(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Kau sungguh manusia?



"Jangan! Kau keterlaluan!" teriak Alyss dengan langsung menepis tangan Hazel yang berusaha membuka pakaian nya.


Hazel hanya tersenyum sinis dan menatap tajam Alyss.


"Keterlaluan? Selama tiga hari apa saja yang sudah kalian lakukan? Ha?" tanya Hazel pelan, tangan nya kini sudah tak lagi mencengkram kuat pipi Alyss, namun beralih mengelus pipi Alyss.


"Apa yang dia pikirkan? Apa aku seperti wanita murahan baginya?" ucap Alyss dalam hati.


"Menurutmu? Kau pikir dia pria seperti mu? Yang mengurung orang lain dan menyiksanya?" tanya Alyss, ia sebenarnya sangat takut dengan tatapan tajam Hazel padanya, namun ia benar-benar tak terima ketika mendapat pertanyaan Hazel barusan.


"Kau sedang membandingkan ku?" tanya Hazel yang penuh dengan penekanan.


"Bukankah yang ku katakan memang benar?" ucap Alyss dengan bibir yang tersenyum paksa, antara takut dan juga semakin menantang Hazel.


Plak!


Satu tamparan kuat mendarat di pipi Alyss.


"Coba bicarakan pria lain saat bersamaku, akan ku buat kau tak bisa berbicara lagi." ucap Hazel marah.


Wajah Alyss masih tertutup dengan rambut panjang nya, kepala nya terasa sakit kembali saat mendapat tamparan Hazel. Ia seharusnya memang tak bisa mendapat pukulan karna sebelumnya penculik itu memukul kepala nya dan ia mengalami trauma kepala yang cukup parah.


"Akh!" Alyss mendesis kesakitan.


"Darah?" batin Alyss ketika mengusap cairan yang keluar dari hidung nya.


Melihat wajah Alyss yang tertutup rambut dan diam saja, Hazel langsung berusaha membuka pakaian Alyss lagi.


"Jangan!" ucap Alyss yang berusaha melawan Hazel ketika Hazel ingin membuka pakaian nya.


"Aku sangat benci melihat mu memakai barang dari bocah sialan itu." ucap Hazel ketika berhasil membuka atasan Alyss.


"Kau bisa menyuruh ku menggantinya, kenapa harus menelanjangi ku disini?" tanya Alyss yang sudah hampir menangis dan menatap ke arah Hazel.


"Kau mimisan?" ucap Hazel yang balik bertanya ketika melihat wajah Alyss.


Hazel pun menghapus beberapa darah yang keluar dari hidung Alyss, dengan tangannya.


"Kau tak perlu membantah, apa sulit jika langsung mengikuti perintah ku?" ucap Hazel sembari terus membersihkan darah mimisan Alyss, setelah selesai Hazel pun kembali membuka rok yang di kenakan Alyss.


Alyss kini menyandarkan dirinya ke tembok dan menutup dada nya dengan menyilangkan kedua tangannya, serta menutup rapat pahanya. Retak di tulang rusuk nya semakin sakit karna ia sempat mencegah tangan Hazel untuk membuka pakaiannya.


"Sini! Masih belum selesai, buka juga pakaian dalam mu." ucap Hazel enteng ketika melihat Alyss yang memundur hingga mentok ke dinding.


Alyss hanya menggelengkan kepala nya perlahan sambil menangis, wajah Alyss kini sudah semakin pucat, antara ketakutan dan juga merasakan sakit di tubuhnya, rasanya tulangnya sudah seperti patah bukan retak lagi.


"Masih tak mau juga?" ucap Hazel menatap tajam Alyss.


"Ja-jangan! Ba-bagaimana jika ada pelayan yang lihat? dan i-itu." ucap Alyss gemetar dan menunjuk ke arah cctv di ruang tengah Hazel.


"Ini rumah ku, tak akan ada yang berani kesini melihat kita kecuali dia ingin mata nya di ambil." ucap Hazel datar dan semakin mendekati Alyss.


"Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran mu, kau tak suka jika kak Leo membantu ku. Apa kau lebih suka melihat ku mati di tangan penculik itu? Dia hampir membunuh dan memperkosa ku, kau tau?" ucap Alyss pada Hazel yang sedang berusaha membuka bra nya.


Hazel pun menarik kuat bra Alyss dan langsung menatap wajah Alyss.


"Tenang saja aku tak akan membiarkan mu mati ditangan orang lain, karna bahkan jika kau harus mati, itu harus aku. Harus aku yang membunuh mu dengan tangan ku sendiri.


Jadi jangan takut kau akan mati ditangan orang lain, kau hanya bisa mati di tangan ku." ucap Hazel pelan sembari tersenyum pada Alyss.


Melihat senyuman Hazel semakin membuat Alyss menangis, melihat Alyss yang menangis sama sekali tak memberi iba di hati Hazel dan kembali membuka sisa kain yang masih berada di tubuh Alyss.


"Sini!" ucap Hazel sembari menarik tubuh polos Alyss dengan kuat dan melempar tubuh Alyss ke atas sofa yang berada di ruangan itu.


