
Tangan yang berlumuran darah dan bau amis tercium jelas di kediaman mewah tersebut.
"A-ampuni aku...
Tolong..." ucap pria tua itu sembari berlutut dengan wajah yang sudah babak belur.
Seluruh pelayan dan pengawal di kediaman megah itu sudah habis terbantai tanpa sisa oleh pria yang hanya memandang dengan ekspresi dingin tersebut.
"Dulu juga ada seorang wanita yang meminta tolong seperti itu...
Tapi kau tetap membunuh nya kan?" tanya pria tersebut sembari menunjukkan seringai nya.
"A-aku tak mengerti apa yang kau katakan..." ucap pria tersebut dengan suara gemetar karna rasa takut yang memenuhi dirinya.
Rasa sakit akibat pukulan di tubuh nya tak begitu terasa di bandingkan rasa takut akan malaikat maut yang datang menghampiri di depan mata nya.
"Pembantaian keluarga jaksa 20 tahun yang lalu? Kau tak ingat? perlu ku ingatkan lagi? Hm?" tanya pria itu dengan dingin dan mulai mencongkel mata pria paruh baya di hadapan nya dengan pisau.
"AKKHHH!!!! AMPUN!!! SAKIT!!!" teriak pria paruh baya tersebut menggema.
Tetesan darah yang mengalir menambah bau anyir di sekitar pria tampan tersebut. Rasa sakit yang tak bisa di defenisikan lagi pun terasa dengan begitu jelas.
Teriakan ampunan dan rintihan yang terdengar dengan jelas tak membuat pria tersebut iba.
Crass....
Cipratan darah yang mengalir dan membasahi wajah pria tampan itu serta satu gelindingan bola yang mencuat saat mata tersebut terlepas dari tempat nya.
"Ampun...
Sakit...
A-aku tak tau apa-apa...." ucap pria tersebut merintih sembari memegang satu mata nya yang sudah tak ada lagi bola mata nya.
"Oh ya? Tapi kau terlibat dalam kecelakaan mobil 21 tahun yang lalu pada pria bernama Reyhan Cowell Dachinko kau tak ingat?" tanya Pria itu lagi sembari mencengkram dagu pria tersebut.
"Ta-tapi dia tak sampai mati...
Kecelakaan itu memang aku yang membuat nya, tapi soal pembantaian sungguh bukan aku..." ucap pria tersebut gemetaran.
"Siapa lagi yang terlibat? Dan apa alasan mu?" tanya pria itu.
"Jaksa itu memegang data tentang penggelapan pajak yang ku lakukan...
A-aku mendapatkan info nya dari seseorang...
Dan aku melakukan nya ka-karna dia tak mau di ajak kerja sama..." terang pria tersebut dengan gemetaran.
Setelah mendapatkan info tanpa rasa bersalah atau kasihan pria itu langsung menusuk leher pria di hadapan nya dengan sebilah pisau tajam.
*Dusk...
Crass*...
Cipratan darah kembali mengenai tubuh nya.
"Dia memang tidak sampai meninggal, tapi putra sulung nya yang meninggal..." ucap pria tersebut lirih.
"Ini tuan." ucap salah satu bawahan pria itu memberikan sebuah sapu tangan.
"Orang yang memberikan semua info itu pasti dia ingin membunuh orang tua ku namun dengan tangan yang bersih! Aku akan mencari tau dalang nya!" ucap pria tersebut geram.
"Semua darah yang terkumpul jadikan warna untuk bunga kaktus kecil di mansion." perintah sang ketua dan berlalu pergi setelah membersihkan tangan nya dengan sapu tangan.
......................
Mansion Dachinko.
Gadis cantik itu terlihat begitu frustasi karna tak dapat keluar dari mansion megah tersebut.
"Aku mau pulang! Nanti kakak ku nyariin!" ucap Louise pada pria yang dengan santai nya menahan pinggang nya agar tetap membuat nya duduk di atas pangkuan pria tersebut.
"Oh ya? Kalau begitu biarkan dia mencari...
Dia juga tak akan menemukan mu..." ucap James dengan santai sembari mengesap aroma manis dari tubuh gadis yang sedang ia pangku.
"Lepas! Kalau aku gak pulang nanti dia khawatir lagi!" tolak Louise saat pria itu memeluk gemas tubuh nya dan mencium ke arah leher nya.
