
Mata gadis itu mulai terbuka, tubuh nya merasa hangat walaupun ia ingat terakhir kali ia merasa begitu dingin hingga membuat nya gemetar
Lagi? Kenapa aku selalu berakhir disini?
Mata nya mulai jernih dan melihat kamar tak asing di tempat tersebut. Sesaat setelah kesadaran nya pulih ia pun mulai bangun.
Cklek...
Nick yang sedang mengantar makanan dan obat untuk nya pun melihat gadis itu sudah siuman.
"Tuan memerintahkan nona untuk sarapan sesuai yang di siapkan nya. Dan meminum obat nya." ucap Nick sembari meletakkan makanan ke atas meja yang berada di kamar tersebut.
"Hm..." jawab Louise cuek karna masih merasakan sakit di kepala nya.
"Saya harap nona tidak memiliki prasangka lebih. Tuan hanya menganggap nona sebagai salah satu mainan saja, maka dari itu saya yakin jika nona sudah tau posisi diri sendiri." ucap Nick tiba-tiba pada gadis cantik itu.
Sial! Baru bangun sudah bikin naik darah!
Gadis itu pun bangun dan mendekati pria yang merupakan kaki tangan dari kekasih baru nya yang membangun hubungan diatas kesepakatan.
"Aku bukan mainan nya. Aku adalah Aku! Dan lagi? Kau cemburu? Hm? Jangan sia-siakan wajah mu...
Hiduplah normal seperti lelaki lain." ucap Louise pada Nick.
"Saya sangat normal!" jawab Nick jengkel mendengar jawaban gadis itu.
"Iya..
Aku berpikiran terbuka kok...
Aku bisa maklum, tapi yah tetap berharap nya kau normal saja..." jawab Louise enteng sembari meminum susu vanila yang dibawa bersama sarapan nya.
Nick salah sasaran terhadap wanita tuan nya, ia tak tau jenis gadis apa yang sedang di hadapinya.
"Tau senyum dua jari? Pertama buat jari mu seperti ini..." ucap Louise sembari membuat dua jari nya membentang seperti huruf V
"Lalu senyum..." ucap nya sembari menaikan jari nya ke bibir pria di depan nya hingga membuat wajah yang tersenyum Joker.
"Ih! Malah serem! Yaudahlah gak usah senyum aja!" ucap Louise saat melihat wajah Nick yang aneh.
Nick terbelalak, baru kali ini ia mengalami kontak fisik pada wanita, ia terpaku beberapa saat dan membiarkan gadis itu membuat bibir nya terangkat dengan dua jari agar membuat nya seolah-olah tersenyum.
"Sedang apa kalian?" tanya James tiba-tiba. Ia awal nya ingin mengunjungi gadis itu tapi malah melihat gadis nya sedang menganggu bawahan nya.
"Mau buat dia senyum, eh malah kayak Joker." jawab Louise enteng.
Nick pun segera keluar, ia tau tatapan tajam tuan nya sudah menusuk hingga ke darah nya.
"Kau tau? Yang kau lakukan tadi itu termasuk menggoda nya." ucap James dengan nada tak senang pada gadis yang sedang duduk di kursi dan di hadapkan dengan sarapan pagi nya.
"Kau cemburu yah..." goda Louise pada pria tampan itu.
"Tidak!" sanggah James langsung.
Berbeda dengan pikiran nya, pikiran gadis itu malah melampaui terlalu jauh. Louise berpikir jika James memiliki hubungan dengan bawahan nya.
"Sabar yah...
Pasti sulit punya hubungan yang gak diakui di masyarakat dan moral." ucap Louise menenangkan sembari memakan sandwich nya.
James mengerutkan dahi nya dengan bingung, ia tak tau maksud dari ucapan gadis itu.
"Maksud mu?" tanya James bingung.
"Makanya kau itu harus setia! Jangan sama perempuan mau, sama bawahan mu juga mau! Kan kasihan itu bawahan mu tadi." ucap Louise dan semakin membuat James jengkel ketika sudah mengerti maksud gadis itu.
"Kau pikir aku tidak normal? Kalau tidak normal mana mungkin aku-"
"Bisa saja kau bis*ksual." potong Louise langsung.
NB KET : Biseksual adalah orientasi s*ksual yang tertarik dengan wanita maupun pria. Bisa merasakan adanya emosional, romantis pada lebih dari satu jenis kel*min.
James memejamkan mata nya mengatur emosinya melihat gadis yang dengan santai nya memakan sandwich di hadapan nya setelah membuat nya jengkel setengah mati.
