
Hazel benar-benar bingung keputusan apa yang akan ia ambil, ia pun mencoba menghubungi Dion dan ingin membicarakan hal tersebut. Karna ini merupakan keputusan yang besar dan sulit. Kemungkinan 50:50 merupakan hal yang tak bisa di putuskan dengan mudah.
"Jadi maksud mu, jika Alyss di berikan obat itu? Dia memiliki kemungkinan akan sadar?" tanya Shelly pada Hazel.
"Ya, dia memiliki kemungkinan sadar dan kepulihan yang besar jika tubuhnya memberikan respon positif namun jika sebaliknya dia akan...." ucap Hazel yang tak dapat melanjutkan ucapan nya.
"Berikan obatnya! Semua keputusan mengandung resiko, dan semua tindakan memiliki konsekuensi. Lebih baik jika Alyss memiliki kondisi yang jelas daripada hidup diambang kematian terus menerus." ucap Dion tegas.
Ia juga takut akan kemungkinan obat tersebut memberikan respon negatif, namun ia juga tak ingin putrinya terus merasakan penderitaan karna hidup dan terjebak di tubuh yang tak bisa apa-apa. Jika pun putri kesayangan nya harus pergi, ia ingin putri nya bisa hidup dengan tenang dan damai di alam nya, tidak terus tertahan di dunia karna sikap egois nya yang tak ingin putri nya pergi dan tetap di sisinya.
"Tapi yah...
Nanti kalau Alyss..." ucap Shelly yang khawatir, berbeda dengan Dion yang lebih realistis Shelly lebih memikirkan perasaan nya, ia tak ingin Alyss benar-benar pergi, walaupun Alyss hidup dengan kondisi seperti itu ia tetap senang.
Dalam artian senang saat tau putrinya masih hidup dan tetap bersamanya, walaupun hatinya terus terluka karna putrinya dalam kondisi seperti itu, tapi harapan-harapan kecil selalu terangkai di relung hati nya yang lembut.
Harapan jika hari esok putrinya bisa terbangun dan memanggilnya "Mamah" dengan senyum cerah di wajahnya.
"Mah...
Kalau Alyss mau pergi...
Mamah harus ikhlasin jangan seperti ini mah...
Kasihan dia...
Dan kalau jalan Alyss masih ada, masih diberi kesempatan untuk bangun dan kembali pada kita itu juga tidak bisa di pungkiri mah..." ucap Dion memberi pengertian pada istrinya.
"Tidak! Mamah gak setuju tentang obat itu! Kalau Alyss memberi respon negatif? Bagaimana?!" ucap Shelly yang kukuh tak mau ambil resiko dengan nyawa putrinya.
"Mamah gak sanggup yah, kalau harus kehilangan dia..." sambung Shelly dengan suara melemah pada Dion.
"Mah...
Mamah ingat tidak? Doa mamah itu seperti apa? Mamah selalu berdoa biar Alyss tidak menderita lagi kan? Mamah tidak mau kan kalau putri mamah menderita lagi? Mungkin ini jalan nya mah..." bujuk Dion pada sang istri, Shelly memang memiliki sifat keras kepala dan sifat nya itu menurun pada putrinya.
Shelly pun mengusap kasar air matanya, walaupun sudah 2 tahun bukan berarti kesedihan nya berkurang, ia tetap hancur setiap kali melihat kondisi Alyss, tak bisa berhenti menangis jika mengingat keadaan putrinya.
"Ini semua karna mu! Dasar iblis! Kau menghancurkan putriku! Aku membenci mu! Sampai mati pun, aku akan tetap membenci mu!" ucap Shelly yang terus menjatuhkan bulir bening bening sembari mengatakan kata umpatan dan memandang benci pada Hazel yang masih berada di depan nya.
Hazel hanya diam, ia tau jika ia salah, maka dari itu tak pernah ada kata pembelaan yang keluar dari bibir nya selama 2 tahun saat Shelly memaki ataupun mengutuknya habis-habisan.
"Sudah mah....
Sudah..." ucap Dion sembari merangkul pundak istrinya dan mengelus bahu Shelly agar dapat menenangkannya.
"Keberhasilan dari obat ini 80% namun kegagalan 20% juga tak dapat di kesampingkan. Tapi aku akan berusaha untuk membuat nya pulih!" ucap Hazel sekali lagi.
"Baik, kapan obat tersebut akan diberikan padanya?" tanya Dion pada Hazel, Shelly pun langsung meremas tangan suami nya dan menatap nanar sembari menggelengkan kepalanya.
