(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : You're not my daughter anymore!



4 Hari kemudian.


Apart L'Boneu


"Kau sudah pilih gaun mu tadi?" tanya Louis sembari menyisir rambut panjang gadis itu.


"Su-sudah..." jawab Clara gugup dengan takut pada pria yang saat ini tengah menyisir rambut nya.


Louis melihat bayangan gadis itu dari balik cermin meja rias yang tampak sangat gugup dan takut.


"Teh yang ku berikan sudah kau minum?" tanya Louis pada gadis itu sembari menyisir rambut nya.


"Teh nya a-aneh...


Bau obat...


Perut ku sakit kalau meminumnya..." jawab Clara lirih dengan nada yang begitu takut pada pria itu.


Ukh!


Ringis nya saat rambut nya di tarik kebelakang dengan tiba-tiba hingga membuat nya mengandah ke arah pria itu.


"Kalau ku bilang minum! Kau harus minum!" ucap Louis sembari menarik rambut gadis itu hingga membuat beberapa helai halus itu rontok di tangan nya.


"Ma-maaf..." ucap Clara meringis sembari menahan air mata agar tak jatuh.


Ia pun melepaskan nya dengan kasar dan mengambilkan lagi teh untuk gadis itu. Teh yang sudah ia campur dengan obat penggugur kandungan nya.


Anak apa sih yang di perut nya? Sulit sekali mati nya!


Decak nya kesal karna bayi itu terus bisa bertahan walau ia berusaha memberi sang ibu asupan berbahaya untuk perkembangan janin itu.


Setelah mengambilkan nya ia memaksa gadis itu untuk kembali minum ramuan penggugur itu.


Ia sudah tak bisa lagi melihat hasil tes yang ingin ia lakukan. Ia takut jika mendapati anak itu bukan dari benih nya. Maka dari itu ia mencoba membunuh nya sebelum tes DNA ia lakukan.


Apa aku hentikan saja? Tapi kalau itu bukan anak?! Aku...


Aku tak bisa menerima hal itu...


Pikiran nya berkemcambuk menjadi satu, ia takut jika apa yang di katakan Reno adalah kenyataan dan ia tak akan bisa menghadapi kenyataan itu.


Ia tak bisa menerima jika gadis itu sungguh pernah mengandung benih dari pria lain. Ia tak bisa dan tak akan bisa menghadapi hal itu.


"Aku akan kembali ke rumah ku. Kau baik-baik lah disini," ucap Louis sembari mengecup bibir gadis itu sekilas dan kembali ke kediaman nya.


Clara terdiam ia begitu takut dan gugup sampai isi kepala nya hampir pecah karna tak tau apa yang harus ia lakukan.


"Di-dia pulang...


A-aku kapan pulang nya? Oh iya...


A-aku lupa," gumam nya seperti sedang linglung, "Dia akan jadi suami ku, kan?" sambung nya lagi sembari sesekali mengigit kuku nya sendiri.


......................


2 Hari kemudian.


Rumah Keluarga Clara.


Gadis itu tak tau kenapa orang tua nya menelpon nya dan ingin ia segera kembali. Ia juga bingung kenapa tiba-tiba Louis bisa membiarkan pulang begitu saja tak seperti biasanya yang selalu mencegah nya untuk pulang.


Ia duduk di sofa ruang tengah rumah yang cukup terlihat besar dan berkelas tersebut. Seluruh keluarga nya dari mulai ayah hingga paman dan bibi dari ayah nya merupakan dokter tak terkecuali ibu nya.


Maka dari itu ia juga di haruskan kuliah kedokteran namun karna tak bisa melihat pembedahan membuat nya keluar tanpa sepengetahuan orang tua nya.


"Bagaimana pekerjaan mu?" tanya Daniel selaku ayah dari gadis manis itu.


"Ba-baik, Pah." jawab Clara gugup.


Ayah nya memang selalu terlihat dingin dan kaku, hal itu lah yang membuat nya sedikit kurang dekat dengan sang ayah karna merasa canggung. Tapi ia juga tau ayah nya begitu menyayangi nya.


