
Clara pov.
Apa yang dia katakan?
Mau menikahi ku? Setelah semua yang dia lakukan?
Wajah dan mata nya tak menunjukkan rasa apapun. Entah itu marah ataupun sedih, dia seperti tak memiliki emosi apapun.
Aku tak bisa menghentikan tangis ku, air mata ku luruh tanpa henti.
Sesak...
Rasanya dada ku penuh akan gemuruh bendungan yang berusaha ku tahan selama ini, aku merasa sulit bernafas, lidah ku kelu tak bisa menjawab nya.
Membuktikan kalau aku tak pernah di sentuh oleh pria lain dengan cara menikah dengan nya, aku tak tau neraka apa lagi yang dia siapkan pada ku.
Dia tak mempercayai ku sama sekali, membuat ku semakin terluka. Perasaan yang tidak bisa ku jelaskan.
Aku membenci nya karna dia sudah merusak ku! Merusak hidup ku!
Aku hancur...
Tapi aku ingin dia! Dia yang merusak hidup ku!
Mungkin sekarang aku sudah benar-benar gila, sekarang!
Hentikan semua rasa sakit ini...
Aku tak sanggup, aku sudah lelah...
...
"Kenapa diam? Kau tak mau?" tanya Louis dengan wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun menatap gadis yang sedang menangis tersedu di depan nya.
Ia memikirkan rencana yang akan terjadi di depan nya. Ia sudah memberikan dua pintu pada gadis manis itu.
Jika anak yang di kandung Clara terbukti bukan anak nya, ia akan tetap menikahi gadis itu setelah mengugurkan kandungan nya.
Memiliki hak penuh akan hidup seseorang secara sah dan menyiksa perlahan hingga berharap pada kematian yang sesungguh nya.
Namun jika anak itu terbukti anak dari benih yang ia tinggal kan ia akan berusaha melupakan semua kebohongan gadis itu lalu menjadi seorang ayah dan merawat anak nya dengan baik.
Karna ia juga ingin memberikan keluarga lengkap pada putra nya, ia tau tak ada siapapun yang bisa mengalahkan kasih sayang ibu kandung. Maka dari itu ia tak ingin hanya mengambil anak nya dan memisahkan dari ibu kandung nya.
Auch!
Clara meringis sakit saat rambut nya tiba-tiba di tarik dengan kuat hingga membuat wajah nya mengandah menatap pria di depan nya.
"Kenapa kau tak jawab? Hm? Dia juga mengeluarkan nya di dalam tubuh mu?" sindir Louis yang menatap gadis di depan nya.
Ia mulai curiga saat gadis itu tak menjawab ajakan nya.
"Aku tak pernah melakukan apapun pada nya..." jawab Clara menggeleng dengan tatapan sendu nya menatap pria di depan nya.
"Lalu?" tanya Louis yang bingung kenapa gadis itu tak menjawab nya.
"Aku tak ingin hidup dengan monster seperti mu! Kau terlalu mengerikan..." ucap Clara dengan tangis nya yang menjadi.
Louis menatap tajam ke arah gadis itu dan kemudian melepaskan tarikan di rambut panjang itu dengan kasar, ia tertawa sinis pada gadis yang tengah menangis pilu tersebut.
"Aku pernah bilang kau milik ku kan? Sampai mati pun aku tak berniat sama sekali melepaskan mu!" ucap Louis dan beranjak ingin pergi.
Langkah nya terhenti, ia menoleh ke arah gadis manis itu lagi dan menatap nya tajam.
"Kau ingin mati? Setelah ku pikirkan kau bisa melakukan nya...
Dan aku akan dengan senang hati mengirim orang tua mu untuk ikut menemani mu..." ucap Louis sebelum pergi meninggalkan gadis itu.
Deg...
Gadis itu tersentak mendengar kedua orang tua nya terbawa dalam masalah nya.
Mamah Papah...
Aku tak boleh membiarkan nya melukai orang tua ku...
Tubuh Clara gemetar dengan hebat, ia takut jika ucapan pria itu menjadi nyata.
...
Pukul 08.45 Pm.
Setelah makan malam tak ada satupun ucapan yang keluar dari kedua nya.
