
Cafetaria.
Pria dengan wajah lembut itu menunggu kekasih nya sembari melihat ke arah cake yang sudah ia pesan lebih dahulu.
Senyum nya selalu merekah saat ia kan bertemu dengan gadis yang sangat ia sukai, bahkan ia sudah memikirkan untuk jenjang pernikahan pada gadis itu.
"Reno? Sudah lama yah?" tanya Clara saat ia baru memasuki dan melihat pria itu.
"Tidak terlalu lama...
Aku sudah pesan cake kesukaan mu..." jawab Reno tersenyum pada gadis itu dengan lembut.
Clara pun meminum sedikit latte yang sudah di pesan kan pria yang masih menjadi kekasih nya.
Ia menarik nafas panjang sebelum mengatakan tujuan nya ingin bertemu.
"Reno...
Kurasa kita kurang cocok...
Apa sebaik nya kita pu-"
"Aku melakukan kesalahan yah? Ada yang tidak kau sukai dari ku?" potong Reno langsung saat mendengar kalimat Kurasa kita kurang cocok.
"Bukan! Bukan begitu!" jawab Clara cepat.
"Lalu?" tanya Reno dengan wajah sendu dan membuat Clara tidak tega mengatakan putus.
Apa aku harus membuat nya jengkel dengan ku saja?
Batin gadis manis itu saat melihat wajah sendu dari kekasih nya.
"Bukan kau yang melakukan kesalahan...
Tapi kurasa aku yang bermasalah..." ucap Clara lirih berusaha mencari alasan yang tepat agar tak terlalu menyakiti pria baik itu.
"Maksud nya?" tanya Reno dengan bingung.
"Aku...
Aku tak suka gaya berpakaian, model rambut, parfum, mobil yang kau gunakan, ponsel yang kau gunakan, Lalu...
Aku juga tidak suka nada dering ponsel mu..." ucap Clara yang membuat agar Reno jengkel dengan nya dan memutuskan lebih dulu.
Pria itu tak marah namun tersenyum lembut pada nya, Reno pun meraih tangan Clara dan mengusap telapak tangan kecil yang terasa halus itu.
"Baik aku akan merubah nya, kau suka yang seperti apa? Hm?" tanya Reno dengan tatapan tulus pada gadis itu.
Deg...
Clara tersentak, ia bingung harus bilang apa lagi saat pria di hadapan nya tak marah sama sekali dengan nya.
"Kau tak marah? Aku baru saja mengatur hampir seluruh hidup mu?" tanya Clara bingung.
"Hidup? Aku dulu bahkan berfikir untuk mengakhiri hidup ku..." jawab Reno dengan lirih hampir tak terdengar namun terlihat mata yang memancarkan nyawa yang terasa hampa.
"Reno?" panggil Clara pada pria itu saat ia tak begitu mendengar nya.
"Aku tak marah, aku...
Saat dengan mu seperti memiliki alasan untuk tetap bertahan, jadi aku baik-baik saja..." jawab Reno dengan wajah yang selalu menampilkan senyum lembut dan ramah nya walau tak ada tau hati nya yang sudah pernah hancur lebur sebelum nya.
Clara terdiam ia semakin merasa tidak tega untuk memutuskan Reno namun juga sangat takut akan kegilaan atasan nya saat tau ia berbohong.
"Kau mau aku berubah seperti apa?" tanya Reno lagi pada gadis itu saat Clara terdiam.
"Eh? A-aku mau..." ucap Clara bingung saat ia ditanya kembali, karna memang baginya tak ada yang salah dari gaya hidup pria itu.
"Kalau kau apa yang tidak kau sukai dari ku?" tanya Clara untuk mengalihkan pembicaraan.
"Suka semua...
Aku suka semua dari mu, aku juga bisa maafkan semua kesalahan mu kecuali perselingkuhan..." jawab Reno pada gadis itu.
Deg...
Bagaikan seperti pedang yang terhunus di dada gadis itu saat mendengar kata perselingkuhan karna ia memang seperti mencurangi kekasih nya dengan Presdir nya.
"I-iya..." jawab Clara kikuk.
"Kenapa wajah mu langsung berubah, aku yakin kau tak akan melakukan nya..." ucap Reno sembari mengusap puncak kepala gadis itu.
"Ren...
Kalau misal nya aku selingkuh atau punya hubungan dengan pria lain? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Clara lirih dan dengan nada yang takut.
