(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Afraid



Lidah gadis itu kelu tak mampu lagi menjawab perkataan kasar pria yang sedang menodai nya sekarang.


Sakit...


Berhenti...


Ia tak bisa lagi mengatakan bagaimana rasa yang dialaminya, sakit di sekujur tubuh nya sampai ia hampir tak sanggup lagi dan ingin kehilangan kesadaran.


"Ungghh..." lenguh Louis saat ia kembali menumpahkan isi nya yang kesekian kalinya ke tubuh gadis itu.


Pria itu pun mulai bangun dan merapikan kembali pakaian nya. Ia dapat melihat gadis di hadapan nya terlihat lemah dengan pakaian yang tak beraturan lagi, serta menunjukkan beberapa bagian tubuh yang penuh dengan bekas yang ia tinggalkan.


Bahkan kemeja yang di kenakan gadis itu surah rusak karna ia membuka secara paksa sebelum nya.


"Bangun! Rapikan pakaian mu! Setelah itu kita perlu pergi memeriksa RS cabang!" perintah Louis tanpa rasa bersalah pada gadis yang terlihat tak memiliki tenaga untuk bangun tersebut.


Clara mulai berusaha bangun dengan semua sisa tenaga yang ia miliki, ia berusaha membenarkan posisi rok nya dan membenarkan kembali kemeja nya.


Tangan nya bergetar saat ia merapikan pakaian nya, hingga ia mulai mengancingkan kemeja yang sudah rusak itu.


Ia tak tau harus bagaimana lagi menutup dirinya, pikiran nya kosong dengan hanya meninggalkan satu rasa.


Sesak...


Bahkan dalam mimpi pun gadis itu tak pernah membayang kan akan di perlakukan seperti itu.


Louis menatap ke arah gadis yang kini masih duduk diatas meja panjang ruang rapat itu den menunduk menyembunyikan tangis nya sembari menyilangkan tangan nya menutupi dada nya dengan kemeja rusak nya.


"Bangun! Jangan cengeng! Kau mau lagi hm? Belum puas?" tanya Louis tanpa memikirkan perasaan gadis itu.


Nyutt...


Hati nya semakin sakit mendengar ucapan atasan nya yang terus saja menganggap nya seperti wanita bisa tidur dengan pria manapun.


Louis pun mulai melepas kembali jas nya, dan saat gadis itu menyadari ia langsung mengangkat kepala nya dan menatap ke arah pria itu lagi, jujur saja ia tak sanggup jika harus di nodai lagi.


Buk!!


"Pakai itu! Setelah itu keluar! Jangan lambat!" ucap Louis setelah ia melempar jas mahal tersebut pada sekretaris nya.


"Tak perlu!" jawab Clara dengan suara nya yang masih serak karna tangis.


"Pakai! Kau mau keluar dengan setengah telanjang? Hm? Berhenti bersikap seperti jalang! Dan lakukan saja apa yang ku katakan!" ucap Louis yang mulai kesal karna gadis itu menolak memakai jas nya. Ia tak mau ada orang lain yang bisa melihat tubuh gadis itu selain dirinya.


"Jalang?" gumam Clara lirih saat mendengar kata menyakitkan itu lagi.


Louis pun mulai berjalan keluar saat melihat gadis itu mulai beranjak bangun dan memakai jas nya yang terlihat sangat longgar di tubuh ramping gadis itu.


Bruk!!!


Belum sampai pria itu membuka gagang pintu ruangan rapat itu, ia sudah di kejutkan dengan suara terjatuh dari belakang.


Mata nya menoleh dan melihat sekretaris nya yang terjatuh diantara kursi rapat lain nya, gadis itu merasa sangat lelah dan sakit di sekujur tubuh nya. Ia tak tau kenapa orang lain bisa sangat menyukai hal tersebut. Karna yang ia tau melakukan hal itu benar-benar membuat nya kesakitan.


Pria yang seperti serigala lapar dan melahap nya dengan habis. Ia bahkan tak tau alasan nya kenapa bisa pria yang awalnya ia kagumi kini malah selalu mengatakan dan memperlakukan dirinya seperti jalang.


Louis mulai berjalan mendekat kembali ke arah gadis manis itu, wajah nya benar-benar sembab karna tangis nya yang tak berujung.


Tak seperti kisah putri di dongeng yang menampilkan sosok pria yang sedang mengulurkan tangan memberi bantuan pada wanita yang terjatuh, Louis malah langsung menarik lengan gadis itu dan memaksa nya berdiri.


"Lemah sekali sih?! Berdiri saja tak bisa!" bentak pria itu pada sekretaris nya sekali lagi.


