(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Happy



Clara tak menjawab dan hanya melihat ke arah pria yang menatap nya dan menanti jawaban akan pengajuan yang baru dilayangkan.


"Aku..." jawab Clara lirih pada Louis.


"Mau! Harus jawab 'Mau'!" ucap Louis pada gadis yang tampak bingung tersebut.


"Ka-kalau kau tanya seharusnya mengikuti kemauan ku, kan?" tanya Clara pada pria di depan nya.


"Kalau kau jawab 'Mau' yah tidak apa-apa. Tapi aku tak mau dengar jawaban lain." ucap Louis enteng dan mulai menggigit ujung jemari gadis itu.


"Auch!" ringis Clara saat pria itu mengigit ujung jemari nya.


"Kalau kau tak bisa jawab berarti aku anggap kau juga setuju." jawab Louis dengan senyuman di wajah nya dan melepaskan gigitan nya.


Clara pun terdiam dan mengalihkan pandangan nya, jantung nya berdebar begitu keras hingga ia sendiri pun bingung akan dirinya.


"Kapan aku bertemu orang tua mu?" tanya Louis pada gadis itu.


"Eh?" Clara yang seperti bingung pun langsung melihat ke arah atasan nya lagi.


"Untuk apa bertemu orang tua ku?" tanya Clara yang masih belum mencerna semua perkataan tiba-tiba dari Louis.


"Mengajukan lamaran tentu nya." jawab pria itu pada gadis yang terlihat bingung tersebut.


"Me-mereka masih sibuk..." jawab Clara lirih yang belum ingin memperkenalkan pria di depan nya pada kedua orang tua nya.


Louis pun mengangguk mengerti, baginya izin dari kedua orang tua gadis itu tak begitu perlu karna ia akan tetap menikahi sekertaris manis nya dengan ataupun tanpa restu orang tua gadis itu. Ia hanya ingin melakukan formalitas saja agar gadis nya juga mengalami tahap pernikahan yang seharusnya.


"Anak yang kemarin bagaimana? Yang keluar bersama dengan ku?" tanya Louis lagi.


"Dia berada di pusat rehabilitasi anak, kemungkinan akan segera di kirim ke panti asuhan..." jawab Clara pada pria di depan nya.


"Aku akan memberi akomodasi kehidupan nya, pastikan dia di rawat dengan baik." ucap Louis setelah mendengar jawaban Clara, karna ia sudah sampai seperti ini guna menyelamatkan hidup anak itu setidak nya anak itu harus tumbuh dan memiliki kehidupan yang baik.


Clara pun menatap ke arah pria di depan nya, ia mengganggap pria itu masih memiliki hati untuk orang lain.


......................


James yang hari ini mulai ingin mengunjungi gadis nya pun bersiap, ia tau dari mata-mata nya jika gadis itu belum sadar namun tak bisa tau pasti bagaimana keadaan nya karna Louis yang berusaha menutup sedalam mungkin tentang kondisi adik nya.


Suasana hati nya berubah dan memiliki gelora yang menggebu untuk menemui gadis itu, entah mengapa ia sangat ingin bertemu. Hati dan perasaan nya sudah rindu namun logika dan akal nya berusaha menepis rasa tersebut.


Setelah berangkat dan menuju ke JBS hospital James mulai memasuki rumah sakit swasta terbesar tersebut.


Ia tau untuk melihat kondisi Louise di perlukan akses khusus karna memang tak semua bisa ke lantai teratas rumah sakit tersebut dan tak semua bisa melewati batas keamanan yang di buat.


Namun pria itu sudah memerintahkan Nick untuk mencari cara memanipulasi sementara sistem keamanan agar ia bisa memasuki ruang perawatan.


James pun mulai memasuki kamar perawatan gadis itu, ia melihat dua ranjang di dalam satu ruangan, ia tau jika ranjang yang satu lagi pasti milik saudara kembar gadis cantik itu.


Louis yang saat itu tak berada dalam ruang perawatan karna langsung memikirkan perusahaan nya sehari setelah ia bangun pun pergi ke ruangan nya untuk meninjau saham dan masalah akibat runtuh nya kontruksi bangunan yang ia miliki.


James tak ambil pusing dengan ketidakadaan saudara kembar gadis itu. Ia pun melihat ke arah wajah pucat Louise dan mengelus pipi nya dengan lembut.


