(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Cross the line



Kediaman Rai.


Louise yang menyadari kakak nya telah kembali langsung menghampiri pria tampan itu. Sejak pagi dimana hari mereka bertengkar, Louis mulai mengurung adik nya dan tak membiarkan gadis nakal itu keluar.


Memilih semua gaun yang terbuka milik adik nya dan membakar nya agar tak ada lagi pakaian dengan bahan terbuka di pakai oleh gadis nakal itu lagi, seperti rok pendek, hot pants, gaun V neck yang terlalu terbuka dan lain nya. Pria itu membongkar lemari dan membakar seluruh gaun model seperti itu milik adik nya.


"Nih! Suka kan?" ucap Louis sembari memberikan Cake strawberry itu pada adik nya.


"Suka..." jawab Louise sembari menerima kue yang di bawa sang kakak.


"Kak...


Aku boleh-"


"Gak boleh!" jawab Louis langsung tanpa mendengarkan adik nya dan berlalu ke kamar nya.


"Ihh...


Belum juga bilang!" decak Louise kesal pada sang kakak dan mengikuti arah langkah kaki pria itu.


"Mau apa? Hm?" tanya Louis pada adik nya yang sudah mengikutinya ke kamar sembari melepaskan dasi dan jas nya.


"Besok boleh keluar gak? Sama Zayn..." bujuk Louise sembari mulai memotong cake nya.


"Jangan duduk di situ! Nanti cake nya tumpah!" ucap Louis sembari mengambil cake yang hampir di makan adik nya.


"Isshh...


Makin gak boleh makin makan di sini aku!" ucap Louise sembari menepis tangan sang kakak dan semakin duduk di atas ranjang kakak nya. Louis tak mau makanan adik nya malah tumpah ke atas selimut dan sprei nya.


Ctak!


"Auch!" pekik gadis itu saat kepala nya tersentik oleh sang kakak.


"Nakal mu itu di kurangin bisa gak sih?" tanya Louis pada adik nya.


"Bolehin dulu...


Sama Zayn..." rayu Louise pada sang kakak.


"Mau kemana? Belanja? Enggak!" ucap Louis lagi, ia tau adik nya pasti akan membeli gaun-gaun dan pakaian terbuka lagi karna ia sudah membakar nya.


"Enggak kok..." jawab Louise lirih saat jalan pikiran nya tertebak.


"La-lagi pula kartu ku kan sudah di bekukan..." sambung gadis itu lagi saat semua kartu black card nya di tarik dan di hentikan oleh sang kakak.


"Kartu Zayn yang kau pakai!" ucap Louis sembari mulai masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


"Haisshh..." decak gadis itu kesal saat keinginan nya tak di turuti.


15 menit kemudian.


Pria yang baru saja menyelesaikan mandi nya itu pun masih melihat adik nya yang malah semakin santai dan tiduran sembari memakan cake yang ia berikan tadi.


"Astaga Louise..." ucap Louis pada adik nya dan mengibas tubuh gadis cantik itu dengan sepotong handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut nya.


"Aduh! Adik nya kok di sabet sih kak?!" tanya Louise yang terganggu.


"Kan...


Dibilangin jangan makan disini...


Tumpah kan udah." ucap Louis saat ia melihat beberapa cream yang jatuh ke atas selimut nya.


"Anak perempuan kok makan nya belepotan!" sambung pria itu sembari mengambil tisu yang berada di atas nakas nya dan menyapu cream di sekitar bibir adik nya.


"Jangan marah-marah kak...


Jatuh loh nanti mantel mandinya..." jawab Louise enteng pada kakak nya saat bibir nya sedang di sapu dengan tisu.


"Ihh...


Geram nya...


Kalau bukan adik ku, udah ku tenggelamkan di laut!" ucap Louis pada adik nya.


"Kak...


Boleh yah...


Boleh yah kak...


Sama Zayn loh kak..." mohon gadis cantik itu lagi pada sang kakak.


Louis sama sekali tak tergerak dengan bujukan adik nya.


"Aku gantiin deh selimut nya!" ucap gadis itu lagi saat tak ada jawaban.


"Pegal kak? Sini aku pijat..." bujuk gadis itu lagi sembari memijat pundak sang kakak.


"Kalau ada mau nya aja, baik sama manis sama kakak nya..." ucap Louis pada gadis nakal itu yang sedang memijat pundak nya.


