
Hazel berusaha menenangkan Alyss sepanjang malam , walaupun ia membuka matanya namun ia seperti orang linglung dan tak sadar, tubuh nya terus saja gemetar serta mengeluarkan keringat yang tak henti-hentinya.
Waktu pun terasa berjalan lambat malam itu menunggu fajar yang akan datang, setelah beberapa jam akhirnya Alyss mulai tenang ia pun kembali tertidur.
Pukul 06.35 AM
Alyss mulai tenang dan tertidur kembali, dan karna pagi telah datang akhirnya Hazel memilih bangun dan pergi keruangan nya, ia pun meninggalkan Alyss yang masih tertidur.
Sejak hari dibawa Alyss ke RS dan menjalani pengobatan, Hazel belum pulang sama sekali ke kediamannya, saat siang ia berada di ruangan nya dan mengerjakan semua pekerjaannya, saat waktu luang dan malam hari Hazel tinggal di ruangan Alyss.
......................
Pukul 14.35. PM
Hazel masih meninjau beberapa dokumen setelah rapat dengan para direktur.
"Apa reaksi pendukung Will di JBS Farmasi? Apa mereka masih memihak nya?" tanya Hazel pada Rian sembari terus terfokus pada beberapa dokumen.
"Setelah mereka tau masalah penggelapan dana, sebagian dari mereka memihak mu, tetapi kau masih memiliki selisih saham 5,7% dengan Will." jawab Rian.
"5,7% lagi?" ucap Hazel lirih sembari mengetuk kan jarinya di atas meja kerja di ruangannya.
"Bagaimana jika menurutmu kita bekerja sama dengan Sation Company?" tanya Hazel.
"Sation Company? Kau ingin bekerja sama dengan mereka? Kau yakin?" tanya Rian.
"Mungkin bisa menjadi keuntungan untuk kita, dari pada menambah musuh bukankah lebih baik menambah sekutu? Jika kita bekerja sama dengan mereka aku bisa memiliki saham yang lebih tinggi dari Will dan menurunkan posisinya lalu membuatnya benar-benar tak bisa bangkit lagi, setelah kita menyerangnya." terang Hazel yang memberi sedikit petunjuk tentang rencananya.
"Baik, akan ku atur pertemuan dengan pihak mereka." ucap Rian mengangguk.
"Oh ya, Apa Alyss sudah sadar?" tanya Hazel lagi pada Rian, siang ini ia belum sempat menemui Alyss karna banyak nya pekerjaan.
"Hmm...
Soal itu...." ucap Rian ragu memberitau Hazel.
"Kenapa?" tanya Hazel dengan mengerutkan dahinya ketika melihat Rian yang bersikap ragu.
"Dia sudah sadar sekitar 5 jam yang lalu, namun dia belum bicara sama sekali dan tak mau makan juga." jawab Rian lirih.
"Belum bicara? Dia tak mau bicara atau tak bisa bicara?" tanya Hazel lagi.
"Para dokter masih memeriksa nya lebih lanjut, Apakah dia mengalami Afasia atau mutisme selektif." jawab Rian.
NB KET:
Afasia : Hilangnya kemampuan bicara akibat kerusakan otak.
Mutisme selektif : menolak atau memilih untuk tidak berbicara, hingga benar-benar tidak dapat berbicara.
Kedua nya diatas bisa disebabkan karna gangguan psikologis ataupun kecelakaan dan penyakit tertentu.
Hazel memijat pelipis nya sekilas, ketika mendengar jawaban Rian.
"Dia sepertinya membutuhkan psikiater, dan aku juga sudah mengurusnya." ucap Rian lagi.
"Bagus, beri dia perawatan terbaik." ucap Hazel menarik nafas panjang.
"Apa yang terjadi? Kenapa kondisi nya menjadi lebih parah? Kau menyiksanya?" selidik Rian pada Hazel.
"Aku hanya sedikit bersikap kasar, dan aku membawanya untuk melihat orang yang sudah menculiknya, hanya itu saja." jawab Hazel datar.
