
Gadis itu terbelalak mendengar hal itu. Tubuhnya mulai gemetar merasakan setiap aliran rasa takut mengalir ke tubuh nya.
"Lepas! Dasar Brengsek!" ucap Clara dengan suara gemetar nya tangan nya sudah sangat dingin karna rasa takut akan apa yang terjadi pada nya saat ini.
Ukh!
Tangan kekar itu langsung mencengkram rahang dengan kuat membuatnya langsung meringis menatap pria di hadapan nya.
"Brengsek? Mau ku tunjukkan seberapa brengsek nya aku?" tanya Louis sembari terus mencengkram rahang wanita yang ada di hadapan nya.
"Aku sudah tau! Jadi kau tak perlu lakukan apapun!" jawab Clara dengan mata nya yang mulai berkaca.
Tubuh nya semakin gemetar saat pria di hadapan tersenyum dengan wajah yang sulit diartikan.
Plak!
Tangan gadis itu mulai menampar pria di depan nya, ia langsung berusaha menepis dan ingin keluar dari kamar hotel tersebut secepat mungkin. Ia sendiri bahkan tidak tau dari mana datang nya keberanian sampai ia bisa menampar pria tampan itu. Yang ada dipikiran nya hanya cara agar bisa kabur dan tak merasakan hinaan mengerikan itu lagi.
"Auch!" pekik gadis itu saat rambut panjang nya yang tergerai ditarik begitu saja oleh atasan nya.
Louis tak berniat menarik rambut sekretaris nya, ia ingin menggapai tangan gadis itu namun malah rambut panjang nya lah yang terjerat.
Tubuh gadis itu semakin gemetar, rasanya ia ingat dengan jelas semua rasa sakit dan penghinaan yang ia alami saat itu.
"Lepas?! Aku salah apa?! Berhenti?!" teriak gadis itu sembari berusaha melepaskan dirinya yang semakin terjerat oleh atasan nya.
Sregg...
Rasa takut kini semakin menjalar saat kemeja sifon berwarna cream milik nya mulai tersobek begitu saja karna tarikan kasar dari pria yang sedang memilki perasaan buruk itu.
Buk!
Louis langsung menarik tangan sekretaris nya dan menghempaskan nya ke ranjang di kamar hotel itu begitu saja.
"Brengsek! Lepas!"
Hummphh...
Kata umpatan dan makian terus di keluarkan gadis manis itu di dalam hati nya. Bibir nya terbungkam oleh ciuman yang sangat tak ia inginkan.
Tangan nya yang sedari berusaha mendorong tubuh kekar pria yang sedang menindihnya semakin di cengkram kuat hingga tak bisa ia gerakkan.
Louis tak mengerti alasan ia marah, namun saat ini ia seperti memiliki perasaan yang ia sendiri sulit gambarkan.
Jangan...
Hentikan...
Ku mohon...
Batin gadis itu yang mulai melelehkan air matanya saat tubuhnya semakin terkunci, tangan yang sudah menjalar keseluruh bagian sensitif tubuhnya membuat nya semakin merasakan takut.
Auch!
Ringis gadis itu saat tubuh atasan nya mulai memasukinya lagi, tangisan nya semakin tumpah saat ia sadar jika ia sudah mengalami rasa sakit yang sama seperti sebelum nya.
"Be-berhenti...
Sakit..." mohon gadis itu lirih dengan lelehan air mata nya, seluruh tubuh nya merasakan sakit di setiap gerakan liar pria yang sedang menguasainya.
Ciuman dan tangan pria tampan itu yang terus menerus menjalar di tubuh nya membuat gadis manis itu semakin menangis. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan kecuali menangis.
Tenaga nya terasa habis terkuras, rasa sakit memenuhi dirinya sekali lagi. Lelehan bulir bening yang semakin terjatuh dari manik bening nya yang menandakan betapa sakit nya yang ia alami.
Pukul 06.45 PM
Louis melihat gadis yang baru saja nodai sekali lagi berada diatas ranjang milik nya di kamar hotel itu. Terlihat jelas tubuh gadis itu yang penuh dengan lebam kebiruan dan juga bekas kepemilikan yang tinggal.