"Boleh yah kak...


Sayang kakak...


Muahh..." ucap Louise sembari mencium pipi kakak nya dari belakang saat ia memijat pundak kekar itu.


"Aku gak bilang Iya kok!" ucap Louis lagi pada sang adik.


"Tadi barusan bilang!" ucap Louise dengan mata berbinar.


"Kan itu contoh kata!" sambung Louis lagi.


"Boleh yah kak...


Sebentar aja sama Zayn yah..." bujuk Louise lagi.


"Yasudah! Dua jam sekali kasih kabar!" ucap pria itu pada adik nya saat sang adik terus menerus meminta apa yang di inginkan nya.


"Thanks! My brother!


Muahh..." ucap Louise mengecup sekali lagi pipi kakak nya dan langsung beranjak keluar dari kamar itu.


"Selimut ku ganti dulu Louise!" teriak Louis sang adik sudah langsung kabur ke kamar nya meninggalkan cream yang berjatuhan di atas selimut.


"Nanti aku suruh pelayan yang ganti! Love kakak..." teriak gadis itu yang suara nya semakin menghilang karna mulai masuk ke kamar nya sendiri.


Louis hanya menggelengkan kepala nya melihat sikap adik nya yang sangat suka berbuat sesuka hati.


...****************...


Mall.


Gadis cantik itu terus menatap ke arah teman nya yang terlihat tak suka dan sedang marah.


"Zayn marah yah? Maaf..." ucap gadis itu saat melihat wajah cemberut sahabat nya itu.


"Kau sih! Selalu buat khawatir!" ucap Zayn kesal.


Greb...


"Ihh, My baby Zayn kalo marah makin imut deh.." ucap Louise sembari memeluk tubuh bidang sahabat nya.


"Belanja yuk...


Zayn yang bayar!" ucap gadis itu tanpa malu sedikit pun dengan senyum cerah nya.


"Kata Louis gak boleh beli baju yang terbuka..." ucap Zayn pada gadis cantik itu yang sedang memeluk dirinya seperti lem perekat. Mungkin sebagian yang melihat pasti merasa jika kedua orang ini sedang berpacaran jika di lihat dari kedekatan nya.


"Boleh! Siapa bilang gak boleh?" ucap Louise yang terus membujuk sahabat nya agar mau membelikan nya gaun yang ia ingin kan.


"Boleh asal gak ketahuan kan?" tanya Zayn pada Louise sembari melihat gadis itu yang mulai menyerusuk masuk ke dalam jaket kulit nya.


"Iya!" jawab Louise tersenyum sembari mengandah ke wajah tampan sahabat nya.


Deg...


Melihat senyum gadis nakal itu membuat jantung Zayn serasa ingin keluar apalagi saat gadis nakal itu terus menerus lengket pada nya seperti lem.


"Zayn...


Kok jantung mu berdebar gini sih? Sampai kedengaran..." ucap Louise yang menyadari detak jantung teman nya menjadi lebih cepat.


Ia pun mulai menempelkan tangan nya ke dada bidang pria itu. Sebagai dokter spesialis jantung tentu nya hal tersebut membuat nya ingin memeriksa langsung.


"U-udah ih! Ayo ku belikan pakaian mu!" ucap Zayn yang tak mau semakin berdebar dan langsung menarik tangan sahabat nya agar segera berbelanja.


"Yeyyy...


My baby Zayn is the best deh..." sorak gadis itu pada teman nya yang berjalan di depan sembari memegang tangan nya.


Sedangkan wajah pria itu sudah memerah habis-habisan karna semakin tak terbiasa dengan skin ship yang di lakukan sahabat nya.


Setelah memilih beberapa pakaian dan gaun yang di inginkan gadis itu dengan tambahan beberapa sepatu heels cantik, kedua sahabat berbeda jenis itu pun mulai mengistirahatkan kaki mereka setelah berkeliling di cafe yang terdapat di mall tersebut.


"Enak tuh Zayn es krim nya?" tanya gadis itu basa basi saat es krim milik nya sudah habis.


"Gak enak es krim nya, jangan di makan!" jawab Zayn sembari menggeser cup nya.


"Tapi kemarin seingat ku enak loh...


Sini buat ku aja..." ucap Louise sembari mulai melayangkan sendok nya.


