
"A-apa maksud mu? Kakak ku...
Dia...
Bukan orang seperti itu..." ucap Louise memandang kosong dengan bibir gemetar dan tanpa sadar menjatuhkan bulir bening dari mata nya.
Louise terkejut bukan main mendengar nama sang kakak yang di sebut di bibir Clara si sekretaris pribadi sang kakak.
"Maaf...
Jangan bilang padanya...
A-aku tak kabur...
Huhuhu..." tangis Clara yang pecah dan terus memohon pada Louise yang sudah sangat terkejut.
"Bohong! Bukan kakak ku, kan?! Kenapa menyebut namanya?!" bentak Louise dengan air mata yang terus jatuh sembari memegang lengan Clara dan mengguncangkannya.
Clara tersentak dan semakin histeris memohon ampun, gadis itu sudah tak mampu lagi membedakan sekitar nya, psikis nya di kikis dan mental yang di jatuhkan setiap saat membuat nya mulai hilang akal.
"Ampun...
Ja-jangan...
Sakit tuan... hiks..." tangis Clara dan terus memohon pada Louise.
Tangan Louise mulai gemetar seperti tubuh wanita yang terus menangis histeris memohon ampun itu. Ia perlahan melepaskan cengkraman nya dan menatap penuh sendu ke arah gadis yang menangis dengan pilu tersebut.
"Jangan menangis terus...
Kau bohong kan? Kakak ku bukan orang yang akan...
Ku mohon...
Bilang kalau ini bohong kan...
Ka-kalian sedang mengerjai ku, iya kan?" tanya Louise dengan suara tertahan pada Clara sekali lagi, bagi nya sang kakak tak akan berbuat sebejat itu pada wanita.
"Ampun...
Hiks..." Clara yang tak menjawab dan terus menangis memohon ampun pada Louise.
Louise mencoba menghapus air mata nya yang tak bisa ia tahan dan kembali meraih tubuh Clara lagi.
"Aku tanya sekali lagi, Louis yang melakukan nya? Dia yang ke sebut dengan Tuan? Atau ada yang memaksa mu merusak namanya?" tanya Louise dengan suara lirih yang masih mencoba mencari alasan untuk tak mempercayai situasi saat ini.
"Ja-jangan bilang tuan Louis...
Sakit...
Tubuh ku masih sakit, a-aku belum bisa melakukan nya..." jawab Clara yang berada di luar konteks pertanyaan Louise, ia memegang tangan gadis nakal itu dan memohon dengan tangis nya.
Deg...
Mau apapun yang di lakukan Louise, wanita yang di ikat rantai tersebut tetap menyebut nama sang kakak, dada nya mulai terasa sesak, ia sangat terkejut hingga membuat nya sulit untuk mengambil nafas.
"Kenapa dia melakukan ini?" tanya Louise yang mulai beradaptasi dengan situasi, dengan tatapan kosong dan dada yang semakin sesak ia menanyakan kalimat tersebut.
"Karna a-aku pelac*r peliharaan nya..." jawab Clara yang seperti ketakutan dan melihat sekitarnya dengan was-was, ia tak tau mana yang benar dan mana yang salah hingga mengatakan kata-kata yang sering di dengar nya.
"Pe-pelac*r? Siapa yang bilang kata-kata seperti itu?" tanya Louise lagi.
"Tu-tuan Louis yang bilang..." jawab Clara sembari menyeret tubuh nya menjauhi Louise dan memeluk kaki nya yang di lipat.
Ia menyembunyikan wajah nya di antara lipatan lutut nya dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
Nyut...
"Ukh!" dada gadis itu semakin sakit, jantung nya berdetak tak beraturan seperti balon yang di tiup dan akan meletus di dalam dirinya.
"Tunggu disini, aku akan membawa mu keluar..." ucap Louise dan berusaha bangun walau kaki nya masih sangat lemas karna begitu terkejut.
Ia mengambil selimut tebal yang masih berada di atas tempat tidur dan menutup serta mengulung tubuh Clara yang masih duduk di lantai dengan gemetaran di sudut ranjang dengan selimut tersebut.
Hah...hah...hah...
Nafas nya semakin berat, karna dada nya yang kian sesak, gadis yang memiliki masalah jantung sejak lahir itu tak sanggup menerima berita yang begitu mengejutkan nya.
Ia keluar dan melihat para pelayan serta pengawal kakak nya di depan pintu tersebut. Mereka sudah menghubungi Louis begitu sang nona muda mengetahui adanya wanita yang di sekap tersebut.
