu dokter yang merawat Alyss mendatangi Hazel.


"Pak sepertinya ada yang perlu saya tunjukkan." ucap dokter tersebut.


Ia pun menunjukkan hasil scan MRI Alyss pada Hazel.


"Retakan di kepala meluas dan mengenai sistem syaraf pendengaran dr. Alyss, sebelum nya saya sudah pernah mengatakan bahwa dr. Alyss tak bisa mendapat benturan di kepala lagi karna kecelakaan yang sebelum nya. Maka dari itu kemungkinan besar dr. Alyss tak akan bisa mendengar ketika ia bangun." terang dokter yang sebelumnya juga pernah merawat Alyss saat Alyss mendapatkan luka saat di culik sebelumnya.


"Dia tak akan bisa mendengar selamanya?" tanya Hazel dengan berusaha tetap tenang.


"Jika dia menjalani terapi dan pengobatan mungkin bisa mengembalikan pendengaran nya lagi, tetapi itu juga bukanlah hal pasti karna kemungkinan terbesar dr. Alyss tak akan bisa mendengar lagi kecuali dengan alat bantu." terang si dokter.


"Kalau kau tak bisa membuat nya mendengar lagi, aku juga akan menghancurkan telinga mu!" ucap Hazel dengan nada mengancam dan menatap tajam pada dokter tersebut.


Dokter itu pun menelan saliva nya dengan kasar mendengar ancaman Hazel.


"Dan kami juga ingin memberitau tentang masalah luka tusukan di perut dr. Alyss." ucap dokter tersebut, walaupun ia takut dengan ancaman Hazel, namun ia masih berusaha bersikap profesional sebagai seorang dokter.


"Ada apa dengan luka nya?" tanya Hazel dengan hati yang was-was.


"Pisau tersebut mengenai rahim dr. Alyss, walaupun terkena sangat sedikit ini mungkin akan menyebabkan dr. Alyss sulit untuk mengandung dan jika ia mengandung kemungkinan besar resiko keguguran akan sangat tinggi." jelas dokter tersebut.


Hazel memejamkan mata nya sesaat, ia menarik nafas panjang, dan membuka kembali mata nya.


"Cara mengatasi nya? Jika tau memiliki cara mengatasi hal ini dengan benar, aku akan mengubur semua anak yang kau miliki agar tak memilki keturunan juga!" ancam Hazel, pikiran nya sudah mulai terasa semakin kacau.


9 jam kemudian.


Alyss sudah selesai dioperasi dan di pindahkan ke ruangan. Operasi nya melibatkan dokter bedah umum, kandungan, dan juga syaraf.


Sekarang kondisinya sudah terkendali dan tak sekritis sebelumnya.


Hazel duduk di samping tubuh Alyss yang masih tak sadar, ia menggenggam jemari Alyss perlahan, memperhatikan wajah pucat yang penuh dengan memar itu.


Nafas yang di beri tabung oksigen, dan detak suara monitor detak jantung nya yang terdengar sangat jelas di ruangan besar dan sunyi itu.


"Maaf....


Jika aku datang lebih cepat, kau tak akan seperti ini...." ucap Hazel lirih sembari mencium telapak tangan Alyss yang pucat.


......................


Satu minggu kemudian.


Alyss mulai membuka mata perlahan, pandangan nya masih sangat kabur, ia berusaha melihat sekeliling ruangan tersebut, karna mata nya yang masih sangat berat dan sulit untuk di buka ia menutup kembali matanya.


Tak ada yang sadar jika Alyss sempat terbangun, karna saat itu Hazel yang selalu menemani Alyss dengan mandi dan membersihkan dirinya.


"Kau masih belum bangun? Mereka bilang kau akan segera bangun...." ucap Hazel lirih sembari menyentuh wajah Alyss perlahan. Ia masih mengenakan piyama mandi nya dan mendatangi Alyss lagi setelah ia selesai mandi.