"Akh!" pekik Alyss ketika merasa sakit di perutnya Alyss pun langsung meringkuk di atas sofa tersebut.


"Bukankah kau perlu dibersihkan?" ucap Hazel sembari membuka dasi nya dan mengikat tangan Alyss dengan dasi tersebut.


Alyss tak dapat mendengar suara Hazel dengan baik, luka-luka di tubuh nya belum pulih sama sekali dan perlakuan Hazel membuat lukanya semakin parah.


Ia hanya diam ketika Hazel mengikat tangannya. Wajah nya sudah semakin pucat seperti warna lantai di kediaman Hazel.


Hazel pun ikut membuka pakaian nya dan kemudian menindih tubuh Alyss.


"Jangan...


Kumohon aku sedang ha-" ucap Alyss dengan suara lemah yang langsung terpotong ketika Hazel mencium bibir nya. Ia ingin mengatakan jika ia sedang hamil.


"Humph..." Alyss berusaha melepaskan ciuman Hazel, walaupun tenaga nya sudah hampir habis.


Hazel pun melingkarkan jemarinya di leher putih tersebut dan mulai mencekik Alyss.


Mata Alyss semakin terbelalak ketika merasa tangan Hazel yang melingkar kuat di lehernya. Ia benar-benar tak mendapat oksigen sama sekali.


Ciuman dalam yang diberikan Hazel sekaligus cekikan di lehernya membuat sama sekali tak bisa bernafas.


Setelah beberapa menit Akhirnya Hazel melepaskan ciumannya, dan memberi ruang di leher Alyss agar ia bisa sedikit bernafas, namun tetap tak melepaskan lingkaran tangan nya di leher Alyss.


"Jangan membantah, atau pun menolak, cukup diam saja! Jika kau terus seperti itu aku akan membuat nya benar-benar terasa sakit, mengerti?" bisik Hazel di telinga Alyss dan mengencangkan cekikan nya lagi di leher Alyss.


"Uhk!" Alyss yang tak bisa berbicara sama sekali ketika Hazel mencekik nya dengan sangat kuat.


"Tak mau menjawab?" tanya Hazel sembari menatap wajah Alyss yang sudah kehabisan oksigen.


Alyss pun kemudian mengangguk perlahan, melihat hal itu Hazel tersenyum dan melonggarkan tangannya di leher Alyss. Ia pun mengecup kening Alyss sekilas.


Tebakan Alyss benar, Hazel benar-benar marah padanya saat tau ia bersama Leo selama 3 hari penuh.


Hazel benar-benar tak peduli dengan rasa sakit yang diberinya di tubuh Alyss, ia tak dapat mengontrol diri nya sendiri, ketika diselimuti dengan kecemburuan dan amarah.


Sakit, sangat sakit...


Itulah yang dirasakan Alyss di setiap gerakan yang diberikan Hazel yang berada di atas tubuhnya.


"Kapan dia akan selesai? Sakit sekali...


Kumohon cepatlah berhenti." ucap Alyss dalam hati, lidah nya terasa kelu, dan hanya air mata yang dapat mengatakan jika ia benar-benar kesakitan.


Setelah beberapa lama akhirnya Hazel mencapai puncaknya, ia menghentakkan tubuh nya dengan kuat dan memangut bibir Alyss sekilas.


"Apa sudah selesai?" batin Alyss ketika Hazel mulai bangun dari tubuhnya. Tubuhnya benar-benar terasa lemas dan sakit.


Hazel pun kemudian memakai kembali celana panjang nya.


"Bangun dan pakai ini." ucap Hazel sembari melempar kemeja yang ia kenakan tadi pada Alyss. ia tak mau Alyss memakai barang pemberian Leo.


Alyss hanya diam saja ketika Hazel melempar kemeja miliknya pada Alyss, ia benar-benar tak memiliki tenaga untuk bangun atau pun memakai kemeja itu.


Setelah Hazel selesai memakai celana panjang ia melihat ke arah Alyss yang masih tak bergerak sedikitpun dan tetap meringkuk diatas sofa tersebut.


"Bangun! Kenapa lama sekali!" bentak Hazel sembari menarik kasar tangan Alyss agar bangun dan memakai kan kemeja miliknya ke tubuh Alyss.


"Pucat sekali wajah mu." ucap Hazel sembari memegang dagu Alyss ketika ia selesai memakaikan kemejanya. Alyss hanya diam dengan tatapan kosong menatap Hazel.


"Sudahlah, ikut aku! Ada yang ingin ku tunjukkan!" ucap Hazel dan langsung menarik pergelangan tangan Alyss.


Alyss berulang kali hampir terjatuh mengikuti langkah cepat Hazel.


"Basement? Kenapa dia membawa ku kesini? Apa dia belum selesai menghukum ku?" batin Alyss ketika Hazel membawa nya ke ruang putih.


Saat Hazel membuka ruangan tersebut dan membawa Alyss masuk mata Alyss langsung membulat sempurna. Kaki nya terasa lemas seketika.