"Ambilkan pakaian ku di kamar atas, dan lepaskan rantai di kaki nya." perintah Louise pada para pengawal dan pelayan di sana saat ia sudah keluar dari kamar Clara.
"Maaf nona, kami tidak bisa...
Tuan sudah memerintahkan kami agar tak membiarkan nona Clara pergi..." jawab salah satu pengawal.
Prangg!!!!
Suara pecahan guci besar dan mahal memenuhi seisi ruangan mansion megah tersebut.
Louise pun mengambil salah satu pecahan dan meletakkan nya di leher nya.
"Lakukan apa yang ku katakan…
Atau aku akan mencoba bunuh diri sekarang juga, kalau Louis tau bukan kah akan lebih berbahaya? Dia akan lebih memilih nyawa adik nya kan? Dari pada sandra nya?" ancam Louise dengan nada penuh ancaman.
Para pelayan dan pengawal pun bingung hingga melihat darah yang mulai menetes dari leher jenjang gadis itu.
Louise tak bermain-main dengan ucapan nya, yang ada di pikiran nya bagaimana cara nya membawa gadis yang di sekap kakak nya pergi.
Pelayan wanita pun mulai bergegas mengambil pakaian sang nona muda adik dari pemilik mansion tersebut dan memberikan nya pada Louise.
Pengawal pria pun berusaha membuka rantai yang membelenggu kaki gadis malang itu.
"Kami tak punya kunci nya nona..." jawab salah satu pengawal.
"Tak apa, potong saja rantai nya!" jawab Louise dan membawa masuk pengawal pria tersebut setelah menyuruh Clara memakai pakaian yang lebih tertutup.
Mata Clara membelalak melihat beberapa pengawal pria ikut masuk ke dalam, ia kembali menangis histeris ketakutan seperti sedang dikejar hantu.
"Sekretaris Clara tenang...." ucap Louise yang berusaha memeluk gadis itu yang sedang menangis ketakutan.
"Jangan...
Ampun...
Aku salah! Aku salah! Maaf..." ucap Clara yang terisak dan berteriak.
"Clara!" panggil Louise dengan nada tinggi dan seketika membuat Clara tersentak dan terdiam.
"Buka rantai nya..." ucap Louise pada para pengawal.
Clara pun langsung menarik kaki nya, tak ingin rantai nya di lepaskan.
"Jangan...
Nanti tuan Louis marah...
Ku mohon...
Jangan..." pinta Clara dengan suara lirih pada Louise menahan tangis nya karna takut dibentak lagi.
Seharusnya ia senang kan? Tapi apa? Mental nya sudah di rusak hingga sekarang saat ia bisa bebas pun namun pikiran nya yang sudah terbelenggu.
"Dia tak akan marah...
Tenang saja, satu-satu yang tak bisa dia sakiti itu aku...
Jadi jangan takut..." jawab Louise lirih dengan suara tertahan, ia tak menyangka jika sang kakak sudah merusak gadis lainnya sampai seperti itu.
Clara menggelengkan kepalanya dengan gemetar.
"Jangan...
A-aku takut..." tangis nya segugukan tanpa suara tak ingin rantai nya di lepas.
"Kalau kau tak mau pergi dan rantai mu di lepas, aku akan mengadu kau mencoba kabur tadi..." ancam Louise agar gadis malang itu tak memberontak lagi saat akan di potong rantai nya.
"Ja-jangan...
Huhuhu..." tangis Clara yang pecah saat ia takut.
"Makanya diam saja...
Aku akan membawa mu pergi..." ucap Louise dan memberi kode mata agar rantai nya di lepaskan lagi.
...
JBS Hospital.
Louis yang mendapat kabar jika sang adik sudah mengetahui perbuatan bejat nya, mulai ke ruang visi dan melacak kepergian sang adik membawa gadis nya.
......................
Villa Louise.
Gadis itu tak tau harus membawa kemana wanita yang berada di samping nya, sampai ia membawa wanita itu ke Villa nya.
Louise ingin membawa lebih jauh lagi, namun ia tak bisa memaksa batas tubuh nya, dada nya semakin sesak dan nafas yang semakin sulit diambil.
Jantung nya berdegup kencang dan bahkan wajah nya sudah memucat, jika ia memaksa terus berkendara dan membawa pergi sejauh mungkin sudah di pastikan dia lah yang akan lebih dulu mati dari pada gadis yang terlihat ketakutan di sebelah nya.
"Turun...
Masuk kedalam, di sini tidak ada siapapun yang akan menyakiti mu..." ucap Louise sembari mengajak Clara turun ke vila megah nya yang tak kalah mewah dari mansion sang kakak.
