
"Tapi yang kau lakukan sekarang sudah membunuh ku dengan cara yang lain..." balas Louise tersenyum getir pada pria tampan itu dengan wajah pucat nya.
Ukh!
Ringis gadis dan membuat James terkejut, gadis itu memegang dada nya erat dan mulai terjatuh.
"Kau baik-baik saja?!" tanya James khawatir dan langsung menangkup gadis saat hampir terjatuh.
"Bukan nya ini yang kau inginkan? Agar aku cepat mati?" tanya Louise lirih dan menatap tajam ke arah pria tampan itu.
James pun hanya diam dan menatap ke arah gadis cantik itu. Ia berusaha membopong tubuh Louise dan membawa nya kembali ke kamar.
"Lepas! Sudah ku bilang kau kotor!" ucap Louise memberontak saat James ingin membawanya.
"Jangan keras kepala!" bentak James saat gadis itu bahkan tak ingin ia sentuh.
"Keras kepala? Kau mau membawa ku mana? Hm? Kamar? Kau tau apa yang ku butuhkan?!" tanya Louise dengan tarikan nafas yang berat karna dada nya terasa sesak.
"Obat? Aku akan membuat obat yang cocok untuk mu!" ucap James percaya diri.
"Kalau begitu berikan pada ku sekarang." ucap Louise yang langsung meminta obatnya.
"Akan segera ku temukan! Kau tetap disini!" ucap James pada gadis itu.
Louise tersenyum yang lebih mirip dengan senyuman sindiran.
"Kau tak mau aku keluar, dan ingin mengurung ku tapi sangat percaya diri bisa menemukan obat ku?" tanya Louise lirih sembari meremas piyama nya dengan kuat karna dada nya yang semakin terasa sakit.
"Tentu!" jawab James pada gadis itu yang masih mempertahankan ekspresi wajah nya agar tak terlihat khawatir.
"Penemuan, pembuatan, uji klinis...
Bahkan di saat proses nya aku tak akan bertahan...
Kalau bukan kau ingin aku mati perlahan lalu apa?" tanya Louise lirih dan tak bisa menyembunyikan ekspresi kesakitan nya.
James membuang wajah nya dan ingin melihat gadis itu.
Hah...hah...hah...
Nafas nya semakin berat, ia tak tau hal lain namun yang paling ia butuhkan saat ini adalah obat nya. Namun pria tampan itu tak bisa membiarkan nya keluar dan terus menahan nya.
Kepala nya terasa semakin berat dengan dara yang kian sesak, ia menatap ke arah James sekilas sebelum pandangan nya menggelap lagi.
"Louise!" panggil James dan kembali menangkup tubuh gadis itu.
Baru saja ia memaksa gadis itu bangun dengan bermacam obat namun langsung hilang kesadaran nya lagi.
James pun kembali membawa gadis itu ke kamar yang disiapkan nya.
Ia meletakkan dan menyelimuti tubuh Louise. James duduk di tepi ranjang ia menatap gadis yang memiliki wajah pucat itu dan mengelus pipi nya perlahan.
"Kotor? Hm...
Aku lebih kotor dari yang kau kira..." ucap James lirih pada gadis itu.
Entah kenapa ketika ia bersama gadis itu, dirinya nya selalu menemukan hal baru dan membuat nya tak pernah merasa bosan.
James pun keluar dari kamar tersebut dan memanggil Nick. Pikiran nya buntu sehingga tak bisa memikirkan cara agar bisa mendapat obat gadis itu namun tetap tak memberi resiko pada nya.
Seharusnya jika Louise tidak memiliki ruang di hati James ia pasti sudah di bunuh begitu memasuki hutan, dan jika pun hubungan nya berakhir ia juga memang harus di bunuh karna James yang sudah berulang kali membawa nya ke mansion.
Mansion yang harus di jaga kerahasiaan nya agar tak ada seorang pun yang akan membocorkan tempat itu.
"Tuan benar-benar menyukai nya?!" tanya Nick yang tak suka melihat sikap tuan nya.
"Tidak! Sudah ku katakan tidak! Dia hanya sebatas hiburan saja!" bantah James pada Nick.
"Jika tuan membutuhkan wanita lain saya bisa mencarikan yang lebih cantik, dan masih bersih sama seperti nya." ucap Nick yang tetap ingin gadis itu di bunuh saja agar tak menyebabkan masalah di kemudian hari.
"Tidak! Mereka terlalu palsu!" jawab James langsung. Semua gadis yang bersama nya seperti boneka yang sudah di atur. Namun gadis itu selalu bersikap sesuai hati nya dan itulah yang memberikan daya tarik tersendiri.
