(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Memperkenalkan mu pada ibuku.



Matahari sudah mulai menampakkan sinar fajarnya. Alyss masih memejamkan matanya, tubuhnya benar-benar terasa lelah.


Walaupun Hazel melakukannya dengan sangat lembut, namun ia terus melakukannya secara berulang sepanjang malam.


"Kau mau mandi?" tanya Hazel ketika merasa Alyss sudah mulai bangun. Hazel masih memeluk Alyss di dalam dekapannya. Mereka hanya menutupi tubuh polos mereka dengan selimut tebal yang lebar.


Alyss hanya menggeleng kecil sembari terus menutup matanya masih sangat terasa kantuk.


Hazel hanya tersenyum saat melihat Alyss menggelengkan kepalanya perlahan, dan melihat bekas kepemilikan yang ia buat tersebar di setiap sudut tubuh wanita yang sedang ia dekap.


Hazel pun kembali merekatkan pelukannya, namun sebelum itu ia sudah memberi tau pada Rian bahwa ia akan datang lebih lama, dan memerintahkan para dokter yang memeriksa Alyss untuk tak melakukan pemeriksaan pagi.


Setelah Pukul 10.34 AM Alyss mulai membuka matanya perlahan lagi, ia benar-benar terbangun sangat lambat, karna Hazel membuatnya tak dapat tidur semalaman.


Ia mendengar suara air yang mengalir dari arah kamar mandi, Alyss mengalihkan mata sejenak ke arah kamar mandi tersebut, setelah itu ia pun mulai melihat tubuhnya dengan membuka sedikit selimut tebal yang sedang menutup tubuh polosnya.


Sekujur tubuhnya penuh dengan bekas merah akibat ciuman yang ditinggalkan Hazel. Entah mengapa dada nya terasa sesak, hati nya benar-benar terasa sakit saat melihat keadaan dirinya sendiri.


Bulir bening mulai jatuh dari ujung matanya tanpa ia sadari, ia menangis tapi sama sekali tak mengeluarkan suara, hanya air mata yang terus berjatuhan dari sudut matanya.


Setelah kurang lebih 30 menit Hazel keluar dari kamar mandi tersebut, ia masih mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil dan mengenakan mantel mandi.


Hazel pun berjalan mendekati Alyss, ia melihat Alyss yang berulang kali mengusap air matanya yang terus berjatuhan.


"Kau menangis?" tanya Hazel ketika ia sudah duduk di tepi ranjang tersebut.


Alyss diam saja dan semakin menaikkan selimut tebal tersebut untuk menutupi tubuhnya.


"Aku tak tau kenapa kau menangis, apa terasa sakit semalam? Aku sudah sangat berusaha untuk membuatmu juga menikmatinya." ucap Hazel sembari mengelus rambut Alyss perlahan.


"Aku tak tau apa yang membuatmu sedih, tapi jangan coba melakukan hal bodoh lagi. Aku tak akan mentoleransi nya." ucap Hazel memperingatkan ketika tak mendapat balasan dari Alyss.


"Hal bodoh? Hal bodoh apa yang kau maksud? Menyakiti diriku sendiri? Atau mencoba kabur dari mu lagi?" tanya Alyss ketika mendengar kata-kata peringatan dari Hazel.


"Kau tak akan bisa kabur dariku, jadi mungkin pertanyaan pertama yang lebih tepat." jawab Hazel tersenyum dengan wajah tanpa dosa.


"Kau pikir aku melakukannya karna benar-benar ingin mati? Tidak! Aku tak ingin mati, aku sangat ingin hidup." jawab Alyss sembari menatap kesal Hazel.


"Lalu kenapa menyakiti dirimu sendiri?" tanya Hazel bingung ketika mendengar ucapan Alyss.


"Aku hanya ingin terbebas darimu, aku benar-benar ingin terlepas dari mu." jawab Alyss lirih.


Hazel tertawa kecil ketika mendengar jawaban Alyss.


"Kau memilih mati untuk terlepas dari ku? Haha kau ini sangat lucu." ucap Hazel diselingi dengan tawa.


Ia pun mulai membungkuk untuk mendekat ke telinga Alyss, yang masih meringkuk diatas ranjang tersebut.


"Kau lupa? Kau hanya bisa mati ditangan ku. Jika kau melakukan hal bodoh seperti itu lagi, aku akan membunuh semua keluarga mu tanpa sisa. Kau mau hidup menanggung semua rasa bersalah itu?" bisik Hazel pada Alyss.


