
6 hari kemudian.
Hazel dan Alyss telah kembali dari bulan madu mereka dan sudah kembali juga pada rutinitas mereka.
JBS Hospital.
Alyss mencuci wajah nya dengan membilasnya dengan air, ia menatap dirinya di cermin dan memperhatikan wajah nya.
"Apa aku harus membunuh nya saja? Seperti yang di katakan Hazel? Tapi kalau tebakan ku salah?" tanya Alyss pada dirinya sendiri dari cermin.
"Haisshhhh!
Sial! Sepertinya dia terlalu lama tinggal di diri ku!" ucap Alyss kesal sembari meremas rambut nya. Setengah dari dirinya mengatakan jika lebih baik dia membunuh Dave saja karna ia sudah merasakan jika Dave berusaha mencelakainya berulang kali di pertemuan pertama mereka.
Namun Setengah dari kepribadian yang ia buat juga mempengaruhi nya dan tetap membuatnya dalam lingkup "anak baik" walaupun kepribadian dan sifat aslinya sudah kembali dan mengambil alih kesadaran nya namun kepribadian baik yang ia buat juga menyatu pada nya.
Alyss terlihat sangat kesal pada dirinya, jika saja ada yang tiba-tiba masuk ke dalam toilet tersebut pasti mereka akan menganggap Alyss orang aneh karna memarahi dirinya sendiri.
"Begini saja...
Akan ku cari tau dengan jelas tujuan nya, dan jika dia berbahaya akan ku bunuh..." ucap Alyss lirih.
"Hm...
Seperti itu lebih baik..." ucap Alyss lagi dengan wajah tersenyum dan merapikan riasan nya.
Setelah ia keluar ia pun mulai mencari cara menghubungi Dave, mungkin Alyss akan lebih mudah jika mengatakan bahwa Dave bisa berpotensi berbahaya pada Hazel, dan pasti tindakan yang di lakukan Hazel adalah melenyapkan nya.
Alyss pun meminjam ponsel dr. Lea dan menghubungi Dave, karna ia sadar jika ponselnya telah di sadap oleh suaminya sedang ia menghubungi Dave tanpa sepengetahuan Hazel. Setelah itu ia membuat janji dan bertemu secara pribadi dengan Dave dan tentunya hal itu juga tanpa sepengetahuan Hazel.
Alyss tau jika Hazel selalu menyuruh beberapa bawahan nya untuk mengawasinya, maka dari itu cara pertama yang ia lakukan adalah keluar dari pengawasan para bawahan suaminya yang di perintahkan untuk mengawasinya dirinya.
"Kita bertemu lagi?" ucap Dave saat ia sudah bertemu dengan Alyss. Ia pun langsung memberikan helm pada Alyss karna ia memang lebih suka menggunakan motor besar dari pada mobil.
Alyss tak menjawab ucapan Dave ia hanya menampilkan senyum yang sulit diartikan.
"Pegangan yang kuat..." ucap Dave sebelum melajukan kendaraan nya.
Alyss hanya memegang sedikit jaket yang di kenakan oleh Dave karna ia memang tak mau terlalu banyak bersentuhan dengan pria yang memiliki niat tak baik padanya, namun ia juga ingin tau alasan kenapa pria tersebut ingin mencelakainya walaupun ia tak memiliki masalah apapun.
Merasa Alyss yang tak memegang nya membuat Dave langsung menaikkan kecepatan nya dengan tiba-tiba dan membuat Alyss tersentak dan langsung memeluknya.
"Sudah ku katakan pegangan yang erat." ucap Dave tanpa sadar menunjukkan senyuman di bibir nya saat ia merasakan tangan Alyss yang memeluk perutnya.
Ia pun mulai membawa Alyss ke tempat yang terhindar dari cctv dan berusaha agar para pengawal yang di perintahkan Hazel untuk mengikuti Alyss tak menemukan nya, karna ia selalu menyelidiki Hazel membuatnya sangat mengenal Hazel, namun ia tak begitu menyelidiki Alyss.
