
Pria tampan itu tiba di villa sang adik, kaki nya langsung menuju ke arah kamar dimana gadis itu berada.
Ia membuka perlahan pintu kamar tersebut dan melihat gadis manis itu tengah berdiri dan terlihat senyum di bibir nya.
Perawatan psikiater dan pengakuan "Pembebasan" dari pria yang menyandra nya membuat ilusi rantai nya hilang namun masih tak dapat mengembalikan mental nya seperti semula.
"Kau sudah makan? Kaki mu sudah tak sakit lagi?" tanya Louis dengan hati-hati agar tak membuat gadis manis itu terkejut.
Deg...
Clara tersentak dan langsung melihat ke arah suara, ia pun langsung memundur dan melihat takut ke arah pria yang datang pada nya.
"Tu-tuan bilang aku bebas...
Ta-tapi..." cicit Clara lirih dengan takut saat melihat pria yang bagi nya seperti monster.
"Kau bebas...
Aku hanya mau mengantar ini..." jawab Louis sembari memberikan cake yang ia bawa.
Gadis itu terlihat gemetar dan takut pada pria yang membawakan cake untuk nya, setiap Louis satu langkah mendekat ke arah nya ia akan satu langkah memundur menjauhi pria tampan itu.
"Dan karna kau sekarang bebas...
Kau tak perlu memanggil ku tuan lagi..." ucap Louis sembari terus mendekati gadis itu perlahan.
Clara masih diam dengan wajah panik dan takut nya.
"Kau masih ingat kan? Siapa nama mu?" tanya Louis lagi.
"Nama? Nama ku..." jawab gadis itu linglung.
"Clara...
Clara Olivia..." jawab Louis dan sudah berhasil mendekati dan berdiri di depan gadis itu.
"Clara?" gumam gadis itu lirih dengan mata was-was tak berani melihat pria tampan di hadapan nya.
Louis tanpa sadar tersenyum, entah kenapa ia sangat suka jika bisa melihat dan bertemu gadis manis itu.
"Pintar..." ucap Louis sembari mencubit kecil pipi gadis manis itu.
Clara langsung tersentak dan takut seketika tangan nya berusaha mendorong dan menghindari pria di hadapan nya bahkan ia juga memukul nya.
Plak!!
"Pergi! Pergi! Hua....
Maaf..." tangis gadis itu histeris karna masih takut dengan segala kontak fisik pada pria yang menodai nya berkali-kali.
Clara pun memundurkan lagi langkah nya dan bersembunyi di balik ranjang, gadis itu benar-benar terlihat takut hingga menutup mata dan telinganya kemudian terus menerus memohon maaf.
"Maaf..." ucap Louis lirih saat melihat gadis itu ketakutan pada nya.
Kaki nya terkunci dan membatu beberapa saat, ia tak pernah ingin sampai jadi seperti ini, namun gadis itu sudah benar-benar hancur.
"Louis?! Apa yang kau lakukan disini?!" teriak seorang gadis dengan suara yang sangat ia kenal.
Louis menoleh dan melihat adik nya yang datang dari pintu. Louise yang baru saja kembali begitu terkejut melihat mobil sang kakak dan benar saja pria tampan itu kembali menemui sekretaris nya lagi.
Louise pun langsung berlari dan mendekati gadis malang itu. Ia berusaha menenangkan nya setelah shock karna bertemu dengan pria yang sudah menyakitinya.
"Bohong! Kau bohong! Kau bilang dia tak akan datang! Bohong! Huhuhu..." tangis Clara sembari berusaha mendorong gadis cantik itu.
"Keluar!" ucap Louise pada sang kakak dengan menatap tajam ke arah nya.
Tatapan yang penuh akan rasa marah dan kecewa sekaligus.
Louis terdiam, ia mulai menyadari perbuatan nya selama satu bulan tersebut. Tapi pria itu bahkan tak tau di mana letak akar permasalahan nya.
"Sstt...
Tenang yah...