"Jangan kebanyakan makan es Louise! Itu udah tiga cup loh!" ucap Zayn sembari menghalangi tangan gadis itu.


Louise pun langsung setengah berdiri dan menatap wajah pria tampan itu dari dekat. Tangan nya mengusap ke arah es krim yang terlihat di sudut bibir Zayn karna pria tampan itu memakan es krim terburu-buru agar tak di ambil gadis nakal di hadapan nya.


"Kan enak kan...


Mau juga dong..." ucap Louise saat ia memakan es krim di tangan nya yang ia ambil dari bibir sahabat pria nya.


Blush...


Wajah pria itu kembali merona, dan terdiam seketika seperti terhipnotis saat gadis cantik seperti secara tak langsung mencium nya karna memakan es krim yang berada dari sudut bibir nya.


Eggh... eggh...


"Kok cegukan sih Zayn?" ucap Louise saat melihat teman nya terdiam sebentar dan langsung cegukan.


"Wajah mu juga merah, sakit yah? Tadi juga kan detak jantung nya gak normal..." ucap gadis itu yang tak pernah berfikir jika semua sikap nya dapat memiliki arti lain pada lelaki.


"A-aku baik-baik saja kok...


Nih makan..." sanggah Zayn gugup sembari menyodorkan cup es krim milik nya.


"Ke JBS yuk nanti...


Aku yang priksa...


"Aku gak kenapa-kenapa kok...


Lagi pula gak mau lah di periksa sama mu...


Udah lama berhenti jadi dokter, nanti malah salah diagnosis lagi." ucap Zayn sembari menutupi rasa gugup nya, semakin hari pria itu semakin tak bisa mengendalikan dirinya jika berada bersama gadis yang ia sukai.


"Ihh! Aku pinter tau!" decak Louise kesal pada teman nya.


"Mau ke taman gak nanti?" ajak Zayn mengalihkan pembicaraan pada gadis cantik itu.


"Mau!" jawab Louise dengan wajah cerah nya.


Senyum pun mulai terulas dari sudut bibir pria itu saat melihat wajah menggemaskan dari sahabat wanita nya.


......................


Taman.


Setelah sampai di taman gadis itu pun mulai berkeliling ke area sekitar danau di taman tersebut. Setelah kaki nya mulai merasa lelah ia pun menyandarkan dudukan nya ke salah pagar di dekat danau tersebut.



Zayn memperhatikan wajah gadis itu yang tersenyum manis sembari melihat ke arah lain.


"Zayn...


Sini duduk sama aku..." ucap Louise sembari menepuk sisi di samping tubuh nya.


Pria itu pun mulai duduk di samping tubuh gadis cantik itu. Melihat sahabat nya yang sudah duduk di sebelah nya langsung membuat gadis itu menyandarkan kepala nya ke bahu kekar pria tampan itu.


"Ngantuk Zayn..." ucap Louise lirih sembari mulai memejamkan mata nya.


Zayn pun mulai melirik nya dan menghalangi cahaya pada mata gadis itu saat cerah nya sinar mentari mulai datang.


Louise yang merasa nyaman pun mulai benar-benar tertidur, sedangkan Zayn terus saja menghalangi cahaya pada wajah gadis itu agar tak terusik tidur nya karna cahaya hangat mentari.


30 menit kemudian.


Louise mulai terbangun dari tidur sejenak nya dan melihat tangan kekar sahabat nya yang sedang menghalangi cahaya untuk nya.


"Aku tidur beneran yah tadi?" tanya Louise sembari mengusap mata nya dan tak menyandarkan kepala nya lagi ke bahu kekar sahabat nya.


"Hm..." jawab Zayn singkat dan menurunkan tangan nya.


"Mau balik?" tanya Zayn pada Louise.


"Iyah..." jawab Louise yang masih setengah mengantuk.


Sesaat setelah mereka keluar dari area taman, kedua sahabat di hadang dengan 5 pria yang berpenampilan seperti preman dan tak menunjukkan keramahan.


"Bener kok orang nya!" sahut pria tersebut sembari melihat layar ponsel nya dan melihat ke arah Louise dan Zayn.


Langkah gadis itu sedikit memundur ke belakang tubuh bidang sahabat nya.


"Zayn...


Kau punya hutang sama rentenir ilegal yah?" tanya Louise dengan suara berbisik.