Ke esokkan paginya.


Kesadaran Alyss semakin jelas, ia kembali membuka matanya perlahan, kali ini tak seperti sebelumnya yang kelopak matanya terasa sangat berat, ia bisa mengembalikan kesadaran nya perlahan.


"Alyss? Kau sudah bangun?" tanya Hazel yang melihat Alyss membuka matanya.


Alyss melihat ke arah Hazel sekilas, bibir seperti berucap namun dengan suara yang sangat pelan dan hampir tak terdengar.


"Apa yang kau katakan? Kenapa kau bicara tanpa suara?" tanya Alyss


"Kau tak bisa mendengarku?" tanya Hazel lagi.


"Hrmmm... Erhmm..." Alyss berusaha berdehem dan menghasilkan suara dari tenggorokannya.


"Kenapa aku tak mengeluarkan suara?" tanya Alyss sembari memegang leher nya. Ia bahkan tak bisa mendengar suaranya sendiri.


"Bisa bantu aku bangun?" tanya Alyss.


Hazel pun langsung membantu Alyss bangun dan duduk di ranjang nya, ia menaikkan ranjang nya agar Alyss lebih nyaman.


"Seperti nya aku pernah bertemu dengan mu...


Ahhh iya...


Kau meninggalkan ku dulu. Lalu kenapa kau sekarang disini? Hm?" tanya Alyss sembari melihat lekat wajah Hazel.


Hazel semakin bingung melihat sikap dan ucapan Alyss, ia memperhatikan mata Alyss yang terlihat sangat berbeda, tak seperti Alyss yang ia kenal sebelum nya.


Mata yang penuh dengan keberanian dan kepercayaan diri yang penuh, tak ada ketakutan sama sekali yang tergambar di mata tersebut.


"Alyss? Kapan aku pernah meninggalkan mu?" tanya Hazel.


"Ssstttt..." ucap Alyss dan menutup bibir Hazel dengan satu telunjuk nya.


"Tak usah bersuara, lagi pula aku tak akan bisa mendengar mu, bahkan suara ku sekarang aku tak bisa dengar." ucap Alyss enteng.


"Kau semakin tampan...


Tapi tiap kali aku bertemu dengan mu, aku selalu hampir menemui malaikat maut...


Takdir yang menyedihkan...." ucap Alyss sembari mulai mengelus wajah Hazel.


Hazel semakin bingung dengan ucapan Alyss, ia tak mengerti apa yang di maksud oleh Alyss.


Alyss menatap dan memperhatikan wajah dengan ekspresi datar dan bahkan cenderung tak berekspresi.


"Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Hazel sembari menggenggam halus tangan Alyss yang sedang mengelus wajahnya.


"Aku....


AKKHHH!!!!" Alyss yang belum menyelesaikan ucapan nya tiba-tiba meringis kesakitan sembari memegangi kepala nya.


"Sakit...." rintih Alyss


Hazel menjadi panik dan langsung memanggil dokter melalui tombol yang tak jauh dari ranjang pasien Alyss.


"Alyss kau baik-baik saja?!" ucap Hazel yang mulai takut dan memeluk Alyss.


Tubuh Alyss perlahan lemas, dan tak sadarkan diri lagi. Para dokter yang datang pun segera memeriksa kondisi Alyss.


......................


Hazel kembali melakukan pekerjaan di ruangan nya, namun ia tak bisa benar-benar bekerja dengan baik, pikiran masih dipenuhi dengan Alyss.


Ia berusaha memikirkan ucapan Alyss yang mengatakan jika ia pernah meninggalkan nya, Ia sendiri bahkan tak pernah ingat dan tak pernah berfikir untuk meninggalkan Alyss.


Tapi kenapa Alyss mengatakan hal seperti itu tadi pagi? Dan kenapa sikap nya sangat aneh, dan bahkan ia sendiri seperti sedang berbicara dengan orang lain saat itu.


