(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Mau bakar-bakar



"Kita kenapa kesini?" tanya Alyss lirih sembari melihat ke arah sekitar jalanan yang penuh dengan bunga.


"Kau bilang mau lihat bunga kan?" tanya Hazel saat mengingat ucapan istrinya yang melihat acara tv tentang padang bunga.


"Bukan nya kau sedang marah?" tanya Alyss saat menatap suaminya, yang baru saja memecahkan gelas karna cemburu.


"Yah karna sedang marah..." jawab Hazel tersenyum simpul, ia tau bahwa padang bunga tersebut adalah lokasi yang sunyi.


Alyss hanya mengerutkan dahi nya bingung, apa hubungan nya antara marah dengan membawa ke padang bunga?


Setelah menembus beberapa rumput hijau dengan mobil nya, Hazel pun langsung membuka atap sedan yang yang ia kendarai.


Alyss pun mengandahkan padangan nya ke arah langit dan cahaya mentari yang langsung menerpa wajah cantik nya.


"Hazel kit-


Hummpphhh...." ucapan Alyss yang langsung terpotong saat suaminya tiba-tiba menarik tengkuk nya dan langsung mel*mat aktif bibirnya.


Wanita itu sempat terbelalak sebentar karna terkejut dengan ciuman yang tiba-tiba di layangkan nya, namun ia perlahan menerima dan membalas ciuman aktif perlahan menjadi semakin panas. Nafasnya terasa mau habis saat pria itu tak memberikan ruang sedikit pun di ciuman nya.


"Auch!" pekik Alyss lirih saat suami mengakhiri ciuman nya dengan menggigit bibir bawah dengan kuat.


"Aduh sakit..." ucap Alyss dengan wajah kesal dan nafas yang masih terengah-engah.


Hazel pun hanya tersenyum dan menyetel bangku duduk istrinya nya lebih kebelakang lagi. Perlahan ia memindahkan posisinya hingga membuat istri kecil nya duduk diatas paha nya.


"Kau ini sedang cemburu atau sedang ingin sih? Hm?" tanya Alyss lirih dengan senyum menggoda suaminya, ia tau pria di hadapan nya sudah memiliki niat lain sekarang.


"Keduanya..." jawab Hazel tersenyum simpul sembari mulai memasukkan tangan nya ke dress wanita nya dan mulai mengelus paha istrinya.


Alyss hanya tertawa kecil dan sekali lagi melihat ke arah sekitar taman bunga, ia tak habis pikir dari mana suaminya mendapat ide ingin melakukan nya di siang bolong dan di tengah-tengah tempat terbuka.


"Disini tak akan ada orang kan?" tanya Alyss memastikan.


"Tak ada...


Kalau pun ada yang berani melihat aku akan mengambil bola mata nya dan mengubahnya menjadi dadu." jawab Hazel sembari semakin mengelus kulit halus wanita nya dari balik dress yang di kenakan Alyss.


"Benarkah?" tanya Alyss sembari memegang rahang kekar prianya.


Hazel yang tersenyum dan mulai mencium ke arah lengkung leher wanitanya. Alyss pun membiarkan suaminya menciumi dan meraba tubuhnya di balik dress yang ia gunakan.


Walaupun dengan cara yang berbeda namun pria itu tetap ingin "menghukum nya" karna dipeluk oleh lelaki lain, menghukum dengan cara yang tak akan menyakitinya namun membuat nya kewalahan.


Tangan kekar itu perlahan menaikkan dress nya kepinggang dan mulai membuka kaitan bra istrinya, ia menciumi leher dan dada yang masih berbalut dengan dress yang dikenakan wanitanya.


"Hazel tunggu..." ucap Alyss lirih yang kini nafas nya sudah ikut berat sembari mendorong pria nya perlahan agar mengentikan tangan dan ciuman yang menjelajah tubuhnya secara bertubi.


Hazel hanya diam, menatap nanar iris istrinya, suara nafas berat yang saling beradu, dan desiran listrik yang mengaliri tubuh mereka masing-masing.


Baik Alyss maupun Hazel tentu dapat mendengar detak jantung yang saling berdegup satu sama lain. Terasa aneh namun semakin ingin di coba saat melakukan hal tersebut di tempat terbuka, berbeda dengan laut yang kemungkinan nya kecil untuk dapat terlihat.


"Love you..." ucap Hazel tanpa sadar saat ia menatap wajah dan iris wanita dengan lekat, perlahan ia mulai mencium bibir istrinya dengan lembut dan perlahan.


