
"Wih...
Kakak nya ganteng yah..." ucap Alyss saat melihat wajah Hazel yang masih tak sadarkan diri saat Aegyt yang membawanya keruang rahasia.
"Kenapa? Kau mau yang membunuh nya?" tanya Aegyt saat melihat Alyss yang terus memperhatikan wajah anak lelaki yang baru ia bawa.
Alyss terdiam ia sangat takut menjawab pertanyaan Aegyt, bahkan selama 7 hari terakhir ia tak berani mengatakan "Ingin pulang" pada Aegyt karna jika Aegyt mendengar kata itu ia akan langsung menampar Alyss dan memukuli gadis kecil itu.
"Kau mau ini?" tanya Aegyt seraya memberikan boneka pada Alyss yang masih terdiam mematung.
"Boneka? Boneka nya buat Ellie?" tanya Alyss dan langsung mengambil boneka barbie besar yang cantik tersebut.
"Iya...
Hadiah, jika kau menuruti perkataan paman, paman akan memberi mu hadiah, jika membangkang akan paman hukum. Mengerti?" ucap Aegyt sembari mengusap puncak kepala Alyss.
Alyss mengangguk sembari mengusap rambut boneka nya.
......................
Dikamar Aegyt.
"Paman...
Paman mau juga ga main boneka sama Ellie?" tanya Alyss saat Aegyt memberikan nya obat ke tubuh kecil nya karna penuh dengan memar yang ia buat saat ia memukuli tubuh gadis kecil karna tak mengikuti keinginan nya.
"Boleh, kalau kau bisa penurut..." jawab Aegyt.
Alyss tetaplah anak 6 tahun yang hanya memikirkan bermain saat ia merasa aman dan takut serta menangis saat ia merasa terancam.
"Paman...
Kakak ganteng yang di luang balik lak buku, mau paman potong juga?" tanya Alyss sembari menyisir rambut boneka baru nya. Setelah ia tinggal selama 8 hari lama nya, Aegyt selalu membuat nya melihat saat ia memutilasi korbannya.
"Kenapa? Kau suka padanya?" tanya Aegyt sembari memasangkan pakaian Alyss lagi saat ia sudah memberinya obat.
Jujur saja ia sangat tertarik pada Alyss kecil padahal sebelumnya ia tak pernah tertarik dengan orang lain dan ia pun tertarik pada Alyss kecil karna melihat cara Alyss yang membunuh kelinci dengan begitu sadis hanya karna alasan "Kesal".
Membuat ingin menjadikan Alyss sebagai patner dan melatih Alyss agar menjadi sama dengan nya, maka dari itu ia sudah membeli beberapa barang yang di butuhkan anak 6 tahun dari mulai pakaian hingga mainan.
"Ellie kan cuma tanya..." jawab Alyss lirih karna ia takut jika Aegyt memberinya tugas untuk membunuh lagi.
Aegyt pun membalik tubuh gadis kecil agar melihat kearahnya.
"Kau cepatlah dewasa, dan aku akan mengajari mu yang hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa." ucap Aegyt sembari memegang pipi imut Alyss.
"Dewasa? Dewasa itu apa?" tanya Alyss polos yang tak mengerti ucapan Aegyt.
"Menjadi tubuh besar." jawab Aegyt yang masih saja menjawab pertanyaan polos Alyss.
"Ellie kan dah besal, tiap hari selalu minum susu." jawab Alyss polos pada Aegyt.
"Iya, tapi kau masih tak bisa melakukan "Hal" itu kan? Kau masih terlalu kecil..." ucap Aegyt sembari mata nya menelisik ke tubuh kecil Alyss.
"Hal apa paman?" tanya Alyss bingung dengan mata yang penuh penasaran.
Aegyt hanya tertawa kecil melihat anak enam tahun yang terlihat bingung di hadapannya.
"Kau sudah memotong jari nya?" tanya Aegyt mengganti topik pembicaraan pada Alyss.
"Sudah...
Tapi paman itu kasihan...
Dia menjerit....
Ellie takut..." jawab Alyss lirih ketika mengingat saat ia memotong jari kelingking pria berusia 30 tahun yang merupakan korban tahanan Aegyt.
