
Dave mengernyitkan dahi nya melihat Alyss yang terlihat berbeda. Ia menahan luka nya dengan memegang erat lengan nya yang berdarah.
"Ups!
Maaf..." ucap Alyss enteng sembari menatap Dave yang meringis di depan nya.
"Aku tak tau apa hubungan mu dengan pria gila itu, tapi dia pembunuh dan kau harus sadar hal itu!" sambung Alyss lagi memberi penekanan pada Dave.
Dave yang tadinya nya emosi nya sempat turun kini naik lagi mendengar Alyss yang mengatakan hal buruk tentang kakaknya.
"Kubilang dia bukan pembunuh! Kau tak tau apa-apa tentangnya!" bentak Dave pada Alyss, yang ia tau Aegyt selalu bersikap penuh perhatian padanya, ia tak pernah sekalipun menyangka jika semua berita itu benar.
"Kau yang tak tau apa-apa!" jawab Alyss sembari menatap tajam Dave.
Dave pun segera menghampiri Alyss, ia berusaha memgambil pisau dari tangan Alyss, agar wanita itu tak lagi mengayunkan senjata padanya.
"Sial! Sudah terluka pun, kenapa kuat sekali!" batin Alyss saat menyadari tenaga Dave yang lebih kuat darinya.
Alyss pun berusaha mendorong tubuh Dave sekuat tenaganya, kakinya pun langsung menginjak kaki Dave dengan kuat, ia menginjakkan bagian heels nya yang runcing ke arah jempol kaki Dave.
Kalau bertemu dengan lawan yang lebih kuat, jangan habiskan tenaga mu. Berusaha menghindar dan lari, biarkan dia kelelahan mengejar mu jika ada titik lemah nya langsung serang dan cari tempat aman.
Kalau begitu tak usah belajar bela diri saja.
Perlu agar yang menyerang mu menjadi lebih lambat mengejar mu.
Alyss seketika teringat ucapan Hazel saat ia belajar beladiri waktu itu, merasa Dave yang meringis hingga melepaskan tangan nya membuat Alyss memanfaatkan situasi dengan langsung berusaha menusuk lengan Dave lagi.
Dusk!
Tes...tes...tes...
Lengan Dave sekali lagi terluka, darah segar mengalir dari lengan nya, Dave meringis tanpa suara sembari memegang luka yang dibuat oleh Alyss lagi.
"Lepas! Dasar brengsek!" ucap Alyss sembari menusuk lengan Dave dan berusaha kabur. Namun...
Nyutt....
Tubuhnya seakan kehilangan keseimbangan nya, kepalanya tiba-tiba terasa sakit lagi, pandangan nya mengabur membuat nya langsung terjatuh.
"Lagi?" gumam Alyss saat melihat darah di tangan nya ketika ia merasa adanya cairan merah kental yang keluar dari hidung nya.
Dave pun yang sempat meringis dan terkejut dengan Alyss yang ia tak sangka memiliki kekuatan seperti itu langsung berusaha menangkap Alyss lagi.
"Jangan sekarang...." batin Alyss yang memohon pengharapan karna kepala nya yang terasa sangat sakit hingga membuat pandangan nya mengabur. Sakit kepalanya datang di saat waktu yang sangat genting seperti ini.
Alyss pun berusaha menghapus darah yang keluar dari hidung nya dan berusaha lari lagi namun...
"Auch!" pekik Alyss tiba-tiba saat ia merasakan rambut panjang nya tertarik tiba-tiba.
Jika saja sakit di kepala nya tak datang tiba-tiba ia pasti sudah bisa lari dan menghubungi Hazel.
"Aku tak mau menggunakan cara kasar! Lebih baik kau ikut saja..." ucap Dave lirih di telinga Alyss saat ia menarik rambut panjang wanita itu.
Alyss tau ia memiliki situasi yang terjepit, cara satu-satunya untuk selamat yaitu harus mengikuti keinginan pria yang sedang menarik rambut nya sekarang, yang ia tau jelas pria itu tak berniat membunuhnya, dan Alyss juga tak memiliki kekuatan untuk melawan karna sakit dan nyeri di kepalanya yang teramat sangat membuat nya tak bisa bergerak dengan bebas.
"Kau berdarah?" tanya Dave saat melihat Alyss yang terus mimisan.
"Kau yang memikul ku sialan!" ucap Alyss kesal dan menyalahkan Dave, padahal Dave belum ada memukul nya dan hanya menarik rambutnya.
