
3 Minggu kemudian.
Bagian internal JBS grup kini sudah mulai tenang kembali dan terkendali. Louis maupun Louise sudah mulai beraktifitas normal dan kembali pulih.
Kini Louis hanya tinggal menghilangkan bekas operasi di tubuh nya agar tak mengganggu penampilan nya saja.
"Kau sudah buat data yang ku minta?" tanya Louis pada sekertaris kedua nya yang sedang membuat jadwal.
"Sudah Presdir." jawab sekertaris Ferdi pada atasan nya.
"Kalau begitu keluar dan panggil sekertaris Clara ke sini." perintah Louis pada sekertaris kedua nya.
Setelah sekertaris Ferdi keluar dan memanggil Clara tak lama kemudian gadis manis itu pun masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Ada apa Presdir memanggil saya?" tanya Clara pada pria di depan nya.
"Sudah ku katakan jangan bicara formal jika hanya kita berdua kan?" tanya Loui sembari berdiri dan menghampiri gadis yang berdiri di depan meja nya.
"I-ini kan masih jam kerja..." jawab Clara gugup pada pria di depan nya.
Louis tak menjawab dan hanya tersenyum simpul serta berjalan mendekati pintu ruangan nya serta mengunci nya agar tak ada yang masuk sembarang termasuk adik nya yang suka masuk tiba-tiba.
Clara pun menelan saliva nya dengan susah payah melihat tingkah pria di depan nya kini sudah ingin melahap dirinya.
Louis pun mendekat lagi hingga membuat Clara terpojok meja kerja presdir di ruangan tersebut. Pria tampan itu tersenyum dan mengangkat sedikit tubuh gadis itu agar mendudukkan nya di meja kerja.
"Kau tak rindu padaku?" tanya Louis pada gadis itu dengan suara berbisik sembari menangkup wajah yang sedang bersemu merah tersebut.
"Ti-tidak! Kenapa aku harus rindu?!" sangkal Clara pada pria tersebut dan hanya membuat Louis tersenyum simpul.
Clara mendorong pelan tubuh pria itu namun tidak dengan sekuat tenaga nya karna takut menyakiti luka bekas operasi yang berada di dada bidang pria itu.
Louis yang merasakan dorongan pelan dari tangan gadis itu karna ingin berhati-hati pada luka nya membuat nya semakin ingin memanfaatkan hal tersebut.
Ia pun semakin menarik tengkuk gadis itu dan mencium bibir manis sekertaris nya dengan lahap.
Hah...hah...hah...
Clara mengambil nafas dalam ketika ciuman tersebut di lepaskan dari nya, Louis melihat wajah gadis itu yang memerah dengan mata sayu sembari terengah-engah.
Tangan nya mulai bergerak nakal menganggu gadis manis itu, dan membuat Clara semakin berusaha untuk segera dapat kabur dari cengkraman Presdir nya.
"Kau mau yang bergerak di atas nanti?" bisik Louis dengan suara berat sembari menggoda gadis itu.
"A-aku tak mau melakukan nya..." jawab Clara saat ia merasakan pria itu yang mulai turun dan mencium leher jenjang nya.
Tubuh nya mulai merasakan hal yang aneh yang membuat nya ingin menolak namun juga ingin hal lebih akan perlakuan pria itu.
"Tubuh mu merindukan ku, kan?" tanya Louis tersenyum simpul pada gadis manis tersebut.
Ia pun menghentikan semua aktivitas menggoda nya dan menarik tangan Clara masuk ke dalam kamar istirahat nya di ruangan tersebut.
Perlahan pria itu menjatuhkan tubuh gadis manis itu ke ranjang nya dan mulai bersiap memakan gadis manis itu.
Clara yang mulai terbakar panas dan dingin yang lain dalam diri nya hanya berharap agar semua ini segera selesai.
"Pre-presdir..." ucap Clara lirih saat pria itu semakin membuat nya kalang kabut.