Clara pun membelakangi pria yang sudah memaksa nya lagi, tangan nya meremas selimut tebal yang menutup tubuh polos nya.
Ia gemetar dalam tangis nya, rasa nya benar-benar sakit, tak hanya melukai fisik nya pria itu bahkan melukai hatinya juga dengan menodai nya berkali-kali.
Louis pun bangun dan dengan santai nya ia mengambil pakaian nya lalu memakai nya. Ia harus segera bersiap karna sebentar lagi adalah keberangkatan pesawat nya.
Sebelum membersihkan dirinya pria tampan itu mengambil sejumlah cek milik nya dan melemparkan pada sekretaris nya yang masih menangis dan berusaha menutup dirinya dengan selimut.
"Itu bayaran mu! Jangan lupa minum pil KB nya, aku tak suka pakai pengaman!" ucap Louis dan langsung pergi mandi meninggalkan gadis itu.
Clara semakin menjatuhkan bulir bening nya saat ia merasakan kertas yang memiliki nominal cukup besar itu dilemparkan padanya. Setelah apa yang terjadi padanya.
Perasaan yang benar-benar merasa terhina semakin ia rasakan saat ia di perlakukan seperti pel*cur. Merasa jijik dan kotor di saat bersamaan.
Louis pun yang setelah mandi masih melihat gadis itu tenggelam dalam tangis nya, ia tidur membelakangi pria itu sembari menyembunyikan setiap lelehan bulir bening yang ia keluarkan.
Hati dan tubuhnya benar-benar terasa sakit, rasanya ia benar-benar tak memiliki tenaga yang tersisa di tubuh cantik nya.
"Kau tak bisa berhenti menangis?! Hanya seperti itu saja sangat berlebihan! Padahal juga bukan yang pertama!" ucap Louis saat melihat gadis itu sama sekali belum beranjak dari tempat tidur itu.
Clara pun mulai bangun dan menatap tajam pria yang tak punya hati itu.
"Dasar brengsek! Kau...
Aku harap kau akan merasakan yang lebih buruk lagi!" maki gadis itu dalam tangis nya sembari memegang erat selimut yang menutup tubuh polos nya.
"Aku pria, dan aku lebih kuat...
Jadi aku tak akan merasakan nya." jawab Louis enteng sembari menatap wajah sembab gadis di hadapan nya.
"Kau punya adik wanita kan?" tanya Clara dengan tersenyum getir di tengah lelehan air mata nya. Ia bukannya ingin menyumpahi saudari kembar atasan nya, namun ia ingin pria itu juga setidaknya memiliki kesadaran sedikit saja agar pria itu tau kesalahan nya.
"Sudah ku bilang jangan bawa adik ku, kan?" tanya Louis dengan langsung mengubah ekspresinya.
"Kenapa? Kau takut? Kau takut adik mu akan terkena imbas dari perbua-"
Plak!!
Ucapan gadis itu langsung terpotong saat ia merasakan pukulan perih dan panas di pipi putih nya.
Auch!
Pekik nya sekali lagi saat ia mulai merasakan tarikan kasar di rambut panjang nya.
"Sudah ku bilang jangan bawa adik ku, kan?! Hm? Jaga mulut mu dengan baik atau kau yang akan semakin menderita!" ancam Louis pada gadis malang itu sembari melepaskan jambakan nya dengan kasar.
Ia tak bisa menahan dirinya saat seseorang berkata seperti sedang mengutuk adik nakal kesayangan nya itu. Seberengsek apapun dia, ia tak pernah ingin adik nya mengalami hari-hari yang mengerikan.
"Brengsek! Aku tak butuh uang mu! Dasar Iblis!" maki Clara yang terisak dalam tangis nya sembari menyobek dan melempar cek itu pada pria yang tak punya hati di hadapan nya.
"Terserah mu mau terima atau tidak, yang penting aku sudah membayar mu...