"Rentenir apa? Kau nanti yang buat masalah lagi..." jawab Zayn pada Louise, mereka sama-sama bingung kenapa bisa di hadang dengan orang-orang yang seperti menunjukkan rasa benci.


"Nanti waktu aku lawan mereka kau lari yah..." ucap Zayn lagi sembari terus membentengi gadis itu di balik tubuh nya. Ia tau batas lawan nya dalam berkelahi hanya 3 orang saja.


"Lari bareng lah!" ucap Louise yang tak ingin pergi lari sendiri.


"Batas ku cuma tiga orang Louise...


Lebih dari tiga gak tau bakal menang apa engga..." jawab Zayn yang ingin agar gadis itu lari lebih dulu. Ia tak memikirkan keselamatan nya sama sekali selain gadis yang ingin ia lindungi itu.


"Astaga Zayn...


Mereka nambah!" ucap Louise saat melihat beberapa pria yang berdatangan lagi dengan sepeda motor.


"Lari!" dorong Zayn pada gadis itu saat satu balok kayu mengarah pada nya.


Buk!!!


"Shit! Hampir saja!" ucap nya saat ia berhasil menghindar.


Sesaat sebelum ia baru saja menghindar sudah datang lagi pukulan lain, pria itu berusaha menghindar dan melayangkan tendangan putaran milik nya.


Buak!! Bukk!!


Pertarungan yang tak seimbang itu karna memukul satu pria dengan banyak lawan pun membuat Zayn tak bisa menahan serangan tanpa henti yang terus berdatangan pada nya.


"Ukh!" pekik pria itu saat semua yang berada disana seperti menargetkan nya, tubuh nya terkepung dan di pegang dengan pria yang lain.


"Katakan yang terakhir untuk hari mu, anak muda." ucap Pria tersebut menyeringai dan ingin segera melayangkan pukulan balok kayu ke arah kepala Zayn.


Zayn tak membalas seringai pria tersebut dengan seringai lain di wajah nya, ia merasa lega karna sudah melihat gadis itu berlari pergi saat ia menolong nya.


BUAK!!!


Pukulan yang terdengar nyaring pun terdengar di wilayah yang sunyi tersebut.


Tes.. tes.. tes...


Tetesan darah, pun mulai mengalir dari kepala pria yang terkena hantaman benda tajam tersebut. Bau anyir seketika semakin tercium di indra penciuman orang-orang jahat yang haus darah tersebut.


Zayn pun membuka mata nya saat ia mendengar suara pukulan dan mencium anyir darah yang semakin pekat selain darah yang ia keluarkan saat pertarungan nya tadi.


"Louise?" gumam pria tersebut terkejut saat melihat gadis itu yang juga terkejut karna memukul kepala pria yang hampir memukul nya dengan balok kayu.


"Tangkap jalang itu juga!" sahut yang lain dan mulai melirik tajam ke arah gadis cantik itu.


Zayn pun berusaha melepaskan tangan nya yang sedang di pegang dan langsung menarik tangan gadis itu untuk berlari dengan nya.


Tap... tap...tap...


Langkah lari yang bersahutan karna di kejar pun terdengar jelas di gang antara gedung lain ke gedung lainnya.


"Kenapa tak pergi tadi? Kenapa kembali?" tanya Zayn terengah-engah di lari nya pada Louise.


Gadis itu tak lari sama sekali, ia hanya bersembunyi dan menghubungi kakak nya, namun saat gadis itu melihat lagi teman nya, ia melihat hidup sahabat nya yang hampir usai.


"Zayn...


Berhenti...


Mereka udah gak ngejar lagi..." ucap Louise yang mulai tak tahan dengan lari karna jantung nya yang lemah.


Zayn pun berhenti dan mulai duduk diatas batasan dinding, sedangkan Louise menyandarkan tubuh nya ke dinding bangunan tersebut.



"Kau baik-baik saja?" tanya Zayn pada gadis itu yang masih mengatur nafasnya.


"Aku baik-baik saja...


Dan lagi kita ini dimana?" tanya Louise saat menyadari tempat yang mereka lalui dan menyelinap di antara bangunan-bangunan lain nya.


Belum sempat Zayn menjawab ia sudah mendengar suara langkah yang hampir menyusul mereka lagi.


"Louise ayo!" ucap Zayn sembari ingin menarik tangan gadis itu lagi.


"Jangan lari lagi...


