
James membaca perlahan data kesehatan gadis itu. Mata nya mengernyit melihat semua hasil pemeriksaan kesehatan gadis itu.
"Kau benar-benar...." ucap James terputus melihat gadis itu.
Shit!
Pria itu mengumpat saat mengetahui kondisi gadis itu.
Roller coaster? Tato? Myosotis sylvatica?
Sekarang ia tau kenapa gadis itu menyebut sebagai pria yang sangat menyenangkan dengan kondisi yang seperti tentunya membuat dirinya memiliki banyak batasan.
Namun ia membantu gadis itu untuk melewati batasan nya sendiri.
"Pantas saja dia tak bisa memakai narkotika..." gumam James lirih sembari melihat gadis itu.
Entah kenapa ia semakin frustasi pada hal yang harus nya tidak menganggu kehidupan nya. Namun fakta tentang gadis itu malah membuat nya kepala nya sakit.
Ia pun mengusap puncak kepala gadis itu sekilas dan beranjak pergi dari kamar nya.
Ia pun menuju kembali ke ruangan yang penuh akan alat medis dan beberapa obat-obatan yang berada di sana.
Chiko yang masih dengan senang nya meneliti hal lain tentang tubuh gadis itu pun di kejutkan dengan suara James yang memanggil nya.
"Kau sudah menemukan obat yang cocok untuk nya?" tanya James pada Chiko.
"Belum, obat yang kita berikan menjadi tawar sedangkan obat yang ku buat menjadi lawan di tubuh nya. Mungkin karna dia sudah terbiasa mendapatkan obat khusus nya." jawab Chiko pada James.
James pun hanya menghela nafas nya dengan berat sudah dua hari gadis itu tak kunjung bangun sejak ia kehilangan kesadaran.
"Tuan? Bagaimana kalau dia kita jadikan bank darah sekaligus penelitian? Bahkan kalau dia mati pun semua organ nya sangat berharga!" ucap Chiko dengan mata berbinar.
James menatap dengan tak suka akan ucapan Chiko, ia tau jika bawahan nya itu tak mengatakan hal yang salah dan biasanya jika menemukan seseorang yang seperti menyimpan berlian di tubuh nya James tak akan berpikir dua kali untuk mengambil keuntungan.
Namun kali ini ia malah tak suka dengan gagasan yang biasanya ia langsung setujui.
"Kau berani? Dia masih wanita ku!" ucap James dengan tatapan tajam ke arah pria di depan nya.
Sekali lagi ia bertindak seperti bukan dirinya. Memakai perasaan yang harus nya tak ia lakukan sejak awal.
Chiko pun langsung terdiam, angan-angan untuk meneliti tubuh gadis itu sirna begitu melihat pria tampan itu menatap nya dengan tajam seperti mengetakan.
Coba saja dan aku akan membuat semua organ tubuh mu lepas!
Pria itu tak berani lagi memandang James, ia pun mulai melanjutkan lagi penelitian nya.
......................
Hotel.
Walaupun sang adik sudah tidak kembali selama dua hari namun Louis masih belum mengetahui nya, hal itu karena Louise yang sebelum pergi sudah mengatakan jika ia akan tinggal di apart nya yang lain selama beberapa waktu dan tak kembali ke kediaman utama pada kepala pengawal.
Sehingga saat ia tak kunjung kembali kepala pengawal menganggap jika gadis itu baik-baik saja di apart nya yang lain tanpa mengkonfirmasi apakah gadis cantik itu benar-benar ke apart nya atau tidak.
"Mau minum? Susu? Teh?" tanya Louis dengan senyum cerah melihat wajah Clara yang masam pada nya.
"Bukan nya anda bilang kita akan terlambat? Masih memiliki banyak urusan?" tanya Clara menyindir pria tampan itu.
"Urusan kita kan memang banyak..." jawab Louis enteng.
Setelah mereka membersihkan diri Louis tak bersiap untuk pergi menemui rekan bisnis atau melakukan peninjauan. Ia malah mengunci dirinya dan sekretaris di dalam kamar hotel tersebut.
"Kalau begitu kenapa tak lepaskan saya?!" ucap Clara yang sedari tadi memasang wajah tak suka dan berusaha melepaskan diri dari pangkuan pria tampan itu.
"Kan lagi sibuk...