Setelah pekerjaan selesai ia pun segera kembali melihat Alyss.


"Hey...


Bangun lah dan katakan maksud mu tadi pagi? Aku tak pernah meninggalkan mu, bahkan tak ingin memikirkan hal itu..." ucap Hazel sembari mengelus wajah Alyss perlahan.


Pukul 12.35 AM.


Mata Alyss mulai bergerak begitu pula dengan tubuhnya yang mulai bergerak dengan gelisah ia seperti sedang terusik dengan sesuatu. Hazel langsung terbangun setiap ia merasakan adanya pergerakan dari Alyss, seperti tubuhnya memasang alarm alami yang akan membuat nya terbangun ketika Alyss bergerak.


"Alyss kau baik-baik saja? Alyss!" panggil Hazel ketika melihat Alyss semakin gelisah.


Alyss pun sadar, tubuh nya terkejut dan tersentak, ia pun mengalihkan pandangan nya pada Hazel yang tengah memanggil nya dengan khawatir.


"Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Alyss sembari melihat wajah Hazel.


"Su-suara ku kenapa tak keluar?" tanya Alyss yang mulai panik lagi saat ia tak dapat mendengar suara nya.


"Alyss?" panggil Hazel lagi, saat ini ia melihat Alyss yang ia kenal seperti sebelumnya, bukan yang berbeda seperti tadi pagi.


Hazel pun dengan cepat memanggil dokter untuk segera memeriksa Alyss.


"Ha-Hazel...


O-orang itu...


Di-dia ingin menyentuh ku, dia mengerikan..." ucap Alyss lirih dengan suara yang gemetar saat kembali mengingat Will yang hendak memperkosanya.


Tubuh kecil nya pun ikut gemetar selaras dengan suara nya.


"Sssttt...


Tenanglah dia tak akan mendekati mu lagi..." ucap Hazel sembari memeluk tubuh gemetar Alyss untuk menenangkan nya.


Alyss tak tau apa yang di katakan oleh Hazel, namun ia bisa merasakan pelukan yang diberikan Hazel padanya.


Para dokter pun datang dan memeriksa Alyss, seperti dugaan sebelum nya Alyss sama sekali tak bisa mendengar apapun, dan bahkan setelah pemeriksaan, Alyss mengatakan tak mengingat apapun.


Ingatan nya terhenti saat Will menusuk perut dan setelah itu ia tak mengingat apapun, ia tak ingat jika ia juga menusuk perut Will dengan pisau dan bahkan juga tak ingat bahwa ia sempat sadar tadi pagi dan berbicara dengan Hazel.


Hazel pun meminta beberapa psikiater terbaik untuk merawat Alyss.


Setelah memeriksa kondisi Alyss, para dokter memberikannya obat penenang dan membuat Alyss tertidur lagi.


"Dia menghapus ingatan nya sendiri?" ucap Hazel lirih ketika memperhatikan Alyss yang sudah tertidur sembari mengusap rambut rambut panjang tersebut.



Alysscalla Zalea (Anggap ajj nih sisi gelap Alyss nya yah hihi)



Hazel Rai


...****************...


Hayooo....


Menurut kalian Alyss kenapa itu???


Kalian jangan nganggep cerita nya keluar jalur yah ini tuh masih satu jalur sama judul nya, dan dari genre ini juga genre misteri yah Dan othor mau ngasih clue sama kalian.


Dan kalo untuk bab yang Hazel menyesal nanti ada sendiri yah, tapi belum waktunya hihi (Padahal othor dah buat di word biar imajinasinya ga lupa wkwk)


Jangan lupa like, komen, rate 5, vote,fav dan dukungan othor yah😉😉🤗🤗🤗


Dan terimakasih buat dukungan kalian selama ini❤️❤️


Happy Reading❤️❤️❤️🥰🥰🥰🥰🥰