(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Sugar baby



Louis pun menatap gadis itu yang terus tertunduk gemetar dengan tangis nya.


"Kau bilang kau mati saja kan? Kalau begitu lakukan saja..." ucap pria itu enteng sembari mulai menyalakan ponsel nya, ia pun berbalik dan menelpon paman nya.


Walupun ia enggan untuk memberitau masalah ini, namun jika gadis itu benar-benar meninggal akan timbul masalah baru lagi.


Rian pun yang mendengar masalah putra teman nya langsung terkejut dan bergegas ke London untuk mengetahui masalah tersebut lebih jelas.


Setelah berbalik Louis melihat wanita yang ia nodai tak berada lagi di sofa, ia pun mencari keberadaan Clara dan menemukan gadis itu berada di kamar mandi dengan sudah menggores tangan nya.


Louis hanya menatap dingin, ia tak berniat menolong karna bagi nya gadis itulah yang menginginkan kematian nya sendiri.


Drrttt....drrtt...drrtt...


Ponsel pria tampan itu berdering menandakan adanya panggilan yang datang pada nya.


"Bagaimana dia? Coba bujuk lebih keras lagi untuk menandatangani perjanjian nya." ucap Rian begitu ponsel nya tersambung. Ia sudah memesan tiket dan segera menuju ke tempat putra mendiang teman nya.


"Gak perlu di bujuk lagi sih, itu anak nya juga udah bunuh diri..." jawab Louis enteng pada Rian.


"LOUIS!!!" bentak Rian yang seketika memekakan telinga pria itu.


"Kok teriak sih? Masih bisa denger loh aku!" decak Louis kesal pada paman nya.


"Bawa dia kerumah sakit segera! Paman mau dia masih hidup sampai paman datang!" ucap Rian tegas dan mematikan ponsel nya.


"Astaga...." desis Louis malas dan membawa tubuh gadis malang itu ke rumah sakit terdekat.


Pria yang bahkan tak mempunyai simpati itu tak tau apa yang dirasakan gadis itu. Baginya ia hanya perlu membayar dan memberikan jumlah uang yang besar lalu semua nya akan menjadi baik-baik saja.


Walaupun ia sendiri di besarkan dari keluarga yang penuh kasih sayang namun ada satu hal ajaran sang ayah yang membuat nya dan saudarinya menjadi angkuh dan arogan.


Tak ada masalah yang tak bisa di selesaikan dengan uang dan kekuasaan.


Hal itu lah yang membuat kedua saudara kembar itu memandang semua nya dalam tolak ukur "uang" belum lagi sang ayah yang memilki kasih sayang buta hingga membenarkan semua yang di perbuat anak-anak nya.


Asalkan kedua anak nya senang sang ayah yaitu Hazel tak pernah mempersalahkan apa yang mereka lakukan kecuali memakai barang haram. Karna baginya barang tersebut hanya akan memperpendek usia anak-anak nya.


Maka dari itu si kembar hanya berusaha menjadi baik dan menyembunyikan kenakalan mereka terutama dari Ibu mereka. Ibu yang bisa memberitau mana yang baik dan tidak, bukan nya memberikan kasih sayang buta yang membenarkan semua perbuatan anak-anak nya.


......................


Rumah sakit.


Memerlukan waktu hampir satu malam pria paruh baya itu menyusul putra sahabat nya yang sedang membuat masalah. Sesampainya ia di London ia segera menyusul ke RS yang sebutkan Louis.


"Mana dia?" tanya Rian begitu melihat wajah Louis.


"Belum mati kok...


Itu udah sadar, padahal dia yang mau mati kenapa di larang sih? Kan kalau dia mati bakal lebih mudah urusan nya." jawab Louis enteng tanpa perasaan bersalah.


BUK!!!


Satu pukulan keras melayang di punggung kekar itu.


"Kau ini! Bahkan lebih parah dari ayah mu!" ucap Rian kesal, setidaknya sahabat nya memperk*sa wanita nya dan berniat ingin bertanggung jawab namun putra nya? Tak membunuh namun raga namun membunuh jiwa orang lain.


"Memang nya Papa suka main wanita? Lagi pula kan Papa sukanya cuma sama Mamah." jawab Louis mendengus kesal sembari mengelus punggung nya yang terasa panas karna pukulan sang paman.


"Yah sama Mamah mu lah! Siapa lagi!" jawab Rian kesal yang tanpa sadar mengatakan hal yang tak seharusnya ia katakan.