"Kasihan? Sudah ku bilang kau tak perlu merasa kasihan! Dia itu namanya "Mangsa"! Jika kau tak memotong jarinya aku akan menghukum mu! Anggap dia seperti kelinci kau bunuh malam itu! Mengerti!" ucap Aegyt seraya mencengkram bahu mungil Alyss dengan kuat hingga membuat gadis kecil itu meringis.
"Paman sakit...
Maaf...." jawab Alyss mulai menangis karna takut dan juga merasakan sakit di bahunya.
"Sekarang ku tanya lagi, kau masih merasa kasihan?" tanya Aegyt lagi dengan nada penuh penekanan pada Alyss yang sudah semakin menangis.
"Tidak...
Ellie ga kasihan.... Huhu...
Paman maaf.... Ampun.... Hiks..." ucap Alyss yang sudah menangis segugukan sembari menyatukan kedua telapak tangan nya memohon pada orang yang panggil paman tersebut.
Aegyt pun melepaskan tangan nya dan melihat bekas biru yang baru di bahu mungil Alyss.
......................
Skip time.
Seperti biasa saat siang hari Aegyt selalu pergi keluar untuk membaur di masyarakat dan menjalankan pekerjaannya sebagai polisi.
Alyss pun mulai melangkah kan kaki nya ke ruang rahasia yang berada di balik lemari buku di villa tersebut.
Di dalam ruang rahasia itu terdapat ruang lain sebagai tempat kurung para "cadangan" yang berarti ruangan tunggu bagi korban selanjutnya. Dan saat ini di ruangan tersebut sedang terisi oleh Hazel.
Setelah Aegyt menculik mangsa baru nya dan ketahuan oleh Hazel yang membuat nya menculik 2 orang sekaligus. Ia pun saat ini menyiksa mangsa baru nya dan setelah setelah mangsa itu mati maka giliran Hazel yang akan menjadi mangsa selanjutnya.
"Sial! Ruang apa sih ini?" ucap Hazel kesal karna melihat ruangan kosong yang hanya sepetak dan tak memiliki jendela tersebut. Saat ia sudah tersadar ia berusaha melarikan diri sebisa mungkin tapi tetap saja sia-sia karna ruangan tersebut benar-benar tak memiliki jalan keluar.
Cklek...
Suara pintu pun terbuka membuat Hazel melihat kearah pintu tersebut, bukannya melihat pria yang memasukkan manusia ke karung dan memukul kepala nya semalam ia malah melihat seorang anak perempuan kecil yang sedang membawa boneka dan cupcake kecil di tangan nya.
"Kenapa ada anak-anak disini?" ucap Hazel heran saat melihat ke arah Alyss, ia pun langsung menghampiri ke arah Alyss.
"Kakak mau ini?" tanya Alyss sembari memberikan cupcake yang ia pegang.
"Kenapa kau bisa disini? Kau juga di culik?" tanya Hazel saat menghampiri Alyss dan tak menghiraukan tawaran Alyss yang memberinya cupcake.
"Culik? Culik itu apa kak?" tanya Alyss polos yang bingung mendengar ucapan Hazel.
Hazel pun melihat bingung kearah Alyss dan melihat bekas memar serta bekas pukulan di tubuh gadis kecil itu.
"Kau juga di bawa paksa kesini yah? Ayo kita cari jalan keluar!" ucap Hazel sembari menarik tangan mungil Alyss karna ia segara ingin membawa Alyss kabur.
"Tolong Aku!!!" ucap sandra yang lain yang sedang di dalam kandang yang kondisi yang mengenaskan.
Sontak saja hal itu membuat Hazel kaget setengah mati karna melihat seorang wanita setengah baya yang sudah kehilangan telinganya serta semua kuku di jari-jarinya.
"Wuahh!!!
Di-dia..." ucap Hazel yang takut saat melhat wanita tersebut.
"Mangsa...