"Kau tak takut aku memberi mu racun?" tanya James pada gadis itu.
"Kau masih tertarik dengan ku, jadi kau tak akan membiarkan ku mati dengan mudah." jawab Louise enteng.
James pun hanya menghela nafas nya dengan kasar, ia pun melihat gadis itu sudah kembali seperti semula lagi. Sama seperti saat ia baru mengenal nya dulu.
"Apa yang terjadi dengan mu? Kenapa semalam menangis?" tanya James pada gadis itu hingga membuat Louise memberhentikan makan nya sejenak.
Gadis itu terdiam beberapa saat seperti sedang memikirkan kembali fokus nya.
"Gelang ku hilang...
Makanya aku menangis..." jawab Louise dengan tatapan yang sulit diartikan menatap ke arah luar jendela.
Tatapan yang seperti sedang menyembunyikan segudang pemikiran.
"Kalau kau mau bilang masalah nya, kau bisa datang pada ku." jawab James yang tau gadis itu berbohong.
"Oh ya? Aku bisa mempercayai mu?" tanya Louise dan langsung berbalik, sudut bibir nya terangkat dengan senyuman yang tak bisa di gambarkan.
James masih diam dan menatap gadis itu dengan erat di iris mata nya.
"Pria yang memberikan pistol di kepala ku saat bertemu lalu melecehkan ku setelah itu membuat menjadi pecandu, dan yang terakhir kau hampir membuat mati kehabisan darah." sambung Louis pada pria itu.
"Kau benar...
Kalau begitu jangan mempercayai ku...
Mungkin saja aku akan mengkhianatimu nanti..." jawab James pada gadis itu.
"Tentu saja! Yang paling bisa ku percayai hanya diriku sendiri saat ini." jawab Louise tersenyum getir.
Tep...
Tangan kekar itu mendarat di puncak kepala gadis itu dan mengelus nya dengan lembut, James tersenyum, ia tak tau alasan nya namun ia senang saat gadis itu sudah tak seperti kemarin malam lagi.
"A-aku bukan anak kecil!" ucap Louise yang seketika salah tingkah karna pria yang biasanya kasar kini tengah bersikap lembut pada nya.
"Tapi kau terlihat seperti anak lima tahun bagi ku..." ucap James tersenyum dan sedikit membungkuk agar menyamakan tinggi wajah nya dengan Louise.
"Lima tahun dari mana?!" tanya Louise kesal, bagaimana tidak? Tubuh dan kecerdasan nya berada di atas rata-rata namun ia dikatakan mirip anak kecil.
Cup...
Pria itu tak menjawab dan malah mengecup bibir gadis di hadapan nya.
"Karna menggemaskan..." ucap James tanpa sadar. Wanita yang penuh dengan kejutan benar-benar membuat nya selalu hilang kendali.
"A-aku mau pulang!" Louise yang langsung mengalihkan pembicaraan nya.
"Pulang? Kau saja masih demam. Disini dulu nanti kalau sudah baikan baru pulang!" ucap James yang memang tak ingin agar gadis itu pergi dari mansion nya.
"Udah sembuh!" sanggah Louise pada pria tampan itu.
"Bibir mu saja masih pucat! Mau ku gigit biar merah? Hm?" ucap James sembari mencubit bibir gadis itu.
"Isshh!" gerutu Louise kesal sembari menyingkirkan tangan pria itu.
James yang memiliki cara lain untuk menghibur gadis itu dengan cara membuat nya kesal dan melupakan masalah nya sesaat.
"Tapi aku mau keluar...
Rasa nya tak bisa bernafas..." ucap Louise lirih dengan tersenyum getir, jika rasa kesal nya hilang pikiran nya pun kembali lagi ke gadis malang yang masih berada di villa nya.
"Mau keluar dengan ku?" tanya James pada Louise saat melihat wajah yang berisi senyuman namun memiliki rasa lain di mata nya.
Louise pun melihat menyelidik sembari meletakkan sandwich nya dan melipat tangan nya.
"Kenapa kau seperti nya sangat baik pada ku?" tanya Louise dengan nada curiga.
"Kalau tak mau yasudah! Kau disini saja sampai membaik!" jawab James kesal melihat gadis di hadapan bukan nya tersentuh tetapi malah curiga.
"Kalau aku keluar dan bersenang-senang apa akan baik-baik saja?" gumam Louise saat ia merasa jika ia tak boleh bahagia juga karna kakak nya menghancurkan hidup gadis lain.
