
JBS hospital.
"Kenapa kalian bisa sampai kayak begini sih?" tanya Louis saat melihat teman dan adik nya terluka.
"Kami gak tau...
Tadi waktu mau balik tiba-tiba ada yang dateng langsung mau mukul..." jawab Louise dengan nada bersalah saat melihat luka di tubuh teman nya, sedangkan ia sendiri tak terluka.
"Kau juga tes sana! Nanti kenapa-kenapa lagi..." ucap Louis pada adik nya.
"Eh? Aku baik-baik aja kak! Serius!" sanggah Louise langsung, ia tak mau tes narkotika nya di ketahui oleh sang kakak.
"Mana tau kalau belum di periksa? Kalau ada yang luka gimana?" tanya Louis sembari memegang kedua sisi pundak adik nya dan menelisik dengan khawatir.
"Gak ada kakak ku yang paling baik..." rayu gadis itu agar tak menjalani tes.
"Bagian pergelangan tangan kanan memilik pergeseran sendi sedikit, saya harap anda tidak bekerja keras dengan tangan kanan lebih dahulu untuk 2-3 minggu terakhir." ucap Dokter setelah merawat Zayn.
"Geser? Dia kan pelukis?! Dasar preman sialan!" maki gadis itu sembari meraih tangan teman nya.
"Louis...
Sudah dapat orang nya?" tanya Zayn pada teman nya sembari mengalihkan wajah merah nya ketika melihat gadis cantik itu yang sedang memperhatikan nya.
"Ada 12 orang, yang bisa ku tangkap baru 9 orang, 3 orang lagi masih kabur aku akan segera mencari mereka." jawab Louis pada teman nya.
"Kau membuat masalah? Mereka bilang mereka hanya menargetkan mu. Dan lagi orang menargetkan mu mereka bilang tidak tau karna bos mereka yang menerima pesanan sedangkan mereka hanya pesuruh." sambung Louis pada Zayn.
"Ckk, Bos sialan! Udah gini aja kabur!" decak Louise kesal.
"Aku? Aku tak merasa menyinggung siapapun..." jawab Zayn bingung saat Louis mengatakan jika dirinya lah yang menjadi target.
Drrttt...drrttt...drrttt...
Ponsel gadis itu bergetar saat salah satu panggilan masuk pada nya. Louise pun yang melihat nama yang sedang memanggil nya langsung mematikan.
"Sial! Mau apa dia telpon terus!" gumam Louise saat terus menerus mematikan ponsel ketika James terus memanggil nya.
"Siapa yang telpon?" tanya Louis pada adik nya saat ponsel gadis nakal itu terus menerus berdering.
"Bukan siapa-siapa..." jawab Louise dan langsung menonaktifkan ponsel nya.
......................
Louis pun yang sedang menanyai para preman yang ia tangkap tadi siang dan mengurung nya di ruangan lain yang masih berada di ruang Visi.
"Siapa yang menyuruh mu?" tanya Louis pada para preman yang berlutut dengan wajah yang babak belur dan terluka parah.
"Maaf kan kami...
Kami hanya menerima perintah saja..." ucap para preman itu lirih sembari terus memohon pada pria di hadapan nya.
"Kalau begitu siapa?" tanya Louis dengan semakin kesal karna hanya itu jawaban yang di berikan para preman itu dari tadi sore.
"Atasan kami yang mengetahui nya...
Kami tak tau apapun..." jawab salah satu preman Louis pun semakin kesal dan mulai memerintahkan hal yang harus di lakukan.
"Potong lidah mereka dan ambil mata nya, setelah itu bakar sampai jadi abu!" perintah Louis sembari keluar dari ruangan itu pada para pengawal nya. Ia tak pernah mau ada siapapun yang menyakiti adik nya.
Clara yang berada di ruangan itu cukup terkejut dengan perintah atasan nya.
"Presdir, bukan kah lebih baik kita menghubungi polisi saja?" tanya Clara lirih, ia takut akan perintah mengerikan itu.
"Mereka menyakiti adik ku! Kau mau aku membiarkan mereka lolos dengan mudah?! Jangan ikut campur dan lakukan saja apa yang ku katakan!" jawab Louis sembari semakin berlalu meninggalkan gadis itu yang terkejut.
......................
3 hari kemudian.
JBS Hospital.
"Hari ini apa saja jadwal ku?" tanya Louis pada Clara yang sedang memegang I pad di tangan nya.