Dave membawa pun membawanya ke salah satu sungai yang memliki pemandangan indah namun merupakan tempat yang sunyi.
"Kau tau dari mana tempat ini?" tanya Alyss sembari menghirup udara segar di tempat tersebut.
"Aku sering bermain disini saat masih kecil, seperti tempat bermain rahasia." jawab Dave pada Alyss.
"Kau tak apa-apa menemui ku? Bukankah kalau suami tau, kau bisa..." sambung Dave tak melanjutkan kalimat nya lagi.
"Bisa apa? Memang nya aku tak boleh bertemu dengan mu? Aku kan juga ingin punya teman..." jawab Alyss dengan wajah polos nya dan menunjukkan ekspresi sedih.
Dave pun terdiam sesaat, benar juga yang di katakan oleh Alyss, karna ia tau sifat dari pria incaran nya yang ingin ia hancurkan adalah sifat pengekang, dan bisa menghancurkan apa saja bahkan yang disukai sekalipun.
"Ehmm...
Luka mu sudah sembuh?" tanya Alyss lirih pada Dave yang masih melamun melihat nya.
"Luka? Luka yang mana?" tanya Dave lupa, karna ia memang tak begitu memperhatikan dirinya sendiri, selama ini hanya berusaha bagaimana naik ke posisi yang tinggi dan membalas dendam nya.
"Luka yang disini..." jawab Alyss sembari meraih tangan Dave dan melihat luka kecil di jari Dave.
Lagi-lagi Dave merasakan hal yang aneh saat Alyss menyentuh nya, ia seperti mendapat perhatian yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.
"Seperti nya sudah sembuh." ucap Alyss dan tersenyum polos melihat ke arah Dave.
Alyss pun berjalan ke pinggir sungai yang memilki air yang sangat jernih tersebut, ia memainkan air tersebut dengan tangan nya.
"Kenapa kau tak kesini juga? Kau kan yang mengajak ku..." ajak Alyss pada Dave.
Dave pun mulai berjalan ke arah Alyss ikut memainkan air sungai tersebut.
"Jangan aku tak bawa baju ganti." ucap Dave saat Alyss terus menjahilinya dengan menyibakkan air sungai secara terus menerus padanya.
Mungkin bagi Dave ini hal yang baru untuk nya karna ia baru pertama kali memliki seseorang yang seperti teman. Sedangkan Alyss terus menyibakkan air pada nya karna memilki maksud lain.
Setelah puas bermain air mereka pun keluar dari air dan duduk menghadap sungai tersebut. Dave melewatkan kesempatan nya lagi, ia tadi mendorong Alyss dengan pura-pura tak sengaja agar Alyss bisa terjatuh dan terbawa arus sungai namun ia malah dengan refleks juga menarik tangan Alyss agar tak terbawa arus sungai.
"Kau mau pakai ini?" tawar Dave sembari memberikan jaket nya pada Alyss dengan wajah sedikit memerah karna pakaian dalam Alyss yang menerawang di balik pakaian basah nya.
"Terimakasih." ucap Alyss tersenyum sembari mengambil Jaket tersebut.
Ck, pria sialan! Kau mendorong ku lalu berusaha menyelamatkan ku? Kau ingin bermain-main rupanya.
Batin Alyss saat melihat ke arah Dave yang terlihat salah tingkah jika menatap Alyss karna pakaian yang menerawang. Dave sendiri tak pernah berteman ataupun berpacaran karna ia selalu berusaha memanjat dari sosial terendah hingga ia berada di jajaran sosial yang bisa menyamai Hazel.
Tujuan hidup nya hanyalah membalas dendam pada Hazel karna ia beranggapan jika Hazel adalah penyebab kematian kakak kesayanganya yang merupakan keluarga satu-satunya di hukum mati dan membuat hidup nya hancur.