Gadis itu tau jika tak lama lagi sang kakak pasti akan datang, namun ia sudah lebih dulu menyiapkan ancaman agar kakak nya tak bisa menyentuh gadis malang itu lagi.
Louise membawa Clara ke kamar nya, dan memeriksa gadis itu, sekilas tak ada yang terluka dari tubuh gadis itu kecuali luka luar, ia juga cukup lega saat mengetahui jika gadis itu tak hamil.
Namun Clara yang masih terlihat ketakutan gelisah itu terus saja bergerak dan ingin pergi saat Louise mengobati nya.
Setelah turun, Louise pun mencuci wajah nya dan mengambil pisau lipat di nakas milik nya, ia juga memberikan bius pada Clara agar gadis itu tenang.
Walaupun ia handal dalam mengobati gadis malang itu, namun ia tak bisa mengobati dirinya dan bahkan acuh akan keselamatan nya.
Wajah nya memucat dengan degupan jantung yang tak beraturan hingga menimbulkan aritmia pada nya.
NB KET : Aritmia adalah detak jantung tak normal. Bisa terlalu cepat atau terlalu lambat, kebanyakan tak berbahaya namun beberapa kondisi bisa mengancam nyawa.
Kepala nya berputar dengan dada yang terus merasakan sakit, gadis itu hanya bertahan dan tak berharap ia pingsan sebelum kakak nya datang.
BRAK!!!
Pintu Villa tersebut yang di dobrak paksa, Louis membawa pengawal nya yang lebih banyak dari pada pengawal di villa adik nya, ia tau berapa jumlah pengawal di villa yang di miliki sang adik.
"Kau datang lebih cepat dari dugaan ku." ucap Louise sembari duduk dengan mata sembab dan wajah pucat nya.
Bagaikan bisa meramal masa depan, ia sudah sangat mengetahui jika sang kakak akan datang.
"Dimana dia? Kau membawa nya?" tanya Louis mendekati sang adik yang duduk di sofa ruang tengah villa tersebut.
Louis pun mulai memberi tanda agar para pengawal nya naik ke lantai atas, karna ia tau sang adik pasti akan membuat gadis malang itu berada di tempat nya.
Pengawal Louis dan Louise yang saling berbenturan karna memiliki dua majikan ya v berbeda.
"Suruh mereka keluar, ada yang mau ku tunjukkan pada mu!" ucap Louise dengan tatapan tajam kearah sang kakak.
Louise pun tersenyum getir dan mulai berdiri, ia membuka jaket kulit nya dan setelah ia membuka satu persatu kancing di pakaian yang melekat di tubuh nya.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Louis dan langsung menutup kemeja yang sudah hampir di buka seluruhnya.
"Aku menyuruhmu membawa mereka keluar kan? Kalau kau mau adik mu di lihat telanjang silahkan saja biarkan mereka disini..." jawab Louise dengan tatapan kosong.
Rahang pria itu mengeras menatap adik nya dan kemudian menutup mata nya, menetralkan segala emosi yang berada di dalam tubuh nya.
"Keluar." perintah Louis dingin dan kini hanya ia dan adik nya saja yang berada di ruangan itu.
"Kenapa membuka baju mu? Kau gil-"
Deg...
Gadis itu menjatuhkan kemeja nya dan berputar membelakangi sang kakak, walaupun di bagian perut dan bagian depan tubuh nya masih terdapat bekas cambukan namun bagian punggung lah yang terparah.
Louis terdiam melihat bekas jalur hitam karna luka yang sudah sembuh namun meninggalkan jejak di tubuh adik nya.
"Sudah selesai lihat nya kan? Masih banyak di tempat lain, tapi aku tak mungkin benar-benar telanjang di hadapan mu kan?" tanya Louise dingin dan mulai kembali memakai kemejanya.
"Siapa yang buat? Siapa yang buat seperti itu? Hm?" tanya Louis sembari mendekati memegang lengan adik nya.
Louise pun menepis dengan kuat tangan sang kakak dan menatap nya tajam.
"Jangan sentuh! Kau menjijikan!" ucap Louise menepis tangan sang kakak.
"Kau punya hak?! Kau masih punya hak bertanya siapa yang melakukan nya pada ku?!" teriak Louise dan mulai tak dapat mengontrol emosi nya.
Ia menangis dan marah sekaligus pada sang kakak, tangan nya mendorong dan memukul dada bidang itu berulang kali.
Louis terdiam ia tak menyangka adik nya bisa berkata seperti itu.
