(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Satu permintaan



Tatapan tajam Hazel melihat Alyss yang sedang di obati pun membuat para dokter dan juga wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri menjadi risih.


"Tidak terlalu parah kan? Sudah ku bilang tak perlu kerumah sakit...." ucap Alyss lirih saat suaminya menatap tajam ke arahnya.


Setelah selesai memberi mengobati goresan luka di leher putih itu Alyss langsung memberi kode mata pada para dokter untuk keluar dan membiarkan nya berbicara berdua dengan suaminya.


"Hazel....


My bear...." panggil Alyss manja pada Hazel sembari meraih jari telunjuk suaminya. Ia tak tau kenapa Hazel terlihat marah padanya namun ia tetap harus membujuk nya.


"Kenapa bisa luka? Hm?" tanya Hazel yang mulai luluh saat Alyss membujuk nya dengan nada manja.


"Kau marah karna hal itu?" tanya Alyss yang kini sudah tau kenapa suaminya bisa marah.


"Kau dulu melakukan yang lebih buruk...


Ohhh mungkin karna aku terluka bukan karena mu? Dulu kau bilang hanya kau kan yang boleh melukai ku?" tanya Alyss tersenyum dan memberikan sindiran pada suaminya.


"Alyss!" bentak Hazel. Memang yang di katakan istrinya sangat benar namun itu dulu! Saat ia belum menyadari jika sikap gilanya bisa membuat dirinya kehilangan orang yang sangat ia cintai.


Alyss hanya tersenyum menatap suaminya yang sedang kesal.


"Kau tidak tau aku sangat takut tadi? Kalau kau tak suka pada wanita sialan itu katakan saja pada ku! Aku akan menyiksanya sampai mati! Tak perlu melukai diri mu sendiri!" ucap Hazel yang menunjukkan kekesalan nya dan memarahi Alyss yang sedari tadi menatap nya dengan tenang.


"Love you..." ucap Alyss lirih dan membuat suami psycho nya langsung terdiam.


Hazel memejamkan mata sesaat ketika mendengar ucapan istrinya, hanya dua kata namun dapat menenangkan nya.


"Kenapa diam saja? Hm? Aku tak akan lakukan hal seperti itu lagi...


Dan luka ku juga tak terlalu parah kan? Tanpa membawa ke rumah sakit pun aku bisa mengobatinya sendiri..." ucap Alyss dan mulai memeluk tubuh bidang suaminya.


Perlahan Hazel membalas pelukan istrinya, ia mendekap tubuh kecil itu dalam kukupan tubuh kekarnya.


"Kalau ada yang tak kau sukai kau bisa bilang pada ku...


Jangan lakukan hal seperti itu lagi, aku tak melarang mu untuk berkelahi atau membunuh orang lain, tapi jangan sampai terluka..." ucap Hazel lembut sembari mengelus lembut punggung istrinya.


Ia tak peduli dengan orang lain, mau orang itu mati ataupun cacat ia tak akan peduli sama sekali, yang ia pedulikan hanya satu! Yaitu wanitanya! Wanita yang mengambil semua isi hatinya dan benar-benar membuatnya menjadi milik wanita itu.


Alyss hanya mengangguk perlahan dalam pelukan suaminya.


"Hazel...


Kita ke ruangan mu saja yah...


Disini terasa pengab..." ucap Alyss lirih pada suaminya.


Walaupun ruangan itu sangat besar dan sudah di design sebagus mungkin agar wanitanya tak merasa bosan namun tetap saja Alyss merasa tak pengab dan sesak.


Ruangan di mana ia menjalani perawatan berulang kali saat bertarung dengan maut dan ruangan tempat ia menjalankan terapi untuk memperpanjang masa hidupnya dan berusaha menghadirkan kehidupan baru dalam dirinya.


Hazel yang mengerti ucapan Alyss pun langsung membawa istrinya keluar dari ruangan perawatan itu dan membawa nya ke kamar istirahat di ruangan presdir nya.


"Hazel..." panggil Alyss lirih pada suaminya saat Hazel memeluknya dan mengelus lukanya perlahan dari luar perban.