Bersikap baik lah selama 10 tahun kedepan sampai perjanjian itu berakhir!" ucap Louis sembari mencengkram dagu gadis cantik itu.
"Brengsek!" maki Clara saat ia di ingatkan lagi dengan perjanjian iblis yang merenggut hidup nya.
Louis hanya tersenyum saat sudah melihat sekretaris nya yang mengerti posisinya saat ini.
"Bangun dan mandi! Kita akan berangkat sebentar lagi! Kalau kau mau tetap seperti itu aku mungkin akan..."
Sregg....
Dengan satu tarikan kuat darinya, lelaki itu langsung menarik selimut tebal yang menutup tubuh polos gadis manis itu.
Clara pun langsung gelagapan dan berusaha menarik kembali selimut tebal itu untuk menutup tubuh polos nya sekali lagi.
"Kenapa? Kau malu? Padahal aku sudah lihat semua nya." tanya Louis dengan senyuman seperti sedang menertawakan gadis yang sedang berusaha menutup tubuh nya.
Clara tak bisa berkata apapun lagi, rasanya untuk mengatakan apapun saja saat ini itu juga semakin menyakiti dirinya.
Hatinya terus mengutuk dan menyumpahi pria tampan itu agar bisa menderita seperti yang ia rasakan saat ini.
Ia mulai bangun perlahan walaupun tubuh nya terasa sakit sesakit hatinya yang seperti di gulung dan cincang lalu di perasan jeruk nipis.
Sesakit itu lah yang gadis cantik itu rasakan.
"Cepat sedikit! Jangan lambat!" perintah Louis saat melihat gadis itu yang berjalan tertatih ke kamar mandi karna masih merasakan sakit akibat dari pemerk*saan yang ia lakukan.
......................
13 jam kemudian.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya pria tampan itu dan sekretarisnya sudah sampai ke negara asal mereka.
"Naik dengan mobil berbeda." ucap Louis saat mobil yang menjemput mereka di bandara sudah datang.
Siapa juga yang ingin dengan mu!
batin gadis manis itu menatap benci ke arah pria tampan di hadapan nya.
Louis pun langsung meninggalkan gadis itu lebih dulu dan masuk kedalam mobil nya ia langsung menuju ke kediaman nya dan ingin segera menemui adik nakal nya yang sudah ia tak ia temui selama hampir satu minggu lebih.
Tak lama setelah mobil pria tampan itu pergi, mobil yang menjemput gadis itu pun sampai dan segera mengantarkan nya ke apart yang ia tinggali.
Bagi Clara ini adalah waktu berpergian di dalam hidup nya. Hanya sembilan hari namun sudah benar-benar menghancurkan lebur harga dirinya, kehormatan nya, dan setiap relung jiwa yang ia miliki.
Gadis itu meneteskan kembali air matanya saat ia mengingat semua perbuatan bejat atasan nya yang di lakukan pada dirinya.
......................
Kediaman Rai.
Pria tampan itu pun kembali ke kediaman megah nya lagi, kaki nya langsung menuju mencari kemana perginya adik nakal kembaran nya itu.
"Sial! Aku khawatir setengah mati!" umpat Louis saat melihat sang adik yang sedang memakai masker dan menutup mata nya dengan mentimun dingin.
"Auch!" pekik gadis cantik saat ia merasakan telinga nya yang hampir lepas karna jeweran sang kakak.
"Louis? Udah balik?" tanya Louise saat masker mentimun di matanya dan masker siap pakai di wajahnya lepas.
"Kenapa gak jawab telpon nya?! Hm?! Clubing lagi iya?!" ucap Louis sembari terus menjewer telinga adik nya.
"Aduh! Sakit! Enggak kok! Ih!" bantah Louise sembari berusaha melepaskan jeweran sang kakak.
"Kakak...
Kangen..." ucap gadis itu sembari menghamburkan pelukan nya pada sang kakak. Ia tau kapan keberangkatan kakak nya kembali dan sudah lebih dulu menutup semua bekas kepemilikan di leher jenjang nya dengan keterampilan make up nya.
