
Deg...deg...deg...
Jantung James berdetak kencang saat melihat gadis itu kehilangan kesadaran setelah merintih kesakitan.
"Siapa yang berani melakukan ini di rumah ku?!" ucap James geram sembari menghapus darah di bibir gadis itu.
Dua pengawal yang berada di sana pun semakin takut saat ingin memberitau Chiko sedang berada di luar, namun mereka mencoba memberi tau perlahan.
"Kalau begitu panggil dokter lain! Kalau dia sampai mati aku juga akan mengubur kalian!" ucap James geram yang sangat marah karna tau gadis itu diracuni di mansion nya sendiri bahkan sepengetahuan nya.
"Tenanglah...
Aku tak akan membiarkan apapun terjadi pada mu..." ucap James lirih yang terus yang memeluk gadis itu.
Tubuh nya entah kenapa mulai gemetar karna merasa sangat takut jika gadis itu benar-benar pergi dari nya.
Beberapa dokter di mansion megah itu pun mulai memeriksa dan mengambil tes darah pada tubuh Louise.
"Dia seperti nya Alergi..." ucap salah satu dokter yang memeriksa keadaan gadis itu.
"Alergi saja kenapa bisa sampai seperti itu?!" tanya James dengan segera.
"Genetika nona berbeda dan tubuh nya lebih lemah dari pada orang lain, sehingga menimbulkan gejala yang berbeda.
"Kita..." ucap salah satu dokter dengan ragu.
"Apa? Lakukan saja yang bisa membuat nya membaik!" bentak James dengan geram.
"Kekurangan darah...
Mungkin kita bisa memberikan sesuatu untuk memperbanyak kadar hemoglobin di tubuh nya. Anemia nona memperburuk keadaan nya..." ucap salah satu dokter yang berkerja di pada James.
"Kalau begitu lakukan!" ucap James semakin tak terkendali begitu mendengar kekurangan darah karna ia tau sangat sulit atau mungkin saat ini hanya gadis itu yang memiliki Rh-null atau golden blood.
"Dr. Chiko yang bisa meracik nya..." jawab salah satu dokter dengan takut.
"Lakukan panggilan video dan suruh dia mengajari kalian membuat nya! Kalau terlambat dan terjadi sesuatu aku bisa pastikan kalian mengubur jantung kalian di makam yang sama dengan nya!" ancam James dengan tatapan membunuh yang begitu kuat.
...
Semua pelayan bagian dapur yang menyiapkan makanan telah berlutut diatas bara api sembari masing-masing menerima besi panas di punggung mereka.
"Sudah ku katakan dia tak bisa memakan yang memiliki kadar protein tinggi! Kenapa dia masih bisa terkena alergi?!" tanya James di tengah tangisan pilu para pelayan.
"Ampun tuan huhuhu...
Kami tak tau apapun..." ucap para pelayan memohon ampun di tengah besi panas yang di hunus di punggung mereka.
Tangis para pelayan yang memang tak tau apapun.
"Tambah besi panas nya!" perintah James lagi.
Ia teringat dengan ucapan Chiko yang mengatakan ketika melihat data pemeriksaan gadis itu dari panggilan video jika di makanan Louise di beri bubuk protein berkadar tinggi sehingga membuat nya menjadi seperti itu.
Karna gadis itu tak begitu memiliki pantangan dalam makanan namun ada beberapa yang hanya bisa di makan sedikit dan jika berlebihan akan menimbulkan efek seperti sekarang ini.
"Siapa yang memberi bubuk protein?" tanya James lagi dengan tatapan dingin yang membunuh ke tulang.
Nick berdiri di samping pria itu yang juga ikut memeriksa walaupun ia sendiri dalang nya. Ia bahkan sudah memiliki rencana tersendiri yang akan membuat nya bersih dari tuduhan.
"Tuan, bagiamana jika kita memeriksa satu persatu dari mereka?" tanya Nick yang tetap dalam sandiwara nya.
James diam, ia mulai setuju karna ia sama sekali tak mencurigai Nick sedikit pun.
Pemeriksaan pun segera dilakukan barang-barang para pelayan langsung di periksa menyeluruh agar menemukan bubuk protein tambahan yang di berikan pada Louise.
"Kami menemukan nya!" ucap salah satu pengawal yang menemukan bubuk protein di salah satu penyimpanan bumbu.
"CCTV?" ucap James dan salah satu pengawal pun langsung memeriksa nya.
Nick tersenyum simpul ia sudah mempersiapkan segala nya dan bahkan menyabotase cctv dan juga mempersiapkan pelaku palsu.
"Pelayan ini yang melakukan nya." ucap salah satu pengawal dan memberikan nya pada James.
James pun melihat dan sangat geram pada pelayan yang beraninya membuat gadis cantik itu hampir meregang nyawa.
Ia tak menaruh kecurigaan sedikitpun pada Nick, karna baginya pria bukan seperti pelayan atau bawahan nya melainkan ia sudah menganggap seperti adik sendiri walaupun tak pernah terucap di bibir nya.
"Ambil tongkat golf ku!" ucap James pada Nick, pria itu pun dengan senyuman dalam hati tersenyum saat rencana nya berjalan mulus.
