(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Can I be happy?



2 minggu kemudian.


Kediaman Rai.


Louis melihat ke arah tingkah adik nya yang berbeda dari biasanya, gadis itu terlihat tak bersemangat dan seperti sedang sakit.


"Louise? Sakit? Hm?" tanya pria itu pada adik nya.


"Tidak...


Sakit apa nya sih? Ini karna kau blokir ATM ku!" dalih Louise pada sang kakak.


"Nanti ikut aku ke JBS, priksa darah! Mungkin obat mu perlu pembaharuan lagi." ucap Louis saat akan memakan sarapan nya.


"Ih! Gak perlu Louis! Cuma flu aja kok! Lagi pula kan yang di rumah masih ada, gak ada respon lain juga!" ucap Louise sekali lagi, walaupun James sudah berhenti memberi narkotika namun perlu waktu untuk membuat darah nya bersih dari obat terlarang itu.


Walaupun 2 minggu adalah waktu yang bisa menetralisir di dalam darah namun jika mengingat dosis yang di berikan James seperti nya perlu memakan waktu beberapa pekan lagi.


"Darah mu udah ada di ambil belum 6 bulan ini?" tanya Louis lagi.


"Udah!" jawab Louise sembari memakan makanan nya.


"Serius? Awas kalau bohong! Nanti aku lihat catatan nya." ucap Louis lagi.


Louise hanya diam dan mendengus kesal.


"Louis..." panggil nya lirih pada sang kakak.


"Hm? Jangan minta buka blokir black card mu, harus tahan 3 bulan pakai uang yang ku kasih saja!" ucap Louis pada adik nya, ia tau jika saat ia dalam perjalanan bisnis gadis cantik itu tak kembali semalam lagi dan untuk menghukum adik nya tentu saja menarik dan membatasi pengeluaran yang akan di hambur kan gadis itu.


"Bukan ih! Langsung pikiran nya!" dengus Louise kesal "Kalau misal nya ada yang tau tentang darah ku gimana?" sambung nya lagi dengan nada lirih.


Louis pun menghentikan makan nya dan menatap sang adik.


"Siapa yang tau? Kalau orang lain mereka akan penasaran! Terutama yang di bidang medis! Kau itu mudah sakit, jadi tak ada yang boleh tau!" ucap Louis pada adik nya.


"Tapi kalau untuk JBS bukan nya bagus yah? Kan bisa jadi perkembangan teknologi nya..." sambung gadis itu lagi.


"Kau gila yah?! Tidak! Lagi pula kalau ke publish mau di culik sama orang jahat terus di jadikan bank darah?!" tanya Louis kesal pada adik nya, tentu ia tak pernah ingin terjadi sesuatu pada adik nya.


"Kan cuma tanya...


Lagi pula yang ku bilang juga bagus buat perkembangan JBS hospital sama farmasi kan?" jawab gadis itu enteng.


"Astaga...


Jangan aneh-aneh deh...


Sehat aja yang perlu!" ucap Louis pada adik nya.


"Tapi keluarga kita aneh yah? Mamah punya hemofilia padahal perempuan terus aku punya kelainan gen." ucap gadis itu tertawa kosong.


Karna Alyss yang memiliki riwayat hemofilia walaupun ia wanita membuat nya sedikit berbeda karna biasanya wanita menjadi carrier namun wanita cantik itu tak hanya menjadi carier namun juga mengidap nya secara langsung.


Hal ini di turunkan pada putra nya dan entah sebuah keberuntungan sekaligus petaka saat putri nya mengalami kelainan genetik dengan tak memiliki antigen RhD dan beberapa hal lain nya lagi.


"Gak aneh sih...


Kau aja yang anak pungut dapat dari kandang kucing." ledek Louis dengan setengah tertawa, hari nya tak akan lengkap jika tak mengganggu gadis nakal itu.


"Kau yang anak pungut! Papa bilang dapat dari kandang kambing!" jawab Louise kesal.


