
Tubuh nya begitu gemetar dengan tangan yang tak kalah gemetar nya menatap dan membaca setiap percakapan di grup yang hanya mengatainya.
Ia tersadar saat mendengar suara orang lain yang berjalan ke kamar mandi membuat nya memasuki salah satu bilik di kamar mandi tersebut.
"Kau sempat lihat video sekertaris jalang itu?"
"Clara lac*r? Tidak, tapi kata nya dia benar-benar liar!"
"Menurut mu, sudah berapa pria yang dia tiduri di sini? Jangan-jangan para dokter dan prof memakai nya juga?"
"Iya! Dia pasti juga udah naikin ranjang Presdir tuh, pantes aja Presdir bisa baik ke dia belakangan ini."
"Mentang-mentang punya muka cantik aja udah kayak gitu, sok polos sama sok baik lagi! Tau nya isi pel*cur!"
"Jangan-jangan dia juga sering di pakai gantian lagi? Jijik banget sih di sini ada pel*cur kayak dia! Nanti gelas sama barang-barang nya kita singkirin aja! Takut ada penyakit nya!"
Gadis itu menutup mulut nya dengan rapat menyembunyikan suara tangis nya mendengar semua penghinaan yang di lontarkan orang lain pada diri nya.
Video? Mereka bilang video apa? Kenapa menghina ku?
Batin gadis manis sembari terus berusaha membungkam mulut nya dengan tangan kecil nya guna meredam suara tangis nya.
Setelah percakapan kedua wanita yang sedang merapikan kembali make up nya itu, mereka pun keluar.
Clara yang masih sangat terkejut pun mencoba memberanikan diri membuka dan membaca setiap obrolan grup yang menyakitkan dan menghina harga diri nya.
Mata nya terus mengeluarkan bulir bening sembari mencari tau duduk masalah nya.
"Video? Apa ini saat...." gumam gadis itu dalam tangis nya.
Ia paham dan sangat paham jika yang melakukan hal tersebut hanya atasan nya dan tidak ada pria lain. Maka dari itu kemungkinan yang berada di kepala nya adalah video editan atau video yang di ambil saat ia tengah berhubungan dengan Presdir nya.
Setelah lelah dari tangis nya dan menenangkan diri nya, ia keluar dari kamar mandi tersebut.
Tatapan yang memandang hina, jijik, dan meremehkan begitu terasa oleh nya. Ia berusaha menepis dan tetap bertahan karna bagi nya ia tak melakukan semua tuduhan menjijikan tersebut.
Ia pun tetap duduk kembali ke meja nya dan melihat beberapa secarik kertas yang di tempelkan di komputer nya.
*Jalang!
Berapa bayaran mu? Mau main dengan ku malam ini? Segera hubungi aku.
Pelac*r menjijikan!
Suka main bertiga tidak? Mau kami puaskan?
Dasar kotoran! Harus nya wanita menjijikan seperti mu tidak ada di dunia*!
Mata gadis berkaca dan tubuh nya mulai gemetar melihat beberapa carik kertas yang di tempel begitu banyak di meja dan komputer nya.
Ia pun mencoba menarik dan membuang semua kertas tulisan yang sedang menghina nya saat ini.
Tangan nya gemetar menyingkirkan semua kertas kecil yang berada di depan nya, senyuman memandang rendah ke arah nya hingga membuat nya sesak tak mampu bernafas saat ini.
"Presdir meminta anda untuk ikut dalam pertemuan bisnis dua jam lagi." ucap salah satu pegawai wanita lain yang memberitau dengan nada ketus dan tatapan sinis.
Gadis itu mengusap air mata nya dan bersikap seperti tak ada yang terjadi apapun.
"Baik, saya akan persiapkan yang di butuhkan." ucap Clara dengan suara yang masih serak karna menahan tangisnya.
"Ck! Sudah ketauan busuk nya baru pura-pura lemah! Jalang!" decak pegawai wanita itu dengan tatapan sinis dan nada gerutu namun masih dapat di dengar oleh gadis manis itu.
Deg...
Dada nya terasa sesak dengan semua penghinaan yang ia terima dengan bertubi, bahkan tanpa tau cerita sebenarnya seperti apa.
......................
Mall.
Louise melihat ke arah pria yang menemani nya berbelanja, kali ini ia tidak bersama sahabat pria nya namun bersama dengan pria dingin itu lagi.
Pria yang hanya memakai pakaian casual namun masih bisa memancarkan aura nya hingga membuat beberapa mata melihat ke arah nya.
"Tumben mau nemenin aku belanja? Mau cuci mata?" tanya Louise mendengus kesal melihat pria yang sedang duduk di salah satu cafe mall yang di design terlihat santai dan nyaman.