"Sedikit kasar? Kau tau ukuran sedikit kasar mu? Dan kau membawa nya ke orang yang sudah habis kau siksa? Kau tak memikirkan bagaimana ia akan terkejut?
Kau sendiri tau dia berasal dari keluarga biasa, dan memiliki kehidupan serta dunia yang damai, tapi kau malah berusaha membawanya ke dunia mu, tentu saja dia sangat terkejut." ucap Rian, ia sedikit terkejut dengan jawaban Hazel yang seperti tak melakukan kesalahan apapun.
"Dia sudah tau aku membunuh orang lain saat kami pertama bertemu, lalu kenapa dia harus sangat terkejut?" tanya Hazel yang masih bersikap membela dirinya.
"Kau sedang berusaha membunuh karakternya, kan? Kau ingin membentuknya sesuai keinginanmu." ucap Rian pada Hazel.
"Sudahlah! Kenapa kau tiba-tiba ingin mencampuri urusan pribadi ku!" ucap Hazel yang mulai kesal. Hazel pun bangkit dan keluar dari ruangan nya. Ia pun menuju ruangan Alyss.
Rian hanya menatap nanar ke arah punggung Hazel yang sedang melangkah pergi. Sebagai teman ia tak ingin melihat Hazel menyesal dikemudian hari jika terus bersikap seperti itu, karna semakin ia melukai Alyss ia juga akan ikut terluka.
......................
Ruangan kamar Alyss
Hazel mulai masuk ke ruangan tersebut ia melihat beberapa dokter yang sedang memeriksa Alyss dan membujuk nya untuk makan, serta beberapa psikiater yang mencoba bicara pada nya.
Alyss kini sudah sadar, ia pun duduk di ranjang pasien tersebut. wajahnya benar-benar tak menggambarkan ekspresi sama sekali.
"Apa dia terus seperti ini?" tanya Hazel tiba-tiba pada para dokter disana.
"Dia menolak untuk makan ataupun bicara sejak dia bangun pak, tetapi kami sudah memberi nya beberapa suntikan vitamin." jawab salah satu dokter.
"Tinggalkan makanan nya kalian keluar." perintah Hazel.
"Baik pak." jawab mereka serempak.
Setelah para dokter dan prof yang menangani Alyss keluar, kini hanya tinggal Alyss dan Hazel di ruangan tersebut.
"Kau tak mau bicara? Atau tak bisa bicara? Hm?" tanya Hazel yang duduk disamping ranjang pasien Alyss.
Tangannya mencoba menyingkirkan rambut Alyss yang tergerai menutupi wajahnya, belum sampai tangan Hazel ke rambut Alyss, Alyss sudah menghindar, seolah-olah ia tak ingin Hazel menyentuhnya.
"Kau menghindar? Hm?" tanya Hazel, namun Alyss masih tetap diam saja.
"Jangan membuat kesabaran ku habis, kau tetap tak ingin bersuara?" tanya Hazel dengan nada yang mulai kesal.
"JAWAB AKU!!" tanya Hazel sekali lagi dengan membentak Alyss dan mencengkram pipi putih tersebut lalu mengarahkan wajah Alyss untuk saling berhadapan dengan nya.
Alyss tersentak dan terkejut saat Hazel membentaknya lalu mencengkram kasar pipinya. Mata Hazel menatap tajam iris Alyss, Alyss mulai takut, matanya mulai berkaca-kaca menghasilkan bulir bening di dalamnya, tubuh kecil pun mulai gemetar ketika melihat Hazel.
"Jangan cengeng! Kau masih tak ingin bicara? Mau ku buat benar-benar tak bisa bicara lagi?!" ucap Hazel dan semakin mencengkram kuat pipi Alyss.
Alyss mulai meringis kesakitan, dan air matanya mulai jatuh membasahi pipi hingga tangan kekar Hazel yang masih di wajahnya.
Melihat Alyss yang mulai menangis membuat Hazel berdecak kesal dan melepas kasar cengkraman nya di pipi Alyss.
"Kau mau tetap seperti ini? Tak memikirkan anakmu?" tanya Hazel dengan suara lebih rendah.