Alyss pun juga ikut membalas ciuman suaminya, ia membelit dan mengigit kecil bibir prianya membuat Hazel semakin gemas dan semakin memainkan tubuhnya dengan tangan dan jemari kekar nya.


Perlahan Alyss membuka satu persatu kancing kemeja suaminya dan mulai menyusupkan tangan kecil nya ke dada bidang dan perut kotak prianya.


Fuahh ...hah...hah....


Nafas yang semakin beradu saat Hazel melepaskan ciuman penuh sesaknya, sekarang wanita di hadapan nya sudah tau dan semakin mahir membalas ciuman nya.


"Kau semakin nakal sekarang..." ucap Hazel tersenyum saat ia merasakan desiran listrik aneh yang semakin mengalir ditubuhnya karna merasakan tangan kecil istrinya yang menjalar di tubuh bidang nya hingga menyentuh bagian sensitif nya yang masih tertutup oleh celana yang ia kenakan.


"Tentu saja...


Kan kau yang mengajari ku..." jawab Alyss tersenyum dan mulai mencium ke arah leher prianya dan meninggalkan bekas kemerahan disana.


Hazel hanya tersenyum dan semakin menjalarkan tangan kekarnya ketubuh kecil istrinya.


"Ungghhh..." desis Alyss sembari mengigit kecil bahu prianya saat ia merasa permainan tangan pria nya semakin tak terkontrol.


"Sekarang yah...


Kau juga sudah..." ucap Hazel dengan suara yang semakin berat saat ia merasa jemarinya basah.


Alyss hanya tersenyum dan membiarkan prianya mengangkat sedikit tubuhnya dan mengerakkan pinggang ramping nya saat penyatuan mereka.


......................


Grand Plaza


Sebelumnya Rian dan Larescha sudah membuat janji temu di cafe yang terdapat di grand plaza.


Larescha meminta Rian bertemu disana agar kekasihnya tak perlu terlalu jauh menghampirinya dari JBS hospital ke JBS resort.


Belum sampai ia bertemu kekasih, ia sudah bertemu dengan pria yang sangat familiar untuk nya. Pria yang sedang mengantar minuman dingin kepada para pelanggan.


"Alan?" ucap Larescha lirih saat melihat waiter cafe tersebut.


Ia pun dengan langkah cepat ia pun segera menghampiri waiter tersebut.


"Alan? Ngapain disini?!" tanya nya begitu sampai.


Pria yang usia nya terlihat lebih muda dari Larescha itu pun langsung membulatkan matanya dengan sempurna ketika mendengar suara wanita yang benar-benar tak asing lagi dengannya.


"Mati aku! Kak Lala kenapa disini?!" batin Alan saat mendengar suara sang kakak, ia tak berani menoleh dan langsung ingin bergegas pergi dengan pura-pura tak dengar.


"Auch!" pekik Alan yang belum sempat kabur sudah mendapat tarikan di telinganya.


"Aduh...


Ampun kak....


Ihhh malu diliatin..." jawab Alan cepat saat kakak satu-satunya menjewer telinganya.


"Makanya kalau di panggil tuh jangan pura-pura gak dengar!" jawab Larescha kesal dan semakin menarik telinga adik nya sebelum melepaskan nya.


"Iya... iya...


Maaf..." ucap Alan sembari mengusap telinganya yang selalu merah jika di jewer kakaknya.


"Ngapain disini? Gak kuliah?" tanya Larescha pada adik nya.


"Udah pulang kak, cuma kerja part time kok...


Gak ganggu kuliah ku sama sekali kak..." ucap Alan pada kakaknya.


"Kenapa kerja? Fokus kuliah aja dulu biar cepat tamat..." ucap Larescha


"Kurang uang?" tanya nya lagi pada sang adik.


Alan hanya diam beberapa saat, ia ingin belajar Cello sejak dulu, namun untuk membeli Cello yang bagus dan biaya les untuk mempelajarinya. Ia tak mau merepotkan ibu dan kakaknya lagi untuk hal itu.


"Kenapa diam saja?" tanya Larescha pada adiknya. Ia selalu merasa kasihan pada Alan yang sejak lahir tak pernah bertemu dengan ayah nya karna ayah mereka meninggal saat Alan masih di kandungan dan saat Larescha berumur 8 tahun.


"Alan udah besar kak...


