(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Thanatos



Louise membuka mata nya perlahan saat ia mulai terusik oleh sinar mentari yang masuk ke kamar mewah itu.


Sakit...


Kenapa terasa sangat berat? Aku tak bisa bergerak...


Louise pun mulai menggeliat namun masih belum menyadari jika tubuh nya sedang dalam dekapan pria yang sudah mengambil kemurnian nya.


Mata nya membulat sempurna saat ia ia melihat wajah tertidur pria tampan itu di depan nya.


"AAKKHH!" teriak nya menggema dan langsung bangun seketika.


Auch!


Gadis itu meringis saat bagian inti nya terasa sakit ketika ia bergerak dengan cepat. James pun langsung ikut terbangun dan melihat wajah terkejut gadis yang sudah duduk dengan menutup diri nya sebisa mungkin dengan selimut tersebut.


"Kenapa? Kau tidak mengantuk? Sini tidur lagi..." ucap James dengan suara serak khas baru bangun tidur dan menarik tangan gadis itu untuk kembali tidur dengan nya.


Louise pun langsung menepis nya, tangan dan tubuh nya gemetar saat menyadari situasinya saat ini. Ia mencoba mengingat sebisa mungkin apa yang terjadi sebelum nya.


Hingga sekelebat ingatan tentang ia yang meminta hal itu dari pria di depan nya berputar dan ingatan sekilas tentang malam panas nya.


"Ki-kita sudah benar-benar melakukan nya?" tanya nya lirih dengan hampir tak bersuara. Ia menatap dengan penuh rasa terkejut hingga meneteskan air mata nya tanpa sadar.


Ia tau melakukan hal seperti sudah wajar untuk gadis seusia nya dan ia juga pria itu memang kekasih nya, namun tetap saja. Perasaan menyesal saat sesuatu yang paling berharga milik nya sudah terambil begitu saja.


Melihat gadis di depan nya menangis membuat James ikut bangun dan menatap gadis itu.


"Kau menyesal? Kita melakukan nya atas dasar mau sama mau." ucap James saat melihat air mata gadis itu.


Louise tak menjawab gadis itu pun mulai membenamkan wajah nya ke lutut yang di lipat tersebut.


"Louise?" panggil James lirih sembari mengelus puncak rambut gadis itu dengan lembut.


Setelah Louise mulai tenang ia kembali menatap pria di depan nya lalu membuang pandangan nya ke arah lain.


"A-aku mau mandi..." ucap nya lirih dan seketika ingin turun dari ranjang dengan membawa selimut yang di lilitkan di tubuh nya.


Bruk!


Gadis itu pun langsung terjatuh karna kaki nya yang masih sangat lemas serta bagian inti nya yang masih benar-benar terasa perih.


"Auch! Sa-" ringis nya yang langsung terpotong saat melihat tubuh pria di depan nya yang terpampang jelas karna ia menarik selimut nya sedang mereka sebelum nya tidur dalam keadaan yang sama-sama polos.


Telinga dan wajah nya memerah seketika melihat hal tersebut.


James menatap gadis yang mematung melihat bentuk tubuh nya yang memang begitu ideal serta ukuran di bagian tubuh lain yang lebih diatas rata-rata hingga membuat wajah dan telinga gadis itu memerah melebihi warna tomat.


"Kenapa? Mau lagi?" tanya James tersenyum simpul.


"Pantas sakit...


Yang masuk besar...." gumam Louise sembari mencoba bangun sendiri.


James hanya tersenyum dan mengambil mantel tidur nya, ia pun bangun dan mendekati gadis nya.


"Eh?" Louise yang merasa seperti melayang ketika kaki lemas nya tak lagi menginjak lantai saat pria itu menggendong nya tiba-tiba.


"Apa kau tak tau cara meminta tolong?" tanya James sembari membawa gadis ke kamar mandi dan mendudukan nya ke salah satu meja di kamar mandi tersebut.