"Ih! Aku kan duplikat Papa!" sanggah Louis tertawa.


"Gak tuh! Papa aja ganteng! Tidak seperti kau! Kayak boneka Chucky!" bantah Louise semakin kesal.


......................


Skip time


Cafetaria.


Gadis manis itu menghabiskan waktu makan siang di cafe seorang diri, walaupun orang-orang dirumah sakit dan para staf non medis tidak mencibirnya langsung, namun ia tau gosip dan pembicaraan orang-orang itu di depan nya.


Warna lipstick yang memudar, leher yang terlihat jelas bekas kepemilikan dan bahkan terkadang pakaian yang tak rapi maupun beberapa kancing yang kemeja yang terlepas, dan bahkan lebih parah nya lagi ia terkadang memakai baju yang berbeda setelah dari ruangan presdir yang cukup lama.


Dengan kondisi seperti itu membuat nya memiliki gosip dan pembicaraan buruk tentang nya.


Penjilat yang menjual tubuh agar naik karir.


Sekretaris penggoda.


Tak memiliki harga diri lagi hanya demi keuntungan.


Entah siapa yang pertama kali mengatakan hal seperti itu, namun para staf medis maupun non medis telah mencibir nya dari belakang seperti itu.


"Makan cake...


Minum nya latte..." ucap Clara berusaha menghibur dirinya sendiri.


Ia tak bisa mengatakan dengan tegas tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya karna perjanjian yang sudah ia tanda tangani. Gadis itu benar-benar merasa tertekan dan tercekik setiap kali ini berada di lingkungan yang menunjuk nya dengan kata tajam seperti tombak beracun.


Belum lama ia memakan es krim, telpon gadis itu berdering menandakan sebuah panggilan telah masuk.


"Ini siapa?" gumam Clara saat melihat ponselnya dan mulai mengangkat telpon nya.


"Halo?" jawab Clara.


"Cla? Clara kan? Masih belum ganti nomor?" ucap seorang pria yang terdengar riang dari balik telpon.


"Iya, dengan siapa yah? Maaf nomor anda tak memiliki nama di ponsel saya..." jawab Clara dengan sopan karna pria tersebut terlihat seperti sudah mengenal nya.


"Ini aku Cla...


Reno! Sekarang aku udah balik kesini gak di LN lagi...


Kau dimana? Sedang apa? Ketemuan yuk!" ajak Pria yang tak lain adalah teman semasa SMA gadis manis itu.


"Reno? Astaga...


Sudah lama sekali...


Aku sedang jam istirahat makan siang dan di cafe xx." jawab Clara pada penelpon tersebut.


"Aku ke sana yah! Jam berapa selesai waktu istirahat makan siang mu?" tanya Reno semangat.


"Jam dua siang." jawab Clara pada teman nya itu.


"Yasudah, tunggu aku!" jawab Reno dan menutup panggilan nya.


Setelah mendengar bunyi panggilan terputus Clara melihat ke arah ponsel nya, terulas senyum di bibir gadis manis itu, teman semasa SMA yang membuat hari nya tak pernah bosan menghubunginya lagi.


Ia juga pernah menyukai teman nya itu, namun berusaha langsung menepis perasaan saat pria itu pergi kuliah ke luar negri. Ia tau dirinya pasti akan kalah dan tak seimbang dengan gadis-gadis di luar sana.


Setelah beberapa waktu


"Clara?" panggil Reno dengan dengan wajah yang tampak sangat senang.


Gadis itu pun langsung menoleh dan melihat ke arah pria yang memanggil nya, senyum nya naik tanpa ia mau sebagai respon dari rasa senang pada dirinya.


"Kok makin kurus? Diet yah?" tanya Reno saat ia mendudukkan dirinya ke atas kursi di depan gadis manis itu.


"Tidak kok...


Kau dari mana?" jawab Clara sekaligus bertanya mengalihkan pembicaraan.


"Bandara...