Gak mau ngerepotin kakak terus...


Masa Alan minta uang terus..." jawab Alan lirih, ia sebagai satu-satunya laki-laki di keluarga nya tak ingin menjadi beban, sebaliknya ia ingin menjadi kekuatan untuk kakak dan ibunya.


"Yaudah nanti kalau Alan udah tamat kuliah baru kerja, ini fokusin ke kuliah dulu Lan..." ucap Larescha pada adiknya, ia ingin sang adik fokus ke kuliah nya dan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.


"Iya kak...


Tapi tinggal sedikit lagi kok...


Abis kerja disini Alan bakal lebih fokus ke kuliah lagi kak..." bujuk Alan pada kakaknya.


Ctakkk!


"Ih! Kalau ngerayu pandai kali bibir nya." ucap Larescha pada sang adik saat ia baru menyentik kening Alan.


"Hehe...


Boleh kan kak?" tanya Alan cengengesan pada kakaknya.


"Iya tapi abis bulan ini terakhir ya! Kalau kurang uang buat keperluan mu bilang sama kakak! Kakak bakal nyanggupi kok selagi gak buat yang aneh-aneh." jawab Larescha pada Alan.


"Makasih kakak..." ucap Alan tersenyum ceria dan memeluk erat kakaknya hingga membuat Larescha merasa sesak karna pelukan adiknya.


"Hupphhh...


Lefash kallo gahs lefash gahs adi difolehin keljash..." (Lepas kalo gak lepas gak jadi di bolehin kerja) ucap Larescha tak jelas saat Alan membuat nya tenggelam ke dalam pelukannya.


"Hehehe...


Iya... iya...


Makanya jadi orang jangan pendek." ledek Alan jahil, ia tau kakaknya termasuk tipe wanita tinggi, namun di bandingkan tubuh kekarnya dan tinggi dirinya Larescha terlihat pendek jika dengan nya.


"Punya adik kayak gini, bagusnya kena kutuk aja! Biar kalo ngomong tuh ada filternya!" ucap Larescha kesal.


"Dikutuk jadi apa kak?" tanya Alan tertawa.


"Jadi kurcaci!" jawab Larescha kesal. Alan pun semakin tertawa melihat wajah kesal kakaknya.


Rian yang sedari tadi melihat ke arah ke kekasihnya yang tak bisa ia telpon sejak ia tiba di mall tersebut pun langsung mematikan ponsel nya saat melihat pacar nya sedang dipeluk waiter pria dan bahkan terlihat sangat akrab.


Rasa cemburu tentu dirasakan oleh nya melihat wanita nya yang terlihat sangat akrab dengan pria lain dan bahkan banyak melakukan kontak fisik seperti memeluk atau mencubit pipi gemas pacar nya.


Sedangkan Larescha tak tau jika Rian sudah tiba dan menghubungi nya sejak tadi, ponselnya sudah mati kehabisan daya tanpa ia sadari.


"Yaudah, kakak mau ketemuan dulu...


Jangan lupa belajar walaupun udah kerja! Kuliah nya harus tamatin dulu!" Larescha mengingatkan lagi sebelum ia pergi.


Tak lama ia melangkah ia mulai mengembangkan senyum cerah nya saat melihat wajah kekasihnya yang benar-benar suram karna cemburu pada Alan yang tak lain adalah adik nya.


"Kau sudah sampai dari tadi?" tanya Larescha tersenyum dan langsung menghampiri Rian, ia pun langsung bergelayut manja di lengan prianya.


Rian pun perlahan melepaskan tangan Larescha yang sedang memegang nya.


"Kau tak mau menikah karna dia?" tanya Rian dengan raut marah namun tak membentak kekasihnya. Ia tak tau jika pria yang ia lihat adalah adik kandung kekasihnya.


"Maksudnya?" tanya Larescha bingung.


"Pikir aja sendiri!" dengus Rian kesal dan langsung pergi begitu saja. Ia tak mau berlama-lama berbicara ataupun berdebat dengan kekasihnya karna takut amarah nya bisa melukai wanitanya.


"Rian...


Mau kemana?" ucap Larescha yang kalang kabut jika kekasihnya bersikap seperti itu, ia benar-benar sudah sangat bergantung pada pria itu dan sudah sangat takut di tinggalkan.


Ia pun dengan langkah cepat mengikuti langkah kekasihnya.


Grep...


"Rian...