"Hari ini ada pertemuan dari presdir J one grup di lapangan golf, kemungkinan ia ingin kita mengikuti nya olahraga juga." jawab Clara pada atasan nya.
Louis menghela nafas dengan kasar, masalah yang terus menghampiri adik nakal nya, benar-benar menjadi pikiran pada nya belum lagi yang ternyata menjalankan bisnis tak semudah kelihatan nya.
"Atur jadwal nya, kita akan segera kesana." jawab Louis pada sekretaris nya.
..
Lapangan Golf.
Louis dan juga Clara sudah berganti pakaian dengan menyesuaikan situasi dan tempat dimana mereka berada.
Louis pun melirik ke arah sekretaris yang mengenakan rok pendek dan atasan tangan panjang yang membentuk tubuh nya.
"Siapa yang mau kau goda? Hm?" tuduh Louis pada gadis manis itu.
"Aku hanya memakai yang di sediakan dari tempat ini." jawab Clara singkat, karna memang rata-rata seperti itu pakaian para wanita yang memainkan golf disana.
"Ckk, Murahan!" decak Louis yang tak senang dan langsung pergi.
Ia merasa tak suka jika gadis itu memberikan sepercik keindahan tubuh nya ke mata orang lain.
"Presdir Louis terlalu repot menemuiku..." ucap Presdir Jhon pendiri dari J one grup.
Pria paruh baya itu terus saja mencuri pandang ke arah gadis manis yang berada di samping Presdir generasi kedua dari JBS grup.
"Tidak apa-apa...
Anggap saja ini seperti pertemuan bisnis sembari melihat pemandangan." jawab Louis yang masih terap berkharisma pada Presdir Jhon.
Setelah berbincang masalah bisnis beberapa kali dan mulai mengakhiri pembicaraan nya, Presdir Jhon pun kembali menatap ke arah gadis manis itu lagi.
"Sekretaris Clara tau cara bermain golf?" tanya Presdir Jhon dengan senyum menyimpan maksud lain pada nya.
Clara pun tersenyum kaku menjawab pertanyaan pria paruh baya pendiri J one grup itu.
"Saya tak terlalu pandai Presdir." jawab Clara dengan senyum kikuk nya.
"Mau ku ajarkan sekarang? Presdir Louis tak apa kan? Jika sekretaris nya belajar bermain golf?" tanya Presdir Jhon pada Louis.
Pria itu awalnya enggan namun ia tau, jika ia perlu kerja sama antara kedua grup perusahaan tersebut.
"Tentu saja." jawab Louis mengiyakan.
Clara pun tersenyum getir mendengar hal itu, ia sebenarnya enggan karna tatapan mata yang seperti sedang memburu nya sedari tadi, namun saat atasan nya mengatakan Tentu saja itu sudah seperti perintah tak langsung agar ia tak bisa menolak permintaan pria tua itu.
"Baik...
Ajari saya dengan baik..." jawab Clara sebisa mungkin dengan senyum profesional nya.
Ia kemudian mengambil tongkat dan berjalan ke arah bola yang hendak di pukul.
"Tentu saja hehehe...
Stik golf nya di pegang seperti ini..
Lalu mulai diayunkan..." ucap Presdir Jhon dengan suara mesum nya sembari berusaha memeluk perut ramping gadis itu dari belakang dan menyentuh serta mengelus lengan nya saat ia berpura-pura mengajari gadis manis itu.
Clara pun sontak menjadi risih dan tak memukul bola nya, ia langsung berusaha menepis dan menghindar.
"Kau mau main dengan ku? Aku tertarik dengan mu...
Aku akan memberi bayaran 5 kali lipat nanti." bisik Presdir Jhon di telinga gadis itu sembari mer*mas bokong Clara perlahan.
Mata Clara sontak terbelalak dan langsung menepis tangan yang menyentuh nya.
"Maaf saya tak bisa!" jawab Clara ketus dan langsung berbalik berjalan ke arah Presdir nya lagi.
Louis pun yang melihat hal itu mengepalkan tangan nya dengan kuat, ia merasa marah sekaligus kesal saat melihat pria tua itu menyentuh gadis milik nya.
"Kami kembali, sepertinya sekretaris saya kurang sehat hari ini." ucap Louis pada Presdir Jhon dan langsung menarik kasar tangan gadis itu.
"Sakit! Lepas! Aku bisa berjalan sendiri!" ucap Clara saat tangan nya seperti ditarik paksa.