"Mungkin hipnotis menghapus ingatan...
Tapi jika di lakukan saat tak sadar mungkin akan beresiko menghapus ingatan yang lain nya." sambung Nick yang tak bisa melawan tuan nya lagi.
"Tapi kita tak punya psikiater yang bisa melakukan nya." gumam James lirih, ia tau metode terapi hipnotis saat tak sadar sangat sulit untuk mendapatkan nya.
"Saya akan carikan dengan segera." jawab Nick yang tau kegelisahan tuan yang ia layani dengan setia.
"Cari dan setelah terapi nya berhasil bunuh dokter nya." ucap James memberi perintah.
................
2 Hari kemudian.
Louise masih belum terbangun sama sekali. Kondisi nya semakin memburuk karna ia tak mendapatkan obat nya dengan segera.
Terapi untuk menghapus memori nya pun di lakukan saat ia tak sadar, walaupun sangat beresiko membuat ingatan yang lain terhapus namun James tak peduli dan tetap melakukan nya.
Ia ingin gadis itu bisa keluar dan mengambil obat khusus nya tanpa harus mengambil resiko karna Louise yang sudah mengetahui seluk beluk permainan kotor nya di dunia gelap milik nya.
"Jantung semakin melemah? Kalau memberikan darah nya lagi apa dia bisa membaik?" tanya James pada Chiko, ia sama sekali tak paham dengan dunia medis yang rumit.
"Mungkin dapat sedikit berpengaruh, dia juga memiliki riwayat anemia hemolitik." jawab Chiko pada James.
"Kalau begitu berikan sekarang, dan kita ambil darah anak laki-laki itu untuk di jual." perintah James.
"Pada akhirnya kita tetap akan membunuh bocah itu?" tanya Chiko pada tuan nya.
"Lagi pula dia akan lupa nanti nya...
Dan bahkan saat dia tak ingat kesalahan nya di harus tetap mendapatkan hukuman nya..." ucap James sembari mengelus pipi gadis itu.
Chiko bergidik ngeri melihat tatapan pria tampan itu yang menyimpan sejuta rencana, namun ia tau pasti akan ada nyawa yang melayang nanti nya.
................
Cafetaria.
Clara yang menunggu kekasih nya yang datang sesuai janji yang ia buat.
Louis yang tak sengaja memberi jeda hingga membuat gadis itu kabur diam-diam dan mencuri kartu kamar hotel yang di sembunyikan Louis agar ia bisa keluar saat Louis sedang mandi.
Louis pun yang mengetahui gadis itu tak ada saat mereka ia sudah selesai mandi membuat langsung kecarian dengan segera.
Ia pun langsung menyusul kemana gadis itu pergi.
"Clara?" panggil Reno pada gadis yang yang memakai celana jeans dan pakaian sweater panjang nya.
Clara pun langsung menoleh dan melihat kekasih nya.
"Kau tak apa-apa? Aku sangat khawatir tadi..." ucap Reno sembari melihat ke arah gadis itu.
Clara tentu nya sudah menutupi semua bekas yang di tinggalkan Louis di tubuh nya dengan pakaian panjang dan beberapa make up.
"Mungkin jaringan..." ucap Clara lirih yang merasa bersalah.
"Jaringan? Jaringan disini sangat baik..." jawab Reno bingung.
Clara terdiam dan menunduk. Reno yang melihat hal itu pun langsung berusaha agar mencairkan suasana agar kembali ceria lagi karna gadis nya yang terlihat suram.
Setelah berbicara cukup lama dan Clara pun mulai melupakan sejenak permasalahan yang membebani pikiran nya saat ini.
Melihat gadis itu tertawa membuat Reno menatap sejenak gadis itu.
"Cla..." panggil Reno lirih.
"Hm? Kenapa?" tanya Clara yang masih dengan nada tertawa karna cerita lucu yang dibawakan Reno.
"Aku...
Boleh mencium mu?" tanya Reno lirih yang meminta izin untuk menyentuh pacar nya.
Clara terdiam sejenak, perbandingan sikap kekasih nya dan atasan nya sangat berbanding terbalik. Pria yang ada di hadapan nya selalu bersikap penuh perhatian dan sangat menghormati serta menghargai nya sebagai wanita.
"Tidak yah?" tanya Reno lagi dan membuang pandangan nya karna merasa malu yang di campur dengan gugup.
"Kau mau coba es krim nya? Yang rasa vanila disini benar-benar lezat..." sambung Reno yang langsung mengalihkan pembicaraan.