"Hm?" jawab Hazel singkat sembari terus mengelus luka di leher istrinya, saat melihat luka tersebut ia benar-benar tak sabar untuk memberi pelajaran pada gadis sialan yang membuat istrinya sampai terluka.


"Kau tak tidur? Kalau kau terus seperti ini akau kan menidurkan mu dengan cara ku...


Kau mau?" tanya Hazel agar istrinya segera tertidur.


Malam ini mereka tak kembali ke kekediaman nya seperti biasa namun mereka tidur di kamar istirahat ruangan Hazel setelah luka di leher Alyss di obati.


"Hazel...


Apa jika memiliki di posisi tinggi seperti kau membutuhkan pewaris?" tanya Alyss lirih, walaupun ia sudah membalas Zee habis-habisan namun ucapan gadis itu tetap terngiang di kepalanya.


Hazel berhenti mengelus luka perban di leher istrinya dan sedikit menunduk melihat ke arah Alyss yang sedang terbenam dalam dekapan nya.


"Kenapa tanya begitu? Dia mengatakan sesuatu?" tanya Hazel yang semakin geram pada Zee karna merasa mengatakan hal yang tidak-tidak pada istrinya.


"Jawab saja...


Kau butuh pewaris yah untuk perusahaan mu?" tanya Alyss lirih.


Hazel terdiam beberapa saat dan mulai menjawab Alyss.


"Hm...


Aku membutuhkan pewaris untuk perusahaan yang ku bangun." jawab Hazel jujur karna ia tau percuma saja berbohong pada istrinya yang sudah tau jawaban pastinya.


Alyss memejamkan matanya sesaat mendengar jawaban suaminya.


"Tapi yang paling ku butuhkan itu kau...


Bohong kalau ku bilang aku tak butuh pewaris, tapi aku juga hanya ingin pewaris yang kau berikan untuk ku...


Bukan orang lain...


Selama aku masih ada JBS tetap milik ku! Dan aku masih akan terus dapat menjalankan perusahaan ku sendiri..." sambung Hazel agar Alyss tak semakin tertekan.


"Tapi mungkin saja kau berubah di kemudian hari, mungkin nanti kau akan menuntut hal itu pada ku, hal yang tak bisa ku berikan..." jawab Alyss lirih, walaupun ia tau saat ini Hazel sangat mencintainya tapi, siapa yang tau tentang masa depan? Bisa saja suaminya ingin mendapatkan pewarisnya.


"Kalau nanti kau berubah pikiran dan benar-benar menginginkan nya...


Kau jangan menikah lagi yah...


Selama aku masih hidup kau milik ku...


Aku tak mau meminjamkan mu atau membagi mu...


Dan kalau kau benar-benar punya wanita lain nanti, jangan biarkan aku tau yah. Kalau aku tau mungkin aku akan membunuh wanita itu...


Aku ingin tetap mengetahui kalau kau mencintai ku...


Bahkan sampai aku mati..." jawab Alyss lirih dengan suara tertahan ia mengatakan semua ketakutan dalam hatinya. Ucapan Zee yang menyinggung tentang dirinya yang tak hamil sampai sekarang benar-benar berbekas di kepalanya.


Mendengar suara Alyss yang berubah membuat Hazel semakin turun dan melihat wajah wanitanya yang sudah mulai menangis.


"Kenapa menangis? Hm?


Aku tak akan berubah...


Dan kalau kau mati aku akan mengikutimu...


Kenapa aku harus menikah lagi?


Aku sudah punya kau...


Dibanding pewaris aku lebih menginginkan mu..." ucap Hazel lembut sembari menghapus bulir bening yang jatuh di mata wanitanya.


"Kau bisa jamin? Bagaimana kalau kau berubah?" tanya Alyss lagi dengan suara tertahan menahan tangis nya.


Tak bisa memiliki keturunan benar-benar membuatnya tertekan dan Hazel juga ikut tertekan setiap kali melihat wanita menjadi murung.


"Ssttt....


Tidak...


Aku tak akan berubah...


Kenapa kau takut sekali? Hm? Aku mau punya anak karna kau juga mau...


Tapi kalau kau tak mau aku juga tidak...


