(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Wanna play a game with me?



Alyss merebahkan tubuh nya ke atas ranjang hotel di kamar suite yang mereka gunakan sebagai tempat istirahat selama bulan madu mereka.


Pelayaran kapal mereka selama dua hari telah selesai kini Alyss ingin mengunjungi tempat yang ia tandai saat ia masih kuliah dulu, ia tak pernah tau jika tempat yang ingin ia kunjungi akan ia kunjungi bersama pria yang menjadi suaminya sekarang.


"Kau mau pesan makanan?" tanya Hazel pada Alyss yang melihat tempat yang akan mereka kunjungi besok dari layar ponselnya.


"Hm, yang sama dengan mu saja." jawab Alyss sembari melihat layar ponselnya.


Hazel pun memesan beberapa makanan yang ingin ia makan bersama Alyss pada staf hotel.


"Hazel...


Es krim yang tadi di beli mana?" tanya Alyss sembari bangun dan mencari keberadaan es krim kesukaan nya.


"Lemari es..." jawab Hazel singkat lalu berjalan ke arah Alyss.


"Kau mau?" tawar Alyss pada Hazel saat ia menyendok kan sesuap besar es krim coklat ke mulutnya.


Hazel pun ikut duduk di kursi yang berada di samping Alyss. Kamar Suite hotel tersebut di lengkapi fasilitas lengkap seperti tempat makan mini dengan meja dan kursi makan juga.


"Kalau mau memakan mu saja boleh tidak?" tanya Hazel sembari tersenyum licik.


"Mana kenyang jika hanya memakan ku..." jawab Alyss sembari terus memakan es krim nya.


"Karna aku belum kenyang, makanya aku harus memakan mu terus." ucap Hazel menimpali jawaban Alyss.


Alyss pun berhenti memakan es krim dan tertawa kecil, bukan tawa karna merasa malu ataupun blush ia merasa kesal pada Hazel yang terus menerus ingin melakukan nya.


Bahkan selama dua hari di kapal ia lebih banyak terfokus pada Hazel yang terus menerus memakan dirinya hingga membuat nya tak sempat melihat ke indahan laut.


"Kau mau es krim nya?" tanya Alyss lagi sembari berdiri ke depan Hazel yang masih duduk di kursi.


Ia menyodorkan sendok es pada Hazel tepat di depan bibir Hazel. Walaupun Hazel tak terlalu suka manis, namun karna Alyss yang berinisiatif menyuapinya membuatnya mulai membuka mulut agar segera menangkup sesendok es krim manis tersebut.


Alyss tersenyum simpul saat Hazel hendak memakan es krim yang ia berikan ia malah menjatuhkan sendoknya dan sengaja membuat es krim tersebut tumpah ke leher Hazel.


"Ups!


Tangan ku terpeleset..." ucap Alyss sembari mengeluarkan wajah imut nya dan mata berbinarnya.


Hazel masih diam memperhatikan ulah istrinya yang bersikap nakal.


"Sini ku bersihkan..." ucap Alyss sembari membuat Hazel bangun dari duduknya dan membuat pria itu menyandarkan dirinya ke atas meja.


Alyss pun segera merapatkan dirinya membuat Hazel semakin terhimpit ke meja, karna Hazel yang lebih tinggi darinya membuat nya sedikit berjinjit untuk mengambil es krim yang ia tumpahkan ke leher suaminya.


Hazel merasakan geli saat lidah Alyss bergerak di leher nya menghisap dan menjilat es krim yang berada di sana, tangan nya pun langsung memeluk pinggang ramping Alyss agar tubuh mereka semakin mendekat.


"Hazel mau main permainan? Jika aku kalah kau boleh melakukan itu kapan saja yang kau inginkan selama 3 hari aku juga akan melakukan semua yang kau katakan.


Tapi jika aku kau yang kalah kau harus lakukan yang sebaliknya sama seperti ku, misalnya menahan diri mu agar tak membuat suara ku habis..." ucap Alyss sembari tersenyum simpul.