Setiap ia sakit atau ada yang mengganggu nya pria itu lah yang pertama kali maju dan melindungi putri berharga nya.


"Cla..." ucap Freya selaku ibu Clara yang duduk di sebelah putri nya dan menggenggam erat tangan putri nya.


Situasi mencekam yang ada dalam tatapan sang ayah membuat nya bertanya-tanya namun tak mampu menatap tatapan tajam ayah nya yang terlihat sangat murka.


Ibu nya juga ada di samping nya seperti ingin melindungi putri nya dari kemarahan sang suami.


"Pekerjaan apa yang kau lakukan disana?" tanya Daniel dengan tatapan semakin dingin sembari menatap putri tunggal nya.


"Do-dokter Pah..." ucap nya berbohong karna ia memang memberitau sejak awal jika ia bekerja sebagai dokter dan bukan nya sekertaris utama Presdir.


BRAK!!!


Daniel menggebrak meja di depan nya dengan keras hingga membuat Clara tersentak dan kaget.


"Dokter?! Kau bekerja sebagai dokter atau wanita penghibur disana?!" ucap Daniel dengan begitu murka dan membentak putri nya dengan keras.


"Papah!" ucap Freya sembari memeluk Clara yang mulai menangis terisak.


"Cla gak buat seperti itu Pah...


Itu bohong...


Mereka bohong..." ucap nya tersedu sembari menangis ia merasa orang tua nya sudah mendengar rumor buruk tentang nya.


"Bohong?! Kalau semua orang di dunia ini hanya menggosipkan mu! Aku masih bisa percaya pada ucapan mu dan bukan ucapan tak penting mereka! Tapi ini?!" ucap Daniel sembari melempar ponsel nya di depan gadis itu.


Ia mendapat kiriman video anak gadis yang sedang bergerak dengan sangat liar dan begitu menikmati permainan nya dengan sepenggal kata.


Paman? Anak nya ada di rumah tidak? Mau main lagi. Nanti aku kasih bayaran dobble deh!


Pesan yang tertulis bersamaan dengan video panas itu.


Daniel sendiri hampir mengalami serangan jantung melihat nya namun ia pun tak ingin langsung percaya dan berusaha membuktikan jika video itu editan namun tetap saja hasil nya mengatakan video itu asli.


"I-ini..." ucap Clara dengan tubuh gemetar.


Bukan gosip yang sampai ke orang tua nya tapi malah video panas nya lah yang sampai.


"Pah...


Clara tidak melakukan hal yang hina seperti itu, Pah..." tangis nya dengan pilu dan langsung berlutut di depan sang ayah.


"Kau! Kau..." ucap Daniel tercekat. Suara nya tertahan di tenggorokan nya.


Putri yang selalu ia bangga kan dan ia ajarkan dengan seluruh perhatian nya namun kini malah seperti melempar kotoran ke wajah nya.


"Pah...


Clara anak baik, Pah...


Video nya bohong..." ucap Freya yang ikut memohon sembari memeluk putri nya yang tersedu.


"Kesini! Kita tidak punya anak yang membuat malu keluarga nya seperti itu!" ucap Daniel sembari menarik tangan istri nya dan membawa ke sisi nya.


Freya tertarik dan kini tangan nya di tahan oleh suami nya tak bisa lagi ikut berlutut di samping putri nya yang hanya menangis pilu memohon.


"Kau kurang apa? Ha? Uang? Pekerjaan mu sulit?! Kalau kau butuh uang kau bisa minta dengan ku atau ibu mu! Kau masih putri kami, selagi kami masih mampu kami akan tetap memberi mu uang walaupun kau sudah jadi dokter!" tanya Daniel yang ingin tau alasan putri nya melakukan pekerjaan hina.


"Tapi tidak seperti ini! Tidak melakukan perbuatan menjijikan seperti ini!" sambung Daniel dengan naik pitam pada putri nya.