Lihat? Dia tak menyakitimu kan? Kau akan baik-baik saja..." ucap Louise dengan selembut mungkin dan mencoba memeluk gadis manis itu.
Clara tak lagi menolak nya dan membalas pelukan gadis itu, walaupun mental nya sudah tak lagi sama namun ia masih bisa merasa aman saat gadis cantik dengan nya, ia bahkan sedikit timbul kepercayaan pada Louise maka dari itu ia bisa mengatakan gadis cantik itu sebagai "pembohong" saat ia melihat pria yang menodai nya.
"Aku takut...
Di-dia datang..." cicit Clara pada Louise karna baginya gadis itu yang paling aman untuk nya.
"Sstt...
Tidak apa-apa...
Tenanglah..." jawab Louise sembari terus menangkan gadis manis itu.
...
Louis hanya berdiri di balik pintu kamar tersebut, ia mengacak rambut nya dengan frustasi hingga suara pintu terbuka menyadarkan nya.
"Kenapa masih disini? Kau tak pergi?" tanya Louise dingin pada sang kakak setelah cukup lama ia menangkan gadis itu.
"Pulang...
Kau bisa kembali dengan ku, kan?" tanya Louis sembari memegang tangan adik nya.
"Lalu dia? Bahkan kalau dia sudah membaik aku tak mau pulang!" jawab Louise ketus pada sang kakak.
"Bawa di ke rumah utama! Aku bisa membantu mengurus nya!" jawab Louis pada adik nya. Ia ingin membawa adik kesayangan nya dan gadis yang perlahan mulai mengisi ruang hati nya kembali ke kediaman mereka.
"Jangan gila Louis! Kau tak sadar?! Kau itu pelaku kejahatan nya dan dia korban kejahatan mu! Kalau kalian tinggal bersama sembuh tidak makin gila dia!" jawab Louise emosi pada kakak nya.
sebagai wanita tentu nya ia pasti lebih memahami gadis malang itu dibandingkan sang kakak.
"Lalu aku harus apa?!" tanya Louis frustasi.
"Entahlah...
Kau bisa cari cara agar dia memaafkan mu...
Kalau mau menemui nya bisa saja tapi jangan terlalu sering dan...
Jangan coba menyentuh nya lagi!" jawab Louise pada sang kakak.
Gadis itu pun pergi berlalu, ia ingin mengambil makanan untuk Clara yang sudah mulai tenang di kamar nya.
Louis mengikuti langkah kaki adik nya, dan menatap punggung sang adik yang sedang menyiapkan makanan ringan siap saji seperti cake dan coklat.
"Pria yang melecehkan mu, pacar baru mu kan? Apa dia juga yang menyakiti mu?" tanya Louis tiba-tiba pada sang adik. Firasat sebagai seorang kakak tentu saja sangat kuat bagi nya.
Deg...
Tangan gadis itu berhenti sejenak meletakkan permen-permen coklat ke mangkuk kecil. Ia terkejut namun sebisa mungkin mengatur ekspresi nya lagi.
"Bukan! Bukan dia!" sanggah Louise pada sang kakak yang tak sadar jika ia seperti tak ingin agar sang kakak menghalangi hubungan nya.
"Jangan bohong...
Aku mengenal diri mu lebih baik dari yang kau bayangkan..." jawab Louis pada adik nya.
Pria itu harus menyelesaikan masalah nya satu persatu yang menyangkut orang-orang yang ia pedulikan.
Louise tersenyum tipis mendengar kalimat yang di lontarkan sang kakak pada nya.
"Kau sangat mengenal ku, tapi aku bahkan tak mengenalimu..." jawab nya tersenyum getir.
"Harus ku akui sebagai seorang kakak kau sangat baik, tapi kalau sebagai pria kau sangat brengsek!" sambung gadis itu.
"Louise jangan lari dari pembicaraan!" ucap Louis berusaha menahan diri nya agar tak membentak adik nya.
"Hm...
Dia yang melakukan nya...