Ku mohon berhenti seperti ini..." ucap Hazel yang mulai memeluk Alyss lagi sembari menidurkan istrinya yang terbenam dalam dekapan nya.


"Kau masih punya 3 terapi lagi kan? Kenapa begini? Masih ada kesempatan lagi..." ucap Hazel yang berusaha meyakinkan Alyss walaupun ia membenci terapi yang membuat istrinya merintih kesakitan, namun ia juga membenci saat semangat wanita nya hancur.


"Hazel...


Kau bisa berjanji pada ku? Janji akan menuruti satu permintaan ku nanti...


Kau tak boleh menolak saat aku meminta nya nanti...." ucap Alyss tiba-tiba saat ia mulai tenang.


"Hm...


Aku janji, apa yang kau inginkan?" tanya Hazel lembut dan langsung mengiyakan.


"Ada...


Tapi tidak sekarang, kalau waktu nya benar-benar datang kau harus menepati janji mu...." jawab Alyss lirih, ia bahkan tak tau apakah akan memiliki kesempatan untuk itu atau tidak.


"Iyah...." jawab Hazel lembut sembari mengelus punggung wanita nya dengan perlahan.


Tak hanya istrinya yang merasakan sakit dan tertekan karna sulit memiliki anak, ia juga merasa seperti itu setiap kali melihat Alyss yang kehilangan semangat nya. Ia juga merasakan sakit yang sama.


Bagi Hazel memiliki Alyss di hidupnya sudah cukup, ia bahkan bisa menukar semua yang ia miliki untuk wanita itu, tapi bagi istrinya belum cukup.


Alyss yang sangat ingin memiliki keturunan dan Hazel yang sangat ingin memilikinya, jika istrinya berhasil memberinya pewaris tentu ia akan sangat senang namun jika dengan memiliki anak akan membuatnya kehilangan wanita nya ia tak akan pernah mau.


......................


8 hari kemudian.


"Sudah mengakusisi semua saham MK?" tanya Hazel pada Rian, saat sekretaris nya memberi beberapa dokumen untuk ditandatangani.


"Sudah, namun perlu beberapa hari untuk menyelesaikan secara keseluruhan." jawab Rian.


"Jalang itu, kau tau kan?" tanya Hazel yang menyebutkan Zeevanya.


"Zeevanya? Putri MK grup?" tanya Rian memastikan.


"Iya, aku mau pita suara nya di potong dan dia tak bisa bicara lagi, pastikan dia mandul dengan menikam perut nya dan siram wajah nya dengan air keras." perintah Hazel pada Rian, ia tak mau menyiksa dengan tangan nya sendiri karna tak mau membunuh gadis itu.


"Baik." jawab Rian patuh.


Ia ingin gadis itu hidup menderita sampai mati, dan jika ia yang melakukan dengan tangan sendiri ia pasti akan mengambil jantung dan memenggal kepalanya. Hazel benar-benar tak mau itu terjadi.


Hazel mau gadis itu menderita dan bahkan lebih menderita lagi serta merasakan semua keputus asaan yang istrinya rasakan, ia sangat yakin pasti Zee mengatakan hal lain yang membuat istrinya sampai menangis malam itu.


......................


Apart winter garden


Ting....


Rian yang sedang mengurus beberapa hal pun terahlihkan saat sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Aku kok belum datang bulan juga?! Kau bilang tak akan hamil?!


Pesan dari Larescha yang sebenarnya ketakutan setengah mati karna masih belum mendapat menstruasi nya.


Sudut bibir Rian naik melihat pesan polos wanita itu membuatnya ingin mengerjai Larescha.


Mungkin sudah benih nya sudah tumbuh


Balas Rian tertawa kecil, ia tau jika Larescha tak mungkin hamil karna wanita itu langsung meminta pil KB padanya saat ia bangun dari malam panas yang ia lakukan.


Larescha yang membaca pesan itu pun langsung membulatkan mata nya dengan sempurna, tangan nya pun langsung menelpon pria yang dengan santai nya menjawab seperti itu.


"Kau dimana? Aku akan menyusul mu." jawab Rian dari telpon.