"Kenapa masih suka melanggar? Hm? Kan sudah ku katakan jangan bicara formal..." bisik Louis dan semakin membuat tak karuan.
"Ma-maaf..." ucap Clara lirih dengan suara tertahan agar tak semakin mengeluarkan suara yang baginya memalukan.
"Cantik...
Semua hang berhubungan dengan mu selalu menjadi cantik..." bisik Louis dengan suara menggoda pada gadis manis itu.
Clara sendiri yang memang sebelum nya tubuh nya sudah sering mendapatkan sentuhan pria itu tak lagi mendapatkan nya ketika pria yang biasa menjamah tubuh sedang sakit.
Membuat nya tanpa sadar juga semakin menginginkan hal yang sangat di sukai pria itu. Walaupun hati dan logika nya menolak namun tubuh nya benar-benar menerima positif dan bahkan ingin mengimbangi perlakukan yang di berikan pria tampan itu.
Clara pun sudah mencapai batas dirinya sendiri dan jatuh kelelahan.
"Sudah? Kau sudah sampai lagi?" tanya Louis dengan suara berat ketika gadis itu menjatuhkan kepala nya ke lengkung leher pria tampan itu.
Louis membalik tubuh gadis dan mulai melakukan kembali penyatuan nya.
Sebuah kegiatan yang ia merasa tak pernah bosan sedikit pun dan terus menginginkan lagi dan lagi tanpa henti pada gadis yang membuat nya tak bisa fokus tersebut.
Clara mendesis pelan saat penyatuan nya terjadi lagi.
Louis tersenyum lembut dengan gerak yang juga lembut agar gadis itu tak merasa sakit karna perlakukan nya, mata yang beradu sayu dengan wajah memerah membuat Clara langsung memalingkan wajah nya.
Louis tersenyum menatap gadis itu dengan tatapan yang memancarkan seberapa banyak ia menyukai gadis manis itu.
Seperti bunga yang sedang bermekaran di musim semi, seperti itulah dirimu...
Aku mencintai mu...
Dengan perlahan pria itu kembali mencium dengan lembut pada gadis manis itu.
......................
Mansion Dachinko.
"Mau sampai kapan marah? Ini sudah tiga minggu!" ucap James yang mulai kehilangan kesabaran melihat tingkah gadis di depan nya.
"Kenapa kau tak memberi tau ku lebih cepat waktu itu?!" tanya Louise yang masih kesal karna pria itu menahan nya sebelum nya.
"Kan sudah ku bilang aku tidak tau! Lagi pula aku juga sibuk! Apa aku harus menguntit kakak mu?!" jawab James yang tetap kukuh dengan kebohongan nya namun terlihat tak berbohong sama sekali.
Louise pun melihat ke arah pria yang terlihat jujur itu namun entah kenapa ia tetap merasa pria itu sengaja berbohong pada nya.
"Louise?" panggil James dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang.
"Apa sih? Lepas!" ucap Louise yang berusaha melepaskan tangan yang sedang mendekap nya dari belakang.
Sedangkan ia tengah duduk di atas karpet berbulu tebal yang sangat halus dan bermain dengan White.
Guk!
White pun mulai berusaha mengusir majikan nya karna ia masih ingin bermain dengan Mommy nya yang kini tengah di ganggu.
"White pergi!" ucap James pada peliharaan nya agar tak menganggu waktu nya dengan gadis cantik itu.
White pun tetap disana dan memutar tubuh membawa bola kecil seakan-akan ingin gadis itu bermain tangkap bola dengan nya.
"White, pergi atau ku cukur semua bulu mu?!" ucap James lagi.
Anjing serigala pemberani itu perlahan menciut pada majikan nya. Walaupun ia hewan yang cukup buas namun ia sudah tunduk pada pria yang bisa lebih buas dan ganas di bandingkan hewan.
White pun betingsut pergi meninggalkan Mommy nya dengan lesu padahal ia sangat ingin bermain setelah menunggu lama.
