(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Voice in my head



Will terus saja berusaha mendobrak pintu tersebut, amarah nya semakin memuncak ketika Alyss melempar mata nya dengan tanah barusan.


"DASAR JALANG!!! BUKA PINTU NYA!!! SIAL!!! AKU AKAN MEMBUNUH MU SETELAH INI!!!" teriak Will sembari terus menendang dan memukul pintu tersebut.


Alyss yang mendengar ancaman Will semakin panik dan takut, ia menggenggam erat ponselnya yang sudah tak menyala lagi.


"Aku harus gimana? Kenapa ini ga bisa hidup...." ucap Alyss lirih yang sudah bercampur tangis, tubuhnya sangat gemetar. Ia berusaha menyalakan kembali ponsel yang ia genggam dengan tangan gemetarnya.


BRUK..!! BRUK..!! BRUK..!!


Pintu tersebut semakin rusak, entah apa yang digunakan Will untuk memukul pintu tersebut. Barang-barang yang ia letakkan untuk mengganjal pintu tersebut pun mulai berjatuhan.


BRAKKK!!!!


Pintu tersebut pun terbuka, wajah Alyss semakin pucat saat melihat Will yang mulai masuk dan membawa tongkat golf di tangan nya.


Tubuh Alyss semakin gemetar, ia refleks memundur beberapa langkah kebelakang, saat Will semakin mendekat padanya.


"Ja-jangan mendekat!!!" ucap Alyss dengan berusaha memberanikan diri sebisa mungkin walaupun tubuh dan suara nya yang sangat terlihat gemetar.


Will hanya tersenyum melihat wajah Alyss yang semakin pucat karna takut. Ia pun semakin mendekat ke arah Alyss dan....


Bugh....


Will melayangkan tongkat golf yang ia pegang ke tubuh Alyss.


"Akh!!!" pekik Alyss saat merasakan beberapa pukulan dari tongkat golf yang di layangkan Will.


"Sial!!! Aku belum mencoba mu!!" ucap Will saat melihat Alyss yang meringkuk di lantai kamar mandi tersebut dengan beberapa luka dan darah yang terlihat menembus dari pakaian Alyss.


"Sini!!!" ucap Will dan menarik kasar rambut Alyss, ia sudah sangat geram karna Alyss berusaha melarikan diri terus-menerus, maka dari itu ia berniat membunuh Alyss setelah memperkosanya.


"GAK!!! LEPAS!!!" ucap Alyss yang masih berusaha melawan Will yang sedang menarik rambutnya keluar dari kamar mandi tersebut. Langkah nya semakin tertatih dan cenderung seperti di seret saat Will menarik rambutnya.


"Dasar wanita sialan!" ucap Will yang semakin geram melihat Alyss yang mencakar tangan nya yang sedang menjambak kuat rambut panjang Alyss.


Prangggg!!!!!


Will pun langsung membenturkan kepala Alyss ke cermin yang berada di kamarnya. Ia membuat cermin tersebut langsung pecah, darah segar dari kepala Alyss pun tertinggal di serpihan-serpihan cermin tersebut.


Kepala Alyss terasa sakit yang sangat luar biasa, telinga nya pun terasa sakit dan berdengung hingga ia tak bisa mendengar cacian dan makian yang di berikan Will padanya.


"Aku membunuh mu setelah ini!!!" ucap Will pada Alyss, ketika ia sudah membuat wajah Alyss mengandah padanya.


Tennnnngggggggggg......


Dengungan di telinga Alyss semakin menjadi, kepala dan telinganya serasa akan segera pecah, ia sama sekali tak dapat mendengar ucapan Will.


Melihat Alyss yang sudah diam dan tak melawan lagi membuat Will langsung melempar tubuh Alyss ke ranjang.


Darah yang terus mengalir di kepala nya membuat sprei yang berwarna putih tersebut mulai berganti warna menjadi merah.


Alyss masih terdiam, ia masih sadar dan membuka matanya, namun sakit dikepala dan dengungan di telinga membuat nya sepeti orang linglung dan hanya menatap kosong ke langit-langit kamar tersebut.


Will pun mencari gunting untuk menyobek pakaian yang di kenakan Alyss, ia berniat menyiksa Alyss sampai mati dengan menggunakan gunting tersebut ketika ia selesai memakai tubuh Alyss.


"Sial!! Sepertinya jika menggunakan ini akan lebih menyenangkan!" ucap Will dengan seringai jahat, ia tak dapat menemukan gunting di kamar nya dan hanya menemukan pisau lipat yang ia simpan di salah satu laci meja nya.


"Kau akan tau akibat dari berusaha melawan ku." ucap Will sembari mulai menindih tubuh Alyss, ia pun mulai menyobek blouse putih yang di kenakan Alyss dengan pisau yang bawa.


Alyss berusaha menyingkirkan tangan Will, dan...


Sregg...