Baru balik soal nya." jawab Reno enteng dan memesan makanan serta minuman nya.


"Langsung ke sini?" tanya Clara menyelidik.


"Iya! Sudah tidak sabar melihat mu." jawab Reno dengan senyuman mematikan nya karna wajah nya yang terbilang tampan.


"Apa sih? Dari dulu sampai sekarang masih belum berubah." ucap Clara tertawa.


Reno hanya tersenyum menatap ke arah gadis yang sedang tertawa kecil di hadapan nya.


"Cla? Udah nikah belum?" tanya Reno tiba-tiba.


"Belum..." jawab Clara sembari meminum latte nya.


"Pacar? Sudah punya?" tanya Reno lagi.


"Belum juga..


Kenapa tanya begitu sih?" tanya Clara yang bingung.


"Berarti aku masih punya kesempatan dong! Pacaran yuk!" ajak Reno frontal dan seketika membuat gadis itu terkejut.


"Eh salah yah cara ngajak nya?


Cla...


Mau gak jadi pacar aku?" tanya pria itu lagi tiba-tiba.


"Kita gak ketemu enam tahun, dan kau langsung mengajak ku pacaran?!" tanya Clara bingung.


Sewaktu SMA Reno termasuk siswa populer karna merupakan anak emas sekolah sekaligus ketua osis dan ikut tim basket yang saat itu membuat namanya semakin populer di antara siswi lain.


"Iya! Sekarang aku udah dapat kerja sendiri! Udah beli apart juga, gak nyewa kok! Tabungan juga udah ada. Jadi baru berani bilang!" jawab Reno sekali lagi, ia sudah menyukai gadis itu sejak masa sekolah nya, namun ia ingin memilki karir dan modal untuk bisa bersama dengan gadis yang ia sukai.


"Jangan ada-ada deh...


Masa dari sekian lama gak ketemu terus gak pernah ada kabar langsung ngajak pacaran..." tanya Clara dan masih menganggap jika semua yang di katakan pria itu hanya lolucon.


"Dua minggu! Putuskan jawaban nya setelah dua minggu, bagaimana?" ucap Reno dengan penuh harap.


"Kau sedang tak bercanda kan? Lagi pula kenapa menyukai ku? Aku juga tidak sebaik yang kau pikirkan..." ucap Clara lagi.


Kenapa tak baik? Aku tak peduli tentang yang lalu, yang penting saat kau dengan ku, kau hanya dengan ku saja..." ucap Reno lagi dengan senyuman tulus di wajah nya.


"Tapi aku benar-benar..." ucap Clara yang sebelum nya melambung tinggi kini jatuh mengingat perbuatan atasan nya. Walaupun ia tak pernah merasa seperti Jalang namun karna terus menerus di katakan padanya saat tubuh nya tengah di jamah membuat pikiran seperti sudah terbumbui dengan kata itu.


"Kenapa? Kehidupan dengan mantan pacar mu tidak bagus?" tanya Reno lagi yang berfikir jika gadis itu sudah tersakiti dengan mantan pacar nya padahal Clara sama sekali belum pernah berpacaran.


Clara hanya diam tak menjawab.


"Setiap orang kan punya masa lalu, aku juga punya...


Yang penting kan masa saat ini..." jawab Reno lagi.


"Yaudah...


Nanti aku pikirkan yah...


Jam makan siang ku sudah habis..." jawab Clara dan berpamitan kembali ke JBS.


"Aku antar!" ucap Reno dan menarik tangan gadis itu ke mobil nya, saat di bandara ia sudah di jemput namun malah mengusir sang supir dan mendatangi gadis yang ia sukai.


"Eh?!" Clara yang terkejut saat pria tersebut menarik tangan nya.


......................


**Flashback on.


Senior high School**.


Semester pertama tingkat kedua.


Gadis yang mengenakan segaram SMA musim panas dengan permen di tangan nya berjalan ke atap hanya untuk menghirup udara segar di sekolah nya.


