(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Acara keluarga



Setelah meyelesaikan masalah yang berada di JBS. Hazel pun kembali ke kediamannya sekitar pukul 02.34 PM.


Setelah membereskan masalah darurat, Hazel meminta Rian untuk membereskan sisanya agar ia bisa kembali ke kediamannya melihat Alyss yang ia kurung di ruang putih.


Setelah sampai Hazel pun membuka pintu ruang putih dan melihat Alyss yang tidur meringkuk di sudut tempat ia rantai sebelumnya. Ia pun melangkahkan kaki nya mendekati Alyss.


"Kau sudah merenungi kesalahan mu?" tanya Hazel yang sudah berdiri di samping tubuh Alyss.


Hening...


Alyss tak menjawab ataupun tak bergeming sedikit pun.


"Jangan membuat ku semakin marah dan menghukum mu! Jawab aku! Aku tak suka di abaikan!" ucap Hazel dengan nada kesal, namun tetap sama, tak ada jawaban apapun atau respon apapun yang di berikan Alyss.


Alyss tidur meringkuk dengan kaki yang terluka dan wajahnya yang tertutup rambut panjangnya yang di gerai.


Hazel pun dengan kesal berjongkok dan mulai menarik rambut Alyss yang masih meringkuk di lantai, ia sama sekali tak tau jika Alyss sudah tak sadarkan diri tak lama sejak ia tinggal.


"Kau akan tetap seper-" Hazel yang tak bisa melanjutkan ucapan nya saat ia melihat wajah Alyss yang sudah sepucat lantai di ruangan tersebut dengan mata tertutup.


Ia langsung melepaskan tangan nya yang sedang menjambak dan meyandarkan kepala Alyss ke pangkuan nya.


"Alyss! Alyss!" panggil Hazel dan menepuk pipi Alyss perlahan.


"Panas sekali." ucap Hazel lirih saat menyentuh dahi Alyss, ia pun membuka rantai yang berada di kaki Alyss dan segera membawa Alyss keluar dari ruangan tersebut.


Ia pun segera menghubungi dr. Siska agar segera datang dan memeriksa kondisi Alyss.


Setelah memeriksa dan memberikan obat serta memasang infus dr. Siska mengatakan jika Alyss terkena serangan panik yang membuatnya pingsan karna sesak nafas, dan karna ia sangat terkejut membuat membuat tubuhnya bereaksi lain dengan membuatnya demam pada suhu 39.7 derajat celsius yang membuatnya juga ikut dehidrasi.


dr. Siska juga sudah membalut dan mengobati kaki Alyss serta memar di punggung nya akibat pukulan Hazel, pukulan tersebut menyebabkan banyak bekas jalur biru keunguan yang memenuhi punggung putih tersebut.


......................


Pukul 12.35 AM.


Alyss masih tertidur dan terkadang terlihat sangat gelisah di tidurnya. Hazel yang sejak tadi siang tak mengalihkan pandangan nya sedikit pun dari Alyss dan terus duduk mengawasi Alyss.


Kau masih menyukainya?!


Mu-mungkin...


Hazel terus saja mengingat kalimat tersebut di kepala yang terus berputar tanpa henti, walaupun ia sekarang sedang melihat kondisi Alyss yang sangat lemah dengan wajah sepucat kertas tak membuat nya merasa bersalah sedikit pun melainkan masih merasa sangat kesal jika mengingat percakapan mereka saat ia membuat Alyss mabuk semalam.


"Kenapa kau mudah sekali sakit? Hm? Padahal aku belum selesai menghukum mu." ucap Hazel lirih sembari tangan nya mengecek suhu di dahi Alyss dan mengganti kompres nya.


......................


Mau berganti? Kau tak akan bisa menanganinya.


Tidak! Aku tak mau! Kau takkan bisa keluar! Kau jahat!


Ckk, Harusnya aku tak pernah membiarkan mu yang mengambil alih! Dasar bodoh!


Deg...


Alyss tersentak dan terbangun dari tidurnya. Ia mulai mengandahkan pandangan nya ke sekitarnya saat ini. Ia melihat cahaya mentari pagi yang masuk dari sela-sela jendela kaca di kamar yang biasa dia tiduri dengan Hazel.