"Mamah? Memang nya Papa dulu kayak gitu? Mamah sama Papa saling suka!" bantah Louis langsung. Ia selalu melihat hubungan orang tuanya yang harmonis tanpa cacat membuat nya yakin jika kedua orang yang ia sayangi itu sudah menyukai satu sama lain sejak awal.


"Iya... Iya...


Teman Mamah mu maksud nya..." jawab Rian yang sudah terlanjur mengatakan hal yang seharusnya tak ia katakan.


"Teman nya Mamah kan bibi Larescha?" jawab Louis bingung.


"Berarti paman dulu..." ucap Louis yang seperti mendapatkan sebuah berita besar.


BUK!!!


"Bukan! Gak usah yang aneh-aneh pikiran mu!" ucap Rian yang hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan putra sahabat nya. Ia pun langsung bergegas menghampiri ruangan gadis malang itu.


Louis pun yang melihat sang paman pergi tak mau ambil pusing dan mengikuti pria patuh baya itu.


Rian sudah mengumpulkan semua informasi tentang gadis itu dan akan segera menekan gadis malang itu untuk menandatangani perjanjian yang akan menyakitkan untuk nya.


Ia sebenarnya merasa kasihan pada Clara yang sudah mendapatkan pelecehan dan harus mendapatkan ancaman lagi, namun ia tetap harus melakukan nya, untuk JBS grup dan meredam masalah bagi putra sahabat nya.


"Kau tak mau menandatanganinya?" tanya Rian sembari menatap tajam gadis manis itu yang duduk tertunduk diatas ranjang pasien nya sembari memegang tangan nya yang masih di perban.


"Kenapa tak biarkan aku mati saja?" tanya Clara dengan sedikit bergumam, ia terus menunduk tak mengangkat kepala nya.


Jujur saja ia tak sanggup dengan yang terjadi padanya, sudah direnggut kesucian secara paksa ia malah ditawan dan di paksa menandatangani surat perjanjian yang menginjak harga dirinya.


"Kau bilang apa?" tanya Rian pada gadis yang terus tertunduk menahan tangis nya itu.


"Aku tak mau menandatanganinya! Apapun yang kalian tawarkan aku tak mau!" ucap Clara tegas dengan menahan sesak di dadanya.


"Kau yakin?" tanya Rian sekali lagi, dalam hal mengancam ia sudah sangat berpengalaman karna sudah bersama-sama menghadapi banyak ragam orang lain dengan teman Psycho nya dulu.


Clara tak menjawab dan hanya menatap dengan mata nya yang memberikan tanda jika ia kukuh terhadap pendirian nya.


Louis hanya menatap enteng dari sofa yang tak terletak jauh dari tempat paman dan sekretaris nya.


"Keluarga mu semua dokter kan? Jadi kau juga tau kalau seorang dokter tak punya lisensi ia juga tak akan berharga?" tanya Rian dengan tersenyum dan langsung membuat gadis itu terbelalak.


"Apa maksud mu?" tanya Clara mulai panik.


"Kalau kau tak segera menadatangani ini, seluruh keluarga mu akan terkena imbas nya...


Akan ku pastikan mereka kehilangan lisensi nya dan tak bisa berkerja di manapun." ancam Rian tetap dengan nada tenang.


"Tapi kenapa mereka? Pria brengsek itu yang-" ucap nya tersendat dan langsung tak bisa menahan tangis nya.


"Kau sendiri tau kan? Hanya akan membuat lelah jika bertarung dengan kekuasan dan uang..." jawab Rian pada gadis yang terus menangis di hadapan nya.


"Kenapa kalian jahat sekali...


Seharusnya dia yang menderita! Kenapa membawa keluarga ku..." ucap gadis itu dalam tangis nya.


Rian bisa melihat dengan jelas lebam biru bekas ikatan di pergelangan tangan gadis itu yang tak terluka dan lehernya yang terlihat bekas ciuman serta lebam dari cekikan. Walaupun memakai seragam pasien yang tertutup namun tetap saja dapat memperlihatkan bekas pelecehan yang di lakukan Louis.


"Semua nya tunduk pada uang dan kekuasan. Ku harap kau dapat mengerti dengan baik. Setelah menadatangani ini aku tak akan menyentuh keluarga mu." ucap Rian pada gadis malang itu.


"Tapi dia bahkan belum minta maaf pada ku!" ucap Clara dengan tangis nya sembari menatap pria yang dengan santai memainkan ponsel nya.


"Louis?! Kau belum minta maaf?" tanya Rian sembari memandang ke arah pria berumur 24 tahun itu.


"Kan aku sudah memberi nya uang, kenapa harus minta maaf juga?" tanya Louis enteng.