Tak ada sepatah kata pun namun di mata pria itu tampak jelas kerinduan dan ingin memeluk tubuh gadis itu serta mengesap aroma harum yang selalu keluar walaupun sedang tak menggunakan parfum.


Cantik nya...


Seperti di berikan mantra ajaib dan sihir pria itu menunduk dan menautkan bibir nya pada gadis yang belum tersadar itu.


bagaikan cerita putri dongeng yang harus di bangunkan dengan ciuman agar bisa tersadar namun saat ini ciuman yang di berikan bukan untuk membuat tersadar melainkan untuk melepaskan rasa rindu yang selalu ingin di sangkal.


Setelah mencium dan memberikan lum*tan lembut pria itu menyudahi nya, ia dapat melihat bibir yang sebelum nya pucat dan kering kini terlihat basah dan sedikit berwarna akibat gigitan halus nya.


"Celatlah sembuh..." ucap James dan mengecup hidung gadis itu sekilas.


Ia pun kembali memposisikan tubuh nya berdiri tegak lagi dan saat itu lah Louis memasuki ruang perawatan adik nya. Seorang dokter yang mengantar kursi roda nya sampai ke depan ruangan perawatan nya dan pria itu ingin masuk sendiri namun di kejutkan dengan kehadiran pria lain di kamar adik nya.


"Kau?! Kenapa bisa masuk?!" tanya Louis yang langsung heran melihat pria di depan nya.


James tak menjawab dan hanya menampilkan senyum nya.


"Aku tak datang dengan tangan kosong, ini!" ucap James sembari melempar sebuah flashdisk pada pria itu.


"Data yang kau cari mungkin ada di sana." jawab James tersenyum simpul dan berlalu pergi melewati kakak dari gadis cantik itu.


Louis pun mengambil flashdisk yang di berikan pada nya, memang saat ini ia sedang mencari keberadaan direktur Jacob yang sedang melarikan diri serta membawa beberapa dana perusahaan yang cukup besar.


Rian mengetahui hal itu bahkan dimana direktur Jacob bersembunyi namun ia ikut andil dalam persembunyian itu hingga membuat Louis tak dapat menemukan nya karna orang kepercayaan dari perusahaan nya sendiri yang ikut turun tangan.


"Ini apa? Tak perlu sok tau!" ucap Louis pada pria itu.


Karna James yang tak memiliki kepercayaan pada siapapun di perusahaan itu berbeda dengan Louis yang mengandalkan Rian membuat nya bisa menemukan direktur Jacob.


"Anggap saja buah tangan karna aku menjenguk adik mu, lagi pula itu akan berguna..." jawab James dengan senyuman yang sulit diartikan.


"Aku tak setuju kau berhubungan dengan Louise!" ucap Louis yang menyadari alarm berbahaya yang akan menyakiti adik nya di kemudian hari jika terus bersama pria misterius tersebut.


James tak menjawab ataupun membalas ia memilih menampilkan senyuman simpul pada kakak pria di depan nya dan berlalu pergi begitu saja dengan meninggalkan sebuah kalimat ambigu pada Louis.


"Berhati-hatilah..." ucap nya seraya pergi keluar.


"Apa yang dia inginkan?!" ucap Louis kesal dan menatap adik nya memeriksa kondisi gadis itu, karna takut jika pria tersebut berbuat sesuatu pada adik nya.


...


Zayn yang baru ingin masuk pun melihat pria yang sebelum nya berdebat dengan nya kini tampak batang hidung nya.


"Tunggu!" ucap Zayn saat pria itu dengan acuh melewatinya.


James pun menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah pria yang sedang berbicara pada nya.


Ia menatap dengan tatapan datar dan dingin milik nya pada pria tersebut.


"Louise dengan mu, kan? Saat dia menghilang kau yang membawa nya kan?" tanya Zayn sembari menatap tajam ke arah James.


James tak memberikan ekspresi apapun. Ia hanya menatap datar tanpa mengambil pusing pertanyaan tersebut.


"Apa urusan nya dengan mu? Dia pacar ku, bukan masalah aku akan membawa nya kemana." ucap James dingin pada Zayn.


"Urusan ku?! Dia bahkan sampai tak atau apapun tentang Louis! Kau menutupi nya?!" tanya Zayn lagi dengan menggebu. Emosi nya masih labil sesuai dengan umur nya yang masih 23 tahun.