Hening....
Tak ada satupun percakapan hingga selesai, gadis itu diam dengan wajah linglung nya duduk di sofa tunggal dengan memeluk lutut nya dan hanya menatap gemerlap cahaya kota dari dinding kaca apart dengan lantai ke 100 tersebut.
"Kau mau keluar? Kalau kau menurut aku akan membiarkan mu keluar," ucap Louis pada Clara sembari menyentuh pundak gadis itu.
Clara mengandah ke arah pria yang berdiri di samping ia duduk.
"Kenapa mau menikahi ku?" tanya nya dengan wajah tak menunjukkan emosi, ia sudah lelah dalam tangis nya yang tak kunjung selesai dan hilang.
Louis diam tak menjawab membiarkan gadis itu menebak jawaban nya, tangan nya memegang dagu halus di depan nya dan membuat wajah cantik itu mengandah nya pada nya.
"Apapun yang menjadi milik ku harus tetap menjadi milik ku," jawab Louis pada gadis itu.
"Aku ingin adalah milik ku sendiri, aku ingin hidup ku! Kau...
Bukan siapapun!" ucap Clara sembari memandang dengan mata yang penuh akan kesedihan pada pria di depan nya.
Louis hanya menyeringai tanpa menjawab ataupun membalas ucapan gadis di depan nya, ia pun dengan santai nya menarik tangan gadis itu ke kamar.
"Menurutlah...
Kalau tak ingin aku menyentuh mu malam ini kau harus menurut pada ku," ucap Louis sembari menarik tangan gadis itu ke kamar nya.
Clara diam dan hanya menurut pada pria di depan nya, ia sudah tak mampu lagi melawan dan tak memiliki nyali yang sebesar itu untuk kembali membantah.
Hoek!
Perut nya bergelonjak lagi ia merasa kembali mual. Seperti sebuah kebiasaan baru yang datang pada setiap pagi dan malam.
Ia pun menepis tangan pria yang ingin menidurkan nya ke ranjang dan langsung bergegas ke kamar mandi.
Louis menatap gadis yang pergi dengan tergesa-gesa tersebut dan mendatangi nya, ia mengelus punggung Clara secara perlahan.
"Sudah?" tanya Louis sembari tetap mengelus punggung nya.
"Hm..." jawab Clara sembari membilas mulut nya dan berkumur-kumur.
Louis kembali membawa gadis itu ke ranjang dan menidurkan nya, ia melihat Clara yang begitu tak nyaman dengan perut nya.
Tap...
Ia meletakkan tangan nya di atas perut rata dan mengelus nya pelan.
"Sudah lebih baik?" tanya nya lagi menatap gadis yang sudah terdiam itu.
Clara tak tau apa yang terjadi namun gejolak di perut nya mulai terasa membaik setiap kali pria itu mengelus nya, ia mulai merasa nyaman tapi ia tau rasa nyaman itu bukan berasal dari dirinya sendiri.
"Aku baik-baik saja..." ucap Clara sembari menepis tangan pria yang sedang mengelus perut nya dengan lembut.
Ia pun segera membelakangi pria itu dan menarik selimut nya. Rasa benci namun tak perasaan yang tak ingin di tinggalkan bertaut menjadi satu membuat nya bingung akan dirinya sendiri.
"Aku akan kembali pulang malam ini, jadi kau tidurlah sebelum aku kembali." ucap Louis sembari memeluk Clara dari belakang dan kembali mengusap perut yang masih rata itu.
Ku harap ini anak ku...
Louis memeluk dan mengusap perut rata itu dengan lembut, tak ada gejolak lain yang di rasakan Clara, ia juga bingung namun ia merasa ada bagian lain yang berada di tubuh nya menginginkan pria yang sedang mengelus perut nya walaupun ia begitu benci pada pria itu.
......................
4 Hari kemudian.
Mansion Dachinko.
Louise tanpa sengaja mendengar ucapan Nick yang sedang berbicara dengan James, ia mendengar arah pembicaraan yang sekilas yang seakan-akan memanasi hubungan nya.