Clara pun yang tersadar dari lamunan nya sejenak langsung meraih tangan pria itu.
"Bo-boleh kok..." jawab Clara lirih dengan hampir tak bersuara.
Walaupun ia tak ingin berciuman namun ia ingin mengatakan pada dirinya jika ia bisa keluar dari jeratan atasan nya yang super pemaksa.
Reno melihat gadis itu sejenak. Ia tanpa sadar tersenyum lembut melihat wajah Clara yang memerah karna ucapan nya.
Reno pun perlahan mendekat sembari memegang pipi gadis manis itu. Clara memejamkan mata nya berusaha menahan degupan di jantung nya.
Hummpphh...
Louis pun yang baru sampai di cafe tersebut langsung menelusuri setiap sudut di cafe besar tersebut Ia memilih duduk di salah satu meja yang menurut nya bisa melihat dengan luas ke segala arah hingga mata nya tertuju pada sepasang kekasih yang sedang berciuman.
Ia merapikan topi nya sejenak sembari memandang tak suka ke arah sekretaris manis nya.
Cafe tersebut masih sepi saat ini karna Clara dan Reno yang memiliki janji di jam sibuk.
Deg...
Louis membatu sejenak tangan nya mengepal dengan erat melihat adegan nyata yang di berikan gadis manis itu di depan mata nya.
Clara pun semakin terasa tak nyaman, bukan karena ciuman Reno namun karna semua ingatan tentang yang di lakukan Louis membekas di kepala nya.
Baru saja tadi malam ia di tiduri atasan nya dan bahkan sebelum bertemu kekasih nya bibir nya sudah di cium berulang kali. Clara pun mulai mendorong dada bidang kekasih nya dan membuat Reno melepaskan ciuman nya.
"Maaf..." ucap Clara lirih pada Reno.
Reno tak menjawab ia hanya mengalihkan mata nya ke arah lain, wajah nya memerah karna benar-benar gugup, jantung nya berdebar ketika di moment ia bersama gadis itu.
Reno pun kembali melihat sejenak dan memberikan senyuman lembut nya.
Louis yang sudah tak tahan pun langsung menghampiri Clara.
"Kau kenapa pergi keluyuran?! Tak tau masih jam sibuk?!" tanya Louis sembari menarik Clara tiba-tiba dan membuat gadis itu terkejut.
Reno pun yang berada di tempat itu langsung menepis tangan Louis yang menarik tangan kekasih nya.
"Walaupun anda seorang Presdir tetapi itu tak memberi anda hak untuk bersikap kasar!" ucap Reno dan langsung menarik tangan kekasih nya ke sisi nya.
"Oh ya? Kau tak tau hubungan kam-"
"Saya lupa! Maksud Presdir surat pernyataan pengesahan lahan kan? Saya akan segera membuat nya!" potong Clara langsung. Ia tak ingin pria itu mengatakan hubungan rumit mereka dan seperti membuka aib nya pada kekasih nya.
"Maaf Ren...
Aku duluan yah..." ucap Clara sembari melepaskan tangan kekasih nya.
Louis pun melirik tajam ke arah Reno dan langsung menarik tangan Clara dengan kasar membawa nya kembali ke hotel.
"Akan ku patahkan kaki mu saat kita sampai nanti!" ucap Louis saat ia membawa mobil nya dan menatap tajam ke arah gadis itu.
Clara menautkan jemari nya dengan takut, seharusnya ia tak salah sama sekali karna berciuman dengan kekasih nya sendiri, namun perasaan nya saat ini seperti takut karna ketahuan selingkuh.
................
Mansion Dachinko.
Louise mulai tersadar ia menatap sayup ke tempat yang ia anggap asing saat ini. Telinga nya mendengar suara wanita yang mengatakan.
Nona sudah bangun!
Pelayan yang hendak membersihkan tubuh nya begitu melihat Louise yang membuka mata langsung memanggil tuan nya.
James pun segera datang dan menghampiri gadis cantik itu.
"Louise?" tanya James pada gadis cantik itu.
Ukh!
Ringis Louise saat ia masih merasakan sakit di dada nya. Pandangan nya mulai jernih dan melihat pria yang ia temui di club saat itu.
Ingatan nya memundur terlalu banyak karna ia di hipnotis saat tak sadar.
Dia?
Batin Louise dengan langsung membulatkan mata nya dengan sempurna.
"Jangan pegang-pegang! Kau menculik ku?!" tanya Louise spontan walaupun dada nya masih terasa sakit.
"Culik? Kau ingat kan aku siapa?" tanya James sembari menatap gadis itu, ia tau ini adalah efek dari ingatan yang di hapus saat tak sadar.