"Kamar?" batin Alyss saat melihat ke sekeliling nya, kepala nya masih terasa sangat pusing dan sakit begitu juga dengan punggung nya yang terasa sangat sakit.


"Sudah bangun?" tanya Hazel yang berdiri tak jauh dari ranjang tersebut dan masih mengancing kemeja nya.


Ia pun perlahan mendekati Alyss dan ingin memeriksa suhu di dahi Alyss namun Alyss langsung menepis tangan Hazel.


"Ck! Kau marah? Ini kesalahan mu, jadi kau tak punya hak untuk marah!" ucap Hazel dengan raut yang sulit diartikan.


Alyss pun langsung bangun mendengar ucapan Hazel.


"Kesalahan ku? Aku bertemu dengan nya tanpa di sengaja! Aku juga sudah berusaha menghindar, tapi kau tetap menghukumku!" ucap Alyss yang ikut kesal dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Hazel hanya tersenyum sinis ia pun langsung mencengkram rahang kecil Alyss dan menatap tajam iris Alyss.


"Aku akan terus menghukum mu jika kau bertemu dengan nya, mau itu sengaja atau tidak!" ucap Hazel dengan nada penuh penekanan.


"Ukh!" Alyss yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Hazel dari rahangnya.


Hazel pun melepaskan tangan nya dan mulai mengelus wajah Alyss perlahan, satu persatu bulir bening jatuh dari mata sendu nya dan Hazel pun mengusap buliran bening itu dengan punggung ibu jarinya.


"Sekarang jangan membuat ku kesal lagi, kau bisa kan? Hm?" ucap Hazel pada Alyss yang sedang memandangnya dengan sorot mata yang kesedihan yang bercampur dengan amarah namun tak bisa melakukan apapun.


"Kau masih demam..." ucap Hazel lembut seperti tak terjadi apapun padahal ia baru saja memarahi dan ia juga yang membuat Alyss sakit.


......................


Kediaman Leo.


Leo yang mulai menerima panggilan telpon dari pria misterius yang pernah menelpon nya sebelumnya.


"Bagaimana? Kau sudah memastikannya?" tanya si penelpon.


"Dari mana kau tau semua informasi ini? Dan kenapa membaginya padaku?" tanya Leo.


"Dari mana aku tau itu tak penting, namun jika kau ingin melindungi wanita itu, kau harus memanfaatkan situasi setiap kali bertemu dengan nya. Buat pria itu menganggap kalian memiliki hubungan lebih." jawab si penelpon.


"Bukankah itu akan lebih membahayakan?" tanya Leo yang memikirkan konsekuensinya untuk Alyss jika ia memang benar berbuat demikian.


"Tentu saja tidak! Pria itu pasti tak akan ingin bersama dengan wanita yang sudah di pakai orang lain. Jika dia melepaskan wanita itu, wanita itu takkan menderita lagi, bukan?" jawab si penelpon yang memberikan hasutan pada Leo secara perlahan agar bergerak sesuai rencananya.


"Pikirkan baik-baik yang ku katakan." sambung si pria dan langsung menutup telpon nya.


Leo pun terdiam sejenak, ia mulai berpikir jika yang dikatakan oleh pria asing yang menelponnya itu benar.


......................


Skip time.


Tiga minggu kemudian.


Setelah beberapa pekan berlalu kondisi Alyss sudah sepenuh nya membaik, bekas memar di punggungnya pun sudah perlahan memudar.


Drtt...drtt...drtt...


"Mama?" ucap Alyss lirih saat melihat sebuah panggilan di telponnya saat ia baru saja selesai mandi dan ingin mengeringkan rambutnya.


Alyss pun segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, mah?" jawab Alyss.


"Nak, minggu depan ikut pertemuan keluarga yah...


Di hotel Starhope, ajak Hazel juga yah nak. Alyss harus ikut, nanti juga ada acara pertunangan kak Vinda." ucap Ibu Alyss yang menekankan kata "Harus ikut" yang berarti dia harus datang.


"Tapi mah, nanti aku tanya Hazel dulu...


Dia ngizinin atau engga mah..." jawab Alyss lirih pada ibunya.


