
Alyss mulai terbangun sekitar jam 10 malam, ia melihat tangan nya yang di balut perban.
"Loh tangan ku, kenapa?" ucap Alyss lirih, ia pun mulai turun dari ranjang tersebut, ia sama sekali tak melihat Hazel dikamar itu.
Sementara itu....
Hazel yang duduk di salah satu ruangan di kediaman megahnya yang mirip dengan taman kecil di dalam rumah sendiri masih tenggelam dalam pikiran nya, ia memutar ingatan nya kapan ia pernah bertemu Alyss.
"Aku tak pernah bertemu dengan nya sebelumnya...
Tapi kenapa dia bicara seperti kami pernah bertemu?" ucap Hazel lirih.
Kau sungguh kembali hari itu?
Hazel memikirkan kata-kata itu. Ia sepertinya tak pernah membuat janji untuk menyuruh seseorang menunggunya. Kecuali...
"Anak itu! Dulu aku...
Tapi kenapa Alyss bilang begitu? Apa mereka orang yang sama? Jika anak itu masih hidup dia pasti akan memilki usia yang sama dengan Alyss dan wajah mereka juga agak mirip...." ucap Hazel lirih.
"Sial! Apa yang sedang kupikirkan? Jelas-jelas anak itu sudah mati, dan lagi mereka juga memiliki nama yang jelas berbeda!" ucap Hazel yang kesal dengan dirinya sendiri saat ia mulai berpikir bahwa Alyss adalah anak yang ia kenal sebelumnya.
"Hazel?" panggil Alyss yang sedari tadi mencari Hazel.
Hazel pun langsung menoleh ke belakang dan melihat Alyss yang berdiri tak jauh darinya.
"Kau sudah bangun?" tanya Hazel dan mulai bangun serta membawa Alyss untuk ikut duduk dengan nya.
Hazel pun menarik tangan Alyss hingga jatuh ke pangkuan nya saat ia sudah membawa Alyss ke tempat duduk.
"A-aku duduk di sebelah mu saja." ucap Alyss yang berusaha turun dari pangkuan Hazel.
"Aku tak mau kau duduk di sebelah ku, aku mau kau tetap disini!" ucap Hazel sembari menahan pinggang Alyss.
Alyss terdiam beberapa saat, ia pun tak sengaja melihat tangan Hazel yang di perban seperti tangan nya.
"Tangan mu..." ucap Alyss sembari meraih tangan Hazel yang terluka.
"Kau khawatir?" tanya Hazel tersenyum saat melihat wajah Alyss yang menatap tangan nya yang terluka.
"Ti-tidak! Lagi pula aku juga terluka! Lihat!" sanggah Alyss dan langsung menunjukkan tangannya yang terluka.
"Tapi tangan kita kenapa bisa terluka?" tanya Alyss sembari melihat wajah Hazel.
"Jika ku katakan kau mencoba membunuh ku dan aku menahan nya hingga kita sama-sama terluka. Apa kau akan percaya?" tanya Hazel dengan bibir tertarik ke atas sembari memainkan rambut panjang Alyss.
"Aku?!" ucap Alyss terkejut.
"Ka-kalau aku berani, aku sudah mencobanya dari dulu..." ucap Alyss lirih dengan suara yang sangat pelan.
Hazel pun tertawa melihat wajah Alyss, yang terlihat semakin menggemaskan.
"Kalau kau ingin mencoba nya, berarti kau dulu selalu berniat ingin membunuh ku?" tanya Hazel yang masih setengah tertawa.
"Ka-kau kan juga saat menculik ku, bukannya ingin membunuh ku juga? Dan kenapa kau mengalihkan pembicaraan? Aku kan tanya kenapa tangan kita bisa terluka." ucap Alyss gugup.
"Kita terjatuh..." jawab Hazel bohong sembari tangan nya mulai meraba paha Alyss yang sedang duduk di pangkuannya.
"Ja-jangan...." ucap Alyss lirih.
