
Kediaman Hazel.
"Wajah kenapa pucat? Hm?" tanya Hazel sembari menangkup wajah Alyss yang baru saja selesai mandi.
"Kau sedang tidak mikir yang aneh-aneh kan?" tanya Alyss dengan curiga karna Hazel memegang pipinya dan melihat nya nanar setelah ia mandi.
"Kau sakit?" tanya Hazel yang sama sekali tak memikirkan hal lain kecuali kesehatan istrinya.
"Tidak, mungkin karna kelelahan saja..." jawab Alyss sembari melepaskan tangan Hazel dan duduk di depan meja Rias mengeringkan rambut nya.
"Kelelahan? Karna apa? Kita bahkan belum ada melakukan nya sejak aku sadar." ucap Hazel pada Alyss.
Alyss pun membuang nafasnya dengan kasar dan menatap Hazel.
"Kau pikir aku lelah hanya karna kita melakukan nya? Pekerjaan mu itu...
Sudahlah kepala ku selalu sakit kalau memikirkan nya." ucap Alyss kesal karna bagi Hazel ia akan lelah hanya jika melakukan permainan kesukaan suaminya.
Hazel pun tersenyum dan menghampiri Alyss, ia mengusap puncak kepala Alyss sekilas.
"Istri ku serba bisa yah..." ucap Hazel sembari mengacak rambut Alyss membuat Alyss semakin kesal.
"Isshhh...
Tangan nya..." ucap Alyss sembari menyingkirkan tangan Hazel yang mengacak rambut nya.
Hazel pun yang semakin gemas malah semakin mengacak rambut Alyss dengan kedua tangan nya yang awalnya hanya satu tangan.
Alyss yang tingkat kekesalannya sudah meninggi pun langsung mematikan hair dryer nya dan berusaha menangkap tangan Hazel yang sedang mengacak rambutnya.
Hazel pun semakin tertawa dan menarik tangan Alyss hingga membuat tubuh kecil itu langsung jatuh dalam pelukan nya.
"Kau benar baik-baik saja? Mau cek kesehatan? Hm?" tanya Hazel lembut sembari menatap nanar Alyss.
"Iya baik-baik saja...
Aku cuma kelelahan saja..." ucap Alyss sembari menangkup pipi Hazel dan mengandah melihat suaminya.
Alyss pun semakin melangkah dan membuat Hazel semakin melangkah mundur karna mereka berpelukan dalam posisi berdiri.
Brukk...
Tubuh Hazel yang jatuh keatas ranjang saat Alyss terus membuatnya melangkah mundur. Alyss pun langsung naik dan duduk diatas tubuh Hazel.
"Ku hitung satu sampai tiga kau harus bangun..." ucap Hazel yang melihat Alyss duduk diatasnya, ia khawatir jika Alyss tetap duduk disana maka malam ini mereka tak hanya sekedar tidur.
"Tidak mau..." jawab Alyss tersenyum nakal.
"Satu... dua...
Tiga..." hitung Hazel dan Hazel pun mulai bangun dan membuat Alyss duduk di atas pangkuan nya.
Mata mereka saling melihat lekat satu sama lain menyimpan keinginan tersendiri yang memiliki tujuan yang sama.
"Jangan nakal...
Atau malam ini kau tak bisa tidur..." ucap Hazel lirih dan mulai memegang pipi Alyss.
"Apa yang akan kau lakukan pada ku malam ini?" tanya Alyss dan membuat Hazel semakin tertantang.
"Memakan mu..." bisik Hazel dan mulai mencium lengkung leher Alyss.
Tangan Hazel mulai merayap dan masuk kedalam piyama tidur Alyss, ia memberi beberapa kiss mark di leher istrinya.
Merasakan punggung Alyss yang begitu mulus tanpa merasa jika istrinya mengenakan bra membuat Hazel melepaskan hisapan lembutnya di leher Alyss.
"Kau tak pakai?" tanya Hazel sembari menatap wajah Alyss.