"Bukan Pah..." ucap Clara menggeleng.


Pikiran nya kosong tak bisa mengatakan apapun dan hanya bisa menangis tersedu. Tangisan yang begitu pilu.


"Lalu apa?! Kenapa kau melakukan nya?!" tanya Daniel lagi pada putri nya yang masih menangis pilu.


"Cla...


Clara di paksa, Pah..." ucap nya sembari menangis segugukan.


Dipaksa??


Orang bodoh pun dapat tau jika di dalam video itu tak ada unsur keterpaksaan sama sekali dan malah gadis itu sangat menikmati nya.


Plak!


Tangan nya bergetar menampar putri tunggal nya. Seumur hidup nya inilah pertama kali nya ia memukul putri nya.


Clara terdiam sejenak dalam tangis nya, ia begitu terkejut saat merasakan pukulan dari ayah nya.


Ayah yang tak pernah sekalipun memukul nya.


Daniel pun terkejut dengan apa yang ia baru lakukan pada putri nya. Ia tak pernah tau akan ada hari dimana ia memukul putri nya saat sedang marah.


"Pah..." ucap Freya melemah terkejut saat melihat suami nya memukul putri nya.


"Kau dipaksa? Kau pikir aku orang bodoh?!" tanya Daniel pada putri nya.


"Kau selalu menjadi kebanggaan ku, pusat hidup ku, dan semangat ku. Aku bahkan masih ingat saat pertama kali menggendong mu ketika kau baru lahir..." sambung nya dengan mata berkaca menatap putri nya.


Kekecewaan yang mendalam begitu ia rasakan. Perasaan gagal sebagai orang tua menyeruak di hati nya saat ia tak bisa mendidik putri nya yang sejak kecil selalu ia ajarkan kebaikan namun saat dewasa malah berubah menjadi seperti yang ia lihat.


"Pah...


Maaf, Pah..." ucap Clara segugukan pada sang ayah yang saat ini tengah duduk di atas sofa di depan nya.


"Clara tidak seperti Pah...


Tidak seperti yang Papah lihat..." sambung nya dengan tangis nya.


"Lalu apa? Coba katakan lagi apa yang ingin kau jelaskan?! Ha?" tanya Daniel pada putri nya.


Tak ada yang boleh mengetahui kejadian ini! Kau lupa kontak mu?! Kau mau melibatkan keluarga mu?


Seketika ancaman yang selalu ia dengar dulu beradu di telinga nya, ia tak bisa menceritakan kronologi pemerk*saan yang ia alami pada orang tua nya.


Perasaan campur aduk, takut, sedih, marah dan putus asa bercampur menjadi satu.


Melihat putri nya yang hanya diam Daniel menghela nafas berat dan panjang nya.


"Keluar! Mulai sekarang kau bukan putri ku lagi! Akan ku anggap Clara Olivia ku sudah mati saat ini! Aku tak punya putri memalukan seperti mu!" Daniel mengusir gadis keluar dari rumah nya.


Hati nya hancur mengatakan hal tersebut namun rasa kecewa nya juga sudah membuncah seperti bendungan sungai yang roboh.


"Pah...


Jangan Pah...


Cla masih anak kita, Pah!" ucap Freya pada suaminya.


"Mamah!" bentak Daniel pada sang istri membuat wanita berparas menenangkan dan lembut itu seketika diam.


"Maaf, Pah..." ucap Clara lagi yang masih memohon pada sang ayah.


"Kau mau keluar sendiri atau aku yang menyeret mu?!" tanya Daniel tegas pada gadis di depan nya.


Clara pun berusaha bangun dan hampir terhuyung saat ia ingin keluar.


Freya yang melihat putri nya hampir jatuh ingin membantu namun Daniel langsung mencegah nya.


Gadis itu keluar dari rumah orang tua nya dengan wajah yang menangis sembab.


Hancur...


Ia sudah rusak dan hancur seutuh nya, ia bahkan tak tau bagaimana ia bisa lebih hancur lagi dari ini.