Melihat wajah risau Alysa pun membuat Hazel semakin gemas dan mengigit pipi Alyss, hingga membuat Alyss meringis sakit. Ia mood nya kembali baik lagi saat ia berbicara dengan Alyss, padahal sebelum nya ia masih pusing memikirkan kejadian tadi siang.
"Aduh...
Sa-sakit..." ucap Alyss lirih yang berusaha mendorong kepala Hazel yang sedang menggigit pipi nya.
Hazel pun melepaskan gigitan nya, dan melihat pipi Alyss yang memerah karna ulah nya.
"Kau lapar? Kau belum makan siang atau pun sore tadi." tanya Hazel yang masih sedikit tertawa melihat wajah kesal Alyss.
"Tidak! Aku tidak lapar!" jawab Alyss cepat, ia sebenarnya mulai merasa lapar saat ia bangun, namun karna ia kesal dengan Hazel ia pun mengatakan tidak.
Krukkkk....
Perut Alyss yang berbunyi mengatakan hal yang berbeda dari mulutnya.
"Haisshhh...." ucap Alyss lirih dan langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.
Ia sangat merasa malu, karna perutnya berbunyi setelah ia mengatakan tak lapar.
Hazel semakin terkekeh melihat Alyss yang langsung menutup wajahnya dan melihat telinga yang ikut memerah seperti tomat.
"Mau makan di luar? Hm? Kau belum makan dari siang karna pingsan, jadi wajar kalau lapar. Tak usah malu..." ucap Hazel yang bercampur dengan tawa dan nada yang terus menggoda Alyss sembari berusaha menyingkirkan tangan Alyss yang sedang menutup wajahnya.
"Sana ganti baju mu, setelah itu kita makan diluar." ucap Hazel yang masih setengah tertawa dan melonggarkan pegangan nya agar Alyss bisa beranjak dari pangkuan nya.
Alyss pun dengan cepat langsung lari menjauh dan mengganti pakaian nya, Hazel semakin terkekeh melihat Alyss yang terlihat malu seperti itu.
Tak lama kemudian Alyss pun kembali setelah mengganti pakaiannya, mereka pun segera mencari makanan di luar.
......................
Skip time.
Kediaman Hazel.
Pukul 05.45 PM.
Alyss sedang menelungkupkan tubuhnya di sofa panjang di kediaman Hazel sembari mengelus Bulbul dan mengetik di layar ponselnya. Sesekali ia tersenyum saat melihat layar ponselnya itu.
Hazel yang baru saja kembali dari RS dan melihat Alyss yang tengah sibuk memainkan ponsel nya sembari sesekali tersenyum membuat nya langsung menghampiri Alyss.
"Apa yang kau lihat? Kenapa tersenyum?" tanya Hazel tiba-tiba dan langsung mengagetkan Alyss.
"Eh? Ya ampun, aku terkejut!" ucap Alyss dan langsung bangun duduk di sofa tersebut.
"Oh ini? Aku sudah lama tak bermain di media sosial, jadi aku memposting salah satu foto ku." terang Alyss dengan wajah ceria pada Hazel.
"Foto? Foto dirimu? Lalu kenapa kau tersenyum?" tanya Hazel yang mulai kesal saat mendengat Alyss membagikan fotonya kemedia sosial.
"Teman-teman ku mengomentari foto ku...
Jadi aku membalas komentar mereka..." ucap Alyss lirih ia mulai merasa nada bicara Hazel yang berbeda padanya.
Hazel pun dengan kesal langsung mengambil ponsel Alyss yang sedang di genggam di tangan kecil itu.
Ia membaca beberapa komentar yang mengatakan "cantik" dan beberapa yang komentar yang seperti menggoda Alyss dan Alyss juga membalas beberapa komentar. Ia melihat lagi dan hampir setengahnya yang berkomentar adalah pria disitu.
Hazel pun yang kesal langsung membanting ponsel Alyss dengan kuat hingga langsung rusak dan membuat Alyss langsung tersentak terkejut saat melihat Hazel yang membanting ponselnya.
