(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Lie



Seperti biasa Hazel memeluk Alyss dalam tidurnya, seperti sudah menjadi kebiasaan baginya untuk memeluk dan mencium aroma dari tubuh wanitanya.


Ada banyak hal yang dipikirkan Alyss selain penyakit nya ia juga memikirkan bagiamana keadaan Hazel jika ia benar-benar tak dapat bertahan.


Mengikutinya di kematian?


Sampai kapanpun Alyss tak akan rela jika hal itu terjadi, siapa yang mau melihat orang yang di cintai menderita dan harus ikut mati dengan nya.


"Anak? Apa jika kami punya anak, dia tak akan punya pikiran seperti itu?" gumam Alyss saat melihat wajah Hazel yang sudah tidur mendekapnya.


......................


Pukul 08.33 AM


Alyss yang terus melihat Hazel saat mereka sarapan membuat Hazel tau jika ia sedang diperhatikan.


"Kenapa? Kau mau ke pantai?" tanya Hazel pada Alyss saat ia berhenti mengunyah dan meminum beberapa teguk air.


"Bukan..." jawab Alyss menggeleng.


"Lalu? Mau kembali bekerja?" tanya Hazel lagi memikirkan apa yang di inginkan istrinya.


"Bukan..." jawab Alyss lagi sembari terus menatap Hazel.


"Lalu kau mau apa? Hm?" tanya Hazel lembut.


"Mau anak...


Mau punya baby..." jawab Alyss dengan mata polos nya menatap Hazel.


Hazel terkejut beberapa saat, ia tak pernah menyangka jika Alyss mau mengandung anak darinya lagi, Hazel tentu saja merasa senang tetapi merasa sedih di saat bersamaan.


Ia tau jika kemungkinan Alyss dapat mengandung sangat kecil, bahkan jika Alyss tetap bisa mengandung maka, kemungkinan keguguran juga akan sangat tinggi. Dan ia bahkan belum memberitau Alyss sampai sekarang, mengingat dulu Alyss yang juga tak dapat mendengar karna ayah nya yang brengsek.


"Hazel...


Kenapa diam saja? Kau tak mau yah?" tanya Alyss lagi ketika melihat suaminya melamun.


"Tidak usah buru-buru...


Kita pelan-pelan saja yah..." ucap Hazel sembari meraih tangan Alyss dan menggenggam lembut tangan wanitanya, ia tak mau Alyss kecewa dengan hasil nya, dan sedih saat tau kemungkinan ia menjadi seorang ibu sangat kecil.


"Kenapa? Kau tak mau punya anak?" tanya Alyss langsung mengernyitkan dahinya.


"Mau...


Tentu saja mau...


Apa lagi buat nya, sangat mau..." ucap Hazel tersenyum nakal pada istrinya.


"Isshhh....


Lagi gak bercanda..." jawab Alyss kesal pada Hazel.


Hazel hanya tertawa kecil untuk menutup kekhawatiran dan menggoda Alyss agar Alyss tak tau duduk masalahnya.


......................


Pukul 12.56 PM


Alyss berusaha memutar kepala memikirkan bagaimana cara ia bisa menjalani pengobatan tanpa sepengetahuan Hazel hingga ia berpikir untuk menghubungi profesor yang memberinya obat sebelumnya, karna obat itu lah yang sekarang menjadi boomerang padanya.


Alyss pun segera menghubungi Rian, karna ia tau Rian adalah sumber yang menyimpan banyak informasi dari JBS grup selain Hazel.


"Halo? Kalau ada seseorang didekat mu berusaha seperti bukan aku yang menelpon." ucap Alyss di telpon nya begitu tersambung.


Rian bingung sesaat mendengar ucapan Alyss namun ia tetap melakukan nya.


"Aku mau bertemu bisa kan? Dan Hazel juga tak boleh tau." ucap Alyss lagi dari telpon.


"Hazel tak boleh tau? Aku bisa cincang sama suamimu kalau begitu..." jawab Rian yang tau betul bagaimana sifat Hazel.


"Lalu kau tak mau? Kalau begitu aku yang akan mencincang mu!" jawab Alyss kesal.


Rian terdiam rasanya benar-benar pusing menghadapi istri teman sekaligus atasan yang tak jauh beda dari sifat pasangan nya. Ia pun menyanggupi ucapan Alyss.


......................


Cafetaria.


Seperti biasa dengan segala akalnya Alyss dapat lolos dari pengawal Hazel. Kini ia duduk berhadapan di dengan Rian yang terlihat kaku.


"Apa aku menyeramkan? Kenapa sangat takut?" tanya Alyss santai sembari meminum milkshake di hadapan nya.


"Bukan itu masalah nya....


Suami mu yang menyeramkan..." ucap Rian dengan ekspresi merinding membayangkan kecemburuan Hazel.


Alyss tertawa kecil mendengar dan melihat ekspresi Rian.


"Aku akan bicara ke intinya saja...