Tapi bukan kah itu bagus, aku jadi tak takut dengan sentuhan lagi dan ingatan ku yang di hapus juga kembali lagi..." jawab Louise pada sang kakak.
"Dia bukan pria biasa...
Jangan terlalu dekat dengan nya! Dan lagi dia juga yang memberi mu narkotika dan memukul mu?" tanya Louis pada sang adik.
Louise terdiam jika ia menjawab Iya maka sang kakak sudah di pastikan akan mencari cara menghalangi hubungan nya sebisa mungkin.
Selain kesepakatan yang ia buat, ia juga tak mau menjauh dari pria yang sudah ia tau akan dapat membahayakan nya setiap saat.
"Bukan! Dia yang membantu ku..." jawab Louise berbohong namun memberikan mata percaya diri.
"Lalu siapa yang melakukan nya? Mana orang nya?" tanya Louis lagi mendesak sang adik.
"Entahlah...
Dia yang mengurus nya, mungkin sudah tidak ada..." jawab Louise lirih sembari memikirkan pria yang di tembak mati James di depan mata nya.
"Sudah tidak ada? Maksud mu?" tanya Louis bingung.
"Mungkin dia sudah di pukuli sampai mati oleh nya!" jawab Louise tak sabar dan mengambil nampan berisi mangkuk makanan ringan dan melewati sang kakak.
Louis terdiam, mata adik nya memberikan rasa yang jujur namun tetap ganjal sehingga membuat kepala nya semakin sakit. Namun ia setidak nya tau jika adik nya akan baik-baik saja untuk saat ini.
......................
3 Bulan kemudian.
Perkembangan psikis gadis manis itu semakin membaik, bahkan ia sudah mulai berbicara pada adik dari pria yang sudah merusak nya.
"Makan di luar?" jawab Clara lirih, sesuai saran dari dokter psikiater nya Louise mulai mengajak gadis itu keluar.
"Iyah! Sini ku ikatkan rambut mu..." ucap Louise pada gadis manis itu.
Setelah mengikat rambut nya dan memakaikan lipstick di bibir gadis itu Louise pun membawa nya keluar.
Clara sendiri sudah mulai membaik, pria yang ia benci terus mendatangi nya dengan memberi satu buket bunga setiap hari nya.
Louis menutup wajah nya dengan buket bunga tersebut dan memberikan nya setelah itu pergi, ia ingin perlahan mendekati gadis itu agar tak takut pada nya lagi.
Sedangkan akal gadis itu mulai kembali, walaupun di bantu dengan beberapa hipnotis yang menghapus dan memodifikasi ingatan nya, hal itu di lakukan agar gadis manis itu tak benar-benar sampai gila.
...
Ice & Cake shop
Louise membawa gadis itu ke toko kue dan es krim yang ia sukai, sedangkan saudara kembar nya selalu ingin mengikuti kemana adik dan gadis yang ia inginkan pergi.
Dia datang lagi?
Gumam Clara kesal melihat pria yang mendatangi nya. Walaupun ingatan nya akan menjadi budak nafsu dan peliharaan pria tampan itu mengabur namun karna hipnotis namun rasa benci nya membuncah dan semakin besar.
Hipnotis yang mengaburkan ingatan gadis itu adalah usul dari Louis yang ingin agar gadis itu tak takut lagi dengan nya, tak apa jika di benci seperti sebelum nya, namun ia tak ingin gadis itu histeris setiap kali menemui nya.
Clara menatap dengan wajah tak suka nya keluar dari cafe cake dan ice cream tersebut saat Louise mengambilkan minuman untuk nya.
"Kau keluar? Aku bawa bunga untuk mu." ucap Louis mendatangi gadis itu.
Clara pun mengambil nya dan membanting nya dengan kuat.
"Aku tak butuh bunga mu! Pria brengsek!" ucap Clara pada pria itu.
Senyuman Louis mengembang, selama beberapa bulan terakhir baru kali ini gadis itu memberikan reaksi selain menangis histeris pada nya.