Clara tak bisa berkata apapun lagi, ia sudah benar-benar dianggap seperti wanita bayaran oleh atasannya.


"Minta maaf!" perintah Rian pada lelaki tampan itu.


Louis pun yang sangat menghormati Rian mengikuti perintah paman nya itu.


"Maaf!" ucap nya malas dan memainkan ponselnya lagi, ia mengecek harga saham dan beberapa data perusahaan. Yang ada di kepala nya saat ini hanya melindungi JBS grup dan adiknya saja. Ia tak pernah ingin memikirkan hal lain.


"Sekarang semuanya sudah kan? Kau bisa menandatanganinya?" tanya Rian sekali lagi dengan nada penuh penekanan pada gadis itu.


Clara masih diam tak bisa menjawab ucapan pria paruh baya di depan nya.


"Sepertinya kau sudah memilih...


Mulai besok akan ku pastikan seluruh kelurga mu tak akan bisa bekerja di manapun lagi, mereka akan di berhentikan atas kasus malpraktik." ancam Rian dan langsung membuat gadis itu terkesikap.


"Tapi mereka tak akan seperti itu!" ucap Clara cepat.


"Hanya perlu mengubah mereka menjadi penjahat saja, apa sulitnya?" tanya Rian dengan senyuman ramah namun nada yang mengancam gadis itu.


"Kalian benar-benar iblis!" ucap Clara tersenyum pahit atas ketidakadilan yang ia terjadi pada nya.


"Sekarang kau sudah mau tanda tangan?" tanya Rian sekali lagi.


Clara pun mengambil map berisi perjanjian dan menandatangani nya segera setelah itu memberi cap sidik jarinya.


"Aku juga mau dia tak menyentuhku lagi." ucap Clara sembari menyerahkan map itu lagi pada Rian, suatu kesalahan saat ia meminta syarat setelah menandatanganinya.


"Tak bisa janji!" jawab Louis langsung menghampiri dan mengambil kertas itu.


"Apa?" tanya nya lirih dengan bingung.


"Karna kita punya perjanjian, jadi setiap kali kejadian seperti itu terjadi kau harus melayani ku lagi." jawab Louis enteng sembari melihat tanda tangan yang sudah di buat gadis itu.


Saat ia melihat data dan harga saham JBS ia tiba-tiba teringat tentang kejadian wanita yang memberi nya obat, ia takut kejadian itu akan terulang lagi dan timbul masalah yang tak bisa ia atasi, maka dari itu saat melihat Clara yang sudah menandatangani perjanjian ia malah berfikir untuk memanfaatkan gadis itu.


"Kalian menipu ku?!" tanya Clara sembari mencoba mengambil map tersebut.


Dada nya terasa sesak, seperti di hantam dengan timah panas dan semakin di hancurkan saat mendengar jawaban dari pria yang merenggut kesucian nya.


"Louis! Jangan keterlaluan!" bentak Rian pada lelaki di hadapan nya.


"Aku melakukan nya untuk JBS! Aku tau paman sedang melindungi ku, tapi aku juga punya sesuatu yang harus ku lindungi." jawab Louis dengan nada penuh penekanan namun meminta pengertian pada paman nya.


Ia berdebat cukup lama dengan pemuda tampan itu, Louis benar-benar mirip dengan ayah nya yang selalu menganggap semua perbuatan nya benar dan tak salah sedikitpun.


"Jangan lewat batas! Dia bukan pemuas nafsu!" ucap Rian marah.


"Aku tau! Aku juga tak mungkin melakukan nya kalau tak di beri obat! Aku tau apa yang akan ku lakukan! Aku tak akan lewat batas...


Paman percaya padaku..." ucap nya dengan nada lirih.


"Baik...


Lakukan yang sebaik yang kau bisa..." ucap Rian dan bergegas, ayah dan anak benar-benar sama saja, sama-sama selalu menganggap benar keputusan yang diambil.


Setelah Rian pergi Louis pun kembali masuk dan melihat gadis itu yang seperti nya sangat shock mendengar ucapan Louis.


Saat melihat atasan nya yang masuk dan mendekat padanya membuat nya seketika mengingat malam mengerikan itu lagi, sekujur tubuh nya membatu dengan rasa takut yang menjalar.


"Kau benar-benar tak punya hati!" maki gadis itu sembari melelehkan air mata nya.


"Terserah mau bilang apa...


Tapi sekarang kau sudah tanda tangan, kita sudah pernah melakukan nya sekali jadi tak masalah kalau nanti mungkin dua kali kan? Tenang saja aku akan membayar mu saat kita melakukan nya. Oh iya satu lagi itu hanya dalam situasi terdesak saja..." jawab Louis enteng sembari membenarkan infus gadis itu yang darah nya mulai naik karna terlalu banyak bergerak.