"Cari tau saja sendiri." ucap Alyss enteng dan memberikan senyum nakal nya membuat Hazel ikut tersenyum.
"Kau belajar dari mana hal seperti ini? Hm?" tanya Hazel dan mulai semakin menunduk mencium dada Alyss dari luar piyama wanitanya.
"Dari mu..." jawab Alyss lirih sembari merasakan sentuhan Hazel yang semakin menelusuri tubuh nya.
"Ha-Hazel...
Be-berhenti enghh..." ucap Alyss lirih sembari berusaha menghentikan bibir basah dan tangan Hazel yang sedang memainkan tubuhnya.
Hazel sudah membalik tubuh Alyss dan membuat tubuh kecil itu berada di bawah kungkungan nya dengan tubuh yang sama-sama polos.
"Kenapa mau berhenti? Hm?" tanya Hazel sembari mengangkat kepalanya melihat Alyss yang mulai sayu.
"Kalau begini belum apa-apa, aku sudah kelelahan..." jawab Alyss lirih karna sedari tadi Hazel terus membuat nya tubuh mencapai puncaknya namun Hazel sama sekali belum benar-benar melakukan nya.
"Aku masih mau mencium mu...
Atau kau sudah tak sabar?" tanya Hazel tersenyum licik dan mulai menaiki Alyss.
Hazel pun memangut bibir Alyss sekilas dan mulai melakukan penyatuan nya. Alyss tak bisa mengeluarkan suaranya karna Hazel tengah mencium lembut bibir nya berbeda dengan tempo Hazel yang tak menunjukkan kelembutan sedikitpun.
Setelah membuat tubuh wanitanya kelelahan Hazel pun menghentikan permainan nya, jam sudah semakin tinggi. Hazel benar-benar membuat Alyss tak bisa tidur malam ini.
"Hazel..." panggil Alyss lirih yang kini sedang tenggelam dalam dekapan suaminya setelah permainan panas mereka.
"Hm?" sahut Hazel sembari semakin mendekap tubuh Alyss.
"Kalau aku membunuh seseorang menurut mu bagaimana?" tanya Alyss lirih.
"Kau mau membunuh seseorang? Siapa? Kalau kau merasa sulit membunuh nya katakan saja pada ku orang nya...
Aku akan membunuh nya untuk mu..." jawab Hazel dengan serius.
"Kenapa tanya begitu? Hm?" tanya Hazel sembari mengelus pelan rambut di belakang kepala Alyss.
"Tidak apa-apa...
Aku sudah mengantuk...
Mau tidur..." ucap Alyss lirih sembari mendusel-dusel kan kepala nya ke dada bidang Hazel.
Hazel pun mencium gemas puncak kepala Alyss sebelum ikut tertidur.
......................
Keesokkan harinya
Pukul 01.45 PM
Siang ini sesuai janji yang ia buat dengan Dave, Alyss pun menemuinya. Karna semenjak Hazel tak sadar Alyss sudah mengganti ponselnya dengan ponsel baru yang belum di sadap suaminya membuat Hazel tak mengetahui dengan siapa Alyss berkomunikasi ataupun kemana istrinya pergi.
Dan Hazel yang sangat sibuk setelah sadar membuatnya lupa menyadap ponsel istrinya lagi. Karna tau Hazel kini tak mudah melacaknya membuat Alyss mengirimkan lokasinya secara berkala pada Hazel agar Hazel mudah melacaknya jika ia menghadapi situasi yang tak bisa di tangani.
"Disini sepi sekali yah?" tanya Alyss membuka pembicaraan saat mereka pergi ke cafe yang tak ada pengunjung lain selain mereka.
Dave memang telah menyewa cafe tersebut di hari itu sehingga tak memiliki pengunjung lain selain mereka.
"Apa yang ingin kau katakan tentang nya?" tanya Alyss lagi.
"Suami mu seorang pembunuh, kau tau itu?" tanya Dave pada Alyss.
Alyss hanya pura-pura terkejut, ia bahkan tau jika Hazel seorang pembunuh sejak awal, maka dari itu Hazel menculiknya dulu.
