
4 hari kemudian.
Sejak bangun dan tau ia tak bisa mendengar apapun membuat Alyss tak berbicara sama sekali, sesekali ia bicara itu pun saat ia sedang ketakutan.
Ia masih tinggal di JBS Hospital karna beberapa perawatan fisik yang diperlukan.
Terapi psikiater sulit untuk di lakukan karna ia tak bisa mendengar dan tak menunjukkan reaksi apapun, Alyss sangat menolak menggunakan alat bantu pendengaran, dan bahkan sangat sensitif dengan alat itu.
"Kau sudah makan?" tanya Hazel sembari menyentuh pundak Alyss yang sedang duduk termenung menatap kosong ke arah taman JBS dari jendela ruangan nya.
Seperti biasa Alyss tak menjawab dan tak memberikan reaksi apapun.
"Pakai ini yah? Hanya untuk sementara." ucap Hazel sembari mulai meletakkan alat bantu dengar di telinga Alyss.
Alyss pun langsung tersentak, dan mengambil alat itu, ia langsung membanting nya kelantai dan menginjak nya.
Entah sudah alat keberapa yang ia rusak, karna setiap Hazel memasangkan alat tersebut Alyss langsung melepasnya dan merusak nya.
"Aku tak mau memakai nya, aku tidak mau terlihat cacat..." ucap Alyss sembari mengalihkan pandangan nya pada alat bantu dengar yang sudah rusak itu.
Hazel selalu memaksa Alyss memakaikan alat itu karena terapi psikologisnya akan lebih mudah, ia ingin menjalani hipnoterapi pada Alyss untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Alyss, namun Alyss tak akan bisa melakukan hipnoterapi jika ia tak bisa mendengar.
Kesabaran Hazel sudah mulai menipis ia pun mencengkram lengan atas Alyss dengan kuat, hingga membuat Alyss langsung mengandah pada nya.
"Jangan keras kepala! Bagaimana kau bisa membaik jika seperti ini?! Kau ingin terus seperti ini!!! Ha??!!!" ucap Hazel dengan nada tinggi.
"Kau marah? Lagi pula aku tak dapat mendengar apa yang kau katakan, jadi terserah mu saja." ucap Alyss lirih dengan ekspresi kosong.
"Jangan menatap ku dengan wajah seperti itu!" ucap Hazel dengan semakin mencengkram lengan Alyss.
"Lalu aku harus bagaimana? Kau mau menghukum ku lagi? Sekarang aku tak bisa mendengar, kau juga ingin membuat ku tak bisa melihat? Atau tak bisa berjalan? Hm?"
tanya Alyss dengan suara tertahan.
"Sunyi...
Aku tak bisa mendengar apapun...
Aku benar-benar serasa terkurung...
Aku terjebak disini, aku takut...." ucap Alyss lirih dengan suara yang semakin tertahan.
Ia menatap iris Hazel dengan nanar, buliran bening mulai terjatuh dari ujung matanya.
"Ini...
Ini semua karna mu! Dia tak akan melakukan hal itu padaku jika bukan karna mu! Dia bilang aku jalang! Aku barang bekas! Aku...
Aku wanita kotor...." ucap Alyss tertahan dan suara tersendat karna menahan tangis nya sambil berbicara, ia mulai menyalahkan Hazel untuk semua yang terjadi padanya.
Cacian dan makian yang Will ucapkan sangat membekas di hatinya, dan tumbuh seperti pohon berduri dalam dirinya.
Amarah Hazel yang sebelumnya meninggi karna melihat Alyss yang selalu keras kepala, mulai menurun, cengkraman tangan nya perlahan mulai melonggar, ia menatap nanar iris Alyss yang semakin berkaca dan terus menjatuhkan bulir bening nya.
Hazel tak membalas perkataan Alyss lagi, ia hanya menatap Alyss yang terus menangis dengan berusaha tak mengeluarkan suara tangis nya.
Hazel pun menurunkan tangan nya dan memegang pergelangan tangan Alyss, ia membuka telapak tangan Alyss yang kecil dan menulis sesuatu di telapak tangan Alyss dengan jarinya.
"Kau bukan jalang, kau tidak kotor sama sekali."
"Maaf, aku datang terlambat."
Hazel menulis kan kalimat itu dengan membentuk satu persatu huruf tersebut di telapak tangan Alyss dengan jarinya.
Alyss semakin menjatuhkan bulir bening di matanya, ia kembali menatap wajah Hazel yang sedang menatap nya nanar.
"Benarkah? Tapi itu benar kan? Kita...
Kita sudah melakukan nya berulang kali...
Dan, ji-jika dia juga sudah melakukan itu pada ku, apa kau masih bisa menerima ku?" tanya Alyss dengan air mata semakin meleleh.
"Aku benci! Aku sangat membenci mu! Aku benci dengan mereka yang berbicara! Aku benci dengan keadaan ku! Aku...