"Sshh..." desis nya menahan ngilu di tangan nya saat pria itu membenarkan infus nya.


"Jadilah anak baik selama menjadi bawahan ku..." ucap Louis tersenyum dan keluar dari ruangan itu meninggalkan gadis itu dalam tangis dan ketakutan nya.


......................


Cafetaria.


Setelah melatih permainan biola nya dengan tangan yang masih cedera karna luka, gadis cantik itu dengan santai meminum milkshake dan memakan beragam cake manis yang cantik di hadapan nya.


Gadis itu merasa tenang hingga...


"Dasar pelayan bodoh! Kau tau betapa harga nya pakaian ku?!" bentar wanita yang berada di cafe tersebut memarahi seorang pelayan.


"Ma-maaf nona...


Sa-saya akan bersihkan..." jawab pelayan tersebut dengan takut dan berusaha membersihkan tumpahan cake yang berada di pakaian wanita tersebut.


Sebenarnya pelayan tersebut tak salah karna wanita itulah yang tiba-tiba bangun lebih dulu dan menabrak nya hingga membuat cake yang yang ia bawa terjatuh.


Plak!


"Dasar bodoh!" maki gadis sombong itu sembari menampar pelayan tersebut. Tak ada yang berani menyela karna takut dengan wanita tersebut.


Wanita yang memakai semua barang mahal dari bawah hingga keatas membuat siapapun enggan mencari masalah.


Louise pun yang awalnya ingin duduk tenang sembari mendengarkan melodi permainan nya dari earphone nya harus terganggu karna suara berisik wanita tersebut.


"Dasar tante-tante heboh! Berisik sekali sih? Kayak ayam mau bertelur!" dengus Louise yang sengaja mengeraskan suara nya menyindir ke arah wanita angkuh tersebut. Ia pun segera bangun dan beranjak keluar karna terlalu berisik.


Merasa sindiran keras dari gadis cantik tersebut membuat wanita itu menjadi kesal dan mendatangi Louise yang ingin keluar.


"Apa yang kau bilang tadi? Dasar setan kecil! Berani sekali mengejek orang lain!" ucap wanita tersebut sembari menarik tangan gadis itu.


Suasana pun semakin mencekam dan semakin tak ada yang berani bersuara.


"Kau merasa tersindir? Ohh...


Berarti kau merasa seperti tante-tante mau bertelur?" tanya Louise dengan nada mengejek dan menahan tawa nya.


"Dasar kurang ajar-"


Byurr....


Tanpa basa basi gadis cantik itu melempar kopi espresso hitam panas milik pengunjung ke wajah wanita tersebut saat wanita itu ingin menampar nya.


"Dasar jalang! Apa yang kau lakukan? Kau tak tau siapa aku?!" tanya wanita tersebut dengan sangat marah sembari berusaha memegang wajah nya.


"Siapa? Anak raja? Istri presiden? Kalau iya kau hanya membuat malu negara mu saja..." jawab Louise enteng dengan wajah tak peduli sama sekali.


"Hanya memakai pakaian bermerek saja sudah sangat sombong! Aku bisa menjadikan semua pakaian mu sebagai kain pel di rumah ku!" jawab Louise sekali lagi. Ia sangat tak suka dengan cara mensombongkan diri seperti wanita tersebut.


Walaupun ia sendiri angkuh namun tak seperti wanita tersebut yang memandang semua nya rendah.


"Dasar jalang sialan!" maki wanita tersebut.


"Aduh gini nih...


Kalau dari miskin jadi kaya pasti sombong nya lewat palung mariana..." jawab Louise santai sembari memegang telinga nya seperti bosan mendengar ocehan wanita tersebut.


"Kau tak tau pacar ku?! Akan ku buat kau menyesal!" ucap nya sembari menunjuk gadis cantik itu dengan penuh amarah.


"Pacar mu siapa? Kalau ganteng kenalin lah...


Biar ku pacarin juga, setelah itu dia memutuskan mu..." jawab Louise dengan candaan dan tawa sedangkan wanita tersebut semakin geram.


Orang-orang yang berada di cafe tersebut seperti melihat seekor bebek dengan burung merak yang cantik, yang satu hanya ribut tak menentu dan yang satu nya lagi menanggapi dengan tenang dan terlihat memiliki kharisma nya tersendiri.


"Sayang!" ucap wanita itu dengan manja saat melihat pria nya dan langsung menghampiri pria tampan itu.