Sibuk membuat mu patuh..." jawab Louis sembari semakin memeluk gadis yang ia paksa duduk di pangkuan nya.
"Jahat!" umpat Clara pada Louis.
"Iya tau..." jawab Louis enteng dengan tanpa merasa bersalah.
Getaran ponsel gadis manis yang berbunyi itu pun mulai mengalihkan pasang mata keduanya.
Louis mengernyitkan dahi nya menatap nama yang memanggil di ponsel gadis itu.
"Kau belum putus dengan nya?!" tanya Louis yang langsung berubah tak suka dan merusak perasaan senang nya seketika.
"Lepas! Aku tak punya alasan untuk putus dengan nya!" ucap Clara menepis tangan pria itu dan mengambil ponsel nya.
Louis pun melepaskan tangan nya dan membiarkan gadis itu pergi, tatapan mata nya mengikuti dengan pandangan tak suka. Ia sangat membenci pria yang sedang menelpon gadis yang ia sukai itu.
"Sial! Sudah seperti itu pun dia masih tak mau melepaskan nya! Memang nya aku kurang apa sih?!" gerutu Louis dan mulai mendekati gadis itu.
Dengan samar ia mendengar suara Clara yang sedang berbicara dengan kekasih nya dari telpon. Jantung nya terasa bergemuruh dan menatap panas punggung gadis yang sedang bertelpon tersebut.
Tangan Louis pun langsung menangkup tangan Clara yang masih memegang telpon dan membalik tubuh gadis itu. Ia pun mulai mencium agar gadis itu tak bicara lagi.
"Apa yan-"
ucapan nya langsung hilang saat ia di bungkam oleh ciuman.
"Cla? Clara? Kau tak apa? Kenapa?" tanya Reno dari telpon yang masih terdengar dengan jelas.
Tentu nya Reno khawatir ketika telpon nya dan suara kekasih nya tiba-tiba terputus begitu saja.
Louis tak mematikan panggilan di ponsel gadis itu namun menjatuhkan ponsel Clara dan mencium pemilik nya.
Kau mau terus dengan nya? Mimpi saja! Dia milik ku!
Batin pria tampan itu saat mencium gadis manis itu dan melirik ke ponsel yang masih berada di lantai, walaupun terdengar dengan jelas jika Reno masih memanggil Clara karna ia tak dapat mendengar suara kekasih nya.
Louis tersenyum dalam hati dan semakin menahan tengkuk gadis yang terus memberontak dari ciuman nya.
......................
Mansion Dachinko.
Louise mulai terbangun. Ia tersadar karna Chiko yang memberi nya bermacam obat agar dapat menyadarkan nya secara paksa atas perintah dari James.
Seluruh tubuh nya terasa sakit dengan degupan jantung yang masih belum berirama dengan benar.
Mata nya mengabur dan ingatan nya masih belum sempurna mengulang apa yang terjadi sebelum ia kehilangan kesadaran.
Anak itu!
Sekelebat ingatan nya kembali dan membuat langsung berusaha bangun dan beranjak dari ranjang yang ia tiduri.
Bruk!
Tenaga nya belum terkumpul dengan sempurna sehingga membuat nya langsung terjatuh di sisi ranjang, ia merintih sakit memegang detakan jantung nya hingga meremas piyama yang ia gunakan.
Ukh!
Ringis nya sembari memegang dada nya yang sakit, ia tau jika ia belum mendapatkan obat nya sama sekali dan itu lah yang membuat nya terasa sangat sakit.
Irama detak yang di timbulkan tak beraturan di dada nya membuat nya semakin sesak namun ia tetap berusaha bangun mencari anak lelaki yang ia tolong sebelum nya. Ia sangat takut jika pria iblis itu tak menepati janji nya.
Perlahan Louise keluar dari kamar yang tak di kunci sama sekali, ia menghindari bertemu pelayan ataupun pengawal yang berada di mansion megah itu namun semua gerak nya terekam jelas di cctv.
James pun yang selesai mengurus beberapa masalah kembali ke kamar gadis cantik itu untuk melihat apakah yang di berikan Chiko bereaksi atau tidak dalam menyadarkan paksa gadis nakal itu.
"Dimana dia?!" ucap James saat hanya melihat ranjang yang kosong dan melihat sleeping beauty nya tak ada.