"Mau mandi bersama?" tanya James sembari menatap gadis yang sedang terdiam karna terkejut tersebut.


"Ti-tidak mau! Nanti kalau di pegang-pegang masih sakit!" jawab Louise karna ia ingat apa yang di lakukan pria itu saat mereka masuk ke dalam bathup yang sama.


James hanya tersenyum, ia seperti melihat anak harimau menggemaskan yang ingin ia jinakkan.


Cup....


Satu kecupan melayang di pipi gadis yang sedang membuang pandangan itu.


"Tidak akan, aku siapkan air nya dulu." ucap James tersenyum sembari menyiapkan air di bathup untuk mereka mandi.


Louise melihat pria yang sedang mengatur untuk mandi nya, ia tak tau kenapa merasa pria itu lebih bersikap lembut pada nya hari ini.


"James? Kau melakukan ini karna aku masih murni saat kau melakukan nya?" tanya Louise yang curiga dengan sikap baik pria itu karna biasanya dingin dan cuek.


"Tidak! Kau pikir hanya kau yang masih murni di atas bumi ini?" jawab James tanpa melihat sembari menuangkan sabun dan aroma ke bathup nya.


"Lalu kenapa tiba-tiba jadi baik?" tanya Louise menatap pria yang saat ini sudah berjalan ke arah nya dan hendak memasukkan nya ke bathup.


"Karna itu kau." jawab James singkat sembari meloloskan selimut tebal itu dan menggendong gadis cantik itu ke dalam bathup yang harum tersebut.


"Karna itu aku? Kau baik pada ku, karna aku?" tanya Louise bingung pada pria yang sudah duduk di belakang di tubuh nya dan menyabuni nya.


"Hm..." jawab James singkat sembari melihat punggung indah gadis itu.


Louise diam sejenak dan tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Nick yang pernah mengatakan jika ia hanya di anggap sebagai pengganti dari mantan kekasih pria itu.


Ia pun berbalik menatap ke arah pria yang sedang mengusap tubuh nya dengan lembut.


"Apa kau juga sebaik ini saat pertama kali melakukan nya dengan mantan mu?" tanya Louise sembari menatap iris pria itu.


James tersentak, ia tak tau kenapa gadis di depan nya tiba-tiba bertanya tentang masa lalu nya serta gadis yang pernah sangat ia cintai.


Jika gadis itu bertanya bagaimana dulu sikap nya dengan mantan nya tentu saja ia juga bersikap lembut walaupun ia merupakan pembunuh berdarah dingin dan itu semua karna ia dulu benar-benar mencintai gadis nya sebelum pengkhianatan yang di lakukan gadis itu.


Melihat tak ada jawaban dari pria itu membuat Louise menunduk dan tak lagi menatap pria di depan nya.


"Aku benar-benar hanya kau jadikan pengganti?" tanya Louise dengan suara yang teramat pelan dan lirih.


Pria itu pun tau alasan kenapa gadis di depan nya mengungkit tentang mantan kekasih nya.


"Bukan...


Kau bukan pengganti siapapun..." ucap James sembari menangkup wajah gadis itu.


"Kau hanya diri mu, dan membuat ku terus berlari ke tempat yang tidak ku ketahui...


Aku...." ucap pria itu tak bisa melanjutkan kalimat nya, bibir nya terasa berat untuk mengatakan dua kata selanjut nya.


Namun ia perlahan mendekatkan wajah nya dan memangut bibir gadis depan nya dengan lembut dan perlahan.


Aku...


Mencintai mu...


Louise yang awal nya diam dan terkejut pun mulai memejamkan mata nya dan membalas ciuman pria itu. Ia memegang rahang kekar pria itu dan mulai saling membalas pangutan.


Tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan namun ia ingin menikmati masa kini nya, masa yang tengah ia lalui saat ini.


......................