Bugh!!!
James pun langsung memukul pelayan tersebut dengan tongkat golf begitu kuat hingga membuat nya semakin meringis ketika ia jatuh ke bara api yang membakar nya.
"Siapa yang memberi mu keberanian melakukan nya?!" tanya James yang sudah mengeluarkan tatapan iblis nya.
Pelayan tersebut hanya menangis diam dan memohon ampun, beberapa hari sebelum nya ia terus menerus mendapat ancaman jika seluruh keluarganya akan mati jika ia tak memberi protein tambahan di makanan tersebut.
Ia mendapat ancaman terus menerus dan saat ia ingin melaporkan nya atau mengatakan yang dia alami dengan orang lain, adik nya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia, tentunya ia tak mau jika orang tua nya mengalami hal yang sama maka dari itu ia menuti si pengancam.
Bahkan orang yang mengancam nya sudah memberikan jawaban jika ia ditanya di situasi seperti ini.
"Sa-saya menyukai tuan...
Maka dari itu saya melakukan nya..." ucap pelayan tersebut dengan tangis segugukan.
Ia tak menyukai James sama sekali namun ia harus mengatakan hal itu agar orang tua nya bisa selamat.
James yang mendengar hal tersebut semakin geram dan menatap marah ke arah pelayan tersebut.
"Ambil air keras dan paksa dia meminum sampai habis!" perintah James yang sudah sangat marah mendengar alasan pelayan itu menyakiti gadis nya.
"Tuan...
Jika anda berkenan saya bisa mencarikan wanita lain yang masih murni selagi nona Louise belum sadar." ucap Nick yang ingin agar tuan nya segera berpaling.
"Tidak perlu." jawab James singkat.
"Bukan kah anda tak mencintai nya? Seharusnya ini adalah waktu yang tepat untuk membiarkan nya mati dari pada menimbulkan masalah di kemudian hari!" ucap Nick yang sejenak melupakan kesopanan dan menatap ke arah tuan nya dengan tatapan tak menyetujui sikap James.
Membiarkan nya mati?! Aku tak mau dia mati!
James pun yang mendengar sepenggal kata dari Nick membuat emosi nya yang belum bisa ia netralkan menjadi memuncak lagi. Ia pun berbalik dan...
PLAK!!!
James menampar keras Nick hingga membuat nya hampir tersungkur namun dengan cepat ia tetap berdiri tegap.
"Jangan melakukan dan mengatakan sesuatu di luar perintah ku! Aku akan mengurus nya jika masih menginginkan nya dan membuang nya jika tak lagi mau! Tak usah ikut campur!" ucap James dengan tatapan dingin yang menusuk dan nada penuh penekanan pada Nick.
Dasar penyihir! Akan ku pastikan kau mati lain kali!
...
Ringis gadis itu yang walaupun terlihat tertidur namun terkadang merintih menahan sakit yang terlihat di wajah pucat nya.
Tubuh dan wajah yang terus berkeringat dan demam yang tak kunjung turun membuat kondisi nya semakin memburuk.
Walaupun ia sudah di berikan obat untuk mempercepat pertumbuhan atau mengahasilkan hemoglobin sendiri di tubuh nya namun itu semua masih memerlukan waktu. Tidak secepat jika di berikan transfusi darah.
James berulang kali membuang nafas kasar dan mengusap keringat di dahi gadis itu atau pun mengganti kompres nya.
"Apa tak ada satu pun obat nya yang bekerja?" gumam James saat melihat kondisi gadis itu yang masih sama saja seperti tadi siang.
"Apa aku harus punya cadangan darah mu juga?" sambung James sembari mengganti kompres gadis itu.
Jika ia akan ingin mengambil darah gadis itu. Untuk di simpan dan di pakai di situasi genting maka ia harus mengambil nya di dalam kondisi prima agar tak membuat Louise hampir mati seperti sebelum nya.
Perasaan tak nyaman dan sangat takut akan kehilangan membuat pria itu semakin tak karuan dan sulit untuk memahami perasaan sendiri.
Sekelebat ucapan Nick terngiang di telinga nya ketika pria itu terus menerus bertanya tentang perasaan yang ia miliki.
"Cinta? Jangan buat aku mencintai mu...
Aku tak ingin mencintai siapapun..." ucap James lirih sembari memperhatikan dengan lekat wajah gadis itu.
Wajah yang terlihat tenang dalam tidur namun terkadang menunjukkan ekspresi kesakitan yang mendalam.
James pun mulai keluar dari kamar itu dan menghembuskan nafas nya dengan kasar. Walaupun ia memiliki watak yang keras dan berani namun entah kenapa ia sangat takut jika mencintai dan menyayangi seseorang.
Setiap kali ia mulai menyandarkan perasaan nya pada orang-orang yang ia sayangi, ia akan di tinggalkan pada akhir nya entah itu kematian ataupun pengkhianatan.
Pengecut?
Mungkin jika di hadapkan dengan cinta dan kasih sayang ia seperti pengecut yang akan terus lari menghindar dari rasa yang ia miliki.
