(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Wanna hear a lie?



"Kapan aku bisa pulang?" tanya Louise pada James saat pria itu tengah mengeringkan rambut basah nya.


"Kau tak bisa berhenti bertanya hal seperti itu? Jangan membuat ku kesal!" decak James yang langsung mematikan pengering rambut nya dan meletakkan nya di atas meja rias.


Louise diam tak bertanya lagi, ia tau jika membuat suasana hati pria itu kesal hanya akan menyulitkan nya.


Ia berjalan mengikuti ke arah langkah pria itu yang berjalan ke ruang ganti nya.


"Mau ku kaitkan?" tanya James saat melihat gadis itu mengambil bra yang ingin di gunakan.


Ruang pakaian milik nya dan milik gadis itu kini sudah bercampur menjadi satu karna kamar yang mereka gunakan juga sudah menjadi satu saat ini.


Louise diam membiarkan pria itu melakukan apa yang di inginkan nya, karna baginya percuma menolak dan mengatakan 'Tidak' jika ia juga tak akan di dengar.


"Xavier Haider..." gumam Louise sembari menatap pria di balik cermin yang berdiri di belakang nya sembari mencium tengkuk dan leher nya.


James langsung mengandah menatap mata gadis itu dari cermin di depan nya.


"Apa yang kau katakan tadi?" tanya James pada gadis itu.


"Dari mana nama mu yang asli? Xavier Haider? Atau Athan James?" tanya Louise dan berbalik menatap pria itu.


Setiap kali ia melihat tato yang terukir nama lain di tangan nya membuat nya bertanya-tanya. Dan selama ia bersama pria itu, ia mulai menyadari sikap posesif dan cemburuan yang terkadang melewati batas wajar membuat yakin jika itu adalah nama lain dari pria itu.


Karna tak mungkin pria posesif dan cemburuan itu menuliskan nama pria lain di tubuh nya jika bukan nama nya.


Tapi kenapa?


Apa yang tidak di ketahui nya?


James diam sejenak menatap manik bening di depan nya yang saat ini tengah membutuhkan jawaban dari nya.


"Tak bisa jawab? Kalau begitu kau bisa jawab pertanyaan ku yang ini? Kau dari mana dua hari ini?" tanya Louise lagi pada pria itu.


"Aku sedang ada urusan selama dua hari belakang maka itu aku tak bisa kembali," jawab James dengan berusaha tetap tenang walau ia tau gadis itu semakin hari semakin tajam dalam membaca situasi.


"Apa berbahaya?" tanya Louise lagi karna ia mencium jelas aroma anyir darah dari tubuh pria itu.


"Tidak," ucap James datar.


Sekali lagi, ia tak bisa tau apa yang di pikirkan pria tampan itu. Wajah yang seperti tak mengatakan apapun pada nya. Entah bohong atau pun jujur.


"Lalu pekerjaan mu itu apa? Kalau hanya menjadi pemegang saham di beberapa perusahaan kau tak ak-"


"Louise," potong James langsung pada gadis itu.


Ia sedikit mendekat menunduk dan menyelipkan rambut ke telinga gadis itu. Louise sendiri dapat merasakan nafas hangat pria yang sedang ingin berbicara pada nya.


"Jangan mencari tau lebih banyak, sedikit yang kau tau itu lebih bagus untuk mu. Kau tak akan terluka," bisik James pada gadis itu untuk berhenti mencari tau tentang diri nya.


"Apa menurut mu sekarang aku tak akan terluka?" balas Louise sembari mendorong pelan dada bidang pria itu dan memakai pakaian nya dengan cepat lalu segera keluar.


James menatap punggung yang menjauh dan mendesah kasar, ia tak tau jika ia semakin mengasah pedang tajam yang nanti nya juga akan dapat melukai nya.


Mengubah gadis polos yang belum mengerti apapun dan berusaha memasukkan gadis itu ke dalam dunia kotor nya.


......................


2 Bulan kemudian.


Clara mulai belajar berjalan menggunakan tongkat secara bertahap untuk melatih nya berjalan secara perlahan.