Apart L'Boneu


Gadis manis yang tengah menangis pilu tanpa suara saat meratapi nasib malang nya.


Ia sekarang tau mengapa semua orang di JBS grup menganggap nya sebagai wanita rendahan. Pria yang membawa nya ke apart mewah yang tak jauh dari lokasi pesta sudah memberitau dengan jelas apa yang terjadi pada nya.


Louis tak membawa Clara pulang namun membawa nya ke salah satu apart mewah milik nya. Ia memaksa gadis itu untuk kembali memuaskan nafsu nya dan setelah itu menunjukkan video yang ia buat dan sebarkan.


Pria itu pun keluar dari pintu kamar mandi nya dan menatap gadis yang masih menangis segugukan di ranjang nya.


"Kau tak bisa diam?! Berisik sekali!" ucap Louis berdecak kesal sembari mengusap rambut basah nya yang habis di keramas.


"Jahat! Kau Iblis! Kau bukan manusia sama sekali!" teriak Clara dalam tangis nya yang menjadi.


"Aku hanya memberitau semua orang kalau kau itu seperti pel*cur saja." jawab Louis enteng sembari memasuki ruang ganti nya dan mengambil pakaian nya untuk sementara di pakai gadis itu.


"Pakai ini." ucap Louis saat keluar setelah ia sudah berpakaian.


"Kau bilang aku pel*cur? Lalu kenapa kau masih mau meniduri ku?" tanya Clara dengan suara serak karna tangis segugukan nya.


"Bukan nya pel*cur memang harus nya di tiduri dan memuaskan orang lain?" jawab Louis yang semakin menusuk hati gadis itu.


"Ini juga bayaran mu!" sambung nya sembari memberikan kartu yang berisi sejumlah uang yang cukup besar.


"Kenapa memperlakukan ku serendah ini?" tanya Clara melemah dengan tangis yang tak bisa ia bendung saat melihat pria itu membayar nya setelah memaksa nya berhubungan dengan sangat kasar.


Pria itu tak bergeming, rasa marah dan kecewa nya terus menerus menutup hati nya dan ingin gadis itu terus menderita.


"Lalu kau? Kenapa mengkhianati ku?" tanya Louis dengan nada rendah sembari menatap gadis di depan nya.


"Oh! Aku salah mengatakan nya, kau tak pernah mengkhianati ku kan? Lagi pula kita juga tak pernah punya hubungan karna kita hanya ATASAN DAN BAWAHAN saja kan?" sambung Louis dengan mendekati gadis yang masih menangis di atas ranjang nya.


Ia memperjelas apa yang di katakan Clara di malam itu.


"Aku tak pernah tidur nya..." ucap Clara sembari menggeleng dengan terus mengatakan kebenaran nya.


Louis diam sesaat dan kemudian tertawa getir menatap gadis yang wajah nya sudah mulai pucat tersebut, sulit baginya untuk kembali mempercayai ucapan gadis itu.


"Dengan semua yang ku lihat? Pakaian yang berserakan dengan seorang pria! Lalu tubuh nya yang penuh dengan bekas jejak yang dia tinggalkan?!" tanya Louis dengan nada penuh penekanan.


Clara memejam dengan titikan air mata yang jatuh, ia bingung bagaimana menjelaskan nya dengan semua situasi yang menunjukan jika ia sudah tidur dengan pria lain.


"Tapi aku benar-benar tak melakukan apapun pada nya..." jawab gadis itu dengan suara serak karna tangis.


"DIAM!" bentak pria itu seketika membuat jantung gadis di depan nya tersentak.


Auch!


Clara langsung meringis menahan sakit sembari memegang rambut panjang nya yang terasa sangat sakit ketika di tarik hingga membuat wajah nya mengandah pada pria yang saat ini tengah menjambak nya.