James mendengar sebagian gumam yang di katakan gadis itu.
"Kau perlu memikirkan diri mu sendiri, kalau kau baik-baik saja kau juga bisa membuat orang lain baik-baik saja." ucap James yang bahkan tak menyangka jika ia akan mengatakan kalimat seperti itu.
"Apa maksud mu?" tanya Louise terkejut.
"Kau seperti sedang bertanya pada diri sendiri. Pertanyaan seperti Apa aku boleh bahagia? seperti itu." jawab James.
"Apa peduli mu! Kau juga jahat pada ku!" ucap Louise kesal saat pikiran nya tertebak.
"Aku tak tentang esok hari, tapi aku tau hari ini aku peduli." jawab James menatap mata gadis itu.
"Baik, ayo keluar!" jawab Louise pada pria itu dan mulai meminum obat yang diantar pada nya.
......................
Wahana bermain.
Terulas senyum di wajah cantik gadis itu, ia mulai bersemangat saat akan turun dan menaiki wahana di taman bermain tersebut.
Sejak kecil Alyss maupun Hazel jarang membawa nya kesana karna tak ingin putri nya meminta menaiki wahana bermain yang akan berdampak berbahaya pada jantung lemah gadis itu.
Maka dari itu ia hanya di bawa ke taman ataupun wahana bermain yang tidak terlalu banyak wahana berbahaya nya.
"Ayo! Cepat!" ucap Louise dengan senyum di wajah nya, sejenak ia ingin melupakan masalah nya.
"Kenapa aku jadi seperti ini..." gumam James dan turun dari mobil mewah nya.
"Lama sekali sih? Kayak siput!" ucap Louise saat melihat pria itu turun dari mobil nya.
Gadis itu mulai berjalan mendekat dan menarik tangan pria tampan itu.
"Eh?" ucap Louise yang terkejut saat James menepis tangan nya namun langsung mengganti menggenggam tangan tersebut.
"Kau mau pegangan tangan dengan ku? Seharusnya bilang saja..." ucap James menggoda gadis nakal itu.
"Bukan!" ucap Louise cepat dan ingin melepaskan tangan pria yang sedang menggenggam tangan dengan jemari lentik nya.
James hanya tersenyum dan terus memegang tangan gadis itu.
"Ayo, katanya mau main..." ucap James pada Louise, walaupun ia tau gadis itu masih demam namun ia juga tau gadis cantik itu membutuhkan sesuatu untuk meledakkan dirinya.
Ia pun berjalan dan membuat Louise tertarik karna tangan nya yang memegang erat tangan gadis itu.
"Itu? Boleh..." ucap James yang langsung mengiyakan karna tak tau riwayat penyakit gadis yang sedang ia gandeng tangan nya.
Gadis itu berulang kali menghembuskan nafas nya, jantung nya berdegup kencang karna baru pertama kali mencoba menaiki wahana yang ia inginkan sejak kecil.
WAAAA
Teriakan yang menggema bercampur dengan teriakan gadis itu saat wahana mulai meluncur dengan bebas berputar dengan kencang.
Setelah permainan usai gadis itu pun turun, terlihat jelas nafas nya yang tak beraturan karna ia melanggar batasan dalam tubuh nya.
"Kau ini robot yah? Masa tidak teriak sama sekali?" tanya Louise dengan suara yang terengah-engah saat James mulai mendudukan nya ke bangku yang di sediakan di sekitar tempat wahana dan taman bermain itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya James saat melihat gadis itu yang terus terengah-engah.
"Lihat! Jantung masih berdetak kan? Aku baru saja naik roller coaster!" ucap Louise semangat dan meraih tangan pria itu lalu meletakkan nya di dada nya.
"Aku bisa menganggap ini sebagai ajakan lain kalau kau tak melepaskan nya..." ucap James pada gadis itu.
"Maksud mu?" tanya Louise bingung hingga mata nya melihat ke arah gulali yang berbentuk kelapa beruang menggemaskan.
"James...
Mau itu..." ucap Louise sembari menunjuk ke arah gulali tersebut.
"Yaudah, sana beli..." ucap James cuek.
"Ih! Beliin! Masih pusing kalau jalan..." rayu gadis itu lirih, bukan nya pusing ia hanya malas berjalan.
"Kalau jalan gak pusing lagi itu." ucap James yang tak tau namanya perhatian pada seorang gadis.