James pun langsung memanggil pengawal nya dan mencari gadis itu.
Louise berjalan perlahan mencari di setiap ruang mansion untuk menemukan keberadaan anak lelaki tersebut.
Greb!
Louise terkejut ketika tangan nya di pegang seseorang saat ia masih mencari keberadaan anak lelaki tersebut.
"Mau kemana? Hm?" tanya James pada Louise saat ia langsung meraih tangan gadis itu.
Plak!
Louise langsung menepis dengan kuat tangan pria yang sedang memegang nya.
"Lepas! Kau kotor!" ucap Louise dengan tatapan jijik pada pria di depan nya.
James tak menjawab dan hanya menatap datar ke arah gadis itu.
"Mana anak itu?! Aku sudah berikan darah ku kan?!" tanya Louise pada James yang langsung ke sasaran nya.
"Aku juga tak mengambil semua darah yang harus nya ku butuhkan, kau juga belum memberi hati mu." jawab James dengan wajah dingin dan tenang.
Louise menatap tajam ke arah pria tampan itu dan terlihat jelas sorot tak suka dari mata jernih tersebut.
"Kenapa tak ambil semua? Kau juga kenapa tak sekalian mengambil hati ku?! Kau bahkan belum menjawab di mana anak itu!" certa Louise dengan beragam pertanyaan.
James diam ia tak tau harus mengatakan apa pada gadis cantik itu.
"Dimana anak itu?!" ulang Louise dengan nada penuh penekanan.
"Masih hidup! Kau tak perlu khawatir. Dan lagi mulai sekarang kau tinggal di sini." ucap James pada gadis itu.
Louise tersenyum getir mendengar nya. Tinggal dengan pria itu sama saja bunuh diri karna ia tak akan mendapatkan obat nya.
"Kau ingin membunuh ku perlahan?" tanya Louise lirih dengan tersenyum pahit.
"Lagi pula kakak ku akan segera menemukan ku!" ucap Louise yang tau jika sang kakak pasti akan segera mencari nya begitu tau ia menghilang.
"Aku tak mau membunuh mu, dan lagi kau yakin kakak mu bisa menemukan mu? Tempat ini sangat rahasia. Kau sudah masuk ke kubangan dunia yang berbeda. Jika kakak mu benar-benar handal mungkin akan butuh waktu 4 sampai 5 tahun untuk bisa melacak dan meretas tempat ini." terang James dengan senyum simpul nya.
Ada namun terlihat tidak ada bagaikan asap tanpa api.
"Aku juga tak akan bertahan selama itu..." jawab Louise lirih dengan suara gemetar karna menahan sakit di dada nya saat ia tak mendapatkan obat nya.
Ia memang akan baik-baik saja dan terlihat normal namun itu semua hanya akan terjadi jika ia mendapatkan obat yang di berikan padanya sejak bayi.
"Kau tak akan mati! Aku tak akan membiarkan nya!" ucap James sembari mendekati dan mencengkram lengan gadis itu.
"Oh ya?" tanya Louise dengan wajah yang tersenyum tak percaya.
"Roller coaster, Tato, Wahana berbahaya! Kenapa kau minta aku melakukan nya?!" tanya James dengan nada membentak gadis itu.
Louise terdiam beberapa saat karna terkejut dengan suara menggelegar yang masuk ke telinga nya.
"Kau menyukai ku? Atau mulai mencintai ku? Apa peduli mu tentang aku hidup atau mati?" jawab Louise dengan pertanyaan lain.
"Aku...
Tak ingin mencintai mu..." jawab James lirih begitu mendengar pertanyaan gadis itu.
Louise mengangguk kecil tanda ia mengerti ucapan pria tersebut.
"Kau hanya sekedar menginginkan ku, kan? Tapi tak ingin punya perasaan apapun padaku, seperti itu kan?" tanya Louise pada James wajah nya semakin memucat melihat pria tersebut.
Aku takut jika aku mencintai seseorang...
Tapi aku tak bisa menjelaskan perasaan ku...
James tak bisa mengatakan hal itu pada gadis di depan nya. Kata cinta terlalu menakutkan untuk nya.
Seseorang yang ia cintai juga yang memberinya luka terdalam membuat nya tak percaya arti satu kata yang penuh dengan makna itu.