"Kau hanya teman nya kan? Jika hanya berteman bersikaplah seperti teman! Jangan melewati batas!" ucap James yang tak suka pria di depan nya seperti memiliki hak hidup atas gadis nya.


"Walaupun hanya teman tapi aku bisa mengganggu mu, kau akan tau rasanya bagaimana di kacaukan oleh teman." ucap Zayn dengan nada penuh penekanan terhadap James.


James melihat dengan datar dan terus mempertahan kan ekspresi wajah nya agar tak menunjukkan emosi, walau hati nya tengah membara ketika melihat pria di depan nya seperti menunjukkan sebuah hubungan yang lebih erat dibandingkan hanya sebuah 'Pertemanan'.


"Aku sudah tidur dengan nya." balas James dingin dengan tiba-tiba pada Zayn dengan menunjukkan hubungan yang telah mereka bangun.


Zayn tersentak beberapa saat, ia menatap ke arah James dengan tatapan nanar dan mengepalkan tangan nya menahan rasa cemburu nya.


James menatap dan melihat kecemburuan di mata Zayn yang sangat terlihat jelas. Hal itu membuat pria tampan itu menyunggingkan senyum nya dengan puas.


"Kau tau kan? Dia tidak suka sentuhan? Tapi kami sudah melakukan nya? Jadi lebih baik kau tau seberapa dalam hubungan kami hingga tidak bisa di kacaukan dengan kata 'Teman' ?" tanya James dengan nada yang menekankan di setiap kata.


Walaupun ia belum sampai melakukan ke tahap dewasa dan mengambil hal berharga gadis itu namun ia sudah menjamah keseluruhan tubuh gadis dan bahkan membuat gadis itu menelan setiap bulir cairan kehidupan milik nya.


"Lalu?" tanya Zayn yang berusaha acuh walaupun hati nya terasa sakit yang mendalam.


"Walaupun kau sudah melakukan nya, tetapi tidak ada yang tau akhir nya, kan? Bisa saja dia nanti nya tidak bersama dengan mu lagi!" sambung Zayn dengan menyunggingkan senyum nya.


James pun mendekat ke arah pria itu dan menatap nya tajam, hati nya terasa memanas begitu pula dengan telinga nya, ia sangat tak suka pria di depan nya seperti mengejar gadis nya.


"Dia milik ku! Jadi jangan berharap memiliki nya!" ucap James dengan penuh nada penekanan.


"Tidak pernah ada yang bisa membaca takdir." jawab Zayn dengan tersenyum simpul pada James.


"Tapi sekarang takdir nya masih dengan ku." ucap James mematahkan perkataan Zayn dengan senyuman dingin dan mata menyengat serta berlalu pergi.


James dengan rasa tak suka di dalam dirinya, hati nya memanas begitu mendengar ataupun melihat pria itu, ia sangat tak suka saat gadis cantik itu berada di dekat pria lain.


Cemburu...


Mungkin satu kata itu yang mewakilkan perasaan nya saat ini hingga ia berbohong telah mengambil kesucian gadis itu hanya untuk memanasi orang lain. Tak seperti sikap nya yang biasa yaitu dingin dan tak peduli.


Namun kini semua kepedulian nya telah tertuju pada gadis cantik yang mampu memporak-porandakan pikiran nya dan logika nya hingga membuat nya selalu melewati batasan dan prinsip yang ia buat.


......................


3 Hari kemudian.


Gadis cantik itu sudah terbangun dua hari yang lalu dan kini kondisi nya semakin stabil dari hari ke hari.


Ia juga membantu masalah pekerjaan Louis dengan bekerja di balik layar karna tak lagi memiliki hak kuasa di perusahaan tersebut.


Semua hak kuasa nya sudah di alihkan pada sang kakak yang berarti sebagian besar saham nya juga di berikan pada kakak nya yang menjadi penanggung jawab penuh atas saham adik nya.


Maka dari Louis bisa dengan mudah memblokir kartu Louise dan mengatur pengeluaran gadis itu, ia memang tak peduli seberapa banyak yang adik nya habiskan namun yang menjadi rasa takut nya adalah adik nya yang akan salah arah dan terjerumus kedalam jurang kehancuran.