"Aku mempercayai mu dan apa yang kau lakukan? Hm? Menurut mu aku akan percaya lagi?" tanya Louis sembari menatap gadis yang tengah meringis kesakitan tersebut.


"Aku benar-benar tak melakukan nya..." jawab Clara segugukan dengan tangis nya.


"Menurut mu aku dewa? Bisa tau apa yang KAU dan PACAR mu itu lakukan di apart mu? Atau aku bisa tau apa yang kau katakan itu sungguhan atau tidak? Hm?" tanya Louis yang menekankan jika gadis itu masih pacar orang lain.


"Akh!" ringis nya sembari mulai memegang perut nya yang terasa sakit seperti di putar.


"Sekarang kau mau pura-pura sakit?" tanya Louis sembari mencengkram dagu gadis itu.


"Aku memang berbohong tentang status hubungan ku...


Tapi aku tak berbohong tentang aku tak pernah melakukan apapun!" ucap Clara sembari meringis kesakitan.


Louis melihat wajah pucat gadis itu dengan air mata yang meleleh ke tangan nya saat ia mencengkram dengan kuat dagu gadis itu.


Ia pun mulai melepasnya dengan kasar.


"Hoek!"


Gadis itu mulai merasa mual lagi dengan perut yang semakin terasa sakit mengalahkan sakit di tubuh setelah dipaksa melayani nafsu pria yang tengah bersama nya saat ini dengan teramat kasar dan begitu menyakitkan.


Clara pun mulai beranjak berlari tertatih ke kamar mandi sembari membawa gulungan selimut yang melilit tubuh nya.


Louis menatap punggung gadis yang berlari dengan begitu cepat dan langkah tertatih yang menunjukkan rasa sakit yang sedang di rasakan gadis itu.


*Kau minta aku mempercayai mu lagi? Bukan nya ini yang kau ingin kan? Kau tanpa ragu berbohong...


Kau bahkan tak tau...


Seberapa banyak aku menyukai mu*...


Pria itu mengepalkan tangan nya, ia tak tau bagaimana perasaan nya. Benci, jijik, namun juga masih menginginkan gadis itu.


Entah itu keinginan hanya karna obsesi atau karna ia masih mencintai gadis itu, namun rasa kepercayaan nya yang patahkan membuat nya ingin segera menyiksa gadis itu dengan cara nya.


......................


Skip Time.


JBS resort.


Louis mengunjungi salah satu anak cabang yang di dirikan atas nama perusahaan nya yang kini tak hanya lagi bergerak dalam bidang kesehatan.


"Kau mendapatkan ancaman dari petinggi perusahaan pulau?" tanya Louis saat memeriksa perusahaan yang sedang ia perebutkan dengan Presdir lain nya.


"Tidak ada." jawab Clara dengan wajah yang terlihat letih dan pucat.


Ia sama sekali tak mendapatkan ancaman oleh para petinggi yang sedang berebut perusahaan Ghall dan tau ia juga memegang data penting guna memenangkan perusahaan tersebut.


Namun ancaman dan hinaan lah yang selalu ia terima, hari-hari nya bekerja yang bagaikan berada di neraka dengan para penjaga yang melihat nya dengan tatapan begitu menyakitkan serta memperlakukan nya bagaikan kotoran.


Namun ia tetap harus bertahan dengan ancaman kontrak kerja nya yang masih 10 tahun dan hidup bagaikan budak dan peliharaan pria tampan itu.


Setelah melakukan beberapa urusan bisnis nya ia pun mulai kembali dengan menggunakan mobil nya.


Tak lama setelah perjalanan ponsel gadis itu berdering, Louis melihat sekilas dan melirik siapa yang terus menelpon gadis yang berada di samping nya.


Ck! Mereka masih pacaran?!


Decak Louis kesal melihat siapa yang menelpon gadis itu terus menerus walaupun Clara selalu mematikan nya karna tak berani mengangkat.


"Berhenti!" ucap Louis pada supir nya.