Alyss hanya memejamkan mata sesaat dikuti dengan bulir bening yang turun terjatuh dari sudut matanya ketika mendengar bisikan Hazel.


Setelah membisikkan kalimat seperti itu Hazel kembali melihat wajah Alyss, ia pun tersenyum dan kemudian mengelus rambut Alyss dengan perlahan lagi.


......................


Skip time


Satu minggu kemudian.


Akhirnya Alyss sudah benar-benar pulih, ia pun tak memerlukan pengawasan dokter ataupun perawatan jalan lagi.


"Sudah siap? Ayo turun bersama." ucap Hazel ketika melihat Alyss baru saja selesai mengganti pakaiannya.


"Tu-turun bersama? Bagaimana jika dokter lain melihat ku jalan bersama mu?" tanya Alyss.


Karna sebelumnya ruangan Alyss dipersiapkan dan di buat di lantai yang sama dengan ruangan presdir. Yaitu lantai teratas JBS. Lantai teratas ini tak bisa di masuki oleh sembarang orang, hanya orang-orang bekepentingan saja yang bisa pergi ke lantai ini.


"Biarkan saja mereka melihat, lagi pula mereka akan mengetahui hubungan kita, jika kita menikah nanti kan?" jawab Hazel enteng.


"Ta-tapi mereka tau kau memiliki tunangan." jawab Alyss lirih.


"Kau tak melihat berita? Aku sudah membereskan jalang itu. Tenang saja." ucap Hazel tersenyum sembari menggenggam tangan Alyss dan membawa nya turun.


Berarti saat ini Vion dan Hazel sudah tak berhubungan lagi. Tapi kapan ia memutuskan pertunangan itu? Bukankah memutuskan pertunangan tersebut akan sulit?


Isi kepala Alyss penuh dengan pertanyaan semacam itu, sejak Alyss dirawat, ia tak melihat ataupun memperhatikan berita sehingga tak tau apapun mengenai skandal dan permasalahan keluarga Renner.


Hazel pun terus menggandeng tangan Alyss saat turun ke lantai bawah, ia tak memperdulikan pendapat dan pandangan mata orang lain.


Saat mereka hendak menuju parkiran, direktur dari departemen bedah jantung mendatangi Hazel dan mengatakan urusan pekerjaan mendesak, yang membuat Hazel harus mengadakan rapat mendadak.


Hazel sudah meminta Alyss untuk mengikutinya rapat, namun Alyss menolak dan memilih menunggu di cafe yang berada di RS JBS.


"Bukankah itu dr. Alyss? Tadi aku lihat dia pegangan tangan dengan Presdir." ucap salah satu dokter departemen bedah yang sama dengan Alyss.


"Dr. Alyss? Satu departemen yang sama dengan mu?" tanya dokter lain yang berasal dari departemen bedah ortopedi.


"Iya...


Kau tau sebelumnya dia menghilang dan masuk lagi, lalu di tempatkan di bangsal VIP, saat ini dia juga sudah lama tak masuk. Dan dia kembali lagi dari lantai teratas bersama presdir." ucap dokter tersebut sembari melirik sinis Alyss.


"Mungkin dia mengunakan wajah dan tubuh untuk memikat presdir. Kukira dia anak baik-baik. Wajahnya sangat polos tapi ternyata isi nya benar-benar busuk." jawab dokter dari bagian ortopedi tersebut.


"Iya benar, dia pasti langsung memanfaatkan situasi saat tau pertunangan presdir dibatalkan." balas dokter yang berada di bagian departemen yang sama dengan Alyss.


"Cih, Dasar murahan!" balas dokter bagian ortopedi dengan nada merendahkan Alyss.


Alyss dapat mendengar dengan jelas semua perkataan yang di ucapkan oleh mereka. Karna mereka duduk tak jauh dari meja yang di tempati Alyss.


Alyss pun mengepalkan jemarinya dengan erat, opini sosial langsung memandangnya buruk tanpa tau cerita sebenarnya.


"Kenapa dia tak memikirkan namaku, saat membawa ku turun bersamanya?" Batin Alyss menyalahkan Hazel yang memaksanya untuk turun bersama.


Tak lama kemudian Hazel kembali menjemput Alyss yang menunggunya di cafe RS. Ia melihat wajah yang murung dan terus menunduk seperti menahan malu.