"Yasudah, nanti mama bilang juga sama nak Hazel yah...


"Kan sudah ketemu kakek ma, waktu di pesta pernikahan kemarin..." jawab Alyss lirih.


"Yasudah, nanti mamah bilang sama nak Hazel yah biar kalian bisa datang minggu depan." ucap Ibu Alyss dan langsung menutup telpon nya.


Alyss pun melihat layar ponselnya yang panggilan nya sudah terputus dari ibunya.


"Ibu mu mau kita kemana?" tanya Hazel tiba-tiba yang sudah memperhatikan Alyss sedari tadi.


"Astaga?!" ucap Alyss yang terkejut ketika mendengar ucapan Hazel.


Selama tiga minggu terakhir Hazel kembali bersikap biasa dan tak menunjukkan perasaan bersalah apapun, ia merawat Alyss saat sakit dan kembali memperlakukan nya dengan lembut seakan-akan ia tak pernah menghukum Alyss.


"Kenapa terkejut sekali? Hm?" tanya Hazel ketika ia sudah memeluk tubuh kecil itu dari belakang dan mengesap aroma harum dari shampo yang digunakan Alyss.


"Ti-tidak apa-apa..." jawab Alyss lirih, sebenarnya ia masih merasa sangat kesal dan marah walaupun waktu sudah berlalu 3 minggu karna Hazel mengurungnya di tempat yang gelap, ditempat yang benar-benar ia takuti. Namun ia juga tak dapat menunjukkan nya kekesalannya karna ia takut akan kemarahan pria yang sudah menjadi suaminya.


"Minggu depan, ibu ku ingin aku ikut pertemuan keluarga, dia juga meminta mu untuk datang dengan ku...


Kita bisa pergi kan?" tanya Alyss saat Hazel semakin menciumi tengkuk nya dan mulai menurunkan mantel mandinya, agar ia bisa mencium bahu putih tersebut.


"Minggu depan? Aku tak bisa, aku memilki janji pertemuan di hari itu. Katakan pada ibu mu kita tak bisa hadir." jawab Hazel dan kembali menciumi bahu dan mulai merambat ke leher Alyss.


"Tapi kakek ku ingin bertemu dengan ku...


Aku boleh kan pergi minggu depan...


Tak apa jika sendiri...." ucap Alyss memelas.


Hazel pun menghentikan ciuman nya dan membalik tubuh Alyss agar berhadapan dengannya.


"Kalau kau tak membawa suami mu, bukankah nanti mereka akan bertanya? Hm?" tanya Hazel sembari menatap iris Alyss.


"Akan ku katakan kau sedang sibuk, mereka pasti tau...


Aku boleh ikut kan?" tanya Alyss sekali lagi.


"Jika aku membiarkan mu ikut, kau tak akan kesal lagi?" tanya Hazel sembari menyelipkan rambut basah Alyss ke telinganya.


"Ha? Ma-maksudnya?" tanya Alyss bingung.


Hazel hanya diam memperhatikan iris Alyss dengan lekat, ia tau Alyss marah dan kesal pada nya sejak ia menghukum dan mengurungnya di ruang putih namun Alyss tak berani menunjukkan nya secara langsung.


"Maksudku, kau benar-benar ingin ikut?" tanya Hazel lagi.


"I-iya..." jawab Alyss. Selain ibunya yang meminta nya harus datang ia juga ingin keluar dari kediaman itu karna Hazel tak membiarkannya keluar selama tiga minggu terakhir.


"Datang bulan mu sudah selesai?" bisik Hazel sembari menggigit kecil telinga Alyss.


"Be-belum..." jawab Alyss bohong ia sudah selesai bulanan nya satu hari yang lalu


"Sudah hampir satu bulan kita tidak melakukannya." bisik Hazel lagi dengan suara berat sembari mulai menjatuhkan mantel mandi yang di kenakan Alyss.


Sebelumnya Hazel tak menyentuh Alyss dan menahan dirinya karna melihat kondisi Alyss yang sedang sakit dan saat Alyss sudah mulai membaik dan sehat, Alyss malah mendapat jadwal bulanannya sehingga Hazel juga tak dapat melakukan hal itu.