Ia selalu menganggap apa yang dikatakan kakaknya adalah kebenaran yang sesungguhnya, walaupun sudah tertera bukti jika kakaknya melakukan pembunuhan berantai secara brutal, namun ia percaya dan yakin jika kakaknya adalah orang yang baik dan di jebak, untuk menutupi pembunuhan yang di lakukan oleh Hazel.
Padahal Hazel saat itu juga merupakan salah satu korban dari kekejaman kakaknya, dan berusia sama dengan nya, namun mata dan hati nya tertutup rapat untuk kebenaran tersebut, ia terus ingin menyalahkan seseorang dan membuat nya menyalahkan Hazel seperti yang di katakan kakaknya sebelum eksekusi mati.
"Terasa dingin yah? Kau mau membuat api dari batu? Seperti film yang menunjukkan cara bertahan hidup..." ucap Alyss dengan wajah polos nya pada Dave.
"Membuat api dari batu? Tak perlu aku punya-" ucap Dave terpotong.
"Tapi aku mau coba!" potong Alyss dan langsung berdiri mengambil beberapa batu.
"Auch!" pekik Alyss dan...
Buak!
Alyss yang pura-pura tersandung dan langsung membuat batu-batu berukuran sedang dan berat yang ia pegang jatuh ke arah Dave yang masih duduk hingga membuat kepala Dave terluka karna batu yang di pegang oleh Alyss.
"Ya ampun...
Maaf..." ucap Alyss dan langsung pura-pura memeriksa kepala Dave yang berdarah karna ulahnya. Ia membalas Dave karna tadi hampir membuat nya terjatuh ke arus sungai.
Deg...
Dave membulatkan mata nya dengan sempurna saat melihat wajah Alyss yang sangat dekat dengan wajah nya karna Alyss sedang memeriksa lukanya di kepalanya yang terasa perih, sakit dan berdenyut saat di saat yang bersamaan.
"Maaf..." ucap Alyss lagi dengan mata berkaca-kaca dan wajah yang polos.
"Ti-tidak apa-apa..." jawab Dave yang salah tingkah saat melihat wajah Alyss dari dekat dan langsung memalingkan wajahnya.
Alyss pun tersenyum simpul namun tak begitu terlihat saat melihat Dave yang salah tingkah.
......................
9 hari kemudian.
"Kau hari ini tak perlu ke JBS." ucap Hazel di tengah sarapan nya pada Alyss.
Alyss pun langsung menghentikan makan nya dan menatap ke arah Hazel.
"Kenapa?" tanya Alyss heran.
"Kau juga tak di RS kan selama beberapa hari ini? Pergi kemana kau?" tanya Hazel sembari menatap tajam Alyss, ia tau jika Alyss selalu pergi keluar entah kemana. Ia berusaha menahan dirinya agar tak bertanya dan ingin Alyss yang mengatakan sendiri padanya.
Alyss pun terdiam beberapa saat, ia sudah tau jika hari seperti ini akan datang cepat atau lambat saat Hazel menanyainya, namun untung nya Hazel tak mengetahui jika dalam beberapa hari terakhir ini ia menemui Dave.
"Pergi ke hati mu..." jawab Alyss tersenyum membalas perkataan Hazel dengan candaan.
"Tak mau! Aku tetap mau ke JBS!" ucap Alyss yang juga kukuh dan langsung menghentikan makan nya, ia pun segera bangun dan beranjak pergi.
"Mau kemana? Sudah ku bilang kau di rumah saja!" ucap Hazel yang semakin kesal karna Alyss tak mendengarkannya.
"Kita pergi dengan mobil yang berbeda saja...
Kau terlihat sedang marah sekarang..." jawab Alyss dengan wajah seperti tak salah apa-apa.
Hazel pun memejamkan matanya sesaat, berusaha menahan emosinya agar tak menyakiti wanita nya lagi, ia pun berjalan kearah Alyss dan...
Swingg...