"Kalau begitu, aku memilih mati saja! Aku tak mau jadi mainan mu! Kalau aku tak bisa keluar dari sini, lebih baik kalau aku pergi meninggalkan nya sekaligus!" sambung Louise saat melihat pria di hadapan nya diam tak menjawab pertanyaan.
"Kau pikir itu keputusan yang bisa kau ambil?! Hidup dan mati mu ada di tangan ku! Dan aku mau kau tetap dengan ku!" jawab James dengan nada yang penuh penekanan pada gadis itu.
"Tapi yang kau lakukan sekarang sudah membunuh ku dengan cara yang lain..." balas Louise tersenyum getir pada pria tampan itu dengan wajah pucat nya.
......................
Flashback on.
4 tahun yang lalu.
Pria itu memegang tangan kecil dari gadis yang memiliki wajah lembut dan sikap yang juga selembut kapas.
"Kau mau kita menikah di gedung ini?" tanya pria yang tak lain adalah James.
"Maaf..." jawab gadis itu lirih saat ia membawa ke sebuah gedung yang sedikit jauh dari tempat para bawahan pria tampan itu.
"Maaf? Maaf kenapa? Hm?" tanya James dengan lembut sembari menangkup wajah gadis itu.
Sejahat apapun yang ia lakukan, namun ia selalu bersikap penuh perhatian pada gadis yang sudah mengambil seluruh hati nya.
"Pintar sekali Bella! Kau membawa nya sesuai perjanjian!" ucap seorang pria yang keluar dengan beberapa pria berpakaian serba hitam dan membawa senapan panjang di tubuh mereka.
Pria tampan itu pun langsung menarik kekasih nya dan menyembunyikan di balik punggung kekar nya.
"Kau mau melindungi nya? Kau tak sadar dia yang membawa mu kesini?" tanya pria yang menatap dengan penuh sorot mata ejekan pada James.
"Randly?" gumam James bingung mendengar penuturan dari musuh nya yang sedang mengepung nya.
"Berikan berlian dan data pengalihan saham nya." ucap Randly dengan enteng.
"Tak akan!" jawab James pada pria itu sembari mengaktifkan lokasi tanda bahaya yang selalu ia pasang di pakaian yang ia kenakan di tubuh nya agar Nick dapat menemukan nya.
James semakin menarik gadis itu ke sisi nya guna melindungi gadis yang sudah jelas mengkhianatinya dengan membawa nya ke sarang musuh.
Ia pun perlahan mengambil pistol dari balik jas. nya dan mulai menodongkan nya ke arah orang-orang yang juga menodongkan senapan ke arah nya.
"Kau tak mau memberikan nya?" tanya Rendly yang masih memperebutkan berlian dan data pengalihan saham milik pria tampan itu.
"Coba ambil dari ku, kalau bisa!" ucap James sembari tetap melindungi kekasih nya.
"Kau tak sadar dia sudah mengkhianati mu? Ternyata kau sangat bodoh! Tak sepintar yang ku kira!" ucap Rendly yang mulai mentertawakan pria itu.
Walaupun situasi sudah mengatakan jika wanita nya telah mengkhianatinya dengan membawanya ke sarang musuh namun ia masih tak ingin mempercayai nya.
"Bunuh dia!" titah Rendly pada seluruh bawahan nya agar segera membunuh James.
DOR!!!
Satu tembakan kuat yang melayang pada nya, James pun berusaha mengelak dan membalas dengan tembakan lain yang ia gunakan. Ia langsung menarik tangan kekasih nya agar dapat berlindung pada nya.
Rasa cinta yang ia miliki membutakan mata nya hingga tak bisa melihat apa yang sudah gadis itu lakukan pada nya.
"Tetap disini! Tunggu aku selesai..." ucap James sesaat dan ia mulai keluar melawan lawan yang tak seimbang dari nya.
Bella si gadis yang membawa masalah pada kekasih nya itu pun menutup telinga nya dengan rapat begitu mendengar suara tembakan yang bersahutan di telinga nya.
Gedung yang awal nya rapi dengan lantai putih kini berporak-poranda akibat hujan peluru dan darah yang menggenang di lantai.
Tangan dan wajah pria tampan itu sudah terluka cukup banyak, ia melawan dengan pisau begitu peluru di pistol nya telah habis. Namun itu semua juga membuahkan hasil.