"Eh? Mau ngapain itu?" gumam nya lirih saat melihat seorang siswa yang berdiri diatas pagar pembatas atap.


Gadis itu pun langsung berlari dan memanggil pria tersebut.


"Kau sedang apa?" tanya nya pada siswa yang ia belum pernah lihat di sekolah nya.


"Astaga!" pekik pria tersebut terkejut, awalnya ia ingin bunuh diri namun ketika melihat ketinggian dari atap gedung membuat nya ragu.


"Awas jatuh! Sini..." ucap gadis itu dan menarik siswa tersebut agar turun.


"Apa sih? Sok kenal!" decih siswa tersebut.


"Memang gak kenal! Tapi kan kalau jatuh nanti aku yang di tanyain karna dari atap!" jawab gadis tersebut.


Siswa tersebut hanya membuang wajah nya tak suka.


"Nih makan! Biar manis, gak asam tuh muka!" ucap gadis tersebut sembari memberikan satu permen nya yang lain.


"Gak butuh!" ucap siswa tersebut sembari mengembalikan permen nya ke tangan gadis itu.


"Clara...


Jangan lupa yah kelas II A tuh permen coklat nya gak ku kasih jadi nanti harus bayar hutang nya! Beli rebutan di kantin, jadi harus di balikin! Jangan mati dulu sebelum kasih balik permen ku!" ucap gadis tersebut dan langsung lari pergi.


"Wah...


Apa-apaan dia?! Kalau bukan perempuan udah ku lempar ke bawah juga tadi!" decak siswa tersebut kesal.


Gadis itu berlari menuruni tangga dengan wajah memerah jantung nya berdegup kencang karna baru pertama kali bersikap seperti itu walaupun ia aslinya adalah gadis pemalu.


"Iya deh gak apa-apa...


Dari pada dia bunuh diri..." ucap nya saat menuruni tangga ia tau jika siswa tersebut ingin lompat, namun agar tak terlihat ikut campur gadis itu malah mengatakan hal lain.


Siswa pindahan yang ternyata masuk ke kelas nya. Membuat Clara terperanjat.


Hubungan saling menganggu namun seperti alarm penyelamat kebakaran selalu datang pada kedua anak tersebut.


Reno si siswa pindahan yang semakin populer namun sering merasa tertekan, setiap kali kepala nya terasa sakit dan hampir pecah gadis manis itu selalu datang dengan wajah cerah dan membuat nya tak lagi merasa khawatir.


Flashback off


......................


JBS hospital.


Louis melihat beberapa kali ke arah gadis manis itu.


"Wajah mu cerah sekali? Terjadi sesuatu?" tanya pria itu menyelidik dengan penuh curiga.


"Bukan urusan anda kan?" tanya Clara ketus dengan wajah yang langsung berubah.


Louis pun kesal mendengar jawaban tersebut dan menarik tangan sekretaris nya ke masuk kedalam ruangan nya.


"Lepas! Jangan menyentuh ku lagi!" bentak Clara pada Louis saat tangan nya di tarik.


BLAM!!!


Bantingan pintu yang terdengar keras membuat gadis itu langsung terperanjat terkejut.


"A-aku tadi banyak makan cake yang ku suka...


Ra-rasanya seperti waktu kuliah dulu..." ucap Clara tergagap dan tak menggunakan bahasa formal lagi sangking gugup nya menghadapi pria tak punya hati itu.


"Sudah berapa kali sih harus diajari? Hm?" ucap Louis saat ia kembali setelah mengunci pintu nya.


Pria itu sangat tak suka jika mendapatkan ucapan ketus dari gadis manis yang saat ini sedang gemetar ketakutan oleh nya.


Louis bahkan sudah memperkerjakan satu sekretaris lagi di bawah pimpinan nya untuk mengatur beberapa hal selama ia menghukum sekretaris manis nya.


"Aku hanya salah bicara! Kenapa harus seperti ini?!" tanya Clara dengan suara gemetar saat melihat pria itu membuka jas nya.