"Sudah mah...
Mamah jangan terus seperti ini...
Kalau Alyss tau dia bisa sedih mah...." ucap Dion pada istrinya sembari mengusap air mata yang terus berjatuhan ke pipi istrinya.
"Pada tahap pertama obat itu akan di berikan dosis rendah lalu bertahan ke dosis yang lebih tinggi...
Mungkin jika paman setuju, Alyss akan mendapatkan suntikan nya malam ini juga..." terang Hazel pada pria yang masih menjadi ayah mertuanya.
......................
JBS Hospital.
Hazel melihat sendiri saat mereka mulai memasukkan obat tersebut ke tubuh istrinya. Jantung nya berdegup kencang, ia sangat takut jika Alyss tubuh Alyss menolak reaksi obat tersebut.
Namun setelah 2 jam obat tersebut tak memberikan respon negatif, walaupun tak tau kedepan nya seperti namun sekarang Alyss dapat menerima obat tersebut.
Hazel pun memegang botol kecil berisi cairan yang akan ia suntikkan ke dirinya sendiri jika Alyss benar-benar pergi darinya.
Setiap kali ia gugup akan kondisi Alyss ataupun saat kondisi Alyss mengalami penurunan ia selalu memegang obat yang berisi cairan racun tersebut, ia akan langsung menyuntikkan nya ke tubuhnya jika Alyss benar-benar tak bisa di selamatkan lagi.
"Alyss...
Maaf...
Kau harus bangun...
Bangun dan menghukum ku..." ucap Hazel sembari menggenggam lembut jemari Alyss.
......................
Satu bulan kemudian.
Selama satu bulan tubuh Alyss tak memberi penolakan terhadap obat tersebut. Obat tersebut benar-benar memberi hasil positif di tubuh Alyss.
Luka-luka yang berada di dalam tubuh dan organ dalam nya mulai membaik, walau tak membaik secara drastis namun sudah mulai menunjukkan kemajuan walaupun sangat kecil.
Dan hal ini tentunya memberikan rasa bahagia yang teramat sangat pada orang tua Alyss. Walaupun hanya sedikit namun harapan yang hampir pupus kembali terbangun tinggi.
Hazel pun tentunya sangat merasa senang, walau hanya dengan sedikit kemajuan, namun ini adalah kemajuan pertama sejak 2 tahun belakang ini.
Sebelumnya Alyss dalam kondisi statis dan terus mengalami kondisi yang mendadak turun atau memburuk tiba-tiba.
......................
2 Bulan kemudian.
Setelah 3 bulan menjalani pengobatan dengan obat baru nya Alyss mulai menunjukkan reaksi yang semakin positif.
Shelly melihat putri nya dengan senyuman lembut di wajahnya, ia menangkup tangan Alyss, baginya seberapa banyak umur putri ia akan tetap menganggap sebagai "Putri kecil" nya.
"Alyss...
Tidak terasa yah...
Kamu sudah dewasa, sudah 26 tahun...
Mamah masih ingat waktu kamu kecil sering sekali ngajak mamah main boneka, terus waktu jatuh dari sepeda nangis gak berhenti selama dua jam...
Berhenti nangisnya waktu di kasih es krim...
Es krim nya abis kamu nangis lagi, mamah sampai beliin es krim terus satu harian dan besok nya kamu langsung batuk...." ucap Shelly dengan tawa kecil waktu mengingat masa kanak-kanak putrinya.
Waktu sangat berjalan cepat baginya, tak terasa putri yang ia rawat sudah semakin dewasa sedangkan dia masih terus menganggap sebagai "Putri kecil" nya.
Tak pernah terbayangkan sedikitpun Putri kecil nya mengalami hal yang buruk saat ia masih anak-anak dan bahkan mengalami hal tak jauh buruk nya saat ia dewasa.
"Alyss...
Maaf yah...
Kamu harus lahir dari perut mamah...
Mungkin kalau kamu ketemu dengan orang tua lain, kamu gak akan menderita..." ucap Shelly dengan suara tertahan.
"Maaf...
Karna mamah udah buat kamu harus ada di dunia yang seperti ini...
Mamah sayang sekali sama Alyss...
Mamah bahkan berdoa, jika kehidupan selanjutnya itu memang ada...
Mamah mau tetap kamu jadi putri mamah...
Dan mamah janji gak akan biarin siapapun nyakitin putri cantik mamah lagi...." ucap Shelly sembari menghapus air mata nya perlahan.