"Aturan permainan nya?" tanya Hazel yang merasa tertantang dengan ajakan Alyss.


"Mudah...


Kau hanya tak boleh bersuara sedikitpun...


Dan tangan mu...


Tak boleh keluar dari lingkaran ini." jawab Alyss sembari melepaskan rangkulan tangan Hazel di pinggang nya dan membuat tangan kekar itu berada di atas meja dan menggambar batas lingkaran menggunakan es krim nya.


"Sekarang mau mulai permainan nya?" tanya Alyss dengan senyuman di wajahnya.


"Hm.." jawab Hazel yang juga menunjukkan senyum yang sama seperti Alyss.


Alyss pun mulai mengambil kembali cup es krim nya ia mulai menumpahkan lagi es krim tersebut ke leher Hazel dan mulai memakan es krim nya.


Hazel sendiri semakin sulit menahan diri nya saat ia merasakan dingin nya es tersebut dan hangat nya lidah Alyss yang mengambil es krim tersebut langsung di lehernya.


Tangan Alyss pun mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Hazel. Saat ia sudah membuka seluruh kancing nya ia pun mulai mengolesi es krim di dada bidang Hazel dan perut kotak suaminya.


Ia pun mulai menangkup es krim tersebut dan membuat Hazel semakin sulit menahan suara dan tangan nya agar tak keluar dari lingkaran yang di buat Alyss.


"Sial! Dari mana dia belajar hal seperti ini?" umpat Hazel dalam hati saat ia merasa ciuman istrinya yang semakin terasa geli dan hangat mengalahkan dingin nya es yang di letakkan Alyss di dada bidang nya dan perut berotot nya.


Alyss sendiri mulai merasa takut jika Hazel benar-benar tak bersuara dan ia akan kalah, padahal ia sudah sebisa mungkin mencium Hazel dan meransang Hazel agar suaminya bisa mengeluarkan suaranya.


Alyss pun akhirnya semakin turun dan berjongkok tepat di depan bagian privasi suaminya.


"Sudahlah, tak apa...


Dari pada kalah..." batin Alyss saat berada di depan celana Hazel yang sudah terlihat menggembung, ia pun mulai membuka resleting nya dan mengeluarkan benda yang sudah terlihat semakin terasa sesak di dalam nya.


Merasakan tangan Alyss membuat Hazel hampir kehilangan kendalinya dan mengeluarkan suaranya.


"Apa aku benar-benar harus melakukan nya? Shit! Terjebak di permainan ku sendiri!" batin Alyss saat merasa mengunakan tangan nya tak cukup untuk membuat Hazel bersuara.


Ia pun mulai memasukkan benda tersebut kedalam mulut kecilnya dan memainkan nya di sana.


Hazel pun yang sudah tak tahan lagi dengan permainan Alyss langsung melewati batas yang di buat Alyss dan menahan kepala Alyss menggunakan tangan nya.


Tanpa sadar ia mengendalikan kepala tersebut bergerak sesuai kemauan nya, dan setelah beberapa saat ia mengeluarkan semua vanilanya di dalam mulut istrinya bersama dengan lenguhan nya, ia benar-benar mendapat apa yang ia mau yaitu bibir istrinya.


"Shit! Hah..hah...


Aku tak bisa bernafas!" ucap Alyss kesal sembari mengambil nafas dalam saat Hazel melepaskan tangan nya yang menahan kepala Alyss.


"Rasa nya aneh! Kenapa mengeluarkan di dalam mulut ku?! Terus kau kan harus nya tak boleh bergerak!" ucap Alyss semakin kesal saat ia merasa hampir semua vanila Hazel tertelan oleh nya.


Hazel hanya tertawa kecil melihat wajah kesal Alyss yang sedang mengomelinya. Ia pun menghapus beberapa vanilanya yang berada di bibir Alyss dengan ibu jarinya.