Hazel pun memperhatikan sekitar Alyss dan melihat dokter yang bergosip tentang Alyss, bahkan ia mendengar beberapa kalimat yang menggunakan kata "murahan" saat mereka menatap Alyss.


Hazel pun memberi kode pada Rian untuk mendekat padanya.


"Buat mereka di pecat dengan alasan malpraktik." perintah Hazel pada Rian.


"Baik, akan segera ku urus." jawab Rian.


Hazel sengaja meminta Rian untuk memecat para dokter tersebut dengan alasan seperti itu agar mereka tak dapat diterima bekerja di rumah sakit lain kecuali rumah sakit kecil atau rumah sakit pedalaman.


Setelah itu Hazel pun segera melangkahkan kaki nya mendekati meja Alyss.


"Kau sudah lama menunggu?" tanya Hazel sembari mendudukkan dirinya di bangku yang berada di sebelah Alyss.


"Sudah selesai? Ayo pulang." jawab Alyss yang langsung bangkit ingin segera meninggalkan tempat itu.


"Kenapa buru-buru? Ada yang mengganggu mu?" tanya Hazel sembari melirik tajam ke arah para dokter.


Alyss langsung berusaha melepas tangan Hazel yang sedang memegang tangannya.


"Lepas, aku tak nyaman." ucap Alyss lirih ketika ia kesusahan melepaskan tangan Hazel.


"Kenapa tak nyaman? Ada yang membuat mu khawatir? Atau ada yang sedang membuat mu tak suka? Katakan saja pada ku." ucap Hazel tersenyum menatap Alyss.


"Ti-tidak, aku hanya ingin cepat pergi." ucap Alyss lirih, ia semakin tak nyaman karna banyaknya mata yang memperhatikannya yang sedang bersama Hazel.


"Aku menyukai mu, walaupun kau tak menyukai ku. Jadi jangan pikirkan pandangan orang lain, aku akan menghukum mereka jika ada yang mengganggu mu." ucap Hazel tiba-tiba.


Ia sengaja mengatakan hal seperti agar tak ada gosip atau rumor yang mengatakan Alyss wanita penggoda atau semacamnya, karna jika ia mengatakan hal tersebut dan itu tersebar maka akan terlihat bahwa ia yang mengejar Alyss lebih dulu, dan Alyss tak pernah bermaksud menggodanya. Ia benar-benar tak ingin reputasi Alyss sampai rusak.


"A-apa yang kau katakan?" tanya Alyss terkejut karna Hazel tiba-tiba mengatakan menyukainya di tempat umum.


Hazel hanya menjawab pertanyaan Alyss dengan senyuman, setelah itu ia menggenggam jemari Alyss dengan lembut dan menarik pergi Alyss dari tempat itu.


......................


Di Mobil saat sedang dalam perjalanan.


Alyss yang sejak tadi memperhatikan jalan yang sedang ia lewati bersama Hazel, mulai merasa bingung pasalnya jalan yang ia lewati bukanlah jalan menuju kediaman Hazel.


"Kita mau kemana?" tanya Alyss sembari melihat ke arah jendela dan kemudian melihat ke arah Hazel.


"Aku ingin membawa mu menemui seseorang." jawab Hazel tersenyum.


"Siapa?" tanya Alyss lagi dengan mengerutkan dahinya.


Hazel lagi-lagi tak menjawab pertanyaan Alyss dan hanya membalas dengan senyuman di wajahnya.


Setelah memakan waktu hampir satu jam akhirnya mobil tersebut mulai berhenti di area pemakaman.


"Makam?" Batin Alyss ketika melihat keluar dari jendela mobil.


"Ayo turun." ucap Hazel sembari mulai turun dari mobil.


Hazel pun menggandeng jemari Alyss dan membawanya menuju ke salah satu makam yang berada di sana.


Rose Celindine


Nama yang tertulis di batu makam tersebut.


"Ibu, Sudah lama aku tak mengunjungi mu.


Maaf...


Aku takut membuatmu kecewa karna aku tak tumbuh menjadi anak baik seperti yang kau harapkan.


Tapi kali ini aku datang ingin memperkenalkan wanita yang kusukai, oh bukan dia wanita yang kucintai. Dia sangat cantik dan baik sama seperti mu. Ibu jika kau bisa mengatakan sesuatu, kau pasti akan mengatakan kau juga menyukainya kan?


Dia wanita yang sangat baik bu, jadi aku memutuskan untuk menikahinya, ibu pasti juga setuju kan dengan keputusan ku?" Hazel yang mulai berbicara di depan makam ibunya.