Louis hanya diam dan membawa gadis itu keruang ganti milik nya.
Buak!
Louis pun yang belum selesai melihat gadis itu meringis langsung memegang kedua tangan gadis itu dengan satu tangan kekar nya dan meletakkan nya ke atas kepala Clara.
"Ini alasan mu makanya pakai baju terbuka? Iya?! Mau cari mesin ATM dengan tubuh mu?!" tanya Louis marah pada gadis itu sembari mencengkram rahang kecil wanita di hadapan nya dengan satu tangan kekar nya yang lain.
"Bukan nya kau yang seperti menyuruhku? Kenapa selalu menyalahkan ku?" tanya Clara yang tak habis pikir.
"Lalu kalau aku menyuruh mu tidur dengan nya, kau akan lakukan?!" tanya Louis marah.
"Itu sama saja kau menjual ku!" jawab Clara yang dengan suara bergetar karna ia mulai merasa takut.
"Kau tak jawab!!!" bentak Louis pada gadis itu dan seketika membuat Clara benar-benar gemetar.
"Auch! Lepas! Sakit!" ringis Clara yang seketika memberontak saat pria di hadapan nya tiba-tiba mer*mas dada nya dengan kuat.
"Jalang! Murahan!" maki Louis yang merasa kesal dan langsung mengentikan tangan namun turun ke bagian privasi gadis itu.
"Sa-sakit! Lepas...
Maaf..." ringis gadis itu lagi dan mulai menangis saat tangan atasan nya memaksa bergerak di bagian intinya tanpa ia mau sama sekali.
"Ini hukuman untuk wanita murahan seperti mu!" bisik Louis yang semakin memegang erat kedua tangan gadis itu dan tak menghentikan jemarinya sama sekali.
"Lepas! Aku tidak murahan!" ucap Clara sembari menahan ngilu dan perih bersamaan, air mata nya mulai menetes di tengah tubuh nya yang tetus berusaha memberontak.
Louis pun tersenyum simpul saat melihat gadis itu menahan sakit akibat ulah nya.
"Kau mau menangis? Kalau kau menangis akan ku pastikan aku lakukan yang lebih dari ini!" ancam Louis pada gadis malang itu.
Clara tersentak dan berusaha menahan suara tangis nya, ia mengigit bibir nya agar tak menangis dan menahan sakit dan ngilu di bagian inti nya.
Louis pun semakin tersenyum dan mulai memangut bibir wanita di hadapan nya, ia tak bisa menahan untuk tak mencium gadis itu saat melihat bibir candu di hadapan di gigit dengan sendirinya saat Clara menahan sakit.
Humpphh...
Clara menahan tangis nya dalam bisuan ciuman yang dilakukan atasanya, ia berusaha memberontak namun tubuh nya terkunci tanpa bisa melawan tenaga kuat dari pria kekar itu.
......................
Kediaman Rai.
Kesokan harinya.
Gadis itu tengah bersiap dengan konser nya ia memilih gaun berwarna biru muda yang menunjukkan bentuk tubuh cantik nya namun tertutup.
"Louis...
Aku nanti keluar sebentar yah..." ucap Louise yang ingin menggunakan mobil berbeda dengan kakak nya saat menuju ke gedung nya.
Tubuh nya sudah mulai merasa aneh karna membutuhkan obat terlarang itu lagi.
"Kenapa? Kau mau kemana? Bukan nya perlu latihan sebelum konser mu nanti malam?" tanya Louis pada adik nya.
"Mau ke rumah teman ku sebentar...
Aku pergi dulu yah..." ucap gadis itu dan berlalu meninggalkan sang kakak.
......................
Mall.
Louise pun menuju ke arah mall untuk menemui pria yang ia tak sukai itu, gadis itu tak mau menemui langsung ke rumah nya dan memilih bertemu di tempat yang ia tentukan.
"Ini yang terakhir kali aku mengikuti kemauan mu." ucap James yang menuruti permintaan gadis itu untuk bertemu di mall.
"Mana obat nya! Berikan setengah saja!" ucap Louise yang langsung meminta obat tersebut namun hanya setengah agar bisa membuat dirinya perlahan berhenti.
"Kalau kau mau ikut ke mansion ku! Kalau tidak aku tak mau memberikan nya." jawab James sembari menunjukkan seringai nya, ia sudah benar-benar membuat gadis nakal di hadapan nya menjadi pecandu yang harus terus memerlukan nya.
Louise terdiam beberapa saat ia sangat tak ingin pergi ke tempat itu lagi.