Aku juga sangat membenci diriku sendiri..." ucap Alyss lagi semakin terisak dalam tangis nya.
Dada nya terasa sesak, suara nya semakin tercekat karna tangis nya yang semakin tersendat dan tertahan di tenggorokan nya. Ia takut, marah, benci, dan merasa putus asa dalam waktu yang bersamaan.
Hazel pun semakin mendekatkan dirinya dan perlahan memeluk tubuh Alyss, ia menyembunyikan wajah Alyss yang sedang menangis di dada bidand nya. Ia menepuk punggung Alyss perlahan untuk menenangkan Alyss.
"Aku tak akan meninggalkan mu, aku sudah pernah bilang jika kau hanya bisa terlepas dari ku, jika aku mati, jadi kau akan tetap menjadi milikku walau apapun yang terjadi."
Hazel menulis kalimat tersebut di punggung Alyss yang sedang ia peluk dengan mengunakan jarinya.
Alyss dapat merasakan tulisan Hazel di punggungnya, ia terus menangis dan menyembunyikan wajah nya di dada bidang Hazel, tangan kecil nya mulai meremas pakaian yang dikenakan oleh pria yang sedang memeluk nya saat ini.
Hazel membiarkan Alyss yang terus menangis dalam dekapan nya.
Setelah 45 menit.
Alyss sudah berhenti menangis dan mengangkat wajah nya dari pelukan Hazel, ia pun dapat melihat dengan jelas kemeja Hazel yang basah karna tangis nya.
Hazel pun yang melihat Alyss sudah berhenti menangis langsung memegang kedua pipi Alyss dengan telapak tangan nya dan membuat wajah Alyss mengandah padanya.
Mata yang sembab, hidung yang merah, dan bahkan wajah yang memerah karna tangis nya tampak terlihat jelas di wajah Alyss yang berkulit putih itu.
Ia masih belum bisa mengatakan tentang apa yang terjadi di rahim Alyss, ia takut Alyss semakin terpuruk saat mengetahui ia akan sangat sulit untuk memiliki anak.
Hazel menarik tangan Alyss agar duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Hazel pun menuliskan sesuatu di ponsel nya dan menunjukkan nya pada Alyss.
"Aku tak akan memaksa mu memakai alat itu lagi, tapi lakukan terapi mu dengan benar, kau pasti akan bisa mendengar lagi."
Tulis Hazel di ponsel nya, setelah Alyss membaca nya ia pun melihat ke arah wajah Hazel lagi dan menganggukkan kecil kepala nya.
Hazel pun tersenyum dan memeluk Alyss lagi, ia mengusap rambut di belakang kepala Alyss dengan lembut.
"Aku membenci mu!" ucap Alyss di dalam pelukan Hazel.
Hazel hanya tersenyum, dan terus mengusap rambut Alyss perlahan sembari mengeratkan pelukan nya.
"Aku mencintai mu..." balas Hazel lirih di telinga Alyss.
Alyss dapat merasakan balasan ucapan yang di katakan Hazel karna ia merasakan hembusan nafas Hazel di telinga nya, namun ia tak tau apa yang di katakan oleh Hazel.
......................
Skip time.
15 hari kemudian.
Hazel memberhentikan terapi psikologis pada Alyss karna Alyss sudah terlihat baik-baik saja, namun ia masih tak dapat mengingat kejadian sebelumnya.
Dr. Lian yang merupakan psikiater yang merawat Alyss mengatakan Alyss kemungkinan memiliki Alter ego yang ia ciptakan untuk melindungi dirinya, dan kemungkinan besar berpotensi memiliki kepribadian ganda.
NB Ket : Alter ego adalah kondisi di mana seseorang membentuk karakter lain dalam dirinya secara sadar.
Namun hal itu masih belum bisa di pastikan dengan pasti, karna Alyss juga terlihat seperti menutup dirinya dengan benteng besar yang semakin sulit untuk menjalani terapi psikologis tersebut, dan bisa jadi bahwa itu merupakan karakter Alyss yang sebenarnya, namun ia berusaha menutup dan membuang nya sehingga karakter tersebut menjadi terpisah dalam dirinya.
Dan terpancing lagi keluar karna kondisi dan keadaan yang terus mendesak nya, dan membuat nya keluar untuk melindungi diri Alyss yang asli.
......................
Kediaman Hazel.
Hazel membawa Alyss kembali dari RS saat kondisi nya sudah mulai membaik, dan Alyss tetap menjalankan terapi untuk pendengaran nya secara rutin.
Sejak Alyss menangis beberapa minggu lalu, ia tak menangis lagi, ia juga tak berbicara sama sekali.
Hazel juga melakukan hal yang sama, ia tak berbicara sama sekali jika di hadapan Alyss, jika ia ingin berbicara atau mengatakan sesuatu ia akan menulis di telapak tangan Alyss atau mengetik di ponselnya.