Tangan Will yang terkena pisau nya sendiri saat Alyss berusaha menyingkirkan tangan nya.


"Dasar jalang sialan!!!" ucap Will kesal saat ia merasakan perih di tangan nya.


Plak! Plak! Plak!


Ia pun langsung menampar pipi Alyss secara bertubi-tubi.


"Kau mengatakan aku jalang?! Jika aku jalang kenapa kau masih mau memperkosa ku? Kau tak sadar umur mu? Tak pernah bercermin? Kau tak sadar kau itu apa? Kau itu cuma sampah brengsek! DASAR SAMPAH!!!" ucap Alyss dengan suara yang semakin melemah namun penuh dengan nada penekanan.


Will pun semakin geram dengan perkataan Alyss yang sangat memprovokasinya. Ia melihat iris Alyss yang bergetar menatap nya.


"Kau ketakutan dan hampir mati tapi masih bisa memancing amarah ku? Sepertinya kau memang tak takut mati lagi!!" ucap Will dan mulai melingkarkan tangan nya ke leher Alyss.


"Lagi pula kau akan membunuh ku kan?" tanya Alyss dengan suara gemetar, wajah nya semakin pucat, darah nya terus mengalir hingga membuat rambut di kepala nya mulai basah oleh darahnya.


"Kau benar dan kau akan mati sekarang!!!" ucap Will geram, sekarang ia sudah tak masalah jika harus memperkosa Alyss di ujung kematian nya.


D**usk....!


Will pun dengan geram langsung menusuk perut Alyss dengan pisau yang ia bawa sebelumnya.


"Akkhhh!!!" pekik Alyss yang semakin bertambah rasa sakit di tubuhnya, perut nya terasa amat sakit dan perih ketika benda tajam yang keras tersebut menembus kulitnya dan masuk tertusuk ke perutnya.


Bibirnya tak dapat mengeluarkan suara lagi, bulir bening terus mengalir dari matanya, entah karna sakit, atau pun takut.


"Sekarang kau masih bisa bicara lagi? Ha?" ucap Will dengan tersenyum simpul menatap Alyss yang hampir meregang nyawa.


Ia pun dengan agresif mencium bibir Alyss yang sudah terlihat sangat pucat itu, ia tak mencabut pisau yang tertancap lurus di perut Alyss.


Tangan Alyss mulai meraba perut nya yang sudah basah dengan darah nya, ia pun mulai memegang gagang pisau yang sedang tertancap di perutnya.


Peraturan pertama dalam berburu. Tak boleh meninggalkan senjata di tubuh mangsa.


Alyss mendengar suara tersebut dari pikiran nya ketika ia memegang pisau yang berada di perutnya, telinga nya semakin tak bisa mendengar apapun karna dengungan yang kian menjadi di telinga nya. Namun suara yang entah dari mana berasal itu mulai memenuhi isi kepala nya.


"Tak boleh meninggalkan senjata?" batin Alyss saat memegang pisau tersebut.


Will masih sibuk menciumi bibir nya, dan memegang serta meraba dada nya dengan kasar, hasrat nya semakin naik ketika ia tau Alyss tak mungkin lagi bisa melawannya.


Tangan nya bergetar mencabut pisau tersebut, ia sendiri sebenarnya tak tahan sama sekali dengan rasa sakit akibat dari luka-luka nya, namun jika ia harus mati ia hanya berharap akan langsung mati tanpa mati perlahan seperti ini.


Sreggg....!!!!


Alyss pun langsung menggores punggung Will sedang menindih dan menciumi dirinya dengan pisau yang sudah ia cabut.


"Akhh!!!" pekik Will saat merasakan goresan pisau Alyss di punggung nya.


Ia pun langsung berguling ke samping tubuh Alyss, Alyss pun langsung memanfaatkan hal itu dengan langsung berusaha bangun dan turun dari ranjang Will.


Pergerakan nya sangat terbatas, kepala nya terasa sangat berat dan sakit, sedangkan perut nya yang terus mengeluarkan darah dan terasa semakin perih.


"Dasar wanita Sialan!!!" ucap Will dan langsung bangun berusaha menggapai Alyss yang sudah berjalan beberapa langkah menjauhinya.


Dusk...!!!


Alyss langsung menusuk perut Will ketika Will mendekatinya.


Putar pisau nya.


Lagi-lagi suara yang entah dari mana terdengar di kepalanya, dan seperti orang sudah terhipnotis Alyss pun memutar pisau yang tertancap di perut Will hingga membuat Will semakin berteriak kesakitan.


Setelah Alyss memutar pisau tersebut ia pun mencabut nya, Will langsung terjatuh ke lantai dengan meringkukkan tubuhnya.


Bagaimana? Menyenangkan?


Suara tersebut yang entah dari mana asalnya terdengar lagi oleh Alyss saat ia melihat lantai yang penuh dengan darah, entah darah dari dirinya sendiri atau pun darah yang berasal dari Will.