"Kenapa tanya-tanya?! Tak usah datang! Ini jadi gimana?!" tanya Larescha ketus, entah kenapa setiap kali ini bertemu dengan Rian ia malah menjalin one night stand lagi.


"Makanya kita ketemu, biar masalah nya kelar." jawab Rian tak mau kalah.


Larescha pun menyetujuinya dan membuat jadwal temu mereka di taman yang terdapat di lingkungan apart Larescha.


"Kau tak mau mengajak ku ke apart mu saja?" tanya Rian menggoda wanita itu sembari pura-pura kedinginan karna hembusan angin malam di luar apart Larescha.


"Aku gimana? Kalau hamil beneran gimana?" tanya Larescha tanpa mengindahkan ucapan Rian, ia benar-benar takut kalau akan hamil tanpa suami.


"Kalau hamil yah di lahirkan lah.. " jawab Rian enteng sembari menelisik wajah ketakutan wanita di depan nya.


"Terus anaknya gimana? Kasihan..." ucap Larescha lirih yang hampir menangis ketika melihat pria yang menidurinya terlihat begitu santai.


"Kasihan kenapa?" tanya Rian enteng yang pura-pura tak tau.


"Kan dia gak punya ayah...


Nanti pasti aku juga di pukulin mamah ku..." jawab Larescha lirih dan menunduk menyembunyikan mata nya yang menjatuhkan bulir bening karna benar-benar takut.


"Aku kan ayah nya, kenapa dia tak punya ayah? Kalau ibu mu memukul mu kau bisa mengadu pada ku, aku akan memarahi ibu mu." ucap Rian tersenyum.


Larescha pun mengandah mendengar ucapan pria di hadapan nya dan sedetik kemudian.


Cup...


Kecupan lembut melayang di bibirnya tiba-tiba.


Rian menghapus air mata gadis itu dan menangkup wajah nya.


Perlahan ia mulai mendekatkan wajah nya lagi, nafas yang sama-sama dapat merasakan, ia m*l*mat bibir wanita di depan nya. Memberikan kehangatan di dingin nya malam dengan bibir yang saling membelit dan menyatu.


Larescha tanpa sadar membuka bibirnya dan membiarkan lidah pria itu masuk kedalam mulut dan menjelajahi setiap sudut dan inci di dalam nya, lihat hangat pria itu menyatu dalam ciuman nya hingga membuatnya terasa sesak karna ciuman panas itu.


"Hah... hah... hah..." Larescha yang mengambil nafas dalam saat Rian melepaskan ciuman nya.


"Mau pacaran dengan ku?" tanya Rian lembut pada wanita yang masih mengambil nafas dalam itu.


Larescha yang sebelum nya tak terlalu mendengar dan belum mencerna ucapan Rian pun langsung mengandahkan wajah nya.


"A-apa?!" tanya Larescha terkejut.


"Kau...


Mau pacaran dengan ku?" tanya Rian lagi dengan lembut.


"Aku akan memperlakukan mu dengan baik...


Kau bisa menjadi putri apa saja yang kau inginkan..." sambung Rian saat melihat wanita di depan nya malu-malu.


Ia tak pernah setertarik ini pada wanita, dengan pacarnya sebelum nya ia hanya menjalani hubungan Give and Take pacar nya yang hanya menginginkan uang nya dan ia yang hanya menginginkan tubuh cantik para mantan nya.


"I-itu a-aku..." jawab Larescha terbata. Baru saja ia putus sudah sudah mendapatkan pernyataan lain.


"Aku takut...


Nanti kalau di tinggal lagi..." ucap Larescha lirih yang takut jika diputuskan saat ia mulai mencintai lagi.


"Kan belum tau kalau belum di coba! Ayo pacaran!" ajak Rian sekali lagi meyakinkan wanita di depan nya.


"Kalau kau diam saja, jika kau benar-benar hamil aku tak mau tanggung jawab" ancam Rian dan membuat wanita itu gelagapan.


"A-aku mau!" jawab Larescha cepat


Rian pun tersenyum dan mulai memangut bibir wanita itu lagi.


...****************...


Happy Reading🥰🥰♥️♥️♥️♥️