"Kau sendiri kenapa tak mau di temani? Mau pergi dengan teman mu itu?!" ucap James balik bertanya dengan nada tak suka melihat gadis di samping nya terlihat kesal.
Ia juga tak tau kenapa sampai bisa menemani gadis itu padahal ia juga masih memiliki urusan lain dan tak begitu suka berbelanja di mall.
"Bukan sih! Tapi banyak melihat mu! Tuh lihat, bentuk nya aja masih kayak anak di bawah umur tapi melihat ke arah mu terus!" ucap Louise sembari menunjuk ke arah dua gadis remaja yang melihat ke arah pria nya.
James melihat ke arah wajah kesal gadis itu. Semenjak ia meminta untuk menjalani saja apa sudah mereka lakukan, walau tanpa pengakuan akan perasaan masing-masing namun sifat cemburuan gadis itu semakin terlihat dari hari ke hari.
Cup...
"Yang penting kan aku hanya melihat mu. Dan lagi mungkin mereka bukan melihat ku tapi melihat mu, kau kan artis media sosial." ucap pria itu setelah mengecup pipi gadis di sebelah nya.
"A-apa sih?!" ucap Louise dengan memanyunkan bibir nya ia tak tau jika pria itu tiba-tiba mencium nya.
"Ada yang mau ku beli, kau disini saja dulu!" ucap Louise dan beranjak bangun.
"Jangan lama!" ucap James sembari meminum lemon tea di depan nya.
Gadis itu pun beranjak pergi dan mencari topi untuk menutup wajah pria nya. Hingga ia di kejutkan dengan...
Bruk!
"Aduh!" suara anak lelaki yang menabrak nya karna berlari dengan cepat sedangkan sang ayah masih mengejar nya dari belakang.
"Kan! Sudah Papah bilang jangan lari-lari!" ucap seorang pria sembari membangunkan putra nya yang masih berumur 10 tahun.
"Maaf kak..." ucap anak tersebut dengan sopan pada Louise.
Sedangkan gadis itu memperhatikan ayah dari anak tersebut. Pria yang sudah memasuki usia setengah abad namun masih terlihat seperti pria dengan umur 40 tahun lebih tersebut.
"Saya seperti nya pernah melihat anda di pemakaman ibu saya..." ucap Louise sembari menatap wajah pria di depan nya.
Louise bisa mengingat pria itu dari sekian banyak orang lain karna melihat tatapan dan mimik yang begitu sedih dari pria itu sama seperti ayah nya, ia dan sang kakak sepeninggal ibu nya.
Pria itu tersentak beberapa saat melihat wajah gadis yang mirip dengan cinta pertama nya. Namun setelah itu ia tersenyum ramah.
"Kau sangat mirip dengan ibu mu. Paman teman kuliah ibu mu." ucap pria tersebut dengan senyuman ramah nya.
"Saya tak pernah melihat paman selain di hari pemakaman nya? Kalian berteman baik atau musuh si?" tanya Louise menatap curiga dengan pria di depan nya.
"Walaupun kami berteman baik tapi juga tidak bisa sering bertemu." ucap pria tersebut dengan masih memberikan senyuman ramah nya.
"Kenapa?" tanya Louise bingung, karna baginya pertemanan antara pria dan wanita itu ada. Seperti ia dengan Zayn.
"Karna paman menyukai ibu mu? Jadi tak bisa menemui nya karna dia sudah menikah." jawab pria itu berubah menjadi senyuman sendu mengingat cinta pertama nya.
"Wah! Tapi sekarang kan paman juga sudah menikah! Sekarang sudah menyukai istri paman!" ucap Louise pada pria di depan nya.
Pria itu hanya tertawa kecil, ia belum menikah sama sekali dan putra yang ia dapatkan berasal dari pembuahan tanpa hubungan fisik.
Karna ia yang tak bisa menyukai dan menutup hati nya dengan rapat tanpa tau cara membukanya membuat seluruh keluarga nya takut jika ia tak akan memiliki anak untuk meneruskan pewaris. Membuat keluarga berupaya semaksimal mungkin agar ia bisa menyentuh wanita walaupun tak ada hasil.
Hingga ide tersebut di berikan pada nya, memberikan benih nya tanpa hubungan fisik dan melakukan prosedur bayi tabung.
"Kau sangat mirip dengan ibu mu, aku harap kau bisa terus bahagia dan tersenyum." ucap pria itu dan dengan gerak yang ingin pamit pergi terlebih dahulu dengan putra nya.
"Nama paman siapa?" tanya Louise sesaat setelah pria itu beranjak pergi.
"Leonard." ucap pria itu dengan berbalik sedikit dan memberikan senyuman tipis nya.
Louise melihat kasih sayang pria itu terhadap putra nya yang begitu besar saat kedua orang itu beranjak pergi, membuat nya sekilas mengingat sang ayah yang juga begitu menyayangi nya.