Alyss memberhentikan tangisnya sejenak, ia mulai tersadar saat Hazel mengungkit tentang kandungannya. ia pun mulai memegang perutnya.
"Anakku..." gumam Alyss sembari memegang perutnya.
Merasa Alyss mengatakan sesuatu membuat Hazel memegang bahu Alyss dan membuat Alyss menatap nya.
"Kau bicara? Apa yang kau katakan barusan?" tanya Hazel antusias saat merasa mendengar suara Alyss.
Hazel mengangguk kecil dan mulai tersenyum ketika mendengar suara Alyss.
"Tentu saja dia anak mu, dan juga anakku." ucap Hazel.
Alyss menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Hazel.
"Tidak! Dia anakku! Milikku! Dia bukan anakmu." ucap Alyss dengan suara lebih keras.
Hazel langsung merubah ekspresinya, dan menatap tajam Alyss yang terlihat seperti orang cemas dan gelisah.
"Apa maksudmu?" tanya Hazel dingin.
"Dia anakku! Aku tak ingin dia memiliki ayah seperti mu! Aku tak ingin....." ucap Alyss seperti tersendat.
"Tak ingin dia menjadi iblis seperti mu..." sambung Alyss lirih dengan suara sangat pelan.
Alyss sangat takut jika anak yang ia kandung memiliki sifat yang sama dengan Hazel, tak memiliki perasaan sama sekali, dan tak berfikir dua kali untuk menyakiti orang lain, ia benar-benar sangat takut jika itu terjadi.
Kepala masih di penuhi dengan kejadian di ruang putih, ia memang melihat Hazel membunuh seseorang saat awal pertemuan mereka, namun ia tak menyangka akan melihat dengan mata kepala nya sendiri bagaimana Hazel memperlakukan para korbannya. Hazel bahkan berusaha membuatnya untuk ikut membunuh seseorang.
"Tapi aku tetap ayah nya. Kau tak bisa membuatnya sendiri kan?" ucap Hazel enteng.
Alyss pun mengarahkan pandangan matanya menatap Hazel.
"A-aku tak akan meminta mu bertanggung jawab atau menikahi ku, aku hanya ingin kau meninggalkan ku dan anak ku. La-lagipula kau harus menikahi wanita yang setara dengan mu kan?" mohon Alyss menatap nanar Hazel.
"Kau tak ingin aku menikahi mu dan ingin aku meninggalkanmu?" tanya Hazel sembari mengelus wajah Alyss perlahan.
Alyss pun menganggukkan kepala nya dengan antusias, ia benar-benar berharap Hazel akan meninggalkannya.
Hazel tak bisa menahan tawa nya, saat ia mendengar permintaan Alyss.
"HAHAHA" suara tawa Hazel yang menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan itu, Alyss bergidik ngeri ketika melihat Hazel tertawa.
Setelah menetralkan kembali tawa dan nafasnya Hazel pun berbisik di telinga Alyss.
"Kau pikir aku akan meninggalkan mu dan membiarkan mu pergi? Jangan Bermimpi! Kau hanya bisa bebas setelah aku mati, selama aku masih hidup, KAU MILIKKU DAN AKU TAKKAN PERNAH MELEPASKAN MU." bisik Hazel dengan penuh penekanan saat mengatakan bahwa Alyss adalah miliknya dan tak akan melepaskannya.
Alyss memejamkan matanya sesaat, ia menjatuhkan beberapa bulir bening lagi dari matanya ketika mendengar bisikan Hazel.
"Sekarang makan." ucap Hazel sembari menyodorkan bubur pada Alyss.
Alyss hanya diam tertunduk dan terus menangis.
"Kau tak ingin bubur? Mau yang lain?" tanya Hazel sembari menunjuk makanan lain yang berada di atas meja di sebelahnya.
"Coba buka mulutmu." ucap Hazel sembari berusaha menyendokkan bubur ke mulut Alyss, ketika Alyss tak menjawab pertanyaan.