"Rai? Kau tak punya pasien lain?" tanya Clara sembari menoleh ke kanan padahal pria itu berada di sebelah kiri nya.


"Punya!" jawab Louis sembari memapah tubuh gadis itu agar bisa berjalan perlahan.


"Lalu kenapa terus mengurusi ku?" tanya Clara lagi pada pria itu.


"Pasien ku kan cuma kau!" jawab Louis sembari menjaga gadis itu dari samping.


Deg...


Gadis itu tersentak karna cara menjawab nya yang mirip seperti seseorang yang ia kenal. Namun ia langsung menepis nya karna karna hanya dengan mengingat orang itu membuat nya kembali trauma.


"Kau sudah lelah? Mau istirahat sebentar?" tanya Louis sembari memapah kembali gadis itu ke kursi roda nya.


"Kita mau kemana? Kembali ke ruangan mu?" tanya Louis sembari mendorong kursi roda gadis itu.


"Kemana saja, bagi ku semua tempat sama sekarang..." jawab Clara lirih karna memang ia tak bisa melihat apapun.


Louis diam sejenak bingung bagaimana lagi mengatakan topik pembicaraan nya pada gadis itu.


"Hari ini guru mu datang kan? Bukan nya ini hari kau belajar huruf Braille?" tanya Louis pada gadis itu.


NB KET : Huruf Braille adalah sejenis sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh tunanetra. 


"Memang nya akan ada guna nya aku belajar seperti itu?" tanya Clara pada pria yang saat ini tengah mendorong kursi roda nya.


"Ada! Lagi pula kau harus semangat, kan? Mamah dan Papah mu juga tak ak-"


"Aku sudah di buang! Jadi ku mohon...


Jangan katakan apapun..." sanggah Clara langsung ia masih ingat hari di mana sang ayah mengusir nya dan tak lagi mengakui nya sebagai anak.


Deg...


Aku lupa orang tua nya...


Ucap Louis dalam hati yang sudah lupa jika ia sendiri yang merusak kehidupan harmonis keluarga gadis itu.


Louis pun menghentikan mendorong kursi roda Clara dan beralih kedepan dengan berjongkok dan berdiri di satu lutut nya.


Ia meraih tangan gadis itu dan menatap raut yang menampilkan kesedihan mendalam.


"Mereka tidak membuang mu...


Mereka menyayangi mu..." ucap pria itu dengan lembut sembari mengenggam tangan gadis di depan nya dengan erat.


"Aku sudah mengecewakan mereka...


Aku tidak pantas..." gumam nya lirih dengan ingatan terakhir kali ia bertemu dengan kedua orang tua nya.


Louis diam lagi saat ia bingung apa yang harus ia katakan pada gadis di depan nya, tak ada satu kata pun yang keluar ia hanya bisa menggenggam tangan Clara saat wanita itu kembali menangis.


....


Ke esokkan hari nya.


Louis kembali menghubungi kedua orang tua sekertaris manis nya untuk kembali memperbaiki apa yang sudah ia rusak.


Membuat rencana lagi agar kedua orang tua gadis itu bisa kembali mempercayai putri mereka, ia juga memberitau tentang kecelakaan putri mereka yang terjadi selama 4 bulan yang lalu.


Sore hari nya begitu mendengar kabar putri nya mengalami kecelakaan berat Daniel dan Freya langsung bergegas untuk menghampiri nya.


Louis melepas nafas nya lirih saat melihat pasangan paruh baya itu bergegas lari ke ruangan gadis itu.


Ia memikirkan cara agar kembali menarik simpati kedua orang tua Clara agar bisa bersama putri mereka namun kedua orang tua itu langsung lupa sekejap dan menjadi begitu panik saat mendengar kecelakaan yang menimpa putri nya.


"Benar juga, mereka orang tua nya mereka tak akan semudah itu membuang putri nya..." gumam Louis dan kembali berjalan bersama eksekutif lain nya.


...


"Cla?!" panggil Freya dengan cepat saat membuka pintu ruangan putri nya.