"Ta-tapi aku masih belum selesai..." ucap Alyss ketika Hazel semakin menarik mantel mandinya.


Hazel pun langsung menarik tubuh kecil itu dan langsung mendorong nya ke ranjang.


"Hummpphhh"


Hazel yang langsung m*l*mat bibir tipis itu dengan agresif, tangan Alyss pun berusaha mendorong dada bidang Hazel yang sedang menindihnya. Hazel pun langsung menangkap tangan kecil tersebut dan menguncinya diatas kepala Alyss dengan satu tangan kekarnya.


"Jangan berbohong! Kau sudah selesai kan bulanan mu? Kau mau membuat ku menghukum mu lagi karna berbohong? Hm?" ucap Hazel sembari menatap tajam iris Alyss yang sedang berada dalam kungkungan nya.


Alyss pun menggelengkan kepala nya perlahan mendengar ancaman Hazel, Hazel pun tersenyum dan mulai memangut bibir Alyss lagi dan kembali menjalankan aksinya.


......................


Skip time.


Satu minggu kemudian.


Hotel Starhope.


"Lepas kak!" ucap Alyss pada Leo yang memegang erat tangan nya saat ia keluar dari lift.


Buat pria itu menganggap kalian memilki hubungan lebih.


Bagaikan seperti orang terkena hipnotis kata-kata tersebut membuat bertindak tidak seperti biasanya, ia melihat Hazel yang berada di lantai dua sedang yang juga sedang melihat nya memegang tangan istrinya.


Grep...


Dalam satu tarikan Leo pun langsung menarik Alyss kedalam pelukan nya. Ia melakukan hal demikian agar Hazel dapat melihat hal itu dan membuat hubungan kedua nya retak namu tanpa ia sadari perlakuan nya akan membuat wanita yang ingin ia lindungi semakin hancur.


Alyss pun langsung mendorong tubuh Leo agar segera melepaskannya dari pelukan pria itu, setelah lepas Alyss pun langsung pergi secepatnya meninggalkan tempat itu.


Hazel pun langsung mendatangi ke arah Leo sejak ia melihat pria itu memeluk istrinya tepat di depan matanya.


Bugh...


Satu pukulan telak melayang ke wajah Leo dengan kuat.


Bukannya marah atau kesal Leo semakin tertawa melihat Hazel.


"Kau tau dia tidak menyukaimu kan?" tanya Leo dengan nada mengejek pada Hazel yang membuat Hazel semakin kesal.


"Bukan urusan mu! Dan lagi apa yang kau lakukan pada nya? Berani sekali kau menyentuhnya." ucap Hazel geram.


"Menurutmu apa yang kami lakukan? Seorang pria dewasa dan wanita dewasa di hotel?" ucap Leo dengan senyuman yang semakin membuat Hazel salah paham.


Ia pun menggenggam erat tangan nya dan siap melayangkan pukulan lagi, namun Rian langsung menahan dirinya.


"Tenanglah...


Para klien sedang melihat...


Kau bisa melakukannya nanti, jangan sekarang!" ucap Rian menenangkan amarah Hazel agar tak meluap di tempat umum.


Leo pun tersenyum sinis dan meninggalkan tempat itu.


"Aku ingin bocah itu, akan ku bunuh dia dengan tangan ku sendiri, dan cari tau apa saja yang Alyss lakukan di hotel ini." ucap Hazel dengan nada yang penuh amarah pada Rian.


...****************...


Haii maaf yah lama up nya, itu kan di paragraf terakhir kayak langsung gitu kan ceritanya, kayak di lompat. Itu sebenarnya ga di lompat yah, itu kayak spoiler...


Othor make alur maju mundur jadi besok itu flashbacknya dan othor jelasin kenapa mereka bisa bertemu di hotel yang sama Alyss, Leo, Sama Hazelnya.


Jadi eps 107 atau 108 itu itu bab penyesalan nya yah😉


dan kalo ga ada halangan besok othor mau dobble up, tapi kalo banyak halangan yah kek biasa cuma satu hihi


Jangan lupa like, komen, fav, vote, dan rate 5 yah❤️❤️


Happy Reading❤️❤️❤️