Alyss tak mengatakan apapun dan hanya diam menatap wajah Hazel yang menatap makam ibunya dengan sorot mata yang penuh dengan kerinduan dan juga kesedihan.


"Kenapa aku selalu mengasihaninya jika dia seperti itu? Padahal hidup ku yang lebih kasihan karna terus terjebak dengannya." batin Alyss.


Entah mengapa hatinya selalu merasa kasihan dan tak tega jika melihat wajah Hazel dengan mimik dan tatapan seperti itu, mimik yang sama saat Hazel mulai menceritakan tentang keluarga nya saat mereka bermain piano.


Hazel seperti anak penurut yang baik dan seperti orang normal lainnya jika berhadapan dengan ibunya.


Lalu mengapa sekarang ia bisa menjadi pria psikopat yang sangat brengsek?


Alyss mulai memikirkan pertanyaan tersebut dikepalanya.


"Ada yang ingin kau katakan pada ibuku?" tanya Hazel lembut yang membuyarkan lamunan Alyss sembari terus menggenggam jemari nya dengan lembut.


"Eh? Hmmm....


Ha-halo bibi..." ucap Alyss yang kebingungan menatap wajah Hazel, dan berbalik menatap makam ibu Hazel lalu mulai menyapa dan membungkukkan sedikit tubuhnya.


Hazel hanya tertawa kecil melihat tingkah Alyss yang kebingungan.


"Kau ingin pulang? Aku sudah memperkenalkan mu dengan ibuku, aku ingin ibuku melihat calon istri dari anaknya." ucap Hazel pada Alyss.


Alyss pun langsung memalingkan wajahnya dari wajahnya Hazel ketika mendengar kata "istri" yang baru diucapkan oleh Hazel.


"Me-memang aku sudah menyetujuinya?" tanya Alyss dengan tak mau mebatap wajah Hazel.


Hazel pun mulai mendekat ke telinga Alyss.


"Itu bukan permintaan ataupun permohonan. Itu adalah perintah, jadi kau harus menikah dengan ku apapun yang terjadi." Bisik Hazel di telinga Alyss.


"Dia kembali menjadi pria brengsek lagi sekarang." batin Alyss ketika mendengar bisikan Hazel di telinganya.


Setelah berbisik di telinga Alyss, Hazel pun mulai berpamitan pada ibunya.


"Ibu kami pulang dulu yah." ucap Hazel yang mulai berpamitan di depan makam ibunya.


......................


Di mobil.


Tak ada satupun yang berbicara di mobil tersebut, hanya terdengar alunan musik yang sayup yang diputar di dalam mobil.


Dalam perjalanan pulang ini Alyss tak melihat ke arah jalan sama sekali, ia terus menatap wajah Hazel sejak kembali dari pemakaman.


"Kau ingin sesuatu? Kenapa menatap ku terus dari tadi?" tanya sembari memalingkan wajahnya ke arah Alyss hingga tatapan mereka saling bertemu. Ia sudah menyadari Alyss yang sedari tadi menatapnya dengan lekat.


"Ti-tidak! Aku hanya...." ucap Alyss yang langsung membuang wajahnya dari Hazel ketika ketahuan sedang menatap wajah Hazel.


"Hanya apa? Kau menggemaskan sekali." ucap Hazel sembari meletakan kedua telapak tangannya di pipi Alyss dan langsung mengarahkan wajah Alyss agar menatapnya lagi. Hazel membuat bibir Alyss mengumpul dan mengecil kedepan seperti bibir ikan.


Cup...


"Kau benar-benar menggemaskan." ucap Hazel tersenyum sembari mengecup sekilas bibir Alyss yang terlihat menggemaskan karna ulah tangan nya yang sedang berada di pipi Alyss.


"Mau makan diluar?" tanya Hazel ketika sudah melepaskan tangan nya di pipi Alyss.


Alyss tak menjawab pertanyaan Hazel, ia ingat saat Hazel menanyakan hal yang sama dan akhirnya Hazel menidurinya di mobil sebelum mereka pergi ke toko kue.


"Tenang, aku tak akan memakan mu lagi." ucap Hazel sedikit tertawa ketika melihat Alyss yang langsung terdiam.


"Ke restoran xx." ucap Hazel pada supirnya.


"Baik pak." jawab supir tersebut dan mulai mengarahkan tujuan nya ke restoran yang di tuju Hazel.