"Kalau misal? Aku tak mau memikirkan hal yang belum terjadi, bagi ku itu sangat mengerikan, aku benar-benar tak mau membayangkan nya..." jawab Reno pada gadis itu, karna ia benar-benar tak ingin membayangkan hal itu.
"Kenapa kau sangat menyukai ku? Aku bukan wanita yang baik Ren..." ucap Clara pada Reno yang tak habis pikir.
"Bagi ku wanita yang baik..." ucap Reno pada gadis itu.
"Kau tau hari dimana kita pertama kali bertemu? Aku mau bunuh diri saat itu...
Menyusul ibu ku..." ucap nya dengan tersenyum pahit.
"Kenapa? Ibu mu juga pasti tak ingin hal itu terjadi pada mu!" ucap Clara yang sontak tak menyukai gagasan pria di depan nya.
"Aku mau membuktikan kalau pilihan nya salah, kalau aku tak baik-baik saja saat dia pergi..." jawab Reno pada gadis nya.
"Maksud nya?" tanya Clara lirih.
"Dia gantung diri...
Dan aku melihat nya..." jawab Reno dengan suara yang sangat lirih.
Clara terdiam ia bingung harus mengatakan apa, ia bahkan tak tau pria itu memiliki cerita nya sendiri.
"Setelah hari pemakaman nya, aku melihat ayah ku tidur dengan rekan kerja nya di kantor mereka...
Menjijikan bukan?" tanya Reno pada gadis itu.
Di usia nya yang masih sangat muda pria itu melihat sang ibu tergantung tak bernyawa di kamar kedua orang tua nya dengan hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan tak tahan dengan perselingkuhan yang sudah dilakukan sang ayah namun tak bisa bercerai.
Ayah Reno tak ingin menceraikan Ibu nya karna tak mau adanya pengurangan saham dan rencana gagal untuk kembali mendirikan cabang sekolah menengah, maka dari itu ia mengancam akan menjauhkan Reno dari nya dan memastikan hak asuh jatuh ke tangan nya dengan segala cara.
Reno bahkan melihat sendiri kelakukan menjijikan sang ayah saat makam ibu nya bahkan belum kering, hal itu yang membuat nya sangat sensitif dengan perselingkuhan dan pengkhianatan.
"Maaf..." ucap Clara lirih saat mendengar cerita yang di ceritakan kekasih nya.
"Maaf kenapa? Hm?" tanya Reno pada gadis itu.
"Aku minta maaf..." ucap Clara lirih dengan mata berkaca, memiliki hati yang lembut dan takut membuat orang lain terluka membuat nya selalu goyah dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Reno pun menangkup wajah gadis itu dan memeluk nya perlahan, ia memang sangat-sangat menyukai gadis nya sejak masa sekolah.
......................
Pameran seni.
Gadis itu melihat ke arah sahabat nya yang benar-benar terlihat serius menatap lukisan-lukisan di depan nya.
"Kau kan pandai melukis, kenapa perlu memperhatikan lukisan orang lain seperti itu?" tanya Louise pada teman nya.
"Untuk mencari di mana kekurangan lukisan ku, walaupun hanya lukisan mereka memiliki ciri khasnya tersendiri, jadi aku perlu memahami nya." jawab Zayn terlihat serius karna berada di bidang yang ia sukai.
"Ih! Kalau kau seperti ini jadi tidak seperti My baby Zayn lagi..." ucap Louise sembari mencubit pipi pria itu.
"Jadi aku sekarang seperti apa?"' tanya Zayn pada gadis itu sembari memimpali tangan Louise yang sedang memegang kedua pipi nya setelah mencubit nya.
"Jadi lebih dewasa..." jawab Louise tersenyum pada pria itu.
"Aku memang sudah dewasa Louise!" decak Zayn kesal dan melepaskan tangan gadis itu di pipi nya.
Louise hanya tertawa kecil, namun pria itu langsung memegang kembali tangan gadis cantik itu dan melihat wajah nya.
"Kau pucat? Sakit?" tanya Zayn sembari menatap lekat wajah Louise.
"Tidak apa-apa...
Perut ku sedikit kram saja..." jawab Louise pada sahabat nya.
Mereka pun berkeliling terlebih dahulu sebelum kembali pulang.
...
Sementara itu.
Mansion Dachinko.