Maaf, Pah...


Mah...


Clara buat Mamah Papah malu...


Maaf buat Mamah sama Papah Kecewa....


Tangis gadis malang itu sembari keluar dari pintu gerbang rumah nya dan berjalan tertatih keluar dengan tangis nya.


Ia sudah tak tau lagi harus apa, seperti sudah tak memiliki semangat apapun lagi di hidup nya.


Tin!


Suara klakson mobil membuat nya terperangah dan menoleh.


"Masuk!" ucap pria yang dingin itu mengisyaratkan baginya untuk memasuki mobil nya.


Clara melihat ke arah pria yang sudah menghancurkan hidup nya sejadi-jadi nya hingga ia merasa tak mampu lagi untuk berdiri.


"Mau aku menyeret mu, masuk?" tanya Louis dengan nada kesal dan tak sabar.


Gadis yang kini sudah tak memiliki arah hidup nya lagi dan bahkan hampir kehilangan akal nya mulai menurut seperti boneka yang patuh pada tuan nya.


Melihat Clara yang sudah masuk, Louis pun kembali melajukan mobil nya.


Tak ada satupun percakapan diantara kedua orang itu dan hanya menyisahkan suara kecil dari tangisan yang begitu menyayat hati.


"Kau..." ucap Clara dengan suara kecil dan bergumam.


Louis menoleh sekilas saat ia merasa gadis itu seperti sedang berbicara dan kembali melihat ke arah jalan lagi.


"Kau memberi video kita pada orang ku?" tanya nya lirih dengan suara yang hampir tak terdengar.


Louis pun menepikan mobil nya dan menatap ke arah gadis itu guna mendengar lebih jelas apa yang dikatakan nya.


"Apa? Coba ulangi?" tanya pria itu mencoba mencari tau.


"Kau! Kau yang memberikan video itu?!" tanya Clara dengan suara yang lebih besar dengan tangisan nya yang menjadi berbaur menjadi satu.


Louis diam sesaat menatap wajah tangis yang penuh putus asa itu.


"Kenapa langsung menuduhku?" tanya nya dengan wajah tak memiliki rasa bersalah sama sekali.


"Hanya kau yang punya video nya! Kenapa menghancurkan ku sampai seperti ini?!" tanya Clara sembari menangis segugukan.


"Hanya aku? Kau tidak tau kalau pacar kesayangan mu juga punya video kita?" tanya Louis sembari menekan kan kata yang menyindir gadis itu.


Deg...


Cobaan apa lagi ini?


Reno juga memiliki nya?


Jantung gadis itu seakan ingin berhenti sekarang juga mendengar ucapan yang dikatakan oleh pria tampan itu.


"A-apa maksud mu? Reno tau?" tanya nya dengan suara tergagap dan gemetar pada pria itu.


"Dia tau, bahkan orang pertama yang melihat permainan kita adalah diri nya." ucap Louis menyeringai pada gadis itu.


Clara terkejut bukan main mendengar nya, ia tak lagi sanggup berkata-kata begitu mendengar hal yang mengerikan tersebut.


Siapa yang mengirim nya? Reno? Tapi tak mungkin dia! Dia bukan pria seperti itu!


Batin gadis itu tak percaya dan semakin tenggelam dalam tangis nya.


Louis tersenyum simpul melihat tangisan gadis itu, ia mendekat dan menarik wajah yang tengah shock berat itu.


Mengecup mata dan pipi nya lalu menghapus air mata nya dan menghisap bibir basah karna tangis itu sebentar.


"Jangan nakal lagi, dan jadi lah istri yang baik setelah ini..." ucap Louis pada gadis yang seperti tak dapat lagi mendengar nya dan sedang tenggelam dalam keterpurukan nya.


Ia merasa hukuman gadis itu sudah cukup dan ia hanya tinggal menghukum pria yang begitu tak ia sukai.


Sekarang tinggal kau yang harus menderita! Kau tak akan bisa lagi bernafas setelah ini!