Gadis itu terdiam sesaat, ia tak mengerti kenapa bawahan pria tampan itu begitu membenci nya padahal ia tak merasa pernah menyinggung sedikit pun.
Louise kini sudah berada di ruang bermain dengan White anak kesayangan nya. Ia memberikan pita menggemaskan ke bulu lebat anjing serigala ganas itu.
"Nona ini makanan anda." ucap Nick dengan nada sopan namun menatap tajam ke arah gadis yang tengah mengusap peliharaan kesayangan tuan nya.
Louise pun menatap dan mengandah ke arah pria itu.
"Apa salah ku?" tanya Louise tiba-tiba dengan menatap pria di depan nya.
Nick tersentak ia bingung kenapa gadis di depan nya menanyakan hal tersebut.
"Maksud nona?" tanya nya yang belum mengerti.
"Aku tak pernah melakukan kesalahan pada mu, tapi kenapa kau sangat membenci ku? Kau membuat James menghukum ku berkali-kali!" tanya nya dengan mata yang menatap tajam namun terlihat sendu.
Nick pun mulai tau arah pembicaraan gadis di depan nya, ia merasa senang karna gadis itu sering mendapat hukuman karna ia yang terus memanasi tuan nya.
"Karna nona memang pantas mendapatkan nya!" ucap Nick dengan seringai nya pada gadis yang sebenarnya tak memiliki masalah apapun pada nya.
"Aku pantas di hukum? Memang nya kesalahan ku apa? Aku pernah melakukan apa dengan mu?! Kau tau apa yang dia lakukan pada ku?!" tanya Louise membentak pria di depan nya.
"Nona masih hidup sampai sekarang saja su-"
"Jahat! Padahal aku tak pernah menyakiti mu, tapi kau selalu berusaha menjatuhkan ku!" ucap Louise dengan tatapan tajam namun meneteskan air mata nya.
Ia tak tau kenapa pria itu begitu membenci nya dan ingin menyingkirkan nya padahal ia tak pernah melakukan kesalahan apapun. Ia pun bergegas bangun dan menarik anak kesayangan nya agar tak dekat dengan pria itu lagi.
Deg...
Nick terdiam begitu ia melihat gadis meneteskan air mata nya, biasanya seburuk apapun ia menyudutkan dan menyindir dengan perkataan menusuk gadis itu tak pernah sampai menangis dan bahkan kadang masih memperlakukan nya seperti layak nya seorang teman.
Namun kini tatapan benci yang di berikan begitu menusuk nya.
Kenapa aku mulai merasa tak nyaman? Harus nya aku...
Batin Nick yang merasa lain di hati nya ketika melihat sorot mata gadis itu.
......................
Restoran.
Clara menautkan jemari nya menjadi satu padu menatap pria yang berada di depan nya, ia ingin segera mengakhiri hubungan nya agar atasan brengsek berhenti menyiksa dalam neraka tak berujung.
"Ren...
Maaf...
Kita berhen-"
"Cla? Kau suka cheese cake kan? Mereka membuat nya sangat enak disini!" potong Reno langsung.
"Ren! Tunggu! Dengar apa yang ingin ku katakan!" ucap Clara agar pria itu bisa mendengar nya.
"Kenapa? Hm?" tanya Reno sembari memegang tangan gadis itu.
"Kita putus saja Ren..." ucap Clara menunduk dengan mulai menjatuhkan bulir bening nya.
Deg...
Ia bagaikan tersambar petir di siang bolong mendengar ucapan menggelegar yang luar biasa menyakitkan tersebut.
"Kenapa? Aku melakukan kesalahan? Aku akan memperbaiki nya! Kau bilang saja di mana letak kesalahan ku," ucap Reno yang langsung tak ingin gadis itu putus dari nya.
Clara menggeleng ia mulai tak dapat menahan air mata nya, ia ingin putus dari pria itu sebelum Reno tau akan skandal nya.
Ia bahkan tak mengetahui jika pria di depan nya bahkan sudah melihat video dirinya secara langsung.
"Aku kotor Ren...
Maaf..." ucap nya dengan tangis yang semakin menjadi.
"Aku tak bisa dengan mu lagi..." sambung Clara dengan menangis tersedu pada pria di depan nya.