Dalam ingatan Clara selama satu bulan saat ia di jadikan budak nafsu dan di perlakukan seperti hewan peliharaan oleh pria tampan itu berganti menjadi ia di tugaskan untuk menangani bisnis rumit yang membuat nya bekerja mati-matian.
Walaupun ia tak ingat tentang satu bulan lebih itu namun ia masih ingat saat kesucian nya diambil paksa, dan beberapa kali di nodai dan di lecehkan di beberapa tempat kerja saat bersama presdir nya.
Kebencian juga bertambah dan ia juga menjadi sama seperti Louise yang sebelum nya saat ia mulai membenci sentuhan pria karna ingatan tentang ia yang di jadikan pelampiasan nafsu di hilangkan.
"Kau sudah membaik? Kalau begitu masuk bekerja lagi nanti." jawab Louis dengan senyum mengembang tanpa sadar dan tak sabar menunggu gadis itu bekerja lagi dengan nya.
"Brengsek! Kau masih punya wajah untuk tersenyum?!" tanya Clara dengan tatapan kebencian yang dalam.
"Tentu saja, aku memang tak tau malu dan ingin mendekati mu..." jawab Louis tersenyum sembari membungkukkan tubuh nya agar mensejajarkan wajah nya dengan wajah gadis manis itu.
"Nikmati makanan mu! Jangan lupa datang bekerja minggu depan..." jawab Louis enteng dan berlalu pergi meninggalkan gadis itu.
Clara mengepalkan tangan nya dengan gemetar, entah kenapa kebencian nya bertambah 1000 kali lipat pada pria tampan itu.
"Cla? Maaf..." ucap Louise yang meraih tangan gadis itu.
Ia tak mendengar pembicaraan sang kakak dengan gadis itu namun ia tau bahwa kakak nya baru saja menghampiri dan berbicara dengan gadis itu.
"Tidak apa-apa..." jawab Clara yang tanpa sadar memberikan senyum nya pada gadis manis itu.
Ia bahkan tak sadar dari mana dan sejak kapan ia bisa dekat dengan adik atasan nya yang sebelumnya terasa asing. Namun kini ia seperti memiliki saudari perempuan dan teman sekaligus saat bersama gadis itu.
Louise pun menarik masuk dan membawa gadis itu untuk makan cake yang sudah ia pesan.
"Louise..." panggil Clara lirih saat gadis cantik itu sedang memakan lahap ice cream strawberry di depan nya.
"Hm? Mau coba?" tawar Louise yang menyodorkan sesendok penuh ice cream pada gadis itu.
"Bu-bukan...
Aku mau balik ke apart ku saja..." jawab Clara lirih.
"Kenapa? Louis mengancam mu?!" tanya Louise terkejut pada gadis itu dan berpikiran buruk pada sang kakak.
"Bu-bukan...
Aku merasa merepotkan...
Aku juga tak ingat kenapa kita bisa tinggal bersama..." jawab Clara lirih pada Louise.
Louise terdiam sejenak ia tau jika ingatan tentang satu bulan terburuk gadis itu di hapus dan tentu nya gadis itu juga tak ingat awal mula mereka bisa menjadi teman satu rumah.
"Kemarin pekerjaan mu kan sangat sulit, jadi Louis meminta ku membantu mu..." jawab Louise beralasan pada gadis manis itu.
"Tapi sudah lama sekali...
Kemarin Reno menelpon ku...
Kata nya aku hilang kabar selama 4 bulan lebih..." jawab Clara lirih pada Louise.
Louise terkejut mendengar hal tersebut, ia melewatkan sesuatu yaitu pacar gadis manis itu. Ia memang meminta agar kakak nya mengembalikan ponsel gadis manis itu.
Namun ia lupa jika gadis manis itu memiliki kekasih dan bukan tak mungkin akan menghubunginya lagi.
"Kau kan terlalu sibuk...
Mungkin tak sempat memberi kabar..." jawab Louise gugup.
"Mungkin..." ucap Clara yang tanpa sadar memikirkan perkataan adik atasan nya ada benar nya.