"Mamah?" ucap Clara dan menoleh ke kanan dan ke kiri serta meraba tangan nya mencari keberadaan suara yang mirip dengan ibu nya.


"Mamah di sini sayang..." ucap Freya sembari menangkap tangan putri nya.


"Maafin Cla Mah..." tangis gadis itu yang meleleh saat tangan hangat sang ibu memegang tangan nya.


"Mamah yang minta maaf sayang...


Kamu pasti takut yah? Tidak apa-apa sekarang sudah ada Mamah..." ucap Freya sembari memeluk putri semata wayang nya.


"Mamah jangan kesini...


Nanti Papah marah, Cla...


Udah buat Pa-"


"Papah di sini...


Setelah ini kamu pulang yah sama Mamah sama Papah..." ucap nya sembari memegang tangan putri nya.


Ia benar-benar menyesal sudah mengusir putri nya saat itu, kalau saja ia bisa mempercayai nya dan menahan putri nya agar tetap di rumah maka tak akan ada kecelakaan naas tersebut.


"Papah? Maaf Pah Cla..." tangis gadis itu yang semakin jatuh saat mendengar suara sang ayah.


Selama 4 bulan sejak ia bangun ia sama sekali tak mendengar apapun dari orang tua nya. Walau terkadang ia selalu berharap jika suatu saat kedua pasangan paruh baya itu bisa menemui nya lagi.


"Papah yang minta maaf Cla...


Kamu masih putri Papah dan Mamah yah..." ucap Daniel dengan suara parau sembari mengelus kepala anak nya yang sedang duduk di atas kursi roda nya dan menangis tersedu.


Clara tak bisa mengatakan apapun lagi ia hanya mengeluarkan bulir manik bening dari mata sayu nya.


Harapan nya untuk tetap bertahan kini mulai kembali lagi walaupun sedikit, ia setidaknya kembali merasakan jika akan ada yang menangis jika ia pergi.


......................


Apart Sky Blue.


Zayn mendengar apa yang di inginkan gadis itu. Jujur ia ingin menolak nya karna ia tak mengerti kenapa gadis di depan nya ingin tau hal lain.


"Maksud mu aku mencuri nya dari ruang kerja Papah?" tanya nya lagi.


"Bukan mencuri kan? Aku cuma meminta mu mengambil nya lalu setelah itu kembalikan lagi." jawab Louise pada sahabat nya.


"Kenapa? Kau tak bisa akses sendiri?" tanya Zayn lagi.


Ia tau mengambil data dan file kunci di ruang kerja ayah nya cukup sulit apalagi ayah nya pasti akan menyimpan barang penting di dalam brangkas.


"Tidak, aku sudah coba akses dari Louis tapi setiap ketahuan dia akan semakin memperketat nya bahkan hak ku pada divisi penelitian di JBS farmasi sangat minim," terang Louise karna ia memang sudah berusaha mencoba mencari tau selama beberapa bulan terakhir namun selalu gagal.


Dan jika ia tak bisa mengambil dari sang kakak maka ia harus mengakses dari paman nya karna pria itu yang sebelum nya tangan kanan sang ayah dan wakil presdir sebelum nya.


James yang selalu menggunakan data tentang eksperimen yang di lakukan JBS Farmasi saat Ayah nya masih berada di posisi presdir, pria itu selalu menggunakan hal tersebut untuk mengancam nya.


Seperti memberi pilihan namun sebenarnya tak memberi pilihan sama sekali, gadis itu tak mau di jadikan sebagai boneka yang di rantai di menara sihir tertinggi agar tak bisa kabur.


"Baik, aku akan ambil data nya dari Papah." ucap Zayn pada gadis itu.


"Tapi kau baik-baik saja? Wajah mu pucat." sambung nya saat melihat wajah gadis itu.


"Perut ku hanya sedikit sakit saja..." jawab Louise lirih.


Ia menambah dosis KB nya saat satu bulan setelah pria itu mengeluarkan isi nya saat kondisi tubuh nya tengah subur dan ia tak mendapat menstruasi nya di bulan berikut nya.