Hazel pun melihat kearah Alyss dengan tatapan bingung, bagaimana anak sekecil itu bisa menyebut manusia sebagai "Mangsa"
"Mangsa? Apa maksud mu? Ini gila! Kita harus pergi dari sini!" ucap Hazel " Dimana kuncinya" sambung Hazel lagi sembari mencari kunci untuk membebaskan si ibu tersebut dari kandang.
"Kak jangan....
Nanti paman marah....
Nanti mangsa nya di potong-potong sama paman kalau ketahuan...
Terus Ellie dihukum...." ucap Alyss sembari memegang tangan Hazel untuk mencegah nya membebaskan wanita yang sedang di kurung dikandang tersebut.
Hazel mengernyitkan dahinya dengan bingung apa yang sudah terjadi pada anak yang di hadapannya hingga ia terlihat langsung menangis gemetar saat tau dirinya ingin membebaskan si ibu tersebut.
"Dik....
Tolong...
Tolong saya...
Tolong bantu lepaskan saya dik, saya mohon..." ucap si ibu pada Hazel yang mulai merasa bingung.
"Kau tau jalan keluar?" tanya Hazel pada Alyss yang masih menangis.
"Semua nya di tutup terus di kunci sama paman..." jawab Alyss pada Hazel.
"Gak papa kita cari jalan keluar! Dimana kunci nya?" ucap Hazel dan kembali menanyakan kunci kandang yang sedang membuat wanita tersebut terkurung.
"Wah wah...
Ada apa ini? Kau berusaha melepaskan mangsa ku lagi?" tanya Aegyt sembari menatap tajam kearah Alyss.
Ini memang belum jam nya dia kembali, namun Aegyt tak sabar memberikan coklat kesukaan Alyss sehingga membuatnya kembali di jam istirahatnya, sesampainya ia dirumah ia pun tak melihat keberadaan Alyss sama sekali dan membuatnya mencari Alyss di ruang rahasianya.
Alyss seketika diam mematung, tubuhnya langsung gemetar melihat kearah Aegyt.
Hazel pun langsung menarik Alyss dan menyembunyikan tubuh kecil Alyss yang ketakutan di balik tubuh nya.
"Kau gila!! Kenapa mengurung kami?! Kau mau uang?! Aku bisa memberikan nya sebanyak yang kau inginkan! Tapi Lepaskan kami!!" ucap Hazel pada Aegyt.
Sedangkan Alyss yang terus menangis ketakutan dan mengintip di balik pinggang Hazel melihat Aegyt.
"HAHHAHAH
Uang? Sepertinya kau anak orang kaya...
Tapi sayang...
Aku tak mau uang! Aku mau bersenang-senang!" ucap Aegyt yang tertawa keras dan mengubah ekspresinya dalam sekejap melihat ke arah Hazel yang mulai terlihat takut.
"Kau akan tetap bersembunyi di balik nya? Kesini! Mau paman hukum?!" ucap Aegyt pada Alyss yang sedang menangis dan bersembunyi di balik tubuh Hazel.
"Jangan gila! Dia masih anak-anak! Apa yang mau kau lakukan pada anak-anak?!" ucap Hazel sembari terus menyembunyikan Alyss di balik tubuh nya.
"Ckk, aku paling benci melihat orang suka ikut campur sepertimu!" ucap Aegyt pada Hazel.
Ia pun langsung mendekati Alyss dan Hazel kecil lalu berusaha mengambil Alyss dengan paksa dari Hazel yang terus saja berusaha menghalangi nya.
Aegyt pun semakin geram dan akhirnya berusaha memukuli Hazel dengan tongkat besi tumpul di ruangan tersebut. Hazel pun langsung memeluk Alyss yang semakin menangis ketakutan agar tubuh gadis kecil tersebut tak terkena pukulan apapun dari Aegyt.
Sakit....
Tentu saja sakit saat tongkat besi tersebut menghantam punggung nya membabi buta belum lagi luka di kepala nya yang belum sembuh dan belum diobati sama sekali.
Namun Hazel yang tubuh nya sudah terlatih sebagai samsak pukulan karna selalu mendapatkan kekerasan dari ayah nya sejak kecil dan sudah terbiasa di pukul menjadikan tubuh nya lebih kuat dalam menahan sakit.