"Kenapa begini?" tanya pria tersebut melihat wajah yang basah karna siraman air kopi dan gaun yang terkena cream cake.


"Semua karna jalang setan itu!" ucap nya dengan nada manja dan menunjuk Louise dengan tangan nya, gadis yang masih menggendong tas biola di punggung nya.


Pria itu tampak tak senang karna wanita di hadapan nya bergelanyut manja padanya, ia hanya meniduri wanita itu beberapa kali saat bosan namun sekarang wanita tersebut sudah menganggap jika ia adalah satu-satunya wanita yang di butuhkan.


"Dia pacar mu?" tanya Louise enteng sembari menatap ke arah pria tampan di hadapan nya. Pria yang tampak tak asing namun ia lupa pernah bertemu di mana.


"Hai tampan...


Mau jadi pacar ku? Aku bisa jadi sugar baby yang memenuhi keinginan mu..." ucap Louise tersenyum sembari menarik dasi pria tersebut agar semakin mendekat ke arah nya.


Pernyataan yang membuat seluruh orang di ruangan tersebut, gadis itu sangat ingin membuat wanita sombong di hadapan nya mati terkena darah tinggi.


Pria tersebut pun menyeringai dan menyentuh dagu gadis itu.


"Benarkah?" tanya nya semakin menyentuh wajah gadis cantik di hadapan nya.


"Sayang!" panggil wanita yang merasa tak terima.


"Tentu saja! Tapi pertama-tama singkirkan tante-tante yang berada di sebelah mu..." ucap Louise sembari melirik penuh kemenangan terhadap wanita sombong tersebut.


"Baik..." ucap nya dan menyingkirkan wanita di sebelah nya.


"Mulai sekarang kita jangan bertemu lagi dan aku akan memberi mu kartu perpisahan nya." ucap pria tersebut sembari memberikan salah satu kartu milik nya yang berisi dengan uang yang sangat banyak.


Wanita tersebut memandang tajam ke arah Louise dan belum mengambil kartu yang di berikan pada nya.


"Kalau kau tak mau yasudah-"


Melihat pria yang ingin menyimpan kartu tersebut pun langsung mengambil nya.


Louise hanya tersenyum ia berpikir setelah wanita itu pergi, ia berencana akan memutuskan pria yang ia minta jadi pacar nya sesaat hanya untuk lelucon dan memberikan sejumlah uang setelah itu masalah selesai. Tanpa ia tau jika ia semakin menambah masalah.


Saat melihat wanita tersebut sudah pergi Louise pun ingin segara memutuskan pria yang ia pacari secara acak.


"Yasudah sekarang kita pu- Auch!" ucap nya terputus saat pria tersebut tiba-tiba menarik tangan nya dan langsung memeluk pinggang ramping nya.


"Sekarang apa yang harus ku lakukan untuk my sugar baby?" bisik nya menyeringai di telinga gadis itu. Membuat Louise langsung merinding seketika saat merasakan hembusan nafas hangat pria itu di telinganya.


"Su-sugar baby apa? Sekarang aku sudah tak tertarik lagi!" ucap Louise sembari berusaha melepaskan pelukan tangan kekar itu di pinggang nya.


"Sayang sekali...


Tapi aku sangat tertarik dengan My sugar baby." bisik nya lagi dan menambahkan tiupan halus ke telinga gadis itu.


"Kau tak asing, kita pernah bertemu?" tanya Louise dengan tetap berusaha melepaskan pelukan pria tersebut, ia semakin tak nyaman dan mungkin jika tetap seperti ini serangan panik nya akan datang.


"Kau lupa dengan wajah pria yang mengambil ciuman pertama mu? Atau aku harus mengambil pengalaman yang mungkin juga pertama agar bisa mengingat ku?" tanya pria tersebut dengan senyuman seringai nya.


Deg...


Louise terdiam dan terkejut beberapa saat mendengar hal tersebut.


"Now you're really mine, Babe...


Or can I calling you my sugar baby?" bisik pria itu lagi sembari menyentuh dengan lembut wajah gadis cantik yang terkejut setengah mati di hadapan nya.



Athan James Dachinko



Elouise Steinfeld Rai


...****************...


Aduh Louise memang ratu buat onar yah? wkwk, mau kasihan tapi kamu nya juga dapat cogan😅🤭 memang kalau good looking ini cepet kecantol yah para cogan😂😂


Btw cerita sebelah sudah up yah, dia gak ada pemberitahuan mungkin karna othor hapus 2 bab pengumuman.


Happy Reading♥️♥️