Hazel juga melarang siapapun untuk berbicara pada Alyss dan tak membolehkan siapapun berbicara di depan Alyss, ia tau Alyss sangat sensitif dengan suara dan orang yang sedang berbicara.
Malam pun tiba, Hazel membawa Alyss kekamar nya dan berusaha membuat Alyss tidur teratur.
"Aku belum mengantuk..." ucap Alyss saat Hazel sedang mendekap nya.
"Tidur sekarang." tulis Hazel di punggung Alyss dengan jarinya.
"Aku mau bilang sesuatu, tapi kau jangan marah yah..." ucap Alyss lagi dengan suara lirih.
Hazel pun menunduk kebawah dan melihat wajah Alyss yang sedang mengandah padanya.
Ia pun bangun dari tidur dan segera duduk, Alyss pun mengikutinya dan ikut duduk.
"Aku...
Aku ingin kau mengundur pernikahan kita...
Hanya sampai aku bisa mendengar...
Ku mohon...." ucap Alyss lirih.
Ia meminta Hazel mengundur pernikahan mereka, karna ia benci dengan keramaian sejak ia tak bisa mendengar apapun.
Hazel mengerutkan dahinya, ia ingin segera memarahi Alyss dan mengatakan "Tak bisa!" dengan segera. Namun ia berusaha meredam amarahnya, ia tak ingin Alyss depresi seperti sebelum nya.
Hazel pun mengambil ponsel nya dan mengetik
"Kenapa?" lalu menunjukkan nya pada Alyss.
"Aku tak suka ramai, aku tak mau keluar...
Aku tak suka melihat orang berbicara...
Ku mohon...
Hanya sampai aku bisa mendengar lagi." ucap Alyss dengan mata berkaca-kaca.
Hazel menarik nafas nya dengan panjang,ia berpikir jika menunggu Alyss sampai bisa mendengar lagi, lalu kapan mereka akan resmi menikah? Sedangkan Alyss sendiri tak bisa kapan di pastikan akan dapat mendengar lagi.
"Baik, akan ku undur satu bulan lagi. Dan setelah satu bulan kita akan menikah apapun yang terjadi. TAK ADA NEGOSIASI LAGI!!!"
Tulis Hazel di layar ponsel nya, dengan menekankan beberapa kata yang ia tulis dengan huruf besar dan di block.
Ia pun merebahkan tubuh Alyss lagi dan langsung mendekap nya kembali dalam pelukan nya.
"Tidur sekarang!!!! Atau aku akan meniduri mu!!!!"
tulis Hazel di punggung Alyss dengan banyak menulis tanda seru.
Alyss pun mengerti maksud Hazel dan langsung memejamkan mata nya dengan segera.
......................
Pukul 07.15 PM.
Hazel masih sibuk mengeringkan rambut basah Alyss dengan pengering rambut.
"Aku bisa sendiri." ucap Alyss dan berusaha mengambil pengering rambut tersebut dari tangan Hazel.
Hazel pun menepis tangan Alyss dan tetap mengeringkan rambut basah Alyss.
Setelah rambut Alyss sudah kering total, ia pun melihat dirinya yang sedang duduk di belakang Alyss dan wajah Alyss yang diam tanpa ekspresi dari pantulan cermin rias di kamarnya.
"Aku sangat suka mengurus mu..." ucap Hazel lirih sembari menyingkirkan rambut yang menutupi leher Alyss dari belakang. Ia pun mencium dan mengesap leher Alyss dengan lembut, merasakan aroma tubuh Alyss yang semakin harum karna ia baru saja selesai mandi dan mencuci rambut nya.
Alyss sedikit tersentak saat Hazel mencium leher nya dari belakang, ia merasa Hazel mengatakan sesuatu namun ia tak tau apa itu.
Alyss hanya diam dan membiarkan Hazel yang mencium leher nya, dan memeluk erat tubuhnya dari belakang.
Selama beberapa hari terakhir ini, ia mulai merasa nyaman dengan sikap Hazel yang semakin melunak padanya, Hazel benar-benar mengurus nya dengan sangat baik dan mulai sangat jarang memarahinya.
Hingga tanpa sadar ia mulai bergantung, pada pria yang sedang memeluk erat tubuh nya dari belakang.
Alysscalla Zalea
Hazel Rai
...****************...
Duh kayak nya Alyss dah semakin buka hatinya tuh untuk Hazel hihi...
Menurut kalian kapan Alyss nya bisa mendengar lagi???🤔🤔🤔🤔
Haii...
Jangan lupa like, komen, rate 5, vote, fav dan dukungan yang lain yah🤗🤗🤗🤗
Dan buat kalian yang dah dukung othor, othor ucapin terimakasih🤗🤗🤗🤗
Terus ikutin cerita othor yah...
Happy reading❤️❤️❤️❤️