"Dia? Tak mungkin! Membunuh nyamuk dan serangga saja dia tak tega...
Hatinya sangat lembut..." ucap Alyss pura-pura tak tau.
"Bukan kah juga hampir mati di tangan nya?" tanya Dave menyunggingkan senyuman nya, menandakan ia sangat memahami sifat Hazel.
Alyss pun menghentikan sandiwaranya dan menatap balik ke arah Dave.
"Kau siapa sebenarnya? Kenapa seperti sangat mengenalnya?" tanya Alyss "Dan lagi tato di tangan mu itu membuat ku teringat seseorang..." sambung Alyss sembari menunjuk menggunakan pandangan matanya ke arah tato di tangan Dave.
"Kau tau tato ini?" tanya Dave mengernyitkan dahinya, ia memang mencari tau tentang Alyss namun hanya sekedar saja, tak mencari tau dengan detail sampai mempelajari sikap secara utuh seperti Hazel.
"Tau...
Tato pembunuh berantai sialan kan? Aku selalu berharap pembunuh itu hidup menderitanya bahkan di kehidupan selanjutnya." ucap Alyss yang ingin melihat reaksi Dave dan ingin tau apa hubungan Dave dengan Aegyt.
Mendengar ucapan Alyss yang menghina kakaknya membuat Dave pitam dan langsung menggebrak meja dengan keras.
BRAK!!!
"Tau apa kau tentang nya?! Suami mu yang membunuh saat itu! Dia yang membuat berita palsu untuk menutupi kejahatan nya!" bentak Dave pada Alyss.
"Lalu kau? Kau sendiri tau dari mana kalau orang itu bukan pembunuhnya? Dan malah menyalahkan suamiku?" tanya Alyss tetap tenang dan menatap tajam ke arah Dave.
"Aku sangat mengenalnya, melebihi siapapun." sambung Alyss dengan nada penuh penekanan.
Alyss memegang erat pisau yang berada di dalam tasnya, dan bersiap menggunakan nya jika Dave tiba-tiba menyerang nya.
"Kau mau ikut dengan ku? Akan ku pastikan untuk membuat mu bahagia..." ucap Dave saat emosi nya telah turun.
"Aku sudah bahagia...
Bahagia dengan SUAMI ku, dan aku tak memerlukan mu!" ucap Alyss dengan nada penuh penekanan pada kata "suami" dan membuat Dave semakin kesal sekaligus marah.
"Baik! Kalau kau tak mau ikut dengan ku baik-baik, aku akan membawa mu secara paksa!" ucap Dave marah dan mulai mendekati Alyss.
*Sregg!
Tes...tes...tes*....
Alyss langsung mengayunkan pisau nya saat Dave mencoba menyentuhnya. Dave terkejut beberapa saat, ia tak menyangka jika wanita incaran nya memiliki sifat yang tersembunyi. Dave pun berusaha memegang lengan nya yang terkena besetan pisau Alyss.
"Kau menyukai ku?" tanya Alyss tersenyum lain pada Dave.
"Tidak! Apa yang membuat mu yakin?!" Sanggah Dave cepat, padahal sebelumnya ia baru saja mengajak Alyss untuk ikut dengan nya.
"Benarkah? Kalau begitu kenapa masih tak membunuh ku? Jika kau terus ragu mungkin kau yang akan terbunuh..." ucap Alyss tersenyum simpul.
...****************...
Haduh kira-kira bakal gimana ini?🤧
Menurut kalian gimana akhir dari si Dave?🤔
Othor udah nyiapin si yang sesuai untuk si Dave 😈😈😈
Nanti othor sambung yah, kalo ga ngantuk selesai teraweh hihi🤭
Jangan lupa like komen fav vote rate 5 dan dukung othor🥰🥰❤️❤️
Happy Reading❤️❤️❤️
Oh iya jangan lupa mampir ke karya kedua othor yah😉😉
Dan jangan lupa tinggalkan jejak😉