(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Negosiasi



2 Hari kemudian


Alyss yang dari tadi mondar-mandir memikirkan bagaimana cara nya agar dapat membujuk Hazel untuk mengeluarkannya dari penjara mewah itu.


"Bul? gimana yah biar aku bisa keluar dari sini? Duh bentar lagi dia pulang lagi." ucap Alyss pada Bulbul yang tidur diatas sofa ruang tengah, sembari melihat jam dinding.


Tak lama kemudian Hazel pun kembali dari RS dan masuk ke kediaman nya.


"Baru saja dibilang, sudah muncul orang nya." ucap Alyss lirih saat melihat Hazel berjalan menuju arahnya.


"Kenapa melihat ku begitu?" ucap Hazel dingin saat melihat Alyss yang memperhatikan sejak ia masuk.


"Sudahlah, lagi pula aku juga sudah tak punya yang harus di pertahankan lagi, jika aku merayu nya mungkin aku bisa keluar dari sini." ucap Alyss dalam hati ketika melihat wajah Hazel.


"Tidak apa-apa, kau sudah lapar? Ingin ku buatkan makanan sekarang?" Alyss menggeleng pelan dan bertanya dengan lembut pada Hazel.


"Mungkin sudah sedikit lapar." jawab Hazel.


"Yasudah, aku buatkan dulu makanan untuk mu, kau tunggu disini saja, jika sudah selesai akan ku panggil." ucap Alyss sembari berlalu ke tempat memasak.


"Ada apa dengan nya? Tumben dia tiba-tiba perhatian?" ucap Hazel lirih ketika melihat Alyss yang pergi ke ruang makan untuk memasak.


Hazel merasa bingung dan juga merasa senang melihat sikap Alyss yang tiba-tiba perhatian padanya.


Hazel pun menyusul Alyss, ia melihat Alyss yang tengah sibuk memotong beberapa sayuran sebagai pelengkap masakannya.


Hazel mendekati Alyss dan memeluk Alyss dari belakang, Alyss terkejut saat merasakan tangan kekar Hazel memeluk perutnya dan merasakan hembusan napas hangat Hazel di telinganya.


"A-apa yang kau lakukan? A-aku sedang memegang pisau." ucap Alyss terbata saat Hazel memeluk erat dirinya dari belakang.


"Tidak apa, lanjutkan saja memasak mu. Aku hanya ingin seperti ini sebentar." ucap Hazel sembari terus mengeratkan tangan nya di perut Alyss dan mengecup ringan telinga serta leher Alyss berulang-ulang.


"Ge-geli..." ucap Alyss lirih ketika Hazel terus menciumi telinga dan lehernya.


Alyss yang merasa geli karna perbuatan Hazel pun menjadi sulit untuk menyeimbangkan pisau nya saat memotong wortel hingga..


"Awwchh..." teriak Alyss kecil saat jarinya terkena mata pisau.


Mendengar teriakan kecil Alyss, Hazel langsung menghentikan ciuman nya, ia melihat Alyss yang memegang jarinya yang terluka.


Hazel langsung melepaskan pelukannya, dan membalik tubuh Alyss agar berhadapan dengan nya.


"Dasar bodoh! Kenapa kau selalu ceroboh?" ucap Hazel ketika melihat luka di jari Alyss.


Hazel pun menarik tangan Alyss dan mendudukkan nya ke kursi yang tak jauh dari situ. Ia pun segera beranjak untuk mengambil kotak P3K.


"Eh?! Kenapa dia yang marah? Bukannya karna dia aku terluka?" ucap Alyss ketika melihat Hazel mencari kotak P3K.


Setelah Hazel mengambil kotak P3K tersebut Hazel langsung mendatangi Alyss, ia pun mulai mengobati jari Alyss.


"Aku bisa sendiri." ucap Alyss saat Hazel ingin mengobatinya.


Mendengar Alyss yang berbicara seperti itu langsung membuat Hazel menekan tepat di luka yang berada di jari Alyss dengan kuat.


"Auwwchh, Sa- sakit..." ucap Alyss meringis kesakitan ketika Hazel menekan luka nya hingga darah nya terus keluar dari jari kecilnya itu.


"Seperti nya kau tak bisa mengobati nya sendiri kan?" tanya Hazel tersenyum dan terus menekan luka tersebut.


"I-iya aku tak bisa sendiri." ucap Alyss yang makin meringis kesakitan.


"Baik, sekarang akan ku obati." ucap Hazel dengan senyum kemenangan ketika melihat Alyss yang menurut pada nya lagi. Ia pun perlahan melepaskan tekanan pada luka Alyss.


Hazel pun mulai memberi antiseptik dan membalut luka Alyss. Setelah Hazel selesai mengobati luka Alyss, Alyss pun segera bangkit dan ingin melanjutkan membuat masakan nya lagi, namun Hazel langsung menahannya.