"Jadi kangen Papah..." gumam nya yang juga menginginkan kedua orang tua nya.
Setelah ia kembali dan mendatangi pria nya, gadis itu langsung memberikan topi di kepala pria itu, membuat James langsung menoleh dan menatap gadis yang tersenyum cerah di depan nya.
"Kenapa aku di beri topi?" tanya James sembari ingin melepas topi nya.
James terdiam sesaat melihat senyuman gadis itu, ia tak jadi membuka topi nya dan menatap gadis itu dengan wajah tanpa ekspresi nya.
Namun menyimpan rasa gemas dalam hati yang ingin memakan gadis itu sekarang juga namun harus segera ia tahan karna masih berada di tempat umum.
"James, nanti waktu pesta perayaan pengangkatan posisi ku, kau datang?" tanya Louise membuyarkan pikiran pria itu yang sedang ingin memakan dirinya.
"Pesta? Kakak mu yang mengadakan nya?" tanya James langsung beralih.
"Hm, kenapa bisa tau?" tanya Louise lagi pada pria itu.
"Tentu saja." ucap James sembari membuang pandangan nya dan kembali melihat ke depan.
"Kau ikut juga, nanti?" tanya Louise sembari menggoyangkan lengan pria itu.
"Kalau sedang senggang." ucap James dengan nada datar walaupun ia sebenarnya memang akan datang ke pesta gadis itu karna tak ingin milik nya di lirik oleh pria lain.
"Pulang yuk!" ajak Louise saat ia sudah mulai merasa bosan.
"Ke rumah ku! Bukan mansion mu!" ucap Louise lagi karna tau jika pria itu akan membawanya ke mansion megah itu bukan nya ke kediaman nya.
James tak menjawab dan hanya menarik tangan gadis itu menuju mobil nya, sedangkan belanjaan gadis itu di bawa oleh pengawal nya yang mengikuti secara diam-diam.
Selama menuju kembali ke mobil gadis itu bercerita tentang pria yang menjadikan ibu nya sebagai cinta pertama.
James yang awal nya acuh pun kini mulai tak menyukai dan merasa panas saat gadis itu membicarakan pria lain.
Walaupun hanya sebatas rasa kagum namun ia masih saja tak menyukai nya, hingga mereka masuk ke dalam mobil gadis itu masih bercerita tentang hal yang sama tanpa tau jika pria nya saat ini tengah terbakar.
James pun menepikan mobil nya yang tengah berjalan dan berhenti di jalan yang sunyi.
"Kau tak bisa diam?" tanya James penuh penekanan.
"Kenapa sih? Kan aku cuma bilang...
Tapi tampan sekali loh paman yang tadi, walaupun masih lebih tampan Papah ku!" oceh gadis itu tanpa bisa memahami situasi.
"Lalu kau menyukai nya?" tanya James dengan aura yang lain.
"Suka sih, tapi sayang sudah nikah. Padahal aku penasaran mau ku pacarin..." jawab Louise terkekeh yang memang sangat mudah penasaran namun mudah juga untuk membuang.
"Kau suka pada pria dewasa rupa nya?" tanya James lagi dengan senyuman membunuh namun gadis itu masih tak sadar.
"Suka!" jawab Louise dengan mata berbinar nya. Walaupun ia suka namun bukan berarti rasa suka yang sama dengan cinta.
James menatap tajam dan langsung menarik tengkuk gadis itu, ia mulai menautkan bibir nya dengan agresif dan memasukkan lidah nya.
Tak memberi ruang untuk bernafas sama sekali pada gadis itu dan membuat nya melakukan pertukaran saliva yang membuat gadis itu meneguk nya beberapa kali di tengah ciuman panas yang begitu agresif.
Tangan nya mulai membuka seat belt atau sabuk pengaman nya agar ia bisa lebih bergerak leluasa di mobil nya dan bergerak semakin mudah dalam memberikan hukuman nya pada gadis nya.
Louise yang saat itu tengah memakai gaun model sabrina yang hanya sebatas paha nya berwarna cream yang menunjukan bahu dan leher jenjang nya.
Ia mulai dapat merasakan tangan pria itu yang sudah mulai menyelinap masuk ke dalam pakaian yang ia kenakan dan memainkan dada nya dengan halus dan teratur.
James pun melepaskan ciuman nya dan menatap wajah sayu yang tengah mengambil nafas dalam di depan nya akibat ciuman panas nya yang tak memberi rongga udara.
"Ungh!"
Gadis itu mulai bergejolak karna permainan di dada nya yang membuat nya merasakan getaran aneh lagi.
"Aku tak cukup dewasa untuk mu?" bisik pria itu sembari mulai menggelitik dan menghisap leher jenjang di depan nya.