Aku mau bertemu dengan profesor pengembang obat yang membuat ku bangun saat itu, dan juga tetap saja Hazel tak boleh tau. Kau harus membantu ku menutupinya." ucap Alyss tanpa basa-basi lagi.


"Kenapa? Bertemu dengan mereka tanpa sepengetahuan Hazel akan sulit, kau tau kan jika Hazel pemimpin JBS?" tanya Rian pada Alyss.


"Aku sakit...


Dan mungkin akan mati dalam satu tahun dari sekarang...


Dan itu karna obat yang di masukkan ke tubuh dulu. Mereka membuat obat tak masuk akal berarti mereka juga bisa membuat yang lain untuk mencegah nya kan?" jawab Alyss jujur pada Rian


"Kau sakit? Lalu Hazel bagaimana? Kau ingin menyembunyikan darinya? Kau tak bayangkan perasaan nya kalau dia tau?" tanya Rian yang masih sempat mengkhawatirkan perasaan teman nya.


"Karna aku memikirkan perasaan nya makanya aku tak mau bilang...


Aku sekarat karna ulah nya, dan sakit karna obat yang ia gunakan untuk memaksa ku bangun. Menurut mu jika dia tau, apa yang akan dia rasakan?" tanya Alyss lagi dan membuat Rian mengerti.


"Lalu setelah menemui para profesor apa lqgi yang kau inginkan?" tanya Rian pada Alyss.


"Aku ingin membuat perjanjian dengan mereka, mereka harus lakukan apapun untuk membuat ku tetap hidup, dan aku tak mau pengobatan ku sampai di ketahui suamiku. Jika mereka tak menurut aku ingin mengubur mereka." jawab Alyss.


"Maksud nya jika mereka ingin hidup, mereka harus terus membuat mu hidup? Seperti itu perjanjian yang kau inginkan?" tanya Rian memastikan.


"Iya, aku lupa satu lagi, aku juga mau salah satu orang yang paling mereka cintai juga ikut terkubur bersama mereka." ucap Alyss tersenyum.


Rian menghela nafasnya wanita di hadapan nya benar-benar mirip dengan teman nya, tak heran jika mereka bisa berjodoh.


"Kau bisa melakukan nya kan?" tanya Alyss sekali lagi.


"Baik, aku akan melakukan nya. Akan ku kabari jika semuanya selesai." ucap Rian pada Alyss.


......................


3 Hari kemudian.


Rian pun menghubungi Alyss lagi saat semuanya telah selesai. Alyss pun mulai datang ke JBS farmasi dan melakukan rencana selanjutnya.


"Ka-kami tak bisa tandatangani ini nyonya..." jawab para profesor ragu, bukan nya tak mau mengobati Alyss hanya saja mereka sudah mendatangani perjanjian dengan Hazel sebelumnya.


Perjanjian dengan Hazel juga tak jauh berbeda dengan apa yang di buat Alyss, namun karna isi yang ada di perjanjian Alyss menyebutkan jika Hazel tak boleh tau membuat mereka takut.


"Tak mau? Kalau begitu kalian akan mati sekarang? Dan, karna aku sedikit lebih baik, jadi aku akan ikut membunuh salah satu keluarga kalian bersama kalian. Bagaimana?" tanya Alyss tersenyum.


"Jangan nyonya! Kami akan melakukan apa yang anda katakan, tapi kami mohon hilangkan syarat agar presdir tak boleh tau." ucap para prof itu memohon.


"Kalian lebih memilih mati sekarang? Dari pada mati nanti? Aku tak suka tawar menawar." ucap Alyss kesal dan mulai melempar foto dari salah satu keluarga para prof tersebut, seperti anak, istri, orang tua dan lainnya.


"Mereka akan mati sekarang! Setelah itu kalian juga akan mati ikut dengan mereka." ucap Alyss menyeringai.


Sontak para prof tersebut langsung berlutut dan ketakutan jika Alyss benar-benar membunuh keluarga mereka.


"Nyonya kami akan lakukan! Kami akan tandatangani perjanjian nya." ucap para prof tersebut seketika saat melihat foto keluarga mereka yang sedang di pertaruhkan.


Para prof tersebut seperti membuat perjanjian dengan iblis yang baru, pertama dengan Hazel dan yang kedua dengan Alyss.


"Oh ya aku juga ingin hamil, jadi buat sesuatu yang juga tak mempengaruhi keinginan ku " titah Alyss sekali lagi.


Para prof pun bingung bagaimana menjawab perintah Alyss. Hingga salah satu prof pun mulai menceritakan keadaan rahim Alyss yang sulit memiliki anak karna kecelakaan nya saat Will si pria brengsek itu menikam perutnya.


Alyss terkejut beberapa saat, ia tak pernah membayangkan kenapa hidupnya bisa seperti ini? Saat ia mulai bahagia ada saja yang selalu berusaha merusak kebahagian nya.