"Kenapa di usir?!" tanya Louise kesal pada pria yang sedang memeluk nya dari belakang dan menciumi tengkuk nya putih nya guna mengesap aroma harum tubuh gadis itu.
"Ganggu!" jawab James singkat sembari mulai menj*lat telinga gadis itu dan menurunkan nya ke leher jenjang gadis cantik itu.
"James! Geli tau..." ucap Louise yang merasakan geli karna sapuan hangat lidah gadis cantik itu.
James pun berhenti sejenak, ia ingat tubuh gadis itu sangat sensitif pada rangsangan dan rasa geli, membuat nya benar-benar ingin menggelitik nya.
"Masih marah? Hm?" tanya James sembari mulai menggelitik perut dan pinggang gadis itu hingga membuat Louise tertawa.
"Jangan...
Geli, Hahahaha...
Perut ku sakit sudah..." ucap nya kesulitan karna tawa akibat geli di perut dan pinggang nya.
James bukan nya berhenti namun semakin menggelitik tubuh yang terus menggeliat tersebut.
"Masih marah? Kalau masih aku juga tak mau berhenti." ucap James sembari terus menggelitik gadis yang semakin tertawa tersebut.
"Aduh, iya tidak marah lagi sudah...
Perut ku mau kram rasanya..." ucap Louise yang terengah-engah karna tawa nya.
"Sudah tidak marah lagi kan?" tanya James sembari menyandarkan dagu nya ke pundak Louise dari belakang.
Louise pun diam setelah menetralkan nafas nya, pakaian nya sudah tak beraturan lagi karna terus menggeliat menahan gelitikan dari pria yang masih mendekap nya dari belakang.
Ia pun berbalik dan menatap pria itu hingga pandangan nya saling bertemu satu sama lain dengan hanya beberapa senti dari wajah nya.
Louise pun langsung mendorong dada bidang itu, James yang terkejut karna dorongan Louise yang tiba-tiba membuat nya langsung terjatuh ke atas karpet bulu yang halus tersebut.
Gadis itu pun langsung naik dan duduk diatas tubuh pria itu karna ingin membalas menggelitik nya.
"Nah sekarang kau yang gantian!" ucap Louise dan mulai menggelitik pria yang berada di bawah tubuh nya.
Sedangkan James yang tubuh nya sudah mati rasa tak merasakan geli sedikitpun melainkan perasaan lain ketika gairah kelaki-lakian nya bangkit saat gadis itu duduk tepat berada di atas inti tubuh nya.
Yang saat itu Louise tengah memakai sweter longgar oversize model crop top yang memperlihatkan sedikit perut nya dan rok pendek yang membuat nya terlihat lebih mengemaskan, namun semakin membuat James melayang kan pikiran nya ke arah lain.
"Kok tidak geli sih? Kenapa tidak tertawa?" ucap Louise pada pria yang berada di bawah tubuh nya dengan menatap nya erat.
"Kau kurang menggelitik ku mungkin?" jawab James tersenyum simpul pada gadis itu.
Louise pun tak menyerah dan terus menggelitik tubuh yang mati rasa itu hingga ia yang sudah kehabisan akal membuka kancing kemeja pria yang berada di bawah tubuh nya guna menggelitik langsung tanpa halangan pakaian agar lebih geli.
James hanya tersenyum melihat wajah antusias gadis itu yang sangat ingin membuat nya juga merasa kegelian tanpa tau sikap yang di berikan mulai membuat nya merasa geli di sisi yang lain.
"Kenapa tidak ketawa juga sih?" dengus Louise kesal setelah semua usaha nya gagal dan ia baru menyadari jika sudah membuka semua kancing kemeja pria itu hingga menunjukkan otot-otot perut nya yang terlihat bidang.
"Wah...
Kau berisi juga yah? Rajin olahraga yah?" tanya Louise dengan mata berbinar dan menyentuh otot-otot perut tersebut dengan tangan nya.