Supir itu pun mulai memberhentikan mobil di jalan yang kebetulan sunyi tersebut.


"Turun!" ucap Louis dengan nada datar dan dingin pada Clara.


"A-apa?" tanya Clara bingung sembari menatap keluar yang sudah malam dan berada di jalan sepi.


"Kau tuli? Ku bilang turun atau perlu di seret keluar?!" tanya Louis sembari menatap geram. Ia merasa marah dan kesal tau kekasih gadis itu menelpon.


Clara pun akhirnya tetap turun di jalanan sunyi tersebut.


"Jalan." perintah Louis dingin pada supir nya.


Clara pun hanya menghela nafas nya dengan kasar melihat mobil mewah itu yang pergi menjauh dengan cepat. Ia pun mulai berjalan kaki di tengah jalanan sunyi tersebut.


Supir itu pun tetap melanjutkan mobil nya padahal ia tak tega meninggalkan seorang wanita sendirian di jalanan yang sunyi dan gelap.


"Tuan? Saya dengar jalanan disini sangat rawan jika malam. Kalau sekertaris Clara di tinggalkan sendirian dia bisa saja..." ucap supir tersebut yang gelisah dan merasa tak tega.


"Memang nya apa yang pernah terjadi disini?" tanya Louis dengan wajah datar nya.


"Dua bulan yang lalu saya baca berita tentang wanita yang pulang malam menggunakan motor di jalan ini dan culik lalu di gilir dengan 12 pria." jawab sang supir pada atasan nya.


Louis tak bergeming dan masih menunjukkan wajah datar nya.


"Berhenti!" ucap nya lagi pada supir tersebut.


Setelah mobil nya berhenti dan membuat sang supir bingung kenapa pria itu meminta nya berhenti lagi.


"Kau keluar!" ucap Louis mengusir supir nya pergi.


Supir tersebut pun bingung namun ia tak berani menolak ataupun membantah.


Setelah supir nya keluar Louis pun masuk ke kursi pengemudi dan kembali ke tempat ia meninggalkan sekertaris nya.


Clara yang melihat cahaya mobil yang datang mendekat ke arah nya membuat nya terhenti sejenak dari jalan kaki nya.


"Masuk!" ucap pria itu dengan nada dingin pada gadis itu yang terlihat semakin pucat tersebut.


Clara diam, ia takut untuk masuk ke dalam mobil pria itu lagi.


"Masuk atau lindas dengan ban mobil?!" ucap Louis kesal saat gadis itu hanya diam tak bergeming.


Clara terkejut ia melihat tatapan tajam pria itu dan mulai menurut masuk ke dalam mobil. Ia pun mengantar gadis itu ke apart nya dan menurunkan nya tanpa sepatah kata pun.


...


Apart Greelef.


Gadis itu masuk ke apart nya yang terlihat sandi dan pintu seperti di buka paksa sebelum nya namun ia tak begitu menanggapi hal itu, pukul yang sudah menunjukkan jam 10 malam karna hari ini ia memang banyak urusan di luar namun itu juga sedikit mengungtungkanya karna ia tak lagi mendapat penghinaan dan pelecahan verbal maupun non verbal di JBS hospital.


"Jahat! Pria iblis!" ucap Clara dengan tangis nya sembari menitikan air mata nya saat ia memasuki apart nya.


Perasaan mual mulai terasa lagi di perut nya, ia pun langsung berlari ke kamar mandi nya dan menumpahkan semua nya lagi.


Setiap kali ia merasakan kesedihan ataupun tangisan karna atasan arogan nya gejolak dalam perut nya juga semakin bertambah. Seperti ada yang ikut merasakan kesedihan nya yang hinggap dalam tubuh nya.


"Periode datang bulan ku belum datang? Sudah terlambat 2 mingguan..." gumam nya sembari mencari obat untuk mengatur waktu datang bulan nya yang terlambat.