Louise pun mendekatkan wajah nya ke wajah James dan memperhatikan wajah pria tampan itu.
"James?" ucap nya tanpa sadar saat bibir nya tergerak sendiri memanggil nama itu.
Ingatan yang lain nya akan ikut menjadi samar dan ingatan tentang ia pergi ke hutan akan di hapus sebisa mungkin.
"Pintar sekali..." ucap James mengelus puncak kepala gadis itu.
"Di bilang tak usah pegang-pegang! Sok kenal sekali sih?!" tanya Louise ketus sembari menahan sakit di dada nya. Ia menepis tangan kekar yang sedang mengelus puncak kepala nya.
Kenapa dada ku sakit sekali? Aku kambuh? Tapi karna apa? Obat! Aku butuh obat ku!
"Minggir mau pulang!" ucap Louise pada James yang segera ingin agar bisa kembali mendapat obat nya untuk meredakan rasa sakit di dada nya.
James tersenyum simpul dan menatap gadis itu.
"Kau tau jalan pulang? Mau ku antar?" tawar James pada gadis itu.
Louise menatap curiga, ia merasa asing sekaligus tidak pada pria tampan itu.
"Ayo...
Ku antar pulang..." ucap James menarik tangan gadis itu.
...
James yang sedang mengendarai mobil nya melihat ke arah gadis cantik yang sedang menggosok tato yang ia tulis nama nya di tangan gadis itu.
"Kenapa?" tanya James pada gadis itu.
"Ini apa sih? Kenapa tidak bisa hilang?! Xavier Haider? Siapa sih?!" tanya Louise yang lupa dengan tato di tangan nya.
"Tanda kepemilikan? Kau lupa? Setelah bermain di wahana kau mau di tato, di punggung mu juga ada tato bunga." jelas James agar memperjelas ingatan gadis itu yang harus nya tak terikut terhapus.
"Iya kah? Padahal seperti mimpi..." jawab Louise seperti orang linglung dengan ingatan nya yang samar.
Selama dalam perjalanan James beberapa kali mempertegas ingatan gadis itu selain tentang hutan yang ia masuki dan semua kejadian di dalam nya.
Cup...
"See you..." ucap James mengecup bibir Louise sekilas saat sudah sampai di kediaman megah milik gadis itu.
Setelah turun Louise melihat ke arah mobi yang semakin menjauh. Ia pun masuk ke kediaman mewah nan megah yang kini menjadi milik nya dan sang kakak.
"Kepala ku sakit? Padahal seperti mimpi tapi kenapa nyata?" gumam gadis itu saat memasuki ruang obat.
Ia pun mulai menyuntikkan dan bahkan menambah dosis nya karna rasa sakit yang tak biasa itu. Rasa sakit yang seperti tak mendapat obat ketika sangat ia butuhkan.
Hah...hah...hah...
"Sial! Kenapa bisa sesakit ini?" decak Louise yang meremas gaun yang ia kenakan.
Kondisi tubuh nya menurun drastis dan membuat nya semakin merasakan sakit bahkan saat ia diantar kembali barusan ia berulang kali menahan sakit di dada nya.
................
Hotel.
Teriakan dan tangisan seorang gadis menggema di ruangan tersebut.
"AKKHH!!!
Hentikan...
Sakit..." tangis Clara saat pria itu memelintir pergelangan kaki nya.
"Kaki mu masih belum patah sudah menangis!" ucap Louis dengan menatap kesal ke arah gadis itu.
"Be-berhenti...
Huhuhuhu..." tangis Clara yang penuh dengan mata berharap.
Louis pun mulai bangun dan mencari benda yang bisa ia pukul kan ke kaki gadis itu. Hingga mata nya melihat ke arah funitur hias berbentuk meja kecil yang memanjang keatas.
Mata Clara membulat ia menyeret tubuh nya menjauh dari pria gila itu.
"Ja-jangan...
Kalau kau memukul ku dengan itu aku bisa cacat..." ucap Clara dengan suara gemetar.
Louis terdiam sesaat melihat benda yang ia bawa untuk memukul kaki gadis itu. Sedetik kemudian bibir nya mulai tersenyum seperti mendapat sebuah ide.
"Kalau begitu kau cacat saja...
Kalau kau cacat kalian akan putus kan nanti?" tanya Louis dengan senyuman cerah di wajah nya seperti tak ada rasa beban sedikit pun.
Deg...
Wajah Clara semakin memucat ia menatap dengan penuh rasa takut pada pria yang sedang tersenyum cerah bak anak kecil yang baru saja di berikan permen.