Ia mengalahkan para bawahan dari Rendly walaupun sudah terluka cukup parah.
"Sekarang kau yang akan menyusul bawahan mu!" ucap James pada Rendly.
Pria itu masih memanggil anak buah nya yang lain untuk membunuh James di tempat tersebut.
James pun mengangkat pistol yang ia ambil dari tangan bawahan Rendly yang sudah mati dengan bersimbah darah dilantai, namun...
Dusk!
Ukh!
Pekik James saat merasakan perut nya yang tertusuk oleh pisau tajam dari belakang. Ia pun memutar kepala nya dan melihat siapa yang menikam diri nya.
"Bella? Kau? Kenapa?" tanya James tak percaya pada gadis itu.
Bella pun menarik pisau nya hingga membuat darah pria itu berhambur hingga ke wajah cantik nya.
"Ka-kau tak boleh membunuh nya..." ucap Bella lirih dengan suara gemetar pada gadis itu.
"Kenapa? Kalau kau membunuh ku...
Anak kita?" tanya pria itu lirih sembari memandang perut kekasihnya yang masih rata.
Dibanding kan dengan luka yang ia terima, ia lebih merasakan sakit saat wanita yang sangat ia cintai mengkhianati nya demi musuh nya sendiri.
Gadis itu sudah hamil selama 5 minggu, dan James yang mengetahui hal itu tentunya senang saat gadis yang ia cintai mengandung anak nya, gadis yang menjadi pengalaman pertama untuk nya dan bahkan sampai mengandung anak nya membuat nya semakin ingin menikahi gadis itu.
"Aku mengugurkan nya..." jawab Bella lirih dengan menundukkan kepala nya.
"Bagaimana kau bisa melakukan nya?!" bentak pria itu saat tau anak yang ia inginkan sudah di bunuh bahkan sebelum lahir ke dunia.
"Aku tak mau punya anak dari mu! A-aku..." jawab Bella tersendat dan hanya melelehkan air mata nya.
"Maaf James....
Dia akan menghancurkan perusahaan ayah ku..
Aku tak mau jika itu terjadi..." jawab gadis itu lirih yang memilih perusahaan sang ayah dibandingkan pria yang benar-benar mencintai nya.
"Kau hanya perlu mengatakan pada ku dan aku akan membantu mu...
Kalau kau mau perusahaan ayah mu tetap utuh kau hanya perlu memberitahu ku..." jawab James lirih saat ia mulai kehabisan darah.
Bella tak menjawab dan hanya menangis antara menyesali kebodohan pilihan yang ia ambil dan ingin mengulang waktu namun sudah terlambat.
"Kenapa mengkhianati ku? Kenapa membunuh anak ku?" tanya James lirih dengan tanpa sadar menjatuhkan air mata nya yang sangat berharga.
Sakit...
Bukan sakit di tubuh nya melainkan hati nya melihat wanita itu mengkhianati nya sebegitu dalam bahkan sampai membunuh anak yang belum di lahirkan itu.
Rendly pun bersiap menembak kepala pria tampan itu dari belakang namun Nick sudah datang dan membantai para bawahan Rendly yang lain yang juga baru datang lagi.
"Tuan! Anda baik-baik saja?!" tanya Nick melihat tuan nya terdiam menatap penuh kecewa pada gadis itu.
James pun mengambil pistol yang di tangan Nick dan bersiap menembak ke arah Bella si kekasih nya.
Namun tangan nya gemetar saat memandang wajah gadis itu, ia tak bisa membunuh nya sama sekali.
"Pergi! Pergi jauh dari ku! Saat aku melihat mu lagu nanti, aku takut akan benar-benar membunuh mu! Dan perusahaan ayah mu?! Akan ku pastikan untuk segera hancur!" ucap James sembari memegang tetesan darah di perut nya bekas tikaman gadis itu.
Sejak hari yang memilukan itu, pria tampan itu tak lagi mempercayai kata "Cinta" ia mulai menjadikan wanita hanya sebatas mainan nya saja dan mulai membuat para gadis cantik hanya di jadikan pelepasan nafsu dan di ganti seperti sepatu yang di gunakan.
Flashback off.
...****************...
Athan James Dachinko
Elouise Steinfeld Rai