Kenapa? Aku salah apa?" tanya Larescha lirih ia tak menyangka akan jadi seperti ini padahal awalnya baik-baik saja.


Rian pun memejamkan matanya sesaat, ia sudah menahan cemburu nya sejak tadi agar tak melukai wanita nya, malah wanita nya sendiri yang terus mendatanginya.


"Auch!" pekik Larescha saat Rian mencengkram erat lengan nya.


"Tadi siapa? Hm?" tanya Rian pelan namun dengan penuh penekanan.


"Tadi?" tanya Larescha yang masih bingung sembari meringis saat kekasihnya mencengkram erat lengan nya.


"JAWAB!" bentak Rian seketika yang kehilangan kendali membuat Larescha langsung tersentak kaget dan takut secara bersamaan. Tak pernah kekasihnya membentak dirinya sebelum nya.


Melihat Larescha yang hampir menangis dengan takut membuat Rian langsung melepaskan cengkraman tangan nya pada lengan kekasihnya, ia tak berniat membentak sama sekali.


"La...


Ssttt...


Jangan nangis..." ucap Rian melembut saat ia melihat kekasihnya yang hampir menangis.


BUAK!


"Aduh!" pekik Rian saat merasa seseorang melempar kepalanya dengan sesuatu.


"Sial! Kau apakan dia?!" tanya seorang pria yang melempar kepala Rian dengan minuman botol.


Pria tersebut tak lain adalah Alan, sebelumnya pria itu ingin memberikan minuman dingin pada kakak nya, agar tak kehausan namun saat ia mengikuti kakaknya, ia malah melihat sang kakak yang ketakutan dan di bentak oleh seorang pria.


"Apa peduli mu?!" jawab Rian yang sama kesalnya.


"Dasar sial! Kenapa dia menangis?! Kau apakan?!" tanya Alan yang semakin marah.


"Dasar bocah tengik!" jawab Rian semakin kesal.


"A-apa? Bocah?!" ucap Alan dengan semakin kesal. "Dari pada kau orang tua gak tau diri!" ucap Alan yang tak mau kalah.


Larescha yang semula takut kini menjadi panik saat adik dan pacarnya bertengkar.


"Wah...


Mulut mu perlu di jahit rupanya!" jawab Rian semakin kesal, ia belum tua sama sekali namun di ledek orang tua tak tau diri pada lelaki yang ia anggap seperti bocah.


"Apa! Kalau berani sini!" ucap Alan dan langsung menarik tangan sang kakak dan melindungi di balik tubuh bidang nya.


"Kenapa sentuh dia?!" ucap Rian semakin kesal.


"Alan! Rian! Udah! Jangan bertengkar!" ucap Larescha ia tak mau menjadi pusat perhatian karna dua pria yang sedang emosian saat ini.


"Terserah ku lah!" jawab Alan kesal dan langsung menjambak rambut Rian, ia meniru gaya berkelahi kakaknya yang selalu menarik rambut lebih dulu. Gaya berkelahi khas perempuan yaitu Saling menjambak rambut.


"Wah...


Dasar bocah kurang ajar!" ucap Rian dan malah membalas menjambak rambut Alan bukan nya membalas dengan salah satu ilmu beladirinya yang sudah terlatih.


"Aduh...


Mau mati aja udah kayak gini..." ucap Larescha antara panik dan putus asa melihat ucapan nya diabaikan oleh kedua pria yang sedang saling menjambak satu sama lain di depan nya.


"Sial! Kau siapa berani nya bentak-bentak dia?! Ha?!" ucap Alan yang semakin menarik rambut Rian.


"Aku pacarnya! Kau yang siapa?!" jawab Rian kesal.


Alan pun satu tarikan melepas jambakan nya dengan kasar begitu pun Rian yang juga melakukan hal yang sama.


"Kalau begitu kalian gak akan pernah nikah! Aku gak bakal setuju!" ucap Alan kesal namun merasa menang.


"Sial! Memang nya kau siapa?!" tanya Rian tak terima saat pria lain mengatakan hal tersebut.


"Aku adik nya!" ucap Alan tersenyum menang.


"Apa?" tanya Rian terkejut.


"La?" panggil Rian lirih dan menatap ke arah kekasih nya.


"Iyah...


Dia Alan...


Adikku, adik kandung..." jawab Larescha lirih pada kekasihnya.


"Bweekkk..." ejek Alan pada kekasih kakaknya, ia benar-benar merasa menang saat ini.