"Tumben, manggil kakak..." ucap Louis pada sang adik dan mulai membalas pelukan adik nya, ia menepuk dengan lembut punggung kembaran nya yang selalu buat onar itu.
Louise tak menjawab dan semakin memeluk sang kakak, ia ingin sekali mengatakan apa yang terjadi pada nya selama sembilan hari terakhir, namun rasanya lidah nya begitu kelu untuk mengatakan hal memalukan itu.
"Nih kalau kelakuan nya kayak begini, biasanya ada mau nya nih..." ucap Louis lagi sembari terus menepuk lembut punggung adik nya.
"Iyah! Oleh-oleh ku mana?" jawab Louise dari dalam pelukan kakak nya.
"Kan bener...
Baik nya kalau ada mau aja..." jawab Louis pada adik nya.
Selang beberapa menit gadis cantik itu tetap tak melepaskan pelukan nya, ia dengan nyaman memeluk pria tampan itu semakin erat, hingga tanpa sadar melepaskan tangis nya.
"Louise? Kau menangis?" tanya Louis saat mendengar lirih tangis adik nya.
"Gak apa-apa...
Kangen aja..." jawab gadis cantik itu berbohong sembari menghapus air mata nya.
"Kangen? Kau sedang bohong yah? Louise!" ucap Louis lagi sembari berusaha membuat wajah sang adik mengandah pada nya.
"Enggak! Kau sih! Pulang nya kelamaan!" bantah Louise dan ikut membentak sang kakak.
"Aku juga gak mau pulang nya lama...
Siapa juga yang mau pergi lama sih?" ucap pria itu pada adik nya.
"Tapi lama sekali..." ucap Louise sembari mulai menutup wajah nya karna tangis nya.
Louis bingung melihat adik nya yang tiba-tiba berubah menjadi begitu emosional padahal baru ia tinggalkan tak sampai dua minggu. Gadis pemberontak itu entah kenapa mudah sekali menangis saat ini.
"Sstt...
Iya...
Maaf yah, udah jangan nangis lagi...
Tadi kakak udah beli kalung sama jam tangan yang Louise mau kemarin..." ucap Louis dengan nada selembut mungkin agar adik nya berhenti menangis.
Sebelum ia pergi ke London adik nya sudah meminta nya untuk membeli perhiasan yang ia inginkan, perhiasan yang baru saja di keluarkan dan merupakan produk terbaru dari merek ternama itu.
Saat ini satu-satu nya orang yang bisa membuatnya mengeluarkan sisi lembutnya hanya sang adik. Selain kembarannya si gadis cantik pembuat onar itu, tak ada yang bisa membuat nya luluh.
"Tapi kenapa lama? Aku sendiri kak...
Takut...
Tau gak kemarin aku-" ucap gadis itu lirih dalam tangis nya dan hampir mengatakan apa yang terjadi pada nya.
Louis pun langsung melihat dan menatap sang adik dengan lekat.
"Kenapa? Kemarin kenapa?" tanya Louis sembari menatap menyelidik ke adik nya.
"Kemarin hujan...
Terus banyak guntur nya...
A-aku sendirian..." jawab Louise terbata, ia hampir saja mengatakan hal yang tak seharusnya.
Louis masih menatap sang adik yang terlihat sangat gugup itu.
"Takut...
Banyak guntur kemarin...
Su-suara nya bikin terkejut..." cicit Louise lagi pada sang kakak.
Melihat adik nya yang benar-benar terlihat takut pria itu pun memeluk sang adik lagi.
"Sstt...
Nanti aku perginya gak bakal lama-lama yah..." ucap Louis lembut pada gadis itu sembari mengelus rambut halus adiknya.
Niat awal nya ia ingin memarahi adik nakal nya yang sempat hilang kontak selama ia pergi malah berakhir dengan menenangkan gadis itu. Hanya karna aduan dan tangisan saja sudah membuat nya luluh sampai tak bisa lagi memarahi si ratu onar putri dari JBS grup.
Setelah tangis gadis itu reda, Louis pun melepaskan pelukan nya dan mengusap sisa air mata dari adik nya.