Terkadang saat ia tengah banyak pikiran ia memang terlambat datang bulan selama beberapa minggu atau bahkan datang bulan terus menerus melewati 15 hari lebih.


Gadis itu pun meminum pil nya karna ia merasa lelah dan letih nya yang sangat mudah ia rasakan karna belum datang bulan hingga saat ini, tak ada pikiran lain yang terlintas di pikiran nya jika mungkin ia sudah membawa kehidupan baru di tubuh nya.


Ia pun keluar dari kamar mandi nya dan melihat struktur apart nya yang tak sama, sebagian barang-barang nya yang tidak berada di tempat nya lagi, membuat perasaan nya mulai terasa takut.


Deg...


Seketika ia ingat dengan pintu nya yang seperti sudah di paksa sebelum nya, namun karna ia merasa lelah dan kurang sehat ia tak begitu memperdulikan nya.


Ada orang lain di rumah ini...


Gadis itu mulai menyadari jika ia tak sendirian di apart nya saat ini, ia pun mengambil ponsel nya dan menghubungi seseorang, ia mendengar semakin jelas suara yang mendekat ke arah nya.


...


Louis pun yang sedang dalam perjalanan kembali ke kediaman mewah nya melihat ponsel nya yang berdering.


"Kenapa dia?" ucap nya berdecak saat melihat sekertaris nya menelpon padahal baru saja ia antar pulang.


Ia pun tetap mengangkat nya setelah menyatukan sambungan ke handsfree yang berada di mobil nya agar tak mengganggu mengemudi nya.


"Kenapa?" tanya nya dengan nada ketus.


"Kau sebentar lagi sudah mau sampai? Dompet mu seperti nya tertinggal pada ku..." ucap Clara dengan nada takut dan gugup yang terlihat jelas di suara nya.


"Dompet apa sih? Makin aneh aja sekarang!" ucap Louis yang ingin mematikan telfon nya.


"5 Menit lagi? Kau sudah di depan gedung ku, yah? Segera naik saja..." ucap Clara lagi dengan suara semakin takut.


"Kau ini kenapa sih? Sudah Gila?" tanya Louis semakin aneh namun ia mulai sadar jika suara gadis itu terlihat berbeda.


"Cla? Terjadi sesuatu?" tanya nya lagi.


"Iya, dompet mu masih dengan ku cep-"


Prangg....


"Cla? Clara?!" panggil nya setelah suara benda yang pecah dengan nyaring.


Pria itu ingin tetap melajukan mobil nya kembali ke kediaman nya namun entah kenapa ia malah membanting stir dan kembali ke apart gadis itu dengan kecepatan penuh.


...


Gadis itu terkejut, ponsel nya terlempar hingga masuk ke bawah sofa yang berada di ruangan tersebut.


Ia tak tau kenapa menelpon atasan nya yang sudah jelas-jelas memberikan penderitaan tak berujung pada nya, namun jemari tangan nya seperti bergerak sendiri menelpon pria itu.


"Si-siapa kalian? Pencuri? A-aku tidak kaya, kalian salah rumah..." ucap Clara gemetar saat melihat ketiga pria bertubuh tegap dengan memakai penutup kepala berwarna hitam seperti pencuri.


"Dimana data nya?" tanya salah seorang pria tersebut.


Dugaan Louis benar jika gadis itu akan di ganggu karna perebutan dari perusahaan pulau Ghall grup. Maka dari itu sejak jauh hari sebelum semua kemalangan dan tragedy itu terjadi ia sudah menyuruh sekertaris nya untuk libur.


Karna gadis itu sekertaris utama nya tentu akan ada sebagian orang yang ingin merebut data dari gadis yang bekerja langsung dengan Presdir perusahaan besar tersebut.


"Ti-tidak tau!" jawab Clara langsung. Ia tau yang mereka inginkan adalah rahasia perusahaan.


Plak!