"Kenapa gak bilang dari tadi La?" tanya Rian.


"Gimana mau bilang, belum apa-apa udah di bentak sih..." jawab Larescha lirih.


"Ya ampun!" ucap Rian memijat pelipis nya, ternyata sejak tadi ia bertengkar dengan calon adik ipar nya.


"Kasihan...


Udah masuk daftar hitam jadi kakak ipar!" ledek Alan pada Rian.


"Ishh! Mulut nya!" ucap Larescha kesal dan mencubit perut adiknya, ia tau jika Alan sangat suka meledek dan sangat jahil karna ia adalah kakak nya yang mengurus nya sejak kecil jika ibu mereka bekerja.


......................


Kediaman Hazel.


Alyss yang sejak tadi menonton acara berita peristiwa pun melihat antusias sembari memakan es krimnya yang satu cup besar.


"Serius sekali." ucap Hazel sembari duduk di samping istrinya, ia langsung menghampiri wanita nya saat sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan nya di ruang kerja.


"Iyah..." jawab Alyss singkat.


"Kau tak tidur? Sudah malam...


Dan lagi jangan terlalu banyak makan es nanti sakit." ucap Hazel sembari mengambil cup es krim yang di pangku istrinya.


"Hazel..." panggil Alyss manja.


"Jangan makan es lagi!" ucap Hazel dan meletakkan cup es istrinya menjauh, ia mengira wanita nya ingin meminta kembali es krim nya.


"Bukan es...


Mau itu..." jawab Alyss sembari menunjuk televisi.


"Apa? Rumah?" tanya Hazel bingung saat melihat berita rumah megah yang terbakar hangus oleh si jago merah.


"Bukan...


Itu loh..." jawab Alyss bergelayut manja dan menghamburkan pelukan nya pada suaminya.


"Api?" tanya Hazel yang masih bingung dengan permintaan ambigu istrinya.


"Bukan..." jawab Alyss menggeleng menunjukkan ekspresi anak kecil.


"Jadi apa? Hm?" tanya Hazel lembut dan mengusap rambut halus di belakang kepala istrinya.


"Mau bakar-bakar..." jawab Alyss tersenyum cerah.


"Bakar-bakar?" tanya Hazel bingung sembari menaikkan satu alis nya.


"Iyah...


Mau bakar rumah...


Boleh yah..." bujuk Alyss pada suaminya, sekali lagi ia sudah mengidamkan hal aneh kembali.


"Rumah ini?" tanya Hazel terkejut.


"Yah jangan lah! Kan kau banyak rumah lain...


Aku bakar satu boleh?" tanya Alyss dengan mata berbinar.


"Nanti bahaya...


Kau sedang hamil..." jawab Hazel menghela nafas, bukan nya tak mau menuruti, ia hanya tak ingin terjadi sesuatu pada istri dan anaknya.


"Yah kau atur biar gak bahaya!" jawab Alyss enteng.


"My bear...


Boleh yah...


Ini anak nya yang mau loh..." bujuk Alyss lagi.


"Yasudah...


Rumah yang mana yang mau kau bakar?" tanya Hazel yang membolehkan istrinya berbuat apa saja.


"Yang mana yah..." ucap Alyss lirih sembari memutar bola matanya mengingat properti suaminya. Ia bahkan belum mengunjungi semua Villa, Mansion, Apartemen, dan Kediaman suaminya.


Karna sang suami yang terlalu banyak memilki aset diluar bayangan nya.


"Mansion yang terakhir kali aja deh..." jawab Alyss mengingat Hazel pernah membawanya ke mansion lain setelah liburan.


"Yasudah...


Aku akan mengurus nya, dua hari lagi yah..." jawab Hazel yang harus memikirkan membakar mansion nya sekaligus tanpa membuat istrinya terluka.


Ia terkadang tak habis pikir dengan anak yang ia buat, anak nya yang masih dalam kandungan saja sudah membuat ibunya terus mengidamkan hal yang di luar batas nalar orang lain.


...****************...


babang Rian hayo loh, udah masuk daftar itam sama calon adik ipar wkwk😂😂


Btw si babang Hazel kalo ga sultan udah miskin mendadak kalo dapat istri ngidam nya kayak mbak Alyss😂😂 kayak nya anak nya ini titisan dari negara api wkwkwk jangan" titisan Zuko lagi😂 dah lah tinggal panggil Avatar aja😅


Happy Reading♥️♥️