Alyss merasakan tubuh nya yang tiba-tiba terangkat karna Hazel menggendong nya tiba-tiba di pundak kekarnya dan membawa Alyss ke kamar mereka.
"Hazel?! Turunkan aku!" ucap Alyss yang berusaha melepaskan gendongan Hazel.
Setelah sampai di kamar pun Hazel langsung merebahkan tubuh Alyss ke atas ranjang dan langsung menindih tubuh kecil itu.
"Kalau kau tak memilki tenaga untuk pergi, kau tetap akan di rumah kan?" tanya Hazel dengan senyuman simpul menatap Alyss di bawah kukungan nya.
"Ja-jangan pagi-pagi juga! Aku tak mau! Kau kan sudah janji tak akan menyakitiku!" jawab Alyss saat ia mengerti maksud Hazel.
"Tak akan sakit kalau kau juga mau..." ucap Hazel dan mulai menarik pakaian Alyss.
"Tapi aku tak mau!" sanggah Alyss cepat dan berusaha mencegah tangan Hazel, Hazel pun langsung mengunci kedua tangan kecil itu ke atas kepala Alyss.
"Benarkah? Mungkin kau tak mau, tapi kadang tubuhmu berkata lain." jawab Hazel dengan masih menunjukkan senyum di wajahnya membuat Alyss semakin kesal.
Hazel pun mulai melepas dasi yang ia kenakan dan mengikat kedua tangan Alyss ke atas pada penyangga ranjang sama seperti saat ia pertama kali menyentuh tubuh wanitanya.
"Lepas! Kau ini punya orientasi yang lain yah?! Melakukan nya dengan mengikat pasangan mu?!" tanya Alyss kesal saat Hazel dengan santai mulai membuka pakaian nya satu-persatu sedangkan tangan nya sudah terikat dengan kuat keatas penyangga ranjang menggunakan dasinya.
"Hm...
Aku punya..." jawab Hazel enteng dan mulai bangkit dari ranjang nya dan mengambil satu dasinya yang lain dan mengikatnya menutup mata Alyss.
"Sekarang apa lagi?!" tanya Alyss semakin kesal saat Hazel menutup mata nya dengan dasi yang ia ambil.
"Tenang, aku tak akan kasar dan kau juga pasti menyukainya." jawab Hazel tersenyum dan mulai memangut bibir Alyss dengan pelan namun semakin dalam.
Tangan nya pun mulai menjalar di tubuh putih tersebut yang sudah benar-benar polos karna ia sudah mengambil semua pakaian yang menutupinya.
Hazel pun mulai membuka pakaian nya dan kembali memberikan ciuman serta ransangan di tubuh kecil wanitanya.
"Enghh..." Alyss yang tanpa sadar mengeluarkan suaranya saat Hazel tengah m*l*mat habis dada nya dan memainkan jemari kekarnya di bagian intinya.
Alyss merasa kesal sekaligus menikmati permainan yang dibuat Hazel pada tubuhnya, pelan namun menghanyutkan.
Hazel pun semakin tersenyum simpul mendengar suara yang sangat ia sukai keluar dari bibir wanitanya. Ia pun mulai melakukan puncak aslinya.
"Emhm..." Alyss yang semakin menahan suaranya saat Hazel mulai memasukinya.
"Jangan ditahan...
Kau tau aku sangat suka mendengar suara mu..." bisik Hazel di telinga Alyss sembari mulai memainkan tempo nya.
Ruangan kamar yang besar tersebut pun mulai terisi dengan desahan, mengalahkan suara kicauan burung di pagi hari.
Setelah beberapa jam kemudian.
Sial! kapan dia mau berhenti?!
Batin Alyss saat Hazel semakin bergerak cepat di belakang nya, ia sudah merasa kelelahan sedangkan Hazel masih terlihat biasa-biasa saja, Hazel membolak-balik tubuhnya dan melakukan semua posisi yang membuat nya nyaman, sedangkan Alyss semakin kelelahan.