"Issh! Pantes gak punya pacar! Lain kali jalan sama Zayn ajalah!" gerutu Louise dan mulai bangun, di bandingkan dengan sahabat nya yang bersikap perhatian dan lembut pria tersebut lebih bersikap dingin, arogan, dan cuek.
Mendengar nama pria lain James pun langsung terperanjat dan meraih tangan gadis itu.
"Kenapa menyebut nama pria lain saat dengan ku?" tanya James yang tak mengerti letak kesalahan nya.
"Terserah ku! Pantas tidak ada yang mau pacaran dengan mu, tidak peka! tidak perhatian lagi!" ucap Louise kesal dan beranjak pergi.
"Aku?" ucap James yang bingung dan menyusul gadis itu.
"Kata siapa tak ada yang mau pacaran dengan ku? Wanita yang mengerubungi ku seperti lalat." ucap James yang tak terima saat ia berjalan di samping gadis itu.
"Mereka bukan mengerubungi mu, tapi uang mu. Kau ini tak bisa membedakan yah?" tanya Louise dengan nada yang masih kesal.
James terdiam sejenak ia tau jika yang di katakan gadis itu sangat benar.
"Tapi ada juga yang tidak mau uang ku, kau terlalu sok tau." ucap James pada Louise.
"Lalu kenapa tidak dengan nya sekarang? Dia mengkhianatimu?" tanya Louise asal.
Deg...
Pertanyaan asal yang di ucapkan gadis itu benar-benar tepat sasaran.
"Kenapa diam? Aku benar yah?" tanya Louise lagi dan menghentikan langkah nya menatap ke arah pria tampan tersebut.
Wajah gadis itu tersenyum menang saat ucapan nya terlihat tepat sasaran.
"Bukan! Jangan sok tau!" sanggah James pada gadis itu.
Louise pun tersenyum dan mulai mendekati pria yang berada di depan nya. Tangan nya mulai naik mengelus rambut halus pria itu.
"Sabar yah...
Kasihan jadi sad boy..." ucap Louise pada pria di depan nya sembari mengelus dan mengacak rambut James.
"Kau ini semakin menyebalkan yah?" ucap James kesal saat melihat gadis di hadapan nya seperti mengejek nya.
"Makanya perhatian! Nanti di tinggal lagi baru tau rasa!" ucap Louise terkekeh pada pria tersebut dan melanjutkan membeli gulali yang ia inginkan.
......................
JBS Hospital.
Louis mengetuk meja kerja nya berulang kali. Tak bisa ia sangkal jika ia merindukan sekretaris manis nya.
Walaupun ia sebelum nya membuat gadis itu tak masuk ke JBS namun ia dapat menemui dan bersama gadis itu di mansion nya lalu pulang malam ke kediaman utama nya agar adik nya tak curiga.
Sejak siang ia juga sudah mendapat lokasi adik nya yang berada di salah satu cafe ice cream bersama pria yang sebelum nya ia suruh putus.
Namun saat melihat senyum di wajah adik nya melalui cctv cafe yang sudah di retas oleh bagian ruang visi membuat nya perasaan nya lega dan menghilangkan sebagian beban di kepala nya karna bisa melihat senyum cantik adik nya.
Dan masalah terakhir hanya tinggal bagiamana agar sekretaris nya pulih kembali. Setelah pikiran nya berputar, panggilan pun mulai masuk pada nya.
"Presdir rapat akan diadakan pukul 3 sore." ucap Verdi yang merupakan sekretaris baru pria tampan itu.
"Baik." jawab Louis pada sekretaris baru nya, walaupun ia memiliki sekretaris lain namun ia tetap ingin sekretaris cantik nya.
...
Setelah selesai rapat Louis berjalan di area restoran dan melihat cafe yang sering di datangi sekretaris nya untuk makan siang.
"Kalau aku beli cake yang di sana?" gumam Louis yang mulai mendapat cara agar dapat memiliki alasan untuk menemui sekretaris nya lagi.
Jika sang adik memarahi nya ia bisa dengan memberi alasan mengantar cake kesukaan gadis itu dan memiliki alasan menemui nya lagi.
......................
Mansion Dachinko.
"Tato? Kau mau memakai tato?" tanya James yang terkejut mendengar apa yang di inginkan gadis itu.
"Iya! Kau bilang bisa kan membuat nya?" tanya Louise pada pria di hadapan nya.
Gadis itu ingin mencoba segala hal yang belum pernah ia lakukan sama sekali, dan orang yang paling bisa melakukan nya adalah pria yang di hadapan nya.