Perasaan sedih selalu ada jika ia melihat keadaan putrinya, mungkin seorang ibu adalah wanita yang paling cerewet, namun ia jugalah wanita yang paling merasa hancur dan sedih ketika melihat anaknya yang berharga terluka, memiliki hati yang sangat lembut dan sensitif jika sesuatu terjadi pada anaknya.
Shelly menatap nanar kepada putri nya yang masih terpejam dan belum sadar.
"Alyss...
Mamah juga mau berterimakasih sama kamu...
Terimakasih karna sudah bertahan sampai sekarang...
Terimakasih karna kamu sudah mulai membaik...
Dan mamah sangat berterimakasih karna Tuhan sudah menjadikan kamu sebagai putri mamah...." ucap Shelly dengan mata sembab namun dengan senyuman lembut di wajah nya.
Setelah beberapa lama ia memandangi wajah putri nya, ia pun mulai bangkit dari duduknya dan hendak keluar dari ruangan tersebut.
Namun....
Suara monitoring alat yang berada di tubuh putrinya mulai menunjukkan sinyal bahaya nya. Sontak saja hal langsung membuat Shelly kaget. Tak lama kemudian dokter pun secara otomatis langsung datang keruangan Alyss, karna ruangan Alyss yang di pantau penuh sehingga saat alat di tubuhnya membunyikan sinyal bahaya para dokter dapat langsung tau dan datang memeriksa kondisi Alyss.
"Apa yang terjadi?!" ucap Shelly dengan suara bergetar, ia pun langsung menelpon suaminya agar segera datang.
Hazel pun yang sedang mengikuti rapat langsung memberhentikan rapat nya seketika saat mendapat kabar jika kondisi Alyss tiba-tiba memburuk lagi.
"150 joule!" ucap sang dokter saat memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan ritme jantung Alyss.
Dokter pun melihat ke wajah suster, dan suster pun menggelengkan kepalanya mengisyaratkan jika detak jantung Alyss masih tak normal.
Shelly semakin menangis melihat situasi yang sedang terjadi sekarang, Dion pun berusaha menenangkan Shelly yang sedang menangis segugukan walaupun ia sendiri juga merasa sangat panik dan takut.
"Ayah...
Alyss yah...
Huhu..." isak Shelly melihat kondisi putrinya yang sedang di tangani oleh para dokter.
Sedangkan Hazel berdiri mematung melihat kondisi Alyss, tangan nya menggenggam kuat botol kecil berisi cairan racun yang siap ia gunakan kapan saja jika Alyss tiada. Ia selalu membawa botol cairan tersebut kemanapun ia pergi dan menyimpan di balik saku jasnya.
"Kumohon bertahanlah...." ucap Hazel lirih dengan suara gemetar.
......................
Alyss pov.
Aku melihat pangeran kecil terus mengambil bunga dan memberikan nya pada ku.
Mata ku tertuju pada cahaya yang selalu tak boleh ku dekati, bukannya aku tak bisa kesana, namun pangeran kecil ku si penyejuk hati ku selalu melarang ku mendekati cahaya itu.
"Mamah...." panggil nya dengan suara nya yang sangat imut yang terus membuat ku merasa gemas setiap saat.
"Mamah mau kemana?" tanya nya sembari menggenggam tangan ku dengan tangan mungil nya.
"Mamah mau kesana...
Kita kesana yuk...
Mamah mau sama kamu terus..." jawab ku yang mulai berdiri di atas lutut ku agar bisa memandang lurus wajahnya.
"Jangan kesana...
Nanti mamah gak bisa balik lagi...
Aku juga mau terus sama mamah...
Mau main sama terus...
Rasa mau peluk mamah terus..." ucap nya dengan wajah nya sendu nya membuat ku ingin memeluknya lagi.
"Tapi...." sambungnya lirih.
"Tapi kenapa?" tanya ku padanya.
"Mamah udah bisa kembali...
Kembali ke tempat mamah...
Kalau mamah pergi kesana." jawab nya sembari menunjuk pintu besar yang sangat indah.
Deg...
Rasa nya terbesit sedikit keinginan untuk berjalan dan membuka pintu tersebut serta masuk kedalam nya, dan aku tau jika aku kesana aku akan benar-benar kembali.
Namun...
Aku lelah...
Aku sungguh lelah jika harus menghadapi hidup yang penuh dengan asam, manis, pahit...
Aku tak ingin merasakan kesedihan atau rasa sakit lagi....
Aku takut untuk itu, hati ku bimbang....