"Maaf..." ucap Louise lirih pada Clara.
"Untuk apa? Kau juga tak punya salah apapun..." jawab Clara pad Louise.
"Untuk kakak ku..." balas Louise lirih.
Clara terdiam, ia benar-benar tak bisa memaafkan pria yang sudah menodai nya berkali-kali itu. Namun ia juga tetap ingin berteman dengan adik nya.
"Kita...
Masih bisa berteman kan? Walaupun aku membenci nya, tapi aku tak membenci mu sama sekali..." ucap Clara pada Louise.
Louise masih diam tak menjawab dan hanya menampilkan sorot mata yang sedih membuat gadis yang memiliki hati lembut itu terenyuh.
"A-aku memiliki kontrak dan kesepakatan dengan nya...
Kau tau kan? Aku tak akan mengatakan apapun yang terjadi..." ucap Clara tanpa sadar, saat ini ia merasa gadis itu adalah teman satu-satunya nya yang memahami kondisi nya.
Louise juga sudah tau perbuatan kakak nya dari awal tragedi malang ini bermula sejak gadis manis itu di hipnotis. Ia bahkan tau tentang perjanjian iblis yang di buat kakak nya.
Gadis itu berulang kali bertengkar dengan sang kakak karna ia ingin agar saudara kembar nya membatalkan perjanjian yang mengikat Clara.
Namun dengan segudang alasan dan perdebatan pria itu tak mau membatalkan perjanjian nya, ia tak mau gadis manis itu pergi dari nya. Hanya kontrak iblis itulah satu-satu cara yang masih bisa mengikat gadis manis itu.
"Maaf...
Aku tak bisa dapatkan kertas perjanjian kalian..." ucap Louise lirih.
"Tidak apa-apa...
Aku hanya mau berteman dengan mu saja...
Boleh kan?" tanya Clara pada gadis itu lagi.
"Tentu saja..." jawab Louise tersenyum tulus.
......................
3 Minggu kemudian
JBS Hospital.
Louis yang sudah melihat kondisi gadis itu semakin membaik membuat nya mendesak agar Clara masuk bekerja lagi dengan nya.
"Sudah saya katakan, saya tidak mau!" ucap Clara sembari berusaha menepis tangan pria yang sedang ingin membawa nya untuk makan siang bersama.
"Aku hanya mengajak mu makan siang, kenapa sampai seperti itu?" tanya Louis yang tam mengerti kebencian gadis manis itu.
"Kenapa anda tiba-tiba berubah baik? Apa lagi yang Presdir inginkan?!" tanya nya dengan nada marah dan tatapan benci pada pria di hadapan nya.
"Aku menginginkan mu...
Dan sepertinya..." ucap Louis menggantung dan mendekati gadis itu selangkah demi selangkah.
Clara terus memundurkan langkah nya hingga membuat nya membentur dinding dan tak bisa mundur lagi, membuat pria di hadapan nya tersenyum simpul dan mengunci tubuh nya yang tak tersudut tembok.
Mata gadis itu terbelalak saat pria di hadapan nya mendekatkan wajah nya, tubuh nya mulai gemetar menahan takut yang luar biasa namun...
"Aku juga menyukai mu...
Jadi kau harus terbiasa mulai sekarang..." bisik Louis di telinga gadis itu dan setelah itu melepaskan kungkungan nya yang menyudutkan gadis itu ke tembok.
Clara membuka mata nya perlahan dengan tubuh yang masih gemetar karna takut.
"Sudah tau alasan nya kan?" tanya Louis tersenyum simpul pada gadis itu.
"Kau tak tau malu? Mengatakan menyukai ku setelah semua yang kau lakukan?!" tanya Clara dengan tatapan tajam yang penuh akan kebencian.
"Aku memang tak tau malu, makanya aku masih bisa mengatakan kalau aku suka pada mu." jawab Louis dan tak menurunkan senyum simpul nya sama sekali.
...****************...
Elouis Steinfeld Rai