James yang sama sekali tak tau apapun tentang gadis itu tentu saja beranggapan jika gadis tersebut memiliki fisik yang sama dengan gadis lain nya.
"Kau yakin?" tanya James lagi.
"Iya! Louis boleh pakai, kenapa aku tidak?" jawab Louise. Batasan pada dirinya lebih banyak di banding sang kakak.
"Kau mau gambar apa?" tanya James yang mengiyakan dan membawa gadis itu ke ruangan yang sudah memiliki alat nya dengan lengkap.
"Myosotis sylvatica!" jawab Louise semangat.
James terdiam sejenak mendengar gambar yang ingin ia buat.
"Kau tau artinya bunga itu?" tanya James dan mulai memberikan bius anestesi sebagian di punggung gadis itu.
"Tau! Artinya jangan lupakan aku kan?" jawab Louise percaya diri.
"Hm...
Kau suka bunga juga?" tanya James pada gadis itu.
"Bukan! Aku membuat nya karna mu." jawab Louise frontal saat pria itu mulai menggambar.
"Aku?" tanya James bingung.
"Hm...
Diantara semua yang ku kenal kau yang paling menyenangkan untuk saat ini, dan lagi bukan nya hubungan kita hanya sekedar kesepakatan kan? Makanya nanti kalau kita udah gak punya hubungan sama sekali aku tak mau di lupakan." jawab Louise dan membuat pria itu tersenyum.
"Kau bukan gadis yang mudah di lupakan..." jawab James yang tanpa sadar tersenyum saat ia seperti memiliki ruang tersendiri di hati gadis itu.
Setelah menggambar bunga biru yang cantik itu James pun memberi cermin agar gadis itu bisa melihat ke belakang.
"Wah...
Cantik! Punya bakat gambar nih." ucap Louise saat melihat tato di punggung nya.
Proses pembuatan tato tersebut tak sakit sama sekali karna ia sudah mendapatkan anastesi sebagian.
"Kau tak mau buat yang sama?" tanya Louise tanpa sadar sembari terus melihat punggungnya.
"Aku tak mau membuat yang sama seperti orang lain." jawab James yang memang tak ingin memiliki tanda yang sama seperti orang lain di tubuh nya.
"Yaudah, nanti aku suruh buat Zayn yang sama." jawab Louise enteng yang masih memperhatikan tato di punggung nya.
Ia tak tau ucapan nya yang acuh tak acuh itu selalu dapat membuat telinga nya panas.
"Kata nya tato nya untuk ku! Kenapa mau nya dengan pria lain!" ucap James yang kesal.
"Pada dasar nya artinya sama kan? Aku tak mau dilupakan! Jadi kalau kau tak mau aku bisa dengan Za-"
"Aku pakai! Dan jangan meminta pria lain membuat yang sama dengan mu!" potong James cepat yang tak ingin mendengar nama sahabat pria gadis itu lagi.
"Ih! Lagi PMS yah?" tanya Louise yang bingung melihat pria yang berubah-ubah di hadapan nya.
"Sini tangan mu!" tarik James pada gadis itu.
"Auch! Sakit! Apa yang kau lakukan?!" pekik Louise saat pria itu mulai menulis sesuatu di tangan nya.
"Diam saja! Nanti semakin sakit!" jawab James menahan tangan gadis itu, ia menulis sesuatu dengan tinta tato tersebut tanpa memberikan anestesi di tempat yang ingin ia tulis.
"Auch! Sakit..." ringis Louise yang juga tak berani menggerakkan tangan nya karna takut pria itu jadi asal menulis.
Xavier Haider
Setelah selesai Louise pun melihat tulisan yang berbentuk latin tersebut di dekat lipatan siku nya.
"Xavier? Siapa?" tanya Louise bingung pada pria yang sedang membuat gambar bunga yang sama di tangan nya.
"Tanda kepemilikan. Jangan coba menghapus nya." jawab James tersenyum dan sembari membuat gambar bunga yang sama di tangan nya.
Ia sengaja membuat nama nya di tubuh gadis itu. Menggunakan nama yang selalu ia simpan dengan rapat.
"Maksud mu?" tanya Louise bingung.
"Karna sekarang kau milik ku." jawab James tersenyum simpul pada gadis itu.
...****************...
Myosotis sylvatica
Seperti itu yah bunga nya, salah satu bunga yang memiliki arti forget me not atau jangan lupakan aku😉