"Biarkan pelayan saja yang melanjutkan." ucap Hazel pada Alyss.


Alyss pun mau tak mau langsung menurut, karna ia tau bahwa Hazel sangat tak suka dibantah.


Tak lama kemudian makanan telah selesai dibuat, Hazel dan Alyss pun segera menyantap makan malam mereka, saat sedang makan Alyss berulang kali melirik ke arah Hazel. Tentu saja Hazel menyadari hal itu namun ia tetap diam saja.


Di Ruang tengah.


Hazel dan Alyss duduk di sofa di depan televisi, mata Alyss melihat ke arah televisi yang menyala sembari memangku Bulbul yang berada di atas pahanya.


Ia masih bingung bagaimana memulai pembicaraan pada Hazel. Ia bingung bagaimana cara mengatakan pada Hazel untuk memintanya agar membiarkannya keluar dan tidak terus terkurung di rumah megah itu.


"Ada yang ingin kau katakan?" ucap Hazel yang terus merasa Alyss melirik nya sejak mereka makan malam tadi.


"Eh? I-itu..." ucap Alyss yang bingung bagaimana mengatakannya.


"Apa?" ucap Hazel sembari menatap wajah bingung Alyss.


"Ehmm, Bu-bukankah kita sedang berpacaran? Ja-jadi emm.. bi-bisakah kau menuruti permintaan ku?" jawab Alyss yang terbata-bata karena sangat gugup.


"Apa itu?" tanya Hazel sembari menaikkan satu alis nya ke atas.


"Emm.. itu...


A-apa kau bisa mengembalikan sebagian dari hidup ku?" jawab Alyss lirih.


"Maksud mu? Bukankah aku sudah pernah bilang, jika aku akan menuruti semua keinginan mu, tapi tidak untuk melepaskan mu!" ucap Hazel dengan penuh penekanan pada Alyss.


"Tidak! Aku tak minta kau untuk melepaskan ku. A-aku hanya ingin kau mengembalikan kehidupan ku. Aku ingin bekerja, bertemu dengan teman-teman dan keluargaku, aku juga ingin berpergian dan melakukan banyak hal yang belum pernah ku coba.


Aku janji tak akan kabur dari mu lagi, lagi pula kau juga selalu mengawasi orang tua ku kan? Kau bilang jika aku lari lagi kau akan membunuh mereka, makanya aku tak mungkin lari lagi.


Dan lagi pula kita juga sudah...." ucap Alyss yang tak dapat melanjutkan kata-katanya, lidah nya terasa kelu saat ia ingin melanjutkan ucapannya.


"Apa kau tak bisa disini saja? aku bisa memenuhi segala kebutuhan mu!" ucap Hazel ketika selesai mendengar ucapan Alyss.


"Ku mohon, biarkan aku menjalani hidup ku juga. Aku juga ingin kebebasan...


Aku bukan pajangan hiasan yang bisa kau simpan terus menerus." jawab Alyss dengan wajah memelas pada Hazel.


"Kau milik ku! Jadi kau harus menuruti ku!" jawab Hazel tegas pada Alyss.


"A-aku juga bisa berikan apa yang kau inginkan!" jawab Alyss dengan cepat.


"Oh ya? Menurut mu apa yang ku inginkan?"


jawab Hazel dengan ujung bibir nya yang mulai naik ke atas ketika mendengar ucapan Alyss.


"Cinta? Kasih sayang? A-apapun itu aku bisa melakukannya...


Aku akan jadi anak baik dan tak akan membantah pada mu lagi, jika kau menuruti ku kali ini. Aku janji!" ucap Alyss yang bersungguh-sungguh pada Hazel.


Alyss tak ingin seperti di jadikan pajangan yang hanya menghias rumah, ia juga memiliki kehidupan, dan perasaan. Hazel tak bisa terus-terusan menahannya seolah-olah ia hanyalah sebuah benda yang tak bisa merasakan apapun.


"Benarkah? Kau bisa melakukan apa saja?" tanya Hazel dengan senyuman yang sulit diartikan dan mulai mendekati tubuh Alyss perlahan, hingga Bulbul melompat dari paha Alyss karna Hazel terus menghimpit tubuh Alyss.


"I-iya.." jawab Alyss lirih ketika Hazel sudah menindih tubuh nya di atas sofa tersebut.


"Lalu jika aku membiarkan mu keluar, bagaimana jika kau malah menemui pria-pria brengsek di luar sana?" ucap Hazel lembut sembari mengelus pipi Alyss.


Alyss memalingkan wajah nya ke samping, ia tak dapat melihat wajah Hazel yang sangat dekat dengan wajah nya yang hanya berjarak beberapa senti.


"Ti-tidak aku janji..." ucap Alyss lirih.


Hazel semakin tersenyum dan mencium ke arah lengkung leher Alyss.


"Baik lah, akan ku pertimbangkan asalkan..." bisik Hazel di telinga Alyss.