......................


Skip time.


Keesokan harinya.


Pukul 14.35 PM


Alyss terlihat sangat senang saat berjalan di tempat wisata yang mereka kunjungi, ia pun berjongkok dan melihat bunga yang seperti di kurung di dalam penjara bangunan.


"Alyss?" panggil Hazel dan membuat Alyss menoleh ke arah Hazel dengan senyuman manis nya.



"Hm? Ada apa?" tanya Alyss sembari melihat ke arah Hazel dengan senyumnya.


"Kau mau naik balon udara nanti?" tanya Hazel pada Alyss.


"Mau!" jawab Alyss dengan semangat dan mulai berdiri lagi mengajak Hazel berkeliling.


Tanpa sadar tangan nya memegang tangan Hazel dan menggandeng nya selama mereka berjalan, Alyss benar-benar terlihat bersemangat.


"Aku mau naik kesini..." ucap Alyss sembari berdiri di atas bangunan pembatas jalan yang tak terlalu tinggi itu.


"Lihat aku jadi lebih tinggi kan?" tanya Alyss pada Hazel sembari menunjukkan wajah sombong nya dengan senyum ceria nya.


"Iya sekarang bukan tauge lagi, tapi jadi pohon kacang hijau..." jawab Hazel tertawa.


Alyss pun mulai turun dan duduk di pembatas jalan tersebut karna ia mulai merasa lelah berjalan kesana kemari.



Ia menyandarkan wajah nya pada kedua telapak tangan kecilnya menangkup wajah nya dan melihat ke arah Hazel.


"Hazel...


Tak mau duduk juga?" tanya Alyss pada suaminya.


"Mau nya cium bukan duduk." jawab Hazel sembari memangut bibir Alyss sekilas.


"Ishh...


Kau ini!" ucap Alyss kesal dan membuat Hazel tertawa.


Mereka pun segera menuju ke tempat balon udara dan mulai menaikinya.


"Wahhh....


Tinggi sekali..." ucap Alyss dengan senyum merekah melihat rumah-rumah penduduk dari atas


"Iya...


Cantik..." ucap Hazel lirih saat melihat ke wajah Alyss yang tersenyum ceria.



"Kan aku bilang tinggi, bukan cantik!" ucap Alyss saat mendengar ucapan Hazel.


"Dan aku bilang jika kau sangat cantik." jawab Hazel sembari mencubit kecil hidung Alyss.


Mereka pun melihat pemandangan dari atas dan merasakan hembusan angin sejuk yang menerpa wajah mereka.


Setelah menaiki balon udara mereka pun turun dan membeli beberapa camilan di toko dan beristirahat sejenak.


"Ayo...


Masih mau pergi lagi?" ajak Hazel saat mereka ia sudah beberapa lama duduk sembari memakan camilan yang ia beli.


Alyss pun langsung mengindahkan ucapan Hazel dan mulai mengunjungi tempat lain lagi.


Hazel pun mulai membawa Alyss lagi dengan menggenggam jemari kecil Alyss dan membawa nya.


"Wahh..." ucap Alyss dengan mata berbinar nya ketika melihat sekeliling nya.


"Bagus kan? Coba lihat ke bawah." ucap Hazel pada Alyss karna ia tau Alyss menyukai tempat tinggi yang membuat nya bisa melihat pemandangan dari atas.



"Kalau melihat mu saja boleh tidak? Wajah mu kan juga salah satu pemandangan..." goda Alyss pada Hazel dengan senyum ceria di wajah nya.


Hazel pun tertawa mendengar godaan Alyss membuatnya semakin gemas dan mencium habis bibir Alyss.


Tak lama mereka melihat pemandangan Hazel pun mendapat telpon dari Rian ia awalnya marah saat mengangkat telpon Rian karna Rian mengganggu bulan madu nya, Rian pun tak bermaksud menggangu namun terjadi masalah yang memang harus Hazel yang menanganinya karna ia yang merupakan presdirnya.