Antara ingin kembali namun juga takut...
"Mamah mau ikut kamu saja boleh tidak?" tanya ku pada pangeran kecil ku.
"Nanti kalau mamah ikut aku...
Mamah ga akan bisa balik lagi...
Benar-benar ga akan bisa kembali mah...
Mamah mau ninggalin semuanya?" tanya lagi dengan menatap ku menggunakan mata jernihnya.
"Iyah...
Mamah mau tetap sama kamu..." jawab ku padanya.
"Ini kesempatan terakhir mah..." ucap nya lagi.
"Iyah, mamah yakin." jawab ku sekali lagi.
Ia pun mulai menggenggam tangan ku dan membawa ku berjalan ke arah cahaya yang selalu ia larang untuk di ku dekati.
Saat aku semakin menuju ke cahaya itu, langkah ku kian berat, semua kenangan indah dan manis mulai terputar di depan ku seakan-akan melihat film tentang diri ku sendiri.
Kenangan indah dan suka cita ku saat dengan ayah dan ibu ku juga terputar dengan jelas, senyuman lembut mereka yang selalu di perlihatkan pada ku, tatapan kesal ibuku saat aku nakal dan terus berusaha mencari perhatian nya.
Ayah...
Ibu...
Kalian baik-baik saja kan? Ku harap kalian bisa hidup dengan baik, ku harap kalian tak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi pada ku...
Aku tak ingin kalian menjadi sedih, aku tak mau membuat kalian menjatuhkan air mata kalian untukku...
Lalu saat langkah ku semakin mendekat aku mulai melihat kilas saat aku tertawa dan berkumpul dengan teman-teman ku...
Saat aku menganggu sahabat terbaik ku, hingga membuatnya kesal dan berakhir harus membelikan nya ayam goreng agar ia tak merajuk pada ku...
Kenangan lucu dan manis yang terus berputar menayangkan kilas balik membuat langkah ku semakin berat, rasanya aku sangat merindukan hari-hari itu, mulai timbul perasaan ingin kembali....
Dan saat ku lihat satu kilasan tentang wajah pria yang tersenyum lembut padaku, pria yang membuat ku sampai di titik ini...
Pria yang membuat ku enggan untuk kembali, namun hati ku terasa sakit saat melihat nya....
Aku semakin terluka saat bersama pria itu, namun aku juga tak ingin melepasnya, seperti memiliki ikatan yang sangat sulit di putus walaupun aku berusaha untuk melepasnya.
Aku benci! Sangat membencinya! tapi entah kenapa aku juga merasa sedih padanya...
Aku tak tau perasaan apa yang ku miliki untuknya, benci namun tak mau melepaskannya, itulah yang kurasakan jelas padanya.
Perasaan aneh mulai muncul di hati ku, ada banyak hal yang belum ku lakukan, ada banyak tempat yang belum ku kunjungi.
"Mah...
Ayuk..." ucap pangeran kecil ku sembari menarik tangan ku untuk semakin memasuki cahaya itu.
Aku mulai ragu, aku mulai tak yakin dengan keputusan ku.
Apakah jika aku pergi dan meninggalkan semuanya, aku akan benar-benar bahagia?
Dan bagaimana dengan orang tua ku? Bagaimana dengan Ibu dan Ayah ku?
Apa kepergian ku bisa membuat semua orang menjadi bahagia?
Jika aku pergi tak akan terluka kan?
"Mah, ayuk....
Waktu nya sudah semakin sedikit..." ucap nya sekali lagi pada ku.
Haruskah aku kembali?
Aku melihat ke arah pintu besar itu lagi, aku semakin bimbang sekarang.
Alyss pov end.
......................
"Sekali lagi! Shoot!" ucap sang dokter yang memberikan kejut listrik untuk mengembalikan detak jantung pada Alyss sekali lagi.
"Alyss...
Mamah mohon nak..." ucap Shelly yang semakin menangis segugukan di pelukan Dion, Dion pun terlihat menghapus air mata nya sesekali.
"Alyss...
Ku mohon bertahanlah..." gumam Hazel, tubuh nya semakin bergetar melihat para dokter yang tengah sibuk memberi nya penanganan.
...****************...
Duh moga mbk Alyss balik yah...
Kasihan sama mamah nya, mamah kamu nungguin itu🤧🤧
Jangan lupa like, komen, vote, rate 5 fav dan dukung othor yah🥰🥰🥰
Happy reading para pembaca kesayangan othor❤️❤️❤️