James melihat postingan milik gadis yang selalu dapat mencari perhatian nya itu, hingga ibu jari nya berhenti di postingan yang menujukkan foto bersama dengan sahabat pria nya namun terlihat sangat dekat karna Zayn yang seperti mencium pipi gadis itu.
"Galeri seni?" gumam James saat melihat tempat gadis itu berada.
Ia pun langsung menelpon gadis nya segera. Setelah beberapa dering Louise baru mengangkat nya.
"Kau dimana?" tanya James begitu tersambung, walaupun ia sudah tau namun bibir tetap tergerak menanyakan hal itu.
"Lagi sibuk! Jangan telpon dulu!" jawab Louise yang masih kesal karna masalah kemarin.
Louise! setelah ini kita ke A'veanue yah.
Suara lain dari pria yang bersama gadis itu terdengar di telinga James saat menelpon nya.
Telinga nya memanas begitu juga dengan dirinya, ia langsung mematikan ponsel nya dan menghampiri gadis itu.
"Hotel?! Mereka mau ke hotel?!" gumam nya lirih dengan mata dan hawa membunuh yang kuat.
Nick saja yang baru ingin memberikan data dan laporan pekerjaan mereka tak jadi saat melihat emosi tuan nya yang mengembara pergi dengan tergesa-gesa.
...
Setelah James mematikan ponsel nya dengan tiba-tiba gadis itu mulai terlihat kesal. Mungkin istilah wanita tak pernah salah sedang datang padanya.
"Kenapa? Jadi kan? Kita makan siang...
Aku yang traktir!" ucap Zayn pada gadis itu.
Ia memang menyebut nama hotel namun bukan untuk memesan kamar melainkan makan di restoran mewah nya yang terdapat di hotel tersebut.
Namun kekasih gadis itu sudah berfikiran negatif dengan apa yang akan mereka lakukan di sana hingga tak bisa berfikir jernih jika mereka hanya makan siang.
......................
Hotel A'Veanue
Setelah sampai disana salah satu pegawai hotel menawarkan fasilitas baru yang berupa sauna yang menyediakan ruangan panas seperti oukup karna mengira kedua sahabat berbeda gender itu adalah sepasang kekasih.
Karna Louise yang menyetujui hal itu membuat membuat Zayn ikut setuju dan masuk ke ruang sauna nya.
"Sangat! Ini terlalu panas..." jawab Louise sembari menghapus keringat di dahi nya.
Baru lima menit kedua teman itu sudah tak tahan dengan uap panas yang mengelilingi mereka.
"Keluar saja yuk!" ajak Zayn yang memang tak suka panas.
"Nanti Zayn...
Kan biar ada keringat nya, jadi tidak perlu olahraga lagi..." jawab Louise yang walaupun juga sudah tak tahan karna kepanasan.
"Olahraga aja Louise! Nanti aku temenin kau yoga!" ucap Zayn sembari menarik tangan gadis itu keluar.
"Mau kemana? Belum satu jam!" ucap Louise pada teman nya.
"Satu jam?! Jadi es mencair kita disini! Makan saja, lapar!" ucap Zayn pada gadis cantik itu.
Setelah mengganti kembali dengan pakaian bersih mereka, Zayn pun membawa gadis itu makan di restoran yang berada di hotel tersebut.
"Zayn..." panggil Louise saat teman nya sedang memotong steik milik nya.
"Hm?" jawab Zayn sembari terus memotong bagian untuk teman nya itu.
"Maksud jangan kuat-kuat makan nya nanti tidak bisa jalan. Itu apa sih? Yang di bilang sama kakak pelayan hotel tadi..." tanya Louise saat pria itu menukar piring steik yang sudah di potong dengan steik nya yang belum.
Zayn pun diam terlebih dahulu dan mengingat salah satu pelayan hotel yang bertanya pada nya mau kemana saat ia keluar dengan tergesa-gesa sembari menarik tangan sahabat nya.
Saat itu menjawab menjawab dengan tegas "Makan!"
Dan membuat pegawai hotel mensalahtafsirkan sebagai kata "Makan" orang dewasa karna memang banyak pasangan yang setelah berada di ruang oukup memesan kamar untuk melanjutkan "Makan" mereka.
Maka dari itu pelayan hotel tersebut pun menganggap jika pasangan muda di depan nya masih sangat bersemangat hingga mengatakan.
"Jangan kuat-kuat makan nya nanti tidak bisa jalan."