Hazel pun segera mengajak Alyss kembali lagi ke hotel karna ia perlu memakai laptopnya yang tertinggal di hotel, namun Alyss menolak dan tetap memilih tinggal di tempat itu.


"Kau lupa permainan semalam? Kau kan kalah! Jadi harus turuti kemauan ku! Aku mau tetap disini! Kalau kau mau kembali, kau kembali saja lebih dulu." jawab Alyss yang tetap kukuh tak mau ikut dengan Hazel.


Hazel pun memejamkan matanya sesaat melihat sikap keras kepala Alyss, ia pun akhirnya menelpon beberapa pengawal agar menjaga Alyss selama ia tak ada.


"Kau tak apa-apa jika ku tinggal sendiri?" tanya Hazel khawatir, ia tak mau jika ada yang tiba-tiba mencelakai Alyss lagi saat ia tak ada.


"Iya...


Don't worry my bear..." ucap Alyss tersenyum sembari memegang kedua pipi gagah Hazel dengan telapak tangan nya yang kecil.


"Bear? Aku seperti beruang?" tanya Hazel sembari mengernyitkan dahinya.


"Hm...


Menggemaskan tapi ganas..." jawab Alyss tertawa kecil.


Hazel pun mencium ringan kening Alyss sebelum pergi dan memasukkan pisau lipat yang ia beli dari toko tadi ke dalam tas Alyss, ia memang suka membeli benda-benda tajam seperti itu, mungkin juga karna sifat psychonya yang sudah mendarah daging dalam dirinya.


"Jika ada yang berusaha menyakiti mu, kau bisa gunakan pisau nya." ucap Hazel pada Alyss dan di balas dengan senyuman di bibir Alyss.


Ia pu menyuruh 4 orang pengawal untuk menjaga Alyss, namun tak terlalu terlihat karna Alyss tak suka jika memiliki penjaga dan menjadi pusat perhatian.


Setelah lama berjalan kesana kemari sendirian Alyss pun mulai mencari cara agar terlepas dari pengawasan pengawal yang di berikan Hazel, ia tak suka diawasi seperti itu, rasa nya seperti mengikuti ujian nasional kembali jika terlalu diawasi.


"Kemana nyonya?!" ucap salah satu pengawal saat melihat Alyss yang tak ada dalam jangkauan mereka.


Tap...tap...tap...


Suara langkah kaki yang sedang berlari.


"Fuah...


Mereka masih mengejarku?" tanya Alyss lirih sembari menoleh kebelakang.


"Loh?! Ini kan?" suara seorang pria yang tiba-tiba mengagetkan Alyss.


"Astaga!" ucap Alyss tersentak kaget dan melihat ke arah pria yang tak lain adalah Dave.


"Anda juga disini?" tanya Dave dengan senyum palsu pada Alyss.


Ia sudah mengikuti Hazel dan Alyss sejak tadi dan bahkan kembali nya Hazel itu juga karna ulahnya yang meretas akun saham JBS sehingga tiba-tiba mengalami masalah.


"Iya..." jawab Alyss yang juga mengeluarkan senyum palsu nya.


"Kita belum berkenalan dengan benar." ucap Alyss sembari memberikan tangan nya untuk berkenalan lebih dulu.


"Alyssca kau bisa panggil aku Alyss." ucap Alyss tersenyum, ini adalah saat nya mengeluarkan kemampuan manipulatif emosinya, yang dapat membuat nya seperti wanita polos dan naif di depan Dave.


"Dave Kyle anda bisa memanggil ku Dave saja." sahut Dave dan membalas salam tangan Alyss.


Deg...


"Bukan hanya wajah dan tato nya saja yang mirip bahkan nama belakang juga sama*?!" batin Alyss saat mendengar nama pria di depan nya.


"Tak usah terlalu formal." ucap Alyss pada Dave.