Dan yang lebih parah nya lagi, walaupun ia kelelahan tubuhnya tetap memberikan respon positif pada sentuhan Hazel.
Terasa sakit namun juga menginginkan nya.
Dengan satu hentakan kuat akhirnya Hazel mengeluarkan lagi seluruh vanilanya di dalam tubuh Alyss.
"Su-sudah yah...
Aku di rumah saja, kalau kau melakukannya lagi aku mungkin akan pingsan...." ucap Alyss dengan nafas yang masih terengah-engah.
Hazel pun tertawa kecil mendengar ucapan istrinya, ia pun perlahan melepaskan ikatan dasi nya di tangan dan mata istrinya, dan perlahan memeluk tubuh kecil Alyss.
"Makanya jangan nakal kalau dibilangin..." ucap Hazel tertawa kecil sembari memeluk tubuh Alyss.
Alyss hanya berdecak kesal, pagi-pagi tubuhnya sudah terkena gempa lokal, membuat kaki nya terasa lemas bahkan membuat tubuhnya kehabisan semua tenaga yang ia miliki.
"Mau mandi bersama?" bisik Hazel di telinga Alyss saat ia mendekap tubuh kecil itu.
"Tidak! Sakit kalau kau terus melakukan nya!" tolak Alyss dengan cepat pada ajakan Hazel. Ia tau jika mereka mandi bersama pasti Hazel akan melakukan nya lagi.
"Sakit? Mana nya yang sakit? Sini ku priksa dulu..." ucap Hazel tertawa kecil dan mulai menyentuh bagian inti istrinya dari balik selimut.
Alyss pun langsung menepis tangan Hazel dengan kesal di balik selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
"Kalau di situ sakit, kan bisa disini..." ucap Hazel lagi dengan tertawa kecil sembari menyentuh bibir tipis Alyss.
"Disini juga sakit! Kau ini benar-benar seperti beruang yah?! Semua di gigit!" ucap Alyss kesal, karna memang bibir juga sedikit terluka karna ciuman Hazel yang mulai lepas kendali.
Melihat wajah kesal Alyss membuat Hazel semakin gemas dan semakin memeluk erat tubuh istrinya.
Sekarang semuanya berjalan sesuai keinginan ku.
Batin Alyss saat Hazel memeluknya, ia tau jika Dave pasti akan mencari dan menunggunya. Di hari Hazel tak membiarkannya keluar. Ia sengaja bersikap tarik ulur pada Dave karna Dave bersikap abu-abu padanya ia tak mengetahui dengan jelas apa alasan Dave berniat ingin menyakitinya namun juga tak ingin ia benar-benar terluka.
Ia ingin Dave menunjukkan tujuan nya dengan jelas, apa yang sebenarnya di incar dengan begitu Alyss akan tau untuk membiarkan Dave tetap hidup atau melenyapkan nya.
......................
Sementara itu.
Hari sudah semakin siang, Dave pun yang sudah terbiasa bersama Alyss walau cuma beberapa hari mulai merasa kehilangan saat Alyss tak menghubunginya hari ini.
"Aku harus merubah rencana nya!" ucap Dave lirih dan mulai berganti rencana membunuh Hazel dan membuat Alyss menjadi miliknya.
Alysscalla Zalea
Hazel Rai
...****************...
Aduh mbak Alyss jangan ngebaperin anak orang dung, susah kan kalo dah makin kecantol🤣
Haiii....
Maaf yah semalam ga up, tugas othor banyak banget udah ngubek-ngubek jurnal tapi masih ajj tetep kurang pas🤧🤧🤧 ini juga sebenernya belum siap wkwk🤣 tapi othor dah pusing nugas jadi mau nge halu dulu🤣
Ini othor panjangin yah bab yang ini😉
Jangan lupa like komen fav vote dan rate 5 serta dukung othor yah🥰❤️❤️🥰
Happy Reading❤️❤️❤️