"Tidak tau...
Mungkin supaya tidak tersedak! Kalau tersedak kan susah jalan!" jawab Zayn dengan polos yang juga tak mengerti sama sekali karna lingkup nya hanya dengan gadis cantik di depan nya saja.
"Ih baik sekali yah pelayan hotel nya, beda sama yang lain!" jawab Louise yang langsung percaya pada ucapan teman nya.
"Iya juga yah...
Tapi kau benar-benar tak baik-baik saja? Wajah mu makin pucat." ucap Zayn pada gadis itu.
"Cuma kram perut aja sih! Biasa juga nanti hilang sendiri." jawab Louise acuh karna ia memang sering merasakan sakit jika imun nya menurun atau tidak di kontrol dengan benar.
Setelah makan siang dari restoran yang berada di lantai teratas lantai yang sama dengan kamar presiden suite mereka pun turun.
Tepat berada di bagian dekat pintu masuk utama langkah gadis itu terhenti sejenak dan menurunkan tawa nya yang sebelum nya sedang bercanda dengan sahabat nya.
Sedang apa dia disini?
Gumam Louise saat melihat pria yang menjadi kekasih nya sedang berada di hotel tempat yang sama dengan nya.
Dia mau menemui wanita?"
Batin Louise yang curiga dan langsung berfikiran buruk karna tau pria itu pernah melakukan hal itu dengan banyak gadis itu.
James pun dengan langkah cepat langsung menarik dengan kasar tangan gadis ke sisi nya.
"Sedang apa kau disini? Hm?" tanya James dengan menatap tajam gadis itu.
"Kau gila?! Jangan kasar dengan nya!" ucap Zayn sembari mencekal tangan pria itu agar melepaskan sahabat nya.
"Kenapa? Tak suka?! Memang nya kau siapa?!" tanya James semakin panas dan menatap tajam pria itu.
"Kau ini kenapa sih? Malah marah dengan nya?!" tanya Louise kesal saat melihat aura yang berbeda, ia langsung berusaha menghalangi kedua pria itu karna tak mau menjadi pusat perhatian.
"Kau membela nya?" tanya James yang semakin marah pada gadis itu.
"Tentu saja…
Dia orang ku." jawab gadis itu dengan mata yakin.
James pun menyeringai dengan geram dan menatap gadis cantik itu yang juga membalas tatapan nya dengan mata berani.
"Ayo! Pergi dengan ku!" ucap James sembari menahan emosi nya dan menarik tangan gadis itu.
Zayn pun langsung mengejar dan menahan James ia tak terima saat gadis yang ia sukai di perlakukan kasar seperti itu.
"Kenapa? Kau mau kita berkelahi disini?" tanya James semakin geram menatap pria yang masih ia anggap bocah tersebut karna perbedaan umur yang cukup jauh dari nya.
Louise pun yang mendengar hal itu langsung berusaha menyempil di tengah memutus pandangan saling mematikan itu.
Mati! Bisa masuk berita kalau bertengkarnya di depan hotel seperti ini!
batin Louise karna ia masih ingat status sosial nya dan tingkat popularitas nya di media sosial.
"Zayn...
Aku lupa, tadi memang aja janji dengan nya, nanti aku janji temanin kau melukis deh..." ucap Louise pada pria itu.
"Kau mau ikut dengan nya? Dia kasar pada mu!" ucap Zayn pada gadis itu.
"Zayn...
Kau tidak lihat? Mereka semua perhatikan..." ucap Louise lirih sembari mengalihkan mata nya agar teman nya sadar mereka sudah mulai mencuri pusat perhatian.
Zayn pun diam tak mencegah lagi, James tersenyum miring dan menatap sinis sahabat kekasih nya itu.
......................
Mansion Dachinko.
"Lepas!" ucap Louise saat pria itu menarik tangan nya semakin kasar.
"Sedang apa kau di sana?! Pergi ke hotel dengan pria!" ucap James yang mulai bertengkar dengan gadis itu.
"Dia teman ku! Bukan pria sembarangan!" jawab Louise kesal.
"Teman?! Tidak ada pertemanan antara pria dan wanita! Salah satu dari kalian pasti ada yang memiliki perasaan!" jawab James dengan mulai tersulut.
"Tapi kami tidak ada tuh! Sampai sekarang masih baik-baik saja!" jawab Louise pada pria di depan nya.