"Aku tak mau tau cara apa yang kalian gunakan dan obat apa yang kalian ciptakan yang terpenting kalian harus bisa membuat ku tetap hidup dan membuat ku bisa memiliki keturunan!" ucap Alyss sekali lagi.


Para prof tersebut pun mengiyakan ucapan Alyss.


Melihat Alyss yang jalan dengan lesu saat kembali dari JBS Farmasi membuat Rian iba.


"Hazel bukan sengaja tak ingin memberi tau, dia hanya tak mau kau khawatir." ucap Rian yang takut jika Alyss sampai bertengkar dengan Hazel.


"Hm..." jawab Alyss singkat dan mulai kembali ke kediaman Hazel.


......................


Kediaman Hazel.


Hazel yang tak mengetahui gerak istrinya karna Rian yang membantu Alyss membuatnya tak tau kondisi Alyss yang sebenarnya.


Hazel yang sejak kembali dari JBS bingung melihat Alyss yang terus mendiaminya tak seperti biasanya membuatnya menyadari sikap wanitanya yang berubah.


"Alyss...


Kenapa? Hm?" tanya Hazel sembari memeluk wanita nya dari belakang saat Alyss sedang merapikan bunga-bunga nya.


"Ckk, lepas! Sulit menyusun bunga nya!" ucap Alyss sembari berusaha menepis tangan suaminya yang sedang melingkar di perut nya memeluknya dari belakang.


Ia merasa marah dan kesal karna Hazel tak memberitau nya masalah rahim nya yang sulit memiliki anak, sekarang ia tau kenapa Hazel mengatakan hal tersebut 3 hari yang lalu.


"Kenapa? Kalau kau marah dan diam tiba-tiba seperti ini bagaimana aku tau masalah nya?" ucap Hazel yang mulai kesal, ia memang tak terbiasa yang namanya membujuk.


"Kenapa tak bilang?" tanya Alyss pada Hazel tiba-tiba.


"Bilang apa?" tanya Hazel bingung.


"Aku tak bisa punya anak kan?" tanya Alyss dengan suara tertahan.


Deg....


Hazel tersentak mendengar pertanyaan Alyss.


"Dari mana kau tau? Hm? Kau bukan nya tak bisa hanya sedikit sulit saja..." ucap Hazel melembut pada Alyss.


"Dari mana aku tau itu tak penting! Sedikit sulit? Kemungkinan nya sangat kecil...


Hampir mustahil!" ucap Alyss sekali lagi pada Hazel dengan nada tinggi meluapkan emosinya.


"Kita bisa ikuti program kehamilan....


Dan lagi bagi ku itu tak terlalu penting, memiliki mu saja sudah cukup..." ucap Hazel yang berusaha menenangkan Alyss.


"Tak penting bagi mu, tapi penting bagi ku!" ucap Alyss yang masih kesal, selain merasa sedih karna kemungkinan menjadi seorang ibu kecil, ia juga memikirkan bagaimana jika ia benar-benar pergi dan Hazel juga sungguh mengikutinya.


"Mana pria tua sialan itu?! Ingin sekali rasanya mencincang nya habis!" sambung Alyss kesal.


"Dia sudah mati." ucap Hazel pada Alyss.


Alyss terdiam sejenak, benar juga dengan sifat Hazel ia pasti sudah membunuh pria itu karna sudah menyakiti dirinya.


"Kalau dia sudah mati, keluarga nya ada kan? Setidaknya keluarga nya juga harus menderita! Dia membuat ku menderita bahkan sampai aku tak bisa memiliki anak!" ucap Alyss sekali lagi yang masih tak tau jika Will adalah ayah biologis Hazel.


"Itu...


Kalau kau tau keluarga nya, apa yang mau kau lakukan?" tanya Hazel lagi.


"Menguburnya bersama sialan itu!" ucap Alyss menangis namun marah dan kesal di saat bersamaan.


"Kau mau menguburku?" tanya Hazel lagi.


"Kenapa aku haru-


Tunggu! Kau?!" ucap Alyss yang mulai menyadari, bagaimana ia bisa tak sadar dari dulu padahal wajah mereka memiliki kemiripan.


"Wah...


Ternyata ayah mu brengsek yah?! Pantas saja kau juga brengsek!" ucap Alyss tak habis pikir dan meluapkan amarahnya pada Hazel.


Hazel tak membalas perkataan Alyss karna yang di katakan oleh Alyss benar adanya, dan ia juga tak mau pertengkaran semakin berlarut.


...****************...


Aduh....


Moga bisa dapat debay yah🤧🤧🤧


Dan juga semoga para prof nya bisa cepet nemuin pengobatan sesuai dan buat progam supaya mbak Alyss nya bisa hamil lagi yah🤧🤧


Sabar yah bang Haz gak dapat jatah dulu malam ini🤧😅


Jangan lupa like, komen, fav, rate 5, vote dan dukung othor🥰🥰


Happy reading❤️❤️❤️