"Berhenti Louise! Lalu sekarang kau mau apa? Hm? Kau mau melaporkan ku? Kau mau melalukan nya?" tanya Louis sembari menangkap tangan sang adik.
"Kau...
Kau benar-benar kakak ku? Kenapa kakak ku seperti monster?" tanya Louise melemah dan tenggelam dalam tangis nya.
"Monster? Aku hanya melakukan hal seperti itu, kenapa kau sampai berkata seperti itu?" tanya Louis yang masih tak menyadari kesalahan nya.
Louise memejam sesaat mendengar ucapan yang tak merasa bersalah dari sang kakak.
"Hanya? Bagaimana kalau di putar, aku yang mengalami nya...
Apa kau juga akan mengatakan Kau hanya di perlakukan seperti itu?" tanya Louise lirih dengan lelehan air mata di wajah nya.
"Kau gila?! Kau juga bahkan belum menjawab siapa yang melakukan ini di tubuh mu!" jawab Louis kesal pada adik nya.
"Kau tau? Aku...
Pernah berpikir kenapa aku harus mengalami nya, tapi sekarang aku tau...
Aku melakukan kesalahan...
Makanya aku dapat hukuman..." ucap Louise dengan suara tersendat dalam tangis nya.
"Karna kau kakak ku, kan? Jadi itu hukuman ku...
Hukuman karna aku jadi adik mu..." sambung nya lagi dengan suara serak menahan tangis nya agar tak semakin jatuh.
Ia berusaha mengontrol emosi nya lagi agar tak mengalami jantung nya masih bisa di tahan.
"Louise!" panggil Louis pada sang adik.
"Melaporkan mu? Kau menjadikan wanita seperti hewan peliharaan mu dan membuat nya hampir gila!" ucap Louise lagi dengan mulai berteriak kehilangan kendali walau ia sebisa mungkin menahan emosinya.
"Dia tak gila! Aku tak membuat nya seperti itu!" jawab Louis keras kepala.
"Kau tak sadar dia seperti apa sekarang? Kalau saja kau orang lain, aku akan memaki mu dan membenci mu sebanyak darah di tubuh ku!" jawab Louise dengan marah dan tangis yang semakin menjadi.
"Tapi kau kakak ku...
Aku harus apa? Aku tak bisa membenci mu, bahkan sekarang aku sedang berharap kalau kita tak memiliki darah yang sama...
Aku berharap kalau lelucon kita itu sungguhan kalau...
Kalau kita bukan bersaudara..." ucap Louise lirih.
Louis terdiam ia melihat wajah pucat sang adik yang terus menangis.
"Saat kau melakukan hal bejat itu pada nya, kau memikirkan ku? Aku juga perempuan Louis..." Louise yang terus berbicara pada sang kakak yang kini sudah terdiam.
"Seseorang juga melecehkan ku..." ucap Louise tiba-tiba.
Deg...
Pria itu terkejut mendengar kalimat sambung sang adik, dan langsung meraih tubuh adik nya lagi.
"Siapa?! Siapa yang melakukan nya?!" tanya Louis tak terima mendengar penuturan adik nya.
Louise tersenyum getir melihat wajah sang kakak yang terlihat sangat marah mendengar pengakuan yang ia ingin ia simpan sampai mati itu.
"Dia juga memberikan ku narkotika, tapi aku sudah mengatasi nya...
Setidaknya aku bukan pecandu lagi sekarang..." sambung Louise dan semakin membuat sang kakak terkejut.
Louis tak pernah menyangka jika sang adik akan mengalami hal seperti itu.
"Louise! Kenapa tak bilang?" tanya Louis frustasi.
"Kau punya hak untuk marah? Saat memperlalakukan perempuan lain seperti itu?" tanya Louise lirih sembari melihat wajah khawatir sang kakak.
"Kenapa dari semua orang harus kau yang seperti itu? Aku...
Aku sangat ingin percaya kalau ini bohong! Tapi kau menunjukkan sifat mu..." ucap Louise tertawa sinis dalam tangis nya.
"Aku punya hak! Siapa yang melakukan nya? Hm?" tanya Louis lagi. "Bilang Louise!" bentak nya seketika membuat gadis itu tertawa pahit.
Louise menggelengkan kepala nya dan membalas tatapan tajam sang kakak.
"Aku tak mau memberi tau mu, kau pikirkan saja kesalahan mu...
Aku urus masalah ku sendiri!" ucap Louise pada sang kakak.
"Masalah mu, masalah ku juga Louise!" bentak pria itu pada sang adik.
"Kalau begitu masalah mu juga masalah ku, kan? Ku mohon...