"Sedang apa kau disana?" tanya James lagi dengan menurunkan suara yang tertahan karna menahan emosi yang begitu meluap.
"Pemanasan setalah itu makan!" jawab Louise singkat karna ia memang memanaskan tubuh nya di ruang sauna dan setelah itu makan siang.
Emosi James memuncak, pikiran nya melayang tinggi tak ingat jika gadis di depan nya walaupun terlihat bar-bar namun masih polos dalam hal berbau dewasa dan tak mengenal sama sekali istilah-istilah dewasa nya.
Pengkhianatan mantan pacar nya membuat nya semakin sensitif saat ia menemukan gadis lain yang mengisi hati kosong nya secara perlahan.
"Kalau kau harus memilih salah satu? Mana yang kau pilih? Aku atau teman mu?" tanya James pada gadis itu.
Ia menanyakan hal tersebut di waktu yang tak tepat saat gadis itu belum mengenal perasaan yang dimiliki untuk nya sama sekali.
"Tentu saja Zayn!" jawab Louise dengan mata yang yakin.
Pria itu tertawa getir mendengar nya, ia sangat sensitif dengan aroma pengkhianatan yang mungkin bisa terjadi nanti nya.
"Aku mau pulang!" ucap Louise yang memecah keheningan mengerikan itu saat James berusaha meredakan emosi nya.
"Menemui nya?" tanya James dengan nada penuh penekanan.
"Bukan urusan mu!" jawab Louise acuh dan berbalik.
James pun menahan tangan gadis itu dan membalik ke arah nya hingga.
PLAK!!
"Auch!" ringis Louise yang langsung terjatuh kelantai karna pria itu menampar nya tiba-tiba.
Aroma anyir dapat ia rasakan di ujung bibir nya yang mengeluarkan darah segar karna pukulan dari pria bertenaga kuat itu.
Rasa panas dan perih di pipi nya terasa dengan jelas namun terkalahkan dengan rasa kram di perut nya membuat nya melingkarkan tangan ke perut ramping nya.
"Aku mengizinkan mu pergi? Hm?" tanya James yang mulai mengatur ekspresi nya menjadi dingin dan datar lagi.
Ia pun menarik tangan gadis itu dengan kasar dan membawa nya ke kamar yang ia buat untuk gadis itu sebelum nya.
Auch!
Pekik Louise saat pria itu melempar nya ke ranjang dan langsung menindih nya. Menyatukan kedua tangan kecil nya dalam satu cengkraman kuat dan meletakkan nya ke atas kepala.
Pria yang sudah di tutupi dengan asap kecemburuan itu mulai bersikap kasar dan posesif pada gadis nya
"Aku akan mengajari cara menjadi menjadi wanita pada mu sekarang..." ucap James saat ia bangun dan menatap gadis itu yang terus meringis di bawah kungkungan nya.
"James...
Sa-sakit hiks..." tangis nya saat pria itu sudah berada di atas tubuh nya.
James pun melihat ke arah gadis yang menangis di bawah kungkungan nya dengan heran.
"Aku saja belum melakukan apapun?! Kenapa sudah menangis?" tanya James bingung karna ia belum melakukan apapun namun gadis itu sudah menangis.
"Sa-sakit...
Berhenti James..." ringis Louise yang sudah menangis antara kram perut, takut dan perlakuan kasar pria itu.
"Aku saja belum melakukan ap-"
ucap nya terpotong saat ia melihat darah di sprei putih nya yang berada diatas ranjang.
"Kenapa kau sudah berdarah? Aku kan belum melakukan nya?" tanya James semakin bingung.
Sedangkan gadis itu beringsur meringkukkan tubuh nya yang masih berada dalam kungkungan pria tampan itu.
Darah?!
Ucap Louise dalam hati yang setengah menangis.
"Shut up your mouth! I'm on my period now! " ucap Louise penuh kesal pada pria itu dengan nada setengah menangis karna kram dan sakit di tubuh nya karna ulah pria yang masih mengukung nya saat ini.
"How mess this situation..." ucap James sembari menjatuhkan wajah nya ke lengkung gadis itu saat ia mendengar jika Louise mendapat datang bulan nya saat ia tengah tak dapat mengendalikan diri nya.
...****************...
Visual nya othor kasih Zayn sama Louise yah, lagi males nyari visual babang James wkwk♥️😅
Zayn Nathan Etrama
Elouise Steinfeld Rai