Satu tamparan mendarat kuat di pipi nya hingga membuat nya terjatuh ke lantai.


Satu pria lain pun menarik rambut nya dan menatap dengan tajam.


"Kalau begitu akan kami buat kau ingat!" ucap salah satu pria dan mulai memukul gadis itu dengan membabi buta dengan tangan kosong.


Ukh!


Ringis nya menahan sakit di wajah dan tubuh nya yang di pukuli dengan kuat.


"Sekarang sudah tau?" tanya pria tersebut sembari menarik rambut gadis itu dan membuat nya berdiri.


Tangan nya mengeluarkan pisau yang berada di saku nya dan mulai mengancam dengan senjata pada gadis itu.


Clara diam, ia melihat pria yang memakai topeng hitam itu dengan mata nya yang mengalirkan bulir bening dari rasa sakit nya. Entah kenapa walaupun ia merasa teramat takut namun sebuah pikiran dan suara lain terlintas di benak nya.


Apa aku harus nya mati saja? Apa aku harus membiarkan nya membunuh ku? Aku juga sudah tidak sanggup lagi...


Ia masih tak menjawab dan menutup mata nya, ia merasa lelah dengan semua masalah yang terjadi di hidup nya hingga membuat nya ingin semua segera berakhir.


"Kalau begitu kau mati sa-"


Prangg...


Satu vas bunga keramik yang melayang kuat di kepala pria itu membuat pria itu melepaskan tarikan rambut nya dan menjatuhkan gadis itu.


Kedua teman pria itu pun langsung melihat pada seseorang yang datang pada mereka.


"Sial!" ucap pria tersebut dengan kesal saat ia merasa kepala nya yang berdarah karna di pukul dengan vas.


"Kalau mau bermain-main dengan pisau dengan ku saja..." ucap Louis yang tersenyum sembari membuka jas nya dan melempar pada gadis yang sedang duduk ketakutan tersebut.


"Jangan lihat." ucap nya mengisyaratkan agar gadis itu menutup pandangan nya dengan jas yang ia lempar.


"Kalian memukul nya? Cuma aku yang boleh yang menyiksa nya!" ucap Louis kesal sembari menatap tajam ke arah para pria tersebut.


"Ck! Siapa kau? Berani sekali ikut campur!" ucap pria tersebut karna tak mengetahui wajah atasan gadis itu dan hanya di perintahkan untuk mengambil informasi dari gadis manis itu.


"Aku? Pernah dengar Thanatos? Aku akan membawa mu dengan damai..." jawab Louis dengan smirk yang sulit di artikan.


NB KET : Thanatos, Dewa kematian dari mitologi Yunani yang membawa kematian dengan damai.


"Dasar gila!" ucap nya sembari ingin menancapkan pisau ke pria tersebut.


Grab!


Bugh!


Louis menahan pisau nya dengan memegang tangan pria itu lalu memutar nya dengan kuat hingga tangan pria itu seakan terkilir dan mulai menjatuhkan pisau nya.


Pria tampan itu pun langsung mengambil nya dan berbalik menancapkan pisau ke perut pria itu.


Bau anyir darah mulai tercium dan jatuh, namun itu masih belum cukup, ia semakin menancapkan nya dan memutar pisau nya 360° agar dapat membuat organ pria bertopeng itu rusak serta pendarahan hebat.


"Membawa mu dengan damai menggunakan cara ku!" ucap Louis pelan pada pria yang semakin ia putar pisau di perut tersebut.


Karna posisi nya yang seperti memeluk tersebut membuat kedua teman pria bertopeng itu mengira jika Louis lah yang tertusuk tanpa tau siapa yang sedang meregang nyawa.


Berani sekali menyentuh milik ku! Yang boleh menyakiti atau membunuh nya hanya aku! Akan ku bawa kalian ke alam lain!



Elouis Steinfeld Rai



Clara Olivia