"Udah...
Jangan nangis lagi, jelek tau!" ucap Louis pada adik nya.
"Kalau aku jelek! Kau jelek juga lah! Kita kan kembar!" bantah Louise saat mendengar ejekan kakak nya.
"Ih kata siapa kita kembar? Mamah aja dulu bilang ketemu anak di samping kandang kucing kok! Yah ini anak nya!" jawab Louis sembari mencubit pipi adik nya. Ia harus mengganggu gadis nakal itu agar adik nya tak sedih lagi dan malah berganti kesal.
"Kata Papa dia juga ketemu anak di samping kandang kambing! Terus di pungut di jadiin anak deh!" jawab Louise yang sudah ikut kesal, baru saja menangis melepaskan rasa takut nya, sang kakak sudah kembali usil lagi mengejek nya.
"Ini mulut mu semakin menjadi yah..." ucap Louis sembari menangkup pipi adik nya dengan kedua tangan nya hingga membentuk seperti mulut ikan.
"Isshh!!!" decak Louise kesal.
Louise pun tertawa melihat adik nya yang sudah kembali seperti semula.
"Jangan sedih lagi yah...
Setelah ini gak pergi lama lagi kok...
Kalau pun nanti pergi nya lama, kau ikut saja..." ucap Louis sembari mengelus puncak kepala adik nya yang terlihat kesal.
"Loh? Tangan mu kenapa?" tanya Louise saat rasa kesal nya mulai turun mendengar ucapan sang kakak dan elusan lembut di puncak kepalanya.
Ia melihat bekas cakaran di tangan sang kakak, bekas yang mirip dengan bekas cakaran yang ia tinggal di tangan pria menyentuhnya secara paksa sebelum nya.
Louis pun langsung melihat bekas cakaran yang di tinggalkan Clara sebagai bentuk pertahanan diri gadis manis itu saat ia menodainya.
"Bukan apa-apa...
Cuma luka biasa karna kurang hati-hati..." jawab Louis beralasan pada adik nya.
"Tapi ini mirip bekas cakaran..." ucap Louise lagi, ia sangat tau karna ia juga membuat bekas yang sama di tangan pria tampan yang selalu membawa pistol itu.
"Cakaran? Cakaran apa? Memang nya siapa sih yang mau cakar aku? Gak sayang tangan lagi apa dia?" tanya Louis pada adik nya.
Louise pun terdiam beberapa saat, ucapan sang kakak cukup masuk akal karna tak mungkin ada yang berani seperti itu pada presdir JBS grup, tanpa ia tau perbuatan kakak nya selama 9 hari terakhir.
"Yaudah…
Sana lihat jam tangan sama kalung nya...
Udah aku letakan di kamar mu..." ucap Louis sembari mengelus puncak kepala adik nya sekali lagi dan mulai beranjak ke kamar nya.
Kamar kedua kembar itu bersebelahan satu sama lain, mereka di pisahkan tidur nya saat mulai beranjak 13 tahun, walaupun Hazel dan juga Alyss yang sudah ingin memisahkan kamar mereka sejak usia 8 tahun.
Namun sangat sulit karna Louise yang takut tidur sendiri dan tetap ke kamar kakak nya atau kadang ke kamar orang tua nya. Membuat Hazel kembali menyatukan kamar mereka lagi, karna setiap kali ingin bermain bersama istrinya selalu di ganggu oleh gadis kecil nya.
......................
5 Hari kemudian.
Louise pun seperti biasa selalu pergi berlatih dengan biola nya sebelum konser nya yang menjelang satu minggu lagi.
Gadis itu menjadi pemain biola handal dan merupakan salah satu publik figur karna memiliki jutaan pengikut dalam sosial media nya.
Saat kaki nya mulai beranjak turun dari pentas yang nanti nya akan ia naiki saat konser, ia di kejutkan oleh beberapa pria bertubuh tegap yang menghadap nya.
"Tuan kami ingin bertemu, saya harap nona bisa ikut dengan baik." ucap seorang pria bertubuh tegap itu.