Kaki nya langsung berusaha berlari dan tak ingin pria itu menyentuhnya lagi dan lagi.


"Auch!" pekik nya saat rambut nya tertarik dan di seret ke kamar istirahat.


Ruangan tersebut sekarang sudah benar-benar berbeda dengan ruangan milik sang ayah dulu, Louise mengubah semua tata letak dan struktur nya bahkan design yang berada di dalam nya saat ia menduduki posisi presdir selama satu tahun ketika pemecahan JBS grup gadis itu tak mau terus mengingat sang ayah dan tenggelam dalam kesedihan yang begitu mendalam.


Sreg!!!


"Berhenti tolong..." tangis nya yang tumpah dengan tangan dan tubuh yang berusaha melawan sekuat tenaga.


Louis yang sudah kesal bercampur dengan hasrat nya tak lagi memperdulikan tangisan memohon gadis itu.


"Akh! Sa-sakit...


Hentikan..." tangis Clara yang semakin meleleh saat tubuh nya kembali menyatu dengan pria yang tak ia sukai.


Rasa benci, kesal, terhina, perih, dan ngilu bercampur satu di tubuh dan hati gadis itu. Sedangkan Louis terlihat begitu menikmati hukuman yang ia berikan pada Clara.


Setelah beberapa saat.


Rasa sakit nya semakin menjadi saat tubuh gadis itu di permainkan dengan kasar.


"Kau suka kan kalau begini? Sengaja mencari alasan untuk membuat ku marah? Hm?" tanya Louis dengan suara berat di tengah kegiatan panas.


Wajah gadis itu sudah sangat sembab dan terus berharap agar pria itu berhenti melakukan hal tersebut karna bagian inti nya sudah sangat perih dan sakit.


"Jawab?! Iya benar?! Ha? Dasar jalang! Murahan! Kau butuh uang? Hm? Makanya mau mencari cara agar di tiduri lagi?!" ucap Louis yang semakin tak terkontrol sembari menarik bagian privasi yang indah dari tubuh gadis itu.


"Sa-sakit..." ucap Clara lirih dengan tubuh yang terikut naik karna merasa sakit di dada nya.


Air mata nya tak berhenti mengalir saat pria itu kembali menguasai tubuh nya.


Entah kenapa walau hanya kesalahan kecil sekarang semakin membuat pria tersebut memiliki banyak alasan untuk menyentuhnya setiap saat.


Aku boleh bahagia kan?


Aku juga mau bahagia...


Aku keluar dari sini...


Kenapa dia jahat pada ku?


Aku salah apa?


...****************...


Haii...


Disini kan othor udah jarang buat yang mendetail kan tentang 18+ nya.


Karna ada satu eps othor yang kemarin di report yang "DUAR!!!" jadi othor bolak-balek revisi karna tiba-tiba di tolak padahal udah lewat lama...


Nah makanya eps kemarin di sempat di hapus dan like serta komen nya hilang juga kan sedih🤧🤧


Nah jadi penggambaran nya othor kurangin plus yang gak suka cerita othor cukup berhenti baca dan jangan report yah, atau skip bagian nya aja🤧🤧🤧


Capek tau tuh🤧🤧🤧🤧


Dah lah sekian curhat nya...


Oh iya buat apa itu antigen RhD nanti othor jelasin sekalian waktu konflik nya keluar yah, biar sekalian jelas gak setengah-setengah...


Kalian udah bisa nebak belum kira-kira si Louise nya ini apa yang spesial? hihi🤭🤭🤭


Salam penuh cinta dari othor♥️♥️♥️♥️


Maaf yah kalo ga bisa doble up karna kesibukan real life yang selalu datang🙏🙏


Tapi ttp othor usahain kok...🙏🙏🙏


Oh iya untuk Louis yang super duper nyebelin karna di season dua othor ingin membuat cerita yang "nyesek" dan "memancing emosi" gak tau sih berhasil atau gak wkwkwkwk