Kehilangan saudara satu-satunya, kedua orang tuanya, paman dan bibi yang menjaga nya hingga kekasih yang ia sangat ia cintai juga meninggalkan nya atas pengkhianatan yang mengerikan.
Hanya menyisahkan ia sendiri di tengah rasa sakit itu dan harus bertahan dengan kaki nya tanpa ada yang menopang nya.
Membuat nya takut akan rasa kehilangan itu lagi dan tak ingin merasakan nya lagi jika ia mencintai seseorang dan harus menerima rasa kehilangan dan kesendirian yang menyepikan jiwa nya kembali.
......................
JBS Hospital.
"Dimana anak itu?" gumam Rian saat Louise tak kunjung datang ataupun di temukan.
Ia sangat mengetahui sifat gadis itu yang pasti akan segera mengunjugi kakak nya begitu tau saudara kembar nya sedang dalam masa yang mengkhawatirkan.
Ia pun menggunakan ruang visi karna Louis yang juga memberi akses kesana seperti mendiang ayah nya yang membiarkan sekretaris nya kesana.
"Belum dapat informasi apapun?" tanya Rian pada para pekerja di ruang visi.
Apa ulah salah satu dari mereka?
Batin Rian saat mengingat kolusi serta konspirasi para direktur untuk menjatuhkan Louis.
Walaupun Louise tak memiliki hak kekuasaan lagi karna ia sudah mutlak mengalihkan nya pada Louis namun hal tersebut bisa menjadi suatu masalah saat gadis itu nanti ingin dan berusaha merebut nya lagi.
"Selidiki semua direktur JBS grup dalam dua bulan terakhir, jika ada yang aneh segera beritau." titah Rian dan keluar dari ruang visi.
..
Clara masih melihat ke arah pria yang belum sadar sama sekali sejak di bawa ke JBS padahal sebelum nya pria itu masih sanggup berbicara pada nya.
"Kau menunggu Louise yah? Kalau dia datang kau baru akan bangun?" tanya Clara lirih dengan mata berkaca.
"Wakil Presdir masih mencari nya...
Tapi sebentar lagi dia juga datang kok...
Tak bisakah bangun sekarang?" tanya Clara lagi.
Ia mulai merasa kehilangan atas sikap menjengkelkan yang selalu memantik emosi dan kesabaran nya serta sikap manis dan egois yang kekanakan dari pria itu.
Kalau hanya rasa kasihan kenapa sesak sekali...
Rasa nya benar-benar tak nyaman...
Ada apa dengan ku?
Batin gadis itu yang tak bisa fokus melakukan apapun saat pria yang masih dengan tenang memejamkan mata nya dan beberapa alat monitoring tubuh nya belum sadar sama sekali.
Louis memerlukan operasi lanjutan dan beberapa kantung darah untuk operasi nya.
JBS sudah mendapatkan 2 kantung darah dengan golongan yang sama namun masih belum bisa melakukan operasi karna takut adanya perdarahan selama operasi dan akan menimbulkan masalah baru jika darah yang di miliki tak cukup.
Sedangkan darah sang adik yang di masukan ke tubuh nya sudah menyelamatkan nya di situasi genting hingga membuat raga nya masih bisa bernafas hingga sekarang.
...
Pukul 11.24 Pm.
Rian kembali mendatangi ruangan Louis dan melihat sekretaris nya tidur di samping ranjang dengan posisi duduk karna terus menjaga Presdir nya.
"Apa sekarang hubungan mereka lebih dari rekan kerja?" batin Rian dan mulai memberikan selimut untuk menutup tubuh Clara.
Setelah itu ia melihat ke arah Louis yang masih terpejam. Ia pun mulai berbisik di telinga pria itu agar Louis memiliki sugesti di alam bawah sadar nya ketika ia belum siuman sama sekali
"Aku akan cari darah yang sesuai dan adik mu…
Setelah itu sadarlah dan hadapi masalah mu, aku tak bisa melakukan nya kalau kau sendiri tak sadar..." ucap Rian di telinga pria itu.
"Kau tak mau terus tidur dan membiarkan JBS hancur kan?" sambung nya lagi dan mulai bangun.
Ia pun melangkah keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke apart nya.
......................
Apart winter garden.
Setelah kembali ia melihat istrinya yang tidur di sofa karna menunggunya pulang hingga larut malam.
"Mah?" panggil Rian yang sudah mulai terbiasa memanggil 'Mamah' untuk membiasakan putra nya, karna dulu ia pernah terus memanggil nama dan Zayn yang mendengar beberapa kali mengikuti memanggil ibu nya dengan nama saja.
Zayn yang masih kecil itu hanya mengikuti panggilan sang ayah saja tanpa ia tau jika hal tersebut sopan atau tidak.
Rian pun yang tak ingin menggangu tidur istrinya lagi pun mulai memindahkan nya ke kamar.
Ia membersihkan diri nya dan memeluk tubuh istrinya. Pikiran yang penuh dan sibuk dengan beberapa hal yang menyempitkan penat nya.
Hazel? Tak bisakah kau bangkit dan mengurus anak-anak mu? Aku juga mau tenang dengan istri ku...