"Zayn aku ke kamar mandi sebentar," jawab Louise dan beranjak pergi.


AAKKHH!!!


Suara teriakan langsung menggema membuat Zayn langsung terperangah dan mendatangi gadis itu.


Ia pun lantas mengetuk pintu kamar mandi nya agar menanyakan hal yang terjadi.


"Louise! Kenapa?! Kau baik-baik saja?!" tanya nya dengan khawatir.


"Zayn! Aku datang bulan!" ucap nya dengan senyuman cerah saat membuka pintu.


"Lalu? Kenapa teriak?!" tanya Zayn sembari membuang nafas dengan kasar.


"Senang!" jawab Louise singkat.


Ia merasa sangat khawatir selama dua bulan terakhir karna tak kunjung mendapat menstruasi nya. Walaupun ia sering terlambat namun hal itu karna faktor hormon dan ia juga belum pernah melakukan hubungan yang dalam seperti itu.


Berbeda dengan saat ini ketika ia tak kunjung menstruasi setelah sering melakukan hubungan seperti itu.


"Kau ini ada-ada saja..." ucap Zayn sembari mengusap puncak kepala gadis itu.


"Ihh! Aku kan kakak nya! Masa di elus kayak anak kecil!" ucap Louise karna mereka yang memiliki perbedaan bulan lahir hampir satu tahun.


"Imut sih! Lagi pula dari dulu kau kan memang lebih pendek dari ku, kan?" tanya Zayn tertawa pada gadis itu.


Louise tak menjawab dan hanya mengerucutkan bibir nya hingga membuat pria itu tertawa gemas.


"Sana ganti! Pembalut mu di laci kamar ku," ucap Zayn setelah tawa nya.


"Kau punya pembalut wanita? Kau tinggal dengan pacar mu, yah?" selidik Louise menggoda pria itu.


"Pembalut mu lah! Kalau aku tidak punya cadangan nya nanti kau pasti suruh aku yang beli di minimarket!" ucap Zayn mendengus kesal.


"Manis nya my baby Zayn..." ucap Louise sembari masuk ke kamar pria itu dan mengganti pembalut nya.


Setelah mengganti pembalut gadis itu keluar dari kamar teman.


"Zayn pinjam ponsel mu," ucap Louise saat ia keluar dari kamar.


"Ponsel mu, mana?" tanya Zayn sembari memberikan ponsel nya.


"Ku buang," jawab Louise singkat sembari mengirim pesan pada kakak nya.


"Kenapa? Kau sangat mudah membuang ponsel mu sekarang?" tanya pria itu karna merasa sahabat nya sekarang sangat suka mengganti ponsel nya.


"Tidak apa-apa," jawab Louise singkat.


Ia merasa jika setiap kali ia kembali dari mansion James dan ponsel nya di kembalikan setelah disita membuat nya berprasangka jika ponsel itu sudah di otak-atik yang membuat keberadaan nya selalu di diketahui.


"Kau mengirim apa pada kakak mu?" tanya Zayn sembari mendekat dan duduk di samping gadis itu.


"Mau menginap disini," jawab Louise singkat, "Dia masih mengurus Clara di RS aku tak mau di rumah sendirian." sambung nya lagi.


Pria itu pun hanya mangut-mangut mendengar penuturan gadis itu, menginap satu sama lain seperti itu bukan hal tak biasa untuk nya karna mereka memang dekat sejak kecil.


"Zayn?" panggil Louise sembari menoleh pada pria di samping nya.


"Hm?"


"Masak makan malam, aku lapar..." ucap nya sembari menjatuhkan dagu nya ke pundak pria itu hingga membuat wajah nya berdekatan satu sama lain.


"Ka-kalau begitu kau harus naikkan gaji ku!" ucap Zayn gugup sembari langsung bangun beranjak berdiri.


"Iya, ku naikkan gaji nya..." jawab Louise tertawa kecil.


Ia pun mengikuti langkah kaki pria itu menuju dapur dan duduk menunggu di kursi meja makan sembari melihat pria itu memasak.


"Zayn?" panggil nya lagi.