Tangan nya pun mulai menarik paksa tangan gadis manis itu dengan kasar dan membawa nya keluar.


Langkah Clara semakin tertatih saat ia di tarik dan di paksa berjalan walaupun bagian inti nya sedang sangat sakit.


Gadis itu menunduk sembari memegang jas atasan nya guna menutup tubuh nya, ia tak berani melihat pasang mata yang melirik tajam ke arah nya saat pria tampan itu menarik tangan nya menuju ke ruangan presdir.


"Sana! Mandi! Ada pakaian Louise juga masih di lemari! Ganti dengan pakaian nya! Setelah itu minum pil KB nya!" perintah Louis saat mereka sudah memasuki ruangan presdir nya.


Mata gadis itu menatap dengan sorot penuh kesedihan yang menumpuk di dalam nya.


Plak!!!


Tangan nya tanpa sadar mulai melayang ke wajah pria tampan itu.


Buk!! Buk!! Buk!!


Ia tak tau dari mana datang nya keberanian hingga ia berani menampar dan memukuli dada bidang pria yang berdiri di hadapan nya.


"Brengsek! Aku salah apa padamu?! Kenapa menghancurkan sampai seperti ini! Hiks..." teriak gadis itu di tengah tangis nya sembari memukuli dada bidang pria tampan yang baru saja menjamah tubuh nya.


"Aku bukan jalang...


Bukan wanita murahan..." sambung gadis itu lagi dengan suara melemah dan pukulan yang semakin melemah.


Tangis nya tumpah mengeluarkan sesak di dada nya. Air mata nya terus jatuh tak mampu menahan semua rasa yang ia alami.


Louis hanya diam dan membiarkan wanita itu menangis dan memukul nya, ia juga tak mengerti kenapa gadis itu selalu membuat nya hilang kendali dan melakukan apa yang awalnya tak pernah ia rencanakan.


Entah bermula sejak kapan, ia seperti sudah ingin menjerat perlahan kehidupan gadis manis itu.


"Diam! Dasar cengeng! Kita sudah melakukan nya! Lalu apa bedanya dengan melakukan nya lagi? Hm?" tanya Louis sembari memegang satu tangan gadis itu yang masih meremas kemeja nya setelah memukuli dada bidang nya.


"Kita? Kau memperk*sa ku! Aku tak pernah ingin melakukan nya!" jawab Clara sembari menatap penuh benci ke arah pria tampan itu.


Louis terdiam sesaat dan mendorong tubuh gadis itu hingga hampir terjatuh.


"Jangan banyak bicara dan bersihkan saja dirimu! Lalu jangan lupa minum pil KB mu! Rumit jika nanti mengugurkan nya lagi!" ucap Louis tanpa rasa iba dan mulai duduk kursi presdir nya.


Gadis itu memejam beberapa saat mendengar ucapan atasan nya.


"Kenapa? Sedang memikirkan apa? Kau lupa perjanjian kita? Mau melanggar nya? Kalau mau lakukan saja...


Setelah itu kau bisa lihat apa yang akan terjadi dengan hidup mu dan keluarga mu!" ancam Louis lagi mengingatkan atas perjanjian iblis yang ia buat.


Deg...


Gadis itu tersentak dan kembali mengingat perjanjian yang seperti menukar semua kebahagian dan hidup nya lalu menyerahkan pada iblis tak punya hati.


Kini ia menganggap hidup nya tak lagi berarti. Namun hidup kedua orang tua nya masih sangat berarti dan berharga baginya.


Ia pun semakin menjatuhkan air matanya, dan berusaha sebisa mungkin menahan suara tangis nya agar tak semakin membuat pangeran iblis kesal dan kembali menyiksa nya dengan semua hinaan yang menyakitkan hati dan tubuh nya.


......................


Mansion Dachinko.


Louise duduk menatap ke arah setiap sudut yang berada di mansion megah itu.


Ia tak tau kenapa pria itu merubah jalan pikiran nya dan membuatkan kamar baru untuk nya. Ia bahkan tak habis pikir dengan dirinya lagi yang masuk ke kandang raja singa itu.


"Ckk, dia mana? Kenapa membawa ku kesini? Membosankan! Harus nya kan ke pantai sama Zayn!" decak gadis itu kesal saat mengingat jika sebelumnya ia tarik dan di bawa secara paksa ke mansion megah tersebut.


Langkah nya pun mulai menelusuri setiap sudut mansion megah itu, ia tau awalnya pria itu memiliki urusan mendadak yang mengharuskan hingga ia pergi dan meninggalkan gadis itu bermain sendiri menelusuri setiap ruangan mewah di mansion megah itu.