Reno tidak tau apa yang harus ia lakukan saat gadis itu mulai mengaku pada nya. Pengakuan yang tak ingin ia dengar sama sekali.
"Cla...
Sudah cukup! Jangan bicara apapun lagi...
Ku mohon..." ucap Reno dengan suara gemetar pada gadis di depan nya.
"Kita tidak bisa bersama lagi Ren...
Aku yang salah di sini, kau bisa membenci ku..." ucap nya sembari mulai bangun dan beranjak pergi meninggalkan pria itu.
Reno mematung, ia sudah benar-benar mencintai gadis itu bahkan sampai sangat tak ingin di tinggalkan dan menerima kenyataan.
Ia pun bangun dan mengejar Clara lalu menarik tangan nya.
"Cla! Tidak apa-apa! Aku akan pura-pura tidak tau! Aku anggap aku tak pernah mendengar apapun barusan!" ucap Reno yang kukuh ingin mempertahankan hubungan nya.
"Aku kotor Ren! Aku tidur dengan atasan ku!" ucap Clara berteriak dengan tangis nya.
Untung saja mereka berada di taman restoran yang saat itu tengah sunyi sehingga tak menimbulkan perhatian orang lain.
"Aku tak mendengar apapun! Aku tak akan mendengar nya! Kau hanya sedang ingin bercanda kan?!" ucap Reno dengan gemetar pada gadis yang menangis tersedu tersebut.
"Aku tak bohong...
Kami memang melakukan nya, bahkan setelah kita bertemu aku juga melakukan nya dengan Presdir ku..." ucap Clara melemah. Butuh keberanian yang sangat besar untuk dia bisa memberi tau pria di depan nya atas apa yang sudah terjadi pada nya.
"Clara!" bentak Reno seketika membuat gadis itu tersentak dan kaget.
"Jangan katakan apapun lagi! Ku mohon!" ucap Reno sembari menahan tangan gadis itu dengan kuat.
Clara menangis tersedu, luapan emosi tak stabil nya mempengaruhi janin nya hingga membuat nya jatuh tak sadarkan diri.
Reno pun segera menangkap gadis itu dan langsung membawa nya ke RS terdekat.
......................
Rumah Sakit.
"Anda suami dari ibu Clara Olivia?" tanya seorang dokter sembari melihat nama pasien nya guna memanggil wali dari pasien yang sedang ia rawat.
"Suami? Iya, saya wali dari pasien Clara Olivia." ucap Reno yang datang pada dokter tersebut.
"Istri anda saat ini sedang stress dan memiliki emosi yang tak stabil, tolong lebih di perhatikan lagi karna hal ini sangat berpengaruh di trimester pertama." ucap dokter tersebut memberitau pada pria yang ia kira suami dari pasien nya.
Rebo tersikap begitu mendengar kata trimester pertama yang keluar dari mulut dokter tersebut.
"Dia hamil maksud nya?" tanya Reno lagi tak percaya.
"Benar pak, kehamilan ibu Clara sudah menginjak usia 5 minggu." jawab dokter tersebut.
"Baik dok, bisakah saya bertemu dengan nya?" tanya Reno pada dokter tersebut dan pergi keruangan di mana Clara di rawat.
Ia masuk dan melihat gadis itu yang masih tak sadarkan diri.
Apa karna ini kau ingin putus dari ku?
Batin nya sembari mendekat ke arah gadis itu. Clara sendiri bahkan masih tak tau tentang kehamilan nya sama sekali namun dua pria yang tengah bersama nya sudah mengetahui hal itu.
Reno mulai mengelus wajah manis itu dan memikirkan cara egois yang akan membawa petaka terbesar dari hidup nya dan menyeret gadis yang ia cintai dalam kesakitan di palung kesakitan terdalam.
Cla...
Maaf...
Aku akan jadi egois saat ini, aku tak mau melepaskan mu...
Aku bisa menerima anak mu dan diri mu tapi aku tak akan membiarkan mu pergi meninggalkan ku...
Hubungan kita hanya akan berakhir saat salah satu kita menghadapi kematian..!!!