Ia tak tau sikap nya akan membuat pria itu semakin bergairah di tambah lagi dengan sentuhan tangan nya yang mulai memencet otot-otot perut kotak tersebut, ia juga dengan polos nya menggeser duduk nya secara terus menerus tanpa sadar ketika ia duduk diatas bagian sensitif pria itu.
"Sudah jangan di sentuh lagi!" ucap James dengan suara yang mulai berat sembari menangkap tangan yang dengan jahil membuat gairah laki-laki nya bangkit.
"Pelit!" jawab Louise kesal yang masih tak sadar sudah menstimulasi pria itu.
"Kau mau terus duduk disitu? Hm?" tanya James sembari menarik tangan yang ia pegang hingga membuat gadis itu telungkup diatas tubuh nya.
"Ih? A-apa sih? A-aku kan juga tidak terlalu berat!" jawab Louise dan semakin menggeliat dan membuat bagian inti pria itu terus tergesek oleh nya dari luar.
Plak!
"Auch!" ringis gadis itu saat b*kong nya di pukul oleh pria yang berada di bawah tubuh nya.
"Kenapa di pukul sih? Sakit tau!" dengus Louise semakin kesal pada James.
"Kau bisa berhenti bergerak? Hm?" tanya James dengan suara semakin berat sedangkan gadis itu tak mengerti kenapa pria di bawah kungkungan bisa seperti itu.
"Aku berat yah? Nafas mu sampai tidak beraturan seperti itu...." tanya Louise dengan wajah yang benar-benar tak mengerti tentang birahi laki-laki.
James pun hanya memejam berusaha agar gairah nya menurun.
"Ini apa? Tadi tidak ada yang ganjal seperti ini?" tanya gadis itu lirih saat ia merasa sesuatu tengah bangun dan sedang mengembung dari pria itu.
Tangan nya tanpa sadar mencari bagian yang menggembung dan menyentuh nya sedangkan James semakin panas dingin karna tingkah polos gadis itu yang terus menstimulasi nya.
"James? Kau baik-baik saja? Iya aku bangun nih!" ucap Louise dan langsung bangun dengan tidak mencari sisi yang menggembung itu lagi.
James pun ikut bangun dan memegang tangan gadis yang sedang duduk di depan, ia menarik memeluk gadis itu namun tubuh mereka tetap tidak merapat dan memberikan celah walaupun dagu Louise sudah menempel di pundak pria itu.
"Kau mau tau bagian yang tadi mengganjal?" tanya James sembari mengalihkan tangan gadis itu ke bagian inti nya.
Louise masih diam mencerna hal yang tak ia mengerti tersebut sembari mendengar deruan nafas berat dari pria tampan itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Louise lagi.
"Tidak! Kau ingin tau kan bagian mana yang bisa membuat ku tergelitik?" tanya James dengan suara tertahan dan mulai mengarahkan tangan gadis itu ke bagian yang membuat nya tak nyaman.
"Ih, makin besar! Aku kan tidak duduk! Kenapa makin besar?" tanya Louise dengan polos nya saat tangan halus nya diatur untuk bergerak.
Nafas James semakin berat, ia tak tau kenapa bisa sebergairah ini hanya dengan stimulasi kecil yang tanpa sadar di berikan gadis yang memiliki pengetahuan nol tentang hal dewasa itu.
Louise pun melepaskan pelukan James dan melihat apa yang ia genggam dan semakin membesar itu.
Blush...
Telinga nya memerah seperti tomat saat tangan nya berada di tempat yang tak seharusnya.
"Kau yang membuat nya membesar jadi harus tanggung jawab." ucap James pada gadis itu.
"Ti-tidak mau!" jawab Louise spontan dengan gugup dan menarik tangan nya.
"I-itu karna tadi aku duduki yah?" tanya Louise lagi pada James dengan suara yang merasa bersalah.
Ia berfikir jika bagian pria itu bengkak seperti bengkak ketika terjatuh dan keseleo.