"Sudah ku priksa semua data nya benar, dan lagi seperti nya ada yang membangun rencana untuk mu. Perusahaan yang ingin kau beli sekitar 2 bulan yang lalu juga sangat mencurigakan." ucap Louise dengan memberikan beberapa kertas data pada kakak nya.


Saat ini walaupun JBS seperti tak terkena dampak dari luar namun bagian internal sudah kacau karna berusaha memperbaiki keadaan yang tengah kacau saat ini.


"Perusahaan itu adalah rekomendasi paman." jawab Louis dan mengambil data yang di kerjakan adik nya.


"Kalau begitu kenapa hanya nama mu?" tanya Louise yang merasakan kejanggalan sama seperti Louis sejak awal.


Louis diam sejenak, walaupun ia tak yakin mulai curiga namun ia tetap kukuh ingin mempercayai pria yang ia anggap seperti pengganti ayah nya.


"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan...


Masalah runtuhnya perusahaan cabang dulu yang terpenting." ucap Louis pada adik nya.


Louise pun mengerti dan tak lagi membahas nya karna ia juga mempercayai paman nya.


"Aku mau tanya sesuatu pada mu, dan kau harus jawab dengan jujur." ucap Louis pada adik nya.


Louise pun tersentak sejenak mendengar nada serius kakak nya dan mulai menjawab. "Apa itu?"


"Kau menyukai pacar mu yang sekarang?" tanya Louis pada adik nya.


"Ke-kenapa tanya begitu sih? Kan itu urusan asmara ku..." jawab Louise lirih pada kakak nya.


"Aku tau, tapi karna aku masih kakak mu. Aku tak ingin kau terluka." ucap Louis pada adik nya.


"Kau belum menjawab ku? Kau menyukai nya?" tanya Louis lagi mengulang pertanyaan nya.


Louise tak menjawab pertanyaan saudara kembar nya ia bingung harus mengatakan apa dan bingung akan perasaan nya.


Suka? Aku bahkan tak mengerti rasa suka itu seperti apa? Apa artinya perasaan nyaman yang sama seperti saat dengan Zayn?


Louis pun menghela nafas nya dengan panjang dan menatap adik nya.


"Aku tau, aku juga bukan pria yang baik, tapi kau harus mendapatkan pria yang terbaik untuk hidup mu..." ucap Louis pada adik nya dengan menatap nanar.


"Dia bukan pria yang bisa kau tangani...


Tak bisakah berhenti sebelum terluka?" sambung Louis pada adik nya.


"Tapi aku tidak bisa berhenti..." jawab Louise lirih pada sang kakak.


Louis pun melihat ke arah wajah adik nya. Ia tau jika James bukan pria biasa dan sangat misterius. Pria yang memiliki bom waktu dalam dirinya dan bisa melukai adik kesayangan nya kapan saja.


Tapi ia juga tak bisa mencegah adik nya dengan leluasa karna juga tak ingin menyakiti saudara kembar nya.


Pria itu pun perlahan memeluk adik nya dan mengelus punggung gadis itu dengan lembut.


"Kalau dia membuat mu menangis, bisakah memberitau ku? Aku ingin melindungi mu..." ucap Louis lirih pada adik nya.


Louise hanya mengangguk kan kepala nya, ia tau ia tak akan mengadu pada kakak nya karna tak ingin membuat saudara terlibat dalam masalah, dan saudara kembar nya juga hanya ingin melindungi nya dan tau bagaimana bersikap pasang badan agar adik nya tak terluka.


Louis pun melepaskan pelukan nya dan menatap adik nya.


Ctak!


"Adik ku pintar juga...


Ku pikir kau dulu dokter abal-abal..." ucap Louis bercanda sembari mencubit gemas pipi adik nya.


"Ish!!!


Kau itu yang Presdir abal-abal!" jawab Louise mendengus kesal dan melepaskan tangan kakak nya yang sedang mencubit pipi nya dengan gemas.


Louis pun tertawa mendengar ucapan adik nya, menularkan senyum di wajah cantik saudara kembar nya.


Louis pun mulai memperhatikan wajah tawa dan senyum adik nya yang mulai merekah.


Tersenyumlah seperti itu...


Aku tak ingin kau terus seperti ini, tanpa tangisan dan kesedihan...


Hiduplah dengan bahagia...


Dengan begitu aku juga akan bahagia...