Aku gak sanggup! Kita sembunyi di sana aja!" ajak Louise sembari menunjuk ke arah sela bangunan di sisi lain.


Tanpa menunggu jawaban dari Zayn, gadis itu pun segera menarik tangan sahabat nya.


"Zayn, buka jaket mu!" ucap Louise sembari melepas jaket nya lebih dulu.


"Untuk?" tanya Zayn bingung.


"Jangan tanya! Lakukan saja!" ucap Louise sembari mulai mengeluarkan kaus nya yang ia lipat di dalam celana jeans nya.


Pria itu sedikit ragu melepas jaket nya karna takut luka nya terlihat. Ia pun akhir nya melepas nya setengah jaket nya. Louise pun langsung meletakkan tangan kekar pria itu menyelinapkan ke dalam kaus di dalam miliknya.


Zayn pun terdiam beberapa sesaat, saat tangan nya di selinapkan di balik kaus gadis itu menyentuh ke kulit perut halus Louise secara langsung.


Cup...


Baru saja terkejut karna gadis itu meletakan tangan nya ke perut rata nya dari balik kaus secara langsung, gadis itu sudah mencium bibir teman nya sendiri.


Sesaat setelah mereka berciuman nya, pria-pria jahat yang mengejar mereka pun tiba.


"Shit! Gak ada tempat apa?!" ucap pria tersebut yang tak mengenali objek yang ia kejar saat melihat sepasang wanita dan pria berciuman di tempat sunyi dan sempit itu.


Zayn yang mendengar hal tersebut pun menyadari maksud tujuan dari gadis cantik itu berbuat nekat seperti itu.


Ia pun kemudian semakin menarik tengkuk Louise dan mulai mel*mat bibir mungil sahabat nya. Tangan nya dan berani beranjak naik namun mulai mengelus perut dan bergerak ke punggung gadis itu.


Hummpphh...


Kini gadis itu yang menjadi terkejut karna tiba-tiba pria yang selalu ia anggap seperti saudara nya mencium nya dengan agresif.


"Woi! Ngapain! Ayo cari mereka! Malah lihat orang mau itu!" ucap salah satu pria yang mirip seperi preman lain pada teman nya yang tertarik dengan ciuman live di depan nya.


Pria tersebut pun langsung pergi setelah mendengar ucapan teman nya yang lain dan mencari sasaran nya lagi.


Zayn tak tau kenapa ia bisa seagresif itu dalam mel*mat bibir teman nya padahal ini adalah ciuman pertama nya, mungkin karna hasrat nya yang begitu besar sehingga ia bisa mengikuti alur seperti air itu.


Hah..hah...hah...


Kedua orang itu pun mengambil nafas nya dengan dalam usai ciuman panas mereka. Zayn pun mengeluarkan tangan nya dari kaus yang di kenakan sahabat nya.


Zayn tak tau apakah ia melewati batas, namun yang lebih dulu melewati dan menghapus batasan dari pertemanan mereka adalah gadis cantik itu.


Louise yang terus menerus bersikap dan melewati batasan antara pertemanan wanita dan pria akhir nya membuat Zayn berani melewati batas nya juga.


"Louis nanti dateng kok! Aku udah telpon dia tadi!" ucap Louise saat ia sudah mengatur nafas nya.


"Hm..." jawab Zayn dengan wajah memerah dan tak bisa melihat wajah gadis itu yang masih sangat dekat dengan nya, karna posisi mereka yang saling berdekatan dan seperti mendekap satu sama lain karna berada di cela sempit antara bangunan.


"Ci-ciuman tadi...


Tidak akan membuat mu takut pada ku, kan?" tanya Zayn gugup saat ia tau jika Louise tak suka dengan sentuhan karna trauma nya.


Deg...


Gadis itu tersentak, ia baru menyadari jika ia baru saja melakukan ciuman panas dengan sahabat nya sendiri dan tak merasa apapun, tak merasa takut sama sekali seperti waktu James menyentuhnya dan memaksanya berciuman.


"Ti-tidak kok..." jawab Louise lirih dan ikut membuang wajah nya tak lagi menatap ke arah Zayn.


Zayn pun melirik ke arah Louise yang mulai menyadari situasi yang baru saja terjadi. ia melihat telinga gadis itu yang memerah bagaikan tomat seperti wajah nya yang juga memerah.