"Iya, maka nya kau harus membuat nya agar tak bengkak lagi." jawab James dengan suara berat dan mengisyaratkan gadis itu untuk bermain dewasa.
Namun Louise yang bingung pun langsung bangun dan kabur secepat kilat, bukan nya takut gadis itu malah mencari bantuan, ia merasa malu mengobati bagian inti pria karna basic nya yang dokter bedah jantung.
"Louise?!" panggil James menggema saat melihat gadis itu berlari secepat kilat.
Louise pun terus melangkah hingga ia bertemu dengan Nick.
"Dr. Chiko mana?" tanya Louise tergesa-gesa pada Nick.
"Kenapa?" tanya Nick mengkerutkan dahi nya menatap heran.
"James...
Dia..." jawab Louise ragu mengatakan nya.
Nick pun yang mengira terjadi sesuatu langsung memanggil Chiko dan berlari menghampiri tuan nya.
Tak lama kemudian saat James ingin bangun dan mandi untuk menurunkan gairah nya karna gadis yang menstimulasi nya kabur selincah tokoh Marsha dalam serial anak-anak Marsha and the Bear pergi tanpa aba-aba.
Louise pun berserta Nick dan Chiko sudah datang ke ruangan bersantai mencari keberadaan James yang mereka anggap terluka parah.
"Itu lihat! Itu nya bengkak! Obatin!" ucap Louise dengan polos nya menunjuk bagian tengah pria itu.
Sedangkan Chiko dan Nick yang masih mencerna terdiam sesaat dan langsung memalingkan wajah nya begitu pula dengan James.
"Tadi aku cuma dudukin aja, terus gak sengaja kesentuh sama keelus sedikit terus makin bengkak, tangan ku sampai penuh gak bisa di genggam! Kalian yang obatin yah..." terang Louise polos.
Wajah Nick dan Chiko pun langsung memerah padam mendengar ucapan polos gadis cantik itu tak terkecuali James yang langsung menutup wajah nya yang memerah.
Dari semua kejadian dan pengalaman hidup nya inilah kejadian yang paling memalukan akibat sifat polos gadis itu.
"Louise! Tutup saja mulut mu dan jangan bicara!" ucap James dengan nada penuh penekanan sembari menyembunyikan wajah nya yang memerah karna malu.
"Dr. Chiko gimana? Aku benar-benar tidak sengaja..." tanya Louise memelas pada Chiko.
"Se-sepertinya nona harus menghilangkan bengkak nya sendiri..." jawab Chiko terbata karna merasa malu dan wajah memerah nya.
"Nick?" panggil Louise lirih dengan tatapan berharap.
Nick melihat wajah gadis yang benar-benar seperti tak mengerti apa yang harus di lakukan.
Gadis tipe apa dia ini? Ya ampun...
"Sa-saya juga tak tau, seperti nona harus melakukan nya sendiri." jawab Nick dengan wajah memerah nya.
Louise pun melihat secara bergantian ketiga wajah yang memerah sedangkan ia dengan polos nya tak mengerti kenapa pria-pria itu terlihat malu.
"Maaf James!" ucap nya sekilas dan kabur lagi dengan sekuat tenaga meninggalkan pria-pria dengan wajah memerah seperti tomat tersebut.
Senyap...
Tak ada suara sedikit pun karna Nick maupun Chiko tak berani berkata sepatah kata pun pada tuan nya. Situasi canggung yang membuat kedua pria itu tak bisa berkata sedikit pun.
"Kalian ini bodoh sekali! Bisa-bisa nya juga ikut panik!" ucap James membuka suara dan pergi untuk membasuh tubuh nya dan menghilangkan rasa malu.
Pria itu pun langsung memarahi bawahan nya melampiaskan rasa kesal dan canggung nya.
Kan kena semprot lagi, padahal kan cuma khawatir, mana tau kalau wanita tuan sepolos itu...
Batin Chiko dan Nick yang menyuarakan hati yang sama walaupun sedang tak berbicara ataupun mengeluarkan suara.