"AAKHHH!!" teriak Alyss dan langsung terjatuh.


Ia melihat 3 pria dalam keadaan yang sangat mengenaskan di ruangan tersebut. Satu pria dengan mata yang sudah tak berada di tempat nya lagi, usus nya terburai panjang ke bawah, dan Hazel meletakkan jantung pria tersebut diatas tubuh nya. Pria satu lagi yang sudah tak memiliki kulit tangan atau pun kaki, semua gigi nya telah terlepas, dan bahkan sudah tak memiliki lidah lagi.


Bau amis benar-benar menyeruak di ruangan itu, tubuh Alyss semakin bergetar, ia sangat ketakutan melihat pemandangan mengerikan yang sedang berada di depan matanya.


"Bagaimana kau suka? Kau mungkin belum melihat 2 orang ini, karna kau sudah kabur saat si brengsek itu membawa mu. Tapi mereka termasuk komplotan. Bagus kan?" ucap Hazel sembari tertawa kecil ketika melihat 2 mayat pria tersebut.


Alyss semakin takut melihat Hazel yang tertawa kecil kecil ketika melihat mayat tersebut.


"A-aku mau keluar...


Aku tak mau disini." ucap Alyss lirih dengan tubuh gemetaran. Ia pun berusaha bangun dan beranjak keluar.


Walaupun ia adalah dokter bedah, tapi bukan berarti ia tak takut jika harus melihat mayat dengan kondisi seperti itu. Apalagi bersama dengan orang yang membuat mayat-mayat tersebut menjadi sangat mengenaskan.


"Mau kemana? Kau belum lihat yang ini." ucap Hazel sembari menyeret Alyss memperlihatkan pria yang menculik nya waktu itu.


Alyss semakin berteriak ketakutan ketika melihat pria tersebut, Hazel tidak membunuh pria tersebut, ia hanya menyiksanya hingga hampir mati, dan kemudian mengobatinya setelah itu menyiksanya kembali.


Satu bola mata pria yang menculik Alyss tersebut sudah terlepas, jari-jari tangan dan kaki nya sudah terpotong habis, Hazel juga memotong telinga penculik tersebut dan mengoyak mulutnya hingga ke pangkal pipinya dan kemudian menstapler koyakan tersebut.


Namun pria tersebut masih belum mati, walaupun ia sudah benar-benar sekarat, satu matanya yang tersisa terbuka sedikit dan menatap Alyss mengharap pertolongan.


"Hazel sudah...


Aku mau keluar huhu...


Aku tak mau disini....


Aku takut..." ucap Alyss sembari terus menangis.


Hazel memeluk tubuh Alyss dari belakang dan memegang satu tangan nya, serta mencengkram kuat pipi Alyss agar dapat mengarahkan wajah Alyss untuk melihat pria yang menculiknya waktu itu.


"Kenapa takut? Aku disini. Lihat dia, bukankah dia yang hampir membunuh dan memperkosa mu kan? Aku sengaja tak membunuh nya. Aku ingin kau yang lakukan sendiri." ucap Hazel ditelinga Alyss Sembari mengarahkan tangan Alyss mengambil pisau tipis dan tajam yang berada tak jauh dari mereka.


"Huhu...


Tidak...


Bukan ini yang ku mau, kenapa kau tak melaporkan ke polisi saja?" ucap Alyss semakin menangis ketika Hazel membuat Alyss menggenggam pisau di tangan nya.


"Polisi? Kenapa perlu polisi saat aku bisa menghukum nya secara langsung? Dia harus menerima hukuman karna menyentuh wanita milik ku!" ucap Hazel dan mengerahkan tangan Alyss yang sedang memegang pisau tajam ke leher pria tersebut.


Sebenarnya Alyss tak memegang pisau tersebut, Hazel meletakan pisau di tangan mungil Alyss dan kemudian ia memegang tangan kecil tersebut dan mengendalikannya.


"Sekarang ayo kita selesaikan." ucap Hazel tertawa kecil sembari membuat tangan Alyss menusuk leher pria tersebut.


"Sudah...


Jangan...." ucap Alyss yang terus menangis dan menggelengkan kepalanya.


"Apa dia benar-benar manusia? Kenapa dia bisa sekejam ini?" batin Alyss ketika Hazel terus membuat tangannya menusuk leher pria tersebut.


"Kenapa kau membela orang yang sudah menyakitimu?" ucap Hazel sembari terus menusuk leher pria tersebut menggunakan tangan Alyss.


Alyss sangat shock, tubuh dan mental nya benar-benar tak sanggup menerima perbuatan Hazel. Pandangan nya mulai gelap dan tubuh nya mulai lemas jatuh tak sadarkan diri.


Merasa Alyss yang mulai jatuh pingsan membuat Hazel membalik tubuh Alyss, dan benar Alyss sudah tak sadarkan diri lagi.


"Alyss! Alyss!" panggil Hazel sembari menepuk pipi Alyss.


"Darah?" ucap Hazel lirih ketika melihat darah yang mengalir dari paha Alyss.