"Pasti pria itu yang membuat nya begini!" ucap Dave yang menyalahkan Hazel atas sikap Alyss yang berubah menjadi tak di kenalinya tanpa tau jika sikap yang di berikan Alyss selama ini adalah palsu padanya.
Dave pun segera mengikat tangan kedua tangan kecil Alyss dan mengikat kedua kaki Alyss menggunakan tali, setelah itu ia menghapus darah mimisan Alyss hingga berhenti dan segera membawa Alyss ke apartnya.
Ia meletakkan Alyss di bangku belakang mobil nya dan mulai menjalankan mobilnya. Alyss masih diam sembari merasakan denyutan dan sakit di kepalanya.
"Green leaf?" batin Alyss saat ia melihat nama dari apart yang di tuju Dave.
Sakit dikepala Alyss sudah mulai membaik ia sudah dapat kembali seperti biasa lagi, karna Dave yang mengikat kedua tangan nya kedepan dan bukan kebelakang membuat Alyss diam-diam mengirim pesan lagi pada Hazel lokasi apart Green leaf dari i watch yang ia kenakan.
"Sial! Kalau saja kepala ku tidak tiba-tiba sakit aku pasti tak akan dalam situasi seperti ini!" umpat Alyss kesal pada dirinya sendiri.
......................
JBS Hospital.
Hazel yang tengah melakukan beberapa rapat dan pertemuan bisnis tak sempat melihat ponselnya sama sekali, jika saja Alyss menelpon nya mungkin Hazel akan menyadari pesan yang di kirim Alyss, namun karna Alyss hanya mengirim pesan membuat Hazel tak menyadari ponselnya yang memberikan notifikasi.
"Kau sudah lihat semua yang di perlukan untuk pembangunan?" tanya Hazel pada Rian sebelum memasuki ruang rapat lagi.
"Sudah. Sebelumnya terjadi masalah sengketa dan pekerja kontruksi dengan penduduk, kami sudah mengatasi masalah nya." jawab Rian.
"Hm..
Kerja bagus." jawab Hazel singkat dan mulai melakukan pekerjaan nya lagi.
......................
Apartemen Green leaf.
Kini Alyss tengah duduk terikat di sebuah kursi dan Dave yang terus menatap nya sejak tadi.
"Kau mau makan? Katakan makanan apa yang ingin kau makan?" tanya Dave yang duduk di depan Alyss.
Alyss hanya menatap tajam ke arah Dave.
"Kau ingin menjadikan ku domba sembelih? Memberi makan sebelum di bunuh?" tanya Alyss tertawa sinis.
"Kau tak takut pada ku?" tanya Dave tersenyum heran menatap Alyss yang masih bisa dengan santainya berbicara sedangkan dirinya sudah di jadikan sandra.
"Takut? Tentu saja takut...
Kau tak lihat ketakutan ku?" tanya Alyss enteng dengan wajah yang dibuat merinding.
"Kau ini ingin mati atau seperti apa sih?" tanya Dave yang semakin bingung dengan sikap Alyss.
"Aku? Kenapa aku ingin mati? Masih banyak yang belum ku lakukan..." jawab Alyss enteng sembari mulai menyilangkan kakinya.
Dave semakin bingung, wanita jenis apa yang sedang ia hadapi? Biasanya wanita akan menangis ataupun ketakutan di situasi seperti ini. Namun Alyss? Alyss malah berbicara santai dan bersikap seperti sedang tidak menjadi sandra.
Alyss tau jika Dave tak akan membunuh nya sekarang, bahkan jika ia ingin membunuhnya itu pasti karna sikap impulsif. Melihat Dave yang memandang nya bingung Alyss mulai bicara lagi.
"Tapi...
Aku boleh bertanya? Apa hubungan mu dengan pria psikopat sialan itu? Psikopat yang memutilasi semua korban nya dan mengoleksi kepala yang dia suka..." tanya Alyss dengan nada penuh penekanan.
Sontak saja Dave yang kesal pun langsung mendekat ke arah Alyss.
...****************...
Maaf yah sedikit pendek sebenernya mau othor panjangin lagi tapi karna othor juga mau buat tugas dan di kumpul jam 4 nanti othor up ini dulu yah, nanti malem othor lanjut atau sore si.
Oh iya semalam juga maaf ga othor dobble up, soalnya ngantuk wkkw😅
Jangan lupa like komen fav vote rate 5 dan dukung othor🥰🥰❤️❤️
Happy Reading❤️❤️❤️