Berhentilah berhenti jadi pria brengsek!" ucap Louise dengan mata sembab nya dan wajah yang semakin memucat menahan sakit di dada nya.
"Ini...
Hanya masalah sepele saja, kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Louis frustasi pada adik nya yang semakin terlihat tak baik-baik saja.
"Lalu kenapa kau marah? Ini hanya masalah sepele kan?" tanya Louise langsung mengembalikan ucapan sang kakak.
"Louise!" bentak Louis lagi.
"Kalau kau menganggap pelecehan hal yang biasa, kalau begitu kau tak perlu marah pada orang yang melakukan nya pada ku..." ucap Louise lagi dengan tersenyum getir.
Bagaikan tamparan keras yang menusuk hati pria tersebut, ucapan yang sederhana namun begitu masuk ke dalam hati nya.
"Aku sudah ingat...
Waktu kita masih kecil dan di culik, aku di lecehkan saat itu oleh pria yang bagiku seperti monster menjijikan...
Dan saat kita dewasa kakak ku malah berubah menjadi monster itu juga..." sambung Louise dengan tangis nya menatap sang kakak.
Karna James yang biasa memaksa sentuhan pada nya membuat memori nya terpancing dan ingat dengan pecahan puzzle menyakitkan itu.
Hening...
Tak ada satu pun balasan dari Louis, ia sudah kalah telak dengan ucapan sang adik yang begitu menusuk nya.
Langkah Louise memundur dari sang kakak, tangan nya mengambil dan membuka lipatan pisau tajam tersebut.
"Sekarang keluar! Ini rumah ku! Bukan milik mu! Dan jangan menyentuh nya lagi...
Aku akan mengurus nya...
Aku tak akan melaporkan mu, karna masih kakak ku..." ucap Louise pada sang kakak.
"Louise, ak-"
"Jangan mendekat! Jangan mendekati atau Clara lagi, kalau kau masih mau melihat ku hidup..." ucap Louise dan langsung meletakkan pisau tajam itu di leher nya, luka kecil yang tadi di buat nya saat berada mansion sang kakak terbuka lagi saat pisau tajam itu menempel di leher nya.
"Louise! Kau gila?!" bentak Louis pada sang adik.
"Kau tau aku sangat nekat kan? Aku...
Bisa berbuat seperti ini kapan saja...
Jadi ku mohon, pergi dari sini..." pinta Louise lagi sembari menatap dengan tatapan yang penuh akan rasa kecewa pada kakak nya.
Langkah Louis terhenti melihat sang adik yang seperti itu. Ia memundur dan memilih kembali dan ingin memprovokasi adik kesayangan nya lagi.
Saat suasana sudah hening, dengan langkah tertatih gadis itu berusaha mengambil obat nya disalah satu ruangan dan menyuntikkan cairan kimia yang selalu di berikan ke tubuh nya.
Bruk!!!
Tubuh nya ambruk seketika ke lantai yang dingin dan keras tersebut, tubuh nya meringkuk menahan sakit yang teramat sangat di dada nya, wajah nya semakin memucat, ia tak pernah mengalami ledakan emosi sebanyak ini seperti sebelum nya.
Hah...hah...hah...
Tarikan nafas yang kian berat dan rasa nyeri serta sakit yang semakin menjadi hingga membuat pandangan nya mengabur.
Deg...deg...deg...
Hanya degupan jantung yang tak berirama dengan normal dan tarikan nafas yang berat yang hanya terdengar di ruangan itu. Mata nya mulai merasa berat di tengah rasa sakit nya hingga pandangan mulai gelap.
Kak...
Aku tak pernah tau kalau kakak yang selalu ku kenal baik akan jadi monster sejahat itu...
Tapi harus bagaimana kak?
Kalau saja...
Kakak orang lain, aku pasti sudah mengutuk dan membenci habis-habisan...
Tapi ini kakak ku! Kakak ku sendiri yang seperti itu!
Kita sama-sama tau kan, kak? Kalau di antara kita siapa yang bakal hidup lebih lama...
Cukup 4 bulan aku berhenti minum obat, dan aku udah bakal gak ada kak...
Karna hidup ku yang bakal lebih singkat, aku berharap bisa memberi semua keberuntungan yang aku punya untuk kakak...
Jadi kakak bisa hidup lebih baik dan gak jadi orang jahat kan? Kalau pakai keberuntungan ku...
Aku sadar gak bisa benci sama kakak...
Makanya aku paling benci sama diri ku sendiri...
Benci karna gak bisa benci sama satu-satunya keluarga yang ku punya...