Alyss pun mulai berpikir untuk mendekati Dave agar tau motif dan tujuan Dave, karna ia sudah merasa tak enak sejak pertama kali bertemu dengan Dave sejak melihat tato yang sama di tangan Dave.


Bukankah mendekati musuh adalah cara yang terbaik untuk memusnahkannya? Itulah yang di pikirkan Alyss saat ini.


Ia pun mulai berjalan bersama Dave, jika saja Hazel tau saat ini ia sedang jalan berdua bersama pria mungkin saja kesepakatan yang ia buat pada Hazel bisa hilang di telan bumi karna terbakar cemburu.


"Aku akan membunuh nya sekarang, ini kesempatan yang bagus." batin Dave saat melewati tempat yang sunyi.


"Kenapa kau diam saja? Seperti sedang memikirkan hal buruk tentang ku?" tanya Alyss sembari pura-pura menunjukkan wajah polosnya.


"Tidak...


Kau ini ada-ada saja..." sanggah Dave dengan cepat.


Alyss pun kembali berbalik dan berjalan lagi dengan pura-pura tak tau rencana jahat yang tersimpan di kepala Dave. Tangan nya selalu ia masukkan ke dalam tas guna memegang pisau dan akan mengunakan jika ia merasa terancam.


"Apa pria gila itu bangkit dari kubur? Kenapa bisa ada duplikat nya?! Aku harus mencari tau hal ini. Kenapa dia bisa mirip sekali dengan si gila itu berusaha mendekatiku." batin Alyss.


Setelah lama berjalan-jalan akhirnya Alyss pun memutuskan untuk segera kembali ke hotel lagi. Entah kenapa setiap kali ia ingin membunuh Alyss ia tak jadi melakukan nya saat melihat senyuman polos di wajah Alyss membuat nya merasa sedikit tak tega jika membunuh wanita itu.


"Tu-tunggu...


Apa aku boleh minta nomor mu?" tanya Dave pada Alyss sebelum Alyss pergi, Dave berpikir jika ia akan memliki kesempatan membunuh Alyss lain kali.


"Telpon ku di sadap suami ku...


Coba berikan nomer mu saja, nanti aku yang akan menghubungi..." ucap Alyss lirih.


Dave pun segera memberikan ponsel nya pada Alyss dan memperlihatkan nomer nya.


"Baik nanti akan ku hubungi..." ucap Alyss.


"Loh?! Tangan mu terluka? Sebentar." ucap Alyss sembari mengambil sesuatu dari tasnya saat melihat luka kecil di jari Dave.


Ia pun membalut luka tersebut dengan plester kecil yang berada di tasnya.


"Tak apa ini tak sakit..." ucap Dave yang salah tingkah karna ini baru pertama kali ada yang memperhatikan luka kecil pada dirinya.


"Tak sakit bukan berarti baik-baik saja...


Sudah selesai jangan sampai terluka lagi..." ucap Alyss pada Dave ketika selesai membalut luka tersebut.


Alyss pun segera pergi meninggalkan Dave, ia menolak untuk diantar karna nanti pengawal Hazel pasti akan melihat nya dan melaporkanya pada Hazel sehingga merusak rencana nya.


"Mau membunuh ku? Kau saja yang mati ke neraka!" gumam Alyss saat pergi menjauh dari Dave.


Ia sadar jika Dave berulang kali mencoba mencelakainya, namun ia pura-pura bodoh dan polos, karna Alyss sangat pandai memanipulasi emosi nya sehingga sulit untuk membedakan mana yang pura-pura mana yang asli.


...****************...


Awas Dave nanti niat mau bunuh malah suka lagi sama mbak Alyss 🤭😅 xixixi


Bisa jadi sate panggang kamu🤣 Mbak Alyss motong, babang Hazel yang bakar awkwko🤣


Jangan lupa like, komen, rate 5, vote, fav dan dukung othor❤️❤️🥰🥰


Happy Reading❤️❤️❤️