Tapi gadis itu tak memperdulikan karna mata nya sibuk melihat satu pot kaktus imut dan kecil yang juga berwarna merah.


"Lucu nya ..


Memang ada yah kaktus warna merah? Ini bohong apa asli sih?" tanya gadis itu sembari menunduk dan memainkan kaktus tersebut, hingga tangan nya mulai ingin mengangkat pot kecil yang baginya menggemaskan.


Drrttt....


Gadis itu sontak terkejut saat pot tersebut tak terangkat tercabut namun malah seperti cara menghubungkan ke pintu lain yang membuat dinding dengan penuh hiasan tersebut bergeser dan berbalik.


Rasa penasaran yang tinggi sama seperti mendiang ibu nya membuat nya perlahan berjalan dan masuk ke dalam ruangan yang berbeda tersebut.


Hawa dingin menyeruak dan rasa sesak seperti mencekam di ruangan tersebut tak bisa terelakkan. Dan yang paling terasa jelas adalah bau anyir darah yang semakin jelas dapat ia rasakan di sana.


Mata nya mulai melihat beberapa tulip putih dan beberapa bunga yang memiliki warna aslinya tak sama seperti bunga yang berada di luar dengan warna merah di segala jenis bunga tersebut.


Ia pun melanjutkan langkah nya hingga, melihat seseorang yang sebelum nya pernah ia temui. Pria tersebut pun sedang dalam posisi berlutut dengan tangan yang di borgol kebelakang. Terlihat jelas ketakutan di wajah nya.


"Dia!" teriak gadis itu dan seketika membuat seluruh pria yang berada disana melihat nya.


"Bagaimana kau bisa masuk?!" tanya James sembari menghampiri gadis itu.


"Bisalah! Kan punya kaki!" jawab Louise enteng.


"Kau menyuruh nya? Kau bos nya? Dasar brengsek!" tuduh Louise pada James saat melihat pria yang tempo hari mengejarnya dan memukuli sahabatnya.


"Maksud mu?" tanya James bingung, ia tak tau apapun yang di bicarakan dan di tuduhkan gadis cantik itu padanya.


"Kau yang menyuruh nya untuk mencelakai ku! dan Teman ku!" tunjuk Louise kesal ke arah pria yang di borgol tersebut.


James pun mulai menatap bingung ke arah pria yang ia tahan. Ia menahan pria tersebut karna tak ceroboh dalam mengedarkan obat terlarang nya dan hampir menyebabkan kerugian padanya.


"Apa maksud nya?" tanya James menatap tajam ke arah pria yang sebelumnya menjadi pemimpin dalam sekelompok yang menyakiti gadis cantik itu.


"Ka-kami tidak mengejar gadis ini...


Saya mendapat bayaran untuk mencelakai pria yang bersama gadis ini sebelum nya..." jawab pria tersebut gemetaran.


"Siapa?! Kau tau tangan nya hampir patah!" tanya Louise dengan penuh kesal hingga tak memperhatikan sekeliling nya.


"Wanita yang menyuruh saya, kalau tidak salah na-namanya Jeny..." jawab pria tersebut dengan gugup.


Louise terdiam sebentar dan mengingat tentang wanita yang bernama Jeny tersebut yang tak lain adalah mantan pacar sahabat nya.


"Jeny? Dia?! Shit!" umpat gadis itu dengan langsung berkata kasar.


"Kau ini cantik-cantik tapi kenapa kasar sekali sih?" tanya James pada gadis itu, ia selalu melihat wanita bersikap manis dan lembut di hadapan nya namun kali ini ia malah melihat gadis yang bersikap dan bicara sesuka hati di depan nya.


"Berisik! Aku mau balik! Mau ketemu sama mantan laknat! Biar ku gundul rambut nya!" ucap gadis itu kesal dan beranjak ingin pergi. James pun dengan cepat langsung menahan tangan gadis itu.


"Lalu dia? Mau kau apakan?" tanya James pada gadis nakal yang sekarang sudah ia jadikan sebagai salah satu wanita nya.


"Dia? Mau laporin ke polisi lah! Kalau engga mau ku aduin sama kakak ku!" jawab Louise sesuai yang berada di pikiran nya.


"Jalang ini benar-benar! Aku kan tak mengincar mu!" ucap pria yang mirip dengan pemimpin preman tersebut kelepasan memaki gadis nakal itu karna mendengar jika ia akan mendapatkan hukuman atas perbuatan nya.


James yang mendengar kata umpatan yang di lontarkan untuk gadis nya pun langsung menatap tajam.