"Jangan main media sosial lagi!" ucap Hazel dengan menatap tajam ke arah Alyss.
"A-aku kan memang jarang main media sosial...
Dan lagi pengikut nya juga sudah banyak..." ucap Alyss lirih.
Hazel pun semakin geram karna Alyss yang membantah dan bukan nya langsung mengiyakan larangan nya.
"Kau suka menunjukkan diri mu ke semua orang? Dan membalas semua komentar pria? Hm?" tanya Hazel dengan suara lembut namun penuh penekanan terhadap Alyss sembari memegang rahang pipi Alyss hingga membuat wajah kecil itu mengandah padanya.
"Me-mereka teman-teman sekolah ku dulu...
Aku hanya membalas yang aku kenal saja...
Dan lagi kan itu sudah biasa...
A-apa kau tak punya media sosial?" tanya Alyss yang mulai gugup.
Jujur saja belakangan ini ia sudah mulai tak merasa terlalu takut lagi pada Hazel, karna Hazel yang semakin melunak padanya dan semakin jarang memarahi ataupun menghukumnya.
Hazel semakin geram karna Alyss yang semakin membantahnya. Ia pun mulai mencengkram rahang kecil Alyss, hingga membuat Alyss meringis.
"Tentu saja aku punya, tapi itu media sosial untuk bisnis. Dan lagi sepertinya kau semakin hari semakin sering membantah ku? Apa aku perlu mengajari mu lagi untuk menjadi penurut lagi? Hm?" tanya Hazel yang mulai semakin menurunkan tangan nya hingga berhenti di leher putih tersebut.
Wajah Alyss mulai memerah, ia tak bisa bernafas sama sekali saat tangan kekar Hazel sedang melingkar dan mencengkram leher nya dengan kuat, hingga membuat aliran darah nya tersendat.
"Ha-Hazel...
Lepas...." pinta Alyss lirih sembari memukul tangan Hazel yang sedang mencekik lehernya dengan kuat.
"Kau tak akan bermain media sosial lagi? Hm?" tanya Hazel dengan nada penuh penekanan dan semakin kuat mencengkram leher putih itu.
Mata Alyss mulai berair, wajah semakin memerah dan nafas nya terasa semakin habis, ia pun menganggukkan kepala nya perlahan sembari menatap nanar iris Hazel.
Hazel pun tersenyum melihat Alyss yang mengangguk dan melepaskan tangan nya, ia dapat melihat memar kebiruan dan kemerahan di leher putih itu saat ia melepas tangan nya.
Hazel pun mendudukkan dirinya di samping Alyss, ia mengusap rambut Alyss perlahan seperti tak melakukan apapun barusan. Sedangkan Alyss masih terbatuk dan mengambil oksigen sebanyak mungkin saat Hazel melepaskan tangan kekar nya dari lehernya.
"Kalau kau menurut dari awal, aku tak akan marah pada mu..." ucap Hazel sembari terus mengelus rambut Alyss.
"Entah kenapa aku lebih suka saat kau tak bisa mendengar seperti sebelumnya." sambung Hazel dan mulai memainkan rambut Alyss dengan mengulung-gulung rambut panjang itu dengan jarinya.
Alyss pun langsung tertegun mendengar perkataan Hazel barusan, ia pun langsung menoleh kearah Hazel hingga wajah mereka saling berhadapan satu sama lain.
"A-apa yang kau katakan? Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Kau tidak tau rasanya jika tak bisa mendengar apapun, itu sangat menakutkan..." ucap Alyss lirih.
"Tapi aku suka saat kau tak bisa mendengar, seharusnya aku tak membuat mu menjalani semua terapi itu. Untuk mengembalikan pendengaran mu." jawab Hazel.
"Kau menjadi sangat bergantung dan membutuhkan ku, lalu kau juga menjadi sangat penurut. Aku sangat senang saat aku mengurusi mu waktu itu." sambung Hazel sembari menatap lekat wajah Alyss.