"Apa tak bisa disini saja?" tanya Louise yang tetap kukuh tak mau ke mansion pria di hadapan nya.
"Tidak! Kalau kau mau harus ikut dengan ku! Kalau tidak yasudah!" gertak James sekali lagi dan ingin beranjak pergi.
"Tunggu! Iya aku ikut!" jawab Louise dan langsung memegang tangan James secara spontan saat pria itu ingin pergi.
"Bagus...
Jadilah pacar yang patuh..." bisik nya dengan seringai kemenangan di wajah nya.
Louise hanya diam dan mendengus kesal namun tak ada yang bisa ia lakukan sampai ia mendapatkan kembali narkotika itu.
......................
Mansion Dachinko.
James pun langsung membawa gadis itu ke kamar tempat ia berulang kali ingin bermain bersama disana.
"Kenapa ke kamar? Kenapa tak luar ruangan saja?" tanya Louise yang enggan saat ia di bawa ke kamar itu lagi.
"Selama kita bermain kau akan disini...
Apapun permainan itu. Termasuk memberikan mu obat." jawab James enteng dan menarik gadis itu untuk segera masuk ke dalam kamar milik nya.
"Selama kita bermain? Lalu sebenarnya kau tidak tidur disini kan?" tanya Louise yang menyadari perkataan pria di hadapan nya.
"Memang tidak! Aku hanya melakukan s*x tapi tidak tidur dengan wanita." jawab James frontal sembari menarik spuit yang berisi narkotika.
Ia memang tak pernah membiarkan dirinya sampai tertidur atau terlelap dengan para wanita yang menjadi penghibur nya, ia hanya menyalurkan hasrat nya dan setelah itu kembali ke kamar milik nya.
"Lalu kau juga lakukan dengan wanita lain disini?" tanya Louise dengan memasang seolah-olah ia jijik dengan tempat tersebut.
"Hm..." jawab James singkat.
"Ganti kamar nya! Aku tak mau disini! Menjijikan! Kau memperlakukan ku sama dengan pel*cur?!" ucap Louise kesal dan berlalu ingin keluar.
"Sudah ku bilang aku tak suka di bantah dan tak suka pembangkang kan?" tanya James kepada Louise dan mencegah tangan gadis itu.
"Aku juga sudah bilang aku tak mengikuti perintah siapapun kan?" jawab Louise dengan tanpa rasa takut dan menepis tangan pria itu.
"Ukh!" pekik gadis itu saat rambut nya tertarik dengan kuat dari belakang. Ia pun langsung berbalik menatap pria yang sedang terlihat marah itu.
"Kau mau aku benar-benar memperlakukan mu seperti jalang? Hm?" tanya James dengan tatapan tajam pada gadis itu, ia benar-benar tak suka pembangkang.
"Lalu kau mau jadi gigolo? Hm?" jawab Louise dengan sudut bibir yang mulai membalas perkataan pria tampan itu.
Ia tak mau menunjukkan rasa takut nya seperti yang di inginkan oleh James.
BUK!!!
James pun langsung menarik rambut panjang itu dan membanting ke atas ranjang.
"Seperti nya kau perlu di berikan hukuman agar menjadi lebih patuh!" ucap James sembari mengeraskan rahang nya menahan emosi pada gadis yang terlalu sering berbuat lancang padanya.
"A-apa yang mau kau lakukan?" tanya Louise terkejut saat pria di hadapan nya mulai menindih tubuh nya.
......................
Sementara itu di tempat lain.
Buak! Buk!
"To-tolong biarkan aku pergi..." mohon pria paruh baya itu pada pria bertopeng di hadapan nya.
"Tentu saja setelah tangan mu putus!" jawab pria di hadapan nya.
"Jangan...
AKKHH!!!" jerit nya dengan penuh kesakitan saat wajah nya di gerus dengan kertas kasar hingga terluka.
Crass...
"AKKHHH!!!
TANGAN KU!!!" teriak pria paruh baya tersebut saat tangan nya terpotong dengan kampak kecil dan membuat tempat itu seketika memilik anyir darah yang tercium jelas.
Pria bertopeng itu mulai menyeringai dan memotong bagian-bagian kecil jari jari tangan pria paruh baya itu agar tangan nya tak lagi bisa di sambung.
"Itu balasan untuk mu, karna menyentuh apa yang bukan milik mu!" ucap pria bertopeng tersebut dan beranjak pergi