"Aku gak kenal! Minggir! Gak usah ngalangin jalan orang lain!" jawab Louise ketus pada ketiga pria bertubuh tegap itu.
Ia merasa bingung kenapa di tempat yang biasa ia datangi itu kini seperti tak memiliki keamanan.
Ketiga pria itu pun memberi kode mata dan membawa gadis itu ke salah satu ruangan yang masih berada di gedung besar itu.
"Auch!" pekik gadis itu saat tubuh nya di lempar ke arah pria yang duduk menunggu nya di sofa.
"Dasar pria sialan!" umpat gadis cantik itu saat kedua pria yang menyeret nya secara paksa menjatuhkan tubuh nya.
"Hey babe! Long time no see...
I think I miss you..." suara bariton pria yang memegang dagu gadis cantik itu agar bisa melihat nya.
Deg...
"Ma-mau apa kau disini?!" tanya Louise gugup saat mendengar suara pria yang baginya jahat itu.
"Bertemu dengan My sugar baby..." jawab James enteng pada gadis cantik itu dan ingin mencium bibir mungil itu sekali lagi.
Tak hanya menyenangkan, gadis itu juga membuat nya candu seperti ingin menyentuh lagi dan lagi.
"Lepas! Dasar Brengsek!" maki Louise sembari berusaha mendorong pria yang ingin mengambil ciuman nya secara paksa lagi.
Hummpphh...
Tangan gadis itu berusaha memukul dan mendorong tubuh bidang pria yang sedang memaksa mengambil ciuman nya.
James pun melepaskan ciuman nya sejenak dan melihat ke arah gadis itu yang sangat terkejut. Ia kemudian berdiri dan memberikan kode mata pada bawahan nya.
Pria tampan itu kembali duduk dan menatap ke arah gadis yang ingin segera berlari pergi meninggalkan tempat itu.
"Lepas! Kalian mau mati yah? Nanti aku bilang sama kakak ku!" ucap gadis itu pada kedua pria yang memegang nya. Sedangkan satu pria lain nya mulai memberikan suntikan secara paksa di tangan gadis itu.
James hanya melihat nya dengan santai sembari meminum lemon tea milik nya, ia ingin meminum alkohol namun menahan dirinya agar bisa minum bersama gadis cantik itu nantinya.
Setelah memberikan suntikan ke tangan gadis itu kedua pria itu pun langsung melepaskan nya dan keluar.
"Jangan berpikir untuk kabur, mereka masih berjaga di luar." ucap James enteng sembari menunjuk ke arah pintu.
"Aku bisa melaporkan mu pada pemilik gedung!" ancam gadis itu sembari memegang tangan nya yang baru saja di beri suntikan.
"Benarkah?" tanya James menyeringai, ia baru saja membeli gedung itu agar bisa leluasa berbuat apapun untuk bermain dengan gadis itu.
Louise tersentak saat melihat seringai dari pria tampan itu.
"A-apa yang kau berikan pada ku tadi?!" tanya nya saat ia mulai merasa pusing dan merasa aneh dengan dirinya. Merasa mulai tenang walaupun berada di situasi yang sangat membahayakan.
"Entahlah...
Mungkin..." jawab James yang menggantung kalimat dan semakin tersenyum melihat gadis itu.
"Narkotika?" sambung pria itu lagi dan mulai mendekati ke arah gadis cantik itu sekali lagi.
Deg...
Jantung nya hampir berhenti sejenak, saat mendengar kalimat sambung dari pria tampan itu.
"A-apa yang kau katakan tadi?" tanya Louise terbata sembari melihat ke arah bekas tusukan jarum suntik ditangan nya.
James hanya tersenyum dengan senyuman yang tak bisa diartikan dan mulai mengelus lembut wajah cantik gadis di hadapan nya.
"Kau mulai tenang sekarang? Hm?" bisik James di telinga gadis cantik itu.
...****************...
Bonus visual Clara sama Louis yah😘
Olivia Clara
Elouis Steinfeld Rai