"Kenapa kau bilang begitu? Kau tidak tau rasanya dikurung dengan kesunyian seperti itu..." balas Alyss pada Hazel.
"Karna aku sangat mencintaimu, dan aku suka jika kau membutuhkan kan ku ataupun bergantung padaku. Aku ingin kau hanya untukku." jawab Hazel dengan menatap lekat iris Alyss.
"Cinta? Jika kau mencintai ku, seharusnya tak mengatakan hal seperti itu! Kenapa kau ingin aku cacat jika kau mencintaiku?" bantah Alyss.
"Karna jika kau cacat kau akan selalu membutuhkan ku. Dan kau semakin tak bisa lepas dari ku." jawab Hazel
"Apa aku harus membuatmu seperti waktu itu lagi?" tanya Hazel lirih dan mulai memegang telinga Alyss.
"Ti-tidak! Itu sangat menakutkan!" Jawab Alyss cepat.
"Lalu bagaimana dengan mata? Jika kau tak bisa melihat kau akan membutuhkan ku lagi kan?" tanya Hazel sembari mulai menyentuh dan mengelus pelan alis dan kelopak mata Alyss.
"Apa yang kau katakan?" tanya Alyss mulai takut, ia bisa melihat dari wajah Hazel yang mengatakan hal tersebut dengan sungguh-sungguh dan tak hanya sekedar mengancam nya.
"A-aku tetap membutuhkan mu! Kau lagi pula tau kan, jika aku tak akan bisa pergi dari mu?" ucap Alyss dan mulai menangkap tangan Hazel yang sedang mengelus area di dekat matanya dan langsung menggenggam tangan kekar itu.
"Benarkah? Kau sudah menyukai ku sekarang?" tanya Hazel yang mulai tersenyum.
"A-aku..." jawab Alyss lirih, ia masih tak tau perasaan apa yang ia miliki untuk Hazel saat ini.
"Kenapa? Kau tak bisa menyukaiku?" tanya Hazel dengan langsung mengubah ekpresi wajah nya.
Alyss bingung harus menjawab apa, kenapa awalnya yang hanya masalah media sosial bisa sampai merembet ke masalah lain.
"Jika aku merusak retina mata mu, kau tak akan bisa melihat lagi kan?" tanya Hazel lagi dan langsung membuat Alyss terbelalak.
Hazel pun langsung bangun dan menarik tangan Alyss dengan kasar.
"Hazel, tunggu! Kau sungguhan? Aku punya nyctophobia!" ucap Alyss saat Hazel menyeret nya dan hendak membawa nya keruang putih.
NB Ket : Nyctophobia adalah phobia yang takut kegelapan.
"Kau akan terbiasa nanti." jawab Hazel enteng sembari terus menarik tangan Alyss.
"Aku menyukai mu! A-aku sangat menyukaimu! Ja-jadi jangan membawa ku sana..." ucap Alyss dengan impulsif, ia tau Hazel saat ini tak hanya sedang mengancam nya dan akan benar-benar melakukan apa yang ia inginkan.
Hazel pun menghentikan langkah dan berbalik melihat kearah Alyss. Ia mulai tersenyum dan mencium bibir tipis Alyss. Sedangkan Alyss masih berdiri dengan tubuh yang mulai gemetar dan membiarkan Hazel yang tengah m*l*m*t bibirnya.
"Cinta nya benar-benar...
Dia tak bisa di tebak sama sekali..." batin Alyss saat Hazel mencium nya semakin dalam.
Alysscalla Zalea
Hazel Rai
...****************...
Hai....
Jangan lupa like, komen, fav, vote, rate 5 dan dukung othor selalu yah😉😉😉
Buat kalian yang selalu dukung othor, othor ucapan makasih yah🥰🥰🥰
Oh iya, othor mau tanya, kalian suka ga sama sisi Alyss yang lain? Sisi terpendam nya...
Happy Reading❤️❤️❤️