Ia sudah menahan gejolak ini sejak berada di mall, namun gadis di samping nya selalu mengikis kesabaran nya dan membuat nya ingin memberikan hukuman kecil.
"Cu-cukup dewasa..." jawab Louise lirih dengan suara tertahan akan perlakukan pria itu yang membuat nya panas dingin di dalam mobil.
"Cukup dewasa? Berarti aku bagi mu aku belum dewasa?" tanya James sembari menurunkan ciuman nya ke bagian lekuk indah tubuh gadis itu dan memindahkan tangan nya ke area lain.
"James! Stop it!" ucap Louise yang berusaha mencegah tangan yang sedang ingin memasuki nya namun tak bisa karna ia masih murni.
"No, girl! This is your punishment..." jawab James dan menggelitik gadis itu dengan jemari nya.
Louise menggigit bibir nya berusaha menahan gejolak yang di berikan pria itu pada nya. Tangan nya tak bisa lagi menyingkirkan jemari yang sedang bergerak di bawah nya dengan lihat dan sapuan lidah hangat di dada nya.
Ungh!
Gadis itu melepaskan sesuatu sembari meremas rambut pria yang sedang terbenam di dada nya.
James tersenyum saat tubuh gadis itu mulai lemas dan setelah hukuman yang ia berikan. Ia pun mulai beranjak dan menghisap jemari nya menatap gadis yang saat ini sedang bermata sayu di depan nya dengan nafas yang masih terengah-engah dan pakaian yang berantakan.
"Kau manis." ucap pria itu saat merasakan rasa gadis itu yang tertinggal di jemari nya dengan menatap penuh dengan senyuman smirk yang ia miliki
"Kenapa aku selalu merasa aneh saat kau melakukan itu? Tadi itu..." ucap Louise sembari menatap pria di depan nya dan mencoba menyentuh tubuh nya karna penasaran.
"Jangan!" cegah James langsung jika ia melihat gadis itu menyentuh tubuh nya sendiri secara tak sengaja ia takut semakin tak bisa menahan diri nya sendiri.
Aku tak bisa melakukan nya disini dan mengambil nya di dalam mobil.
Batin James karna ia tau gadis itu masih murni dan tak mungkin ia bersikap impulsif di dalam mobil dan di siang bolong.
"Tapi penasaran..." ucap Louise dengan suara yang masih sayu, karna selama ini tangan dan mata nya selalu di tutup dan ikat membuat nya tak tau apa yang di lakukan pria itu.
"Itu hukuman...
Setiap kali kau nakal, aku akan menghukum mu." ucap James memperingatkan gadis itu dan merapikan pakaian yang berantakan karna ulah nya.
"Hukuman nya bikin tenaga habis!" decak Louise dengan telinga memerah saat ia sudah kembali mengumpulkan tenaga nya.
James hanya tersenyum dan kembali melajukan mobil nya, kalau saja ia saat ini berada di mansion nya mungkin gadis itu sudah kehilangan sesuatu yang berharga dari dirinya sekarang.
......................
MW Grup.
Louis membawa sekertaris nya dalam salah satu pertemuan penting nya.
Ia melihat wajah pucat dan lesu serta mimik yang pura-pura kuat dalam menghadapi situasi yang sedang menghimpit nya.
"Kita makan dulu, setelah itu kembali." ucap Louis dingin karna jam yang memang sudah menunjukkan makan malam.
Clara yang awal nya menolak namun akhirnya tetap menyetujui karna Louis yang terus mendesak nya membuat nya tak bisa mengatakan tidak.
Sedangkan pria itu mengajak nya makan malam bersama untuk semakin merusak nama baik gadis manis itu.
Dan membuat opini publik semakin menatap rendah gadis yang berada di sebelah nya.
......................
Apart Greelef.
Clara yang sudah kembali ke apart nya semakin merasa tak enak pada perut nya.
Ia sudah beberapa hari belakangan merasakan hal yang tak nyaman pada dirinya sendiri.
Hoek!
Gadis itu dengan cepat berlari ke kamar mandi nya dan memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke perut nya ke wastafel bersih tersebut.
"Jangan sakit..." ucap lirih karna ia tak ingin sakit saat berada dalam situasi yang menyudutkan nya dan memberikan rumor tak jelas yang begitu menyakiti nya.
Clara pun membasuh wajah nya dan berkumur-kumur setelah nya, ia tak tau kenapa ia sangat mudah lelah dan sering mual atau pun muntah dalam beberapa hari terakhir.
Setelah ia membersihkan diri nya gadis itu mulai beranjak tidur dan berharap jika semua ini hanyalah mimpi buruk.
"Ku mohon...
Saat aku bangun semua akan hilang kan? Ini hanya mimpi buruk..." gumam Clara sembari menutup diri nya di dalam selimut dan menangis di dalam nya hingga ia tertidur.