Alyss pun yang saat itu benar-benar tak ingin makan, menyingkirkan tangan Hazel yang berusaha menyuapinya.
Tingg....
Suara sendok yang terjatuh ke lantai saat Alyss menolak suapan yang di berikan Hazel.
"Aku mencoba bersikap lembut karna kau sedang sakit, namun sepertinya kau berusaha untuk membuat kesal." ucap Hazel dengan menatap tajam ke arah Alyss yang masih tertunduk.
"Lihat aku!" ucap Hazel mulai mencengkram pipi Alyss lagi, ia pun mulai memasukkan makanan ke mulut Alyss secara paksa.
"Uhuk!" Alyss mulai tersedak saat Hazel membuatnya makan secara paksa.
"Ingin ku suapi sampai habis?" tanya Hazel lagi dengan masih memegang pipi Alyss yang mengembung karna suapan paksanya.
Alyss pun menggelengkan kepala nya secara perlahan, mata nya terus saja mengeluarkan cairan bening membasahi wajahnya.
"Kalau begitu kau makan dan habiskan makanan mu." ucap Hazel sembari melepas kasar pipi Alyss.
Hazel pun kemudian meminta para dokter untuk mengganti makanan Alyss.
"Sudah! Sekarang makanlah." titah Hazel sembari memberi sendok ke tangan Alyss, ketika makanan yang diganti sudah datang.
Alyss mulai memasukkan satu persatu makanan tersebut ke mulut nya sedikit demi sedikit, ia tak dapat menahan air matanya yang terus saja meleleh keluar.
"Apa lagi yang kau tangisi? Jangan menangis saat makan, nanti tersedak." ucap Hazel sembari menyelipkan rambut ke telinga Alyss dan menghapus air mata Alyss yang terus meleleh dengan punggung ibu jarinya.
Hazel pun terus menatap dan memperhatikan Alyss yang sedang makan dengan sangat lambat.
"Kita akan menikah setelah kondisi mu membaik, mungkin sekitar dua bulan lagi atau memakan waktu yang lebih lama, karna aku juga memiliki urusan yang harus ku selesaikan lebih dulu." ucap Hazel tiba-tiba.
Alyss pun langsung memberhentikan makannya, dan menatap Hazel.
"Kenapa melihat ku begitu? Kau tak ingin menikah dengan ku?" tanya Hazel dengan menaikkan satu alisnya keatas.
Alyss sangat ingin mengatakan "tidak" saat Hazel bertanya padanya, namun ia seperti tak dapat mengeluarkan suaranya, dan bibirnya serasa terkunci rapat, yang membuatnya tak dapat menjawab sedikitpun pertanyaan Hazel dan hanya terdiam menatap nanar wajah Hazel.
"Jangan berulah, dan bersikap menurutlah. Okey? Aku tak ingin anak ku lahir tanpa ayah." ucap Hazel lagi dengan seringai di wajahnya.
Walaupun memakan waktu lama akhirnya Alyss menghabiskan makanannya. Hazel pun tersenyum melihat hal itu.
Ia pun mencium pipi Alyss sebelum meninggalkan ruangan Alyss.
Sunyi, Takut, Gelisah, Cemas.
Itulah yang dirasakan Alyss saat Hazel telah keluar dari ruangannya, dan tinggal ia sendiri di ruangan itu. Ia benar-benar tak habis pikir, kesalahan apa yang ia perbuat dalam hidupnya sampai harus dipertemukan dengan orang seperti itu.
Alysscalla Zalea
Hazel Rai.
...****************...
Haii Para pembaca tercinta Author...
Maaf yah semalam ga up, karna Author ada gmeet sampe sore, Habis tu ngerjain tugas yang dikasih dosen Author...
Author nya da pusing duluan liat tugasnya🙃🙃, jadinya ga sempet deh up cerita, imajinasinya juga da ancur gegara liat tugasnya wkwk
(Eh malah curhat, Hadehh🙉🙉😖😖🙃🙃)
Selamat membaca🤗🤗
Jangan lupa Like, komen, rate 5, vote dan favoritkan yah😉😉