Aneh bukan? Jika seseorang merasa pukulan dan kekerasan sebagai hal yang "Biasa" karna ia selalu mendapatkan nya sejak kecil dan itulah yang terjadi pada anak lelaki berusia 12 tahun itu.
"Ssttt...
Sudah... sudah jangan menangis...
Nanti kita cari jalan keluar...." bisik Hazel sembari menahan sakit dan terus memeluk tubuh kecil Alyss yang semakin meraung saat pukulan Aegyt terus menghantam tubuh orang yang sedang melindunginya sekarang.
"Hah... hah...
BUAHHHHAHAHH...
Kau cukup menarik juga yah? Tidak meringis sama sekali saat dipukuli!" ucap Aegyt yang tertawa melihat Hazel yang terus saja duduk membungkuk sembari memeluk Alyss kecil.
"Tapi aku akan berikan contoh apa yang terjadi jika berani melawan ku!" ucap Aegyt pada Hazel yang menghapus noda darah di hidung nya karna mimisan beberapa kali saat mendapat pukulan dari Aegyt.
Sebenarnya Hazel bisa saja menghindari pukulan tersebut namun jika dia menghindar pasti Alyss kecil yang akan terkena pukulan tersebut, dan dia tak tega jika anak kecil yang sudah penuh dengan luka tersebut harus mendapat pukulan lagi.
"Orang gila!" maki Hazel sembari menatap tajam melihat ke arah Aegyt.
"Kau benar-benar ingin mati yah?" tanya Aegyt pada Hazel yang semakin memeluk Alyss kecil yang sedang menangis.
"Ingin mati dengan tak takut mati itu beda! Kau ini selain gila juga bodoh yah?!" jawab Hazel tentu saja ia tak ingin mati, karna siapa yang ingin mati? Namun dia harus memiliki cara untuk bertahan hidup yang membuatnya terlihat tak takut mati.
Aegyt semakin geram, terlihat dari wajahnya yang semakin merah karna geram melihat Hazel.
"Baik! Akan ku perlihatkan apa yang akan terjadi pada mu nanti nya!" ucap Aegyt sembari mulai membuka kandang dan menyiksa wanita yang berada di dalam kandang tersebut.
Ia pun mulai memotong seluruh kaki dan tangan wanita tersebut dengan kampak dan membuat wanita tersebut menjerit kesakitan.
Aroma darah pun memenuhi ruangan itu lagi, Alyss semakin gemetar saat mendengar suara jeritan dari korban Aegyt dan Hazel yang semakin menutup telinga Alyss dan menenggelamkan wajah Alyss agar tak melihat pemandangan mengerikan itu.
Setelah memotong dan memutilasi kaki dan tangan mangsa nya Aegyt pun kembali memasukkan wanita tersebut kekandang, ia memang suka menyiksa satu orang selama beberapa hari sebelum membunuh nya.
"Kau masih mau dengan bocah ingusan itu?" tanya Aegyt sembari melihat ke arah Alyss yang masih menangis di pelukan Hazel.
Alyss pun melihat kearah Aegyt dan semakin takut saat melihat tubuh Aegyt yang penuh dengan darah, Alyss pun kembali memeluk kearah Hazel.
"Ckk, yasudah kalau begitu kau tinggal juga disini dengan nya!" ucap Aegyt pada Alyss.
Aegyt pun berusaha memasukkan Hazel dan juga Alyss kedalam ruangan cadangan lagi. Hazel pun memberi perlawanan dan menyerang balik ke arah Aegyt.
"Dasar bocah sialan! Sudah di pukuli pun masih memilki banyak tenaga!" ucap Aegyt yang semakin geram ia pun langsung mengambil balok kayu dan kembali memukul Hazel.
...**************...
Besok othor usahain up 3 bab yah....
(Semoga ajj review nya gak lama biar bisa up 3 sekaligus hihi)
Maaf agak lama soalnya othor sekalian nyambi nugas juga wkwkwk😅😅
Jangan lupa like komen, vote, fav dan rate 5 serta dukungan buat othor🥰🥰🥰
Happy reading❤️❤️❤️