Gadis itu tau jika sang kakak tak akan kembali saat ini karna Louis yang mengatakan memiliki urusan bisnis selama 5 hari kedepan dan tak bisa kembali.
James tak menjawab ia malah menfokuskan pada pandangan leher gadis itu yang terlihat memakai make up.
"Ini kenapa?" tanya James sembari memegang leher gadis itu dan memeriksa menyeluruh.
Mata nya terperanjat kaget saat melihat beberapa bekas ciuman di leher dan bahu gadis cantik itu.
Auch!
Pekik Louise saat rambut nya tiba-tiba di tarik hingga membuat wajah nya mengandah ke atas.
"Kau gila? Lepas!" bentak Louise sembari berusaha melepaskan jambakan di rambut nya.
"Siapa yang buat? Hm? Berani sekali kau bermain di belakang ku!" ucap James geram sembari terus menarik rambut gadis itu sekuat tenaga.
"Peduli apa kau? Kau juga tidak menyukai ku kan? Hubungan kita hanya kesepakatan dan lagi aku juga tak pernah peduli kau mau bermain dengan wanita manapun!" jawab Louise dan membuat pria itu semakin geram.
James pun menarik dan mendorong tubuh gadis itu kelantai.
Ukh!
"Coba ulangi lagi? Hm?" tanya James semakin geram sembari mencengkram rahang gadis di hadapan nya.
"Kenapa kau terlihat sangat marah? Hm? Aku juga tak tau apa yang kau lakukan di belakang ku..." jawab Louise
"Saat pertama kali bertemu dua wanita mengelilingi mu, aku juga tau kau pasti meniduri wanita lain kan dibelakang ku? Aku tak permasalahkan itu! Jadi jangan bersikap seperti kekasih sungguhan!" sambung Louise lagi.
Amarah pria tersebut pun mulai naik tanpa bisa ia kontrol, gadis itu semakin bersikap menyentuh batas sabar nya terus menerus.
"Kalau kau kesal, kita bisa batalkan kesepaka-"
PLAK!!!
"Bersujud dan memohon ampunlah, jika kau seperti itu aku akan meringankan hukuman mu..." ucap James dengan wajah dingin.
Gadis itu hanya tersenyum simpul dan menatap pria yang baru saja menampar nya.
"Sudah ku bilang aku tak akan memohon pada siapa pun kan?" tanya Louise pada pria di hadapan nya dan mulai bangun.
Ia tak ingin merendahkan diri nya dengan memohon pada orang lain.
Gadis itu berusaha mengambil tas nya dan ingin segera keluar dari tempat itu.
"Aku mengizinkan mu pergi?!" tanya James semakin geram sembari menarik tangan Louise dan membuat tas gadis itu ikut tertarik dan menghamburkan segala isinya.
Bruk!
Mata pria itu semakin terperanjat saat melihat salah satu isi tas gadis tersebut yang membawa pil KB di dalam nya.
"Selama ini apa yang ku harapkan dari jalang seperti mu!" ucap James sembari menatap tajam gadis itu.
Louise memang meminum pil KB di waktu tertentu untuk mengontrol hormon nya dan waktu datang bulan nya yang tak tepat sesuai anjuran, namun bukan berarti ia menghindari kehamilan di hubungan tak jelas.
"Jaga ucapan mu!" ucap Louise marah saat mendengar kata penghinaan tersebut.
"Membawa pil KB dengan bekas di ciuman di tubuh mu? Hm? Kalau tau kau itu jalang dari awal setelah memakai mu aku bisa memberikan mu pada semua bawahan ku, aku yakin mereka bisa memuaskan mu!" ucap James menyeringai.
Plak!
Kali ini gadis itu yang menampar pria di hadapan walau tak sekeras tamparan yang ia terima karna tenaga nya yang lebih kecil.
"Aku bukan jalang! Dan perhatikan ucapan mu! Kalau kau tak suka bisa batalkan kesepakatan kita!" ucap Louise marah karna hinaan pria di hadapan nya.
James hanya menyeringai, baginya tamparan tersebut tak menyakitkan sama sekali dan hanya seperti pijatan kecil di wajah nya.
Louise pun ingin segera keluar dari kandang singa tersebut, hawa pembunuh yang begitu kuat ia rasakan dari pria yang sedang menatap nya tajam.