"Kenapa lagi? Jangan komentar tentang masakan ku!" dengus nya pada gadis yang tengah memanggil nya.


"Kau kalau main suka keluar nya di dalam atau di luar?" tanya Louise pada pria itu.


"Main apa?" tanya Zayn karna bingung dengan pertanyaan ambigu tersebut.


"Itu loh main yang itu..." jawab Louise bingung bagaimana cara ia mengatakan nya.


"Itu apa?" tanya Zayn sembari memberikan garam pada masakan nya.


"Yang di lakukan wanita dan pria dewasa di atas ranjang," jawab Louise lagi dan membuat pria itu langsung terkejut bahkan hampir menuangkan seluruh garam yang akan ia berikan.


"Ka-kau ini masa tanya pada ku sih?!" ucap Zayn gugup dengan wajah yang memerah. Ia saja bahkan belum pernah melakukan nya namun sudah di tanya.


"Kau kan teman ku, dan lagi aku mau tanya kalau pria itu memang suka nya keluar di dalam yah?" tanya Louise lagi hingga membuat wajah pria itu semerah tomat.


"Kalau begitu tanya Louis saja!" jawab nya lagi sembari mencoba masakan yang salah takaran garam tersebut, "Asin..." sambung nya lirih.


"Kalau tanya dia aku jadi merasa bersalah sama Clara. Lagi pula kalau aku tanya begitu bisa di botakin kepala ku terus di suruh jadi pertapa gunung!" ucap Louise pada teman nya.


"Iya juga..." ucap Zayn lirih saat ia ingat jika saudara kembar gadis itu sangat protektif pada adik nya.


Ia pun mematikan kompor nya dan berjalan mendekati gadis itu. Louise mengandah melihat teman nya yang berdiri di depan nya.


"Aku belum pernah melakukan nya, jadi aku tak tau." ucap nya sembari memegang dagu gadis itu.


"Benarkah? Kau kan tampan, terkenal di kalangan wanita juga. Kenapa mereka tak mau?" tanya Louise bingung.


"Bukan mereka yang tidak mau tapi aku yang memang tak mau melakukan nya dengan mereka," jawab Zayn pada gadis itu sembari menatap dengan lekat mata dan wajah yang selalu menjadi kesukaan nya sejak kecil.


"Kenapa?" tanya Louise lagi.


"Karna aku cuma mau melakukan nya dengan mu," jawab Zayn sembari mulai mengusap bibir bawah Louise dengan ibu jari nya, "Jadi kau mau mengajari ku melakukan nya?" sambung nya dengan pertanyaan ajakan.


"Eh?! A-apa?!" Louise yang mendengar seperti itu tentu saja ia gugup dan bingung mendapat pertanyaan seperti itu.


"Kau mau mendengar kebohongan?" tanya Zayn lagi sebelum gadis itu mencerna ucapan nya.


"Ya-yang tadi ternyata bercanda? Kau ini membuat ku terkejut saja..." ucap Louise bernafas dan tertawa lega mendengar nya.


"Bukan tadi itu sungguhan tapi sekarang aku baru ingin mengatakan kebohongan nya." ucap Zayn sembari membungkuk dan mendekat ke wajah gadis yang sedang duduk di depan nya.


"Eh? Ma-maksud nya?" tanya Louise dengan mata membulat saat wajah pria itu mendekat ke arah nya secara tiba-tiba.


"Gadis yang selama ini ku sukai bukan kau," ucap nya dengan wajah yang hanya berjarak beberapa senti dari wajah gadis di depan nya.


Louise tak bisa berkata-kata lagi karna otak nya yang masih Freeze sedang berusaha mencerna nya.


"Yang baru ku katakan barusan itu kebohongan," sambung nya sembari mendekat ke telinga gadis itu membuat Louise dapat merasakan hembusan nafas hangat pria itu.


Aroma manis menggemaskan yang selalu menjadi ciri khas sahabat nya yang begitu berbeda dengan aroma menyegarkan yang biasa tercium oleh nya saat bersama pria yang mengajari nya cara dewasa secara bertahap.