"Apa yang kau katakan tadi?" tanya nya dengan penuh penekanan dan menatap tajam ke arah pria tersebut.


Hawa pembunuh predator pun mulai merasukinya saat mendapatkan tatapan tajam dari pria tanpa air mata dan darah itu.


"Ma-maksud ku, nona cantik yang seperti malaikat ini pasti tak akan terlalu mempermasalahkan nya...


Ka-karna dia adalah wanita yang memiliki ha-hati yang baik..." jawab pria tersebut tergagap dan memberikan semua pujian untuk gadis nakal itu.


"Bohong! Kau tadi mengatai ku jalang!" sanggah Louise semakin kesal.


DOR!!!


"Akh!" teriak gadis itu saat tiba-tiba pria yang berada di samping nya menembak kepala pemimpin preman tersebut dengan pistol dan mendaratkan peluru tepat di tengah dahi preman tersebut.


Deg...


Louise terdiam beberapa saat, cipratan darah mengenai wajah cantik nya dan seketika bau anyir semakin menyeruak masuk.


James pun perlahan menutup mata gadis itu yang benar-benar terkejut saat melihat penembakan dan pembunuhan langsung di depan mata nya tanpa aba-aba.


Ia perlahan memutar tubuh gadis itu dan menyembunyikan wajah Louise ke dada bidang nya.


"Ambil darah nya dan warnai untuk bunga tulip putih!" perintah James pada bawahan nya sembari menepuk halus punggung gadis yang sedang sangat terkejut itu.


Deg...


Walaupun terkejut ia masih mampu mendengar perintah pria yang sekarang sedang seperti memeluk nya dan menenangkan nya. Padahal pria itu lah yang baru saja melakukan pembunuhan.


Jadi semua bunga dan kaktus itu diwarnai darah?


Batin Louise yang semakin terkejut, ia perlahan mendorong dan melepaskan pelukan pria yang sedang menyembunyikan wajah nya ke dada bidang pria tampan itu.


"Sekarang sudah lebih tenang?" tanya James saat gadis itu mengandah melihat wajah nya.


Tangan nya perlahan menghapus darah yang sebagian terciprat ke wajah gadis cantik itu.


"Kenapa membunuh nya?" tanya Louise lirih dengan iris yang bergetar namun sebisa mungkin menyembunyikan ketakutan nya.


Ia tak tau apapun tentang pria di hadapan nya, pria yang bisa mendapatkan dan memberikan narkotika, bahkan bisa membuat kakak nya tak menemukan dirinya saat pria itu membawanya.


Dan kini ia melihat pria tersebut membunuh namun dengan wajah yang datar tanpa rasa bersalah.


"Dia mengatakan hal buruk tentang milik ku." jawab James enteng.


Awalnya ia masih ingin mentoleransi karna kesalahan dalam membawa obat terlarang, namun toleransi nya semakin menipis saat ia tau salah satu bawahan nya menyentuh apa yang menjadi milik nya dan bahkan menghina, membuat nya semakin kesal dan langsung menembak pria tersebut.


"Mengatakan hal buruk? Lalu kau langsung membunuh nya?" tanya Louise lagi dengan suara yang semakin gemetar namun berusaha menutupinya.


Langkah nya sedikit demi sedikit memundur menjauhi pria yang masih memegang pistol tersebut ditangan nya.


Chick...


Langkah mundur nya terhenti saat ia merasa menginjak genangan air tanpa sadar.


Pandangan nya langsung turun dan melihat heels biru nya yang menginjak genangan darah dari pria yang baru saja di tembak.


Gadis itu tak pernah melihat kekerasan atau pembunuhan semenjak hari penculikan nya, namun kini ia malah melihat semua hal tersebut. Rasa terkejut mengguncang dirinya lagi dan sontak langsung menutup mulut nya tak percaya.


Berbeda dengan kakak nya yang memang menganggap bahwa hal tersebut adalah hal yang biasa. Louise masih sama seperti gadis lain nya yang memiliki emosi seperti kebanyakan orang.


Namun yang menjadikan nya berbeda adalah lingkungan nya yang membuat nya tumbuh menjadi sangat angkuh dan tak tau kenal rasa takut karna terlalu di manjakan oleh kedua orang tua nya dan bahkan kakak nya, gadis itu selalu beranggapan dan menganggap selagi ia masih memiliki banyak uang maka tak ada yang tak bisa ia lakukan.


Ia tak tau bahwa ada sebagain di hidup nya yang tak menginginkan uang nya namun bisa saja menginginkan dirinya.


"Sekarang kau mulai takut? Kau bahkan belum melihat semua nya..." ucap James menyeringai dan mendekati gadis cantik itu.