"Mau kemana kau? Kau pikir bisa pergi dengan mudah setelah mengkhianati ku? Hm?" tanya James dan menarik kasar rambut gadis itu.
Ia menyeret Louise ke kamar yang ia buatkan khusus untuk gadis itu.
Buk!!!
James pun langsung menghempaskan tubuh gadis itu ke atas ranjang. Dan mulai membuka ikat pinggang yang ia gunakan.
Ctass...
Satu cambukan kuat melayang di tubuh gadis itu tanpa aba-aba dan saat gadis itu ingin pergi.
Ukh!
Pekik Louise sesaat ketika ia merasakan sengatan perih sekaligus sakit yang membekas tubuh nya.
Ia pun tetap berusaha pergi, hingga membuat James semakin geram, pria itu mulai mengikat kedua tangan gadis yang terus memberontak pada nya ke penyangga ranjang.
"Lepas! Dasar gila!" maki Louise saat kedua tangan nya terikat dengan kencang.
James pun hanya menyeringai dan mulai mencabuki gadis tersebut.
Ctass....Ctass....Ctass...
Tubuh Louise menggeliat diatas tempat tidur tersebut saat merasakan perih nya pukulan sabuk yang di berikan pria tersebut.
Jalur biru mulai tercetak di tubuh putih nya, ia memaki dan meronta berulang kali saat merasakan sakit yang tak pernah ia rasakan kecuali rasa sakit yang di timbulkan dari penyakit bawaan nya.
Gadis yang bahkan tak pernah di marahi ini malah mendapatkan hukuman yang bagi nya tak setimpal dengan apa yang ia lakukan.
Suara pukulan tali pinggang kulit saat membentur tubuh gadis itu terdengar dengan jelas, mata nya sayu menatap pria yang terus memberi nya cambukan diatas tempat di tur tersebut.
James membolak-balik kan tubuh gadis cantik itu agar bisa terkena pukulan di segala arah.
Warna sprei dan selimut yang putih tersebut kini mulai berubah warna saat darah gadis itu memberikan corak lain.
Cairan merah kental yang meresap di setiap benang dari sprei dan selimut tersebut mulai menyebar menjadikan nya seperti ranjang darah.
"Sekarang kau mau memohon?" tanya James lagi pada gadis itu yang menatap nya sayu.
"Tidak! Aku tak mau!" jawab Louise keras kepala dengan suara lemah nya.
"Baik! Kalau begitu kita mulai permainan berikut nya." ucap James semakin geram ia membuka kemeja nya dan mulai melucuti tubuh yang penuh dengan bekas luka itu.
Setelah nya ia mengambil satu white wine dan menyiramkan nya ke tubuh gadis tersebut untuk membersihkan darah yang berada di atas tubuh Louise.
Louise meringis tanpa suara saat merasakan tubuh nya yang semakin perih dan rasa sakit yang semakin menusuk nya.
Ukh!!!
Ringis nya pelan sembari memberikan reaksi dengan menggeliatkan tubuh nya, James pun tersenyum walaupun darah yang keluar tak bisa bersih karna terus keluar namun ia sudah menindih tubuh gadis itu.
Hummpphh...
Pria itu langsung menautkan bibir nya den mer*mas dada gadis itu dengan kuat hingga membuat Louise memekik sesaat.
Tangan pun langsung menunju ke area privasi setelah puas bermain di bagian atas tubuh gadis itu.
Louise merasakan sakit yang sangat luar biasa ditubuhnya, rasa perih yang teramat sangat hingga membuat semua sistem panca indra nya lebih sensitif akan rasa sakit mendera tubuh nya.
Ia dapat merasakan jemari pria tersebut yang berusaha memasuki nya, namun tak bisa melakukan apapun karna sudah tak memliki kemampuan untuk melawan bahkan hanya sekedar mengatakan "Jangan!"
Deg...
Pria itu terkejut saat merasakan jika gadis tersebut masih belum terjamah dan masih suci seperti sebelum nya.
"Kau? Sebenarnya apa yang kau lakukan?" tanya James mengernyitkan dahi nya dengan bingung.
Gadis yang memilki banyak bekas ciuman di tubuh nya dan membawa pil KB dalam tas nya namun masih suci?
Athan James Dachinko