Setelah melihat hal tersebut dengan langkah tertatih Alyss melangkah ke arah pintu keluar dari kamar tersebut. Ia berniat membuka pintu tersebut dengan pisau yang ia pegang. Namun....


BRAKK...!!!!!!


Pintu tersebut yang sudah dibuka dengan paksa dari luar.


Alyss menghentikan langkah nya dan mengandarkan pandangan mata nya ke arah pintu tersebut.


"Hazel?" ucap Alyss lirih saat melihat Hazel yang berdiri dengan beberapa bercak darah di kemeja dan jas nya serta pistol yang berada di tangan kanannya di balik pintu tersebut saat pintu nya terbuka.


Perasaan mulai merasa lega dan tak setakut dan sepanik seperti sebelumnya.


Dan untuk Hazel sendiri ia sangat terkejut ketika melihat Alyss yang berdiri dengan berselimut darah dan tetesan cairan merah kental tersebut yang terus turun ke lantai.


Pakaian atas Alyss sudah sobek tak beraturan bagian dada nya pun terlihat dengan jelas namun masih tertutupi dengan bra yang ia gunakan, karna Will belum sempat menyobek dan membuka bra yang dikenakan Alyss.


Hazel pun langsung melangkah kan kakinya, menghampiri Alyss, namun ia melihat Will yang sedang berusaha bangun dan mengambil pistol yang ia simpan di kamar nya.


Hazel pun semakin berlari ke arah Alyss, ia menangkap tangan Alyss dan langsung memeluk Alyss.


DOR!! DOR!! DOR!!


Suara tembakan memenuhi kamar itu, Hazel menembak Will dengan pistol yang ia pegang sedangkan Will berusaha menembak Alyss dari belakang.


Hazel langsung memeluk tubuh Alyss dan segera membalik nya, untuk melindungi Alyss dari peluru yang sedang berterbangan tersebut.


Hazel sedikit menahan perih di bahu nya ketika ia terkena pelesetan dari peluru Will, sedangkan Will yang sudah tak sadarkan diri karna Hazel menembak tepat di bagian jantung nya.


"Hey...


Alyss! Alyss!" panggil Hazel saat tubuh Alyss mulai jatuh dalam pelukan nya.


"To...long... aku...." ucap Alyss lemah, suara nya sudah hampir tak keluar sama sekali.


Hazel semakin panik saat tangan nya semakin basah ketika memegang kepala Alyss dan ia juga melihat luka di perut Alyss yang terus mengeluarkan darah segar nya. Hazel langsung menutup luka di perut Alyss dengan tangan nya.


Tubuh Alyss mulai kebas dan ia pun perlahan kehilangan kesadaran nya, Hazel langsung membawa dan menggendong Alyss keluar dari tempat itu untuk segera menyelamatkan nyawa Alyss.


"Urus yang terjadi di sini!" perintah Hazel pada Rian.


Rian pun mengerti maksud Hazel dan langsung membunuh seluruh orang di kediaman Will, dan untuk Will sendiri, Rian berusaha menyelamatkan nya dan membiarkan Hazel yang memberi keputusan pada Will, walaupun ia tau kemungkinan besar Hazel akan membunuh Will jika Will akan selamat. Namun ia tetap ingin Hazel yang menentukan sendiri nasib dari ayah biologisnya.


"Ku mohon bertahanlah...." ucap Hazel sembari menggenggam erat jemari Alyss yang penuh dengan darah.


Ia membawa Alyss dengan helikopternya dan menuju JBS Hospital, Alyss sudah diberikan pertolongan pertama di dalam helikopter tersebut, namun ia tetap harus mendapat pertolongan lebih lanjut.


"Serangan jantung!!!" ucap salah satu tenaga medis yang berada di pesat tersebut, saat ia mendengarkan detak jantung Alyss melalui stetoskop.


Alyss terkena serangan jantung mendadak karna suplai darah yang tak cukup dan buruk ke jantung nya. Karna mereka tak memiliki alat pacu jantung atau AED (automated external defibrillator) di helikopter tersebut membuat mereka memberi CPR manual pada Alyss.


Hazel semakin takut, ia semakin gelisah dan cemas melihat keadaan Alyss yang sudah semakin memburuk.


"Kumohon bertahanlah....


Kumohon padamu....." ucap Hazel lirih dengan penuh pengharapan ketika melihat Alyss.


...****************...


**Haii....


Karna kalian banyak yang penasaran sama kelanjutan nya othor up yah, walaupun tugas othor belum siap🤧🤧🤧


Menurut kalian Alyss selamat tanpa kurang satu pun gak?😭😭😭


Jangan lupa like, komen, rate 5, fav dan dukungan yang lain yah😉😉😉


Tanpa dukungan kalian othor hanya akan menjadi penulis remahan peyek🙃🙃🙃


Dan terimakasih yah buat kalian yang selalu dukung othor hihihi...


Happy Reading❤️❤️❤️❤️